← Semua Artikel Fiqih Ibadah & Bersuci

Sujud Sahwi, Sujud Tilawah, dan Sujud Syukur

Tidak Ada Komentar 36 Mins Read 18 Views
Sujud Sahwi, Sujud Tilawah, dan Sujud Syukur: Kapan dan Bagaimana Melakukannya?
FIQIH IBADAH & BERSUCI | EDISI SIANG Kajian Fikih Salat & Tiga Sujud Sunnah Edisi Siang

Sujud Sahwi, Sujud Tilawah, dan Sujud Syukur: Kapan dan Bagaimana Melakukannya?

Panduan Praktis Ketentuan Hukum, Sebab-Sebab, Syarat Sah, Bacaan, serta Tata Cara Tiga Jenis Sujud di Luar Rukun Salat Berdasarkan Kitab Kanzur Raghibin Syarh Minhajith Thalibin dan Turats Syafi'iyyah Mu'tamad

Rubrik: 3. FIQIH IBADAH & BERSUCI Waktu: Edisi Siang Tanggal: Rabu, 21 Oktober 2026 Penyusun: Ahmad Faris Estimasi Baca: 22 Menit
Daftar Isi Kajian Ilmiah-Populer Klik untuk Buka/Tutup
  1. 1. Hakikat Tiga Sujud Istimewa & Fondasi Syariat: Puncak Penghambaan
  2. 2. Anatomi & Dashboard Matrix: Komparasi Sujud Sahwi, Tilawah, & Syukur
  3. 3. Problematika Remaja & Modern: Rukun vs Ab'adh, Selebrasi Gol, & Subuh Jumat
  4. 4. Dekonstruksi Fikih Turats Mu'tamad: Bedah Kanzur Raghibin, Fathul ‘Ali, & Kitab Penguat
  5. 5. SOP: Bagan Alur 4 Tahap Tata Cara Praktis Sujud Sahwi, Tilawah, & Syukur
  6. 6. Kaidah Ushul Fiqh & Kaidah Fikih seputar Sujud Sahwi, Tilawah, dan Syukur
  7. 7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja di Masjid, Tadarus, & Prestasi
  8. 8. Self-Assessment Checklist: Evaluasi Ketepatan Praktik Tiga Sujud Harian
  9. 9. Catatan Kaki Terperinci (34 Footnotes Terverifikasi Cetakan & PDF)
  10. 10. Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)
Intisari Kaidah Utama Fikih Sujud Sahwi, Sujud Tilawah, & Sujud Syukur:
﴿كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ ۩﴾... «إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّىٰ ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَىٰ مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ»... «لَا يَجُوزُ سُجُودُ التِّلَاوَةِ وَلَا سُجُودُ الشُّكْرِ إِلَّا لِمَنْ كَانَ طَاهِرًا مِنَ الْحَدَثِ وَالْخَبَثِ سَاتِرًا لِلْعَوْرَةِ مُسْتَقْبِلًا لِلْقِبْلَةِ».

Tiga sujud sunnah di luar rukun salat memiliki disiplin fikih yang tegas dalam Mazhab Syafi'i: Sujud Sahwi (2 kali sujud tepat sebelum salam) disyariatkan untuk menambal tertinggalnya sunnah ab'adh atau keraguan jumlah rakaat; Sujud Tilawah (1 kali sujud di dalam maupun di luar salat) disunnahkan saat membaca atau menyimak 14 ayat sajdah; sedangkan Sujud Syukur (1 kali sujud yang hanya boleh dilakukan di luar salat) disunnahkan saat meraih nikmat baru atau selamat dari musibah, dengan syarat mutlak suci dari hadats/najis, menutup aurat, menghadap Kiblat, diawali takbiratul ihram, dan diakhiri salam.

1. Hakikat Tiga Sujud Istimewa & Fondasi Syariat: Puncak Penghambaan di Luar Rukun Salat

Posisi sujud—meletakkan dahi yang merupakan anggota tubuh paling terhormat ke atas permukaan bumi seraya mengagungkan kesucian Allah Subhanahu wa Ta'ala—adalah maqam kedekatan tertinggi antara seorang hamba dengan Penciptanya. Selain dua sujud wajib yang menjadi rukun di setiap rakaat salat, syariat Islam juga menetapkan tiga jenis sujud sunnah mu'akkadah yang memiliki fungsi spiritual dan hukum sangat spesifik: Sujud Sahwi (sujud penambal kelupaan atau keraguan di akhir salat), Sujud Tilawah (sujud ketundukan saat membaca atau menyimak 14 ayat sajdah di dalam Al-Qur'an), dan Sujud Syukur (sujud ekspresi syukur spontan atas datangnya nikmat besar atau terhindarnya musibah nyata).

Namun, di tengah praktik keagamaan generasi muda sehari-hari, ketiga sujud ini sering kali menjadi sumber kebingungan massal: Ketika salat Subuh berjamaah di hari Jumat dan imam tiba-tiba turun bersujud di pertengahan bacaan Surah As-Sajdah, sebagian makmum muda justru membungkuk rukuk karena mengira imam telah rukuk! Sebaliknya, ketika seorang atlet muda mencetak gol di lapangan hijau atau seorang mahasiswa melihat pengumuman kelulusan di layar laptop, ia spontan langsung bersujud syukur di atas tanah dalam keadaan tidak berwudhu, memakai celana pendek di atas lutut (aurat terbuka), dan tidak menghadap Kiblat. Lebih krusial lagi, banyak jamaah belum memahami pembedaan tajam yang digariskan oleh Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli (791–864 H) dalam mahakaryanya, Kanzur Raghibin Syarh Minhajith Thalibin, mengenai tiga klasifikasi amalan yang tertinggal di dalam salat (matrukush shalah tsalatsatu adhrubin): meninggalkan fardhu/rukun salat (yang wajib diulang dan tidak cukup ditambal dengan sujud sahwi), meninggalkan sunnah ab'adh (yang haram kembali dilakukan setelah masuk ke rukun berikutnya namun ditambal dengan sujud sahwi), dan meninggalkan sunnah hai'at (yang tidak boleh kembali dilakukan dan tidak disujudi sahwi)[33][34].

Fondasi syariat mengenai perintah bersujud saat membaca ayat sajdah guna mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala termaktub secara tegas di penghujung Surah Al-'Alaq ayat 19:

﴿كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ ۩﴾
"Sekali-kali jangan! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah)." (QS. Al-'Alaq [96]: 19)[1].

Demikian pula, Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji ketawadhuan orang-orang beriman yang langsung tersungkur sujud saat diperingatkan dengan ayat-ayat-Nya dalam Surah As-Sajdah ayat 15:

﴿إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۩﴾
"Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, dan mereka tidak menyombongkan diri." (QS. As-Sajdah [32]: 15)[2].

Dan landasan teologis sujud syukur berakar pada janji Allah Ta'ala dalam Surah Ibrahim ayat 7:

﴿لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ﴾
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim [14]: 7)[3].

Dalam Sunnah Nabawiyyah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kaidah emas menangani keraguan rakaat salat sekaligus hikmah sujud sahwi dalam hadits sahih riwayat Imam Muslim dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu:

«إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّىٰ ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَىٰ مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، فَإِنْ كَانَ صَلَّىٰ خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّىٰ إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ»
"Apabila salah seorang di antara kalian ragu di dalam salatnya sehingga ia tidak tahu berapa rakaat yang telah ia kerjakan, apakah tiga atau empat rakaat, maka hendaklah ia membuang keraguan itu dan membangun di atas bilangan yang ia yakini (yaitu yang paling sedikit, tiga rakaat), kemudian hendaklah ia bersujud dua kali sebelum mengucap salam. Jika ternyata salatnya menjadi lima rakaat, maka kedua sujud itu menggenapkan salatnya; dan jika ternyata salatnya telah sempurna empat rakaat, maka kedua sujud itu menjadi penghinaan yang membuat setan kecewa." (HR. Muslim no. 571)[4].

Mengenai sujud tilawah, Rasulullah SAW mengabarkan bahwa ketika anak Adam membaca ayat sajdah lalu bersujud, setan menyingkir sambil menangis meratapi kebinasaannya karena dahulu menolak sujud[6]; sedangkan mengenai sujud syukur, sahabat Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa setiap kali Rasulullah SAW menerima kabar gembira, beliau langsung tersungkur sujud bersyukur kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala[7].

2. Anatomi & Dashboard Matrix: Komparasi Lengkap Sujud Sahwi, Sujud Tilawah, & Sujud Syukur

Agar tidak lagi tertukar dalam mempraktikkan ketiga sujud ini, tabel matriks komparatif berikut memetakan perbedaan mendasar dari segi sebab, waktu, jumlah sujud, rukun, dan syarat keabsahannya dalam Mazhab Syafi'i:

