← Semua Artikel Manajemen Qolbu

Melatih Khauf dan Raja'

Tidak Ada Komentar 29 Mins Read 61 Views
Melatih Khauf dan Raja': Keseimbangan Sayap Jiwa Orang Beriman
MANAJEMEN QOLBU | EDISI SIANG Kajian Turats Tazkiyatun Nufus Edisi Siang

Melatih Khauf dan Raja': Keseimbangan Sayap Jiwa Orang Beriman

Menjaga Keseimbangan Spiritual antara Rasa Takut Dosa agar Tidak Berujung Putus Asa (Al-Qunuth) dan Harapan Rahmat agar Tidak Memicu Kelalaian (Al-Amn min Makrillah) Menurut Ulama Salaf

Rubrik: 5. MANAJEMEN QOLBU Waktu: Edisi Siang Tanggal: Jumat, 16 Oktober 2026 Penyusun: Ahmad Faris Estimasi Baca: 22 Menit
Daftar Isi Kajian Ilmiah-Populer Klik untuk Buka/Tutup
  1. 1. Hakikat Khauf dan Raja' & Fondasi Syariat: Keseimbangan Sayap Jiwa
  2. 2. Anatomi & Dashboard Matrix: 4 Tipologi Keadaan Jiwa dalam Meniti Khauf dan Raja'
  3. 3. Problematika Remaja & Generasi Modern: Mengurai Polarisasi Keputusasaan & Kelalaian
  4. 4. Dekonstruksi Fikih & Tasawuf Turats Mu'tamad: Bedah 5 Kitab Rujukan Utama
  5. 5. SOP: Bagan Alur 4 Tahap Menyeimbangkan Khauf dan Raja'
  6. 6. Kaidah Ushul & Kaidah Manajemen Qolbu: Pilar Stabilitas Spiritual
  7. 7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja: Penawar Scrupulosity
  8. 8. Self-Assessment Checklist Keseimbangan Sayap Jiwa (Khauf & Raja')
  9. 9. Catatan Kaki (32 Footnotes Terverifikasi Cetakan & PDF)
  10. 10. Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)
Intisari Kaidah Utama Manajemen Qolbu (Keseimbangan Khauf & Raja'):
﴿وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ﴾... «لَوْ وُزِنَ خَوْفُ الْمُؤْمِنِ وَرَجَاؤُهُ لَاعْتَدَلَا»... «وَالْقُنُوطُ عِبَارَةٌ عَنْ تَمَحُّضِ الْخَوْفِ حَتَّىٰ لَا يَبْقَىٰ لِلرَّجَاءِ وُجُودٌ، وَالْأَمْنُ عِبَارَةٌ عَنْ تَجَرُّدِ الرَّجَاءِ حَتَّىٰ لَا يَبْقَىٰ لِلْخَوْفِ وُجُودٌ».

Jiwa seorang mukmin diibaratkan seperti seekor burung dengan dua sayap: sayap rasa takut (al-khauf) dan sayap rasa harap (ar-raja'). Apabila kedua sayap seimbang, ia akan terbang stabil menuju ridha Allah; namun jika rasa takut berlebihan tanpa harap, ia melahirkan keputusasaan (al-qunuth), dan jika rasa harap berlebihan tanpa takut, ia memicu kelalaian dan merasa aman dari makar Allah (al-amnu min makrillah). Keduanya wajib berpadu melahirkan amal saleh nyata.

1. Hakikat Khauf dan Raja' & Fondasi Syariat: Keseimbangan Sayap Jiwa

Gambar artikel

Dalam mengarungi samudra kehidupan spiritual, jiwa seorang mukmin senantiasa berada di antara dua tarikan kekuatan batin yang sangat mendasar: rasa takut akan keadilan dan siksa Allah (al-khauf), serta harapan mendalam akan keluasan kasih sayang dan ampunan-Nya (ar-raja'). Para ulama tasawuf dan tazkiyatun nufus mengibaratkan kedua maqam agung ini seperti sepasang sayap pada seekor burung; apabila kedua sayap tersebut seimbang dan mengepak secara harmonis, burung itu akan terbang membumbung tinggi menuju hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun, manakala salah satu sayap patah atau timpang, burung tersebut niscaya akan oleng dan terhempas ke dalam kebinasaan.

Apabila rasa takut (khauf) mendominasi secara ekstrem tanpa diimbangi oleh harapan, ia akan bermutasi menjadi keputusasaan yang melumpuhkan (al-qunuth min rahmatillah)—suatu kondisi di mana seseorang merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni, sehingga ia berhenti berikhtiar dan merasa ibadahnya sia-sia. Sebaliknya, manakala rasa harap (raja') mendominasi secara liar tanpa disertai rasa takut, ia akan melahirkan ilusi keamanan semu dari rencana pembalasan Allah (al-amnu min makrillah), memicu prokrastinasi taubat, dan menggampangkan perbuatan maksiat dengan dalih "Allah Maha Pengampun". Di sinilah urgensi melatih keseimbangan kedua sayap batin ini agar seorang mukmin tetap memiliki daya rem moral sekaligus motor penggerak ketaatan.

Al-Qur'an Al-Karim meletakkan fondasi keseimbangan ini secara eksplisit dalam berbagai ayat muhkamah. Dalam Surah Al-A'raf ayat 56, Allah Ta'ala memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa dengan memadukan rasa cemas dan optimisme:

﴿وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ﴾
"Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-A'raf [7]: 56)[1].

Karakteristik para hamba pilihan yang meniti jalan kedekatan kepada Allah juga dipotret secara indah dalam Surah Al-Isra' ayat 57 sebagai perpaduan antara mengharap rahmat dan takut akan azab:

﴿أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا﴾
"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti." (QS. Al-Isra' [17]: 57)[2].

Begitu pula sifat ahli tahajud yang dipuji oleh Allah dalam Surah As-Sajdah ayat 16:

﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴾
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan rasa harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan." (QS. As-Sajdah [32]: 16)[3].

Untuk membendung bahaya keputusasaan, Allah Ta'ala memanggil para pendosa dengan sapaan mesra penuh kasih sayang dalam Surah Az-Zumar ayat 53:

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾
"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (QS. Az-Zumar [39]: 53)[4].

Namun, di sisi lain Allah memperingatkan orang-orang yang terlena oleh rasa aman semu dalam Surah Al-A'raf ayat 99:

﴿أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾
"Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah melainkan orang-orang yang merugi." (QS. Al-A'raf [7]: 99)[5].

Dalam tataran sunnah nabawiyah, hukum spiritual ini dikukuhkan melalui Hadits Qudsi riwayat Imam Ibnu Hibban dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Allah bersumpah atas keagungan-Nya tidak akan mengumpulkan dua rasa takut dan dua rasa aman pada seorang hamba:

«وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَجْمَعُ عَلَىٰ عَبْدِي أَمْنَيْنِ وَلَا خَوْفَيْنِ؛ إِنْ هُوَ أَمِنَنِي فِي الدُّنْيَا أَخَفْتُهُ يَوْمَ أَبْعَثُ عِبَادِي، وَإِنْ هُوَ خَافَنِي فِي الدُّنْيَا أَمَّنْتُهُ يَوْمَ أَجْمَعُ عِبَادِي»
"Demi keagungan dan kemuliaan-Ku! Aku tidak akan mengumpulkan pada hamba-Ku dua rasa aman dan dua rasa takut: apabila ia merasa aman dari-Ku di dunia (meremehkan maksiat), maka Aku akan membuatnya takut pada hari Aku membangkitkan hamba-hamba-Ku; dan apabila ia takut kepada-Ku di dunia (menjauhi dosa), maka Aku akan memberikannya rasa aman pada hari Aku mengumpulkan hamba-hamba-Ku." (HR. Ibnu Hibban no. 640)[6].

