← Semua Artikel Fiqih Ibadah & Bersuci

Syarat Dan Yang Membatalkan Wudhu

Tidak Ada Komentar 36 Mins Read 28 Views
Fikih Pembatal dan Syarat Wudhu di Ruang Publik Modern: Hukum Bersentuhan Lawan Jenis di Transportasi Padat, Tidur Duduk (Microsleep), serta Niat Tabarrud & Skincare
FIQIH IBADAH & BERSUCI Edisi Khusus Kajian Kanzur Raghibin  Kajian Turats Syafi'iyyah

Fikih Pembatal dan Syarat Wudhu di Ruang Publik Modern: Hukum Bersentuhan Lawan Jenis di Transportasi Padat, Tidur Duduk (Microsleep), serta Niat Tabarrud & Skincare

Telaah Komprehensif Kitab Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin tentang Kriteria Tamkinul Maq'ad, Batasan Al-Basyarah dalam Lamsul Mar'ah, Dualitas Niat Wudhu-Tabarrud, serta Syarat Keterbasahan Kulit dari Penghalang Kosmetik Modern

Penyusun: Ahmad Faris Rujukan Induk: Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin Estimasi Baca: 22 Menit
Daftar Isi Kajian Ilmiah-Populer Klik untuk Buka/Tutup
  1. 1. Mukadimah & Fondasi Dalil Al-Qur'an serta Sunnah tentang Wudhu dan Pembatalnya
  2. 2. Problematika Thaharah Masyarakat Urban: Komuter Padat, Microsleep, dan Kosmetik
  3. 3. Dekonstruksi 5 Kitab Turats: Qaul Kanzur Raghibin & Syarah Minhajuth Thalibin
  4. 4. Tabel Matriks Komparasi Hukum Pembatal dan Syarat Sah Wudhu Kontemporer
  5. 5. Bagan Alur Vertikal Keputusan Hukum Wudhu di Ruang Publik & Perjalanan
  6. 6. Analisis Kaidah Ushul Fiqh dan Qawa'id Fiqhiyyah: Al-Yaqin La Yazulu bisy-Syakk
  7. 7. Bedah Detail Kanzur Raghibin: Tamkinul Maq'ad, Al-Malmus, dan Niat Tabarrud
  8. 8. Panduan Praktis Menjaga Wudhu bagi Pekerja, Mahasiswa, dan Pengguna Transportasi Umum
  9. 9. Muhasabah & Self-Assessment Checklist Kesiapan Thaharah Harian
  10. 10. Kesimpulan Integratif & Rekomendasi Ilmiah
  11. Catatan Kaki (30 Footnotes Terverifikasi Cetakan & PDF)
  12. Daftar Pustaka
Intisari Kaidah Utama Kitab Kanzur Raghibin (Bab Asbabil Hadats & Bab Al-Wudhu'):
﴿إِلَّا نَوْمَ مُمَكِّنٍ مَقْعَدَهُ﴾ أَيْ أَلْيَتَيْهِ مِنْ مَقَرِّهِ فَلَا يَنْقُضُ؛ لِأَمْنِ خُرُوجِ شَيْءٍ فِيهِ مِنْ دُبُرِهِ... ﴿الثَّالِثُ: الْتِقَاءُ بَشَرَتَيِ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ﴾... ﴿وَلَا تَنْقُضُ صَغِيرَةٌ وَشَعَرٌ وَسِنٌّ وَظُفْرٌ فِي الْأَصَحِّ﴾... ﴿وَمَنْ نَوَى تَبَرُّدًا مَعَ نِيَّةٍ مُعْتَبَرَةٍ جَازَ عَلَى الصَّحِيحِ﴾.

Tidur seseorang yang menetapkan tempat duduknya (kedua bokongnya) secara rapat pada alas duduknya tidak membatalkan wudhu karena aman dari keluarnya sesuatu dari duburnya; bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan dewasa bukan mahram tanpa penghalang membatalkan wudhu bagi yang menyentuh maupun yang disentuh menurut pendapat Al-Azhar, namun tidak batal jika menyentuh anak kecil, rambut, gigi, atau kuku menurut pendapat Al-Ashahh; serta barangsiapa berniat menyegarkan badan (tabarrud) atau membersihkan wajah (tanzhif) bersamaan dengan niat wudhu yang sah, maka wudhunya tetap sah menurut pendapat Ash-Shahih.

1. Mukadimah & Fondasi Dalil Al-Qur'an serta Sunnah tentang Wudhu dan Pembatalnya

Gambar artikel

Ibadah salat merupakan poros utama kehidupan seorang mukmin yang tidak sah ditunaikan tanpa terpenuhinya syarat kesucian diri dari hadats kecil maupun hadats besar[1]. Di tengah dinamika kehidupan masyarakat perkotaan modern, menjaga kesucian wudhu sering kali berhadapan dengan tantangan ruang publik yang padat dan ritme aktivitas yang tinggi. Seorang pekerja komuter atau mahasiswa yang telah berwudhu dari rumah kerap mengalami keraguan: apakah wudhunya batal ketika tertidur sejenak (microsleep) sambil duduk di kursi kereta komuter atau bus kota? Bagaimana status wudhunya apabila di tengah desakan penumpang terjadi persentuhan tak sengaja dengan lawan jenis, baik mengenai lengan baju, rambut, kuku, maupun kulit secara langsung? Lebih jauh lagi, bagaimana hukum berwudhu di siang hari yang terik sambil berniat menyegarkan wajah (tabarrud) atau membersihkan sisa debu dan produk perawatan kulit (skincare)?

Untuk menjawab persoalan-persoalan krusial tersebut secara ilmiah, objektif, dan menenangkan jiwa, kita harus kembali pada fondasi wahyu serta penjelasan presisi para ulama muhaqqiqin Mazhab Syafi'i, khususnya Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli (791–864 H) dalam mahakaryanya, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin[2]. Al-Qur'an Al-Karim telah menetapkan rukun-rukun dasar wudhu secara eksplisit melalui firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Al-Ma'idah ayat 6:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ﴾
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki." (QS. Al-Ma'idah: 6)[3].

Selain merinci anggota-anggota yang wajib dibasuh dan diusap, Al-Qur'an juga menetapkan sebab-sebab batalnya wudhu (asbabul hadats), di antaranya keluarnya sesuatu dari dua jalan (al-gha'ith) serta persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan (lamastumun nisa'), sebagaimana termaktub dalam Surah An-Nisa' ayat 43:

﴿وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا﴾
"Dan jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci)." (QS. An-Nisa': 43)[4].

Dalam tataran Sunnah Nabawiyyah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa wudhu adalah kunci diterimanya salat dan setiap gerakan pembasuhan anggota wudhu harus disertai niat yang tulus di dalam hati. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits agung dari Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu:

«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»
"Sesungguhnya segala amal perbuatan itu hanyalah bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)[5].

Begitu pula terkait batas keabsahan wudhu dari hadats, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang disepakati kesahihannya oleh Al-Bukhari dan Muslim:

«لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ»
"Allah tidak menerima salat salah seorang di antara kalian apabila ia berhadats sampai ia berwudhu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)[6].

Adapun mengenai tidur sebagai penyebab hilangnya kesadaran (zawalul 'aql) yang menjadi mazhinnah (dugaan kuat) keluarnya angin dari dubur, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memberikan perumpamaan anatomis yang sangat indah dalam hadits riwayat Abu Dawud dari Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah radhiyallahu 'anhuma:

«الْعَيْنَانِ وِكَاءُ السَّهِ، فَإِذَا نَامَتِ الْعَيْنَانِ اسْتَطْلَقَ الْوِكَاءُ، فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ»
"Kedua mata itu adalah tali pengikat dubur (as-sah); maka apabila kedua mata tertidur, terlepaslah tali pengikat tersebut. Oleh karena itu, barangsiapa yang tidur hendaklah ia berwudhu." (HR. Abu Dawud)[7].

Namun, ketentuan umum hadits di atas ditakhsis (dikhususkan) oleh riwayat sahih dalam Shahih Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu tentang para sahabat Nabi yang tertidur dalam posisi duduk yang tetap (mumakkinan maq'adahu) saat menunggu salat Isya, lalu mereka langsung salat tanpa mengulangi wudhu:

«كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنَامُونَ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّؤُونَ»
"Dahulu para sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tertidur (sambil duduk menunggu salat), kemudian mereka mendirikan salat dan tidak berwudhu lagi." (HR. Muslim)[8].

Di sisi lain, mengenai kewajiban meratakan air ke seluruh permukaan kulit anggota wudhu tanpa menyisakan sedikit pun bagian yang kering (lam'ah) akibat terhalang benda kedap air, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memberikan peringatan tegas dalam hadits riwayat Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma:

«وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ، أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ»
"Celakalah tumit-tumit (yang tidak terbasuh air wudhu) dari ancaman api neraka! Sempurnakanlah wudhu kalian." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)[9].

2. Problematika Thaharah Masyarakat Urban: Komuter Padat, Microsleep, dan Kosmetik

Apabila kita memotret keseharian generasi muda Muslim, pekerja kantoran, dan mahasiswa di kota-kota besar, setidaknya terdapat empat problematika utama seputar keabsahan dan pembatal wudhu yang paling sering memicu kebingungan:

a. Fenomena Microsleep (Tertidur Sejenak) di Kursi Transportasi Umum atau Ruang Rapat

Perjalanan pagi dan sore hari menggunakan kereta komuter (KRL/MRT), bus antarkota, maupun pesawat terbang kerap membuat penumpang yang sudah berwudhu tertidur dalam posisi duduk. Sebagian orang mengira setiap kantuk atau tidur otomatis membatalkan wudhu, sementara sebagian lain menganggap semua tidur duduk pasti tidak membatalkan wudhu meskipun tubuhnya sudah miring atau bokongnya terangkat sebagian dari kursi. Di sinilah pentingnya memahami pembedaan tajam dalam kitab Kanzur Raghibin antara an-nu'as (kantuk ringan di mana telinga masih mendengar suara sekitar meskipun tidak memahaminya) dengan an-naum (tidur yang menghilangkan kesadaran hati), serta syarat ketat tamkinul maq'ad (menetapnya kedua belahan bokong pada tempat duduk tanpa celah renggang)[10][11].

b. Benturan dan Persentuhan Kulit Lawan Jenis di Ruang Publik yang Padat

Di dalam gerbong kereta, antrean lift, pasar, atau koridor kampus, persentuhan fisik tanpa sengaja antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram sering kali sulit dihindari. Ketika seseorang yang sudah berwudhu tersenggol lawan jenis, muncul dua ekstrem sikap: sikap meremehkan (tasahul) yang menganggap tidak batal karena "tidak sengaja dan tidak syahwat", atau sikap waswas berlebihan yang menganggap batal meskipun yang tersentuh adalah lengan baju, rambut, ujung kuku, atau bahkan ragu apakah yang tersentuh itu kulit atau kain pakaian. Kitab Kanzur Raghibin dan Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah memberikan parameter hukum yang sangat terukur mengenai definisi al-basyarah (kulit luar), pengecualian rambut, kuku, dan gigi, serta penyelesaian keraguan melalui kaidah yakin[12][13].

