Kajian Seporsi Adab & Nutrisi • Edisi Sabtu Siang

Nutrisi Spiritual Penuntut Ilmu: Menjaga Karakter dan Integritas Diri

Gambar artikel
Ringkasan Eksekutif: Ilmu pengetahuan dalam tradisi Islam bukanlah sekadar komoditas kognitif untuk meraih prestise sosial, gelar akademis, maupun jaminan karier finansial. Lebih dari itu, ilmu diposisikan sebagai cahaya Ilahi yang hanya akan bersemayam di dalam wadah batin yang suci dan beradab. Di era transformasi digital saat ini, generasi muda penuntut ilmu menghadapi krisis integritas yang multidimensional: maraknya budaya jalan pintas, praktik plagiarisme digital, manipulasi tugas nir-etika, serta pudarnya rasa takzim kepada sosok pendidik. Kajian ini menyajikan rekonstruksi komprehensif mengenai nutrisi spiritual bagi para pelajar dan mahasiswa Muslim berbasis kitab-kitab turats rujukan adab keilmuan guna meraih keberkahan ilmu sejati yang membuahkan ketakwaan dan kemaslahatan peradaban.

Bagian 1: Hakikat Nutrisi Spiritual Penuntut Ilmu dan Fondasi Syariat Adab

Dalam hierarki nilai ajaran Islam, menuntut ilmu menempati martabat yang sangat mulia sekaligus menuntut kualifikasi moral yang sangat ketat. Allah Subhanahu wa Ta'ala meninggikan derajat para pemilik ilmu yang mengiringi ilmunya dengan keimanan dan ketakwaan batiniah:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ۝
"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
QS. Al-Mujadilah: 11 [1]

Tujuan puncak dari kepemilikan ilmu bukanlah untuk menumpuk kepintaran logika, melainkan melahirkan rasa takut dan tunduk yang mendalam di hadapan keagungan Sang Pencipta:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ۝
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."
QS. Fathir: 28 [2]

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa ilmu harus dipelajari dengan menyertakan ketenangan batin, wibawa akhlak, serta ketundukan kepada sosok guru yang mentransfer ilmu tersebut:

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ، وَتَعَلَّمُوا لِلْعِلْمِ السَّكِينَةَ وَالْوَقَارَ، وَتَوَاضَعُوا لِمَنْ تَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ
"Pelajarilah ilmu, dan pelajarilah untuk ilmu itu ketenangan dan kewibawaan jiwa, serta rendahkanlah hatimu kepada orang yang engkau menuntut ilmu darinya."
HR. Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman no. 1761 [3]

Al-Imam Burhanul Islam Az-Zarnuji dalam kitab monumentalnya Ta'lim al-Muta'allim Thariq at-Ta'allum meletakkan kaidah fundamental keberhasilan belajar:

اعْلَمْ بِأَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ وَلَا يَنْتَفِعُ بِهِ إِلَّا بِتَعْظِيمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ، وَتَعْظِيمِ الأُسْتَاذِ وَتَوْقِيرِهِ
"Ketahuilah bahwasanya seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaat darinya kecuali dengan memuliakan ilmu beserta ahlinya, serta menghormati dan mengagungkan gurunya."
Ta'lim al-Muta'allim [4]

Ulama besar Nusantara, Hadhratusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari dalam risalah monumentalnya Adab al-'Alim wa al-Muta'allim menguraikan rahasia pembuka pintu kepahaman:

أَنَّ حُسْنَ الأَدَبِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ سَبَبٌ لِفَتْحِ أَبْوَابِ الْفَهْمِ، وَأَنَّ مَنْ تَهَاوَنَ بِالأَدَبِ حُرِمَ بَرَكَةَ الْعِلْمِ
"Sesungguhnya keelokan adab dalam menuntut ilmu adalah sebab utama terbukanya pintu-pintu kepahaman, dan barangsiapa meremehkan adab niscaya diharamkan baginya keberkahan ilmu."
Adab al-'Alim wa al-Muta'allim [5]

Al-Imam Badruddin Ibnu Jama'ah dalam karya otoritatifnya Tadzkiratus Sami' wal Mutakallim fi Adabil 'Alim wal Muta'allim menekankan pentingnya tazkiyatun nafs sebelum mengisi akal dengan maklumat:

تَطْهِيرُ الْقَلْبِ مِنْ كُلِّ غِشٍّ وَدَنَسٍ وَغِلِّ وَحَسَدٍ وَسُوءِ عَقِيدَةٍ وَخُلُقٍ، لِيَصْلُحَ لِقَبُولِ الْعِلْمِ وَحِفْظِهِ وَاسْتِمْرَارِهِ
"Wajib bagi penuntut ilmu mensucikan hatinya dari segala kepalsuan, noda batin, kedengkian, hasad, keyakinan yang menyimpang, dan akhlak tercela, agar kalbu tersebut layak menerima ilmu, menghafalnya, dan merawat kelestariannya."
Tadzkiratus Sami' [6]

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumiddin (Kitab al-'Ilm) mengingatkan bahaya disorientasi niat:

لَا يَصِلُ الْعَبْدُ إِلَى حَقِيقَةِ الْعِلْمِ النَّافِعِ إِلَّا إِذَا جَعَلَهُ وَسِيلَةً إِلَى مَعْرِفَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَخَشْيَتِهِ، لَا لِلْمُمَارَاةِ وَالْمُبَاهَاةِ
"Seorang hamba tidak akan sampai pada hakikat ilmu yang bermanfaat kecuali apabila ia menjadikannya sarana menuju makrifatullah dan rasa takut kepada-Nya, bukan untuk berdebat kusir dan pamer kehebatan di hadapan manusia."
Ihya' 'Ulumiddin, Juz 1 [7]

Hal senada ditegaskan oleh Al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam Risalatul Mu'awanah:

وَعَلَيْكَ بِالإِخْلَاصِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ، وَأَنْ تَقْصِدَ بِهِ وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى وَالدَّارَ الآخِرَةَ، وَنَفْيَ الْجَهْلِ عَنْ نَفْسِكَ وَعَنْ غَيْرِكَ
"Wajib atasmu bersikap ikhlas dalam menuntut ilmu, dengan memaksudkan semata-mata mencari keridhaan Allah Ta'ala dan negeri akhirat, serta berniat melenyapkan kebodohan dari dirimu dan dari diri orang lain."
Risalatul Mu'awanah [8]

Bagian 2: Anatomi dan Klasifikasi Konsep dalam Bagan Dashboard Matrix

Untuk membedah pilar-pilar nutrisi spiritual penuntut ilmu secara komprehensif dan visual, matrik dasbor tiga dimensi berikut menguraikan fondasi moral, etika interaksi terhadap guru, serta integrasi ilmu dalam kehidupan sosial:

Integritas Diri
طهور الباطن
Karakter Fundamental
Pemurnian niat semata karena Allah (lillahi ta'ala), kejujuran ilmiah, serta penjagaan wibawa moral dari kepalsuan.
Tiga Pilar Penopang
1. Niat menghapus kebodohan diri
2. Menolak plagiarisme dan manipulasi
3. Menjaga kesucian kalbu dari hasad
Indikator Keberhasilan
Hati tenang, tidak gelisah mengejar pujian, jujur saat menghadapi ujian, dan berani mengakui keterbatasan ilmu.
Puncak Pencapaian
Meraih gelar al-'alim al-'amil (ilmuwan yang mengamalkan ilmunya) serta keridhaan Allah di akhirat.
Adab terhadap Guru
تعظيم الأستاذ
Karakter Fundamental
Ketundukan jiwa di hadapan guru, menjaga kehormatannya, berprasangka baik, dan mendoakan kebaikan baginya.
Tiga Pilar Penopang
1. Menyimak penjelasan dengan khidmat
2. Berkomunikasi santun dan rendah hati
3. Mentaati arahan akademik dan spiritual
Indikator Keberhasilan
Terbukanya pintu pemahaman (futuh), mendapatkan ridha guru, dan terhindar dari su'ul adab.
Puncak Pencapaian
Tersambungnya sanad keilmuan berkah yang mengalirkan pancaran hidayah secara berkesinambungan.
Aplikasi Sosial
ثمرة العلم
Karakter Fundamental
Penyelarasan antara ilmu teori dengan amal nyata, ketawadhuan sosial, dan kontribusi maslahat bagi sesama.
Tiga Pilar Penopang
1. Mengamalkan ilmu yang dipelajari
2. Menghindari debat kusir (al-jidal)
3. Membangun pertemanan yang saleh
Indikator Keberhasilan
Semakin berilmu semakin rendah hati, akhlak santun di rumah dan kampus, serta membawa manfaat nyata.
Puncak Pencapaian
Menjadi lentera peradaban yang memandu generasi muda menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Bagian 3: Bedah Masalah: Pragmatisme Ijazah, Plagiarisme, dan Krisis Takzim