Keseimbangan ini dirangkum sempurna melalui hadits riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu mengenai pentingnya menghadirkan sangkaan baik (*husnuzhan*) menjelang wafat[7], serta atsar masyhur salaf yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi:

«لَوْ وُزِنَ خَوْفُ الْمُؤْمِنِ وَرَجَاؤُهُ لَاعْتَدَلَا»
"Sekiranya ditimbang antara rasa takut (khauf) seorang mukmin dan rasa harapnya (raja'), tentulah keduanya akan seimbang secara sempurna." (HR. Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman)[8].

2. Anatomi & Dashboard Matrix: 4 Tipologi Keadaan Jiwa dalam Meniti Khauf dan Raja'

Para ulama muhaqqiqin memetakan dinamika psikospiritual manusia saat berinteraksi dengan rasa takut dan rasa harap ke dalam empat kuadran utama. Dashboard matrix berikut membedah tipologi jiwa, gejala perilaku, serta resep terapi penyeimbangnya:

No. Tipologi Jiwa & Maqam Indikator Sikap & Dinamika Emosional Dampak Spiritual & Psikologis Resep Terapi Turats Penyeimbang
1 Kuadran I: Keseimbangan Sayap Jiwa (I'tidalul Khauf war-Raja') — Karakter Mukmin Sejati / Al-Muqtashidun Memiliki kewaspadaan tinggi dari dosa disertai optimisme kokoh atas ampunan Allah; rajin beramal saleh tanpa merasa bangga diri ('ujub)[8][9]. Jiwa stabil, produktif, memiliki ketahanan mental (resilience) tinggi, dan terhindar dari ekstremitas waswas maupun kelalaian. Memelihara istiqamah wirid harian, menjaga muhasabah malam, dan mensyukuri taufik Ilahi (Risalatul Mu'awanah, hlm. 36 & 158)[10][32].
2 Kuadran II: Khauf Ekstrem Melampaui Batas (Ghuluwwul Khauf) — Jebakan Al-Qunuth & Keputusasaan Merasa diri kotor dan pasti celaka; dihantui kecemasan berlebihan (scrupulosity/religious OCD); menganggap tobatnya tertolak[13][18]. Kelumpuhan aksi (paralysis of action), depresi spiritual, kehilangan motivasi ibadah, dan terseret ke dalam dosa besar putus asa (al-qunuth). Menyuntikkan dosis ayat-ayat rahmat, hadits syafa'at, merenungi nama Allah Al-Ghafur Ar-Rahim, dan membatasi bacaan tentang siksa kubur/neraka (Al-Arba'in, hlm. 121)[17].
3 Kuadran III: Raja' Semu Tanpa Amal (Al-Amaniyy wal-Ghurur) — Jebakan Al-Amn min Makrillah Terbiasa menunda tobat; menggampangkan maksiat dengan dalih "Allah Maha Pemaaf"; minim amal lahiriah namun mengklaim memiliki hati yang bersih[14][21]. Terperosok ke dalam istidraj (kenikmatan yang membinasakan), hilangnya rasa malu kepada Allah, dan terancam su'ul khatimah. Menghadirkan ayat-ayat ancaman (wa'id), merenungkan kedahsyatan sakaratul maut, hisab akhirat, dan menyadari bahwa ampunan Allah menuntut kesungguhan tobat nyata (An-Nasha'ihud Diniyyah, hlm. 383 & 389)[25][26].
4 Kuadran IV: Kelalaian Ganda (Ghaflah Murakkabah) — Kematian Kalbu Apatis secara spiritual; tidak takut azab dan tidak peduli terhadap surga; hidup semata-mata mengejar kepuasan inderawi materialistis[11][22]. Kekerasan hati (qaswatul qalb), hampa makna hidup, rentan mengalami krisis eksistensial, dan terputus dari hidayah Ilahi. Mengikuti majelis ilmu dan peringatan maut, memutus distraksi gawai, berziarah kubur, dan melazimkan istighfar secara intensif (Al-Hikam Al-Haddadiyyah, hlm. 9 & 18)[20][21].

3. Problematika Remaja & Generasi Modern: Mengurai Polarisasi Keputusasaan & Kelalaian

Generasi muda Muslim saat ini hidup dalam pusaran peradaban yang serba ekstrem. Di satu sisi, arus sekularisme dan hedonisme digital menawarkan kebebasan tanpa batas; namun di sisi lain, kesadaran beragama yang tidak terbimbing secara proporsional kerap melahirkan distorsi psikospiritual. Empat problematika utama yang paling sering menjangkiti pemuda modern meliputi:

a. Sindrom Scrupulosity & Putus Asa (Religious OCD)

Banyak remaja yang baru memulai proses hijrah terjebak pada ketakutan berlebihan yang tidak sehat. Setiap kesalahan masa lalu diratapi sedemikian rupa hingga memicu gangguan kecemasan klinis (scrupulosity). Mereka merasa wudhunya tidak pernah sah, salatnya tertolak, atau dosanya tidak terampuni oleh Allah. Imam Abu Hamid Al-Ghazali menegaskan bahwa rasa takut yang melumpuhkan aktivitas dan menghentikan amal saleh bukanlah khauf syar'i yang terpuji, melainkan penyakit waswas syaitan yang wajib diobati dengan menghadirkan keluasan rahmat Allah[17][18].

b. Fenomena Spiritual Bypassing & Prokrastinasi Tobat

Sebaliknya, sebagian pemuda lainnya terjerumus ke dalam apa yang disebut psikologi modern sebagai spiritual bypassing—menggunakan dalil-dalil kasih sayang Allah untuk menjustifikasi kemaksiatan yang terus diulang. Ungkapan "Yang penting hatinya baik" atau "Santai saja, Allah Maha Pengampun" dijadikan tameng untuk menunda tobat dan melalaikan kewajiban syariat. Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad menyebut sikap ini sebagai amaniyyul maghfirah (angan-angan ampunan palsu) yang menjadi pintu utama kehancuran moral anak muda[14][21].

c. Krisis Pengharapan Akibat Ketidakpastian Sosial-Ekonomi

Tekanan hidup di era disrupsi—seperti sulitnya lapangan kerja, tingginya biaya hidup, dan tuntutan pencapaian materiil—kerap memicu keputusasaan eksistensial (nihilisme). Ketika harapan duniawi pupus, pemuda yang tidak memiliki jangkar raja' kepada Allah sangat rentan mengalami depresi berat dan kehilangan makna hidup. Penanaman konsep raja' sejati mengembalikan kesadaran bahwa rezeki dan masa depan berada di tangan Allah Yang Maha Kaya, bukan bergantung pada algoritma duniawi semata[27][28].

d. Fluktuasi Emosi Ekstrem antara Euphoria dan Penyesalan Melemahkan

Ketiadaan latihan manajemen qolbu membuat generasi muda mengalami osilasi emosi spiritual yang melelahkan: saat berada di lingkungan pengajian merasa sangat shalih dan aman dari dosa, namun saat sendirian di kamar kos tergelincir maksiat lalu dilanda rasa bersalah yang membakar hingga enggan melangkah ke masjid. Keseimbangan khauf dan raja' menjadi stabilisator yang menjaga ritme jiwa agar tetap rendah hati saat taat dan segera bangkit saat khilaf[10][26].

