Salat Berjamaah dan Adab di Masjid: Bukan Sekadar Mengisi Shaf Kosong
Fadhilah Agung Salat Berjamaah, Fikih Meluruskan dan Merapatkan Shaf, Etika Menonaktifkan Gawai, serta Adab Memakmurkan Rumah Allah Menurut Tuntunan Kitab Turats Mu'tamad
Daftar Isi Kajian Ilmiah-Populer Klik untuk Buka/Tutup
- 1. Hakikat Salat Berjamaah & Fondasi Syariat: Memakmurkan Rumah Allah
- 2. Anatomi & Dashboard Matrix: Fikih Barisan Shaf, Syarat Qudwah, & Adab Masjid
- 3. Problematika Remaja & Modern: Makmum Tiang, Gawai, & Merapatkan Shaf
- 4. Dekonstruksi Fikih & Tasawuf Turats Mu'tamad: Bedah 5 Kitab Rujukan Utama
- 5. SOP: Bagan Alur 4 Tahap Menghadiri Salat Berjamaah & Menata Shaf
- 6. Kaidah Ushul Fiqh & Kaidah Fikih Salat Berjamaah dan Adab Masjid
- 7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja: Budaya Masjid Ramah & Khusyuk
- 8. Self-Assessment Checklist: Evaluasi Kualitas Salat Berjamaah & Adab Masjid
- 9. Catatan Kaki Terperinci (32 Footnotes Terverifikasi Cetakan & PDF)
- 10. Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)
Salat berjamaah di masjid merupakan syiar agung Islam berstatus fardhu kifayah yang melipatgandakan pahala hingga dua puluh tujuh derajat dan menyatukan hati kaum muslimin. Kesempurnaan berjamaah bukan sekadar mengisi ruang kosong, melainkan menuntut kelurusan tumit kaki dan kerapatan bahu dengan penuh kelembutan (tanpa berdesakan yang menyakiti), kepatuhan mutlak pada gerakan imam, kebersihan diri dari aroma menyengat, serta pengagungan rumah Allah dengan menonaktifkan suara gawai dan memasang niat i'tikaf.
1. Hakikat Salat Berjamaah & Fondasi Syariat: Memakmurkan Rumah Allah dengan Jiwa yang Hadir
Masjid dalam peradaban Islam bukan sekadar bangunan arsitektural tempat menunaikan kewajiban ritual secara mekanis, melainkan jantung spiritualitas umat, kawah candradimuka pembinaan akhlak generasi muda, dan taman surga di muka bumi. Salat berjamaah lima waktu di masjid adalah syiar keimanan paling agung yang memadukan penghambaan vertikal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (hablun minallah) dengan persaudaraan horizontal yang menyatukan hati kaum muslimin tanpa sekat status sosial (hablun minannas). Ketika bahu seorang mahasiswa bersentuhan lembut dengan bahu dosen, pekerja harian, maupun pemimpin masyarakat dalam satu barisan shaf yang lurus menghadap Kiblat, runtuhlah keangkuhan ego duniawi di hadapan kebesaran Sang Khalik.
Namun, di tengah hiruk-pikuk gaya hidup digital masa kini, kualitas kehadiran generasi muda di dalam masjid sering kali tereduksi menjadi sekadar "mengisi ruang kosong secara fisik" sementara batin dan adabnya tertinggal di luar masjid. Kita kerap menyaksikan jamaah yang berdiri renggang menyisakan celah lebar di tengah shaf, makmum yang sibuk menggulir layar gawai (scrolling media sosial) sambil menunggu iqamah, dering notifikasi atau musik telepon genggam yang memecah kekhusyukan salat, hingga jamaah yang terburu-buru melangkahi pundak orang lain atau hadir dengan bau rokok dan keringat yang menyengat. Menata kembali fikih shaf dan adab di rumah Allah menurut tuntunan kitab-kitab turats mu'tamad adalah kunci agar salat berjamaah benar-benar melahirkan pahala dua puluh tujuh derajat yang utuh.
Fondasi syariat mengenai kemuliaan memakmurkan masjid ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 18:
Lebih khusus lagi, Allah Ta'ala memuji karakter pemuda dan laki-laki sejati yang hatinya tidak terlalaikan oleh kesibukan bisnis maupun hiruk-pikuk duniawi dari memakmurkan masjid dalam Surah An-Nur ayat 36–37:
Dan perintah menegakkan salat secara berjamaah bersama kaum mukminin termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 43:
Dalam khazanah Hadits Nabawiyyah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan lipat ganda pahala salat berjamaah dalam hadits sahih riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:
Mengenai urgensi meluruskan dan merapatkan barisan shaf, Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
Bahkan, Rasulullah SAW mengaitkan kerapian shaf lahiriah dengan persatuan hati batiniah umat Islam: "Latusawwunna shufufakum aw layukhalifannallahu bayna wujuhikum" (Sungguh kalian benar-benar meluruskan shaf kalian, atau Allah benar-benar akan memalingkan/memecah-belah di antara hati dan wajah kalian)[6]; serta menjanjikan naungan Arsy di hari kiamat bagi pemuda yang tumbuh dalam ibadah dan insan yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid[7].