c. Niat Ganda Saat Berwudhu: Antara Ibadah, Menyegarkan Wajah (Tabarrud), dan Membersihkan Debu

Saat cuaca panas terik atau seusai beraktivitas di luar ruangan, seorang Muslim sering kali pergi ke tempat wudhu dengan dua dorongan sekaligus: ingin berwudhu untuk salat sekaligus ingin menyegarkan tubuh yang gerah (tabarrud) atau membersihkan wajah dari debu dan minyak (tanzhif). Apakah penggabungan niat duniawi tersebut merusak kemurnian niat wudhu (isyirak fin niyyah)? Penjelasan Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam Kanzur Raghibin memberikan jawaban yang sangat melegakan hati[14].

d. Penggunaan Produk Skincare, Kosmetik Waterproof, dan Kotoran di Bawah Kuku

Tren perawatan kulit modern menghadirkan berbagai produk seperti sunscreen (tabir surya), foundation, lip matte, eyeliner waterproof, hingga kuteks (nail polish). Dalam fikih Syafi'i, syarat mutlak sahnya basuhan wudhu adalah tidak adanya mani' hissi (penghalang fisik berwujud/jirm) yang menghalangi sampainya air secara langsung ke kulit dan rambut wajah, serta ke kulit tangan dan bawah kuku[15][16]. Membedakan antara residu minyak/warna tipis yang terserap pori-pori (atsar/laun) dengan lapisan film kedap air yang memiliki ketebalan zat (jirm) menjadi sangat krusial agar ibadah salat kita sah di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

3. Dekonstruksi 5 Kitab Turats: Qaul Kanzur Raghibin & Syarah Minhajuth Thalibin

Untuk membangun kerangka hukum yang kokoh, mari kita bedah secara langsung ibaroh (teks asli) dari lima kitab rujukan utama Mazhab Syafi'i yang memaparkan anatomi pembatal dan syarat sah wudhu secara sistematis:

3.1. Kitab Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin — Karya Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli (791–864 H)

Dalam Bab Asbabil Hadats, Imam Jalaluddin Al-Mahalli menjelaskan pembatal wudhu kedua (hilangnya akal karena tidur) beserta syarat pengecualian tidur duduk yang tetap tempat duduknya (mumakkin maq'adahu)[10]:

﴿الثَّانِي: زَوَالُ الْعَقْلِ﴾ أَيِ التَّمْيِيزِ بِنَوْمٍ أَوْ غَيْرِهِ كَجُنُونٍ أَوْ إِغْمَاءٍ أَوْ سُكْرٍ... ﴿إِلَّا نَوْمَ مُمَكِّنٍ مَقْعَدَهُ﴾ أَيْ أَلْيَتَيْهِ مِنْ مَقَرِّهِ فَلَا يَنْقُضُ؛ لِأَمْنِ خُرُوجِ شَيْءٍ فِيهِ مِنْ دُبُرِهِ، وَلَا عِبْرَةَ بِاحْتِمَالِ خُرُوجِ رِيحٍ مِنَ الْقُبُلِ لِنُدْرَتِهِ. وَلَا تَمْكِينَ لِمَنْ نَامَ عَلَى قَفَاهُ مُلْصِقًا مَقْعَدَهُ بِمَقَرِّهِ، وَلَا لِمَنْ نَامَ قَاعِدًا وَهُوَ هَزِيلٌ بَيْنَ بَعْضِ مَقْعَدِهِ وَمَقَرِّهِ تَجَافٍ.
"Pembatal kedua: Hilangnya akal, yakni daya pembeda (tamyiz) disebabkan tidur atau selainnya seperti gila, pingsan, atau mabuk... Dikecualikan tidur orang yang menetapkan tempat duduknya, yakni kedua bokongnya pada tempat bertumpunya, maka tidak membatalkan wudhu; karena amannya kondisi tersebut dari keluarnya sesuatu dari duburnya, dan tidak diperhitungkan kemungkinan keluarnya angin dari qubul karena sangat jarang terjadi. Dan tidak dianggap menetapkan tempat duduk (la tamkina) bagi orang yang tidur telentang di atas tengkuk/punggungnya meskipun menempelkan bokongnya pada alasnya, dan tidak pula bagi orang kurus yang tidur duduk sedangkan di antara sebagian bokong dan tempat duduknya terdapat celah renggang (tajafin)."[10]

Selanjutnya, mengenai pembatal wudhu ketiga berupa persentuhan kulit laki-laki dan perempuan (iltiqa'u basyaratayir rajuli wal mar'ah), Imam Jalaluddin Al-Mahalli menegaskan dalam Kanzur Raghibin[12][13]:

﴿الثَّالِثُ: الْتِقَاءُ بَشَرَتَيِ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ﴾ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ﴾ أَيْ لَمَسْتُمْ كَمَا قُرِئَ بِهِ، وَاللَّمْسُ الْجَسُّ بِالْيَدِ كَمَا فَسَّرَهُ بِهِ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَالْمَعْنَى فِي النَّقْضِ بِهِ أَنَّهُ مَظِنَّةٌ لِلِالْتِذَاذِ الْمُثِيرِ لِلشَّهْوَةِ، وَمِثْلُهُ فِي ذَلِكَ بَاقِي صُوَرِ الِالْتِقَاءِ، فَأُلْحِقَ بِهِ وَأُطْلِقَ عَلَيْهِ فِي الْبَابِ اللَّمْسُ تَوَسُّعًا ﴿إِلَّا مَحْرَمًا﴾ فَلَا يَنْقُضُ لَمْسُهَا ﴿فِي الْأَظْهَرِ﴾ لِأَنَّهَا لَيْسَتْ مَحَلًّا لِلشَّهْوَةِ... ﴿وَالْمَلْمُوسُ﴾ وَهُوَ مَنْ وَقَعَ عَلَيْهِ اللَّمْسُ رَجُلًا كَانَ أَوِ امْرَأَةً ﴿كَالَّامِسِ﴾ فِي انْتِقَاضِ وُضُوئِهِ ﴿فِي الْأَظْهَرِ﴾ لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي لَذَّةِ اللَّمْسِ كَالْمُشْتَرِكَيْنِ فِي لَذَّةِ الْجِمَاعِ... ﴿وَلَا تَنْقُضُ صَغِيرَةٌ﴾ أَيْ مَنْ لَمْ تَبْلُغْ حَدًّا تُشْتَهَى ﴿وَشَعَرٌ وَسِنٌّ وَظُفْرٌ فِي الْأَصَحِّ﴾ لِانْتِفَاءِ الْمَعْنَى فِي لَمْسِ الْمَذْكُورَاتِ؛ لِأَنَّ أَوَّلَهَا لَيْسَ مَحَلًّا لِلشَّهْوَةِ وَبَاقِيَهَا لَا يُلْتَذُّ بِلَمْسِهِ وَإِنِ الْتُذَّ بِالنَّظَرِ إِلَيْهِ... وَالْبَشَرَةُ ظَاهِرُ الْجِلْدِ.
"Pembatal ketiga: Bertemunya kulit laki-laki dan perempuan. Allah Ta'ala berfirman: 'Atau kalian menyentuh perempuan', yakni menyentuh (lamastum tanpa alif) sebagaimana dibaca dalam qira'ah mutawatirah. Al-Lams adalah meraba dengan tangan sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma. Alasan hukum ('illat) batalnya wudhu dengannya adalah karena ia merupakan mazhinnah (dugaan kuat) munculnya kelezatan yang membangkitkan syahwat, dan seluruh bentuk pertemuan kulit lainnya serupa dengannya dalam hal itu... Dikecualikan mahram, maka menyentuhnya tidak membatalkan wudhu menurut pendapat Al-Azhar karena mahram bukanlah objek syahwat... Dan pihak yang disentuh (al-malmus), baik laki-laki maupun perempuan, hukumnya sama seperti pihak yang menyentuh (kal-lamis) dalam hal batalnya wudhu menurut pendapat Al-Azhar... Dan tidak membatalkan wudhu menyentuh anak perempuan kecil yang belum mencapai batas usia yang diingini syahwat, serta tidak batal menyentuh rambut, gigi, dan kuku menurut pendapat Al-Ashahh karena tidak adanya makna kelezatan sentuhan pada bagian-bagian tersebut... Dan al-basyarah adalah permukaan luar kulit."[12][13]

Kemudian dalam Bab Al-Wudhu', Imam Al-Mahalli menguraikan hukum menggabungkan niat menyegarkan badan (tabarrud) atau membersihkan diri (tanzhif) dengan niat wudhu, serta kewajiban membasuh seluruh rambut dan kulit wajah[14][17][18]:

﴿وَمَنْ نَوَى تَبَرُّدًا مَعَ نِيَّةٍ مُعْتَبَرَةٍ﴾ كَنِيَّةٍ مِمَّا تَقَدَّمَ ﴿جَازَ﴾ لَهُ ذَلِكَ أَيْ لَمْ يَضُرَّهُ فِي النِّيَّةِ الْمُعْتَبَرَةِ ﴿عَلَى الصَّحِيحِ﴾ لِحُصُولِهِ مِنْ غَيْرِ نِيَّةٍ، وَالثَّانِي يَضُرُّهُ لِلْإِشْرَاكِ فِي النِّيَّةِ بَيْنَ الْعِبَادَةِ وَغَيْرِهَا، وَنِيَّةُ التَّنْظِيفِ كَنِيَّةِ التَّبَرُّدِ فِيمَا ذُكِرَ.
"Dan barangsiapa berniat menyegarkan diri (tabarrud) bersamaan dengan niat wudhu yang mu'tabar (sah), maka hal itu boleh baginya, yakni tidak membahayakan keabsahan niat wudhunya menurut pendapat Ash-Shahih, karena kesegaran itu tetap akan diperoleh meski tanpa diniatkan; sedangkan pendapat kedua menyatakan hal itu merusak niat karena adanya penyekutuan (isyirak) antara ibadah dan selainnya. Dan niat membersihkan diri (at-tanzhif) hukumnya sama seperti niat tabarrud dalam ketentuan tersebut."[14]

3.2. Kitab Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah 'ala Kanzir Raghibin — Karya Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi (w. 1069 H) & Syaikh 'Umairah Al-Burullusi (w. 957 H)

Dalam Hasyiyah atas Kanzur Raghibin, Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi memberikan rincian sangat tajam mengenai perbedaan antara kantuk (an-nu'as) dan tidur (an-naum), serta hukum orang yang ragu apakah ia tidur atau sekadar mengantuk[11]:

وَيُعَرَّفُ النَّوْمُ بِأَنَّهُ رِيحٌ لَطِيفَةٌ تَأْتِي مِنَ الدِّمَاغِ إِلَى الْقَلْبِ فَتُغَطِّي الْعَيْنَ، فَإِنْ لَمْ تَصِلْ إِلَى الْقَلْبِ فَهُوَ النُّعَاسُ وَلَا نَقْضَ بِهِ، وَمِنْ عَلَامَتِهِ سَمَاعُ كَلَامِ الْحَاضِرِينَ وَإِنْ لَمْ يَفْهَمْهُ، وَمِنْ عَلَامَةِ النَّوْمِ الرُّؤْيَا، لَكِنْ لَوْ وُجِدَتِ الرُّؤْيَا وَلَمْ يَتَذَكَّرْ نَوْمًا أَوْ شَكَّ هَلْ نَامَ أَوْ نَعَسَ فَلَا نَقْضَ فِيهِمَا.
"Tidur (an-naum) didefinisikan sebagai uap/hembusan halus yang datang dari otak menuju hati lalu menutup mata; apabila uap tersebut belum sampai ke hati maka ia disebut kantuk (an-nu'as) dan tidak membatalkan wudhu. Di antara tanda kantuk adalah masih terdengarnya ucapan orang-orang yang hadir di sekitarnya walaupun ia tidak memahaminya, sedangkan tanda tidur adalah mimpi; namun seandainya seseorang mendapati bayangan mimpi tetapi tidak ingat pernah tidur, atau ia ragu apakah tadi tidur atau sekadar mengantuk, maka wudhunya tidak batal pada kedua kondisi tersebut."[11]

Selain itu, Syaikh Al-Qalyubi juga memperjelas syarat tidak adanya penghalang fisik (mani' hissi) seperti lilin/kosmetik tebal, kulit mati yang mengelupas, maupun kotoran di bawah kuku, sembari membedakannya dari bekas warna pacar atau minyak cair yang tidak menghalangi air[15][19]:

وَيَجِبُ إِزَالَةُ مَا عَلَيْهِمَا مِنْ نَحْوِ جِرْمٍ كَشَمْعٍ يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ، وَلَا يَضُرُّ لَوْنُ نَحْوِ صِبَاغٍ وَلَا دُهْنٌ، وَيَجِبُ إِزَالَةُ نَحْوِ قَشَفٍ مَيِّتٍ وَمَا تَحْتَ ظُفْرٍ مِنْ وَسَخٍ يَمْنَعُ الْمَاءَ.
"Dan wajib menghilangkan benda yang menempel pada anggota wudhu berupa zat berwujud (jirm) seperti lilin (syam') yang menghalangi sampainya air ke kulit; namun tidak mengapa (tidak menghalangi sahnya wudhu) warna semisal celupan pacar/pewarna (shibagh) dan tidak pula minyak cair (duhn). Dan wajib menghilangkan kerak kulit mati serta kotoran di bawah kuku yang menghalangi sampainya air."[19]

3.3. Kitab Imta'ul Asma' fi Syarh Matn Abi Syuja' — Karya Syaikh Mush'ab bin Al-Hasan Al-'Akkari

Syaikh Mush'ab Al-'Akkari dalam Imta'ul Asma' merangkum kaidah penting bagi seseorang yang mengalami persentuhan di tempat umum namun ragu apakah tangan atau tubuhnya menyentuh kulit lawan jenis atau hanya menyentuh rambut/pakaiannya[20][21]:

وَمَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ شَكَّ هَلِ انْتَقَضَ وُضُوؤُهُ أَمْ لَا، أَخَذَ بِالْوُضُوءِ؛ لِأَنَّهُ مُتَيَقِّنٌ أَنَّهُ تَوَضَّأَ، وَالْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ، فَمَنْ لَمَسَ امْرَأَةً ثُمَّ شَكَّ هَلْ لَمَسَ بَشَرَتَهَا أَمْ أَنَّهُ لَمْ يَلْمِسْ سِوَى شَعَرِهَا، حُمِلَ عَلَى الشَّعَرِ؛ لِأَنَّهُ تَيَقَّنَ مِنْ وُضُوئِهِ وَشَكَّ فِي الْحَدَثِ، فَيَأْخُذُ بِالْيَقِينِ؛ وَلِأَنَّ الْأَصْلَ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ.
"Dan barangsiapa telah berwudhu kemudian ia ragu apakah wudhunya telah batal atau belum, maka ia berpegang pada status sucinya wudhu; karena ia yakin telah berwudhu, sedangkan keyakinan tidak dapat dihapus oleh keraguan. Maka barangsiapa menyentuh seorang perempuan lalu ia ragu apakah tadi menyentuh kulitnya ataukah hanya menyentuh rambutnya saja, maka dihukumi hanya menyentuh rambut (tidak batal); karena ia yakin atas wudhunya dan ragu atas terjadinya hadats, sehingga ia mengambil yang yakin, dan karena hukum asal adalah tetapnya sesuatu pada keadaan semula."[21]

3.4. Kitab Nailur Raja' bi Syarh Safinatun Naja — Karya As-Sayyid Ahmad bin 'Umar Asy-Syathiri (1312–1360 H)

Dalam Nailur Raja' bi Syarh Safinatun Naja, tercantum sepuluh syarat sah wudhu dan empat pembatal wudhu yang dirumuskan secara sangat padat dan presisi bagi setiap mukallaf[22][23]:

شُرُوطُ الْوُضُوءِ عَشَرَةٌ: الْإِسْلَامُ، وَالتَّمْيِيزُ، وَالنَّقَاءُ عَنِ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ، وَعَمَّا يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ إِلَى الْبَشَرَةِ، وَأَلَّا يَكُونَ عَلَى الْعُضْوِ مَا يُغَيِّرُ الْمَاءَ، وَالْعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهِ، وَأَلَّا يَعْتَقِدَ فَرْضًا مِنْ فُرُوضِهِ سُنَّةً، وَالْمَاءُ الطَّهُورُ، وَدُخُولُ الْوَقْتِ وَالْمُوَالَاةُ لِدَائِمِ الْحَدَثِ.
"Syarat-syarat wudhu ada sepuluh: Islam, tamyiz, bersih dari haid dan nifas, bersih dari segala benda yang menghalangi sampainya air ke kulit, tidak adanya zat pada anggota wudhu yang mengubah sifat air secara parah, mengetahui kefardhuan wudhu, tidak meyakini salah satu fardhu wudhu sebagai sunnah, menggunakan air suci menyucikan (thahur), serta masuknya waktu salat dan muwalah bagi orang yang berhadats terus-menerus (da'imul hadats)."[22]

3.5. Kitab Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhabil Imam Asy-Syafi'i & Fatawa Al-Imam An-Nawawi

Prof. Dr. Musthafa Al-Khin, Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha, dan Syaikh 'Ali Asy-Syarbaji dalam Al-Fiqhul Manhaji menegaskan hikmah disyariatkannya ketelitian membasuh seluruh anggota wudhu hingga bagian bawah kuku dan cincin, serta alasan mengapa tidur duduk yang rapat tidak membatalkan wudhu[24][25]:

وَيَجِبُ تَعْمِيمُ جَمِيعِ الشَّعَرِ وَالْبَشَرَةِ بِالْغَسْلِ، فَلَوْ كَانَ تَحْتَ أَظَافِرِهِ وَسَخٌ يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ أَوْ خَاتَمٌ لَمْ يَصِحَّ الْوُضُوءُ... وَأَمَّا مَنْ نَامَ عَلَى هَيْئَةِ الْمُتَمَكِّنِ فَلَا يَنْقُضُ وُضُوؤُهُ، لِأَنَّهُ يَشْعُرُ بِمَا يَخْرُجُ مِنْهُ.
"Dan wajib meratakan basuhan air ke seluruh rambut dan kulit (pada anggota wudhu); maka seandainya di bawah kuku-kukunya terdapat kotoran yang menghalangi sampainya air atau terdapat cincin (yang sempit hingga air tidak masuk ke bawahnya), tidaklah sah wudhunya... Adapun orang yang tidur dalam posisi duduk yang tetap (hai'atul mutamakkin), maka wudhunya tidak batal karena ia akan menyadari apabila ada sesuatu yang keluar darinya."[24][25]

Sementara itu, Al-Imam An-Nawawi dalam Fatawa Al-Imam An-Nawawi (Al-Masa'ilul Mantsurah) menegaskan bahwa pembatal wudhu seperti menyentuh kemaluan dengan telapak tangan bagian dalam tetap berlaku meskipun dilakukan karena lupa (nasiyan), sebab pembatal wudhu termasuk dalam kategori hukum wadh'i (sebab-akibat hukum) yang tidak gugur karena lupa[26].

4. Tabel Matriks Komparasi Hukum Pembatal dan Syarat Sah Wudhu Kontemporer

Tabel matriks berikut merangkum parameter hukum fikih Syafi'i berdasarkan kitab Kanzur Raghibin dan Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah untuk berbagai kasus modern di ruang publik:

No. Kasus Kontemporer di Ruang Publik Status Hukum Wudhu Dasar Ibaroh & Argumen Kanzur Raghibin Solusi Praktis bagi Mukallaf
1 Mengantuk (Nu'as) di KRL/Bus atau Ruang Kuliah (masih mendengar suara obrolan sekitar meski samar) Tidak Batal (Suci) Hembusan kantuk belum sampai ke hati; ditandai dengan masih terdengarnya suara hadirin (Hasyiyah Qalyubi, Juz 1, hlm. 35)[11]. Langsung mendirikan salat tanpa perlu mengulangi wudhu.
2 Tidur Duduk Rapat (Tamkinul Maq'ad) di kursi kereta/pesawat/lantai masjid tanpa miring Tidak Batal (Suci) Kedua bokong (alyatani) menempel rapat pada tempat duduk sehingga aman dari keluarnya angin (Kanzur Raghibin, Juz 1, hlm. 36)[10]. Pastikan saat terbangun posisi bokong tidak bergeser/terangkat sebelum bangun; jika ragu apakah bergeser sebelum atau sesudah bangun, tetap suci[11].
3 Tidur Duduk pada Orang Kurus yang Ada Celah Renggang atau Tidur Telentang/Bersandar Miring Batal Wudhunya Adanya tajafin (celah renggang) antara bokong dan alas duduk menghilangkan syarat tamkin, kecuali jika duduk di atas bantalan empuk yang menutup celah[10][11]. Wajib memperbarui wudhu sebelum melaksanakan salat.
4 Tersentuh Kulit Lawan Jenis Bukan Mahram (Dewasa) Tanpa Penghalang meski tidak sengaja Batal bagi Menyentuh & Disentuh (Al-Azhar) Iltiqa'u basyaratayir rajuli wal mar'ah membatalkan wudhu bagi al-lamis dan al-malmus menurut qaul Al-Azhar (Kanzur Raghibin, Juz 1, hlm. 36–37)[12][13]. Gunakan pakaian berlengan panjang/sarung tangan di transportasi padat; jika tersentuh kulit langsung, perbarui wudhu.
5 Tersentuh Rambut, Kuku, Gigi, atau Melapisi dengan Kain Tipis Tidak Batal (Al-Ashahh) Rambut, gigi, dan kuku bukan termasuk basyarah (kulit), dan adanya ha'il (penghalang kain walaupun tipis) mencegah batalnya wudhu[13]. Tidak perlu mengulangi wudhu; hindari rasa waswas berlebihan.
6 Ragu Apakah yang Tersentuh di Kerumunan Itu Kulit atau Kain/Rambut Tidak Batal (Tetap Suci) Kaidah Al-Yaqin la yazulu bisy-syakk: keyakinan sucinya wudhu tidak gugur oleh keraguan terjadinya hadats (Imta'ul Asma', hlm. 39)[21]. Abaikan keraguan tersebut dan tetaplah salat dengan wudhu yang ada.
7 Berwudhu Sambil Berniat Menyegarkan Wajah (Tabarrud) atau Mencuci Muka (Tanzhif) Sah Wudhunya (Ash-Shahih) Kesegaran dan kebersihan tetap tercapai tanpa niat, sehingga menyertakannya bersama niat wudhu yang mu'tabar tidak merusak wudhu[14]. Pastikan niat utama di dalam hati saat membasuh wajah tetap menghadirkan niat fardhu wudhu atau mengangkat hadats.
8 Berwudhu di Atas Lapisan Kosmetik Waterproof / Kuteks / Kotoran Kuku yang Tebal Tidak Sah Wudhunya Segala benda berwujud (jirm) yang menghalangi air menyentuh kulit atau bagian bawah kuku wajib dibersihkan terlebih dahulu[15][19]. Bersihkan kosmetik waterproof dengan micellar water/sabun sebelum berwudhu; adapun krim/minyak tipis yang meresap tanpa lapisan film kedap air tidak menghalangi sahnya wudhu[19].

