← Semua Artikel Fiqih Ibadah & Bersuci

Tinjauan Fikih Najasah

Tidak Ada Komentar 33 Mins Read 33 Views
Fikih Najis Modern: Tinjauan Bulu Kucing, Noda Pakaian, dan Keraguan Najis

1. Hakikat Najis & Fondasi Syariat: Kesucian Asal dan Kemudahan Agama

Thaharah (bersuci) dari hadas dan najis menempati kedudukan yang sangat fundamental dalam syariat Islam, sebab keabsahan ibadah salat bersandar langsung padanya. Namun, di tengah kehidupan modern—ketika anak muda dan remaja aktif bermobilitas dengan transportasi umum, mencuci pakaian menggunakan mesin otomatis, serta memelihara hewan rumahan seperti kucing—kesalahpahaman mengenai batas najis dan cara perpindahannya kerap melahirkan kecemasan berlebihan atau sindrom waswas yang menguras energi mental.

Secara bahasa (lughatan), najis berarti segala sesuatu yang dianggap kotor atau menjijikkan (kullu mustaqdzarin). Sedangkan menurut terminologi fikih mazhab Syafi'i (syar'an), najis adalah setiap benda kotor yang menghalangi keabsahan salat selama tidak ada faktor keringanan syariat (mustaqdzarun yamna'u shihhatash shalah haitsu la murakhkhisha). Aturan bersuci di dalam Islam sama sekali tidak dirancang untuk menyempitkan ruang gerak manusia, melainkan berdiri tegak di atas prinsip peniadaan kesukaran (raf'ul haraj) sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Al-Hajj ayat 78:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَٰهِيمَ
"Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan (kesukaran). (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim." (QS. Al-Hajj [22]: 78)[1]

Prinsip kelapangan tersebut diperkuat oleh ketetapan Ilahi dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 bahwa syariat Islam senantiasa menghendaki kemudahan bagi para hamba-Nya:

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ
"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah [2]: 185)[2]

Para ulama ushul fikih juga menarik kesimpulan dari firman Allah Ta'ala dalam Surah Al-Baqarah ayat 29 mengenai penciptaan seluruh isi bumi bahwa hukum asal segala benda di alam semesta adalah suci dan mubah sampai tegak dalil pasti yang menunjukkan kenajisannya:

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا
"Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu." (QS. Al-Baqarah [2]: 29)[3]

Dalam tataran sunnah nabawiyah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan teladan kasih sayang dan kemudahan terkait interaksi dengan kucing rumahan. Ketika sahabat Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu memiringkan bejana air wudhunya agar seekor kucing dapat minum hingga puas, beliau menyampaikan sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam At-Tirmidzi:

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ، إِنَّمَا هِيَ مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ
"Sesungguhnya kucing itu tidaklah najis; sesungguhnya ia hanyalah termasuk hewan yang sering berkeliling (keluar-masuk berbaur) di tengah-tengah kalian." (HR. Abu Dawud no. 75, At-Tirmidzi no. 92)[4]

Begitu pula dalam menangkal penyakit ragu-ragu (waswas), Rasulullah SAW meletakkan fondasi metodologis melalui hadits riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat 'Abdullah bin Zaid Al-Anshari radhiyallahu 'anhu (melalui keponakannya, 'Abbad bin Tamim) bahwa keyakinan kesucian tidak boleh dibatalkan oleh bisikan keraguan sampai ada bukti indrawi yang nyata:

لَا يَنْفَتِلْ - أَوْ لَا يَنْصَرِفْ - حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا
"Janganlah ia membatalkan (salatnya) atau beranjak pergi, sampai ia benar-benar mendengar suara atau mencium bau." (HR. Al-Bukhari no. 137, Muslim no. 361)[5]

2. Anatomi & Dashboard Matrix: Klasifikasi Najis Kontemporer, Status Fikih, & Konsekuensi Hukum

Fikih thaharah mazhab Syafi'i membedakan secara tajam antara benda yang najis secara zat (najisul 'ain), benda suci yang terkena najis (al-mutanajjis), serta najis yang dimaafkan syariat (al-ma'fu 'anhu). Matriks berikut merangkum lima kasus keseharian generasi muda beserta timbangan hukumnya:

Objek / Kasus Keseharian Status Fikih Asal Batasan Pemaafan (Ma'fu 'Anhu) Status Salat & Tindakan Syar'i
1. Bulu Kucing Rontok di Pakaian / Sajadah Najis secara kaidah asal karena terpisah dari hewan hidup yang tidak dimakan dagingnya (ma quthi'a min bahimatin fahuwa maitatun).[6] Dimaafkan (ma'fu) bila sedikit; dan dimaafkan pula bila sulit dihindari bagi pemelihara kucing karena masyaqqatul ihtiraz. Salat sah sempurna; cukup dikibaskan sebisanya tanpa wajib mencuci ulang pakaian.
2. Noda Samar / Bekas Warna Pasca Pencucian Suci secara hukum apabila najis 'ainiyyah telah dibasuh hingga hilang zatnya, namun warna atau baunya sukar hilang ('asura zawaluhu).[7] Dimaafkan penuh bila yang tersisa hanya warna saja atau bau saja setelah digosok 3 kali dengan sabun/pembersih.[8] Pakaian telah suci (thahural mahall 'alal mu'tamad); salat sah tanpa keraguan.
3. Percikan Jalanan & Rintik Air Hujan Suci menurut hukum asal (al-ashlu ath-thaharah) selama tidak tampak sifat najisnya.[9] Dimaafkan penuh bila berupa lumpur jalanan (ma yushibul insana min thinisy syari') atas dasar 'umumul balwa.[10] Salat sah; tidak perlu meneliti atau mencium pakaian karena memicu waswas.
4. Kontak Benda Kering dengan Najis Kering Suci mutlak; benda suci kering yang menyentuh benda najis kering tidak tertular najis (in kanath tharafani jaffaini fa innahu la yatanajjas).[11] Bukan sekadar dimaafkan, melainkan murni tetap suci karena penularan najis mensyaratkan adanya basah (ruthubah). Salat sah mutlak tanpa kewajiban membasuh bagian yang bersentuhan.
5. Pakaian Dicuci Mesin Cuci Otomatis Suci dan menyucikan pakaian mutanajjis karena air bersih mengalir datang ke atas pakaian (wurudul ma') lebih dari sekali.[12] Tidak disyaratkan memeras dengan tangan (la yusytarathu 'ashruts tsaub) setelah air mengalir membilasnya. Pakaian suci sempurna dan sah digunakan untuk beribadah.

3. Problematika Remaja & Generasi Modern: Waswas Najis, Hewan Peliharaan, dan Realitas Pakaian Harian

Dalam keseharian anak muda di kampus, sekolah, tempat kerja, maupun rumah kos, terdapat tiga problematika utama seputar najis yang sering memicu kegelisahan batin:

1. Sindrom Waswas Thaharah (Religious OCD) terhadap Percikan Halus: Banyak remaja terus-menerus mengganti celana atau mengulang basuhan di kamar mandi karena curiga terkena percikan air mikroskopis saat beristinja'. Padahal, para fukaha Syafi'iyyah menegaskan bahwa percikan halus yang tidak terlihat oleh pandangan mata normal (ma la yudrikuhuth tharful mu'tadil) dimaafkan secara mutlak dan tidak menajiskan pakaian maupun air sedikit.[13]

2. Stigma Bulu Kucing pada Pencinta Hewan Peliharaan: Kucing merupakan hewan kesayangan yang akrab di kamar kos dan rumah keluarga muslim. Ketidaktahuan mengenai perbedaan antara kesucian tubuh/air liur kucing saat hidup dengan kaidah pemaafan najis yang sukar dihindari sering membuat anak muda enggan segera salat atau merasa ibadahnya tidak sah.[14]

3. Kebingungan Membedakan Najis 'Ainiyyah, Najis Hukmiyyah, dan Noda Non-Najis: Tidak sedikit generasi muda yang menyamakan setiap noda kotor (seperti tinta, saus, minyak, tanah, atau keringat) dengan najis syar'i, atau ragu apakah pakaian yang masih menyisakan bayangan warna noda setelah dicuci bersih dengan deterjen di mesin cuci sudah sah dipakai salat.[15]

4. Dekonstruksi Fikih Turats & Pandangan Ulama Mu'tamad

Penelusuran langsung terhadap halaman fisik kitab-kitab fikih dan ushul fikih mu'tamad menyingkap betapa sistematis, rasional, dan ramahnya ulama mazhab Syafi'i dalam menetapkan hukum seputar najis:

4.1 Al-Fiqh Al-Manhaji (Musthafa Al-Khin dkk.): Standar Najis, Hukum Bulu Hewan, & Sepuluh Ma'fuwwat

Dalam kitab rujukan mazhab Syafi'i kontemporer, Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i Juz 1 karya Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha, dan Ali Asy-Syirbaji (cetakan Dar Al-Qalam, Damaskus), bab Anwa'uth Thaharah (hlm. cetakan 37–44 / hlm. file PDF 37–44), para penulis meletakkan definisi najis pada halaman 38 bahwa najis menurut syariat adalah kotoran yang menghalangi sahnya salat.[16] Bahkan pada halaman 37, beliau menegaskan bahwa bejana maupun pakaian milik non-muslim sekalipun boleh langsung dipakai karena dugaan/kemungkinan terkena najis (ihtimalu talawwutsiha) tidak menjadikannya najis, sehingga mencucinya hanyalah sunnah (lil-istihbab).[17]

Selanjutnya pada halaman 40, beliau menguraikan kaidah bagian tubuh yang terpisah dari hewan yang masih hidup serta perbedaan najis 'ainiyyah dan hukmiyyah:

٦ — كُلُّ جُزْءٍ انْفَصَلَ مِنَ الْحَيَوَانِ حَالَ حَيَاتِهِ فَإِنَّهُ نَجِسٌ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : «مَا قُطِعَ مِنْ بَهِيمَةٍ فَهُوَ مَيْتَةٌ» (رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ). وَيُسْتَثْنَى مِنْ ذٰلِكَ شَعْرُ وَرِيشُ الْحَيَوَانِ الْمَأْكُولِ اللَّحْمِ فَإِنَّهُ طَاهِرٌ. قَالَ تَعَالَى : ﴿وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ﴾ (سُورَةُ النَّحْلِ: الْآيَةُ ٨٠)... النَّجَاسَةُ الْعَيْنِيَّةُ : هِيَ كُلُّ نَجَاسَةٍ لَهَا جِرْمٌ مُشَاهَدٌ، أَوْ لَهَا صِفَةٌ ظَاهِرَةٌ مِنْ لَوْنٍ أَوْ رِيحٍ، كَالْغَائِطِ أَوِ الْبَوْلِ أَوِ الدَّمِ. وَالنَّجَاسَةُ الْحُكْمِيَّةُ : كُلُّ نَجَاسَةٍ جَفَّتْ وَذَهَبَ أَثَرُهَا، وَلَمْ يَبْقَ لَهَا أَثَرٌ مِنْ لَوْنٍ أَوْ رِيحٍ، وَذٰلِكَ مِثْلُ بَوْلٍ أَصَابَ ثَوْبًا ثُمَّ جَفَّ، وَلَمْ يَظْهَرْ لَهُ أَثَرٌ.
"6 — Setiap bagian yang terpisah dari hewan pada saat hidupnya maka hukumnya najis. Rasulullah SAW bersabda: 'Apa saja yang terpotong dari hewan ternak (saat hidupnya) maka ia berstatus bangkai' (HR. Al-Hakim). Dikecualikan dari kaidah tersebut bulu dan bulu sayap hewan yang halal dimakan dagingnya, maka hukumnya suci sebagaimana firman Allah QS. An-Nahl: 80... Najis 'Ainiyyah adalah setiap najis yang memiliki wujud fisik kasat mata, atau memiliki sifat nyata berupa warna atau bau, seperti tinja, urin, atau darah. Sedangkan Najis Hukmiyyah adalah setiap najis yang telah mengering dan hilang bekasnya, hingga tidak tersisa lagi warna maupun baunya, seperti urin yang mengenai pakaian lalu mengering dan tidak tampak bekasnya." (Al-Fiqh Al-Manhaji, Juz 1, hlm. cetakan 40 [hlm. file PDF 40])[6][15]

Mengenai noda membandel dan daftar najis yang dimaafkan (al-ma'fuwwat), Al-Fiqh Al-Manhaji menegaskan pada halaman 42–44:

وَهٰذِهِ النَّجَاسَةُ إِنَّمَا تَطْهُرُ إِذَا جَرَى الْمَاءُ عَلَيْهَا وَذَهَبَ بِأَثَرِهَا، فَزَالَتْ عَيْنُهَا وَذَهَبَتْ صِفَاتُهَا مِنْ لَوْنٍ أَوْ طَعْمٍ أَوْ رِيحٍ، سَوَاءٌ كَانَتْ عَيْنِيَّةً أَمْ حُكْمِيَّةً، وَسَوَاءٌ كَانَتْ عَلَى ثَوْبٍ أَمْ جِسْمٍ أَمْ مَكَانٍ، وَلٰكِنْ لَا يَضُرُّ بَقَاءُ لَوْنٍ عَسُرَ زَوَالُهُ، كَالدَّمِ مَثَلًا... إِلَّا أَنَّ الدِّينَ رَاعَى الْيُسْرَ، وَعَدَمَ الْحَرَجِ، فَعَفَا عَنْ بَعْضِ النَّجَاسَاتِ لِتَعَذُّرِ إِزَالَتِهَا، أَوْ مَشَقَّةِ الِاحْتِرَازِ عَنْهَا، تَسْهِيلًا عَلَى النَّاسِ، وَرَفْعًا لِلْحَرَجِ عَنْهُمْ، وَإِلَيْكَ بَعْضُ هٰذِهِ الْمَعْفُوَّاتِ : ١ — رَشَاشُ الْبَوْلِ الْبَسِيطُ الَّذِي لَا يُدْرِكُهُ الطَّرْفُ الْمُعْتَدِلُ إِذَا أَصَابَ الثَّوْبَ أَوِ الْبَدَنَ... ٩ — مَا يُصِيبُ الْإِنْسَانَ مِنْ طِينِ الشَّارِعِ.
"Najis mutawassithah ini menjadi suci apabila air mengalir di atasnya dan menghilangkan bekasnya, sehingga hilang zatnya serta lenyap sifat-sifatnya dari warna, rasa, atau bau, baik berupa najis 'ainiyyah maupun hukmiyyah, pada pakaian, tubuh, ataupun tempat; akan tetapi tidak mengapa (tidak membahayakan kesucian) tersisanya warna yang sukar hilang, seperti bekas darah misalnya... Hanya saja agama ini sangat memperhatikan kemudahan dan peniadaan kesempitan, sehingga memaafkan sebagian najis karena uzur menghilangkannya atau sukarnya menghindar darinya, demi memudahkan manusia dan mengangkat beban dari mereka; di antaranya: (1) Percikan urin sangat halus yang tidak terlihat oleh pandangan mata normal jika mengenai pakaian atau badan... (9) Apa yang mengenai manusia dari lumpur jalanan." (Al-Fiqh Al-Manhaji, Juz 1, hlm. cetakan 42–44 [hlm. file PDF 42–44])[18]

4.2 Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (Syifa' & Syaikh Muhammad Hasan Hitu): Transmisi Kering-Basah & Mesin Cuci Otomatis

Dalam kitab Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' karya Syifa' bintu Muhammad Hasan Hitu yang diberi pengantar oleh guru besar ushul fikih Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu dan ditashih oleh As-Sayyid Abu Bakr Al-'Adni bin Ali Al-Masyhur (cetakan Dar Al-Musthafa, Damaskus, hlm. cetakan 53–54 [hlm. file PDF 55–56]), dijelaskan kaidah emas perpindahan najis antara dua benda serta rincian teknis pencucian noda yang sukar hilang:

وَهُنَاكَ فَرْقٌ بَيْنَ النَّجِسِ وَالْمُتَنَجِّسِ، فَالنَّجِسُ مَا كَانَ نَجِسَ الْعَيْنِ، فَهُوَ نَجِسٌ بِذَاتِهِ، وَأَمَّا الْمُتَنَجِّسُ فَهُوَ مَا كَانَ طَاهِرَ الْعَيْنِ، وَلٰكِنَّهُ تَنَجَّسَ بِمُمَاسَّةِ نَجِسٍ، أَوْ مُتَنَجِّسٍ، وَكَانَ أَحَدُ الطَّرَفَيْنِ رَطْبًا، فَإِنْ كَانَ الطَّرَفَانِ جَافَّيْنِ فَإِنَّهُ لَا يَتَنَجَّسُ... فَإِنْ كَانَتِ النَّجَاسَةُ عَيْنِيَّةً لَمْ تَطْهُرْ حَتَّى تَزُولَ عَيْنُهَا، فَإِنْ عَسُرَ زَوَالُ الرِّيحِ، أَوِ اللَّوْنِ بِأَنْ غَسَلَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِمَا يُزِيلُ النَّجَاسَةَ غَالِبًا، كَالصَّابُونِ وَنَحْوِهِ، مَعَ حَتِّهِ وَلَمْ يَزُلْ، فَإِنَّ الْمَحَلَّ يَطْهُرُ، وَلَا يَضُرُّ بَقَاءُ أَحَدِهِمَا، فَإِنْ بَقِيَا مَعًا ضَرَّ، وَكَذَا إِنْ بَقِيَ الطَّعْمُ وَحْدَهُ، وَالنَّجَاسَةُ الْمُغَلَّظَةُ، وَالْمُتَوَسِّطَةُ، وَالْمُخَفَّفَةُ، فِي ذٰلِكَ سَوَاءٌ.
"Terdapat perbedaan antara benda najis (an-najis) dan benda yang terkena najis (al-mutanajjis): benda najis adalah yang najis zatnya secara esensial, sedangkan mutanajjis adalah benda yang asalnya suci namun terkena najis karena bersentuhan dengan benda najis atau mutanajjis dalam keadaan salah satu dari kedua sisinya basah; maka apabila kedua belah pihak sama-sama kering, ia sama sekali tidak menjadi najis... Apabila najisnya berupa najis 'ainiyyah, belum menjadi suci hingga hilang wujudnya; namun jika sukar menghilangkan baunya atau warnanya—yakni telah dicuci tiga kali menggunakan bahan yang lazimnya meluruhkan najis seperti sabun dan sejenisnya disertai menggosoknya (hatt) tetapi belum hilang juga—maka tempat tersebut telah suci, dan tidak mengapa tersisa salah satu dari keduanya (warna saja atau bau saja)." (Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja', hlm. cetakan 53 [hlm. file PDF 55])[19]

Lebih istimewa lagi, pada halaman cetakan 54 (hlm. file PDF 56) kitab Imta'ul Asma' dicantumkan faedah fikih kontemporer mengenai keabsahan pencucian menggunakan mesin cuci otomatis:

وَإِنْ كَانَتِ النَّجَاسَةُ حُكْمِيَّةً، فَيَكْفِي أَنْ يَسِيلَ الْمَاءُ عَلَيْهَا مَرَّةً وَاحِدَةً، وَيُسَنُّ تَثْلِيثُ الْغَسْلِ، وَلَا يُشْتَرَطُ عَصْرُ الثَّوْبِ أَوْ غَيْرِهِ، وَلَا يَكْفِي الْمَسْحُ. وَيُشْتَرَطُ فِي تَطْهِيرِ الثَّوْبِ إِنْ كَانَ الْمَاءُ أَقَلَّ مِنْ قُلَّتَيْنِ أَنْ يَرِدَ عَلَى الثَّوْبِ... فَائِدَةٌ: الْغَسَّالَاتُ الَّتِي تَعْمَلُ آلِيًّا تُطَهِّرُ الْمَلَابِسَ؛ لِأَنَّ الْمَاءَ يَرِدُ عَلَيْهَا أَكْثَرَ مِنْ مَرَّةٍ.
"Apabila najisnya bersifat hukmiyyah, cukup mengalirkan air di atasnya satu kali, dan disunnahkan membasuhnya tiga kali, serta tidak disyaratkan memeras pakaian atau lainnya, dan tidak cukup hanya mengusap. Disyaratkan dalam menyucikan pakaian bila air kurang dari dua qullah agar air yang datang mengalir ke atas pakaian... Faedah Penting: Mesin-mesin cuci yang bekerja secara otomatis (al-ghassalat allati ta'malu aliyyan) menyucikan pakaian; karena air mengalir masuk ke atas pakaian tersebut lebih dari satu kali." (Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja', hlm. cetakan 54 [hlm. file PDF 56])[20]