2. Anatomi & Dashboard Matrix: Fikih Barisan Shaf, Syarat Qudwah, & Adab Masjid
Untuk memahami aturan fikih dan etika salat berjamaah secara utuh, tabel matriks berikut memetakan enam aspek krusial di dalam masjid beserta status hukum dan panduan praktisnya menurut Mazhab Syafi'i:
| No. | Aspek Salat Berjamaah & Adab Masjid | Status Hukum & Ketentuan Fikih Syafi'iyyah | Kesalahan Umum Jamaah Modern | Tindakan Benar Berbasis Kitab Turats |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Hukum Asal Salat Berjamaah Lima Waktu bagi Pria Mukim[9][25] | Fardhu Kifayah (Mu'tamad An-Nawawi): Wajib ditegakkan hingga tampak syiar Islam di setiap kawasan pemukiman; jika ditinggalkan semua, seluruh warga berdosa. | Menganggap salat berjamaah hanya sunnah biasa sehingga terus-menerus salat sendirian di kamar kos padahal mendengar azan masjid. | Menjaga salat berjamaah di masjid setiap waktu fardhu dan mengejar Takbiratul Ula bersama imam (Risalatul Mu'awanah, hlm. 55–56)[13][23]. |
| 2 | Meluruskan & Merapatkan Barisan Shaf (Taswiyatush Shufuf)[10][20] | Sunnah Mu'akkadah (Sangat Dianjurkan): Meluruskan sejajar tumit kaki (al-a'qab) dan bahu, serta menutup celah kosong tanpa berdesakan yang menyakiti. | Berdiri terlalu renggang menyisakan celah di tengah shaf, atau sebaliknya menghimpit kaki orang sebelah secara kasar hingga mengganggu khusyuknya. | Sejajarkan tumit kaki dengan garis shaf, dekatkan bahu secara lembut dan santun (Hasyiyah Qalyubi, Juz 1, hlm. 233; Nihayatul Muhtaj, Juz 2, hlm. 155)[20][31]. |
| 3 | Membuat Shaf Baru Sebelum Shaf Depan Penuh & Berdiri Sendirian[16][30] | Makruh & Gugur Fadhilah Jamaah Shaf: Berdiri sendirian di belakang shaf padahal masih ada celah di shaf depan menghilangkan keutamaan shaf menurut Ibnu Hajar dan Ar-Ramli. | Malas berjalan ke shaf depan yang masih kosong di bagian ujung, lalu langsung membuat shaf baru di belakang dekat pintu keluar. | Penuhi shaf depan terlebih dahulu secara simetris dari tengah ke kanan dan kiri; terobos shaf belakang yang malas menutup celah depan (I'anatuth Thalibin, Juz 2, hlm. 20)[16][28]. |
| 4 | Makmum Masbuq Mendapati Imam Sedang Rukuk[24][29] | Dapat 1 Rakaat dengan Syarat: Wajib bertakbiratul ihram dalam keadaan berdiri tegak, lalu rukuk dan sempat thuma'ninah bersama imam sebelum imam bangkit i'tidal. | Berlari terburu-buru sambil langsung membungkuk rukuk saat mengucap Allahu Akbar (salatnya tidak sah karena takbiratul ihram dilakukan sambil membungkuk). | Berjalan tenang (sakinah), berdiri tegak sempurna saat takbiratul ihram, baru kemudian turun rukuk bersama imam (Fathul ‘Ali Mas'alah [105], hlm. 274)[24][29]. |
| 5 | Menonaktifkan Suara Gawai (Smartphone) & Menjaga Ketenangan[19][26] | Wajib Mencegah Gangguan (Haramut Tasywisy): Imam An-Nawawi menegaskan haramnya mengganggu kekhusyukan orang yang salat walau dengan suara bacaan yang terlalu keras, terlebih lagi dering musik HP. | Membiarkan dering telepon atau notifikasi grup WhatsApp berbunyi nyaring saat jamaah sedang salat, atau mengobrol urusan duniawi dengan suara keras. | Aktifkan mode hening (silent) sebelum melangkahkan kaki kanan masuk masjid dan pasang niat i'tikaf (Fatawa An-Nawawi, hlm. 55)[14][19]. |
| 6 | Menjaga Kebersihan Mulut, Aroma Tubuh, & Pakaian Salat[8][11] | Makruh Tahrim / Haram Jika Menyakiti Jamaah: Hadits sahih melarang orang yang berbau bawang mentah, rokok menyengat, atau bau badan tajam mendekati masjid hingga bersih. | Masuk ke dalam shaf yang rapat dengan baju penuh keringat asam, kaus kaki berbau busuk, atau mulut bau asap rokok yang menyiksa makmum di sebelahnya. | Bersiwak/sikat gigi, gunakan pakaian bersih dan minyak wangi yang lembut sebelum berangkat ke masjid (Bidayatul Hidayah, hlm. 96–98)[8][11]. |
3. Problematika Remaja & Generasi Modern: Fenomena "Makmum Tiang", Distraksi Gawai, & Salah Paham Merapatkan Shaf
Mengapa kualitas salat berjamaah di banyak masjid kampus dan perkantoran sering terasa kurang khidmat? Berikut empat problematika kontemporer yang kerap terjadi di kalangan anak muda:
a. Sindrom "Makmum Pinggiran & Sandaran Tiang" Saat Shaf Depan Masih Lowong
Pemandangan yang sangat sering dijumpai di masjid kampus atau musala mal adalah para pemuda yang datang lebih awal namun memilih duduk bersandar di tiang belakang atau pojok dinding dekat pintu keluar. Ketika iqamah dikumandangkan, mereka enggan maju mengisi shaf pertama yang masih lowong, melainkan langsung berdiri di belakang. Padahal, Rasulullah SAW bersabda bahwa seandainya manusia mengetahui keutamaan azan dan shaf pertama, niscaya mereka akan melakukan undian untuk mendapatkannya. Lebih jauh lagi, dalam Mas'alah [101] Fathul ‘Ali (hlm. 265), Ibnu Hajar dan Ar-Ramli sepakat bahwa makmum yang sengaja memisahkan diri atau membuat barisan sendiri sementara shaf di depannya masih lowong dihukumi makruh dan kehilangan keutamaan fadhilah jamaah shaf[10][16][30].
b. Ketegangan antara "Shaf Terlalu Renggang" vs "Menginjak Kaki Teman Sebelah"
Dalam mempraktikkan hadits merapatkan shaf, sering terjadi dua ekstrem: sebagian jamaah berdiri sangat renggang hingga menyisakan jarak satu jengkal antar-bahu (membiarkan celah bagi setan sebagaimana hadits Abu Dawud no. 666), sementara sebagian pemuda lain yang bersemangat justru membuka kakinya terlalu lebar dan menempelkan mata kakinya secara paksa ke kaki makmum di sebelahnya. Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi dalam Hasyiyah-nya (Juz 1, hlm. 233) dan Imam Ar-Ramli dalam Nihayatul Muhtaj (Juz 2, hlm. 155) menjelaskan keseimbangan yang sangat indah: ukuran lurusnya shaf adalah sejajarnya bagian belakang tumit kaki (al-a'qab) dan leher/bahu, sedangkan ukuran rapatnya shaf adalah berdekatannya bahu hingga tidak ada celah yang muat untuk orang ketiga, dengan sikap lemah lembut tanpa berdesakan yang menyakiti (min ghairi tazahumin yu'dzi)[20][21][31].
c. Candu Gawai di Antara Azan dan Iqamah
Waktu antara azan dan iqamah adalah salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa, mendirikan salat sunnah Qabliyah (Rawatib), dan membaca Al-Qur'an. Sayangnya, banyak pemuda menghabiskan waktu emas ini dengan menunduk menatap layar smartphone: membalas chat, menonton video pendek (Reels/TikTok), atau bermain gim daring di atas sajadah masjid. Bahkan, tak jarang suara musik dari video tersebut bocor terdengar di ruang masjid. Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah dan Habib Abdullah Al-Haddad dalam Risalatul Mu'awanah memperingatkan keras agar rumah Allah disucikan dari obrolan dan hiruk-pikuk urusan duniawi[12][14].