4. Dekonstruksi Fikih & Tasawuf Turats Mu'tamad: Bedah 5 Kitab Rujukan Utama

Mari menelusuri secara mendalam teks-teks autentik (ibaroh) dari lima kitab turats rujukan utama yang merumuskan kaidah operasional penyeimbangan khauf dan raja':

4.1. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah — Karya Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad (1044–1132 H)

Dalam bab Ar-Raja' wal Khauf (hlm. cetakan 157–160 [hlm. file PDF 157–160]), Imam Al-Haddad menegaskan bahwa kedua maqam ini adalah buah paling mulia dari keyakinan tauhid (asyrafu tsamaratil yaqin)[1]. Beliau merumuskan definisi esensial keduanya:

«وَأَصْلُ الرَّجَاءِ مَعْرِفَةُ الْقَلْبِ بِسِعَةِ رَحْمَةِ اللَّهِ وَعَظِيمِ فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ وَجَمِيلِ وَعْدِهِ لِمَنْ عَمِلَ بِطَاعَتِهِ، فَيَتَوَلَّدُ مِنْ هٰذِهِ الْمَعْرِفَةِ حَالَةُ فَرَحٍ تُسَمَّىٰ الرَّجَاءَ... وَأَمَّا الْخَوْفُ فَأَصْلُهُ مَعْرِفَةُ الْقَلْبِ بِجَلَالِ اللَّهِ تَعَالَىٰ وَقَهْرِهِ وَغِنَاهُ عَنْ جَمِيعِ خَلْقِهِ وَشَدِيدِ عِقَابِهِ وَأَلِيمِ عَذَابِهِ لِلَّذِينَ تَوَعَّدَ بِهِمَا مَنْ عَصَاهُ وَخَالَفَ أَمْرَهُ فَيَتَوَلَّدُ مِنْ هٰذِهِ الْمَعْرِفَةِ حَالَةُ وَجَلٍ تُسَمَّىٰ الْخَوْفَ».
"Asal dari rasa harap (ar-raja') adalah pengenalan kalbu terhadap luasnya rahmat Allah, agungnya karunia dan kebaikan-Nya, serta indahnya janji-Nya bagi siapa yang beramal dalam ketaatan kepada-Nya, sehingga dari ma'rifah ini lahir kondisi sukacita batin yang disebut ar-raja'... Adapun rasa takut (al-khauf), asalnya adalah pengenalan kalbu terhadap keagungan Allah Ta'ala, kemahaperkasaan-Nya, ketidakbutuhan-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya, serta kerasnya siksa dan kepedihan azab-Nya yang diancamkan kepada siapa saja yang mendurhakai-Nya dan menyelisihi perintah-Nya, sehingga dari ma'rifah ini lahir kondisi gentar batin yang disebut al-khauf." (Risalatul Mu'awanah, hlm. cetakan 157 [hlm. file PDF 157])[9]

Selanjutnya pada halaman 158, Imam Al-Haddad memberikan tolok ukur keaslian khauf dan raja', bahwa keduanya batal dan menjadi ilusi batin apabila tidak menggerakkan anggota badan untuk taat:

«وَكُلُّ رَجَاءٍ وَكُلُّ خَوْفٍ لَا يَحْمِلَانِ عَلَىٰ فِعْلِ الْمُوَافَقَاتِ وَتَرْكِ الْمُخَالَفَاتِ مَعْدُودَانِ عِنْدَ أَرْبَابِ الْبَصَائِرِ مِنَ التُّرَّهَاتِ وَالتَّهْوِيسَاتِ الَّتِي لَا حَاصِلَ لَهَا وَلَا طَائِلَ تَحْتَهَا، فَإِنَّ مَنْ رَجَا شَيْئًا طَلَبَهُ، وَمَنْ خَافَ شَيْئًا هَرَبَ مِنْهُ لَا مَحَالَةَ».
"Setiap rasa harap dan setiap rasa takut yang tidak mendorong pelakunya untuk mengerjakan ketaatan dan meninggalkan larangan, dianggap oleh para ulama pemilik mata batin (arbabul basha'ir) sebagai igauan kosong dan khayalan sia-sia yang tiada faedahnya; karena sesungguhnya barangsiapa yang mengharapkan sesuatu niscaya ia akan mencarinya, dan barangsiapa yang takut terhadap sesuatu niscaya ia pasti akan lari menghindarinya." (Risalatul Mu'awanah, hlm. cetakan 158 [hlm. file PDF 158])[10]

Adapun mengenai bahaya putus asa dan merasa aman dari makar Allah, Imam Al-Haddad menegaskan pada halaman 159 bahwa keduanya adalah dosa besar pembinasa iman[13][14].

4.2. Al-Arba'in fi Ushulid Din — Karya Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali (450–505 H)

Dalam Al-Ashlus Tsani fil Khauf (hlm. cetakan 120–123 [hlm. file PDF 120–123]), Imam Al-Ghazali membedah anatomi psikologis khauf sebagai pembakar syahwat:

«اعْلَمْ أَنَّ حَقِيقَةَ الْخَوْفِ هُوَ تَأَلُّمُ الْقَلْبِ وَاحْتِرَاقُهُ بِسَبَبِ تَوَقُّعِ مَكْرُوهٍ فِي الِاسْتِقْبَالِ... وَاعْلَمْ أَنَّ الْخَوْفَ الْمَحْمُودَ هُوَ الَّذِي يَكُفُّ الْجَوَارِحَ عَنِ الْمَعَاصِي وَيَحُثُّهَا عَلَى الطَّاعَاتِ، فَإِنْ زَادَ عَلَىٰ ذٰلِكَ حَتَّىٰ أَوْرَثَ الْيَأْسَ وَالْقُنُوطَ كَانَ مَذْمُومًا؛ لِأَنَّ مَقْصُودَ الْخَوْفِ الْحَثُّ عَلَى الْعَمَلِ، فَإِذَا أَبْطَلَ الْعَمَلَ بَطَلَتْ حِكْمَتُهُ».
"Ketahuilah bahwa hakikat rasa takut (al-khauf) adalah rasa perihnya kalbu dan terbakarnya hati akibat mengantisipasi datangnya perkara yang dibenci di masa depan... Dan ketahuilah bahwa rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang mampu menahan anggota badan dari maksiat dan mendorongnya pada ketaatan; maka apabila rasa takut itu bertambah melampaui batas hingga mewariskan keputusasaan dan putus harapan, maka ia menjadi tercela; karena tujuan disyariatkannya rasa takut adalah memicu amal, maka jika ia justru melumpuhkan amal, batallah hikmah keberadaannya." (Al-Arba'in fi Ushulid Din, hlm. cetakan 120 & 121–122 [hlm. file PDF 120 & 121–122])[16][18]

Penjelasan Imam Al-Ghazali ini menjadi rujukan medis-spiritual: khauf berfungsi seperti cambuk bagi hewan tunggangan; jika cambuk dipukulkan secukupnya, hewan akan berlari kencang menuju tujuan, namun jika dipukulkan secara membabi buta, hewan itu akan lumpuh dan mati di tengah jalan.

4.3. Kitabul Hikam Al-Haddadiyyah — Karya Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad

Dalam mahakarya aforisme Kitabul Hikam (hlm. cetakan 9–18 [hlm. file PDF 9–18]), Imam Al-Haddad memberikan peringatan tajam atas distorsi pemikiran yang menimpa orang-orang yang tertipu oleh keluasan rahmat Allah:

«وَقَالَ: أَجْهَلُ الْجَاهِلِينَ مَنْ تَزِيدُهُ الْمَعْرِفَةُ بِسِعَةِ رَحْمَةِ اللَّهِ جُرْأَةً عَلَىٰ مَعَاصِيهِ. وَقَالَ: مَنْ حَدَّثَ نَفْسَهُ بِالتَّوْبَةِ مِنَ الذَّنْبِ قَبْلَ الْوُقُوعِ فِيهِ، دَعَاهُ ذٰلِكَ إِلَىٰ فِعْلِهِ».
"Beliau berkata: Orang yang paling bodoh di antara orang-orang bodoh adalah orang yang pengetahuannya tentang luasnya rahmat Allah justru menambah keberaniannya untuk menerjang maksiat kepada-Nya. Dan beliau berkata: Barangsiapa membisiki jiwanya untuk bertobat dari suatu dosa sebelum ia terjerumus ke dalamnya (berniat maksiat sambil berencana tobat nanti), niscaya bisikan itu akan menyeretnya untuk benar-benar melakukannya." (Kitabul Hikam Al-Haddadiyyah, hlm. cetakan 18 [hlm. file PDF 18])[21]

Kalam hikmah ini membongkar jebakan prokrastinasi tobat yang kerap membelit pemuda modern.