5. Bagan Alur Vertikal Keputusan Hukum Wudhu di Ruang Publik & Perjalanan

Berikut adalah bagan alur vertikal (decision flowchart) berbasis kriteria kitab Kanzur Raghibin untuk membantu seorang Muslim mengambil keputusan fikih secara cepat dan tepat saat berada di ruang publik:

TAHAP 1: Evaluasi Kondisi Awal (Status Thaharah)

Apakah Anda yakin sudah berwudhu secara sah (air mutlak merata ke seluruh anggota wudhu tanpa terhalang lapisan waterproof/jirm dan disertai niat saat membasuh awal wajah)? Jika YA, Anda berada dalam status Suci Secara Yakin (Al-Yaqin bith-Thaharah).

TAHAP 2: Pemeriksaan Kasus Tidur / Mengantuk di Perjalanan

Apakah Anda masih mendengar suara orang di sekitar meski samar? Jika YA, itu adalah Nu'as (kantuk) → Wudhu Tidak Batal. Jika TIDAK (tidur lelap), periksa posisi duduk: apakah kedua bokong menempel rapat pada kursi tanpa celah (Tamkinul Maq'ad) dan tidak bergeser sebelum terbangun? Jika YA → Wudhu Tidak Batal. Jika tidur telentang, miring, atau bokong terangkat sebelum bangun → Wudhu Batal.

TAHAP 3: Pemeriksaan Kasus Persentuhan di Kerumunan (Lamsul Mar'ah)

Apakah terjadi sentuhan dengan lawan jenis dewasa bukan mahram? Jika terhalang kain (meski tipis), atau yang tersentuh adalah rambut, kuku, atau gigi, atau Anda ragu apakah yang tersentuh itu kulit atau kain/rambut → Wudhu Tidak Batal. Jika yakin 100% kulit bertemu kulit tanpa penghalang → Wudhu Batal menurut Qaul Al-Azhar (atau dapat bertaklid pada pendapat yang membedakan al-malmus tanpa syahwat dalam kondisi darurat/masyaqqah ekstrem dengan memahami ketentuannya).

TAHAP 4: Pemeriksaan Saat Memperbarui Wudhu di Tempat Umum

Sebelum membasuh wajah dan tangan, pastikan tidak ada lapisan jirm kedap air (kuteks, lip matte tebal, cat, atau kotoran padat di bawah kuku). Hadirkan niat mengangkat hadats atau menunaikan fardhu wudhu berbarengan dengan basuhan pertama wajah (meskipun disertai keinginan menyegarkan wajah/tabarrud, wudhu tetap Sah menurut Qaul Ash-Shahih).

6. Analisis Kaidah Ushul Fiqh dan Qawa'id Fiqhiyyah: Al-Yaqin La Yazulu bisy-Syakk

Ketelitian para ulama Syafi'iyyah dalam Kanzur Raghibin dan kitab-kitab syarahnya berdiri di atas fondasi metodologi Ushul Fiqh dan Qawa'id Fiqhiyyah yang sangat mapan. Sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Dr. Muhammad Hasan Hito dalam Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh, derajat persepsi manusia terhadap suatu fakta terbagi menjadi empat tingkatan: Al-'Ilm / Al-Yaqin (keyakinan 100%), Azh-Zhann (dugaan kuat 51%–99%), Asy-Syakk (keraguan setara 50%–50%), dan Al-Wahm (kemungkinan lemah 1%–49%)[27]. Dalam bab pembatal wudhu, berlaku kaidah agung pertama:

«الْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ»
"Keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan."[21]

Turunan langsung dari kaidah ini adalah kaidah Istishhabul Ashl:

«الْأَصْلُ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ»
"Hukum asal sesuatu adalah tetapnya ia sebagaimana keadaan semula (sampai ada bukti yakin yang mengubahnya)."[21]

Dalam Hasyiyah Qalyubi 'ala Kanzir Raghibin, kaidah ini diterapkan pada berbagai persoalan nyata: (1) Seseorang yang tidur duduk lalu saat terbangun mendapati salah satu bokongnya terangkat, namun ia ragu apakah bokongnya terangkat sebelum ia bangun atau sesudah ia bangun, maka wudhunya tidak batal; (2) Seseorang yang ragu apakah ia tadi tertidur (naum) atau hanya mengantuk (nu'as), maka wudhunya tidak batal[11]; (3) Seseorang yang ragu apakah perempuan yang tersentuh di keramaian itu mahramnya atau bukan, atau ragu apakah yang tersentuh itu kulit atau rambut, maka wudhunya tidak batal[13][21].

Namun, mengapa tidur yang tidak menetapkan tempat duduk (ghairu mumakkin) dan menyentuh kulit lawan jenis bukan mahram tetap membatalkan wudhu meskipun pelakunya merasa yakin tidak keluar angin atau tidak merasakan syahwat? Di sinilah berlaku kaidah Ushul Fiqh kedua tentang Iqamatul Mazhinnah Maqamal Madznun (menempatkan indikasi kuat/mazhinnah pada kedudukan hukum aslinya demi kepastian hukum syariat):

«الْمَظِنَّةُ تُنَزَّلُ مَنْزِلَةَ الْيَقِينِ»
"Indikasi kuat (mazhinnah) ditempatkan pada kedudukan yakin dalam penetapan hukum syariat."[11]

Sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Al-Qalyubi ketika mensyarah Kanzur Raghibin, tidur tanpa menetapkan bokong adalah mazhinnah keluarnya angin, dan persentuhan kulit laki-laki dengan perempuan asing adalah mazhinnah bangkitnya syahwat. Karena sifat keluarnya angin saat tidur dan gejolak syahwat saat bersentuhan bersifat samar jika diukur per individu, syariat mengikat hukum batalnya wudhu pada sabab zhahir (sebab lahiriah yang terukur), yaitu tidurnya orang yang tidak menetapkan tempat duduk dan bertemunya dua kulit tanpa penghalang[11][12].

Adapun terkait kewajiban membasuh sedikit bagian kepala, telinga, dan bawah dagu saat membasuh wajah, serta membasuh sedikit bagian lengan atas ('adhud) dan betis (saq) saat membasuh tangan dan kaki, hal tersebut didasarkan pada kaidah Ushul Fiqh tentang Muqaddimatul Wajib yang diuraikan dalam Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh dan Imta'ul Asma'[16][28]:

«مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ»
"Suatu kewajiban yang tidak dapat sempurna kecuali dengan adanya sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu pun hukumnya menjadi wajib."[16][28]

7. Bedah Detail Kanzur Raghibin: Tamkinul Maq'ad, Al-Malmus, dan Niat Tabarrud

Keunggulan kitab Kanzur Raghibin karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli terletak pada presisi redaksinya dalam mengurai setiap kata dari Matn Minhajuth Thalibin karya Imam An-Nawawi. Mari kita cermati empat rincian mendalam (daqa'iqul masa'il) yang sangat relevan bagi masyarakat modern:

7.1. Rincian Anatomi Tidur الْمُمَكِّنِ مَقْعَدَهُ (Mumakkin Maq'adahu)

Imam Al-Mahalli menjelaskan bahwa maksud dari mumakkin maq'adahu adalah menempelnya kedua bokong (alyatani) secara mantap pada tempat duduknya (maqarrihi), baik ia duduk di atas lantai, kursi, maupun di atas hewan tunggangan/kendaraan, selama tidak ada celah renggang (tajafin) antara bokong dan alas duduknya[10][11]. Syaikh Al-Qalyubi menambahkan bahwa meskipun seseorang duduk sambil memeluk lutut (muhtabiyan) atau menjulurkan kedua kakinya, selama kedua bokongnya menempel rapat pada alas duduk, wudhunya tetap terjaga. Bahkan bagi orang yang sangat kurus (hazil) atau sangat gemuk yang secara anatomis memiliki celah pada bokongnya, apabila ia duduk di atas bantalan kursi yang empuk (nahwu quthnin) yang menutup rapat celah tersebut sehingga aman dari keluarnya angin, maka tidurnya tidak membatalkan wudhu[11].

7.2. Perbedaan Pendapat Internal Syafi'iyyah tentang Pihak yang Tersentuh (Al-Malmus)

Dalam Kanzur Raghibin disebutkan bahwa menurut Qaul Al-Azhar (pendapat terkuat dari dua pendapat Imam Asy-Syafi'i), pihak yang disentuh (al-malmus) sama-sama batal wudhunya sebagaimana pihak yang menyentuh (al-lamis)[13]. Namun, penggunaan istilah Al-Azhar oleh Imam An-Nawawi dalam terminologi Minhajuth Thalibin menunjukkan bahwa muqabilul Azhar (pendapat kedua dari Imam Asy-Syafi'i) memiliki dalil yang kuat (qawiyal khilaf liquwwati madrakihi)[29]. Pendapat kedua (muqabilul Azhar) menyatakan bahwa wudhu pihak yang disentuh (al-malmus) tidak batal karena berpegang pada zahir ayat Al-Qur'an ﴿أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ﴾ yang hanya mengaitkan hukum pada pelaku aktif yang menyentuh[13]. Memahami khazanah khilaf internal mazhab ini memberikan wawasan luas bahwa dalam situasi darurat (seperti saat tawaf di Masjidil Haram yang sangat padat), para ulama memberikan jalan keluar ilmiah bagi orang yang tersentuh tanpa kehendaknya.