d. Kekeliruan Makmum Masbuq: Tergesa-gesa Rukuk Sebelum Sempat Berdiri Tegak
Ketika seorang pemuda datang terlambat (masbuq) dan mendapati imam sedang rukuk, ia sering kali berlari kecil lalu langsung mengucapkan Allahu Akbar sambil membungkukkan badan menuju rukuk demi mengejar rakaat. Dalam Mas'alah [105] Fathul ‘Ali (hlm. 274) dan Nailur Raja, ditegaskan bahwa jika huruf apapun dari lafal Allahu Akbar (takbiratul ihram) diucapkan ketika badan sudah condong membungkuk pada batas rukuk, maka salat fardhunya batal dan tidak sah sejak awal! Makmum masbuq wajib berdiri tegak sempurna terlebih dahulu saat melafalkan Allahu Akbar, baru kemudian menunduk untuk rukuk dan bertuma'ninah sejenak bersama imam sebelum imam bangkit[18][24][29].
4. Dekonstruksi Fikih & Tasawuf Turats Mu'tamad: Bedah 5 Kitab Rujukan Utama
Berikut telaah mendalam atas teks-teks autentik (ibaroh) dari lima kitab turats mu'tamad yang merumuskan hukum salat berjamaah, kerapian shaf, dan adab batiniah di dalam masjid:
4.1. Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi‘i — Karya Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha, & ‘Ali Asy-Syirbaji
Dalam Bab Shalatil Jama'ah (Juz 1, hlm. cetakan 176–182 [hlm. file PDF 176–182]), diuraikan status hukum fardhu kifayah salat berjamaah serta tata tertib penyusunan shaf:
4.2. Bidayatul Hidayah — Karya Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali (450–505 H)
Dalam Bab Adabi Dukhulil Masjid (hlm. cetakan 96–103 [hlm. file PDF 96–103]), Imam Al-Ghazali menuntun adab lahir dan batin seorang pemuda sejak melangkahkan kaki dari rumah menuju masjid hingga duduk menanti salat:
4.3. Risalatul Mu'awanah & An-Nasha'ihud Diniyyah — Karya Al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi Al-Haddad (1044–1132 H)
Dalam Risalatul Mu'awanah (hlm. cetakan 55–59 [hlm. file PDF 55–59]) dan An-Nasha'ihud Diniyyah (hlm. cetakan 76–82 [hlm. file PDF 76–82]), Imam Al-Haddad menekankan semangat mengejar Takbiratul Ihram pertama bersama imam dan menjaga kemuliaan masjid:
4.4. Fathul ‘Ali bi Jam‘il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli & Hasyiyah Qalyubi
Dalam Fathul ‘Ali Mas'alah [101] & [105] (hlm. cetakan 265 & 274 [hlm. file PDF 265 & 274]) serta Hasyiyah Qalyubi (Juz 1, hlm. cetakan 233 [hlm. file PDF 233]), dirumuskan definisi presisi dari meluruskan dan merapatkan shaf:
4.5. Fatawa Al-Imam An-Nawawi & Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja
Imam An-Nawawi dalam Fatawa-nya (hlm. cetakan 55 [hlm. file PDF 55]) menetapkan kaidah larangan mengganggu jamaah masjid (tahrimut tasywisy): bahkan membaca Al-Qur'an atau berdzikir dengan suara nyaring yang mengganggu orang yang sedang salat di dekatnya adalah dilarang, maka terlebih lagi membunyikan dering musik gawai atau bercanda di dalam masjid[19]. Sementara itu, Habib Ahmad Asy-Syathiri dalam Nailur Raja (hlm. cetakan 145–152 [hlm. file PDF 147–154]) menguraikan 11 syarat sah bermakmum (syuruthul qudwah) yang wajib dipenuhi agar salat jamaah sah[18].
5. SOP: Bagan Alur 4 Tahap Menghadiri Salat Berjamaah & Menata Shaf Secara Sempurna
Agar setiap langkah Anda menuju masjid dan berdirinya Anda di dalam shaf bernilai pahala maksimal, terapkan Standard Operating Procedure (SOP) 4 tahap berbasis murni CSS berikut:
Berwudhulah dengan sempurna sebelum berangkat, bersiwak/sikat gigi untuk menghilangkan bau mulut/rokok, kenakan pakaian yang bersih lagi sopan, gunakan wewangian lembut, dan berjalanlah menuju masjid dengan tenang (sakinah) (Bidayatul Hidayah, hlm. cetakan 96 [hlm. file PDF 96])[8][11].
Tepat sebelum melangkahkan kaki kanan masuk masjid, aktifkan Mode Hening (Silent) pada smartphone Anda. Ucapkan doa masuk masjid disertai niat i'tikaf di dalam hati, maju ke shaf terdepan yang masih lowong, dan dirikan 2 rakaat Tahiyyatul Masjid atau Qabliyah sebelum duduk (Risalatul Mu'awanah, hlm. cetakan 57 [hlm. file PDF 57])[11][14].
Saat berdiri menyambut iqamah, letakkan bagian belakang tumit kaki (al-a'qab) tepat sejajar di atas garis shaf karpet, tutup celah kosong di samping Anda hingga bahu saling berdekatan dengan lembut tanpa menyakiti, dan sambut ajakan perapatan shaf dari saudara sebelah dengan ramah (Hasyiyah Qalyubi, hlm. cetakan 233 [hlm. file PDF 233])[20][21].
Jangan bertakbiratul ihram sebelum imam selesai melafalkan huruf Ra' dari Allahu Akbar, dan jangan pernah mendahului gerakan rukuk atau sujud imam. Jika datang terlambat (masbuq), bertakbiratul ihramlah dalam posisi berdiri tegak sempurna sebelum turun mengikuti posisi imam (Imta'ul Asma', hlm. cetakan 122–123 [hlm. file PDF 124–125])[17][29].
6. Kaidah Ushul Fiqh & Kaidah Fikih Salat Berjamaah dan Adab Masjid
Tuntunan salat berjamaah dan etika memakmurkan masjid berpijak pada empat kaidah ushul dan fikih utama:
1. Kaidah Pertama — الْمُحَافَظَةُ عَلَى الشَّعَائِرِ الظَّاهِرَةِ مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ (Al-Muhafazhatu 'alasy Sya'a'irizh Zhahirah min Furudhil Kifayat): Menjaga tegaknya syiar-syiar lahiriah Islam di tengah masyarakat adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah) yang tidak boleh padam. Salat berjamaah di masjid adalah syiar utama persatuan umat yang wajib dihidupkan oleh pemuda di setiap lingkungan (Al-Fiqhul Manhaji, Juz 1, hlm. cetakan 176 [hlm. file PDF 176]; Al-Khulashah, hlm. cetakan 21 [hlm. file PDF 21])[9][25].