Dunia pendidikan kontemporer berada dalam cengkeraman materialisme dan mekanisasi sistem. Proses belajar-mengajar kerap kali direduksi sebatas transaksi administratif: mahasiswa membayar uang kuliah demi selembar ijazah dan indeks prestasi kumulatif (IPK), sementara institusi mengejar target akreditasi formal. Komersialisasi ini berdampak buruk terhadap pembentukan karakter penuntut ilmu.

Tiga patologi etika yang paling mencolok di kalangan pelajar dan mahasiswa era modern meliputi:

1. Pragmatisme Orientasi dan Hilangnya Nilai Ikhlas
Banyak pemuda belajar semata-mata dengan motivasi duniawi: mengejar prestise karier, gengsi sosial di hadapan keluarga, atau tumpukan gaji tinggi. Ketiadaan niat ibadah dan tekad melenyapkan kebodohan membuat proses belajar terasa hampa, memicu stres berkepanjangan (academic burnout), serta melahirkan sarjana yang cerdas secara teknis namun miskin kepekaan nurani dan integritas moral.

2. Korupsi Akademik dan Plagiarisme Digital
Kehadiran mesin pencari dan kecerdasan buatan generatif (generative AI) disalahgunakan sebagai sarana curang untuk menyelesaikan tugas karya ilmiah secara instan. Praktik joki skripsi, manipulasi kutipan (fabrication), dan copy-paste tanpa pemahaman mendalam telah menjadi rahasia umum. Perilaku ini merupakan bentuk kebohongan intelektual dan khianat amanah yang meracuni jiwa penuntut ilmu dengan kepalsuan.

3. Krisis Takzim dan Desakralisasi Hubungan Guru-Murid
Di ruang digital dan media sosial, batas-batas rasa hormat kepada pendidik kian terkikis. Dosen atau ustadz kerap kali diperlakukan setara dengan penyedia jasa (service provider). Komunikasi melalui aplikasi pesan singkat dilakukan tanpa adab salam, menuntut respons instan di luar jam wajar, bahkan mencemooh dan menyindir guru secara terbuka di forum daring ketika merasa tidak puas terhadap nilai ujian. Hilangnya ketakziman ini menjadi penyebab utama lenyapnya berkah ilmu.

Bagian 4: Elaborasi Solutif Praktis: Protokol Adab Penuntut Ilmu Sehari-hari

Para ulama salaf telah merumuskan protokol adab yang sangat terperinci bagi penuntut ilmu guna menjaga keluhuran karakter dan keselamatan spiritualitasnya:

1. Protokol Batiniah (Tazkiyatun Nafs)
Senantiasa memperbarui niat setiap kali melangkahkan kaki ke majelis ilmu atau membuka lembaran buku: "Nawaitu at-ta'alluma wa at-ta'lima li wajhillah" (Aku berniat belajar dan mengajar semata mengharap ridha Allah). Menginsafi bahwa kecerdasan adalah titipan Ilahi, menjauhkan hati dari hasad, serta merutinkan doa memohon ilmu yang bermanfaat setelah salat Subuh:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal lagi baik, dan amal yang diterima."
HR. Ibnu Majah no. 925 [9]

2. Protokol Lahiriah Saat Proses Pembelajaran
Berwudhu sebelum menghadiri kelas atau majelis ilmu, mengenakan pakaian rapi yang menutup aurat, serta membawa sarana pencatat. Menyimak penjelasan dengan fokus penuh, menonaktifkan notifikasi gawai agar tidak terdistraksi, dan mengajukan pertanyaan dengan santun tanpa memotong pembicaraan sebelum dipersilakan.