4.4. An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah — Karya Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad

Dalam bab Al-Munjiyat (hlm. cetakan 387–390 [hlm. file PDF 387–390]), Imam Al-Haddad merinci strategi praktis penggunaan khauf dan raja' berdasarkan fase usia dan kondisi kesehatan fisik seseorang:

«وَالْأَفْضَلُ لِلْإِنْسَانِ فِي حَالِ صِحَّتِهِ وَقُوَّتِهِ أَنْ يَكُونَ خَوْفُهُ أَغْلَبَ عَلَيْهِ مِنْ رَجَائِهِ؛ لِأَنَّ الصِّحَّةَ مَظِنَّةُ الشَّهْوَةِ وَالْغَفْلَةِ، وَالْخَوْفُ يَكْسِرُ الشَّهْوَةَ وَيَطْرُدُ الْغَفْلَةَ، فَإِذَا نَزَلَ بِهِ الْمَرَضُ وَدَنَا مِنْهُ الْأَجَلُ فَالْأَفْضَلُ لَهُ أَنْ يَكُونَ رَجَاؤُهُ أَغْلَبَ مِنْ خَوْفِهِ؛ لِيَمُوتَ حَسَنَ الظَّنِّ بِاللَّهِ».
"Dan yang paling utama bagi manusia pada saat kondisi sehat dan kuat adalah rasa takutnya lebih mendominasi daripada rasa harapnya; karena kondisi sehat adalah mazhinnah (tempat dugaan kuat) bergejolaknya syahwat dan kelalaian, sedangkan rasa takut akan mematahkan syahwat dan mengusir kelalaian. Namun apabila penyakit telah menimpanya dan ajal telah mendekat, maka yang paling utama baginya adalah rasa harapnya lebih mendominasi daripada rasa takutnya; agar ia menghadap Allah dalam keadaan berbaik sangka kepada-Nya." (An-Nasha'ihud Diniyyah, hlm. cetakan 389 [hlm. file PDF 389])[25]

Bagi anak muda dan mahasiswa yang berada pada puncak vitalitas fisik, menonjolkan khauf adalah rem pengaman yang menjaga kehormatan diri dari godaan syahwat digital.

4.5. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh — Karya Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu

Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu dalam kitab ushul fikih mu'tamad Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (hlm. cetakan 105–118 [hlm. file PDF 106–119]) menegaskan bahwa syariat Islam dirancang untuk memelihara keseimbangan maqashid syariat. Melalui kaidah Sadduz Dzari'ah (menutup pintu bahaya) dan Al-Maslahah Al-Mursalah, para fukaha menetapkan bahwa membiarkan diri larut dalam putus asa adalah haram karena merusak maqashid hifzhun nafs (perlindungan jiwa), sedangkan meremehkan dosa adalah haram karena merusak maqashid hifzhud din (perlindungan agama)[28][29]. Dengan demikian, menyeimbangkan khauf dan raja' bukan sekadar anjuran tasawuf sukarela, melainkan kewajiban metodologis yang menjaga keutuhan akidah dan syariat Islam.

5. SOP: Bagan Alur 4 Tahap Menyeimbangkan Khauf dan Raja'

Untuk melatih keseimbangan dinamis antara rasa takut dan rasa harap dalam keseharian pemuda, ikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) berbasis alur vertikal murni CSS berikut:

Tahap 1 Tasykhisul Hal (Diagnosis Disonansi Batin & Identifikasi Gejala)

Deteksi kecenderungan hati Anda saat ini: Apakah batin Anda sedang condong pada keputusasaan, merasa kotor dan tidak layak diampuni (indikasi kelebihan khauf)? Ataukah batin Anda sedang merasa aman, meremehkan salat, dan menunda tobat (indikasi kelebihan raja' palsu)? (Risalatul Mu'awanah, hlm. cetakan 158 [hlm. file PDF 158])[10].

↓
Tahap 2 Mu'alajah bi Dhidd (Pemberian Dosis Spiritual Penawar yang Proporsional)

Jika condong putus asa, suntikkan dalil rahmat (QS. Az-Zumar: 53) dan renungi sifat Ar-Rahman Ar-Rahim. Jika condong lalai dan santai bermaksiat, suntikkan dalil ancaman azab (QS. Al-A'raf: 99), renungi kepedihan siksa neraka, dan ingatlah kematian yang bisa datang seketika (Al-Arba'in, hlm. cetakan 121 [hlm. file PDF 121])[17].

↓
Tahap 3 At-Tathbiqul 'Amali (Konversi Energi Emosi Menjadi Amal Saleh Nyata)

Ubah rasa takut menjadi aksi preventif: segera tinggalkan pertemanan toksik, tutup akses konten haram, dan tunaikan shalat taubat dua rakaat. Ubah rasa harap menjadi motor produktif: perbanyak sedekah subuh, istiqamahkan tilawah Al-Qur'an, dan berkhidmat membantu sesama (An-Nasha'ihud Diniyyah, hlm. cetakan 383 [hlm. file PDF 383])[26].

↓
Tahap 4 Al-Istiwa' wal-Muraja'ah (Pencapaian Stabilitas Sayap Jiwa & Evaluasi Harian)

Pertahankan kondisi di mana rasa takut menahan kaki dari maksiat dan rasa harap menerbangkan hati dalam ketaatan. Lakukan evaluasi mandiri setiap malam sebelum tidur: pastikan tidur dalam keadaan berserah diri penuh kepada rahmat Allah seraya bertekad memperbaiki diri esok hari (Kitabul Hikam, hlm. cetakan 11 [hlm. file PDF 11])[22].

6. Kaidah Ushul & Kaidah Manajemen Qolbu: Pilar Stabilitas Spiritual

Konsep integratif khauf dan raja' ditopang oleh kaidah-kaidah ushul fikih dan qawa'id fiqhiyyah universal yang menjamin kesehatan mental dan keselamatan akidah:

1. Adh-Dhararu Yuzal (الضَّرَرُ يُزَالُ): Kemudaratan wajib dihilangkan. Sikap putus asa (al-qunuth) yang memicu depresi spiritual dan sikap merasa aman (al-amn min makrillah) yang memicu kebinasaan moral adalah dua bentuk kemudaratan terbesar bagi jiwa yang wajib dihilangkan melalui penyeimbangan dosis khauf dan raja' (Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh, hlm. cetakan 105–108 [hlm. file PDF 106–109])[28].

2. Dar'ul Mafasidi Muqaddamun 'ala Jalbil Mashalih (دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصَالِحِ): Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengejar kemaslahatan. Dalam manajemen jiwa, mencegah diri dari terjerumus ke dalam dosa besar merasa aman dari azab atau putus asa dari rahmat jauh lebih mendesak daripada memperbanyak amalan sunnah yang dilakukan tanpa penghayatan qolbu yang lurus[29].

3. Al-Khuruju minal Khilafi Mustahabbun (الْخُرُوجُ مِنَ الْخِلَافِ مُسْتَحَبٌّ): Keluar dari perselisihan hukum adalah hal yang disukai syariat. Dalam menakar amal, seorang mukmin melatih rasa takutnya (khauf) dengan mengambil pendapat ulama yang paling berhati-hati (al-ahwath) agar ibadahnya sah tanpa keraguan, namun saat bermuamalah dengan hamba lain ia melatih harapannya (raja') dengan mengedepankan kemudahan dan kasih sayang[31].