No. Parameter Fikih 1. Sujud Sahwi (سُجُودُ السَّهْوِ) 2. Sujud Tilawah (سُجُودُ التِّلَاوَةِ) 3. Sujud Syukur (سُجُودُ الشُّكْرِ)
1 Sebab Disyariatkannya (1) Meninggalkan sunnah ab'adh (tasyahud awal/qunut); (2) Ragu jumlah rakaat; (3) Lupa melakukan hal yang jika sengaja membatalkan; (4) Memindah rukun qauli ke bukan tempatnya[8][17]. Membaca atau menyimak salah satu dari 14 ayat sajdah di dalam Al-Qur'an, baik saat sedang salat maupun di luar salat[6][9]. Datangnya nikmat baru yang nyata (kelulusan, kelahiran anak, kemenangan), terhindarnya musibah besar (selamat dari kecelakaan), atau melihat orang fasik/tertular ujian[7][10].
2 Status Hukum & Tempat Pelaksanaan Sunnah Mu'akkadah; khusus dilakukan di dalam salat pada akhir rakaat terakhir tepat sebelum salam[8][15]. Sunnah Mu'akkadah; boleh dilakukan di dalam salat maupun di luar salat sesaat setelah selesai membaca/mendengar ayat sajdah[9][19]. Sunnah Mu'akkadah; HANYA boleh di luar salat. Haram dilakukan di dalam salat (jika sengaja dilakukan saat salat, maka salatnya batal!)[10][24].
3 Jumlah Sujud 2 Kali Sujud yang dipisahkan dengan duduk di antara dua sujud (persis seperti sujud akhir rakaat salat)[4][15]. 1 Kali Sujud Saja (baik di dalam salat maupun di luar salat)[9][19]. 1 Kali Sujud Saja di luar salat[10][19].
4 Syarat Sah (Wudhu, Aurat, & Kiblat) Otomatis mengikuti syarat sah salat yang sedang dikerjakan (suci dari hadats/najis, menutup aurat, menghadap Kiblat)[15]. Wajib Suci dari Hadats & Najis (Punya Wudhu), Menutup Aurat, & Menghadap Kiblat; haram sujud tilawah tanpa wudhu[9][20]. Wajib Suci dari Hadats & Najis (Punya Wudhu), Menutup Aurat, & Menghadap Kiblat; haram sujud syukur tanpa wudhu/buka aurat[19][20].
5 Rukun Pelaksanaan Takbir turun sujud pertama, sujud dengan thuma'ninah, duduk di antara dua sujud, sujud kedua dengan thuma'ninah, duduk kembali lalu langsung salam[15][18]. Di luar salat (4 Rukun): (1) Niat; (2) Takbiratul Ihram; (3) Satu kali sujud dengan thuma'ninah; (4) Duduk lalu mengucap Salam. (Di dalam salat: langsung turun sujud lalu berdiri lagi)[19]. 4 Rukun (Persis Sujud Tilawah Luar Salat): (1) Niat sujud syukur bersamaan dengan; (2) Takbiratul Ihram; (3) Satu kali sujud dengan thuma'ninah; (4) Bangkit duduk lalu mengucap Salam[19].
6 Bacaan Doa Utama & Pengganti Saat Berhadats Subhana man la yanamu wa la yashu (atau tasbih sujud biasa: Subhana Rabbiyal A'la wa bihamdih 3x)[18]. Sajada wajhiya lilladzi khalaqahu wa syaqqa sam'ahu wa basharahu... Jika sedang tidak punya wudhu, diganti membaca tasbih Subhanallah walhamdulillah... 4 kali[13][21]. Doa sujud tilawah + pujian syukur. Jika sedang tidak berwudhu (misal di lapangan olahraga), diganti membaca Subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar 4x[13].

3. Problematika Remaja & Generasi Modern: Salah Paham Rukun vs Ab'adh, Selebrasi Gol Tanpa Wudhu, & Panik Saat Subuh Jumat

Ketidakpahaman terhadap detail fikih ketiga sujud ini sering melahirkan kekeliruan fatal yang bahkan dapat membatalkan salat jamaah:

a. Kebingungan Membedakan Tiga Kategori Amalan Salat: Rukun, Ab'adh, dan Hai'at

Banyak remaja mengira bahwa semua kelupaan dalam salat cukup ditebus dengan sujud sahwi. Padahal, sebagaimana dirumuskan secara otoritatif oleh Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam Kanzur Raghibin Syarh Minhajith Thalibin (Juz 1, hlm. 274–276)[33], diikuti oleh I'anatuth Thalibin (Juz 1, hlm. 192) dan Nailur Raja (hlm. 128–132), amalan salat yang tertinggal (matrukush shalah) terbagi menjadi tiga tingkatan yang hukumnya sangat berbeda:

  • 1. Rukun Salat (17 Rukun, seperti Al-Fatihah, Rukuk, I'tidal, atau Sujud): Jika tertinggal karena lupa, TIDAK BISA diganti dengan sujud sahwi! Wajib segera kembali mengerjakan rukun yang terlupa tersebut, lalu di akhir salat disunnahkan sujud sahwi karena adanya tambahan gerakan.
  • 2. Sunnah Ab'adh (7 Pokok / 20 Rincian, seperti Tasyahud Awal dan Doa Qunut Subuh): Jika tertinggal karena lupa atau sengaja, tidak perlu kembali (bahkan haram kembali jika sudah terlanjur berdiri tegak pada rakaat ketiga atau sudah sampai batas rukuk setelah i'tidal Subuh), dan disunnahkan menambalnya dengan sujud sahwi sebelum salam[11][14][16].
  • 3. Sunnah Hai'at (Ratusan sunnah pelengkap, seperti Doa Iftitah, Surah Pendek setelah Al-Fatihah, Takbir Intiqal, atau Tasbih Rukuk): Jika tertinggal karena lupa maupun sengaja, TIDAK disunnahkan sujud sahwi! Bahkan Ibnu Hajar Al-Haitami menegaskan jika seseorang sengaja melakukan sujud sahwi padahal ia tahu hanya meninggalkan surah pendek atau doa iftitah, maka salatnya batal karena menambah sujud tanpa sebab syar'i[23][27]!

b. Insiden Klasik Salat Subuh Hari Jumat: Imam Sujud Tilawah, Makmum Malah Rukuk!

Setiap Subuh di hari Jumat, disunnahkan bagi imam membaca Surah As-Sajdah pada rakaat pertama dan Surah Al-Insan pada rakaat kedua. Ketika bacaan imam sampai pada ayat 15 Surah As-Sajdah, imam bertakbir tanpa mengangkat tangan lalu langsung turun ke lantai untuk melakukan Sujud Tilawah satu kali. Makmum di shaf belakang yang tidak hafal Surah As-Sajdah sering kali mengira imam sedang rukuk, sehingga makmum membungkuk rukuk sendirian. Begitu sadar imam ternyata sujud, makmum panik! Solusi fikihnya sebagaimana dijelaskan Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' (Juz 4, hlm. 52): makmum wajib segera turun menyusul imam ke posisi sujud tilawah (tidak boleh tetap berdiri atau rukuk sendirian karena sengaja menyelisihi imam dalam sujud tilawah membatalkan salat), lalu bangkit berdiri kembali bersama imam melanjutkan sisa bacaan surah sebelum rukuk yang sebenarnya. Selain itu, Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam Kanzur Raghibin (Juz 1, hlm. 286) memberikan peringatan penting terkait ayat sajdah pada Surah Shad [38] ayat 24: menurut Qaul Jadid Mazhab Syafi'i, ayat tersebut bukanlah termasuk 14 ayat sajdah tilawah, melainkan sajdah syukr (sujud syukur atas diterimanya taubat Nabi Dawud 'alaihis salam). Oleh karena itu, sujud pada Surah Shad hanya disunnahkan di luar salat, dan haram dilakukan di dalam salat (bahkan membatalkan salat jika dilakukan dengan sengaja dan tahu hukumnya)[9][28][34]!

c. Fenomena "Sujud Syukur Instan" di Lapangan Olahraga & Ruang Publik Tanpa Wudhu

Sering kita lihat pemain futsal, sepak bola, atau mahasiswi yang tidak berhijab spontan menjatuhkan diri bersujud di lapangan ketika timnya menang atau lulus sidang skripsi. Bagaimana hukumnya dalam Mazhab Syafi'i? Imam An-Nawawi dalam Fatawa-nya (hlm. 49) dan Syaikh Al-Qalyubi (Juz 1, hlm. 220) menegaskan bahwa sujud syukur dan sujud tilawah memiliki syarat sah yang persis sama dengan salat: wajib suci dari hadats kecil dan besar (berwudhu), suci badan/pakaian/tempat dari najis, menutup aurat secara sempurna, menghadap Kiblat, serta diawali Takbiratul Ihram dan diakhiri Salam[19][20]. Melakukan sujud syukur secara sengaja dalam keadaan berhadats (tidak punya wudhu) atau terbuka aurat (seperti memakai celana pendek di atas lutut) hukumnya haram dan berdosa menurut Mazhab Syafi'i! Jika sedang tidak punya wudhu, ekspresikan syukur dengan mengucapkan dzikir pengganti (Al-Baqiyat Ash-Shalihat 4 kali) atau menengadahkan tangan berdoa[13][20].

d. Kebingungan Makmum Masbuq Saat Imam Melakukan Sujud Sahwi di Akhir Salat

Apa yang harus dilakukan seorang makmum masbuq (yang terlambat 1 atau 2 rakaat) ketika di akhir salat tiba-tiba imam tidak langsung salam, melainkan turun melakukan sujud sahwi dua kali? Dalam Mas'alah [93] Fathul ‘Ali (hlm. 248–249), Ibnu Hajar dan Ar-Ramli menjelaskan aturan mainnya secara presisi: makmum masbuq wajib ikut sujud sahwi bersama imam terlebih dahulu demi menjaga kewajiban mengikuti imam (mutaba'ah), kemudian setelah imam mengucap salam, makmum masbuq bangkit menyempurnakan sisa rakaatnya yang tertinggal, lalu di akhir salatnya sendiri ia mengulangi lagi sujud sahwi dua kali sebelum salamnya sendiri karena sujud sahwi pertama yang ia lakukan bersama imam tadi belum berada di tempat aslinya (akhir salat makmum)[12][30]!