7.3. Anatomi Rambut Wajah (Syu'urul Wajhi) dan Batas Wajah dalam Kanzur Raghibin

Ketika membahas rukun kedua wudhu (membasuh wajah), Imam Al-Mahalli dalam Kanzur Raghibin merinci batas wajah secara vertikal dari tempat tumbuh rambut kepala pada umumnya (manabit sya'ri ra'sihi ghaliban) hingga ujung bawah dua tulang rahang bawah/dagu (muntaha lahyayhi), dan secara horizontal di antara kedua telinga[17]. Seluruh rambut yang tumbuh di area wajah—yaitu bulu mata (hudb), alis (hajib), jambang/cambang ('idzar), kumis (syarib), bulu pipi (khadd), dan bulu di bawah bibir bawah ('anfaqah)—wajib dibasuh luar dan dalamnya (rambut sekaligus kulit di bawahnya) baik tipis maupun tebal, karena ketebalan pada keenam rambut tersebut jarang terjadi[17][18]. Adapun jenggot laki-laki (al-lihyah), apabila tipis (kulit di bawahnya masih terlihat dalam jarak duduk percakapan normal), wajib dibasuh luar dan dalamnya; sedangkan apabila tebal/lebat, cukup dibasuh bagian luarnya saja dan disunnahkan menyela-nyelanya (takhlil) dari arah bawah dagu[18]. Implikasi modernnya: penggunaan brow gel, mascara waterproof pada bulu mata, atau pomade/wax kedap air yang melapisi alis dan bulu mata wanita maupun pria wajib dibersihkan sebelum berwudhu karena bulu mata dan alis wajib terbasuh air hingga ke kulit pangkalnya!

7.4. Mengusap Sebagian Kepala dan Hukum Rambut Panjang yang Dijuntai atau Disanggul

Pada rukun keempat wudhu (mengusap sebagian kulit kepala atau rambut yang berada dalam batas kepala), Imam Al-Mahalli menegaskan dalam Kanzur Raghibin[18]:

﴿الرَّابِعُ: مُسَمَّى مَسْحٍ لِبَشَرَةِ رَأْسِهِ أَوْ شَعَرٍ فِي حَدِّهِ﴾ أَيْ حَدِّ الرَّأْسِ بِأَنْ لَا يَخْرُجَ بِالْمَدِّ عَنْهُ، وَلَوْ خَرَجَ عَنْهُ بِالْمَدِّ لَمْ يَكْفِهِ الْمَسْحُ عَلَى الْخَارِجِ.
"Rukun keempat: Sesuatu yang dapat disebut mengusap pada kulit kepalanya atau pada rambut yang masih berada dalam batas kepalanya, yakni rambut yang apabila ditarik lurus ke arah turunnya tidak keluar dari batas kepala; seandainya rambut tersebut keluar dari batas kepala apabila ditarik lurus, maka tidak sah jika hanya mengusap pada bagian ujung rambut yang keluar tersebut."[18]

Ketentuan ini sangat penting bagi Muslimah berambut panjang yang menggelung atau menyanggul rambutnya di atas kepala: ketika berwudhu, usapan air harus mengenai rambut bagian pangkal/atas yang memang berada di area batok kepala, bukan sekadar mengusap ujung rambut panjang yang dililitkan ke atas kepala[16][18].

8. Panduan Praktis Menjaga Wudhu bagi Pekerja, Mahasiswa, dan Pengguna Transportasi Umum

Agar ibadah salat lima waktu di sela-sela kesibukan kerja dan studi senantiasa sah menurut standar fikih Syafi'i tanpa terjebak pada kesulitan maupun rasa waswas, berikut panduan praktis yang dapat diterapkan setiap hari:

  1. Kenakan Pakaian yang Melindungi Kulit Saat Menggunakan Transportasi Padat: Bagi komuter yang telah berwudhu dari rumah atau kantor, mengenakan kemeja lengan panjang, jaket tipis, atau manset tangan sangat efektif menjadi ha'il (penghalang) sehingga senggolan tak sengaja di dalam gerbong KRL atau bus tidak membatalkan wudhu[13][20].
  2. Duduklah dengan Posisi Tegak dan Mantap Saat Mengantuk di Perjalanan: Apabila rasa kantuk menyerang di kursi kereta atau ruang tunggu, pastikan kedua bokong menempel rapat pada bantalan kursi (mumakkinan maq'adahu) dan hindari posisi merosot atau miring yang mengangkat salah satu sisi bokong[10].
  3. Pilih Produk Skincare yang Mudah Dibilas (Wudhu-Friendly / Water-Based): Gunakan pelembap atau tabir surya berbahan dasar air (water-based) atau minyak alami yang meresap ke kulit tanpa membentuk lapisan film plastik/lilin (jirm). Jika menggunakan riasan waterproof (seperti mascara waterproof, eyeliner waterproof, atau lip matte transferproof yang tebal), sediakan micellar water atau tisu pembersih di dalam tas untuk menghapusnya sebelum berwudhu[15][19].
  4. Periksa Kebersihan Bawah Kuku dan Cincin: Bagi pekerja lapangan, teknisi, seniman, atau juru masak, pastikan tidak ada sisa cat, lem, adonan kering, atau kotoran padat di bawah kuku yang menghalangi air, serta gerakkan cincin yang sempit agar air wudhu merata ke seluruh kulit jari[19][24].
  5. Hadirkan Niat Wudhu Tepat Saat Air Pertama Kali Menyentuh Wajah: Ketika mencuci muka di wastafel atau keran masjid untuk menyegarkan diri di siang hari, jangan lupa menghadirkan niat nawaitu raf'al hadats atau nawaitu fardhal wudhu' di dalam hati berbarengan dengan basuhan pertama pada bagian wajah, sehingga Anda meraih kesegaran fisik sekaligus keabsahan ibadah wudhu[14].

9. Muhasabah & Self-Assessment Checklist Kesiapan Thaharah Harian

Mari gunakan daftar periksa mandiri (self-assessment checklist) berikut sebelum mendirikan salat di kantor, kampus, atau perjalanan:

[ ✓ ] 1. Pemeriksaan Niat & Muqaranah: Apakah saya sudah menghadirkan niat wudhu di dalam hati tepat saat air pertama kali membasuh bagian wajah (bukan hanya saat mencuci telapak tangan di awal)?[14][15]
[ ✓ ] 2. Pemeriksaan Bebas Penghalang (Mani' Hissi): Apakah permukaan wajah, bulu mata, alis, bibir, punggung tangan, sela jari, dan bawah kuku saya sudah bebas dari lapisan waterproof, kuteks, lem, atau kotoran padat?[17][19]
[ ✓ ] 3. Pemeriksaan Batas Basuhan & Usapan Kepala: Apakah basuhan tangan sudah melewati kedua siku, basuhan kaki melewati kedua mata kaki (termasuk tumit bagian belakang), dan usapan kepala mengenai rambut di area batok kepala (bukan ujung rambut yang menjuntai keluar batas kepala)?[9][18]
[ ✓ ] 4. Evaluasi Tidur di Perjalanan: Jika tadi sempat tertidur, apakah posisi duduk saya benar-benar rapat pada bantalan kursi (tamkinul maq'ad) ataukah sempat miring/telentang?[10][11]
[ ✓ ] 5. Evaluasi Persentuhan & Kendali Waswas: Jika merasa tersenggol di keramaian, apakah saya yakin 100% terjadi pertemuan kulit dengan kulit tanpa penghalang kain, ataukah hanya sebatas keraguan (syakk) yang wajib diabaikan demi menjaga ketenangan ibadah?[13][21]

10. Kesimpulan Integratif & Rekomendasi Ilmiah

Melalui kajian komprehensif terhadap kitab Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin karya Al-Imam Jalaluddin Al-Mahalli beserta Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah dan kitab-kitab turats Syafi'iyyah lainnya, dapat disimpulkan bahwa fikih thaharah Islam memadukan ketelitian ilmiah (ihtiyath) dengan kemudahan syariat (taysir). Syariat menetapkan batas yang sangat jernih: kantuk ringan (nu'as) dan tidur duduk yang menetapkan bokong pada tempat duduknya (tamkinul maq'ad) tidak membatalkan wudhu; persentuhan yang membatalkan wudhu hanyalah pertemuan langsung kulit dengan kulit (al-basyarah) antara laki-laki dan perempuan dewasa bukan mahram tanpa penghalang, sedangkan tersentuh rambut, kuku, gigi, atau terhalang kain tipis—serta keraguan belaka—tidak membatalkan wudhu; dan berwudhu sambil berniat menyegarkan wajah (tabarrud) tetap sah selama disertai niat wudhu yang mu'tabar serta bebas dari lapisan penghalang air (jirm). Dengan memahami kaidah-kaidah ini, generasi Muslim modern dapat menjaga kualitas wudhu dan salatnya di tengah hiruk-pikuk aktivitas publik dengan penuh keyakinan, ilmu, dan ketenteraman batin[30].