2. Kaidah Kedua — الضَّرَرُ يُزَالُ وَدَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصَالِحِ (Adh-Dhararu Yuzal, wa Dar'ul Mafasidi Muqaddamun 'ala Jalbil Mashalih): Kemudaratan wajib dihilangkan, dan menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan. Atas dasar kaidah ini, haram hukumnya mengganggu kekhusyukan jamaah dengan dering gawai, obrolan keras, bau rokok/bawang, maupun mengeraskan bacaan pribadi hingga membuyarkan konsentrasi makmum di sebelahnya (Fatawa An-Nawawi, hlm. cetakan 55 [hlm. file PDF 55]; Al-Khulashah, hlm. cetakan 48 [hlm. file PDF 49])[8][19][26].
3. Kaidah Ketiga — الْمُقَارَنَةُ فِي الْوَسَائِلِ تُوجِبُ التَّآلُفَ فِي الْمَقَاصِدِ (Kesesuaian Barisan Lahiriah Melahirkan Kesatuan Hati Batiniah): Sebagaimana diisyaratkan dalam hadits An-Nu'man bin Basyir dan syarah Imam Al-Mawardi dalam Adabud Dunya wad Din (hlm. cetakan 112 [hlm. file PDF 112]), ketertiban, kelurusan, dan kerapian barisan shaf secara fisik mendidik jiwa umat untuk hidup disiplin, tertib, dan bersatu padu dalam kebaikan[6][32].
4. Kaidah Keempat — مَا أُبِيحَ أَوْ شُرِعَ لِمَصْلَحَةٍ يُقَيَّدُ بِعَدَمِ الْإِيذَاءِ (Perkara Sunnah Dibatasi Selama Tidak Menyakiti Orang Lain): Merapatkan shaf dan mengejar shaf pertama adalah sunnah yang sangat mulia, namun pelaksanaannya dibatasi oleh syarat tidak menyakiti jamaah lain (tidak melangkahi pundak orang yang sudah duduk dan tidak menginjak kaki makmum sebelah secara kasar) (Bidayatul Hidayah, hlm. cetakan 100 [hlm. file PDF 100]; Hasyiyah Qalyubi, hlm. cetakan 233 [hlm. file PDF 233])[12][20].
7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja: Menghidupkan Budaya Masjid Ramah & Khusyuk
Bagaimana generasi muda dan mahasiswa dapat menjadi pelopor budaya salat berjamaah yang tertib, santun, dan berwibawa di masjid kampus maupun lingkungan tempat tinggal? Terapkan empat langkah praktis berikut:
- Gerakan "Zero Ringtone" & Puasa Layar 15 Menit di Masjid: Jadikan ambang pintu masjid sebagai batas zona bebas distraksi digital. Begitu melangkah masuk masjid, ubah ponsel ke mode hening (silent) dan simpan di dalam saku atau tas. Nikmati waktu 10–15 menit menanti iqamah untuk mengistirahatkan mata dan pikiran dari hiruk-pikuk notifikasi media sosial dengan membaca Al-Qur'an atau berdzikir[12][19].
- Seni Merapatkan Shaf dengan Senyum dan Kelembutan (Layyinu bi Aydi Ikhwanikum): Ketika berdiri di dalam shaf, lihatlah posisi tumit kaki Anda agar sejajar dengan garis shaf. Jika ada ruang kosong di sebelah Anda, bergeserlah mendekat dengan langkah yang tenang dan lembut. Jika makmum di sebelah Anda belum paham cara merapatkan kaki, jangan menginjak atau mendorong kakinya secara kasar, melainkan dekatkan bahu Anda secara wajar dan santun sebagaimana perintah hadits: "Bersikap lembutlah terhadap tangan saudara-saudara kalian"[20][21].
- Trik Memanen Pahala Ganda lewat "Niat I'tikaf" Setiap Masuk Masjid: Hidupkan sunnah ulama salaf yang diajarkan Imam An-Nawawi dan Habib Abdullah Al-Haddad: setiap kali Anda masuk ke masjid kampus atau musala kantor—meskipun hanya untuk salat Dzuhur 10 menit atau berteduh sejenak—ucapkan di dalam hati: "Nawaitul i'tikafa fi hadzal masjidi sunnatan lillahi ta'ala" (Saya berniat i'tikaf di masjid ini sunnah karena Allah Ta'ala). Dengan satu niat ringan ini, setiap detik duduknya Anda di dalam masjid otomatis tercatat sebagai pahala ibadah i'tikaf![14][27]
- Tantangan Pemuda 40 Hari Takbiratul Ula (Subuh & Isya Berjamaah): Ajak sahabat satu kos atau teman organisasi kampus untuk menempuh tantangan 40 hari berturut-turut salat berjamaah tepat waktu mendapatkan Takbiratul Ihram pertama bersama imam, khususnya pada waktu Subuh dan Isya. Keutamaan dua waktu ini setara dengan menghidupkan seluruh malam dengan ibadah serta menjadi benteng terkuat bagi keteguhan iman seorang pemuda[22][23].