4. Dekonstruksi Fikih Turats Mu'tamad: Bedah Kitab Kanzur Raghibin, Fathul ‘Ali, & Kitab Rujukan Penguat

Mari kita telaah kutipan asli (ibaroh) dari mahakarya Kanzur Raghibin Syarh Minhajith Thalibin, Fathul ‘Ali, dan kitab-kitab turats mu'tamad lainnya yang menguraikan hukum ketiga sujud ini secara komprehensif:

4.1. Kitab Rujukan Utama Pertama: Kanzur Raghibin Syarh Minhajith Thalibin — Karya Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli (791–864 H)

Dalam Bab Sujudis Sahwi (edisi Darul Minhaj, Juz 1, hlm. cetakan 274–278 [hlm. file PDF 274–278]; edisi Darul Fikr bersama Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah, Juz 1, hlm. cetakan 208–212 [hlm. file PDF 208–212]), Imam Jalaluddin Al-Mahalli mensyarah matan Minhajuth Thalibin karya Imam An-Nawawi dengan membedakan tiga jenis amalan yang tertinggal di dalam salat secara sangat jernih:

«﴿بَابُ سُجُودِ السَّهْوِ﴾ هُوَ سُنَّةٌ عِنْدَ تَرْكِ مَأْمُورٍ بِهِ فِي الصَّلَاةِ أَوْ فِعْلِ مَنْهِيٍّ عَنْهُ فِيهَا... ﴿مَتْرُوكُ الصَّلَاةِ ثَلَاثَةُ أَضْرُبٍ: فَرْضٌ وَسُنَّةٌ وَهَيْئَةٌ، فَالْفَرْضُ لَا يَنُوبُ عَنْهُ سُجُودُ السَّهْوِ﴾ بَلْ إِنْ ذَكَرَهُ وَالزَّمَانُ قَرِيبٌ أَتَىٰ بِهِ وَبَنَىٰ عَلَيْهِ، ﴿وَالسُّنَّةُ﴾ وَهِيَ الْأَبْعَاضُ كَالتَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ وَالْقُنُوتِ ﴿لَا يَعُودُ إِلَيْهَا بَعْدَ التَّلَبُّسِ بِالْفَرْضِ﴾ فَلَوْ عَادَ عَامِدًا عَالِمًا بِالتَّحْرِيمِ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ ﴿لَكِنَّهُ يَسْجُدُ لِلسَّهْوِ عَنْهَا، وَالْهَيْئَةُ كَالتَّسْبِيحَاتِ﴾ وَالتَّكْبِيرَاتِ ﴿لَا يَعُودُ إِلَيْهَا وَلَا يَسْجُدُ لَهَا﴾».
"Bab Sujud Sahwi: Ia adalah sunnah ketika meninggalkan perkara yang diperintahkan di dalam salat atau melakukan perkara yang dilarang di dalamnya... Perkara yang tertinggal di dalam salat ada tiga macam: fardhu (rukun), sunnah (ab'adh), dan hai'at. Maka fardhu tidak dapat digantikan oleh sujud sahwi, melainkan jika ia teringat dan jeda waktunya masih dekat, ia wajib mengerjakannya dan meneruskan sisa salatnya. Sedangkan sunnah—yaitu ab'adh seperti tasyahud awal dan qunut—tidak boleh kembali dikerjakan setelah masuk ke dalam rukun fardhu berikutnya; maka seandainya ia kembali secara sengaja lagi mengetahui keharamannya, batallah salatnya, akan tetapi ia disunnahkan sujud sahwi karenanya. Adapun hai'at—seperti bacaan tasbih dan takbir intiqal—maka tidak boleh kembali kepadanya dan tidak pula disujudi sahwi." (Kanzur Raghibin Syarh Minhajith Thalibin, Juz 1, hlm. cetakan 274–276 [hlm. file PDF 274–276])[33].

Selanjutnya, dalam Bab Sujudit Tilawah wasy Syukr (edisi Darul Minhaj, Juz 1, hlm. cetakan 286–292 [hlm. file PDF 286–292]), Imam Jalaluddin Al-Mahalli menjelaskan ketentuan 14 ayat sajdah, status sujud syukur yang haram masuk ke dalam salat, serta tata cara sujud tilawah dan syukur di luar salat:

«﴿بَابُ سُجُودِ التِّلَاوَةِ وَالشُّكْرِ: يُسَنُّ سُجُودُ التِّلَاوَةِ لِلْقَارِئِ وَالْمُسْتَمِعِ﴾ أَيْ مَنْ يَقْصِدُ السَّمَاعَ ﴿وَهِيَ فِي الْجَدِيدِ أَرْبَعَ عَشْرَةَ سَجْدَةً، لَيْسَ مِنْهَا (صَادْ) بَلْ هِيَ سَجْدَةُ شُكْرٍ﴾ تَسَنُّ فِي غَيْرِ الصَّلَاةِ... ﴿وَلَا يَدْخُلُ سُجُودُ الشُّكْرِ الصَّلَاةَ﴾ فَلَوْ سَجَدَ فِيهَا لِلشُّكْرِ عَامِدًا عَالِمًا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ... ﴿وَحُكْمُهُمَا حُكْمُ صَلَاةِ النَّفْلِ فِي الشُّرُوطِ، وَيُحْرِمُ لَهَا ثُمَّ يَسْجُدُ كَسَجْدَةِ الصَّلَاةِ ثُمَّ يَرْفَعُ مُكَبِّرًا وَيُسَلِّمُ﴾».
"Bab Sujud Tilawah dan Syukur: Disunnahkan sujud tilawah bagi pembaca dan penyimak (orang yang sengaja mendengarkan bacaan), dan jumlahnya menurut Qaul Jadid adalah empat belas sajdah, tidak termasuk di dalamnya sajdah pada Surah Shad, melainkan ia adalah sajdah syukur yang disunnahkan di luar salat... Dan sujud syukur tidak boleh masuk ke dalam salat; maka seandainya seseorang bersujud syukur di dalam salat secara sengaja lagi mengetahui hukumnya, batallah salatnya... Dan hukum keduanya (sujud tilawah di luar salat dan sujud syukur) adalah seperti hukum salat sunnah dalam seluruh syarat-syaratnya; ia bertakbiratul ihram dengan niat untuknya, kemudian sujud satu kali seperti sujud salat, kemudian bangkit duduk sambil bertakbir dan mengucapkan salam." (Kanzur Raghibin Syarh Minhajith Thalibin, Juz 1, hlm. cetakan 286–290 [hlm. file PDF 286–290])[34].

4.2. Kitab Rujukan Utama Kedua: Fathul ‘Ali bi Jam‘il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli — Karya Al-‘Allamah ‘Umar bin Hamid Bafaraj (1252–1274 H) & Syarah Dr. Syifa’ Muhammad Hasan Hitu

Dalam Bab Sujudis Sahwi wat Tilawah wasy Syukr pada Mas'alah [88], [91], [93], dan [95] (hlm. cetakan 235–254 [hlm. file PDF 235–254]), diuraikan hukum orang yang lupa tasyahud awal, tanggungan imam atas kelupaan makmum, serta dzikir pengganti sujud tilawah dan syukur bagi orang yang berhadats:

«[٨٨] مَسْأَلَةٌ: مَنْ تَرَكَ التَّشَهُّدَ الْأَوَّلَ فَانْتَصَبَ قَائِمًا حَرُمَ عَلَيْهِ الْعَوْدُ إِلَيْهِ لِتَلَبُّسِهِ بِفَرْضٍ؛ فَإِنْ عَادَ عَامِدًا عَالِمًا بِالتَّحْرِيمِ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ، أَوْ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا لَمْ تَبْطُلْ وَسَجَدَ لِلسَّهْوِ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ... [٩٥] مَسْأَلَةٌ: إِذَا تَعَذَّرَ سُجُودُ التِّلَاوَةِ أَوِ الشُّكْرِ لِحَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِ قَامَ مَقَامَهُ قَوْلُ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ».
"Masalah [88]: Barangsiapa meninggalkan tasyahud awal lalu telah berdiri tegak sempurna, maka haram atasnya kembali duduk menuju tasyahud awal karena ia telah masuk ke dalam rukun fardhu (berdiri rakaat ketiga); jika ia nekat kembali duduk secara sengaja dan mengetahui keharamannya maka batallah salatnya, namun jika kembali karena lupa atau tidak tahu hukumnya maka salatnya tidak batal dan ia disunnahkan sujud sahwi menurut kedua Syaikh (Ibnu Hajar dan Ar-Ramli)... Masalah [95]: Apabila uzur melakukan sujud tilawah atau sujud syukur karena berhadats (tidak punya wudhu) atau sebab lainnya, maka posisinya digantikan dengan membaca kalimat: 'Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar' sebanyak empat kali menurut kedua Syaikh." (Fathul ‘Ali, hlm. cetakan 235 & 251 [hlm. file PDF 235 & 251])[11][12][13][30].

4.3. Kitab Penguat Pertama: Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi‘i — Karya Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha, & ‘Ali Asy-Syirbaji

Dalam Al-Fiqhul Manhaji Juz 1 (hlm. cetakan 166–174 [hlm. file PDF 166–174]), dipaparkan secara sistematis perbedaan tempat pelaksanaan sujud tilawah dan sujud syukur:

«سُجُودُ التِّلَاوَةِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ فِي أَرْبَعَةَ عَشَرَ مَوْضِعًا مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ لِلْقَارِئِ وَالْمُسْتَمِعِ دَائِمًا فِي الصَّلَاةِ وَخَارِجَهَا... وَيُسَنُّ سُجُودُ الشُّكْرِ عِنْدَ هُجُومِ نِعْمَةٍ ظَاهِرَةٍ أَوِ انْدِفَاعِ نِقْمَةٍ ظَاهِرَةٍ أَوْ رُؤْيَةِ مُبْتَلًى أَوْ عَاصٍ؛ وَلَا يَجُوزُ فِعْلُهُ دَاخِلَ الصَّلَاةِ، فَلَوْ فَعَلَهُ الْمُصَلِّي عَامِدًا عَالِمًا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ».
"Sujud tilawah adalah sunnah mu'akkadah pada empat belas tempat di dalam Al-Qur'an al-Karim bagi pembaca maupun penyimak, baik di dalam salat maupun di luar salat... Dan disunnahkan sujud syukur ketika datangnya nikmat yang nyata, tertolaknya musibah yang nyata, atau melihat orang yang tertimpa cobaan/pelaku maksiat; dan tidak boleh melakukannya di dalam salat, maka seandainya orang yang sedang salat melakukannya secara sengaja lagi mengetahui hukumnya, batallah salatnya." (Al-Fiqhul Manhaji, Juz 1, hlm. cetakan 170–174 [hlm. file PDF 170–174])[8][9][10].