Selain itu, pada halaman cetakan 39 (hlm. file PDF 41) ditegaskan kaidah al-yaqinu la yazulu bisy-syakk dalam wudhu, dan pada halaman cetakan 84 (hlm. file PDF 86, Fashl fi Mubthilatish Shalah) dijelaskan solusi apabila ada najis kering jatuh ke pakaian saat sedang salat, yakni cukup dikibaskan seketika (fanafadhaha fauran) tanpa membatalkan salat.[21]

4.3 Nailur Raja bi Syarhi Safinatun Naja (Sayyid Ahmad Asy-Syathiri): Distingsi Najis 'Ainiyyah-Hukmiyyah & Noda Membandel

Ulama besar Hadhramaut, Al-'Allamah Al-Faqih As-Sayyid Ahmad bin Umar Asy-Syathiri dalam kitab Nailur Raja bi Syarhi Safinatun Naja (cetakan Dar Al-Minhaj, Beirut/Jeddah, cet. 2, 1428 H/2007 M, hlm. cetakan 135–140 & 147 [hlm. file PDF 135–140 & 147]), menguraikan definisi presisi najis[22] serta status bulu hewan dan rincian cara mensucikan noda yang membandel pada halaman 138 dan 140:

وَلِلْجُزْءِ الْمُنْفَصِلِ مِنَ الْحَيَوَانِ الْحَيِّ حُكْمُ مَيْتَتِهِ طَهَارَةً وَنَجَاسَةً ، إِلَّا شَعَرَ الْمَأْكُولِ الْحَيِّ ، وَرِيشَهُ ، وَوَبَرَهُ ؛ فَإِنَّهَا طَاهِرَةٌ وَإِنْ كَانَتْ مَيْتَتُهُ نَجِسَةً ... الْعَيْنِيَّةُ : هِيَ الَّتِي تُدْرَكُ بِمَسٍّ ، أَوْ نَظَرٍ ، أَوْ ذَوْقٍ ، أَوْ شَمٍّ ، وَالْحُكْمِيَّةُ : هِيَ الَّتِي لَا تُدْرَكُ أَوْصَافُهَا ، فَلَا لَوْنَ وَلَا رِيحَ وَلَا طَعْمَ لَهَا كَمَا ذَكَرَهُ . الْمَعْنَى : أَنَّ الْحُكْمَ فِي النَّجَاسَةِ الْمُتَوَسِّطَةِ : يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ قِسْمَيْهَا الْعَيْنِيَّةِ وَالْحُكْمِيَّةِ ، فَمَا تَنَجَّسَ بِالْعَيْنِيَّةِ .. لَا يَطْهُرُ إِلَّا إِذَا زَالَ طَعْمُهَا وَلَوْنُهَا وَرِيحُهَا ، فَإِنْ عَسُرَ زَوَالُ اللَّوْنِ فَقَطْ ، أَوِ الرِّيحِ فَقَطْ ؛ بِأَنْ لَمْ يَزُلْ بِالْغَسْلِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مَعَ الْحَتِّ وَالْقَرْصِ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَمَعَ نَحْوِ صَابُونٍ .. تَوَقَّفَتِ الْإِزَالَةُ عَلَيْهِ بِقَوْلِ خَبِيرٍ ، وَوَجَدَهُ بِحَدِّ غَوْثٍ أَوْ قُرْبٍ عَلَى التَّفْصِيلِ الْمَارِّ فِي التَّيَمُّمِ .. لَمْ يَضُرَّ ، فَإِنْ تَعَذَّرَ وُجُودُهُ .. طَهُرَ الْمَحَلُّ عَلَى الْمُعْتَمَدِ .
"Bagian yang terpisah dari hewan yang masih hidup berstatus sebagaimana bangkainya dalam hal suci dan najisnya, kecuali bulu hewan halal yang masih hidup, bulu sayapnya, dan bulu halusnya; maka semuanya suci sekalipun bangkainya najis... Najis 'Ainiyyah adalah najis yang dapat ditangkap dengan rabaan, pandangan mata, pengecapan, atau penciuman; sedangkan Najis Hukmiyyah adalah najis yang tidak lagi terdeteksi sifat-sifatnya, sehingga tiada warna, bau, maupun rasa padanya. Apabila sukar menghilangkan warna saja atau bau saja—yakni belum hilang setelah dibasuh tiga kali disertai menggosok (al-hatt) dan mencubit/mengucek kain (al-qarsh) pada setiap basuhan bersama semisal sabun—maka tidaklah mengapa, dan tempat/pakaian tersebut telah menjadi suci menurut pendapat mu'tamad." (Nailur Raja bi Syarhi Safinatun Naja, hlm. cetakan 138 & 140 [hlm. file PDF 138 & 140])[23][24]

4.4 Fatawa Al-Imam An-Nawawi (Imam Yahya An-Nawawi): Kaidah Asal Kesucian, Percikan Tak Kasat Mata, & Bekas Warna

Mujtahid tarjih mazhab Syafi'i, Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi dalam kitab Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammah bil-Masa'il al-Mantsurah yang disusun oleh murid terdekat beliau Al-Hafizh 'Ala'uddin bin Al-'Atthar (terbitan Hadiyyah Majallat Al-Azhar, Kairo, Muharram 1411 H, Juz 1, hlm. cetakan 7, 8, dan 17 [hlm. file PDF 30, 31, dan 40]), menetapkan tiga fatwa kunci yang menepis keraguan umat.[25] Pada halaman cetakan 8 (hlm. file PDF 31, Mas'alah no. 11) dan halaman cetakan 17 (hlm. file PDF 40, Mas'alah no. 34), Imam An-Nawawi menegaskan:

وَإِنْ كَانَ دُونَ الْقُلَّتَيْنِ فَالنَّجَاسَةُ فِيهِ نَوْعَانِ. ( أَحَدُهُمَا ) مَا لَا يُدْرِكُهَا الطَّرْفُ فَلَا تُنَجِّسُهُ عَلَى الْأَصَحِّ مِنْ سَبْعَةِ طُرُقٍ مَشْهُورَةٍ ( وَالنَّوْعُ الثَّانِي ) مَا يُدْرِكُهَا الطَّرْفُ وَهُوَ صِنْفَانِ « أَحَدُهُمَا » غُسَالَةُ نَجَاسَةٍ لَمْ تَتَغَيَّرْ، وَأَصَحُّ الْأَقْوَالِ أَنَّهُ إِنِ انْفَصَلَ وَقَدْ طَهُرَ الْمَحَلُّ فَهُوَ طَاهِرٌ... ٣٤ - « مَسْأَلَةٌ » إِذَا صَبَغَ الثَّوْبَ بِصِبْغٍ نَجِسٍ، أَوْ خَضَبَ رَأْسَهُ أَوْ شَعْرَهُ بِخِضَابٍ نَجِسٍ، هَلْ يَطْهُرُ بِالْغَسْلِ مَعَ بَقَاءِ اللَّوْنِ ؟ « الْجَوَابُ » نَعَمْ يَطْهُرُ .
"Apabila air kurang dari dua qullah, maka najis yang mengenainya terbagi menjadi dua macam: (Pertama) najis yang sangat kecil hingga tidak terlihat oleh pandangan mata (ma la yudrikuhath tharf), maka ia tidak menajiskan air tersebut menurut pendapat al-ashah dari tujuh jalur periwayatan yang masyhur. (Kedua) najis yang terlihat mata, terbagi dua: pertama, air bilasan najis (ghusalah) yang tidak berubah sifatnya; pendapat paling sahih menyatakan bahwa jika air itu berpisah dan tempatnya telah suci, maka air bilasan itu pun suci... Mas'alah 34: Apabila seseorang mencelup pakaian dengan zat pewarna yang najis, atau menyemir kepala/rambutnya dengan semir yang najis, apakah menjadi suci dengan dicuci meskipun warnanya masih tetap tersisa? Jawaban beliau: Ya, menjadi suci." (Fatawa Al-Imam An-Nawawi, Juz 1, hlm. cetakan 8 & 17 [hlm. file PDF 31 & 40])[26][27]

4.5 Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu): Fondasi Ushul Istish-habul Ashl & Tharhusy Syakk

Dalam kitab ushul fikih Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh karya Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu (cetakan Dar Al-Musthafa, Damaskus, cet. 1, 1442 H/2021 M, Bab 6: Fil Adillatil Mukhtalafi Fiha, hlm. cetakan 114–118 [hlm. file PDF 115–119]), diterangkan pondasi metodologis mengapa keraguan atas najis atau batalnya thaharah wajib dibuang jauh-jauh:

١ - الِاسْتِصْحَابُ: وَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ ثُبُوتِ حُكْمٍ لِأَمْرٍ فِي الزَّمَانِ الثَّانِي بِنَاءً عَلَى ثُبُوتِهِ فِي الزَّمَانِ الْأَوَّلِ. وَمَعْنَاهُ أَنَّا إِذَا عَرَفْنَا حُكْمًا مِنَ الْأَحْكَامِ قَدْ ثَبَتَ لِشَيْءٍ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي، وَلَمْ يَظْهَرْ لَنَا مَا يَدُلُّ عَلَى عَدَمِهِ، حَكَمْنَا الْآنَ فِي الزَّمَنِ الثَّانِي، بِأَنَّهُ مَا زَالَ بَاقِيًا عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ، حَتَّى يَقُومَ الدَّلِيلُ عَلَى عَدَمِهِ أَوْ تَغَيُّرِهِ... وَمِنْهُ: مَا يَطْرَأُ مِنْ شَكٍّ بَعْدَ يَقِينٍ. وَذٰلِكَ كَمَا لَوْ تَوَضَّأَ إِنْسَانٌ فِي الصَّبَاحِ، ثُمَّ شَكَّ وَقْتَ الظُّهْرِ هَلْ أَحْدَثَ أَوْ لَا؟ فَإِنَّنَا نَحْكُمُ لَهُ بِالْوُضُوءِ الْآنَ بِنَاءً عَلَى يَقِينٍ بِثُبُوتِهِ فِي الزَّمَانِ الْأَوَّلِ، وَالشَّكُّ الْحَادِثُ لَا يُؤَثِّرُ فِي هٰذَا الْيَقِينِ. وَهُوَ الْمُعَبَّرُ عَنْهُ عِنْدَهُمْ: بِاسْتِصْحَابِ الْأَصْلِ، وَطَرْحِ الشَّكِّ، وَبَقَاءِ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ.
"1 - Al-Istish-hab: Yaitu tetapnya hukum suatu perkara pada waktu kedua berdasarkan kepastian hukumnya pada waktu pertama. Maknanya, apabila kita telah mengetahui suatu hukum telah pasti pada suatu benda di waktu lampau, dan belum tampak bagi kita bukti yang menunjukkan ketiadaannya, maka kita menghukumi sekarang pada waktu kedua bahwa benda itu masih tetap sebagaimana keadaannya semula sampai tegak dalil atas perubahannya... Termasuk di dalamnya: keraguan yang muncul belakangan setelah adanya keyakinan. Seperti seseorang yang telah berwudhu di pagi hari, lalu ragu pada waktu Zuhur apakah ia telah batal atau belum? Maka kita menghukumi dirinya tetap suci berwudhu sekarang berdasarkan keyakinan awal, dan keraguan yang baru muncul tidak memengaruhi keyakinan tersebut. Inilah yang diungkapkan para ulama dengan istilah: mempertahankan hukum asal (istish-habul ashl), membuang keraguan (tharhusy syakk), dan membiarkan sesuatu tetap sebagaimana keadaan awalnya (baqa'u ma kana 'ala ma kana 'alaihi)." (Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh, hlm. cetakan 114–115 [hlm. file PDF 115–116])[28][29]

5. Standard Operating Procedure (SOP): Bagan Alur 4 Tahap Menghadapi Keraguan Najis

Agar generasi muda memiliki pedoman bertindak yang tegas dan bebas dari kebimbangan saat hendak mendirikan salat, ikuti bagan alur vertikal empat tahap berikut:

Tahap 1 Verifikasi Indrawi Zhahir (Uji 4 Indikator 'Ainiyyah)

Periksa secara wajar apakah terdapat bukti indrawi nyata berupa wujud fisik (jirm), warna (laun), bau (rih), atau rasa (tha'm) sebagaimana kriteria Nailur Raja (hlm. cetakan 140 [hlm. file PDF 140]). Jika hanya praduga batin tanpa bukti fisik, segera hentikan pemeriksaan!

↓
Tahap 2 Aktivasi Istish-habul Ashl & Tharhusy Syakk

Terapkan prinsip Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (hlm. cetakan 115 [hlm. file PDF 116]) dan Fatawa Al-Imam An-Nawawi (hlm. cetakan 7 [hlm. file PDF 30]): pertahankan status asal kesucian pakaian/tempat (al-ashlu ath-thaharah) dan campakkan keraguan yang datang belakangan.

↓
Tahap 3 Uji Filter Transmisi Kering & Kategori Ma'fuwwat

Jika sentuhan terjadi antara dua benda kering, pastikan tidak ada perpindahan najis (Imta'ul Asma', hlm. cetakan 53 [hlm. file PDF 55]). Bila berupa percikan tak kasat mata, lumpur jalanan, sedikit bulu kucing, atau sisa warna pasca dicuci sabun 3 kali, masukkan ke dalam kategori ma'fu 'anhu (Al-Fiqh Al-Manhaji, hlm. cetakan 42–44 [hlm. file PDF 42–44]).

↓
Tahap 4 Eksekusi Ibadah Salat dengan Kemantapan Kalbu

Langsung bertakbiratul ihram tanpa mengulang wudhu atau berganti pakaian. Apabila di tengah salat jatuh kotoran kering di baju, cukup kibaskan seketika (fanafadhaha fauran) dan lanjutkan salat hingga salam (Imta'ul Asma', hlm. cetakan 84 [hlm. file PDF 86]).

6. Kaidah Ushul & Kaidah Fikih Thaharah: Pondasi Rasionalitas & Fleksibilitas Hukum Islam

Bangunan fikih thaharah dalam mazhab Syafi'i ditopang oleh empat kaidah ushul dan fikih utama yang menjaga keseimbangan antara kesucian ibadah dan ketenteraman jiwa:

1. Istish-habul Ashl wa Tharhusy Syakk (اسْتِصْحَابُ الْأَصْلِ وَطَرْحُ الشَّكِّ): Mempertahankan status hukum asal yang telah diyakini dan membuang keraguan yang baru datang. Keyakinan bahwa baju, tubuh, atau lantai semula suci tidak dapat digugurkan oleh keraguan apakah terkena cipratan najis atau belum.[30]

2. Al-Ashlu fil Asy-ya'i Ath-Thaharah wal Ibahah (الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الطَّهَارَةُ وَالْإِبَاحَةُ): Hukum asal segala benda di alam semesta adalah suci dan mubah dimanfaatkan hingga tegak dalil pasti yang menunjukkan kenajisannya.[31]

3. Al-Masyaqqatu Tajlibut Taisir wa Raf'ul Haraj (الْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيرَ وَرَفْعُ الْحَرَجِ): Kesulitan menghindar (masyaqqatul ihtiraz) dan meratanya keterpaparan ('umumul balwa)—seperti pada kasus lumpur jalanan, debu, bulu hewan peliharaan, serta percikan halus—menarik keringanan hukum berupa pemaafan syariat (al-'afwu).[32]

4. La Yadurru Baqa'u Launin au Rihin 'Asura Zawaluhu (لَا يَضُرُّ بَقَاءُ لَوْنٍ أَوْ رِيحٍ عَسُرَ زَوَالُهُ): Tidak membahayakan kesucian apabila masih tersisa warna saja atau bau saja yang sukar dihilangkan setelah dicuci dan digosok tiga kali menggunakan sabun.[33]

7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja: Bulu Kucing, Mesin Cuci, & Tempat Umum

Bagaimana menerapkan seluruh kaidah turats di atas secara praktis dalam gaya hidup remaja dan mahasiswa masa kini?

A. Merawat Kucing Peliharaan Tanpa Waswas Ibadah: Kucing yang hidup sehat adalah suci badan dan air liurnya berdasarkan hadits ath-thawwafin. Sediakan pakaian khusus ibadah atau lint roller (pengangkat bulu) di dekat lemari. Jika masih ada beberapa helai bulu kucing yang tertinggal di baju atau sajadah saat salat, jangan batalkan salat; karena syarat batalnya salat adalah membawa najis yang tidak dimaafkan (ghairul ma'fuwwi 'anha), sedangkan sedikit bulu hewan maupun yang sulit dihindari termasuk kategori yang dimaafkan.[34]

B. Memanfaatkan Mesin Cuci Otomatis & Jasa Laundry secara Syar'i: Sebagaimana ditegaskan secara eksplisit dalam Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (hlm. cetakan 22 & 54 [hlm. file PDF 24 & 56]), mesin cuci otomatis (al-ghassalat allati ta'malu aliyyan) sah menyucikan pakaian karena air bersih mengalir masuk dari keran ke atas pakaian (wurudul ma') lebih dari sekali. Pastikan saja apabila ada noda najis fisik ('ainiyyah), wujud padatnya dibersihkan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke tabung mesin cuci.[35]

C. Tenang Beraktivitas di Kampus, Kafe, & Transportasi Umum: Kursi kereta komuter, bus kota, bangku taman, maupun lantai musala umum dihukumi suci berdasarkan istish-habul ashl. Jika kaki atau pakaian kering menyentuh lantai kering yang diragukan kesuciannya, tidak ada najis yang berpindah. Bahkan saat hujan turun dan ujung celana terkena cipratan air jalanan (thinus syawari'), syariat memaafkannya selama tidak tampak nyata zat najisnya.[36]

8. Self-Assessment Checklist Evaluasi Thaharah & Bebas Waswas

Centang daftar evaluasi mandiri berikut untuk memastikan praktik bersuci Anda selaras dengan ilmu fikih dan bebas dari gangguan waswas:

9. Catatan Kaki (Footnotes) Terperinci

  1. Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Hajj [22] ayat 78. Dalil qath'i prinsip peniadaan kesukaran (raf'ul haraj) yang menjadi poros keringanan hukum thaharah; dirujuk pula dalam Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf), Juz 1, Bab Ba'dhu Ma Yu'fa 'Anhu minan Najasat, hlm. cetakan 43 [hlm. file PDF 43]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ﴾ — وَعِبَارَةُ الْفِقْهِ الْمَنْهَجِيِّ (ج ١، ص ٤٣ [PDF ص ٤٣]): «إِلَّا أَنَّ الدِّينَ رَاعَى الْيُسْرَ، وَعَدَمَ الْحَرَجِ، فَعَفَا عَنْ بَعْضِ النَّجَاسَاتِ لِتَعَذُّرِ إِزَالَتِهَا، أَوْ مَشَقَّةِ الِاحْتِرَازِ عَنْهَا، تَسْهِيلًا عَلَى النَّاسِ، وَرَفْعًا لِلْحَرَجِ عَنْهُمْ» ↑ Kembali ke teks
  2. Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Baqarah [2] ayat 185; dirujuk pula dalam Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 43 [hlm. file PDF 43]. Landasan bahwa seluruh syariat Allah menghendaki kemudahan (al-yusr) dan menolak kepicikan (al-'usr). نَصُّ الْآيَةِ: ﴿يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ﴾ ↑ Kembali ke teks
  3. Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Baqarah [2] ayat 29; dikutip secara langsung oleh Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu dalam Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf), Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1, 1442 H/2021 M, Bab 6: Fil Adillatil Mukhtalafi Fiha, butir 3: Al-Ashlu fil Asy-ya', hlm. cetakan 118 [hlm. file PDF 119]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ، ص ١١٨ [PDF ص ١١٩]): «وَالصَّحِيحُ الَّذِي عَلَيْهِ جَمَاهِيرُ أَهْلِ الْعِلْمِ: أَنَّ الْأَصْلَ فِي الْمَنَافِعِ الْإِبَاحَةُ، وَالْمَضَارِّ التَّحْرِيمُ... قَالَ تَعَالَى: ﴿خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا﴾ وَاللَّهُ لَا يَمْتَنُّ عَلَى عِبَادِهِ إِلَّا بِمَا فِيهِ مَنْفَعَتُهُ لَهُمْ. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ﴾» ↑ Kembali ke teks
  4. Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani. Sunan Abi Dawud, Kitab Ath-Thaharah, Bab Su'ril Hirrah, no. 75; At-Tirmidzi, Muhammad bin 'Isa. Sunan At-Tirmidzi, Abwab Ath-Thaharah, Bab Ma Ja'a fi Su'ril Hirrah, no. 92 (diriwayatkan dari sahabat Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu melalui Kabsyah binti Ka'b bin Malik; dishahihkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Al-Bukhari). Sejalan dengan kaidah kesucian seluruh hewan hidup selain anjing dan babi dalam Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF: Noor-Book.com ٳمتاع الٲسماع في شرح متن ٲبي شجاع.pdf), hlm. cetakan 52 & 55 [hlm. file PDF 54 & 57]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ كَبْشَةَ بِنْتِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ دَخَلَ فَسَكَبَتْ لَهُ وَضُوءًا، فَجَاءَتْ هِرَّةٌ فَشَرِبَتْ مِنْهُ، فَأَصْغَى لَهَا الْإِنَاءَ حَتَّى شَرِبَتْ، قَالَتْ كَبْشَةُ: فَرَآنِي أَنْظُرُ إِلَيْهِ، فَقَالَ: أَتَعْجَبِينَ يَا ابْنَةَ أَخِي؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ، إِنَّمَا هِيَ مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ» — وَعِبَارَةُ إِمْتَاعِ الْأَسْمَاعِ (ص ٥٥ [PDF ص ٥٧]): «(وَالْحَيَوَانُ كُلُّهُ طَاهِرٌ إِلَّا الْكَلْبَ وَالْخِنْزِيرَ، وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا، أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا)» ↑ Kembali ke teks
  5. Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitab Al-Wudhu', Bab La Yatawadh-dha'u minasy Syakk Hatta Yastaiqina, no. 137; Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab Al-Haidh, no. 361 (diriwayatkan dari sahabat 'Abdullah bin Zaid Al-Anshari radhiyallahu 'anhu melalui keponakannya 'Abbad bin Tamim); serta hadits Abu Sa'id Al-Khudri RA riwayat Muslim yang dikutip verbatim dalam Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF: Noor-Book.com ٳمتاع الٲسماع في شرح متن ٲبي شجاع.pdf), Fashl fi Sujudis Sahwi, hlm. cetakan 88 [hlm. file PDF 90]. نَصُّ الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ: عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ، عَنْ عَمِّهِ، أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ الرَّجُلُ الَّذِي يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَجِدُ الشَّيْءَ فِي الصَّلَاةِ؟ فَقَالَ: «لَا يَنْفَتِلْ - أَوْ لَا يَنْصَرِفْ - حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا» — وَعِبَارَةُ إِمْتَاعِ الْأَسْمَاعِ (ص ٨٨ [PDF ص ٩٠]): «لِمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ، وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ، كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ)» ↑ Kembali ke teks
  6. Al-Khin, Musthafa; Al-Bugha, Musthafa; Asy-Syirbaji, Ali. Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf). Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H/1992 M, Juz 1, Bab Anwa'uth Thaharah: Al-A'yan An-Najasah, butir 6, hlm. cetakan 40 [hlm. file PDF 40]; serta Asy-Syathiri, Sayyid Ahmad bin Umar. Nailur Raja bi Syarhi Safinatun Naja (berkas PDF: نيل الرجاء.pdf). Beirut/Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 2, 1428 H/2007 M, Fashl fi Tathhirin Najasat, hlm. cetakan 138 [hlm. file PDF 138]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ، ج ١، ص ٤٠ [PDF ص ٤٠]): «٦ — كُلُّ جُزْءٍ انْفَصَلَ مِنَ الْحَيَوَانِ حَالَ حَيَاتِهِ فَإِنَّهُ نَجِسٌ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ : «مَا قُطِعَ مِنْ بَهِيمَةٍ فَهُوَ مَيْتَةٌ» (رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ). وَيُسْتَثْنَى مِنْ ذٰلِكَ شَعْرُ وَرِيشُ الْحَيَوَانِ الْمَأْكُولِ اللَّحْمِ فَإِنَّهُ طَاهِرٌ. قَالَ تَعَالَى : ﴿وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ﴾ (سُورَةُ النَّحْلِ: الْآيَةُ ٨٠)» ↑ Kembali ke teks
  7. Al-Khin, Musthafa dkk. Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf). Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H/1992 M, Juz 1, Bab Kaifiyyatut Tathhir minan Najasat, hlm. cetakan 42 [hlm. file PDF 42]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٤٢ [PDF ص ٤٢]): «التَّطَهُّرُ مِنَ النَّجَاسَةِ الْمُتَوَسِّطَةِ : وَهِيَ نَجَاسَةُ مَا عَدَا الْكَلْبَ وَالْخِنْزِيرَ، وَالصَّبِيَّ الَّذِي لَمْ يَطْعَمْ، وَهٰذِهِ النَّجَاسَةُ إِنَّمَا تَطْهُرُ إِذَا جَرَى الْمَاءُ عَلَيْهَا وَذَهَبَ بِأَثَرِهَا، فَزَالَتْ عَيْنُهَا وَذَهَبَتْ صِفَاتُهَا مِنْ لَوْنٍ أَوْ طَعْمٍ أَوْ رِيحٍ، سَوَاءٌ كَانَتْ عَيْنِيَّةً أَمْ حُكْمِيَّةً، وَسَوَاءٌ كَانَتْ عَلَى ثَوْبٍ أَمْ جِسْمٍ أَمْ مَكَانٍ، وَلٰكِنْ لَا يَضُرُّ بَقَاءُ لَوْنٍ عَسُرَ زَوَالُهُ، كَالدَّمِ مَثَلًا» ↑ Kembali ke teks
  8. Asy-Syathiri, Sayyid Ahmad bin Umar. Nailur Raja bi Syarhi Safinatun Naja (berkas PDF: نيل الرجاء.pdf). Beirut/Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 2, 1428 H/2007 M, Fashl fi Tathhirin Najasat, hlm. cetakan 140 [hlm. file PDF 140]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٤٠ [PDF ص ١٤٠]): «فَإِنْ عَسُرَ زَوَالُ اللَّوْنِ فَقَطْ ، أَوِ الرِّيحِ فَقَطْ ؛ بِأَنْ لَمْ يَزُلْ بِالْغَسْلِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مَعَ الْحَتِّ وَالْقَرْصِ فِي كُلِّ مَرَّةٍ وَمَعَ نَحْوِ صَابُونٍ .. تَوَقَّفَتِ الْإِزَالَةُ عَلَيْهِ بِقَوْلِ خَبِيرٍ ، وَوَجَدَهُ بِحَدِّ غَوْثٍ أَوْ قُرْبٍ عَلَى التَّفْصِيلِ الْمَارِّ فِي التَّيَمُّمِ .. لَمْ يَضُرَّ ، فَإِنْ تَعَذَّرَ وُجُودُهُ .. طَهُرَ الْمَحَلُّ عَلَى الْمُعْتَمَدِ» ↑ Kembali ke teks
  9. An-Nawawi, Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf (tartib: Al-Hafizh 'Ala'uddin bin Al-'Atthar). Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammah bil-Masa'il al-Mantsurah (berkas PDF: فتاوى الإمام النووي المسماة المسائل المنثورة.pdf). Kairo: Hadiyyah Majallat Al-Azhar, Muharram 1411 H, Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah no. 6, hlm. cetakan 7 [hlm. file PDF 30]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٧ [PDF ص ٣٠]): «٦ - « مَسْأَلَةٌ » لَا تُكْرَهُ الطَّهَارَةُ بِالْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ بِطُولِ الْمُكْثِ عِنْدَنَا، وَبِهِ قَالَ الْعُلَمَاءُ كَافَّةً إِلَّا مُحَمَّدَ بْنَ سِيرِينَ فَكَرِهَهُ وَلَا دَلِيلَ لِقَوْلِهِ، وَدَلِيلُنَا: الْأَصْلُ الطَّهَارَةُ، وَالْحَدِيثُ السَّابِقُ فِي الْمَسْأَلَةِ قَبْلَهَا» ↑ Kembali ke teks
  10. Al-Khin, Musthafa dkk. Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf). Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H/1992 M, Juz 1, Bab Ba'dhu Ma Yu'fa 'Anhu minan Najasat, butir 9, hlm. cetakan 44 [hlm. file PDF 44]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٤٤ [PDF ص ٤٤]): «٩ — مَا يُصِيبُ الْإِنْسَانَ مِنْ طِينِ الشَّارِعِ» ↑ Kembali ke teks
  11. Hitu, Syifa' bintu Muhammad Hasan (taqdim: Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu; ta'dhid: As-Sayyid Abu Bakr Al-'Adni bin Ali Al-Masyhur). Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF: Noor-Book.com ٳمتاع الٲسماع في شرح متن ٲبي شجاع.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 3, Fashl fi Bayanin Najasat wa Izalatiha, hlm. cetakan 53 [hlm. file PDF 55]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٥٣ [PDF ص ٥٥]): «وَهُنَاكَ فَرْقٌ بَيْنَ النَّجِسِ وَالْمُتَنَجِّسِ، فَالنَّجِسُ مَا كَانَ نَجِسَ الْعَيْنِ، فَهُوَ نَجِسٌ بِذَاتِهِ، وَأَمَّا الْمُتَنَجِّسُ فَهُوَ مَا كَانَ طَاهِرَ الْعَيْنِ، وَلٰكِنَّهُ تَنَجَّسَ بِمُمَاسَّةِ نَجِسٍ، أَوْ مُتَنَجِّسٍ، وَكَانَ أَحَدُ الطَّرَفَيْنِ رَطْبًا، فَإِنْ كَانَ الطَّرَفَانِ جَافَّيْنِ فَإِنَّهُ لَا يَتَنَجَّسُ» ↑ Kembali ke teks