4. Al-Amru bisy-Syai'i Nahyun 'an Dhiddihi (الْأَمْرُ بِالشَّيْءِ نَهْيٌ عَنْ ضِدِّهِ): Perintah terhadap sesuatu secara otomatis mengandung larangan terhadap kebalikannya. Perintah Allah untuk memiliki raja' adalah larangan keras dari sikap putus asa, dan perintah Allah untuk memiliki khauf adalah larangan tegas dari sikap sombong dan meremehkan dosa (Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh, hlm. cetakan 50 [hlm. file PDF 51])[30].

7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja: Penawar Scrupulosity & Anti-Prokrastinasi Spiritual

Bagaimana mengaplikasikan keseimbangan khauf dan raja' dalam realitas keseharian pemuda, mahasiswa, dan profesional muda di era modern?

  1. Atasi Kecemasan Dosa Berlebihan (Scrupulosity) dengan Terapi Luasnya Rahmat: Bagi remaja yang kerap tersiksa oleh pikiran "Salat saya pasti tidak diterima" atau "Dosa saya mustahil diampuni", sadarilah bahwa bisikan tersebut berasal dari iblis. Lawanlah dengan membaca firman Allah dalam QS. Az-Zumar ayat 53 dan QS. An-Nisa' ayat 110. Ingatlah sabda Nabi SAW bahwa Allah lebih gembira menerima tobat seorang hamba daripada kegembiraan musafir yang menemukan kembali untanya di padang pasir tandus[4][17].
  2. Patahkan Jebakan "Nanti Aja Tobatnya" dengan Refleksi Kematian Mendadak: Bagi pemuda yang terlena oleh usia muda dan kesehatan fisik, hancurkan godaan prokrastinasi spiritual dengan mengingat fakta bahwa ajal tidak mengenal nomor antrean usia. Hadirkan nasihat Imam Al-Haddad dalam Al-Hikam: berniat tobat nanti saat bermaksiat adalah tanda kebodohan paling nyata. Segerakan beristighfar seketika seusai khilaf tanpa menunggu esok hari[21][25].
  3. Praktikkan Jurnal Penyeimbang Qolbu (Dua Kolom Refleksi): Luangkan waktu 5 menit saat muhasabah malam untuk membagi buku catatan harian Anda menjadi dua kolom: Kolom Kiri adalah Muhasabah Khauf (evaluasi dosa lisan, mata, dan kelalaian salat hari ini agar timbul rasa sesal), dan Kolom Kanan adalah Syukur Raja' (catat 3 nikmat dan peluang tobat hari ini agar hati dipenuhi harapan dan cinta kepada Allah)[10][32].
  4. Kurasi Circle Pertemanan & Konsumsi Media Sosial: Batasi paparan terhadap akun-akun dakwah ekstrem yang hanya menyebarkan teror siksa kubur tanpa solusi rahmat (yang memicu putus asa), serta hindari akun-akun liberal yang meremehkan dosa atas nama toleransi semu. Pilihlah guru dan sahabat yang berakhlak mulia, yang kata-katanya mengingatkan Anda pada Allah dan membimbing Anda meniti jalan tengah yang wasathiyyah[24].

8. Self-Assessment Checklist Keseimbangan Sayap Jiwa (Khauf & Raja')

Gunakan daftar evaluasi mandiri interaktif berikut secara berkala untuk memastikan sayap khauf dan raja' dalam jiwa Anda senantiasa berada dalam keselarasan yang sehat:

Catatan Kaki (Footnotes) & Ibaroh Kitab Turats Terverifikasi

  1. Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-A'raf [7] ayat 56. Perintah qath'i untuk berdoa dan beribadah kepada Allah dengan memadukan rasa takut (khaufan) dan harapan (thama'an/raja'an); dirujuk pula dalam Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H/1994 M, Fashl fir Raja' wal Khauf, hlm. cetakan 157 [hlm. file PDF 157]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ﴾ — وَعِبَارَةُ رِسَالَةِ الْمُعَاوَنَةِ (ص ١٥٧ [PDF ص ١٥٧]): «وَعَلَيْكَ بِالرَّجَاءِ وَالْخَوْفِ فَإِنَّهُمَا مِنْ أَشْرَفِ ثَمَرَاتِ الْيَقِينِ» ↑ Kembali ke Teks
  2. Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Isra' [17] ayat 57. Karakteristik para nabi dan orang-orang saleh terdahulu yang senantiasa mencari wasilah kedekatan dengan mengharap rahmat Allah dan takut akan azab-Nya; dirujuk dalam Risalatul Mu'awanah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 157 [hlm. file PDF 157]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا﴾ ↑ Kembali ke Teks
  3. Al-Qur'an al-Karim, Surah As-Sajdah [32] ayat 16. Deskripsi ahli tahajud yang menjauhkan lambung dari tempat tidur demi beribadah dengan penuh rasa takut dan harap; dirujuk dalam An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1, Bab Ar-Raja' wal Khauf, hlm. cetakan 387 [hlm. file PDF 387]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴾ ↑ Kembali ke Teks
  4. Al-Qur'an al-Karim, Surah Az-Zumar [39] ayat 53. Panggilan kasih sayang Allah yang melarang hamba-Nya yang terlanjur melampaui batas dari berputus asa terhadap luasnya ampunan Ilahi; dirujuk dalam Risalatul Mu'awanah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), Fashl fi Hurmatil Qunuth min Rahmatillah, hlm. cetakan 159 [hlm. file PDF 159]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾ ↑ Kembali ke Teks
  5. Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-A'raf [7] ayat 99. Peringatan keras agar tidak merasa aman dari rencana pembalasan dan istidraj Allah; dirujuk dalam Risalatul Mu'awanah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 159 [hlm. file PDF 159]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾ ↑ Kembali ke Teks
  6. Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, no. 640; Al-Bazzar dalam Al-Musnad, no. 8632 (dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; dishahihkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar). Hadits Qudsi agung mengenai hukum kekal Allah: tidak akan mengumpulkan dua rasa takut atau dua rasa aman pada seorang hamba; dirujuk dalam Risalatul Mu'awanah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 157 [hlm. file PDF 157] dan Al-Arba'in fi Ushulid Din (berkas PDF: al-arbain-ghazali.pdf), hlm. cetakan 120 [hlm. file PDF 120]. نَصُّ الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ: قَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ: «وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَجْمَعُ عَلَىٰ عَبْدِي أَمْنَيْنِ وَلَا خَوْفَيْنِ؛ إِنْ هُوَ أَمِنَنِي فِي الدُّنْيَا أَخَفْتُهُ يَوْمَ أَبْعَثُ عِبَادِي، وَإِنْ هُوَ خَافَنِي فِي الدُّنْيَا أَمَّنْتُهُ يَوْمَ أَجْمَعُ عِبَادِي» ↑ Kembali ke Teks
  7. Muslim bin Al-Hajjaj, Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim), Kitab Al-Jannah wa Shifatu Na'imiha, no. 2877 (dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu). Kewajiban memperbesar sayap raja' dan berbaik sangka kepada Allah terutama saat menjelang wafat; dirujuk dalam Risalatul Mu'awanah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 158 [hlm. file PDF 158]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَبْلَ مَوْتِهِ بِثَلَاثَةِ أَيَّامٍ يَقُولُ: «لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ» ↑ Kembali ke Teks
  8. Al-Baihaqi, Syu'abul Iman, no. 1007; Abu Nu'aim dalam Hilyatul Auliya', Juz 2, hlm. 162. Atsar masyhur mengenai perumpamaan sayap iman yang seimbang; dirujuk verbatim dalam Risalatul Mu'awanah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 158 [hlm. file PDF 158] dan An-Nasha'ihud Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 388 [hlm. file PDF 388]. نَصُّ الْأَثَرِ: «لَوْ وُزِنَ خَوْفُ الْمُؤْمِنِ وَرَجَاؤُهُ لَاعْتَدَلَا» — وَعِبَارَةُ النَّصَائِحِ الدِّينِيَّةِ (ص ٣٨٨ [PDF ص ٣٨٨]): «فَيَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ خَوْفُهُ وَرَجَاؤُهُ مُعْتَدِلَيْنِ كَجَنَاحَيِ الطَّائِرِ، إِذَا اسْتَوَيَا اسْتَوَى الطَّيَرَانُ، وَإِذَا نَقَصَ أَحَدُهُمَا وَقَعَ النَّقْصُ فِي حَرَكَتِهِ» ↑ Kembali ke Teks
  9. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H/1994 M, Fashl fir Raja' wal Khauf, hlm. cetakan 157 [hlm. file PDF 157]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٥٧ [PDF ص ١٥٧]): «وَأَصْلُ الرَّجَاءِ مَعْرِفَةُ الْقَلْبِ بِسِعَةِ رَحْمَةِ اللَّهِ وَعَظِيمِ فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ وَجَمِيلِ وَعْدِهِ لِمَنْ عَمِلَ بِطَاعَتِهِ، فَيَتَوَلَّدُ مِنْ هٰذِهِ الْمَعْرِفَةِ حَالَةُ فَرَحٍ تُسَمَّىٰ الرَّجَاءَ... وَأَمَّا الْخَوْفُ فَأَصْلُهُ مَعْرِفَةُ الْقَلْبِ بِجَلَالِ اللَّهِ تَعَالَىٰ وَقَهْرِهِ وَغِنَاهُ عَنْ جَمِيعِ خَلْقِهِ وَشَدِيدِ عِقَابِهِ» ↑ Kembali ke Teks
  10. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H/1994 M, Fashl fir Raja' wal Khauf, hlm. cetakan 158 [hlm. file PDF 158]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٥٨ [PDF ص ١٥٨]): «وَكُلُّ رَجَاءٍ وَكُلُّ خَوْفٍ لَا يَحْمِلَانِ عَلَىٰ فِعْلِ الْمُوَافَقَاتِ وَتَرْكِ الْمُخَالَفَاتِ مَعْدُودَانِ عِنْدَ أَرْبَابِ الْبَصَائِرِ مِنَ التُّرَّهَاتِ وَالتَّهْوِيسَاتِ الَّتِي لَا حَاصِلَ لَهَا وَلَا طَائِلَ تَحْتَهَا، فَإِنَّ مَنْ رَجَا شَيْئًا طَلَبَهُ، وَمَنْ خَافَ شَيْئًا هَرَبَ مِنْهُ لَا مَحَالَةَ» ↑ Kembali ke Teks
  11. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H/1994 M, Fashl fi Ashnafin Nasi fir Raja' wal Khauf, hlm. cetakan 158 [hlm. file PDF 158]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٥٨ [PDF ص ١٥٨]): «وَاعْلَمْ أَنَّ النَّاسَ ثَلَاثَةٌ: عَبْدٌ قَدْ أَنَابَ إِلَىٰ رَبِّهِ وَاطْمَأَنَّتْ نَفْسُهُ بِهِ وَانْقَشَعَتْ ظُلُمَاتُ شَهَوَاتِهِ بِإِشْرَاقِ أَنْوَارِ قُرْبِهِ، فَلَمْ تَبْقَ لَهُ لَذَّةٌ إِلَّا فِي مُنَاجَاتِهِ... وَعَبْدٌ لَا يَأْمَنُ عَلَىٰ نَفْسِهِ مِنَ التَّقَاعُدِ عَنِ الْمَأْمُورَاتِ وَالرُّكُونِ إِلَى الْمَحْظُورَاتِ... وَعَبْدٌ قَدْ غَلَبَ عَلَيْهِ التَّخْلِيطُ وَاسْتَوْلَىٰ عَلَيْهِ التَّفْرِيطُ» ↑ Kembali ke Teks
  12. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H/1994 M, Fashl fi Halatil Maradh wal Maut, hlm. cetakan 158–159 [hlm. file PDF 158–159]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٥٨–١٥٩ [PDF ص ١٥٨–١٥٩]): «فَاللَّائِقُ بِهِ غَلَبَةُ الْخَوْفِ عَلَيْهِ لِيَنْزَجِرَ عَنِ الْمَعَاصِي إِلَّا عِنْدَ الْمَوْتِ، فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ رَجَاؤُهُ غَالِبًا عَلَىٰ خَوْفِهِ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ»» ↑ Kembali ke Teks
  13. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H/1994 M, Fashl fi Hurmatil Qunuth wal Amni min Makrillah, hlm. cetakan 159 [hlm. file PDF 159]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٥٩ [PDF ص ١٥٩]): «وَإِيَّاكَ وَالْقُنُوطَ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ وَالْأَمْنَ مِنْ مَكْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُمَا مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ... وَالْقُنُوطُ عِبَارَةٌ عَنْ تَمَحُّضِ الْخَوْفِ حَتَّىٰ لَا يَبْقَىٰ لِلرَّجَاءِ وُجُودٌ الْبَتَّةَ. وَالْأَمْنُ عِبَارَةٌ عَنْ تَجَرُّدِ الرَّجَاءِ حَتَّىٰ لَا يَبْقَىٰ لِلْخَوْفِ وُجُودٌ بِحَالٍ» ↑ Kembali ke Teks
  14. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H/1994 M, Fashl fit Tahdzir min Amaniyl Maghfirah, hlm. cetakan 159 [hlm. file PDF 159]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٥٩ [PDF ص ١٥٩]): «وَإِيَّاكَ وَأَمَانِيَّ الْمَغْفِرَةِ الْقَاطِعَةَ عَنْهَا، وَهِيَ مَا تَسْمَعُهُ عَلَىٰ لِسَانِ طَائِفَةٍ مِنَ الْمُغْتَرِّينَ مِنْ قَوْلِهِمْ: إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا مَعَ إِقَامَتِهِمْ عَلَيْهَا مِنْ غَيْرِ تَوْبَةٍ وَلَا اسْتِغْفَارٍ» ↑ Kembali ke Teks
  15. Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Al-Arba'in fi Ushulid Din (berkas PDF: al-arbain-ghazali.pdf). Kairo/Tehran: Markaz Tahqiqat, Al-Ashlus Tsani fil Khauf, hlm. cetakan 120 [hlm. file PDF 120]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٢٠ [PDF ص ١٢٠]): «الْأَصْلُ الثَّانِي فِي الْخَوْفِ: وَقَدْ جَمَعَ اللَّهُ تَعَالَىٰ لِلْخَائِفِينَ الْهُدَىٰ وَالرَّحْمَةَ وَالْعِلْمَ وَالرِّضْوَانَ، وَنَاهِيكَ بِذٰلِكَ فَضْلًا، فَقَالَ تَعَالَىٰ: ﴿هُدًى وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ﴾، وَقَالَ: ﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾» ↑ Kembali ke Teks
  16. Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Al-Arba'in fi Ushulid Din (berkas PDF: al-arbain-ghazali.pdf). Kairo/Tehran: Markaz Tahqiqat, Al-Ashlus Tsani fil Khauf, hlm. cetakan 120 [hlm. file PDF 120]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٢٠ [PDF ص ١٢٠]): «اعْلَمْ أَنَّ حَقِيقَةَ الْخَوْفِ هُوَ تَأَلُّمُ الْقَلْبِ وَاحْتِرَاقُهُ بِسَبَبِ تَوَقُّعِ مَكْرُوهٍ فِي الِاسْتِقْبَالِ. وَقَدْ يَكُونُ ذٰلِكَ الْخَوْفُ مِنْ جَرَيَانِ ذُنُوبٍ، وَقَدْ يَكُونُ الْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَىٰ بِمَعْرِفَةِ صِفَاتِهِ الَّتِي تُوجِبُ الْخَوْفَ لَا مَحَالَةَ، وَهٰذَا أَكْمَلُ وَأَتَمُّ» ↑ Kembali ke Teks