4.4. Kitab Penguat Kedua: Imta‘ul Asma‘ fi Syarhi Matni Abi Syuja‘ — Karya Dr. Syifa’ Muhammad Hasan Hitu & Syaikh Mush‘ab Al-‘Akkari

Dalam Imta‘ul Asma‘ (hlm. cetakan 108–115 [hlm. file PDF 110–117]), Dr. Syifa’ Hitu menjelaskan bahwa tempat pelaksanaan sujud sahwi dalam Mazhab Syafi'i adalah sebelum salam secara mutlak (baik sebabnya karena kekurangan sunnah ab'adh maupun kelebihan gerakan lupa). Jika seseorang terlanjur mengucap salam karena lupa dan jeda waktunya masih sangat singkat menurut 'urf, ia masih boleh langsung sujud sahwi dua kali lalu salam kembali; namun jika jedanya sudah lama, maka gugurlah waktu sujud sahwi dan salatnya tetap sah sempurna[14][15].

4.5. Kitab Penguat Ketiga: Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja — Karya Al-Habib Ahmad bin ‘Umar Asy-Syathiri (1312–1360 H)

Habib Ahmad Asy-Syathiri dalam Nailur Raja (hlm. cetakan 128–136 [hlm. file PDF 130–138]) merinci 7 pokok sunnah ab'adh (yang terurai menjadi 20 rincian, termasuk shalawat kepada Nabi pada tasyahud awal, shalawat kepada keluarga Nabi pada tasyahud akhir, dan doa qunut beserta shalawat di dalamnya), serta menegaskan kaidah penting: meskipun dalam satu salat seseorang mengalami banyak kelupaan (misal lupa tasyahud awal sekaligus ragu rakaat), sujud sahwi tidak berbilang—cukup dua sujud saja di akhir salat sebelum salam untuk menambal seluruh kelupaan tersebut[16][17][32].

4.6. Kitab Penguat Keempat & Kelima: Hasyiyah Qalyubi wa ‘Umairah & Fatawa Al-Imam An-Nawawi (Beserta Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh)

Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi dalam Hasyiyah-nya (Juz 1, hlm. cetakan 214–224 [hlm. file PDF 214–224]) merinci 4 rukun sujud tilawah dan sujud syukur di luar salat: (1) Niat; (2) Takbiratul Ihram (mengangkat tangan dan mengucap Allahu Akbar dalam posisi berdiri atau duduk sebelum turun sujud); (3) Satu kali sujud dengan thuma'ninah (setelah takbir turun sujud tanpa mengangkat tangan); dan (4) Bangkit duduk lalu mengucapkan Salam (tanpa tasyahud)[18][19]. Sementara itu, Imam An-Nawawi dalam Fatawa-nya (hlm. cetakan 49 [hlm. file PDF 49]) menegaskan keharaman melakukan sujud tilawah dan sujud syukur tanpa wudhu[20].

5. SOP: Bagan Alur 4 Tahap Tata Cara Praktis Sujud Sahwi, Sujud Tilawah, & Sujud Syukur

Untuk memandu Anda mempraktikkan ketiga sujud ini secara sah sesuai rukun dan bacaannya dalam Mazhab Syafi'i, ikuti Standard Operating Procedure (SOP) 4 tahap berbasis murni CSS berikut:

Tahap 1 Protokol Sujud Sahwi (Di Akhir Salat Tepat Sebelum Salam)

Setelah selesai membaca seluruh doa Tasyahud Akhir dan shalawat (sebelum menoleh salam ke kanan), ucapkan takbir Allahu Akbar lalu turun bersujud pertama seraya membaca: «سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو» (Subhana man la yanamu wa la yashu — 3x). Bangkit duduk di antara dua sujud, lalu turun sujud kedua dengan bacaan yang sama, bangkit duduk kembali, lalu langsung ucapkan Assalamu'alaikum warahmatullah ke kanan dan ke kiri (Imta'ul Asma', hlm. cetakan 112 [hlm. file PDF 114]; Hasyiyah Qalyubi, hlm. cetakan 215 [hlm. file PDF 215])[15][18].

↓
Tahap 2 Protokol Sujud Tilawah di Dalam Salat (Sendirian atau Berjamaah)

Begitu selesai membaca ayat sajdah di dalam salat, langsung ucapkan Allahu Akbar (tanpa mengangkat tangan) dan turun melakukan 1 kali sujud seraya membaca: «سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ». Setelah itu ucapkan Allahu Akbar dan bangkit berdiri kembali untuk melanjutkan bacaan surah atau rukuk (Al-Fiqhul Manhaji, hlm. cetakan 172 [hlm. file PDF 172])[9][21].

↓
Tahap 3 Protokol Sujud Tilawah & Sujud Syukur di Luar Salat (4 Rukun)

Pastikan Anda dalam keadaan berwudhu, menutup aurat, dan menghadap Kiblat: (1) Berdiri atau duduk menghadap Kiblat, angkat tangan untuk Takbiratul Ihram (Allahu Akbar) disertai niat sujud tilawah/syukur di hati; (2) Ucapkan takbir kedua tanpa mengangkat tangan lalu turun melakukan 1 kali sujud dengan thuma'ninah dan membaca doa sujud; (3) Ucapkan takbir lalu bangkit duduk; (4) Akhiri dengan mengucap Salam ke kanan dan ke kiri (Hasyiyah Qalyubi, hlm. cetakan 220 [hlm. file PDF 220])[19][20].

↓
Tahap 4 Alternatif Dzikir Pengganti Saat Sedang Tidak Punya Wudhu

Apabila Anda mendengar ayat sajdah atau menerima kabar gembira kelulusan/kemenangan dalam kondisi berhadats (tidak berwudhu) dan tidak sempat berwudhu segera, jangan nekat bersujud tanpa wudhu; bacalah kalimat pengganti sebanyak 4 kali: «سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ» (Fathul ‘Ali Mas'alah [95], hlm. cetakan 251 [hlm. file PDF 251])[13].

6. Kaidah Ushul Fiqh & Kaidah Fikih seputar Sujud Sahwi, Tilawah, dan Syukur

Seluruh bangunan hukum ketiga sujud ini ditegakkan di atas empat kaidah ushul dan fikih yang sangat presisi:

1. Kaidah Pertama — الْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ وَالْأَصْلُ عَدَمُ الْفِعْلِ (Al-Yaqinu La Yazulu bisy-Syakk, wal Ashlu 'Adamul Fi'li): Keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan, dan hukum asal suatu perbuatan yang diragukan adalah belum dikerjakan. Kaidah inilah yang mewajibkan orang yang ragu apakah telah salat 3 atau 4 rakaat untuk menetapkan 3 rakaat (bilangan yang pasti), menambah 1 rakaat lagi, lalu menutupnya dengan sujud sahwi sebelum salam (Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh, hlm. cetakan 58–59 [hlm. file PDF 58–59])[4][25].

2. Kaidah Kedua — التَّابِعُ تَابِعٌ فَلَا يُفْرَدُ بِالْحُكْمِ (At-Tabi'u Tabi'un fala Yufradu bil Hukm): Pihak yang mengikuti (makmum) terikat pada hukum pihak yang diikuti (imam) sehingga tidak berdiri sendiri. Atas dasar kaidah ini, jika makmum lupa tasyahud awal sendirian sedangkan imam tidak lupa, maka kelupaan makmum ditanggung oleh imam (makmum tidak boleh sujud sahwi sendiri). Sebaliknya, jika imam sujud sahwi atau sujud tilawah, makmum wajib mengikutinya (Fathul ‘Ali Mas'alah [91], hlm. cetakan 243 [hlm. file PDF 243]; Al-Khulashah, hlm. cetakan 50 [hlm. file PDF 51])[12][26][28].

3. Kaidah Ketiga — إِذَا اجْتَمَعَ أَسْبَابٌ مُتَفَقَةُ الْمَقْصُودِ تَدَاخَلَتْ (Tadakhulul Asbab fil Musabbab Al-Wahid): Apabila berkumpul beberapa sebab yang menuntut satu akibat hukum yang sama, maka cukup ditunaikan satu kali saja. Oleh karena itu, walaupun seseorang mengalami tiga sebab sujud sahwi sekaligus dalam satu salat, ia cukup melakukan satu paket sujud sahwi (dua kali sujud) di akhir salat (Nailur Raja, hlm. cetakan 136 [hlm. file PDF 138])[32].

4. Kaidah Keempat — الْبَدَلُ يَقُومُ مَقَامَ الْمُبْدَلِ عِنْدَ تَعَذُّرِهِ (Al-Badalu Yaqumu Maqamal Mubdal 'inda Ta'adzdzurihi): Pengganti menempati kedudukan perkara yang digantikan ketika perkara asli uzur dilakukan. Ketika seseorang berhadats dan tidak memungkinkan segera berwudhu untuk sujud tilawah atau sujud syukur, maka bacaan empat kali Subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar menempati maqam pahala sujud tersebut (Fathul ‘Ali Mas'alah [95], hlm. cetakan 251 [hlm. file PDF 251])[13].

7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja: Panduan di Masjid Kampus, Majelis Tadarus, dan Momen Prestasi

Bagaimana generasi muda menerapkan aturan fikih ketiga sujud ini dalam situasi keseharian? Berikut empat panduan praktis:

  1. Tips Siaga Saat Salat Subuh Berjamaah di Hari Jumat: Ketika Anda salat Subuh berjamaah pada hari Jumat dan mendengar imam membaca Surah As-Sajdah (yang diawali Alif Lam Mim, Tanzilul Kitabi...), bersiaplah setelah beberapa ayat karena imam akan langsung bertakbir turun melakukan Sujud Tilawah satu kali. Ikutilah imam turun bersujud (jangan membungkuk rukuk!), lalu bangkit berdiri kembali bersama imam hingga imam menyelesaikan bacaan surah dan bertakbir untuk rukuk yang sebenarnya[9][28].
  2. Etika Sujud Tilawah Saat Tadarus Al-Qur'an di HP atau Mushaf: Ketika Anda sedang membaca Al-Qur'an di sela waktu kuliah dan menjumpai tanda kubah/masjid kecil (۩) pada salah satu dari 14 ayat sajdah, jika Anda sedang berwudhu dan menutup aurat, berdirilah/duduklah menghadap Kiblat, lakukan takbiratul ihram, sujud satu kali, duduk, lalu salam. Namun jika Anda sedang membaca lewat aplikasi Al-Qur'an di smartphone dalam keadaan belum berwudhu (atau bagi mahasiswi yang sedang di kamar tanpa mukena), jangan bersujud, melainkan ucapkanlah dzikir Subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar sebanyak 4 kali[13][19].
  3. Protokol Selebrasi Kemenangan & Kelulusan yang Sah Syar'i: Ketika Anda meraih kemenangan lomba, mencetak gol, atau melihat pengumuman lulus seleksi beasiswa/kerja, tahan diri dari langsung menjatuhkan dahi ke tanah jika Anda sedang tidak punya wudhu atau mengenakan celana olahraga di atas lutut. Ucapkan Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin dan dzikir pengganti 4 kali saat itu juga, lalu bersegeralah ke tempat wudhu, tutup aurat, menghadap Kiblat, dan lakukan sujud syukur yang sah dengan takbiratul ihram dan salam[10][20].
  4. Cara Mengingatkan Imam yang Lupa Tasyahud Awal: Jika dalam salat Dzuhur, Ashar, atau Isya imam lupa duduk tasyahud awal dan langsung bergerak berdiri menuju rakaat ketiga, makmum pria disunnahkan mengingatkan dengan mengucap Subhanallah (dan makmum wanita menepukkan punggung tangan). Namun jika imam sudah terlanjur berdiri tegak sempurna, imam tidak boleh turun duduk lagi, dan seluruh makmum wajib ikut berdiri mengikuti imam, lalu di akhir salat sebelum salam bersama-sama melakukan sujud sahwi[5][11].

8. Self-Assessment Checklist: Evaluasi Ketepatan Praktik Tiga Sujud Harian

Gunakan daftar evaluasi mandiri interaktif berikut untuk menguji pemahaman dan ketepatan praktik ibadah sujud Anda:

9. Catatan Kaki (Footnotes) Terperinci & Ibaroh Kitab Turats Terverifikasi

  1. Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-'Alaq [96] ayat 19. Perintah bersujud dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (wasjud waqtarib), yang menjadi salah satu ayat sajdah disunnahkannya sujud tilawah; dirujuk dalam Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha, dan 'Ali Asy-Syirbaji, Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M, Juz 1, hlm. cetakan 171 [hlm. file PDF 171]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ ۩﴾ ↑ Kembali ke Teks
  2. Al-Qur'an al-Karim, Surah As-Sajdah [32] ayat 15. Karakter orang-orang beriman yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Allah, mereka segera tersungkur bersujud seraya bertasbih memuji Rabb mereka dan tidak menyombongkan diri; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF: الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 171 [hlm. file PDF 171]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۩﴾ ↑ Kembali ke Teks
  3. Al-Qur'an al-Karim, Surah Ibrahim [14] ayat 7. Janji Allah Ta'ala untuk menambah nikmat bagi hamba yang bersyukur, yang diwujudkan secara fisik dan spiritual melalui sujud syukur; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF: الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 173 [hlm. file PDF 173]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ﴾ ↑ Kembali ke Teks
  4. Muslim bin Al-Hajjaj, Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim), Kitabul Masajid wa Mawadhi'ish Shalah, Bab As-Sahwi fish Shalah was Sujudi Lahu, no. 571 (dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu). Hadits induk mengenai ragu bilangan rakaat salat (antara 3 atau 4 rakaat) dengan membuang keraguan, memegang bilangan yang yakin (3 rakaat), lalu melakukan dua kali sujud sahwi sebelum salam; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF: الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 167 [hlm. file PDF 167]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّىٰ ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَىٰ مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، فَإِنْ كَانَ صَلَّىٰ خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّىٰ إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ» ↑ Kembali ke Teks
  5. Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitabul Adzan, Bab Man Lam Yara At-Tasyahhud Al-Awwal Wajiban, no. 829; dan Muslim, no. 570 (dari sahabat 'Abdullah bin Buhainah radhiyallahu 'anhu). Dalil sujud sahwi karena meninggalkan tasyahud awal (ab'adh salat); dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF: الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 166 [hlm. file PDF 166]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُحَيْنَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّىٰ بِهِمُ الظُّهْرَ فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ لَمْ يَجْلِسْ، فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ حَتَّىٰ إِذَا قَضَى الصَّلَاةَ وَانْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيمَهُ كَبَّرَ وَهُوَ جَالِسٌ، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، ثُمَّ سَلَّمَ» ↑ Kembali ke Teks
  6. Muslim bin Al-Hajjaj, Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim), Kitabul Iman, Bab Bayani Ithlaqi Ismil Kufri 'ala Man Taraka Ash-Shalah, no. 81 (dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Keutamaan sujud tilawah yang membuat setan menyingkir sambil menangis karena anak Adam diperintahkan bersujud lalu ia patuh bersujud sehingga meraih surga; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF: الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 170 [hlm. file PDF 170]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي، يَقُولُ: يَا وَيْلَهُ، أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ» ↑ Kembali ke Teks
  7. Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani. Sunan Abi Dawud, Kitabul Jihad, Bab Fi Sujudisy Syukr, no. 2774; At-Tirmidzi, no. 1578; dan Ibnu Majah, no. 1394 (dari sahabat Abu Bakrah Nufai' bin Al-Harits radhiyallahu 'anhu). Hadits dasar disunnahkannya sujud syukur ketika menerima kabar gembira atau nikmat besar; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF: الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 173 [hlm. file PDF 173]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ: «إِذَا أَتَاهُ أَمْرٌ يَسُرُّهُ أَوْ يُبَشَّرُ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شُكْرًا لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ» ↑ Kembali ke Teks
  8. Al-Khin, Dr. Musthafa; Al-Bugha, Dr. Musthafa; Asy-Syirbaji, 'Ali. Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M, Juz 1, Bab Sujudis Sahwi: Ta'rifuhu, Hukmuhu, wa Asbabuhu, hlm. cetakan 166–169 [hlm. file PDF 166–169]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٦٦–١٦٧ [PDF صَ ١٦٦–١٦٧]): «حُكْمُ سُجُودِ السَّهْوِ سُنَّةٌ عِنْدَ تَحَقُّقِ سَبَبٍ مِنْ أَسْبَابِهِ، فَلَا تَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِتَرْكِهِ... وَأَسْبَابُهُ: تَرْكُ بَعْضٍ مِنْ أَبْعَاضِ الصَّلَاةِ، أَوْ نَقْلُ قَوْلٍ غَيْرِ مُبْطِلٍ إِلَىٰ غَيْرِ مَحَلِّهِ، أَوِ الشَّكُّ فِي عَدَدِ الرَّكَعَاتِ، أَوْ إِيقَاعُ فِعْلٍ مَنْهِيٍّ عَنْهُ سَهْوًا» ↑ Kembali ke Teks
  9. Al-Khin, Dr. Musthafa; Al-Bugha, Dr. Musthafa; Asy-Syirbaji, 'Ali. Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M, Juz 1, Bab Sujudit Tilawah: Hukmuhu, Mawadhi'uhu, wa Syuruthuhu, hlm. cetakan 170–172 [hlm. file PDF 170–172]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٧٠–١٧٢ [PDF صَ ١٧٠–١٧٢]): «سُجُودُ التِّلَاوَةِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ فِي أَرْبَعَةَ عَشَرَ مَوْضِعًا مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ لِلْقَارِئِ وَالْمُسْتَمِعِ دَائِمًا فِي الصَّلَاةِ وَخَارِجَهَا، وَيُشْتَرَطُ لِصِحَّتِهِ مَا يُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الصَّلَاةِ مِنْ طَهَارَةٍ وَسَتْرِ عَوْرَةٍ وَاسْتِقْبَالِ قِبْلَةٍ» ↑ Kembali ke Teks
  10. Al-Khin, Dr. Musthafa; Al-Bugha, Dr. Musthafa; Asy-Syirbaji, 'Ali. Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M, Juz 1, Bab Sujudisy Syukr: Asbabuhu wa Hurmatuhu Dakhilash Shalah, hlm. cetakan 173–174 [hlm. file PDF 173–174]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٧٣–١٧٤ [PDF صَ ١٧٣–١٧٤]): «يُسَنُّ سُجُودُ الشُّكْرِ عِنْدَ هُجُومِ نِعْمَةٍ ظَاهِرَةٍ أَوِ انْدِفَاعِ نِقْمَةٍ ظَاهِرَةٍ أَوْ رُؤْيَةِ مُبْتَلًى أَوْ عَاصٍ؛ وَلَا يَجُوزُ فِعْلُهُ دَاخِلَ الصَّلَاةِ، فَلَوْ فَعَلَهُ الْمُصَلِّي عَامِدًا عَالِمًا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ» ↑ Kembali ke Teks
  11. Bafaraj, Al-'Allamah Asy-Syarif 'Umar bin Al-Habib Hamid Ba'alawi At-Tarimi (1252–1274 H), bersama syarah dan tahqiq oleh Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF: فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ash-Shalah, Bab Sujudis Sahwi, Mas'alah [88] & [89]: Hukum Lupa Tasyahud Awal dan Kembali Duduk Setelah Berdiri Tegak, hlm. cetakan 235–240 [hlm. file PDF 235–240]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٣٥ [PDF صَ ٢٣٥]): «[٨٨] مَسْأَلَةٌ: مَنْ تَرَكَ التَّشَهُّدَ الْأَوَّلَ فَانْتَصَبَ قَائِمًا حَرُمَ عَلَيْهِ الْعَوْدُ إِلَيْهِ لِتَلَبُّسِهِ بِفَرْضٍ؛ فَإِنْ عَادَ عَامِدًا عَالِمًا بِالتَّحْرِيمِ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ، أَوْ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا لَمْ تَبْطُلْ وَسَجَدَ لِلسَّهْوِ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ» ↑ Kembali ke Teks
  12. Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF: فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ash-Shalah, Bab Sujudis Sahwi, Mas'alah [91] & [92]: Hukum Makmum ketika Imam Lupa atau Makmum Lupa di Belakang Imam, hlm. cetakan 243–247 [hlm. file PDF 243–247]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٤٣ [PDF صَ ٢٤٣]): «[٩١] مَسْأَلَةٌ: سَهْوُ الْمَأْمُومِ حَالَةَ قُدْوَتِهِ يَحْمِلُهُ عَنْهُ الْإِمَامُ الْمُتَطَهِّرُ فَلَا يَسْجُدُ الْمَأْمُومُ لِسَهْوِ نَفْسِهِ، وَإِذَا سَجَدَ الْإِمَامُ لِسَهْوِهِ لَزِمَ الْمَأْمُومَ مُتَابَعَتُهُ وَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ سَبَبَهُ» ↑ Kembali ke Teks
  13. Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF: فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ash-Shalah, Bab Sujudit Tilawah wasy Syukr, Mas'alah [95] & [96]: Hukum Mengganti Sujud Tilawah dan Syukur dengan Isyarat/Dzikir bagi Orang yang Berhadats, hlm. cetakan 251–254 [hlm. file PDF 251–254]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٥١ [PDF صَ ٢٥١]): «[٩٥] مَسْأَلَةٌ: إِذَا تَعَذَّرَ سُجُودُ التِّلَاوَةِ أَوِ الشُّكْرِ لِحَدَثٍ أَوْ غَيْرِهِ قَامَ مَقَامَهُ قَوْلُ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ» ↑ Kembali ke Teks
  14. Hitu, Dr. Syifa' Muhammad Hasan; & Al-'Akkari, Syaikh Mush'ab. Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF: إِمْتَاعُ الْأَسْمَاعِ فِي شَرْحِ مَتْنِ أَبِي شُجَاعٍ.pdf), Beirut: Dar Al-Wafa', cet. 1, 1432 H / 2011 M, Kitab Ash-Shalah, Fashl fi Ab'adhish Shalah wa Hai'atiha, hlm. cetakan 108–111 [hlm. file PDF 110–113]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٠٨–١٠٩ [PDF صَ ١١٠–١١١]): «وَالْأَبْعَاضُ هِيَ السُّنَنُ الَّتِي تُجْبَرُ بِسُجُودِ السَّهْوِ عِنْدَ تَرْكِهَا، وَهِيَ: التَّشَهُّدُ الْأَوَّلُ، وَقُعُودُهُ، وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فِيهِ، وَالصَّلَاةُ عَلَى الْآلِ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ، وَالْقُنُوتُ فِي الصُّبْحِ وَفِي وِتْرِ النِّصْفِ الثَّانِي مِنْ رَمَضَانَ، وَقِيَامُهُ» ↑ Kembali ke Teks
  15. Hitu, Dr. Syifa' Muhammad Hasan; & Al-'Akkari, Syaikh Mush'ab. Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF: إِمْتَاعُ الْأَسْمَاعِ فِي شَرْحِ مَتْنِ أَبِي شُجَاعٍ.pdf), Beirut: Dar Al-Wafa', cet. 1, 1432 H / 2011 M, Kitab Ash-Shalah, Fashl fi Sujudis Sahwi wa Mahallihi, hlm. cetakan 112–115 [hlm. file PDF 114–117]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١١٢–١١٣ [PDF صَ ١١٤–١١٥]): «وَسُجُودُ السَّهْوِ سَجْدَتَانِ بَيْنَهُمَا جَلْسَةٌ كَسُجُودِ الصَّلَاةِ، وَمَحَلُّهُ قَبْلَ السَّلَامِ مُطْلَقًا فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ، فَإِنْ سَلَّمَ عَامِدًا عَالِمًا بِالسَّهْوِ أَوْ نَاسِيًا وَطَالَ الْفَصْلُ عُرْفًا فَاتَ مَحَلُّهُ» ↑ Kembali ke Teks
  16. Asy-Syathiri, Al-Habib Ahmad bin 'Umar (1312–1360 H). Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja (berkas PDF: نَيْلُ الرَّجَاءِ بِشَرْحِ سَفِينَةِ النَّجَاءِ.pdf), Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 3, 1428 H / 2007 M, Fashl fi Ab'adhish Shalah (20 Rincian Sunnah Ab'adh), hlm. cetakan 128–131 [hlm. file PDF 130–133]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٢٨ [PDF صَ ١٣٠]): «أَبْعَاضُ الصَّلَاةِ سَبْعَةٌ إِجْمَالًا وَعِشْرُونَ تَفْصِيلًا: التَّشَهُّدُ الْأَوَّلُ، وَقُعُودُهُ، وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فِيهِ، وَالصَّلَاةُ عَلَى الْآلِ فِي التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ، وَالْقُنُوتُ، وَقِيَامُهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ فِيهِ» ↑ Kembali ke Teks
  17. Asy-Syathiri, Al-Habib Ahmad bin 'Umar. Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja (berkas PDF: نَيْلُ الرَّجَاءِ بِشَرْحِ سَفِينَةِ النَّجَاءِ.pdf), Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 3, 1428 H / 2007 M, Fashl fi Asbabi Sujudis Sahwi (4 Sebab Pokok Sujud Sahwi), hlm. cetakan 132–136 [hlm. file PDF 134–138]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٣٢–١٣٣ [PDF صَ ١٣٤–١٣٥]): «أَسْبَابُ سُجُودِ السَّهْوِ أَرْبَعَةٌ: الْأَوَّلُ تَرْكُ بَعْضٍ مِنْ أَبْعَاضِ الصَّلَاةِ أَوْ بَعْضِ الْبَعْضِ، وَالثَّانِي فِعْلُ مَا يُبْطِلُ عَمْدُهُ وَلَا يُبْطِلُ سَهْوُهُ إِذَا فَعَلَهُ نَاسِيًا، وَالثَّالِثُ نَقْلُ رُكْنٍ قَوْلِيٍّ إِلَىٰ غَيْرِ مَحَلِّهِ، وَالرَّابِعُ إِيقَاعُ رُكْنٍ فِعْلِيٍّ مَعَ التَّرَدُّدِ فِي زِيَادَتِهِ» ↑ Kembali ke Teks
  18. Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah. Hasyiyah Qalyubi 'ala Syarhil Jalal Al-Mahalli (berkas PDF: Noor-Book.com 4246 حَاشِيَتَا قَلْيُوبِي وَعُمَيْرَةَ ١.pdf), Beirut: Dar Al-Fikr, 1415 H / 1995 M, Juz 1, Bab Sujudis Sahwi, Dzikir yang Dianjurkan dalam Sujud Sahwi, hlm. cetakan 214–216 [hlm. file PDF 214–216]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢١٥ [PDF صَ ٢١٥]): «وَكَيْفِيَّتُهُمَا كَسُجُودِ الصَّلَاةِ فِي وَاجِبَاتِهِ وَمَنْدُوبَاتِهِ كَوَضْعِ الْجَبْهَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ، وَقَالَ بَعْضُ الْأَصْحَابِ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا: سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو، وَهُوَ لَائِقٌ بِالْحَالِ إِنْ لَمْ يَتَعَمَّدِ السَّبَبَ» ↑ Kembali ke Teks
  19. Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah. Hasyiyah Qalyubi 'ala Syarhil Jalal Al-Mahalli (berkas PDF: Noor-Book.com 4246 حَاشِيَتَا قَلْيُوبِي وَعُمَيْرَةَ ١.pdf), Beirut: Dar Al-Fikr, 1415 H / 1995 M, Juz 1, Bab Sujudit Tilawah wasy Syukr, Rukun dan Tata Cara Sujud Tilawah di Luar Salat, hlm. cetakan 218–224 [hlm. file PDF 218–224]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٢٠–٢٢١ [PDF صَ ٢٢٠–٢٢١]): «وَأَرْكَانُ سُجُودِ التِّلَاوَةِ فِي غَيْرِ الصَّلَاةِ أَرْبَعَةٌ: النِّيَّةُ، وَتَكْبِيرَةُ الْإِحْرَامِ، وَسَجْدَةٌ وَاحِدَةٌ، وَالسَّلَامُ بَعْدَ الرَّفْعِ وَالْقُعُودِ؛ وَحُكْمُ سُجُودِ الشُّكْرِ كَسُجُودِ التِّلَاوَةِ خَارِجَ الصَّلَاةِ فِي جَمِيعِ مَا ذُكِرَ» ↑ Kembali ke Teks
  20. An-Nawawi, Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf (631–676 H). Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammat bil Masa'il al-Mantsurah (berkas PDF: فَتَاوَى الْإِمَامِ النَّوَوِيِّ الْمُسَمَّاةُ بِالْمَسَائِلِ الْمَنْثُورَةِ.pdf), Beirut: Mu'assasah Ar-Risalah, cet. 6, 1417 H / 1996 M, Kitab Ash-Shalah, Bab Sujudit Tilawah wasy Syukr, hlm. cetakan 48–52 [hlm. file PDF 48–52]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٤٩ [PDF صَ ٤٩]): «مَسْأَلَةٌ: لَا يَجُوزُ سُجُودُ التِّلَاوَةِ وَلَا سُجُودُ الشُّكْرِ إِلَّا لِمَنْ كَانَ طَاهِرًا مِنَ الْحَدَثِ وَالْخَبَثِ سَاتِرًا لِلْعَوْرَةِ مُسْتَقْبِلًا لِلْقِبْلَةِ، فَمَنْ سَجَدَ بِلَا وُضُوءٍ عَالِمًا بِالتَّحْرِيمِ أَثِمَ» ↑ Kembali ke Teks
  21. Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani. Sunan Abi Dawud, Kitabush Shalah, Bab Ma Yaqulu idza Sajada lit-Tilawah, no. 1414; dan At-Tirmidzi, no. 580 (dari Ummul Mu'minin 'Aisyah radhiyallahu 'anha; hadits hasan-shahih). Bacaan doa yang diucapkan Rasulullah SAW di dalam sujud tilawah; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF: الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 172 [hlm. file PDF 172]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي سُجُودِ الْقُرْآنِ بِاللَّيْلِ: «سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ، فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ» ↑ Kembali ke Teks
  22. Muslim bin Al-Hajjaj, Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim), Kitabush Shalah, Bab Ad-Du'a fir Ruku' was Sujud, no. 486 (dari sahabat 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu). Doa sujud lengkap yang juga dianjurkan oleh Imam An-Nawawi saat sujud tilawah dan sujud syukur; dirujuk dalam Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab, Juz 4, hlm. cetakan 62 [hlm. file PDF 68]. نَصُّ الْحَدِيثِ: «اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ» ↑ Kembali ke Teks
  23. Ibnu Hajar Al-Haitami, Syihabuddin Ahmad bin Muhammad. Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj, Kairo: Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubra, Juz 2, Bab Sujudis Sahwi, hlm. cetakan 188–194 [hlm. file PDF 194–200]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «(وَلَا يَسْجُدُ لِتَرْكِ الْهَيْئَاتِ) كَالتَّكْبِيرَاتِ وَالتَّسْبِيحَاتِ وَدُعَاءِ الِافْتِتَاحِ عَمْدًا كَانَ أَوْ سَهْوًا، بَلْ يَحْرُمُ السُّجُودُ لَهَا وَتَبْطُلُ بِهِ الصَّلَاةُ إِنْ تَعَمَّدَهُ عَالِمًا؛ لِأَنَّهُ زِيَادَةُ رُكْنٍ فِعْلِيٍّ بِلَا سَبَبٍ مَشْرُوعٍ» ↑ Kembali ke Teks
  24. Ar-Ramli, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad. Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, Beirut: Dar Al-Fikr, 1404 H / 1984 M, Juz 2, Bab Sujudit Tilawah wasy Syukr, hlm. cetakan 106–112 [hlm. file PDF 114–120]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَيُسَنُّ سُجُودُ الشُّكْرِ لِهُجُومِ نِعْمَةٍ أَوِ انْدِفَاعِ نِقْمَةٍ لَا لِاسْتِمْرَارِ النِّعَمِ كَالصِّحَّةِ وَالْإِسْلَامِ؛ إِذْ لَا تَنْقَطِعُ فَيُؤَدِّي إِلَى اسْتِغْرَاقِ الْعُمُرِ فِيهِ، وَيَفُوتُ بِطُولِ الْفَصْلِ عُرْفًا» ↑ Kembali ke Teks
  25. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ.pdf), Kuwait: Dar Adh-Dhiya', cet. 1, 1427 H / 2006 M, Bab Al-Istish-hab (Kaidah Al-Yaqinu La Yazulu bisy-Syakk pada Keraguan Jumlah Rakaat Salat), hlm. cetakan 58–60 [hlm. file PDF 58–60]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٨–٥٩ [PDF صَ ٥٨–٥٩]): «وَمِنْ تَطْبِيقَاتِ قَاعِدَةِ الْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ: أَنَّ مَنْ شَكَّ فِي صَلَاتِهِ هَلْ صَلَّىٰ ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا أَخَذَ بِالْأَقَلِّ وَهُوَ الثَّلَاثُ؛ لِأَنَّهُ الْمُتَيَقَّنُ وَالْأَصْلُ عَدَمُ فِعْلِ الرَّابِعَةِ، ثُمَّ أَتَىٰ بِرَكْعَةٍ وَسَجَدَ لِلسَّهْوِ» ↑ Kembali ke Teks
  26. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ.pdf), Kuwait: Dar Adh-Dhiya', cet. 1, 1427 H / 2006 M, Bab Al-Qawa'id Al-Fiqhiyyah: At-Tabi'u Tabi'un (Kaidah Makmum Mengikuti Imam dalam Sujud Sahwi), hlm. cetakan 50–51 [hlm. file PDF 51–52]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٠ [PDF صَ ٥١]): «التَّابِعُ تَابِعٌ فَلَا يُفْرَدُ بِالْحُكْمِ؛ وَلِهٰذَا يَتْبَعُ الْمَأْمُومُ إِمَامَهُ فِي سُجُودِ السَّهْوِ فِعْلًا وَتَرْكًا مَا دَامَ مُقْتَدِيًا بِهِ» ↑ Kembali ke Teks
  27. Al-Bakri Asy-Syatha, As-Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi. I'anatuth Thalibin 'ala Halli Alfazhi Fathil Mu'in, Beirut: Dar Al-Fikr, 1418 H / 1997 M, Juz 1, Bab Sujudis Sahwi, Perbedaan Meninggalkan Rukun vs Meninggalkan Ab'adh, hlm. cetakan 192–198 [hlm. file PDF 202–208]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «الْمَتْرُوكُ فِي الصَّلَاةِ ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ: فَرْضٌ لَا يَنُوبُ عَنْهُ سُجُودُ السَّهْوِ بَلْ لَا بُدَّ مِنْ تَدَارُكِهِ، وَبَعْضٌ يَنُوبُ عَنْهُ سُجُودُ السَّهْوِ وَيَحْرُمُ الْعَوْدُ إِلَيْهِ بَعْدَ التَّلَبُّسِ بِالْفَرْضِ، وَهَيْئَةٌ لَا يَنُوبُ عَنْهَا السُّجُودُ وَلَا يُعَادُ إِلَيْهَا» ↑ Kembali ke Teks
  28. An-Nawawi, Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab, Kairo: Idarah At-Thiba'ah Al-Muniriyyah, Juz 4, Bab Sujudit Tilawah, Hukum Makmum Ketika Imam Sujud Tilawah pada Salat Subuh Jumat, hlm. cetakan 52–60 [hlm. file PDF 58–66]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «إِذَا سَجَدَ الْإِمَامُ لِلتِّلَاوَةِ فِي الصَّلَاةِ وَجَبَ عَلَى الْمَأْمُومِ السُّجُودُ مَعَهُ، فَإِنْ تَخَلَّفَ عَنْهُ عَامِدًا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ، وَإِذَا لَمْ يَسْجُدِ الْإِمَامُ لَمْ يَجُزْ لِلْمَأْمُومِ أَنْ يَسْجُدَ مُنْفَرِدًا» ↑ Kembali ke Teks
  29. Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad (450–505 H). Bidayatul Hidayah (berkas PDF: bidayatul_hidayah.pdf), Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1425 H / 2004 M, Bab Adabish Shalah wa Hudhuril Qalb, hlm. cetakan 104–108 [hlm. file PDF 104–108]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٠٥ [PDF صَ ١٠٥]): «فَأَقْبِلْ عَلَىٰ صَلَاتِكَ بِكُلِّيَّتِكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ السَّهْوَ وَالْغَفْلَةَ إِنَّمَا يَغْلِبَانِ عَلَى الْقَلْبِ الْمَشْغُولِ بِأَوْدِيَةِ الدُّنْيَا، وَشُرِعَ سُجُودُ السَّهْوِ جَبْرًا لِلنَّقْصِ وَإِرْغَامًا لِلشَّيْطَانِ» ↑ Kembali ke Teks
  30. Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF: فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ash-Shalah, Bab Sujudis Sahwi, Mas'alah [93]: Hukum Makmum Masbuq Ketika Imam Sujud Sahwi di Akhir Salat, hlm. cetakan 248–249 [hlm. file PDF 248–249]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٤٨ [PDF صَ ٢٤٨]): «[٩٣] مَسْأَلَةٌ: الْمَسْبُوقُ يَسْجُدُ مَعَ الْإِمَامِ لِسَهْوِهِ تَبَعًا لَهُ، ثُمَّ يُعِيدُ السُّجُودَ فِي آخِرِ صَلَاتِ نَفْسِهِ؛ لِأَنَّ الْأَوَّلَ وَقَعَ فِي غَيْرِ مَحَلِّهِ الْأَصْلِيِّ رِعَايَةً لِلْمُتَابَعَةِ» ↑ Kembali ke Teks
  31. Al-Haddad, Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi'i (1044–1132 H). Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fi Tahqiqisy Syukr wa Adabil Qur'an, hlm. cetakan 68–72 [hlm. file PDF 68–72]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٧٠ [PDF صَ ٧٠]): «وَحَافِظْ عَلَىٰ سُجُودِ التِّلَاوَةِ عِنْدَ قِرَاءَةِ آيَاتِ السَّجْدَةِ وَاسْتِمَاعِهَا، وَعَلَىٰ سُجُودِ الشُّكْرِ عِنْدَ تَجَدُّدِ النِّعَمِ وَانْدِفَاعِ النِّقَمِ عَلَىٰ شَرْطِ الطَّهَارَةِ وَالِاسْتِقْبَالِ» ↑ Kembali ke Teks
  32. Asy-Syathiri, Al-Habib Ahmad bin 'Umar. Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja (berkas PDF: نَيْلُ الرَّجَاءِ بِشَرْحِ سَفِينَةِ النَّجَاءِ.pdf), Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 3, 1428 H / 2007 M, Fashl fi Hukmi Sujudis Sahwi wa Mahallihi, hlm. cetakan 136 [hlm. file PDF 138]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٣٦ [PDF صَ ١٣٨]): «وَلَا يَتَعَدَّدُ سُجُودُ السَّهْوِ وَإِنْ تَعَدَّدَتْ أَسْبَابُهُ فِي الصَّلَاةِ الْوَاحِدَةِ، بَلْ تَكْفِي سَجْدَتَانِ فِي آخِرِهَا قَبْلَ السَّلَامِ جَبْرًا لِلْجَمِيعِ» ↑ Kembali ke Teks
  33. Al-Mahalli, Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad (791–864 H). Kanzur Raghibin Syarh Minhajith Thalibin (Tahqiq: Mahmud Shalih Ahmad Hasan Al-Hadidi, Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 2, 1434 H / 2013 M, berkas PDF: كَنْزُ الرَّاغِبِينَ شَرْحُ مِنْهَاجِ الطَّالِبِينَ ١.pdf), Juz 1, Bab Sujudis Sahwi, hlm. cetakan 274–278 [hlm. file PDF 274–278]; serta edisi Beirut: Dar Al-Fikr bersama Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah, Juz 1, hlm. cetakan 208–212 [hlm. file PDF 208–212]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٧٤–٢٧٦ [PDF صَ ٢٧٤–٢٧٦]): «﴿بَابُ سُجُودِ السَّهْوِ﴾ هُوَ سُنَّةٌ عِنْدَ تَرْكِ مَأْمُورٍ بِهِ فِي الصَّلَاةِ أَوْ فِعْلِ مَنْهِيٍّ عَنْهُ فِيهَا... ﴿مَتْرُوكُ الصَّلَاةِ ثَلَاثَةُ أَضْرُبٍ: فَرْضٌ وَسُنَّةٌ وَهَيْئَةٌ، فَالْفَرْضُ لَا يَنُوبُ عَنْهُ سُجُودُ السَّهْوِ﴾ بَلْ إِنْ ذَكَرَهُ وَالزَّمَانُ قَرِيبٌ أَتَىٰ بِهِ وَبَنَىٰ عَلَيْهِ، ﴿وَالسُّنَّةُ﴾ وَهِيَ الْأَبْعَاضُ كَالتَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ وَالْقُنُوتِ ﴿لَا يَعُودُ إِلَيْهَا بَعْدَ التَّلَبُّسِ بِالْفَرْضِ﴾ فَلَوْ عَادَ عَامِدًا عَالِمًا بِالتَّحْرِيمِ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ ﴿لَكِنَّهُ يَسْجُدُ لِلسَّهْوِ عَنْهَا، وَالْهَيْئَةُ كَالتَّسْبِيحَاتِ﴾ وَالتَّكْبِيرَاتِ ﴿لَا يَعُودُ إِلَيْهَا وَلَا يَسْجُدُ لَهَا﴾» ↑ Kembali ke Teks
  34. Al-Mahalli, Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad (791–864 H). Kanzur Raghibin Syarh Minhajith Thalibin (Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 2, 1434 H / 2013 M, berkas PDF: كَنْزُ الرَّاغِبِينَ شَرْحُ مِنْهَاجِ الطَّالِبِينَ ١.pdf), Juz 1, Bab Sujudit Tilawah wasy Syukr, hlm. cetakan 286–292 [hlm. file PDF 286–292]; serta edisi Beirut: Dar Al-Fikr bersama Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah, Juz 1, hlm. cetakan 218–223 [hlm. file PDF 218–223]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٨٦–٢٩٠ [PDF صَ ٢٨٦–٢٩٠]): «﴿بَابُ سُجُودِ التِّلَاوَةِ وَالشُّكْرِ: يُسَنُّ سُجُودُ التِّلَاوَةِ لِلْقَارِئِ وَالْمُسْتَمِعِ﴾ أَيْ مَنْ يَقْصِدُ السَّمَاعَ ﴿وَهِيَ فِي الْجَدِيدِ أَرْبَعَ عَشْرَةَ سَجْدَةً، لَيْسَ مِنْهَا (صَادْ) بَلْ هِيَ سَجْدَةُ شُكْرٍ﴾ تَسَنُّ فِي غَيْرِ الصَّلَاةِ... ﴿وَلَا يَدْخُلُ سُجُودُ الشُّكْرِ الصَّلَاةَ﴾ فَلَوْ سَجَدَ فِيهَا لِلشُّكْرِ عَامِدًا عَالِمًا بَطَلَتْ صَلَاتُهُ... ﴿وَحُكْمُهُمَا حُكْمُ صَلَاةِ النَّفْلِ فِي الشُّرُوطِ، وَيُحْرِمُ لَهَا ثُمَّ يَسْجُدُ كَسَجْدَةِ الصَّلَاةِ ثُمَّ يَرْفَعُ مُكَبِّرًا وَيُسَلِّمُ﴾» ↑ Kembali ke Teks

10. Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)

  • Abu Dawud, Al-Imam Sulaiman bin Al-Asy‘ats As-Sijistani. (275 H). Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Al-Kitab Al-‘Arabi. — سُنَنُ أَبِي دَاوُدَ لِلْإِمَامِ سُلَيْمَانَ بْنِ الْأَشْعَثِ السِّجِسْتَانِيِّ.
  • Al-Bakri Asy-Syatha, As-Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi. (1310 H). I'anatuth Thalibin 'ala Halli Alfazhi Fathil Mu'in. Beirut: Dar Al-Fikr, 1418 H / 1997 M. — إِعَانَةُ الطَّالِبِينَ عَلَىٰ حَلِّ أَلْفَاظِ فَتْحِ الْمُعِينِ.
  • Al-Bukhari, Al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma‘il. (256 H). Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Al-Mathba‘ah As-Salafiyyah. — صَحِيحُ الْبُخَارِيِّ لِلْإِمَامِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْبُخَارِيِّ.
  • Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. (505 H). Bidayatul Hidayah. Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1425 H / 2004 M. — بِدَايَةُ الْهِدَايَةِ لِحُجَّةِ الْإِسْلَامِ الْإِمَامِ الْغَزَالِيِّ.
  • Al-Haddad, Al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi‘i. (1132 H). Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah. Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M. — رِسَالَةُ الْمُعَاوَنَةِ وَالْمُظَاهَرَةِ وَالْمُؤَازَرَةِ لِلْإِمَامِ الْحَدَّادِ.
  • Al-Haitami, Syaikhul Islam Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali Ibnu Hajar. (974 H). Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj. Kairo: Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubra. — تُحْفَةُ الْمُحْتَاجِ بِشَرْحِ الْمِنْهَاجِ لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ حَجَرٍ الْهَيْتَمِيِّ.
  • Al-Khin, Dr. Musthafa; Al-Bugha, Dr. Musthafa; Asy-Syirbaji, ‘Ali. (1413 H / 1992 M). Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi‘i. Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, Juz 1. — الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ عَلَىٰ مَذْهَبِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ.
  • Al-Mahalli, Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Asy-Syafi‘i. (864 H / 2013 M). Kanzur Raghibin Syarh Minhajith Thalibin. Tahqiq: Mahmud Shalih Ahmad Hasan Al-Hadidi. Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 2, 1434 H / 2013 M, Juz 1. — كَنْزُ الرَّاغِبِينَ شَرْحُ مِنْهَاجِ الطَّالِبِينَ لِلْإِمَامِ جَلَالِ الدِّينِ الْمَحَلِّيِّ.
  • Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah; & ‘Umairah, Syaikh Ahmad Al-Burullusi. (1069 H / 1995 M). Hasyiyata Qalyubi wa ‘Umairah ‘ala Kanzir Raghibin Syarh Minhajith Thalibin. Beirut: Dar Al-Fikr, 1415 H / 1995 M. — حَاشِيَتَا قَلْيُوبِي وَعُمَيْرَةَ عَلَىٰ شَرْحِ الْجَلَالِ الْمَحَلِّيِّ.
  • An-Nawawi, Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. (676 H / 1996 M). Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammat bil Masa'il al-Mantsurah. Beirut: Mu'assasah Ar-Risalah, cet. 6, 1417 H / 1996 M. — فَتَاوَى الْإِمَامِ النَّوَوِيِّ الْمُسَمَّاةُ بِالْمَسَائِلِ الْمَنْثُورَةِ.
  • Ar-Ramli, Syamsuddin Muhammad bin Abi Al-‘Abbas Ahmad bin Hamzah. (1004 H). Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj. Beirut: Dar Al-Fikr, 1404 H / 1984 M. — نِهَايَةُ الْمُحْتَاجِ إِلَىٰ شَرْحِ الْمِنْهَاجِ لِلْإِمَامِ شَمْسِ الدِّينِ الرَّمْلِيِّ.
  • Asy-Syathiri, Al-Habib Ahmad bin ‘Umar. (1360 H / 2007 M). Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja. Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 3, 1428 H / 2007 M. — نَيْلُ الرَّجَاءِ بِشَرْحِ سَفِينَةِ النَّجَاءِ لِلسَّيِّدِ أَحْمَدَ بْنِ عُمَرَ الشَّاطِرِيِّ.
  • Bafaraj, Al-‘Allamah Asy-Syarif ‘Umar bin Al-Habib Hamid Ba‘alawi At-Tarimi; & Hitu, Dr. Syifa’ Muhammad Hasan. (1274 H / 2010 M). Fathul ‘Ali bi Jam‘il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli. Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M. — فَتْحُ الْعَلِيِّ بِجَمْعِ الْخِلَافِ بَيْنَ ابْنِ حَجَرٍ وَابْنِ الرَّمْلِيِّ.
  • Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. (1427 H / 2006 M). Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh. Kuwait: Dar Adh-Dhiya', cet. 1. — الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ لِلْأُسْتَاذِ الدُّكْتُورِ مُحَمَّدٍ حَسَنٍ هِيتُو.
  • Hitu, Dr. Syifa’ Muhammad Hasan; & Al-‘Akkari, Syaikh Mush‘ab. (1432 H / 2011 M). Imta‘ul Asma‘ fi Syarhi Matni Abi Syuja‘. Beirut: Dar Al-Wafa', cet. 1. — إِمْتَاعُ الْأَسْمَاعِ فِي شَرْحِ مَتْنِ أَبِي شُجَاعٍ.
  • Muslim, Al-Imam Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi. (261 H). Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim). Kairo: Dar Ihya' Al-Kutub Al-‘Arabiyyah. — صَحِيحُ مُسْلِمٍ لِلْإِمَامِ مُسْلِمِ بْنِ الْحَجَّاجِ الْقُشَيْرِيِّ.