  12. Hitu, Syifa' bintu Muhammad Hasan. Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF: Noor-Book.com ٳمتاع الٲسماع في شرح متن ٲبي شجاع.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 3, Fashl fi Bayanin Najasat wa Izalatiha, hlm. cetakan 54 [hlm. file PDF 56]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٥٤ [PDF ص ٥٦]): «وَيُشْتَرَطُ فِي تَطْهِيرِ الثَّوْبِ إِنْ كَانَ الْمَاءُ أَقَلَّ مِنْ قُلَّتَيْنِ أَنْ يَرِدَ عَلَى الثَّوْبِ، فَلَوْ وَرَدَ الثَّوْبُ عَلَيْهِ، كَأَنْ كَانَ الْمَاءُ فِي إِنَاءٍ، فَوُضِعَ فَوْقَهُ الثَّوْبُ، تَنَجَّسَ الْمَاءُ، وَلَمْ يَطْهُرِ الثَّوْبُ... فَائِدَةٌ: الْغَسَّالَاتُ الَّتِي تَعْمَلُ آلِيًّا تُطَهِّرُ الْمَلَابِسَ؛ لِأَنَّ الْمَاءَ يَرِدُ عَلَيْهَا أَكْثَرَ مِنْ مَرَّةٍ» ↑ Kembali ke teks
  13. Al-Khin, Musthafa dkk. Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf), Juz 1, Bab Ba'dhu Ma Yu'fa 'Anhu minan Najasat, butir 1, hlm. cetakan 43 [hlm. file PDF 43]; serta Asy-Syathiri, Nailur Raja bi Syarhi Safinatun Naja (berkas PDF: نيل الرجاء.pdf), Fashl fi al-Ma'i al-Qalil wal Katsir, hlm. cetakan 91–92 [hlm. file PDF 91–92]. عِبَارَةُ الْفِقْهِ الْمَنْهَجِيِّ (ج ١، ص ٤٣ [PDF ص ٤٣]): «١ — رَشَاشُ الْبَوْلِ الْبَسِيطُ الَّذِي لَا يُدْرِكُهُ الطَّرْفُ الْمُعْتَدِلُ إِذَا أَصَابَ الثَّوْبَ أَوِ الْبَدَنَ، سَوَاءٌ كَانَتِ النَّجَاسَةُ مُغَلَّظَةً أَمْ مُخَفَّفَةً أَمْ مُتَوَسِّطَةً» — وَعِبَارَةُ نَيْلِ الرَّجَاءِ (ص ٩١–٩٢ [PDF ص ٩١–٩٢]): «فَإِنْ كَانَتِ النَّجَاسَةُ مَعْفُوًّا عَنْهَا .. لَمْ تَضُرَّ ، كَالَّتِي لَا يُدْرِكُهَا الطَّرْفُ الْمُعْتَدِلُ ، مُطْلَقًا عِنْدَ الرَّمْلِيِّ ، وَبِشَرْطِ أَلَّا تَكُونَ مِنْ مُغَلَّظٍ عِنْدَ ابْنِ حَجَرٍ» ↑ Kembali ke teks
  14. Asy-Syathiri, Sayyid Ahmad bin Umar. Nailur Raja bi Syarhi Safinatun Naja (berkas PDF: نيل الرجاء.pdf). Beirut/Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 2, 1428 H/2007 M, Kitab Ash-Shalah: Fashl fi Syuruthish Shalah, hlm. cetakan 147 [hlm. file PDF 147]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٤٧ [PDF ص ١٤٧]): «( وَالطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسَةِ فِي الثَّوْبِ ، وَالْبَدَنِ ، وَالْمَكَانِ ) الْمَعْنَى : أَنَّ الثَّانِيَ مِنْ شُرُوطِ صِحَّةِ الصَّلَاةِ : الطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسَةِ غَيْرِ الْمَعْفُوِّ عَنْهَا فِي ثَوْبِ الْمُصَلِّي وَنَحْوِهِ مِنْ مَحْمُولِهِ أَوْ مُلَاقٍ لِمَحْمُولِهِ» ↑ Kembali ke teks
  15. Al-Khin, Musthafa dkk. Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf). Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H/1992 M, Juz 1, Bab An-Najasatul 'Ainiyyah wan Najasatul Hukmiyyah, hlm. cetakan 40 [hlm. file PDF 40]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٤٠ [PDF ص ٤٠]): «النَّجَاسَةُ الْعَيْنِيَّةُ : هِيَ كُلُّ نَجَاسَةٍ لَهَا جِرْمٌ مُشَاهَدٌ، أَوْ لَهَا صِفَةٌ ظَاهِرَةٌ مِنْ لَوْنٍ أَوْ رِيحٍ، كَالْغَائِطِ أَوِ الْبَوْلِ أَوِ الدَّمِ. وَالنَّجَاسَةُ الْحُكْمِيَّةُ : كُلُّ نَجَاسَةٍ جَفَّتْ وَذَهَبَ أَثَرُهَا، وَلَمْ يَبْقَ لَهَا أَثَرٌ مِنْ لَوْنٍ أَوْ رِيحٍ، وَذٰلِكَ مِثْلُ بَوْلٍ أَصَابَ ثَوْبًا ثُمَّ جَفَّ، وَلَمْ يَظْهَرْ لَهُ أَثَرٌ» ↑ Kembali ke teks
  16. Al-Khin, Musthafa dkk. Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf). Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H/1992 M, Juz 1, Bab Anwa'uth Thaharah: Ath-Thaharah minan Najas, hlm. cetakan 38 [hlm. file PDF 38]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٣٨ [PDF ص ٣٨]): «الطَّهَارَةُ مِنَ النَّجَسِ : مَعْنَى النَّجَسِ: النَّجَسُ لُغَةً: كُلُّ مُسْتَقْذَرٍ. وَشَرْعًا: مُسْتَقْذَرٌ يَمْنَعُ صِحَّةَ الصَّلَاةِ؛ كَالدَّمِ وَالْبَوْلِ» ↑ Kembali ke teks
  17. Al-Khin, Musthafa dkk. Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf). Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H/1992 M, Juz 1, Bab Al-Awani, butir 3 & 4, hlm. cetakan 37 [hlm. file PDF 37]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٣٧ [PDF ص ٣٧]): «رَابِعًا — حُكْمُ اسْتِعْمَالِ أَوَانِي الْكُفَّارِ : يَجُوزُ اسْتِعْمَالُ هٰذِهِ الْأَوَانِي، لِمَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ (٥١٦١) عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ : «فَاغْسِلُوهَا وَكُلُوا فِيهَا» . وَالْأَمْرُ بِغَسْلِهَا لِلِاسْتِحْبَابِ لِاحْتِمَالِ تَلَوُّثِهَا بِسَبَبِ اسْتِعْمَالِ الْكُفَّارِ لَهَا بِخَمْرٍ أَوْ خِنْزِيرٍ وَغَيْرِهِمَا . وَمِثْلُ الْأَوَانِي اسْتِعْمَالُ ثِيَابِهِمْ وَنَحْوِهَا» ↑ Kembali ke teks
  18. Al-Khin, Musthafa dkk. Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf). Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H/1992 M, Juz 1, Bab Kaifiyyatut Tathhir minan Najasat & Bab Ba'dhu Ma Yu'fa 'Anhu minan Najasat, hlm. cetakan 42–44 [hlm. file PDF 42–44]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٤٣–٤٤ [PDF ص ٤٣–٤٤]): «الْإِسْلَامُ دِينُ النَّظَافَةِ، لِذٰلِكَ أَوْجَبَ إِزَالَةَ النَّجَاسَةِ أَيْنَمَا كَانَتْ، وَالتَّحَرُّزَ مِنْهَا، وَجَعَلَ الطَّهَارَةَ مِنَ النَّجَاسَةِ شَرْطًا لِصِحَّةِ الصَّلَاةِ سَوَاءٌ فِي الثَّوْبِ أَمِ الْبَدَنِ أَمِ الْمَكَانِ. إِلَّا أَنَّ الدِّينَ رَاعَى الْيُسْرَ، وَعَدَمَ الْحَرَجِ، فَعَفَا عَنْ بَعْضِ النَّجَاسَاتِ لِتَعَذُّرِ إِزَالَتِهَا، أَوْ مَشَقَّةِ الِاحْتِرَازِ عَنْهَا، تَسْهِيلًا عَلَى النَّاسِ، وَرَفْعًا لِلْحَرَجِ عَنْهُمْ، وَإِلَيْكَ بَعْضُ هٰذِهِ الْمَعْفُوَّاتِ : ١ — رَشَاشُ الْبَوْلِ الْبَسِيطُ الَّذِي لَا يُدْرِكُهُ الطَّرْفُ الْمُعْتَدِلُ إِذَا أَصَابَ الثَّوْبَ أَوِ الْبَدَنَ... ٩ — مَا يُصِيبُ الْإِنْسَانَ مِنْ طِينِ الشَّارِعِ» ↑ Kembali ke teks
  19. Hitu, Syifa' bintu Muhammad Hasan. Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF: Noor-Book.com ٳمتاع الٲسماع في شرح متن ٲبي شجاع.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 3, Fashl fi Bayanin Najasat wa Izalatiha, hlm. cetakan 53 [hlm. file PDF 55]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٥٣ [PDF ص ٥٥]): «فَإِنْ كَانَتِ النَّجَاسَةُ عَيْنِيَّةً لَمْ تَطْهُرْ حَتَّى تَزُولَ عَيْنُهَا، فَإِنْ عَسُرَ زَوَالُ الرِّيحِ، أَوِ اللَّوْنِ بِأَنْ غَسَلَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِمَا يُزِيلُ النَّجَاسَةَ غَالِبًا، كَالصَّابُونِ وَنَحْوِهِ، مَعَ حَتِّهِ وَلَمْ يَزُلْ، فَإِنَّ الْمَحَلَّ يَطْهُرُ، وَلَا يَضُرُّ بَقَاءُ أَحَدِهِمَا، فَإِنْ بَقِيَا مَعًا ضَرَّ، وَكَذَا إِنْ بَقِيَ الطَّعْمُ وَحْدَهُ، وَالنَّجَاسَةُ الْمُغَلَّظَةُ، وَالْمُتَوَسِّطَةُ، وَالْمُخَفَّفَةُ، فِي ذٰلِكَ سَوَاءٌ» ↑ Kembali ke teks
  20. Hitu, Syifa' bintu Muhammad Hasan. Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF: Noor-Book.com ٳمتاع الٲسماع في شرح متن ٲبي شجاع.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 3, Fashl fi Bayanin Najasat wa Izalatiha, hlm. cetakan 54 [hlm. file PDF 56]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٥٤ [PDF ص ٥٦]): «وَإِنْ كَانَتِ النَّجَاسَةُ حُكْمِيَّةً، فَيَكْفِي أَنْ يَسِيلَ الْمَاءُ عَلَيْهَا مَرَّةً وَاحِدَةً، وَيُسَنُّ تَثْلِيثُ الْغَسْلِ، وَلَا يُشْتَرَطُ عَصْرُ الثَّوْبِ أَوْ غَيْرِهِ، وَلَا يَكْفِي الْمَسْحُ. وَيُشْتَرَطُ فِي تَطْهِيرِ الثَّوْبِ إِنْ كَانَ الْمَاءُ أَقَلَّ مِنْ قُلَّتَيْنِ أَنْ يَرِدَ عَلَى الثَّوْبِ... فَائِدَةٌ: الْغَسَّالَاتُ الَّتِي تَعْمَلُ آلِيًّا تُطَهِّرُ الْمَلَابِسَ؛ لِأَنَّ الْمَاءَ يَرِدُ عَلَيْهَا أَكْثَرَ مِنْ مَرَّةٍ» ↑ Kembali ke teks
  21. Hitu, Syifa' bintu Muhammad Hasan. Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF: Noor-Book.com ٳمتاع الٲسماع في شرح متن ٲبي شجاع.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 3, Fashl fi Nawaqidhul Wudhu' (hlm. cetakan 39 [hlm. file PDF 41]) dan Fashl fi Mubthilatish Shalah (hlm. cetakan 84 [hlm. file PDF 86]). عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٣٩ [PDF ص ٤١]): «وَمَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ شَكَّ هَلِ انْتَقَضَ وُضُوؤُهُ أَمْ لَا، أَخَذَ بِالْوُضُوءِ؛ لِأَنَّهُ مُتَيَقِّنٌ أَنَّهُ تَوَضَّأَ، وَالْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ... وَلِأَنَّ الْأَصْلَ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ» — وَعِبَارَةُ (ص ٨٤ [PDF ص ٨٦]): «وَأَمَّا حُدُوثُ النَّجَاسَةِ: فَلَوْ سَقَطَتْ عَلَى ثَوْبِهِ نَجَاسَةٌ يَابِسَةٌ، غَيْرُ مَعْفُوٍّ عَنْهَا، فَنَفَضَهَا فَوْرًا، أَوْ رَطْبَةٌ فَأَلْقَاهَا مَعَ مَا وَقَعَتْ عَلَيْهِ، دُونَ أَنْ يَحْمِلَهَا أَوْ يَقْبِضَهَا لَمْ تَبْطُلْ، أَمَّا لَوْ حَمَلَهَا لِيُلْقِيَهَا فَإِنَّ صَلَاتَهُ تَبْطُلُ؛ لِأَنَّهُ حَمَلَ نَجَاسَةً» ↑ Kembali ke teks
  22. Asy-Syathiri, Sayyid Ahmad bin Umar. Nailur Raja bi Syarhi Safinatun Naja (berkas PDF: نيل الرجاء.pdf). Beirut/Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 2, 1428 H/2007 M, Fashl fi Anwa'in Najasat, hlm. cetakan 135–136 [hlm. file PDF 135–136]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٣٥–١٣٦ [PDF ص ١٣٥–١٣٦]): «النَّجَاسَاتُ: جَمْعُ نَجَاسَةٍ ، وَالنَّجَاسَةُ لُغَةً : الْمُسْتَقْذَرُ، وَشَرْعًا : مُسْتَقْذَرٌ يَمْنَعُ صِحَّةَ الصَّلَاةِ حَيْثُ لَا مُرَخِّصَ ؛ أَيْ : مُجَوِّزَ» ↑ Kembali ke teks