  17. Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Al-Arba'in fi Ushulid Din (berkas PDF: al-arbain-ghazali.pdf). Kairo/Tehran: Markaz Tahqiqat, Fashlun fi 'Ilajil Khaufi wa Tahshilih, hlm. cetakan 121 [hlm. file PDF 121]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٢١ [PDF ص ١٢١]): «فَصْلٌ فِي عِلَاجِ الْخَوْفِ وَتَحْصِيلِهِ: فَمَنْ غَلَبَ عَلَيْهِ الْأَمْنُ حَتَّىٰ تَجَرَّأَ عَلَى الْمَعَاصِي فَعِلَاجُهُ أَنْ يُذَكَّرَ بِآيَاتِ الْوَعِيدِ وَشِدَّةِ الْعِقَابِ... وَمَنْ غَلَبَ عَلَيْهِ الْخَوْفُ حَتَّىٰ أَفْضَىٰ إِلَى الْقُنُوطِ فَعِلَاجُهُ أَنْ يُذَكَّرَ بِسِعَةِ رَحْمَةِ اللَّهِ وَلُطْفِهِ» ↑ Kembali ke Teks
  18. Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Al-Arba'in fi Ushulid Din (berkas PDF: al-arbain-ghazali.pdf). Kairo/Tehran: Markaz Tahqiqat, Fashlun fi 'Ilajil Khauf, hlm. cetakan 121–122 [hlm. file PDF 121–122]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٢١–١٢٢ [PDF ص ١٢١–١٢٢]): «وَاعْلَمْ أَنَّ الْخَوْفَ الْمَحْمُودَ هُوَ الَّذِي يَكُفُّ الْجَوَارِحَ عَنِ الْمَعَاصِي وَيَحُثُّهَا عَلَى الطَّاعَاتِ، فَإِنْ زَادَ عَلَىٰ ذٰلِكَ حَتَّىٰ أَوْرَثَ الْيَأْسَ وَالْقُنُوطَ كَانَ مَذْمُومًا؛ لِأَنَّ مَقْصُودَ الْخَوْفِ الْحَثُّ عَلَى الْعَمَلِ، فَإِذَا أَبْطَلَ الْعَمَلَ بَطَلَتْ حِكْمَتُهُ» ↑ Kembali ke Teks
  19. Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Al-Arba'in fi Ushulid Din (berkas PDF: al-arbain-ghazali.pdf). Kairo/Tehran: Markaz Tahqiqat, Al-Ashlut Tasi': Ar-Rida' bil Qadha', hlm. cetakan 159 [hlm. file PDF 159]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٥٩ [PDF ص ١٥٩]): «الْأَصْلُ التَّاسِعُ: الرِّضَاءُ بِالْقَضَاءِ: وَهُوَ ثَمَرَةُ الْمَحَبَّةِ، وَمَنْ أَحَبَّ اللَّهَ رَضِيَ بِفِعْلِهِ، وَامْتَزَجَ خَوْفُهُ بِرَجَائِهِ فِي ظِلِّ شُهُودِ الْحِكْمَةِ الْإِلَهِيَّةِ» ↑ Kembali ke Teks
  20. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Kitabul Hikam (Al-Hikam Al-Haddadiyyah) (berkas PDF: alhikam.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1418 H/1998 M, Hikmah tentang Dua Lingkaran Takdir: Rahmat dan Hikmah, hlm. cetakan 9 [hlm. file PDF 9]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٩ [PDF ص ٩]): «قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: الْخَلْقُ مَعَ الْحَقِّ، لَا يَخْلُو أَحَدٌ مِنْهُمْ مِنْ أَنْ يَكُونَ فِي إِحْدَى الدَّائِرَتَيْنِ: إِمَّا دَائِرَةُ الرَّحْمَةِ، أَوْ دَائِرَةُ الْحِكْمَةِ. فَمَنْ كَانَ الْيَوْمَ فِي دَائِرَةِ الرَّحْمَةِ، كَانَ غَدًا فِي دَائِرَةِ الْفَضْلِ» ↑ Kembali ke Teks
  21. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Kitabul Hikam (Al-Hikam Al-Haddadiyyah) (berkas PDF: alhikam.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1418 H/1998 M, Hikmah tentang Tipu Daya Luasnya Rahmat yang Menjerumuskan pada Dosa, hlm. cetakan 18 [hlm. file PDF 18]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٨ [PDF ص ١٨]): «وَقَالَ: أَجْهَلُ الْجَاهِلِينَ مَنْ تَزِيدُهُ الْمَعْرِفَةُ بِسِعَةِ رَحْمَةِ اللَّهِ جُرْأَةً عَلَىٰ مَعَاصِيهِ. وَقَالَ: مَنْ حَدَّثَ نَفْسَهُ بِالتَّوْبَةِ مِنَ الذَّنْبِ قَبْلَ الْوُقُوعِ فِيهِ، دَعَاهُ ذٰلِكَ إِلَىٰ فِعْلِهِ» ↑ Kembali ke Teks
  22. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Kitabul Hikam (Al-Hikam Al-Haddadiyyah) (berkas PDF: alhikam.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1418 H/1998 M, Hikmah tentang Menundukkan Tuntutan Hawa Nafsu, hlm. cetakan 12 [hlm. file PDF 12]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٢ [PDF ص ١٢]): «وَقَالَ: إِذَا دَعَتْكَ نَفْسُكَ إِلَىٰ شَهْوَةٍ، فَإِيَّاكَ أَنْ تَقُولَ أُجِيبُهَا فِي هٰذِهِ، وَأُفَرِّغُ الْقَلْبَ مِنْ مُطَالَبَتِهَا، فَإِنَّكَ إِنْ أَجَبْتَهَا إِلَيْهَا دَعَتْكَ إِلَىٰ أَعْظَمَ مِنْهَا» ↑ Kembali ke Teks
  23. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1, Bab Ar-Raja' wal Khauf, hlm. cetakan 387 [hlm. file PDF 387]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٣٨٧ [PDF ص ٣٨٧]): «وَمِنَ الْمُنْجِيَاتِ: الرَّجَاءُ فِي اللَّهِ وَالْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ، وَالرَّجَاءُ وَالْخَوْفُ مِنَ الْمَقَامَاتِ الشَّرِيفَةِ؛ وَقَدْ وَصَفَ اللَّهُ بِهِمَا أَنْبِيَاءَهُ وَأَوْلِيَاءَهُ فَقَالَ: ﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾» ↑ Kembali ke Teks
  24. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1, Bab Ar-Raja' wal Khauf, hlm. cetakan 388 [hlm. file PDF 388]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٣٨٨ [PDF ص ٣٨٨]): «قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ: مَثَلُ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ مَثَلُ جَنَاحَيِ الطَّائِرِ، إِذَا اسْتَوَيَا طَارَ الطَّائِرُ وَاسْتَقَامَ طَيَرَانُهُ، وَإِذَا نَقَصَ أَحَدُهُمَا وَقَعَ النَّقْصُ، وَإِذَا ذَهَبَا مَاتَ الطَّائِرُ» ↑ Kembali ke Teks
  25. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1, Bab Ar-Raja' wal Khauf, hlm. cetakan 389 [hlm. file PDF 389]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٣٨٩ [PDF ص ٣٨٩]): «وَالْأَفْضَلُ لِلْإِنْسَانِ فِي حَالِ صِحَّتِهِ وَقُوَّتِهِ أَنْ يَكُونَ خَوْفُهُ أَغْلَبَ عَلَيْهِ مِنْ رَجَائِهِ؛ لِأَنَّ الصِّحَّةَ مَظِنَّةُ الشَّهْوَةِ وَالْغَفْلَةِ، وَالْخَوْفُ يَكْسِرُ الشَّهْوَةَ وَيَطْرُدُ الْغَفْلَةَ» ↑ Kembali ke Teks
  26. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1, Bab At-Taubah, hlm. cetakan 383 [hlm. file PDF 383]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٣٨٣ [PDF ص ٣٨٣]): «مَبْحَثُ التَّوْبَةِ: وَالتَّوْبَةُ فَرْضُ عَيْنٍ عَلَىٰ كُلِّ مُكَلَّفٍ فِي كُلِّ حَالٍ، وَأَرْكَانُهَا: النَّدَمُ عَلَىٰ مَا مَضَىٰ، وَالْإِقْلَاعُ عَنِ الذَّنْبِ فِي الْحَالِ، وَالْعَزْمُ عَلَىٰ أَلَّا يَعُودَ إِلَيْهِ أَبَدًا» ↑ Kembali ke Teks
  27. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Ad-Da'wah At-Tammah wat Tadzkirah Al-'Ammah (berkas PDF: alddawoh-alttammh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, Khatimah fi Wujubit Tawakkul ma'al Akhdzi bil Asbab, hlm. cetakan 300 [hlm. file PDF 300]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٣٠٠ [PDF ص ٣٠٠]): «خَاتِمَةٌ: وَلَا يُعَدُّ السَّعْيُ فِي الْأَسْبَابِ مُنَافِيًا لِلتَّوَكُّلِ، بَلْ هُوَ طَاعَةٌ لِأَمْرِ اللَّهِ تَعَالَىٰ، وَحَقِيقَةُ الرَّجَاءِ مَقْرُونَةٌ بِبَذْلِ الْجُهْدِ فِي الطَّاعَةِ» ↑ Kembali ke Teks
  28. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1, 1442 H/2021 M, Bab Maqashidusy Syari'ah: Hifzhun Nafs wal 'Aql, hlm. cetakan 105–108 [hlm. file PDF 106–109]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٠٥–١٠٨ [PDF ص ١٠٦–١٠٩]): «الْمَقَاصِدُ الشَّرْعِيَّةُ الضَّرُورِيَّةُ خَمْسَةٌ: حِفْظُ الدِّينِ، وَالنَّفْسِ، وَالْعَقْلِ... وَالشَّرْعُ جَاءَ بِتَحْصِيلِ الْمَصَالِحِ وَتَكْمِيلِهَا، وَتَعْطِيلِ الْمَفَاسِدِ وَتَقْلِيلِهَا، وَحِمَايَةُ الْجَانِبِ النَّفْسِيِّ مِنَ الْقُنُوطِ مِنْ أَعْظَمِ الْمَقَاصِدِ» ↑ Kembali ke Teks
  29. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1, 1442 H/2021 M, Bab Al-Adillatul Mukhtalaf Fiha: Sadduz Dzari'ah, hlm. cetakan 114–118 [hlm. file PDF 115–119]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١١٤–١١٨ [PDF ص ١١٥–١١٩]): «وَسَدُّ الذَّرَائِعِ: مَنْعُ كُلِّ وَسِيلَةٍ تُفْضِي إِلَى الْمَفْسَدَةِ، فَالْأَمْنُ مِنَ الْمَكْرِ ذَرِيعَةٌ لِلتَّهَاوُنِ بِحُدُودِ اللَّهِ، وَالْقُنُوطُ ذَرِيعَةٌ لِتَرْكِ الْعَمَلِ، فَوَجَبَ سَدُّ الْبَابَيْنِ شَرْعًا» ↑ Kembali ke Teks
  30. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1, 1442 H/2021 M, Bab Dalalatul Alfazh: Al-Amru wan Nahyu, hlm. cetakan 43–50 [hlm. file PDF 44–51]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٤٣–٥٠ [PDF ص ٤٤–٥١]): «صِيغَةُ الْأَمْرِ تَقْتَضِي الْوُجُوبَ، وَالنَّهْيُ يَقْتَضِي التَّحْرِيمَ، وَالْأَمْرُ بِالشَّيْءِ نَهْيٌ عَنْ ضِدِّهِ مِنْ جِهَةِ الْمَعْنَىٰ» ↑ Kembali ke Teks
  31. Al-Khin, Musthafa; Al-Bugha, Musthafa; Asy-Syirbaji, Ali. Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ عَلَىٰ مَذْهَبِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ 1.pdf). Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H/1992 M, Juz 1, Kaidah Raf'ul Haraj wat Taisir, hlm. cetakan 43 [hlm. file PDF 43]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ج ١، ص ٤٣ [PDF ص ٤٣]): «إِلَّا أَنَّ الدِّينَ رَاعَى الْيُسْرَ، وَعَدَمَ الْحَرَجِ، فَعَفَا عَنْ بَعْضِ النَّجَاسَاتِ لِتَعَذُّرِ إِزَالَتِهَا، أَوْ مَشَقَّةِ الِاحْتِرَازِ عَنْهَا، تَسْهِيلًا عَلَى النَّاسِ، وَرَفْعًا لِلْحَرَجِ عَنْهُمْ» ↑ Kembali ke Teks
  32. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H/1994 M, Fashl fi Luzumil Qashdi wad Dawami 'alal 'Amal, hlm. cetakan 36 [hlm. file PDF 36]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٣٦ [PDF ص ٣٦]): «وَعَلَيْكَ بِلُزُومِ الْقَصْدِ فِي أُمُورِكَ كُلِّهَا، وَالدَّوَامِ عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَإِنْ قَلَّتْ، فَإِنَّ خَيْرَ الْعَمَلِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ» ↑ Kembali ke Teks

Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)

  • Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain. (458 H). Syu'abul Iman. Tahqiq: Dr. Abdul Ali Abdul Hamid Hamid. Riyadh: Maktabatur Rusyd.
  • Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. (256 H). Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Al-Mathba'ah As-Salafiyyah.
  • Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. (505 H). Al-Arba'in fi Ushulid Din. Kairo/Tehran: Markaz Tahqiqat Al-Ulum Al-Islamiyyah.
  • Al-Haddad, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi'i. (1132 H). Ad-Da'wah At-Tammah wat Tadzkirah Al-'Ammah. Beirut: Dar Al-Hawi.
  • Al-Haddad, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi'i. (1132 H). An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah. Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1.
  • Al-Haddad, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi'i. (1132 H). Kitabul Hikam (Al-Hikam Al-Haddadiyyah). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1418 H / 1998 M.
  • Al-Haddad, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi'i. (1132 H). Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah. Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M.
  • Al-Khin, Musthafa; Al-Bugha, Musthafa; Asy-Syirbaji, Ali. (1413 H / 1992 M). Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i. Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, Juz 1.
  • Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. (1442 H / 2021 M). Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh. Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1.
  • Ibnu Hibban, Muhammad bin Hibban Al-Busti. (354 H). Al-Ihsan fi Taqrib Shahih Ibni Hibban. Tahqiq: Syu'aib Al-Arnauth. Beirut: Mu'assasah Ar-Risalah.
  • Muslim, Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi. (261 H). Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim). Tahqiq: Muhammad Fu'ad Abdul Baqi. Kairo: Dar Ihya' Al-Kutub Al-'Arabiyyah.