3. Protokol Etika Komunikasi Digital terhadap Pendidik
Mengawali pesan dengan salam islami lengkap, menyebutkan identitas diri secara jelas, menyampaikan maksud secara ringkas dan santun tanpa singkatan informal, menghindari menghubungi guru di luar jam wajar (seperti larut malam), serta bersabar menanti respons tanpa mengirim tanda tanya berulang-ulang.

Bagian 5: Studi Kasus Kontekstual dan Resolusi Syar'i

Untuk menguji penerapan konsep adab penuntut ilmu di ranah praktis kehidupan modern, berikut disajikan dua skenario realistis beserta resolusi syariatnya:

Studi Kasus 1: Praktik Joki Tugas dan Manipulasi Kecerdasan Buatan (AI)
Skenario: Raihan (21 tahun) seorang mahasiswa tingkat akhir yang merasa kewalahan menyusun bab analisis tugas akhirnya. Karena terdesak tenggat waktu dan ingin mempertahankan IPK cumlaude, ia membayar jasa joki tugas daring untuk menuliskan seluruh analisisnya, serta menggunakan perangkat AI untuk memalsukan data rujukan. Raihan beralasan bahwa "yang penting tugas selesai dan dosen tidak mengetahuinya".
Resolusi Syar'i Terpadu: 1. Identifikasi Pelanggaran Hukum: Tindakan Raihan mengandung unsur kebohongan (kadzib), penipuan (ghisy), dan pemalsuan (tazwir). Rasulullah bersabda: "Barangsiapa menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami" (HR. Muslim).
2. Dampak Terhadap Keberkahan Karier: Ijazah dan gelar yang diperoleh melalui manipulasi akan membawa residu syubhat ke dalam rezeki profesional di masa depan.
3. Langkah Taubat dan Perbaikan: Raihan wajib menarik kembali draf palsu tersebut, meminta maaf secara jujur kepada dosen pembimbing, dan mengerjakan ulang analisis secara mandiri dengan ikhtiar halal. Hasil yang pas-pasan namun diraih dengan kejujuran jauh lebih mulia dan berkah daripada nilai sempurna hasil rekayasa batil.
Studi Kasus 2: Menghujat dan Mencemooh Dosen di Media Sosial
Skenario: Nadia (19 tahun) merasa kesal karena mendapatkan nilai C pada mata kuliah tertentu. Merasa diperlakukan tidak adil, ia meluapkan kemarahannya melalui cuitan media sosial dengan kata-kata kasar, membocorkan tangkapan layar percakapan pribadi dosen, dan mengundang warganet untuk merundung (cyberbullying) dosen tersebut.
Resolusi Syar'i Terpadu: 1. Dosa Ghibah, Namimah, dan Su'ul Adab: Perbuatan Nadia memadukan dosa pencemaran nama baik, ghibah, serta durhaka kepada guru yang telah mentransfer ilmu.
2. Penghancuran Berkah Ilmu: Ulama salaf menegaskan bahwa murka seorang guru dapat menjadi tirai penghalang masuknya hidayah dan keberkahan ilmu ke dalam hati murid.
3. Langkah Restorasi: Nadia wajib menghapus seluruh unggahan tersebut, menemui dosen secara langsung dengan penuh kerendahan hati untuk menyampaikan permohonan maaf, serta mengikhlaskan ketetapan nilai sebagai cermin muhasabah atas kekurangan belajarnya.

Bagian 6: Telaah Komparatif Ulama Salaf

Kajian adab penuntut ilmu merupakan salah satu tema fundamental yang dikaji secara mendalam oleh para ulama klasik lintas generasi:

Imam Az-Zarnuji (w. 620 H)
Karya Utama: Ta'lim al-Muta'allim
Menekankan bahwa keberkahan ilmu bergantung erat pada penghormatan terhadap sarana keilmuan: memuliakan kitab, pena, dan sosok guru. Murid yang mengagungkan gurunya akan memperoleh kemanfaatan ilmu yang abadi hingga anak keturunannya.
KH. M. Hasyim Asy'ari (w. 1366 H)
Karya Utama: Adab al-'Alim wa al-Muta'allim
Merinci etika personal murid: memandang guru dengan takzim ('ainul haibah), meyakini keutamaan bimbingan guru, dan bersabar lapang dada apabila menerima teguran keras demi pembentukan integritas karakter.
Ibnu Jama'ah al-Kinani (w. 733 H)
Karya Utama: Tadzkiratus Sami'
Menguraikan psikologi majelis ilmu: penuntut ilmu wajib menjaga ketenangan, tidak duduk dengan sikap acuh tak acuh, menjaga kontak mata santun, serta menahan diri dari perdebatan yang hanya bertujuan menjatuhkan lawan bicara.
Imam Al-Ghazali (w. 505 H)
Karya Utama: Ihya' 'Ulumiddin & Bidayah
Membedakan antara ilmuwan yang tertipu dunia (ulama'us su') dengan ilmuwan akhirat sejati. Beliau menegaskan bahwa ilmu yang hakiki adalah ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah dan kezuhudan, bukan keangkuhan intelektual.

Bagian 7: Rekontekstualisasi di Era Digital

Tantangan generasi Z dan milenial dalam menjaga integritas intelektual di ruang siber menuntut kecerdasan etika baru:

1. Kecerdasan Memanfaatkan AI secara Beretika (Ethical AI Literacy)
Gunakan teknologi kecerdasan buatan sebagai mitra bertukar pikiran (brainstorming) dan pengecekan tata bahasa, bukan sebagai pembuat naskah instan yang diklaim sebagai karya orisinal. Pertahankan kedalaman analisis kritis yang bersumber dari perenungan akal pribadi demi menjaga orisinalitas pemikiran.

2. Menjaga Kehormatan di Forum Belajar Daring (Online Class Etiquette)
Nyalakan kamera saat pembelajaran virtual berlangsung, kenakan pakaian yang pantas, dan hindari mengikuti kelas sambil berbaring di tempat tidur. Sikap tubuh yang tegak dan fokus mencerminkan ketakziman terhadap majelis ilmu.

3. Menahan Diri dari Perdebatan Kusir di Kolom Komentar
Tahan jemari dari perdebatan kusir di media sosial demi memenangkan ego kelompok atau mazhab. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjamin istana megah di surga bagi siapa saja yang mampu menahan diri dari perdebatan:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
"Aku menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia berada dalam posisi yang benar."
HR. Abu Dawud no. 4800 [10]

Bagian 8: Panduan Praktis dan Kerangka Evaluasi Diri (Self-Assessment Checklist)

Gunakan instrumen audit karakter penuntut ilmu di bawah ini untuk mengukur kematangan adab secara berkala:

Parameter Evaluasi Indikator Perilaku Sehat Gejala Penyimpangan Karakter Status Audit Langkah Tindakan Perbaikan
Kemurnian Niat Belajar Belajar untuk menghilangkan kebodohan, mengamalkan ilmu, dan mengharap ridha Allah. Belajar semata mengejar IPK tinggi, pujian manusia, dan gengsi materi duniawi. [ ] Terpenuhi
[ ] Perlu Latihan
Lakukan perbaruan niat dan doa memohon ilmu nafi' setiap pagi dan sebelum membuka buku.
Kejujuran Akademik Menulis karya ilmiah secara orisinal, mencantumkan sumber rujukan, menolak joki. Melakukan plagiarisme, copy-paste AI tanpa telaah, dan menyalin tugas teman. [ ] Terpenuhi
[ ] Perlu Latihan
Kerjakan tugas dengan daya analisis sendiri; hargai proses belajar walau hasilnya bertahap.
Penghormatan kepada Pendidik Menyapa santun, menyimak khidmat, mendoakan kebaikan guru, dan berprasangka baik. Memotong ucapan dosen, chat tanpa adab di luar jam wajar, dan mencemooh di medsos. [ ] Terpenuhi
[ ] Perlu Latihan
Simpan nomor guru dengan nama takzim; kirim pesan salam dan minta maaf jika pernah khilaf.
Fokus di Ruang Belajar Hadir tepat waktu, duduk rapi, mencatat faedah ilmu, dan tidak membuka medsos. Datang terlambat, mengantuk berat, main gawai saat kuliah, dan pasif saat belajar. [ ] Terpenuhi
[ ] Perlu Latihan
Duduk di shaf terdepan ruang kelas dan simpan ponsel di dalam tas selama sesi materi.
Pengamalan Ilmu Harian Ilmu membuat diri semakin bertakwa, rajin ibadah fardhu-sunnah, dan santun di rumah. Ilmu hanya menjadi bahan debat kusir di medsos sementara salat fardhu sering terlambat. [ ] Terpenuhi
[ ] Perlu Latihan
Amalkan minimal satu hadits atau faedah adab yang baru dipelajari pada hari yang sama.