  23. Asy-Syathiri, Sayyid Ahmad bin Umar. Nailur Raja bi Syarhi Safinatun Naja (berkas PDF: نيل الرجاء.pdf). Beirut/Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 2, 1428 H/2007 M, Fashl fi Tathhirin Najasat, hlm. cetakan 138 [hlm. file PDF 138]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٣٨ [PDF ص ١٣٨]): «وَلِلْجُزْءِ الْمُنْفَصِلِ مِنَ الْحَيَوَانِ الْحَيِّ حُكْمُ مَيْتَتِهِ طَهَارَةً وَنَجَاسَةً ، إِلَّا شَعَرَ الْمَأْكُولِ الْحَيِّ ، وَرِيشَهُ ، وَوَبَرَهُ ؛ فَإِنَّهَا طَاهِرَةٌ وَإِنْ كَانَتْ مَيْتَتُهُ نَجِسَةً ... وَلَا يَضُرُّ بَقَاءُ لَوْنٍ أَوْ رِيحٍ عَسُرَ زَوَالُهُ» ↑ Kembali ke teks
  24. Asy-Syathiri, Sayyid Ahmad bin Umar. Nailur Raja bi Syarhi Safinatun Naja (berkas PDF: نيل الرجاء.pdf). Beirut/Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 2, 1428 H/2007 M, Fashl fi Tathhirin Najasat, hlm. cetakan 140 [hlm. file PDF 140]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٤٠ [PDF ص ١٤٠]): «الْعَيْنِيَّةُ : هِيَ الَّتِي تُدْرَكُ بِمَسٍّ ، أَوْ نَظَرٍ ، أَوْ ذَوْقٍ ، أَوْ شَمٍّ ، وَالْحُكْمِيَّةُ : هِيَ الَّتِي لَا تُدْرَكُ أَوْصَافُهَا ، فَلَا لَوْنَ وَلَا رِيحَ وَلَا طَعْمَ لَهَا كَمَا ذَكَرَهُ» ↑ Kembali ke teks
  25. An-Nawawi, Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammah bil-Masa'il al-Mantsurah (berkas PDF: فتاوى الإمام النووي المسماة المسائل المنثورة.pdf). Kairo: Hadiyyah Majallat Al-Azhar, Muharram 1411 H, Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah no. 6, hlm. cetakan 7 [hlm. file PDF 30]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٧ [PDF ص ٣٠]): «وَدَلِيلُنَا: الْأَصْلُ الطَّهَارَةُ، وَالْحَدِيثُ السَّابِقُ فِي الْمَسْأَلَةِ قَبْلَهَا» ↑ Kembali ke teks
  26. An-Nawawi, Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammah bil-Masa'il al-Mantsurah (berkas PDF: فتاوى الإمام النووي المسماة المسائل المنثورة.pdf). Kairo: Hadiyyah Majallat Al-Azhar, Muharram 1411 H, Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah no. 11, hlm. cetakan 8 [hlm. file PDF 31]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٨ [PDF ص ٣١]): «وَإِنْ كَانَ دُونَ الْقُلَّتَيْنِ فَالنَّجَاسَةُ فِيهِ نَوْعَانِ. ( أَحَدُهُمَا ) مَا لَا يُدْرِكُهَا الطَّرْفُ فَلَا تُنَجِّسُهُ عَلَى الْأَصَحِّ مِنْ سَبْعَةِ طُرُقٍ مَشْهُورَةٍ ( وَالنَّوْعُ الثَّانِي ) مَا يُدْرِكُهَا الطَّرْفُ وَهُوَ صِنْفَانِ « أَحَدُهُمَا » غُسَالَةُ نَجَاسَةٍ لَمْ تَتَغَيَّرْ، وَأَصَحُّ الْأَقْوَالِ أَنَّهُ إِنِ انْفَصَلَ وَقَدْ طَهُرَ الْمَحَلُّ فَهُوَ طَاهِرٌ، وَإِلَّا فَنَجِسٌ هٰذَا إِذَا لَمْ يَزِدْ وَزْنُهَا» ↑ Kembali ke teks
  27. An-Nawawi, Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammah bil-Masa'il al-Mantsurah (berkas PDF: فتاوى الإمام النووي المسماة المسائل المنثورة.pdf). Kairo: Hadiyyah Majallat Al-Azhar, Muharram 1411 H, Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah no. 34, hlm. cetakan 17 [hlm. file PDF 40]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٧ [PDF ص ٤٠]): «٣٤ - « مَسْأَلَةٌ » إِذَا صَبَغَ الثَّوْبَ بِصِبْغٍ نَجِسٍ، أَوْ خَضَبَ رَأْسَهُ أَوْ شَعْرَهُ بِخِضَابٍ نَجِسٍ، هَلْ يَطْهُرُ بِالْغَسْلِ مَعَ بَقَاءِ اللَّوْنِ ؟ « الْجَوَابُ » نَعَمْ يَطْهُرُ» ↑ Kembali ke teks
  28. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1, 1442 H/2021 M, Bab 6: Fil Adillatil Mukhtalafi Fiha, butir 1: Al-Istish-hab, hlm. cetakan 114–115 [hlm. file PDF 115–116]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١١٤–١١٥ [PDF ص ١١٥–١١٦]): «١ - الِاسْتِصْحَابُ: وَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ ثُبُوتِ حُكْمٍ لِأَمْرٍ فِي الزَّمَانِ الثَّانِي بِنَاءً عَلَى ثُبُوتِهِ فِي الزَّمَانِ الْأَوَّلِ... وَمِنْهُ: مَا يَطْرَأُ مِنْ شَكٍّ بَعْدَ يَقِينٍ. وَذٰلِكَ كَمَا لَوْ تَوَضَّأَ إِنْسَانٌ فِي الصَّبَاحِ، ثُمَّ شَكَّ وَقْتَ الظُّهْرِ هَلْ أَحْدَثَ أَوْ لَا؟ فَإِنَّنَا نَحْكُمُ لَهُ بِالْوُضُوءِ الْآنَ بِنَاءً عَلَى يَقِينٍ بِثُبُوتِهِ فِي الزَّمَانِ الْأَوَّلِ، وَالشَّكُّ الْحَادِثُ لَا يُؤَثِّرُ فِي هٰذَا الْيَقِينِ. وَهُوَ الْمُعَبَّرُ عَنْهُ عِنْدَهُمْ: بِاسْتِصْحَابِ الْأَصْلِ، وَطَرْحِ الشَّكِّ، وَبَقَاءِ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ» ↑ Kembali ke teks
  29. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1, 1442 H/2021 M, Bab 6: Fil Adillatil Mukhtalafi Fiha, butir 3: Al-Ashlu fil Asy-ya', hlm. cetakan 117–118 [hlm. file PDF 118–119]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١١٧–١١٨ [PDF ص ١١٨–١١٩]): «٣ - الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ: ... وَالصَّحِيحُ الَّذِي عَلَيْهِ جَمَاهِيرُ أَهْلِ الْعِلْمِ: أَنَّ الْأَصْلَ فِي الْمَنَافِعِ الْإِبَاحَةُ، وَالْمَضَارِّ التَّحْرِيمُ... قَالَ تَعَالَى: ﴿خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا﴾ وَاللَّهُ لَا يَمْتَنُّ عَلَى عِبَادِهِ إِلَّا بِمَا فِيهِ مَنْفَعَتُهُ لَهُمْ. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ﴾» ↑ Kembali ke teks
  30. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf), hlm. cetakan 115 [hlm. file PDF 116]; serta Hitu, Syifa' bintu Muhammad Hasan, Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF: Noor-Book.com ٳمتاع الٲسماع في شرح متن ٲبي شجاع.pdf), hlm. cetakan 39 [hlm. file PDF 41]. عِبَارَةُ إِمْتَاعِ الْأَسْمَاعِ (ص ٣٩ [PDF ص ٤١]): «لِأَنَّهُ تَيَقَّنَ مِنْ وُضُوئِهِ وَشَكَّ فِي الْحَدَثِ، فَيَأْخُذُ بِالْيَقِينِ؛ وَلِأَنَّ الْأَصْلَ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ. فَائِدَةٌ: إِذَا أَطْلَقَ الْفُقَهَاءُ كَلِمَةَ الظَّنِّ، أَوِ الشَّكِّ، أَوِ الْوَهْمِ فَالْمُرَادُ مِنْهَا كُلُّ مَا عَدَا الْيَقِينَ غَالِبًا» ↑ Kembali ke teks
  31. An-Nawawi, Fatawa Al-Imam An-Nawawi (berkas PDF: فتاوى الإمام النووي المسماة المسائل المنثورة.pdf), Juz 1, Mas'alah no. 6, hlm. cetakan 7 [hlm. file PDF 30]; serta Al-Khin dkk., Al-Fiqh Al-Manhaji (berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 37 [hlm. file PDF 37]. عِبَارَةُ الْفِقْهِ الْمَنْهَجِيِّ (ج ١، ص ٣٧ [PDF ص ٣٧]): «لِعَدَمِ وُرُودِ نَصٍّ بِالنَّهْيِ عَنْهَا، وَالْأَصْلُ الْإِبَاحَةُ مَا لَمْ يَرِدْ دَلِيلُ التَّحْرِيمِ» — وَعِبَارَةُ فَتَاوَى الْإِمَامِ النَّوَوِيِّ (ص ٧ [PDF ص ٣٠]): «وَدَلِيلُنَا: الْأَصْلُ الطَّهَارَةُ» ↑ Kembali ke teks
  32. Al-Khin, Musthafa dkk. Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf). Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H/1992 M, Juz 1, hlm. cetakan 43 [hlm. file PDF 43]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٤٣ [PDF ص ٤٣]): «إِلَّا أَنَّ الدِّينَ رَاعَى الْيُسْرَ، وَعَدَمَ الْحَرَجِ، فَعَفَا عَنْ بَعْضِ النَّجَاسَاتِ لِتَعَذُّرِ إِزَالَتِهَا، أَوْ مَشَقَّةِ الِاحْتِرَازِ عَنْهَا، تَسْهِيلًا عَلَى النَّاسِ، وَرَفْعًا لِلْحَرَجِ عَنْهُمْ» ↑ Kembali ke teks
  33. Asy-Syathiri, Sayyid Ahmad bin Umar. Nailur Raja bi Syarhi Safinatun Naja (berkas PDF: نيل الرجاء.pdf), hlm. cetakan 138 & 140 [hlm. file PDF 138 & 140]; serta Hitu, Syifa' bintu Muhammad Hasan, Imta'ul Asma' (berkas PDF: Noor-Book.com ٳمتاع الٲسماع في شرح متن ٲبي شجاع.pdf), hlm. cetakan 53 [hlm. file PDF 55]. عِبَارَةُ نَيْلِ الرَّجَاءِ (ص ١٣٨ [PDF ص ١٣٨]): «وَلَا يَضُرُّ بَقَاءُ لَوْنٍ أَوْ رِيحٍ عَسُرَ زَوَالُهُ» ↑ Kembali ke teks
  34. Asy-Syathiri, Nailur Raja bi Syarhi Safinatun Naja (berkas PDF: نيل الرجاء.pdf), hlm. cetakan 138 & 147 [hlm. file PDF 138 & 147]; serta Hitu, Syifa' bintu Muhammad Hasan, Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF: Noor-Book.com ٳمتاع الٲسماع في شرح متن ٲبي شجاع.pdf), hlm. cetakan 53 & 84 [hlm. file PDF 55 & 86]. عِبَارَةُ إِمْتَاعِ الْأَسْمَاعِ (ص ٨٤ [PDF ص ٨٦]): «فَلَوْ سَقَطَتْ عَلَى ثَوْبِهِ نَجَاسَةٌ يَابِسَةٌ، غَيْرُ مَعْفُوٍّ عَنْهَا، فَنَفَضَهَا فَوْرًا، أَوْ رَطْبَةٌ فَأَلْقَاهَا مَعَ مَا وَقَعَتْ عَلَيْهِ، دُونَ أَنْ يَحْمِلَهَا أَوْ يَقْبِضَهَا لَمْ تَبْطُلْ» ↑ Kembali ke teks
  35. Hitu, Syifa' bintu Muhammad Hasan. Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF: Noor-Book.com ٳمتاع الٲسماع في شرح متن ٲبي شجاع.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 3, Fashl fi Aqsamul Miyah (hlm. cetakan 22 [hlm. file PDF 24]) dan Fashl fi Bayanin Najasat (hlm. cetakan 54 [hlm. file PDF 56]). عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٢٢ [PDF ص ٢٤]): «فَإِنِ اسْتُعْمِلَ بِإِزَالَةِ نَجَسٍ وَكَانَ الْمَاءُ قَلِيلًا اشْتُرِطَ كَيْ يَكُونَ طَاهِرًا أَرْبَعَةُ شُرُوطٍ، إِنْ فُقِدَ أَحَدُهَا صَارَ نَجِسًا. الْأَوَّلُ: أَنْ يَرِدَ هُوَ عَلَى النَّجَاسَةِ، فَإِنْ وَرَدَتْ هِيَ عَلَيْهِ نَجَّسَتْهُ. الثَّانِي: أَنْ يَتْرُكَ مَحَلَّ النَّجَاسَةِ وَقَدْ طَهَّرَهُ. الثَّالِثُ: أَلَّا يَتَغَيَّرَ بِالنَّجَاسَةِ. الرَّابِعُ: أَلَّا يَزِيدَ وَزْنُهُ بِالنَّجَاسَةِ» — وَعِبَارَةُ (ص ٥٤ [PDF ص ٥٦]): «فَائِدَةٌ: الْغَسَّالَاتُ الَّتِي تَعْمَلُ آلِيًّا تُطَهِّرُ الْمَلَابِسَ؛ لِأَنَّ الْمَاءَ يَرِدُ عَلَيْهَا أَكْثَرَ مِنْ مَرَّةٍ» ↑ Kembali ke teks
  36. Al-Khin, Musthafa dkk. Al-Fiqh Al-Manhaji (berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 37 & 43–44 [hlm. file PDF 37 & 43–44]; serta An-Nawawi, Fatawa Al-Imam An-Nawawi (berkas PDF: فتاوى الإمام النووي المسماة المسائل المنثورة.pdf), Juz 1, Mas'alah no. 11, hlm. cetakan 8 [hlm. file PDF 31]. عِبَارَةُ فَتَاوَى الْإِمَامِ النَّوَوِيِّ (ص ٨ [PDF ص ٣١]): «وَإِنْ كَانَ دُونَ الْقُلَّتَيْنِ فَالنَّجَاسَةُ فِيهِ نَوْعَانِ. ( أَحَدُهُمَا ) مَا لَا يُدْرِكُهَا الطَّرْفُ فَلَا تُنَجِّسُهُ عَلَى الْأَصَحِّ مِنْ سَبْعَةِ طُرُقٍ مَشْهُورَةٍ» ↑ Kembali ke teks

10. Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)

  • Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani. (275 H). Sunan Abi Dawud. Tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid. Beirut: Al-Maktabah Al-'Ashriyyah.
  • Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. (256 H). Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Al-Mathba'ah As-Salafiyyah.
  • Al-Khin, Musthafa; Al-Bugha, Musthafa; Asy-Syirbaji, Ali. (1413 H/1992 M). Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i. Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, Juz 1.
  • An-Nawawi, Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. (676 H). Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammah bil-Masa'il al-Mantsurah. Tartib: Al-Hafizh 'Ala'uddin bin Al-'Atthar. Kairo: Hadiyyah Majallat Al-Azhar, Muharram 1411 H, Juz 1.
  • Asy-Syathiri, Sayyid Ahmad bin Umar Al-'Alawi At-Tarimi. (1428 H/2007 M). Nailur Raja bi Syarhi Safinatun Naja. Beirut/Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 2.
  • At-Tirmidzi, Muhammad bin 'Isa. (279 H). Sunan At-Tirmidzi (Al-Jami' Al-Kabir). Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir. Kairo: Musthafa Al-Babi Al-Halabi.
  • Hitu, Muhammad Hasan. (1442 H/2021 M). Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh. Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1.
  • Hitu, Syifa' bintu Muhammad Hasan. (t.t.). Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja'. Taqdim: Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu; Ta'dhid: As-Sayyid Abu Bakr Al-'Adni bin Ali Al-Masyhur. Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 3.
  • Muslim, Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi. (261 H). Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim). Tahqiq: Muhammad Fu'ad Abdul Baqi. Kairo: Dar Ihya' Al-Kutub Al-'Arabiyyah.