Catatan Kaki (Footnotes) & Ibaroh Kitab Turats Terverifikasi

[1] Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi dan Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin (Tahqiq: Mahmud Shalih Ahmad Hasan Al-Hadidi, Cet. 2, Jeddah: Darul Minhaj, 1434 H / 2013 M, berkas PDF: كنز الراغبين شرح منهاج الطالبين1.pdf), Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, hlm. cetakan 74 [hlm. file PDF 74]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿كِتَابُ الطَّهَارَةِ﴾ هِيَ شَامِلَةٌ لِلْوُضُوءِ وَالْغُسْلِ وَإِزَالَةِ النَّجَاسَةِ وَالتَّيَمُّمِ الْآتِيَةِ مَعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِهَا... ﴿يُشْتَرَطُ لِرَفْعِ الْحَدَثِ وَالنَّجَسِ﴾ الَّذِي هُوَ الْأَصْلُ فِي الطَّهَارَةِ ﴿مَاءٌ مُطْلَقٌ، وَهُوَ: مَا يَقَعُ عَلَيْهِ اسْمُ مَاءٍ بِلَا قَيْدٍ﴾». ↑ Kembali ke Teks
[2] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin (Jeddah: Darul Minhaj, 1434 H / 2013 M, berkas PDF: كنز الراغبين شرح منهاج الطالبين1.pdf), Juz 1, Khuthbatusy Syarh, hlm. cetakan 67 [hlm. file PDF 67]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِنْعَامِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ، هَذَا مَا دَعَتْ إِلَيْهِ حَاجَةُ الْمُتَفَهِّمِينَ لِـ"مِنْهَاجِ الْفِقْهِ" مِنْ شَرْحٍ يَحُلُّ أَلْفَاظَهُ، وَيُبَيِّنُ مُرَادَهُ، وَيُتَمِّمُ مَفَادَهُ، عَلَى وَجْهٍ لَطِيفٍ خَالٍ عَنِ الْحَشْوِ وَالتَّطْوِيلِ، حَاوٍ لِلدَّلِيلِ وَالتَّعْلِيلِ». ↑ Kembali ke Teks
[3] Al-Qur'an Al-Karim, Surah Al-Ma'idah [5]: 6; dikutip sebagai dalil pokok rukun wudhu dalam Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah 'ala Syarhil Imam Jalaluddin Al-Mahalli 'ala Minhajith Thalibin (Cet. Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Al-Wudhu', hlm. cetakan 54–56 [hlm. file PDF 54–56]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ﴾. ↑ Kembali ke Teks
[4] Al-Qur'an Al-Karim, Surah An-Nisa' [4]: 43; dikutip dalam Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah 'ala Kanzir Raghibin (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Asbabil Hadats, hlm. cetakan 33 & 36 [hlm. file PDF 33 & 36]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا﴾. ↑ Kembali ke Teks
[5] Hadits Riwayat Al-Bukhari (no. 1) dan Muslim (no. 1907) dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu; dikutip dalam Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah 'ala Kanzir Raghibin (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Al-Wudhu', hlm. cetakan 52 [hlm. file PDF 52], dan dalam Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhabil Imam Asy-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, Cet. 4, 1413 H / 1992 M, berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 53 [hlm. file PDF 53]. نَصُّ الْحَدِيثِ: «إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى». ↑ Kembali ke Teks
[6] Hadits Riwayat Al-Bukhari (no. 135) dan Muslim (no. 225) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; dikutip dalam Imta'ul Asma' fi Syarh Matn Abi Syuja' karya Syaikh Mush'ab bin Al-Hasan Al-'Akkari (Cet. 1, 1441 H / 2019 M, berkas PDF: إمتاع الأسماع في شرح متن أبي شجاع.pdf), Fashl fi Nawaqidhul Wudhu', hlm. cetakan 38 [hlm. file PDF 40], dan Al-Fiqhul Manhaji, Juz 1, hlm. cetakan 62 [hlm. file PDF 62]. نَصُّ الْحَدِيثِ: «لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ، قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ: مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟ قَالَ: فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ». ↑ Kembali ke Teks
[7] Hadits Riwayat Abu Dawud (no. 203) dan Ibnu Majah (no. 477); dikutip dalam Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah 'ala Kanzir Raghibin (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Asbabil Hadats, hlm. cetakan 35–36 [hlm. file PDF 35–36]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَالْأَصْلُ فِي ذَلِكَ حَدِيثُ أَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ: الْعَيْنَانِ وِكَاءُ السَّهِ، فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ، وَغَيْرُ النَّوْمِ مِمَّا ذُكِرَ أَبْلَغُ مِنْهُ فِي الذُّهُولِ الَّذِي هُوَ مَظِنَّةٌ لِخُرُوجِ شَيْءٍ مِنَ الدُّبُرِ، كَمَا أَشْعَرَ بِهِ الْحَدِيثُ إِذِ السَّهُ الدُّبُرُ، وَوِكَاؤُهُ حِفَاظُهُ عَنْ أَنْ يَخْرُجَ مِنْهُ شَيْءٌ لَا يَشْعُرُ بِهِ، وَالْعَيْنَانِ كِنَايَةٌ عَنِ الْيَقَظَةِ». ↑ Kembali ke Teks
[8] Hadits Riwayat Muslim (no. 376) dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu; dikutip dalam Imta'ul Asma' fi Syarh Matn Abi Syuja' (berkas PDF: إمتاع الأسماع في شرح متن أبي شجاع.pdf), Fashl fi Nawaqidhul Wudhu', hlm. cetakan 38 [hlm. file PDF 40], dan Al-Fiqhul Manhaji, Juz 1, hlm. cetakan 62 [hlm. file PDF 62]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَإِنَّمَا لَمْ يَنْتَقِضْ وُضُوءُ الْمُمَكِّنِ مَقْعَدَهُ لِمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنَامُونَ، ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّؤُونَ، وَفِي رِوَايَةٍ لِأَبِي دَاوُدَ: حَتَّى تَخْفِقَ رُؤُوسُهُمُ الْأَرْضَ، فَحُمِلَ عَلَى النَّائِمِ جَالِسًا مُمَكِّنًا». ↑ Kembali ke Teks
[9] Hadits Riwayat Al-Bukhari (no. 161) dan Muslim (no. 241) dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma; dikutip dalam Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhabil Imam Asy-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, 1413 H / 1992 M, berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf), Juz 1, Furudhul Wudhu', hlm. cetakan 55 [hlm. file PDF 55]. نَصُّ الْحَدِيثِ: «وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ، أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ» أَيْ أَتِمُّوهُ وَأَكْمِلُوهُ بِاسْتِيعَابِ الْعُضْوِ بِالْغَسْلِ. ↑ Kembali ke Teks
[10] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin bersama Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Asbabil Hadats, hlm. cetakan 35–36 [hlm. file PDF 35–36]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿إِلَّا نَوْمَ مُمَكِّنٍ مَقْعَدَهُ﴾ أَيْ أَلْيَتَيْهِ مِنْ مَقَرِّهِ فَلَا يَنْقُضُ؛ لِأَمْنِ خُرُوجِ شَيْءٍ فِيهِ مِنْ دُبُرِهِ، وَلَا عِبْرَةَ بِاحْتِمَالِ خُرُوجِ رِيحٍ مِنَ الْقُبُلِ لِنُدْرَتِهِ. وَلَا تَمْكِينَ لِمَنْ نَامَ عَلَى قَفَاهُ مُلْصِقًا مَقْعَدَهُ بِمَقَرِّهِ، وَلَا لِمَنْ نَامَ قَاعِدًا وَهُوَ هَزِيلٌ بَيْنَ بَعْضِ مَقْعَدِهِ وَمَقَرِّهِ تَجَافٍ». ↑ Kembali ke Teks
[11] Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah Al-Qalyubi, Hasyiyah Qalyubi 'ala Syarhil Jalal Al-Mahalli 'ala Minhajith Thalibin (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Asbabil Hadats, hlm. cetakan 35–36 [hlm. file PDF 35–36]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَيُعَرَّفُ النَّوْمُ بِأَنَّهُ رِيحٌ لَطِيفَةٌ تَأْتِي مِنَ الدِّمَاغِ إِلَى الْقَلْبِ فَتُغَطِّي الْعَيْنَ، فَإِنْ لَمْ تَصِلْ إِلَى الْقَلْبِ فَهُوَ النُّعَاسُ وَلَا نَقْضَ بِهِ، وَمِنْ عَلَامَتِهِ سَمَاعُ كَلَامِ الْحَاضِرِينَ وَإِنْ لَمْ يَفْهَمْهُ، وَمِنْ عَلَامَةِ النَّوْمِ الرُّؤْيَا، لَكِنْ لَوْ وُجِدَتِ الرُّؤْيَا وَلَمْ يَتَذَكَّرْ نَوْمًا أَوْ شَكَّ هَلْ نَامَ أَوْ نَعَسَ فَلَا نَقْضَ فِيهِمَا... فَلَوْ زَالَتْ إِحْدَى أَلْيَتَيْهِ عَنْ مَقَرِّهَا فَإِنْ كَانَ قَبْلَ انْتِبَاهِهِ يَقِينًا انْتَقَضَ وُضُوؤُهُ وَإِلَّا فَلَا، كَمَا لَا يَنْتَقِضُ لَوْ شَكَّ هَلْ كَانَ مُتَمَكِّنًا أَوْ لَا... نَعَمْ لَوْ جَلَسَ الْهَزِيلُ عَلَى نَحْوِ قُطْنٍ مِمَّا يَمْنَعُ خُرُوجَ شَيْءٍ مِنْهُ فَلَا نَقْضَ». ↑ Kembali ke Teks
[12] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin bersama Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Asbabil Hadats, hlm. cetakan 36 [hlm. file PDF 36]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿الثَّالِثُ: الْتِقَاءُ بَشَرَتَيِ الرَّجُلِ وَالْمَرْأَةِ﴾ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ﴾ أَيْ لَمَسْتُمْ كَمَا قُرِئَ بِهِ، وَاللَّمْسُ الْجَسُّ بِالْيَدِ كَمَا فَسَّرَهُ بِهِ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَالْمَعْنَى فِي النَّقْضِ بِهِ أَنَّهُ مَظِنَّةٌ لِلِالْتِذَاذِ الْمُثِيرِ لِلشَّهْوَةِ، وَمِثْلُهُ فِي ذَلِكَ بَاقِي صُوَرِ الِالْتِقَاءِ، فَأُلْحِقَ بِهِ وَأُطْلِقَ عَلَيْهِ فِي الْبَابِ اللَّمْسُ تَوَسُّعًا ﴿إِلَّا مَحْرَمًا﴾ فَلَا يَنْقُضُ لَمْسُهَا ﴿فِي الْأَظْهَرِ﴾ لِأَنَّهَا لَيْسَتْ مَحَلًّا لِلشَّهْوَةِ». ↑ Kembali ke Teks
[13] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli dan Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi, Kanzur Raghibin beserta Hasyiyah Qalyubi (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Asbabil Hadats, hlm. cetakan 37 [hlm. file PDF 37]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿وَالْمَلْمُوسُ﴾ وَهُوَ مَنْ وَقَعَ عَلَيْهِ اللَّمْسُ رَجُلًا كَانَ أَوِ امْرَأَةً ﴿كَالَّامِسِ﴾ فِي انْتِقَاضِ وُضُوئِهِ ﴿فِي الْأَظْهَرِ﴾ لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي لَذَّةِ اللَّمْسِ كَالْمُشْتَرِكَيْنِ فِي لَذَّةِ الْجِمَاعِ، وَالثَّانِي لَا يَنْقُضُ وُقُوفًا مَعَ ظَاهِرِ الْآيَةِ فِي اقْتِصَارِهِ عَلَى اللَّامِسِ. ﴿وَلَا تَنْقُضُ صَغِيرَةٌ﴾ أَيْ مَنْ لَمْ تَبْلُغْ حَدًّا تُشْتَهَى ﴿وَشَعَرٌ وَسِنٌّ وَظُفْرٌ فِي الْأَصَحِّ﴾ لِانْتِفَاءِ الْمَعْنَى فِي لَمْسِ الْمَذْكُورَاتِ... وَالْبَشَرَةُ ظَاهِرُ الْجِلْدِ... وَخَرَجَ بِالِالْتِقَاءِ اللَّمْسُ مَعَ الْحَائِلِ وَلَوْ رَقِيقًا». ↑ Kembali ke Teks
[14] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin bersama Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Al-Wudhu', hlm. cetakan 52–53 [hlm. file PDF 52–53]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿وَمَنْ نَوَى تَبَرُّدًا مَعَ نِيَّةٍ مُعْتَبَرَةٍ﴾ كَنِيَّةٍ مِمَّا تَقَدَّمَ ﴿جَازَ﴾ لَهُ ذَلِكَ أَيْ لَمْ يَضُرَّهُ فِي النِّيَّةِ الْمُعْتَبَرَةِ ﴿عَلَى الصَّحِيحِ﴾ لِحُصُولِهِ مِنْ غَيْرِ نِيَّةٍ، وَالثَّانِي يَضُرُّهُ لِلْإِشْرَاكِ فِي النِّيَّةِ بَيْنَ الْعِبَادَةِ وَغَيْرِهَا، وَنِيَّةُ التَّنْظِيفِ كَنِيَّةِ التَّبَرُّدِ فِيمَا ذُكِرَ... ﴿وَيَجِبُ قَرْنُهَا بِأَوَّلِ الْوَجْهِ﴾ أَيْ بِأَوَّلِ غَسْلِهِ». ↑ Kembali ke Teks
[15] Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi, Hasyiyah Qalyubi 'ala Syarhil Jalal Al-Mahalli (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Al-Wudhu', hlm. cetakan 51 [hlm. file PDF 51]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَأَمَّا شُرُوطُهُ كَالْغُسْلِ فَهِيَ الْمَاءُ الْمُطْلَقُ وَالْعِلْمُ بِهِ وَلَوْ ظَنًّا بِالِاجْتِهَادِ، وَعَدَمُ الْمَانِعِ الشَّرْعِيِّ كَالْحَيْضِ... وَعَدَمُ الْمَانِعِ الْحِسِّيِّ كَشَمْعٍ، وَجَرْيُ الْمَاءِ عَلَى الْعُضْوِ». ↑ Kembali ke Teks
[16] Syaikh Mush'ab bin Al-Hasan Al-'Akkari, Imta'ul Asma' fi Syarh Matn Abi Syuja' (Cet. 1, 1441 H / 2019 M, berkas PDF: إمتاع الأسماع في شرح متن أبي شجاع.pdf), Fashl fi Furudhil Wudhu' wa Sunanihi, hlm. cetakan 30–31 [hlm. file PDF 32–33]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «الرَّابِعُ: عَدَمُ الْمَانِعِ الْحِسِّيِّ أَوِ الشَّرْعِيِّ؛ فَالْحِسِّيُّ هُوَ: مَا كَانَ حَائِلًا لِجَرْيِ الْمَاءِ عَلَى الْعُضْوِ... وَلَوْ نَوَى مَعَ الْوُضُوءِ التَّبَرُّدَ أَوِ التَّنَظُّفَ جَازَ وُضُوؤُهُ عَلَى الصَّحِيحِ... وَيَجِبُ أَنْ يَغْسِلَ مَعَ الْوَجْهِ جُزْءًا مِنَ الرَّأْسِ، وَمَا تَحْتَ اللَّحْيَيْنِ مِمَّا يَتَّصِلُ بِالرَّقَبَةِ، وَالْأُذُنَيْنِ؛ لِيَتَأَكَّدَ مِنْ غَسْلِ الْوَجْهِ، لِلْقَاعِدَةِ الْفِقْهِيَّةِ: مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ... وَيَجِبُ إِزَالَةُ مَا تَحْتَ الْأَظَافِرِ مِنْ وَسَخٍ إِنْ كَانَ يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ». ↑ Kembali ke Teks