Bagian 9: Catatan Kaki (Footnotes)

  1. Al-Qur'an Al-Karim, Surah Al-Mujadilah (58): 11.
  2. Al-Qur'an Al-Karim, Surah Fathir (35): 28.
  3. Abu Bakr Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman, Bab fi Thalabil 'Ilmi, Juz 3, hlm. 248, no. 1761 (Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, 2003).
  4. Burhanul Islam az-Zarnuji, Ta'lim al-Muta'allim Thariq at-Ta'allum, Tahqiq: Mushthafa Asyur, hlm. 31 (Kairo: Maktabah al-Qur'an, t.t.).
  5. Muhammad Hasyim Asy'ari, Adab al-'Alim wa al-Muta'allim fima Yahtaju Ilaihi al-Muta'allim fi Ahwali Ta'allumihi wa ma Yatawaqqafu 'Alaihil Mu'allim fi Maqamati Ta'limihi, hlm. 18 (Jombang: Maktabah at-Turats al-Islami, 1415 H).
  6. Badruddin Muhammad bin Ibrahim Ibnu Jama'ah al-Kinani, Tadzkiratus Sami' wal Mutakallim fi Adabil 'Alim wal Muta'allim, hlm. 67 (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 2012).
  7. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya' 'Ulumiddin, Kitab al-'Ilm, Juz 1, hlm. 48 (Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1982).
  8. Abdullah bin Alawi al-Haddad, Risalatul Mu'awanah wa al-Muzhaharah wa al-Muwazarah, hlm. 16 (Dar al-Hawi, 1994).
  9. Abu Abdillah Muhammad bin Yazid Ibnu Majah, Sunan Ibni Majah, Kitab Iqamatish Shalah, no. 925 (Riyadh: Baitul Afkar ad-Dauliyyah, 1999).
  10. Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy'ats as-Sijistani, Sunan Abi Dawud, Kitab al-Adab, Bab fi Husnil Khuluq, Juz 4, hlm. 253, no. 4800 (Beirut: Al-Maktabah al-'Ashriyyah, t.t.).

Bagian 10: Daftar Pustaka Lengkap

  1. Al-Qur'an Al-Karim dan Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia, 2019.
  2. Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin al-Husain. Syu'ab al-Iman. 14 Jilid. Riyadh: Maktabah ar-Rusyd, 2003.
  3. Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Ihya' 'Ulumiddin. 4 Jilid. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1982.
  4. Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Bidayatul Hidayah. Kairo: Dar as-Salam, 2006.
  5. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wa al-Muzhaharah wa al-Muwazarah. Beirut: Dar al-Hawi, 1994.
  6. As-Sijistani, Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy'ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Al-Maktabah al-'Ashriyyah, t.t.
  7. Asy'ari, Muhammad Hasyim. Adab al-'Alim wa al-Muta'allim. Jombang: Maktabah at-Turats al-Islami, 1415 H.
  8. Az-Zarnuji, Burhanul Islam. Ta'lim al-Muta'allim Thariq at-Ta'allum. Kairo: Maktabah al-Qur'an, t.t.
  9. Ibnu Jama'ah al-Kinani, Badruddin Muhammad bin Ibrahim. Tadzkiratus Sami' wal Mutakallim fi Adabil 'Alim wal Muta'allim. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 2012.
  10. Ibnu Majah, Abu Abdillah Muhammad bin Yazid. Sunan Ibni Majah. Riyadh: Baitul Afkar ad-Dauliyyah, 1999.
  11. An-Nawawi, Muhyiddin Yahya bin Syaraf. Riyadhus Shalihin min Kalami Sayyidil Mursalin. Beirut: Mu'assasah ar-Risalah, 1998.