8. Self-Assessment Checklist: Evaluasi Kualitas Salat Berjamaah & Adab Masjid Harian
Gunakan daftar evaluasi mandiri interaktif berikut untuk mengukur kualitas adab dan kesempurnaan salat berjamaah Anda setiap hari:
9. Catatan Kaki (Footnotes) Terperinci & Ibaroh Kitab Turats Terverifikasi
-
Al-Qur'an al-Karim, Surah At-Taubah [9] ayat 18. Penegasan bahwa orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta mendirikan salat; dirujuk dalam Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha, dan 'Ali Asy-Syirbaji, Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M, Juz 1, hlm. cetakan 175 [hlm. file PDF 175]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ﴾ ↑ Kembali ke Teks -
Al-Qur'an al-Karim, Surah An-Nur [24] ayat 36–37. Kemuliaan rumah-rumah Allah (masjid) yang di dalamnya diagungkan nama-Nya pada waktu pagi dan petang oleh pemuda dan laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dunia; dirujuk dalam Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi Al-Haddad, Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, hlm. cetakan 56–57 [hlm. file PDF 56–57]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ﴾ ↑ Kembali ke Teks -
Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Baqarah [2] ayat 43. Perintah mendirikan salat dan rukuk bersama orang-orang yang rukuk (berjamaah); dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 176 [hlm. file PDF 176]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ﴾ ↑ Kembali ke Teks -
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitabul Adzan, Bab Fadhlash Shalatil Jama'ah, no. 645; dan Muslim, no. 650 (dari sahabat 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma). Keutamaan salat berjamaah melampaui salat sendirian sebanyak 27 derajat; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 176 [hlm. file PDF 176]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitabul Adzan, Bab Taswiyatish Shufuf, no. 723; dan Muslim, no. 433 (dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu). Perintah meluruskan shaf karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan salat berjamaah; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 181 [hlm. file PDF 181]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «سَوُّوا صُفُوفَكُمْ، فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitabul Adzan, Bab Ithmil Man Lam Yutimmash Shufuf, no. 717; dan Muslim, no. 436 (dari sahabat An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma). Peringatan keras agar meluruskan shaf supaya Allah tidak memalingkan (memecah-belah) hati kaum muslimin; dirujuk dalam Risalatul Mu'awanah (berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 58 [hlm. file PDF 58]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitabul Adzan, Bab Sab'atun Yuzhilluhumullahu, no. 660; dan Muslim, no. 1031 (dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Tujuh golongan yang dinaungi Allah di hari kiamat, di antaranya pemuda yang tumbuh dalam ibadah dan seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid; dirujuk dalam An-Nasha'ihud Diniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, hlm. cetakan 78 [hlm. file PDF 78]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitabul Adzan, Bab Ma Yuhrahu minath Thib wat Tsaum fil Masjid, no. 855; dan Muslim, no. 564 (dari sahabat Jabir bin 'Abdillah radhiyallahu 'anhuma). Larangan memasuki masjid bagi orang yang memakan bawang mentah atau membawa bau menyengat karena malaikat merasa terganggu oleh apa yang mengganggu manusia; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 183 [hlm. file PDF 183]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَلًا فَلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ لِيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّىٰ مِمَّا يَتَأَذَّىٰ مِنْهُ بَنُو آدَمَ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Khin, Dr. Musthafa; Al-Bugha, Dr. Musthafa; Asy-Syirbaji, 'Ali. Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M, Juz 1, Bab Shalatil Jama'ah: Hukmuha wa Hikmatuha, hlm. cetakan 176–178 [hlm. file PDF 176–178]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٧٦–١٧٧ [PDF صَ ١٧٦–١٧٧]): «حُكْمُ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْفَرَائِضِ الْخَمْسِ غَيْرِ الْجُمُعَةِ فَرْضُ كِفَايَةٍ عَلَى الرِّجَالِ الْأَحْرَارِ الْمُقِيمِينَ بِحَيْثُ يَظْهَرُ الشِّعَارُ فِي الْمَحَلَّةِ، فَإِنِ امْتَنَعُوا كُلُّهُمْ أَثِمُوا» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Khin, Dr. Musthafa; Al-Bugha, Dr. Musthafa; Asy-Syirbaji, 'Ali. Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M, Juz 1, Bab Shalatil Jama'ah: Syuruthul Iqtida' wa Tartibush Shufuf, hlm. cetakan 180–186 [hlm. file PDF 180–186]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٨١–١٨٢ [PDF صَ ١٨١–١٨٢]): «وَيُسَنُّ تَسْوِيَةُ الصُّفُوفِ وَسَدُّ الْفُرَجِ فِيهَا، وَأَنْ لَا يُشْرَعَ فِي صَفٍّ حَتَّىٰ يَتِمَّ الَّذِي قَبْلَهُ، وَيُكْرَهُ وُقُوفُ الْمَأْمُومِ مُنْفَرِدًا عَنِ الصَّفِّ بِلَا عُذْرٍ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad (450–505 H). Bidayatul Hidayah (berkas PDF:
bidayatul_hidayah.pdf), Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1425 H / 2004 M, Bab Adabi Dukhulil Masjid, hlm. cetakan 96–101 [hlm. file PDF 96–101]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٩٦–٩٧ [PDF صَ ٩٦–٩٧]): «فَإِذَا مَشَيْتَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَامْشِ عَلَىٰ هِينَتِكَ وَتُؤَدَتِكَ وَلَا تَعْجَلْ... وَإِذَا دَخَلْتَ الْمَسْجِدَ فَقَدِّمْ رِجْلَكَ الْيُمْنَىٰ وَقُلْ: اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَلَا تَجْلِسْ حَتَّىٰ تُصَلِّيَ رَكْعَتَيْ تَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Bidayatul Hidayah (berkas PDF:
bidayatul_hidayah.pdf), Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1425 H / 2004 M, Bab Adabil Julus fil Masjid wa Intizharish Shalah, hlm. cetakan 100–103 [hlm. file PDF 100–103]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٠٠–١٠١ [PDF صَ ١٠٠–١٠١]): «وَاعْتَكِفْ فِي الْمَسْجِدِ بِنِيَّةٍ صَالِحَةٍ، وَاحْذَرْ أَنْ تَتَحَدَّثَ فِيهِ بِحَدِيثِ الدُّنْيَا، أَوْ تَخْتَطَّ رِقَابَ النَّاسِ، أَوْ تُزَاحِمَ عَلَى الْمَوْضِعِ، بَلِ اقْصِدِ الصَّفَّ الْأَوَّلَ بِسَكِينَةٍ وَوَقَارٍ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Haddad, Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi'i (1044–1132 H). Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fil Muhafazhah 'alal Jama'at wa Adabil Masjid, hlm. cetakan 55–59 [hlm. file PDF 55–59]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٥–٥٦ [PDF صَ ٥٥–٥٦]): «وَعَلَيْكَ بِالْمُحَافَظَةِ عَلَىٰ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فَلَا تَدَعْهَا لِغَيْرِ عُذْرٍ... وَإِيَّاكَ وَالتَّخَلُّفَ عَنْهَا كَسَلًا وَتَهَاوُنًا، وَاحْرِصْ عَلَىٰ إِدْرَاكِ التَّكْبِيرَةِ الْأُولَىٰ مَعَ الْإِمَامِ وَعَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Haddad, Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi'i. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fi Hurmatil Masjid wa Man'il Laghwi Fih, hlm. cetakan 57–58 [hlm. file PDF 57–58]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٧ [PDF صَ ٥٧]): «وَعَلَيْكَ بِتَعْظِيمِ الْمَسَاجِدِ وَإِجْلَالِهَا وَتَنْزِيهِهَا عَنِ اللَّغَطِ وَالْأَقْذَارِ وَأَحَادِيثِ الدُّنْيَا، وَانْوِ الِاعْتِكَافَ كُلَّمَا دَخَلْتَ مَسْجِدًا وَلَوْ لِلَحْظَةٍ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Haddad, Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi'i. An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1, Bab Fadhlash Shalatil Jama'ah wa Ta'miril Masajid, hlm. cetakan 76–82 [hlm. file PDF 76–82]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٧٧ [PDF صَ ٧٧]): «وَصَلَاةُ الْجَمَاعَةِ مِنْ أَعْظَمِ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ وَأَجَلِّ الْقُرَبِ إِلَى الْمَلِكِ الْعَلَّامِ، وَبِهَا يَحْصُلُ التَّآلُفُ وَالتَّوَادُّ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَالتَّعَاوُنُ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, Al-'Allamah 'Umar bin Hamid Ba'alawi At-Tarimi; & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ash-Shalah, Bab Shalatil Jama'ah, Mas'alah [101]–[103]: Hukum Berdiri Sendirian di Belakang Shaf dan Syarat Mengetahui Gerakan Imam, hlm. cetakan 265–271 [hlm. file PDF 265–271]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٦٥–٢٦٨ [PDF صَ ٢٦٥–٢٦٨]): «[١٠١] مَسْأَلَةٌ: يُكْرَهُ انْفِرَادُ الْمَأْمُومِ عَنِ الصَّفِّ مَعَ وُجُودِ سَعَةٍ فِيهِ وَتَفُوتُهُ فَضِيلَةُ الصَّفِّ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ، فَيَدْخُلُ فِي الصَّفِّ إِنْ أَمْكَنَ بِلَا إِيذَاءٍ» ↑ Kembali ke Teks -
Hitu, Dr. Syifa' Muhammad Hasan; & Al-'Akkari, Syaikh Mush'ab. Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF:
إِمْتَاعُ الْأَسْمَاعِ فِي شَرْحِ مَتْنِ أَبِي شُجَاعٍ.pdf), Beirut: Dar Al-Wafa', cet. 1, 1432 H / 2011 M, Kitab Ash-Shalah, Fashl fi Shalatil Jama'ah, hlm. cetakan 122–126 [hlm. file PDF 124–128]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٢٢–١٢٣ [PDF صَ ١٢٤–١٢٥]): «وَصَلَاةُ الْجَمَاعَةِ فَرْضُ كِفَايَةٍ... وَيَجِبُ عَلَى الْمَأْمُومِ أَنْ يَنْوِيَ الِاقْتِدَاءَ أَوِ الْجَمَاعَةَ مَعَ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ، وَأَنْ لَا يَتَقَدَّمَ عَلَى الْإِمَامِ فِي الْمَوْقِفِ وَلَا فِي أَفْعَالِ الصَّلَاةِ» ↑ Kembali ke Teks -
Asy-Syathiri, Al-Habib Ahmad bin 'Umar (1312–1360 H). Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja (berkas PDF:
نَيْلُ الرَّجَاءِ بِشَرْحِ سَفِينَةِ النَّجَاءِ.pdf), Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 3, 1428 H / 2007 M, Fashl fi Syuruthil Qudwah (11 Syarat Sah Bermakmum), hlm. cetakan 145–152 [hlm. file PDF 147–154]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٤٥–١٤٦ [PDF صَ ١٤٧–١٤٨]): «شُرُوطُ الْقُدْوَةِ أَحَدَ عَشَرَ: أَنْ لَا يَعْلَمَ بُطْلَانَ صَلَاةِ إِمَامِهِ، وَأَنْ لَا يَعْتَقِدَ وُجُوبَ قَضَائِهَا عَلَيْهِ، وَأَنْ لَا يَكُونَ مَأْمُومًا، وَلَا أُمِّيًّا، وَأَنْ لَا يَتَقَدَّمَ عَلَيْهِ فِي الْمَكَانِ، وَأَنْ يَعْلَمَ انْتِقَالَاتِ إِمَامِهِ» ↑ Kembali ke Teks -
An-Nawawi, Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf (631–676 H). Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammat bil Masa'il al-Mantsurah (berkas PDF:
فَتَاوَى الْإِمَامِ النَّوَوِيِّ الْمُسَمَّاةُ بِالْمَسَائِلِ الْمَنْثُورَةِ.pdf), Beirut: Mu'assasah Ar-Risalah, cet. 6, 1417 H / 1996 M, Kitab Ash-Shalah, Bab Shalatil Jama'ah wa Ahkamil Masajid, hlm. cetakan 54–58 [hlm. file PDF 54–58]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٥ [PDF صَ ٥٥]): «مَسْأَلَةٌ: يَحْرُمُ إِيذَاءُ الْمُصَلِّينَ فِي الْمَسْجِدِ بِرَفْعِ الصَّوْتِ أَوِ التَّشْوِيشِ عَلَيْهِمْ حَتَّىٰ وَلَوْ بِالْقِرَاءَةِ وَالذِّكْرِ إِذَا كَانَ يُشَوِّشُ عَلَىٰ مُصَلٍّ أَوْ نَائِمٍ، فَكَيْفَ بِغَيْرِ ذَٰلِكَ مِنَ الْأَصْوَاتِ الْمُنْكَرَةِ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah. Hasyiyah Qalyubi 'ala Syarhil Jalal Al-Mahalli (berkas PDF:
Noor-Book.com 4246 حَاشِيَتَا قَلْيُوبِي وَعُمَيْرَةَ ١.pdf), Beirut: Dar Al-Fikr, 1415 H / 1995 M, Juz 1, Bab Shalatil Jama'ah, Makna Meluruskan dan Merapatkan Shaf, hlm. cetakan 232–235 [hlm. file PDF 232–235]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٣٣ [PDF صَ ٢٣٣]): «وَالْمُرَادُ بِتَسْوِيَةِ الصُّفُوفِ: اعْتِدَالُ الْقَائِمِينَ فِيهَا بِحَيْثُ لَا يَتَقَدَّمُ صَدْرُ أَحَدٍ وَلَا عَقِبُهُ عَلَىٰ مَنْ بِجَانِبِهِ، وَسَدُّ خَلَلِهَا بِتَقَارُبِ الْمَنَاكِبِ وَالْأَقْدَامِ مِنْ غَيْرِ تَزَاحُمٍ يُؤْذِي» ↑ Kembali ke Teks -
Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani. Sunan Abi Dawud, Kitabush Shalah, Bab Taswiyatish Shufuf, no. 666 (dari sahabat 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma; hadits sahih). Perintah meluruskan pundak, menutup celah shaf, dan bersikap lembut terhadap tangan saudara seiman yang merapatkan shaf; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 181 [hlm. file PDF 181]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَقِيمُوا الصُّفُوفَ، وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ، وَسُدُّوا الْخَلَلَ، وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ، وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ، وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ، وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ» ↑ Kembali ke Teks -
Muslim bin Al-Hajjaj, Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim), Kitabul Masajid, Bab Fadhlash Shalatil 'Isya' wash Subhi fi Jama'ah, no. 656 (dari sahabat 'Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu). Pahala salat Isya berjamaah setara qiyamul lail separuh malam, dan salat Subuh berjamaah setara qiyamul lail semalam suntuk; dirujuk dalam Risalatul Mu'awanah (berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 55 [hlm. file PDF 55]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ» ↑ Kembali ke Teks -
At-Tirmidzi, Muhammad bin 'Isa. Sunan At-Tirmidzi, Kitabush Shalah, Bab Ma Ja'a fi Fadhlit Takbiratil Ula, no. 241 (dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu). Keutamaan menjaga salat berjamaah selama 40 hari dengan mendapatkan takbiratul ihram bersama imam akan dibebaskan dari api neraka dan sifat kemunafikan; dirujuk dalam Risalatul Mu'awanah (berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 56 [hlm. file PDF 56]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَلَّىٰ لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَىٰ كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitabul Adzan, Bab Wujubit Takbir wa Iftitahish Shalah, no. 714; dan Muslim, no. 442 (dari sahabat Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu). Larangan berlari tergesa-gesa saat mendatangi salat berjamaah dan perintah berjalan dengan tenang (sakinah wa waqar); dirujuk dalam Bidayatul Hidayah (berkas PDF:
bidayatul_hidayah.pdf), hlm. cetakan 96 [hlm. file PDF 96]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ، وَلَا تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا» ↑ Kembali ke Teks -
Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF:
الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ.pdf), Kuwait: Dar Adh-Dhiya', cet. 1, 1427 H / 2006 M, Bab Fardhul Kifayah wa Fardhul 'Ain, hlm. cetakan 21–23 [hlm. file PDF 21–23]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢١–٢٢ [PDF صَ ٢١–٢٢]): «وَفَرْضُ الْكِفَايَةِ هُوَ الْمُهِمُّ الَّذِي يَقْصِدُ الشَّارِعُ حُصُولَهُ مِنْ جُمْلَةِ الْمُكَلَّفِينَ كَإِقَامَةِ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ؛ فَإِذَا قَامَ بِهِ مَنْ يَحْصُلُ بِهِمْ ظُهُورُ الشِّعَارِ سَقَطَ الْحَرَجُ عَنِ الْبَاقِينَ، وَإِلَّا أَثِمَ الْجَمِيعُ» ↑ Kembali ke Teks -
Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF:
الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ.pdf), Kuwait: Dar Adh-Dhiya', cet. 1, 1427 H / 2006 M, Bab Al-Qawa'id Al-Fiqhiyyah: Dar'ul Mafasid wa Izalatudh Dharar, hlm. cetakan 48–50 [hlm. file PDF 49–51]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٤٨ [PDF صَ ٤٩]): «الضَّرَرُ يُزَالُ، وَدَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصَالِحِ؛ فَيَحْرُمُ كُلُّ مَا يُشَوِّشُ عَلَى الْمُصَلِّينَ خُشُوعَهُمْ فِي الْمَسَاجِدِ كَأَصْوَاتِ الْأَجْهِزَةِ وَالرَّوَائِحِ الْكَرِيهَةِ» ↑ Kembali ke Teks - An-Nawawi, Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab, Kairo: Idarah At-Thiba'ah Al-Muniriyyah, Juz 4, Bab Shalatil Jama'ah, Hukum Niat I'tikaf di Masjid dan Adab Makmum Masbuq, hlm. cetakan 185–192 [hlm. file PDF 190–197]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «يُسْتَحَبُّ لِكُلِّ دَاخِلٍ إِلَى الْمَسْجِدِ أَنْ يَنْوِيَ الِاعْتِكَافَ مَا دَامَ فِيهِ لِيَحْصُلَ لَهُ ثَوَابُ الْمُعْتَكِفِ فِي جَمِيعِ لَحَظَاتِ مُكْثِهِ وَانتِظَارِهِ لِلصَّلَاةِ» ↑ Kembali ke Teks
- Al-Bakri Asy-Syatha, As-Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi. I'anatuth Thalibin 'ala Halli Alfazhi Fathil Mu'in, Beirut: Dar Al-Fikr, 1418 H / 1997 M, Juz 2, Bab Shalatil Jama'ah, Adab Mengisi Shaf Pertama dan Menutup Celah, hlm. cetakan 18–24 [hlm. file PDF 22–28]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَلَوْ رَأَىٰ دَاخِلٌ فُرْجَةً فِي صَفٍّ مُقَدَّمٍ شَقَّ الصُّفُوفَ الَّتِي خَلْفَهُ لِيَسُدَّ تِلْكَ الْفُرْجَةَ؛ لِتَقْصِيرِهِمْ بِتَرْكِهَا مَفْتُوحَةً وَأَمْرِ الشَّارِعِ بِسَدِّ الْفُرَجِ» ↑ Kembali ke Teks
-
Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ash-Shalah, Bab Shalatil Jama'ah, Mas'alah [105]–[107]: Hukum Makmum Masbuq Saat Mendapati Imam Sedang Rukuk, hlm. cetakan 274–281 [hlm. file PDF 274–281]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٧٤ [PDF صَ ٢٧٤]): «[١٠٥] مَسْأَلَةٌ: الْمَسْبُوقُ إِذَا أَدْرَكَ الْإِمَامَ رَاكِعًا وَاطْمَأَنَّ مَعَهُ فِي الرُّكُوعِ يَقِينًا قَبْلَ ارْتِفَاعِ الْإِمَامِ عَنْ أَقَلِّ الرُّكُوعِ حُسِبَتْ لَهُ الرَّكْعَةُ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ» ↑ Kembali ke Teks - Ibnu Hajar Al-Haitami, Syihabuddin Ahmad bin Muhammad. Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj, Kairo: Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubra, Juz 2, Bab Shalatil Jama'ah, hlm. cetakan 252–256 [hlm. file PDF 258–262]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «(وَيُكْرَهُ وُقُوفُ الْمَأْمُومِ فَرْدًا) أَيْ مُنْفَرِدًا عَنِ الصَّفِّ الَّذِي مِنْ جِنْسِهِ إِنْ وَجَدَ فِيهِ سَعَةً، وَتَفُوتُهُ بِذَٰلِكَ فَضِيلَةُ الْجَمَاعَةِ فِي الصَّفِّ عَلَى الْمُعْتَمَدِ» ↑ Kembali ke Teks
- Ar-Ramli, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad. Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, Beirut: Dar Al-Fikr, 1404 H / 1984 M, Juz 2, Bab Shalatil Jama'ah, hlm. cetakan 154–158 [hlm. file PDF 162–166]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَيُسَنُّ تَرَاصُّ الصُّفُوفِ بِأَنْ لَا يَبْقَىٰ بَيْنَ الْقَائِمِينَ فُرْجَةٌ تَسَعُ ثَالِثًا، بَلْ تَتَلَاصَقُ الْمَنَاكِبُ بِرِفْقٍ مِنْ غَيْرِ إِيذَاءٍ لِمَنْ بِجَانِبِهِ» ↑ Kembali ke Teks
-
Al-Mawardi, Abul Hasan 'Ali bin Muhammad (364–450 H). Adabud Dunya wad Din (berkas PDF:
adab_dunya_wad_din.pdf), Beirut: Dar Iqra', cet. 4, 1405 H / 1985 M, Bab Adabid Din wal 'Ibadah, hlm. cetakan 112–115 [hlm. file PDF 112–115]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١١٢ [PDF صَ ١١٢]): «وَإِقَامَةُ الْجَمَاعَاتِ فِي الْمَسَاجِدِ تَجْمَعُ الْقُلُوبَ الْمُتَفَرِّقَةَ عَلَى الطَّاعَةِ، وَتُؤَلِّفُ النُّفُوسَ الْمُتَبَايِنَةَ عَلَى التَّقْوَىٰ وَالْإِخْبَاتِ» ↑ Kembali ke Teks
10. Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)
- Abu Dawud, Al-Imam Sulaiman bin Al-Asy‘ats As-Sijistani. (275 H). Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Al-Kitab Al-‘Arabi. — سُنَنُ أَبِي دَاوُدَ لِلْإِمَامِ سُلَيْمَانَ بْنِ الْأَشْعَثِ السِّجِسْتَانِيِّ.
- Al-Bakri Asy-Syatha, As-Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi. (1310 H). I'anatuth Thalibin 'ala Halli Alfazhi Fathil Mu'in. Beirut: Dar Al-Fikr, 1418 H / 1997 M. — إِعَانَةُ الطَّالِبِينَ عَلَىٰ حَلِّ أَلْفَاظِ فَتْحِ الْمُعِينِ.
- Al-Bukhari, Al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma‘il. (256 H). Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Al-Mathba‘ah As-Salafiyyah. — صَحِيحُ الْبُخَارِيِّ لِلْإِمَامِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْبُخَارِيِّ.
- Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. (505 H). Bidayatul Hidayah. Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1425 H / 2004 M. — بِدَايَةُ الْهِدَايَةِ لِحُجَّةِ الْإِسْلَامِ الْإِمَامِ الْغَزَالِيِّ.
- Al-Haddad, Al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi‘i. (1132 H). An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah. Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1. — النَّصَائِحُ الدِّينِيَّةُ وَالْوَصَايَا الْإِيمَانِيَّةُ لِلْإِمَامِ الْحَدَّادِ.
- Al-Haddad, Al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi‘i. (1132 H). Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah. Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M. — رِسَالَةُ الْمُعَاوَنَةِ وَالْمُظَاهَرَةِ وَالْمُؤَازَرَةِ لِلْإِمَامِ الْحَدَّادِ.
- Al-Khin, Dr. Musthafa; Al-Bugha, Dr. Musthafa; Asy-Syirbaji, ‘Ali. (1413 H / 1992 M). Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi‘i. Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, Juz 1. — الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ عَلَىٰ مَذْهَبِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ.
- Al-Mawardi, Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad. (450 H). Adabud Dunya wad Din. Beirut: Dar Iqra', cet. 4, 1405 H / 1985 M. — أَدَبُ الدُّنْيَا وَالدِّينِ لِلْإِمَامِ أَبِي الْحَسَنِ الْمَاوَرْدِيِّ.
- Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah; & ‘Umairah, Syaikh Ahmad Al-Burullusi. (1069 H / 1995 M). Hasyiyata Qalyubi wa ‘Umairah ‘ala Kanzir Raghibin Syarh Minhajith Thalibin. Beirut: Dar Al-Fikr, 1415 H / 1995 M. — حَاشِيَتَا قَلْيُوبِي وَعُمَيْرَةَ عَلَىٰ شَرْحِ الْجَلَالِ الْمَحَلِّيِّ.
- An-Nawawi, Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. (676 H / 1996 M). Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammat bil Masa'il al-Mantsurah. Beirut: Mu'assasah Ar-Risalah, cet. 6, 1417 H / 1996 M. — فَتَاوَى الْإِمَامِ النَّوَوِيِّ الْمُسَمَّاةُ بِالْمَسَائِلِ الْمَنْثُورَةِ.
- Asy-Syathiri, Al-Habib Ahmad bin ‘Umar. (1360 H / 2007 M). Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja. Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 3, 1428 H / 2007 M. — نَيْلُ الرَّجَاءِ بِشَرْحِ سَفِينَةِ النَّجَاءِ لِلسَّيِّدِ أَحْمَدَ بْنِ عُمَرَ الشَّاطِرِيِّ.
- Bafaraj, Al-‘Allamah Asy-Syarif ‘Umar bin Al-Habib Hamid Ba‘alawi At-Tarimi; & Hitu, Dr. Syifa’ Muhammad Hasan. (1274 H / 2010 M). Fathul ‘Ali bi Jam‘il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli. Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M. — فَتْحُ الْعَلِيِّ بِجَمْعِ الْخِلَافِ بَيْنَ ابْنِ حَجَرٍ وَابْنِ الرَّمْلِيِّ.
- Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. (1427 H / 2006 M). Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh. Kuwait: Dar Adh-Dhiya', cet. 1. — الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ لِلْأُسْتَاذِ الدُّكْتُورِ مُحَمَّدٍ حَسَنٍ هِيتُو.
- Muslim, Al-Imam Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi. (261 H). Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim). Kairo: Dar Ihya' Al-Kutub Al-‘Arabiyyah. — صَحِيحُ مُسْلِمٍ لِلْإِمَامِ مُسْلِمِ بْنِ الْحَجَّاجِ الْقُشَيْرِيِّ.