[17] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin bersama Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Al-Wudhu', hlm. cetakan 54 [hlm. file PDF 54]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿الثَّانِي: غَسْلُ وَجْهِهِ﴾ قَالَ تَعَالَى: ﴿فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ﴾ ﴿وَهُوَ﴾ طُولًا ﴿مَا بَيْنَ مَنَابِتِ﴾ شَعَرِ ﴿رَأْسِهِ غَالِبًا وَمُنْتَهَى لَحْيَيْهِ﴾ أَيْ آخِرِهِمَا وَهُمَا الْعَظْمَانِ اللَّذَانِ عَلَيْهِمَا الْأَسْنَانُ السُّفْلَى، ﴿وَمَا بَيْنَ أُذُنَيْهِ﴾ عَرْضًا... ﴿وَيَجِبُ غَسْلُ كُلِّ هُدْبٍ﴾ بِالْمُهْمَلَةِ ﴿وَحَاجِبٍ وَعِذَارٍ﴾ بِالْمُعْجَمَةِ ﴿وَشَارِبٍ وَخَدٍّ وَعَنْفَقَةٍ شَعَرًا﴾ بِفَتْحِ الْعَيْنِ ﴿وَبَشَرًا﴾ أَيْ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا سَوَاءٌ خَفَّ الشَّعَرُ أَمْ كَثُفَ لِأَنَّ كَثَافَتَهُ نَادِرَةٌ». ↑ Kembali ke Teks
[18] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin bersama Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Al-Wudhu', hlm. cetakan 55–56 [hlm. file PDF 55–56]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿وَاللِّحْيَةُ إِنْ خَفَّتْ كَهُدْبٍ﴾ فَيَجِبُ غَسْلُهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا ﴿وَإِلَّا﴾ بِأَنْ كَثُفَتْ ﴿فَلْيَغْسِلْ ظَاهِرَهَا﴾ وَلَا يَجِبُ غَسْلُ بَاطِنِهَا لِعُسْرِ إِيصَالِ الْمَاءِ إِلَيْهِ... وَالْخَفِيفُ مَا تُرَى الْبَشَرَةُ مِنْ خِلَالِهِ فِي مَجْلِسِ التَّخَاطُبِ وَالْكَثِيفُ مَا يَمْنَعُ الرُّؤْيَةَ... ﴿الرَّابِعُ: مُسَمَّى مَسْحٍ لِبَشَرَةِ رَأْسِهِ أَوْ شَعَرٍ فِي حَدِّهِ﴾ أَيْ حَدِّ الرَّأْسِ بِأَنْ لَا يَخْرُجَ بِالْمَدِّ عَنْهُ، وَلَوْ خَرَجَ عَنْهُ بِالْمَدِّ لَمْ يَكْفِهِ الْمَسْحُ عَلَى الْخَارِجِ». ↑ Kembali ke Teks
[19] Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi, Hasyiyah Qalyubi 'ala Syarhil Jalal Al-Mahalli (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Al-Wudhu', hlm. cetakan 56 [hlm. file PDF 56]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَيَجِبُ غَسْلُ مَا عَلَى الْيَدَيْنِ مِنْ شَعَرٍ وَإِنْ كَثُفَ وَطَالَ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، وَيَجِبُ إِزَالَةُ مَا عَلَيْهِمَا مِنْ نَحْوِ جِرْمٍ كَشَمْعٍ يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ، وَلَا يَضُرُّ لَوْنُ نَحْوِ صِبَاغٍ وَلَا دُهْنٌ، وَيَجِبُ إِزَالَةُ نَحْوِ قَشَفٍ مَيِّتٍ وَمَا تَحْتَ ظُفْرٍ مِنْ وَسَخٍ يَمْنَعُ الْمَاءَ». ↑ Kembali ke Teks
[20] Syaikh Mush'ab bin Al-Hasan Al-'Akkari, Imta'ul Asma' fi Syarh Matn Abi Syuja' (Cet. 1, 1441 H / 2019 M, berkas PDF: إمتاع الأسماع في شرح متن أبي شجاع.pdf), Fashl fi Nawaqidhul Wudhu', hlm. cetakan 38–39 [hlm. file PDF 40–41]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿وَلَمْسُ الرَّجُلِ الْمَرْأَةَ الْأَجْنَبِيَّةَ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ﴾ الْمَرْأَةُ الْأَجْنَبِيَّةُ هِيَ غَيْرُ الْمَحْرَمِ، وَالْمَحْرَمُ هِيَ الَّتِي حَرُمَ نِكَاحُهَا بِنَسَبٍ أَوْ رَضَاعٍ أَوْ مُصَاهَرَةٍ، وَهَذِهِ لَا تَنْقُضُ الْوُضُوءَ، وَأَمَّا غَيْرُ الْمَحْرَمِ فَتَنْقُضُهُ مُطْلَقًا، سَوَاءٌ كَانَتْ حَيَّةً أَوْ مَيِّتَةً، وَسَوَاءٌ فِي ذَلِكَ الْعَمْدُ وَالسَّهْوُ، وَالرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ، وَالْمَلْمُوسُ وَاللَّامِسُ؛ لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى فِي آيَةِ الْمَائِدَةِ: ﴿أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ﴾، فَإِنْ كَانَ ثَمَّ حَائِلٌ بَيْنَهُمَا لَمْ يَنْتَقِضِ الْوُضُوءُ، وَإِنَّمَا تَنْقُضُ مَنْ بَلَغَتْ حَدًّا تُشْتَهَى فِيهِ عُرْفًا، فَلَا تَنْقُضُ الصَّغِيرَةُ، وَلَا يَنْقُضُ أَيْضًا السِّنُّ، وَالشَّعَرُ، وَالظُّفْرُ». ↑ Kembali ke Teks
[21] Syaikh Mush'ab bin Al-Hasan Al-'Akkari, Imta'ul Asma' fi Syarh Matn Abi Syuja' (Cet. 1, 1441 H / 2019 M, berkas PDF: إمتاع الأسماع في شرح متن أبي شجاع.pdf), Fashl fi Nawaqidhul Wudhu', hlm. cetakan 39 [hlm. file PDF 41]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَمَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ شَكَّ هَلِ انْتَقَضَ وُضُوؤُهُ أَمْ لَا، أَخَذَ بِالْوُضُوءِ؛ لِأَنَّهُ مُتَيَقِّنٌ أَنَّهُ تَوَضَّأَ، وَالْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ، فَمَنْ لَمَسَ امْرَأَةً ثُمَّ شَكَّ هَلْ لَمَسَ بَشَرَتَهَا أَمْ أَنَّهُ لَمْ يَلْمِسْ سِوَى شَعَرِهَا، حُمِلَ عَلَى الشَّعَرِ؛ لِأَنَّهُ تَيَقَّنَ مِنْ وُضُوئِهِ وَشَكَّ فِي الْحَدَثِ، فَيَأْخُذُ بِالْيَقِينِ؛ وَلِأَنَّ الْأَصْلَ بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ». ↑ Kembali ke Teks
[22] As-Sayyid Ahmad bin 'Umar Asy-Syathiri, Nailur Raja' bi Syarh Safinatun Naja (Cet. 2, Jeddah: Darul Minhaj, 1428 H / 2007 M, berkas PDF: نيل الرجاء.pdf), Kitab Ath-Thaharah: Syuruthul Wudhu', hlm. cetakan 21–22 [hlm. file PDF 21–22]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «شُرُوطُ الْوُضُوءِ عَشَرَةٌ: الْإِسْلَامُ، وَالتَّمْيِيزُ، وَالنَّقَاءُ عَنِ الْحَيْضِ، وَالنِّفَاسِ، وَعَمَّا يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ إِلَى الْبَشَرَةِ، وَأَلَّا يَكُونَ عَلَى الْعُضْوِ مَا يُغَيِّرُ الْمَاءَ، وَالْعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِهِ، وَأَلَّا يَعْتَقِدَ فَرْضًا مِنْ فُرُوضِهِ سُنَّةً، وَالْمَاءُ الطَّهُورُ، وَدُخُولُ الْوَقْتِ وَالْمُوَالَاةُ لِدَائِمِ الْحَدَثِ». ↑ Kembali ke Teks
[23] As-Sayyid Ahmad bin 'Umar Asy-Syathiri, Nailur Raja' bi Syarh Safinatun Naja (Jeddah: Darul Minhaj, 1428 H / 2007 M, berkas PDF: نيل الرجاء.pdf), Kitab Ath-Thaharah: Nawaqidhul Wudhu' & Syarh Furudhil Wudhu', hlm. cetakan 22 & 79–80 [hlm. file PDF 22 & 79–80]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «نَوَاقِضُ الْوُضُوءِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الْأَوَّلُ: الْخَارِجُ مِنْ أَحَدِ السَّبِيلَيْنِ، مِنْ قُبُلٍ أَوْ دُبُرٍ، رِيحٌ أَوْ غَيْرُهُ، إِلَّا الْمَنِيَّ. الثَّانِي: زَوَالُ الْعَقْلِ بِنَوْمٍ أَوْ غَيْرِهِ، إِلَّا نَوْمَ قَاعِدٍ مُمَكِّنٍ مَقْعَدَتَهُ مِنَ الْأَرْضِ. الثَّالِثُ: الْتِقَاءُ بَشَرَتَيْ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ كَبِيرَيْنِ أَجْنَبِيَّيْنِ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ. الرَّابِعُ: مَسُّ قُبُلِ الْآدَمِيِّ أَوْ حَلْقَةِ دُبُرِهِ بِبَطْنِ الرَّاحَةِ، أَوْ بُطُونِ الْأَصَابِعِ». ↑ Kembali ke Teks
[24] Prof. Dr. Musthafa Al-Khin, Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha, dan Syaikh 'Ali Asy-Syarbaji, Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhabil Imam Asy-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, Cet. 4, 1413 H / 1992 M, berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf), Juz 1, Furudhul Wudhu', hlm. cetakan 54–55 [hlm. file PDF 54–55]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَيَجِبُ تَعْمِيمُ جَمِيعِ الشَّعَرِ وَالْبَشَرَةِ بِالْغَسْلِ، فَلَوْ كَانَ تَحْتَ أَظَافِرِهِ وَسَخٌ يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ أَوْ خَاتَمٌ لَمْ يَصِحَّ الْوُضُوءُ... وَرَوَى مُسْلِمٌ (٢٤٣): أَنَّ رَجُلًا تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفْرٍ عَلَى قَدَمِهِ، فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ، فَرَجَعَ ثُمَّ صَلَّى. فَدَلَّ الْحَدِيثَانِ عَلَى أَنَّهُ لَا يُجْزِئُ الْوُضُوءُ إِذَا بَقِيَ أَدْنَى جُزْءٍ مِنَ الْعُضْوِ الْمَغْسُولِ دُونَ غَسْلٍ». ↑ Kembali ke Teks
[25] Prof. Dr. Musthafa Al-Khin, Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha, dan Syaikh 'Ali Asy-Syarbaji, Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhabil Imam Asy-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, Cet. 4, 1413 H / 1992 M, berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf), Juz 1, Nawaqidhul Wudhu', hlm. cetakan 62–63 [hlm. file PDF 62–63]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «٢ - النَّوْمُ غَيْرُ الْمُتَمَكِّنِ، وَالتَّمَكُّنُ أَنْ يَكُونَ جَالِسًا وَمَقْعَدَتُهُ مُلْتَصِقَةٌ بِالْأَرْضِ، وَغَيْرُ التَّمَكُّنِ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ تَجَافٍ بَيْنَ مَقْعَدَتِهِ وَالْأَرْضِ... وَأَمَّا مَنْ نَامَ عَلَى هَيْئَةِ الْمُتَمَكِّنِ فَلَا يَنْقُضُ وُضُوؤُهُ، لِأَنَّهُ يَشْعُرُ بِمَا يَخْرُجُ مِنْهُ... ٤ - لَمْسُ الرَّجُلِ زَوْجَتَهُ أَوِ الْمَرْأَةَ الْأَجْنَبِيَّةَ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ، فَإِنَّهُ يَنْتَقِضُ وُضُوؤُهُ وَوُضُوؤُهَا، وَالْأَجْنَبِيَّةُ هِيَ كُلُّ امْرَأَةٍ يَحِلُّ لَهُ الزَّوَاجُ بِهَا». ↑ Kembali ke Teks
[26] Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Fatawa Al-Imam An-Nawawi Al-Musammat bil-Masa'ilil Mantsurah (Disusun oleh Al-Hafizh 'Ala'uddin Ibnu Al-'Aththar, Tahqiq: Syaikh Ahmad Hasan Jabir Rajab, Kairo: Hadiyyah Majallatul Azhar, Muharram 1411 H / 1990 M, berkas PDF: فتاوى الإمام النووي المسماة المسائل المنثورة.pdf), Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah no. 22, hlm. cetakan 13 [hlm. file PDF 36]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «٢٢ - مَسْأَلَةٌ: مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ بِبَاطِنِ كَفِّهِ نَاسِيًا هَلْ تَبْطُلُ صَلَاتُهُ وَطَهَارَتُهُ؟ أَجَابَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: نَعَمْ، تَبْطُلُ صَلَاتُهُ وَطَهَارَتُهُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ». ↑ Kembali ke Teks
[27] Prof. Dr. Muhammad Hasan Hito, Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (Cet. 1, Damaskus: Darul Musthafa, 1442 H / 2021 M, berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf), Al-Muqaddimatul Ushuliyyah: Anwa'ul Idrak, hlm. cetakan 24–26 [hlm. file PDF 25–27]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «فَالْعِلْمُ: هُوَ الْإِدْرَاكُ الْجَازِمُ، الْمُطَابِقُ لِلْوَاقِعِ، عَنْ دَلِيلٍ... وَأَمَّا الشَّكُّ فَتَتَسَاوَى فِيهِ النِّسْبَتَانِ وَالِاحْتِمَالَانِ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا ٥٠٪، فَإِذَا وَصَلَ الْإِدْرَاكُ إِلَى ١٠٠٪ فَهُوَ الْعِلْمُ... فَالظَّنُّ تَجْوِيزُ أَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَرْجَحُ مِنَ الْآخَرِ عِنْدَ الْمُرَجِّحِ، فَالرَّاجِحُ مِنْهُمَا هُوَ الظَّنُّ، وَالْمَرْجُوحُ هُوَ الْوَهْمُ». ↑ Kembali ke Teks
[28] Prof. Dr. Muhammad Hasan Hito, Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (Damaskus: Darul Musthafa, 1442 H / 2021 M, berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf), Al-Bab Al-Awwal, Al-Fashl Ats-Tsalits: Muqaddimatul Wajib, hlm. cetakan 50 [hlm. file PDF 51]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «مُقَدِّمَةُ الْوَاجِبِ: وَهِيَ الْقَاعِدَةُ الْمَعْرُوفَةُ بِأَنَّ "مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ"، فَإِذَا أَمَرَ الشَّارِعُ بِإِيجَادِ فِعْلٍ مَا، فَقَدْ أَمَرَ بِهِ وَبِمَا لَا يَتِمُّ الْفِعْلُ إِلَّا بِهِ... وَإِذَا غَسَلَ الْمَرْءُ وَجْهَهُ فِي الْوُضُوءِ، وَجَبَ عَلَيْهِ غَسْلُ جُزْءٍ مِنَ الرَّأْسِ، حَتَّى يَتَيَقَّنَ أَنَّهُ غَسَلَ جَمِيعَ الْوَجْهِ». ↑ Kembali ke Teks
[29] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin (Jeddah: Darul Minhaj, 1434 H / 2013 M, berkas PDF: كنز الراغبين شرح منهاج الطالبين1.pdf), Juz 1, Khuthbatul Kitab: Bayanul Qaulaini wal Wajhaini, hlm. cetakan 71 [hlm. file PDF 71]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿فَحَيْثُ أَقُولُ: فِي الْأَظْهَرِ أَوِ الْمَشْهُورِ فَمِنَ الْقَوْلَيْنِ أَوِ الْأَقْوَالِ﴾ لِلشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ﴿فَإِنْ قَوِيَ الْخِلَافُ﴾ لِقُوَّةِ مَدْرَكِهِ ﴿قُلْتُ: الْأَظْهَرُ﴾ الْمُشْعِرُ بِظُهُورِ مُقَابِلِهِ، ﴿وَإِلَّا فَالْمَشْهُورُ﴾ الْمُشْعِرُ بِغَرَابَةِ مُقَابِلِهِ لِضَعْفِ مَدْرَكِهِ. ﴿وَحَيْثُ أَقُولُ: الْأَصَحُّ أَوِ الصَّحِيحُ فَمِنَ الْوَجْهَيْنِ أَوِ الْأَوْجُهِ﴾ لِلْأَصْحَابِ». ↑ Kembali ke Teks
[30] Prof. Dr. Muhammad Hasan Hito, Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (Damaskus: Darul Musthafa, 1442 H / 2021 M, berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf), Al-Hukmusy Syar'i Al-Wadh'i, hlm. cetakan 33–34 [hlm. file PDF 34–35]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَأَمَّا الْحُكْمُ الشَّرْعِيُّ الْوَضْعِيُّ، فَهُوَ خِطَابُ اللَّهِ الْمُتَعَلِّقُ بِجَعْلِ الشَّيْءِ سَبَبًا، أَوْ شَرْطًا، أَوْ مَانِعًا، أَوْ صَحِيحًا، أَوْ فَاسِدًا... وَالشَّرْطُ: هُوَ مَا يَلْزَمُ مِنْ عَدَمِهِ الْعَدَمُ، وَلَا يَلْزَمُ مِنْ وُجُودِهِ وُجُودٌ وَلَا عَدَمٌ، كَالْوُضُوءِ فَإِنَّهُ يَلْزَمُ مِنْ عَدَمِهِ عَدَمُ صِحَّةِ الصَّلَاةِ». ↑ Kembali ke Teks

Daftar Pustaka

  1. Al-'Akkari, Mush'ab bin Al-Hasan. Imta'ul Asma' fi Syarh Matn Abi Syuja'. Cet. 1, 1441 H / 2019 M (Berkas PDF: إمتاع الأسماع في شرح متن أبي شجاع.pdf).
  2. Al-Khin, Musthafa, Musthafa Al-Bugha, dan 'Ali Asy-Syarbaji. Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhabil Imam Asy-Syafi'i. Juz 1. Cet. 4. Damaskus: Darul Qalam, 1413 H / 1992 M (Berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf).
  3. Al-Mahalli, Jalaluddin Muhammad bin Ahmad, dan Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi. Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin. Juz 1. Tahqiq: Mahmud Shalih Ahmad Hasan Al-Hadidi. Cet. 2. Jeddah: Darul Minhaj, 1434 H / 2013 M (Berkas PDF: كنز الراغبين شرح منهاج الطالبين1.pdf).
  4. Al-Qalyubi, Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah, dan Syihabuddin Ahmad Al-Burullusi 'Umairah. Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah 'ala Syarhil Imam Jalaluddin Al-Mahalli 'ala Minhajith Thalibin. Juz 1. Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M (Berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf).
  5. An-Nawawi, Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Fatawa Al-Imam An-Nawawi Al-Musammat bil-Masa'ilil Mantsurah. Disusun oleh Al-Hafizh 'Ala'uddin Ibnu Al-'Aththar. Tahqiq: Ahmad Hasan Jabir Rajab. Kairo: Hadiyyah Majallatul Azhar, 1411 H / 1990 M (Berkas PDF: فتاوى الإمام النووي المسماة المسائل المنثورة.pdf).
  6. Asy-Syathiri, Ahmad bin 'Umar. Nailur Raja' bi Syarh Safinatun Naja. Cet. 2. Jeddah: Darul Minhaj, 1428 H / 2007 M (Berkas PDF: نيل الرجاء.pdf).
  7. Hito, Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh. Cet. 1. Damaskus: Darul Musthafa, 1442 H / 2021 M (Berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf).