Fikih Wudhu & Penghalang Kulit: Telaah Syarat Tembus Air dan Hukum Membasuh Tiga Kali Saat Waktu Salat Sempit
Kewajiban Menghilangkan Penghalang Air (Jirm Mani') pada Kulit dan Kuku serta Keharaman Membasuh Tiga Kali (Tatslits) Wudhu Saat Waktu Salat Hampir Habis Menurut Kitab Fathul ‘Ali
Daftar Isi Kajian Ilmiah-Populer Klik untuk Buka/Tutup
- 1. Hakikat Kesempurnaan Wudhu & Fondasi Syariat: Ketelitian Kulit vs Waktu Salat
- 2. Anatomi & Dashboard Matrix: Peta Khilafiyah Bab Wudhu dalam Fathul ‘Ali
- 3. Problematika Remaja & Modern: Tinta/Cat, Pomade Rambut, & Akhir Waktu
- 4. Dekonstruksi Fikih Turats Mu'tamad: Bedah Fathul ‘Ali & 5 Kitab Rujukan Penguat
- 5. SOP: Bagan Alur 4 Tahap Pemeriksaan Penghalang Kulit & Eksekusi Wudhu
- 6. Kaidah Ushul Fiqh & Kaidah Fikih seputar Rukun dan Sunnah Wudhu
- 7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja di Lab, Bengkel, & Perjalanan
- 8. Self-Assessment Checklist: Evaluasi Keabsahan Wudhu & Manajemen Waktu
- 9. Catatan Kaki Terperinci (32 Footnotes Terverifikasi Cetakan & PDF)
- 10. Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)
Keabsahan wudhu menuntut sampainya air mutlak ke seluruh permukaan kulit anggota wudhu tanpa terhalang benda berketebalan fisik yang kedap air (jirm mani' seperti lilin, lem, tipe-x, cat, atau kutek), sementara bekas warna semata (laun seperti tinta tipis atau inai) tidak menghalangi sahnya wudhu. Di sisi lain, apabila waktu salat telah menyempit hingga hanya cukup untuk wudhu satu kali basuhan dan pelaksanaan salat, maka Ibnu Hajar dan Ar-Ramli sepakat mengharamkan basuhan sunnah tiga kali (tatslits) demi mendahulukan penyelamatan waktu salat yang wajib.
1. Hakikat Kesempurnaan Wudhu & Fondasi Syariat: Antara Ketelitian Membasuh Kulit dan Prioritas Menjaga Waktu Salat
Wudhu merupakan kunci pembuka sahnya ibadah salat (miftahush shalah) sekaligus ritual penyucian lahir dan batin yang mengangkat derajat seorang mukmin di dunia maupun di akhirat. Namun, dalam praktik keseharian anak muda dan mahasiswa yang memiliki mobilitas tinggi, sering terjadi dua ketimpangan ekstrem: di satu sisi, banyak pemuda tergesa-gesa berwudhu tanpa memperhatikan apakah di atas kulit tangan, kuku, atau wajahnya masih menempel zat penghalang kedap air (jirm mani') seperti sisa cat, tipe-x, lem, minyak padat, kutek, atau kotoran pekat di bawah kuku. Di sisi lain, ketika bangun kesiangan di akhir waktu Subuh atau terjebak kemacetan parah menjelang terbenam matahari di akhir waktu Ashar, sebagian pemuda justru masih santai membasuh setiap anggota wudhu sebanyak tiga kali (tatslits) lengkap dengan doa-doa panjang hingga waktu salat habis sebelum ia sempat bertakbiratul ihram.
Kitab Fathul ‘Ali bi Jam‘il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli karya Al-‘Allamah ‘Umar bin Hamid Bafaraj Ba‘alawi (syarah dan tahqiq Dr. Syifa’ Muhammad Hasan Hitu) mengupas secara mendalam kedua fenomena krusial ini pada Bab Al-Wudhu', khususnya melalui Mas'alah [16] hingga Mas'alah [21] (hlm. 75–89). Komparasi antara Syaikhul Islam Ibnu Hajar Al-Haitami dan Imam Syamsuddin Ar-Ramli memberikan panduan yang sangat jernih mengenai batas kulit yang wajib terkena air serta skala prioritas ketika kesunnahan wudhu berbenturan dengan kewajiban menjaga waktu salat[6][7][10].
Fondasi syariat mengenai kewajiban membasuh anggota wudhu hingga air menyentuh seluruh permukaan kulit ditetapkan secara qath'i dalam Al-Qur'an Surah Al-Ma'idah ayat 6:
Adapun kewajiban menjaga batas waktu salat agar tidak keluar dari waktunya (ada') ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah An-Nisa' ayat 103:
Dan kemuliaan orang yang senantiasa menjaga kesucian dirinya dipuji langsung oleh Allah Ta'ala dalam Surah Al-Baqarah ayat 222:
Dalam khazanah Sunnah Nabawiyyah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan bahwa tertinggalnya satu titik kecil selebar kuku yang tidak terkena air wudhu menyebabkan wudhu dan salat seseorang tidak sah, sebagaimana hadits sahih riwayat Imam Muslim dari sahabat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu:
Di sisi lain, Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa kadar fardhu basuhan wudhu yang wajib hanyalah satu kali basuhan merata (marratan marratan)[5]; sedangkan membasuh tiga kali adalah sunnah mu'akkadah saat waktu masih lapang dan air mencukupi[24][30].
2. Anatomi & Dashboard Matrix: Peta Khilafiyah Ibnu Hajar vs Ar-Ramli dalam Bab Wudhu Fathul ‘Ali
Untuk memahami rincian hukum di dalam Bab Al-Wudhu' kitab Fathul ‘Ali (hlm. 75–89), tabel matriks berikut memetakan enam masalah utama beserta perbandingan fatwa Ibnu Hajar dan Ar-Ramli:
| No. | Masalah Fikih & Nomor Urut dalam Fathul ‘Ali | Pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami (Tuhfatul Muhtaj) | Pendapat Syamsuddin Ar-Ramli (Nihayatul Muhtaj) | Implikasi Praktis bagi Anak Muda & Mahasiswa |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Membasuh 3 Kali (Tatslits) Saat Waktu Salat Hampir Habis (Masih Cukup Seluruh Salat) — Mas'alah [16] (hlm. 75–76)[6] | Haram Mutlak (Haruma Qath'an): Jika berwudhu 1 kali basuhan membuat seluruh rakaat salat terlaksana di dalam waktu, sedangkan membasuh 3 kali membuat sebagian rakaat keluar waktu, maka haram membasuh 3 kali. | Sepakat Haram Mutlak: Keduanya sepakat bahwa menjaga seluruh bagian salat di dalam waktunya adalah fardhu yang tidak boleh dikorbankan demi mengejar sunnah tatslits wudhu. | Jika waktu Maghrib atau Subuh tinggal tersisa 4–5 menit, wajib mencukupkan wudhu 1 kali basuhan per rukun dan langsung salat; berdosa jika sengaja membasuh 3 kali[6][21][25]. |
| 2 | Membasuh 3 Kali Saat Waktu Tersisa Sangat Sempit (Tidak Cukup 1 Rakaat pun) — Mas'alah [17] (hlm. 77–78)[7] | Tetap Haram Membasuh 3 Kali: Walaupun waktu tersisa kurang dari 1 rakaat (misal tinggal 30 detik), tetap wajib wudhu 1 kali basuhan agar takbiratul ihram atau sebagian salat sempat masuk di dalam waktu. | Tidak Haram (Boleh Tatslits) jika Yakin Tidak Dapat 1 Rakaat: Karena batas idrakul waqt minimal adalah mendapatkan 1 rakaat penuh (HR. Bukhari-Muslim), maka jika kurang dari 1 rakaat salat sudah terhitung qadha. | Ketika waktu tersisa sekitar 1,5–2 menit (masih cukup untuk wudhu 1 kali + 1 rakaat), kedua imam sepakat 100% wajib wudhu 1 kali basuhan demi menyelamatkan status salat ada'[7][22][23]. |
| 3 | Membasuh Bagian Dalam Janggut & Cambang Pria (Al-Lihyah wal 'Idzar) — Mas'alah [18] (hlm. 79–80)[8] | Janggut Tebal Cukup Bagian Luar: Jika kulit di balik janggut tidak terlihat dari jarak bicara normal (majlisut takhathub), cukup basuh permukaan luarnya dan sunnah menyela-nyelanya. | Sepakat pada Janggut, Berbeda Rincian pada Cambang/Kumis Tebal: Keduanya sepakat bulu wajah yang tipis wajib dibasuh luar-dalam hingga air menyentuh kulit di bawahnya. | Bagi pemuda yang memelihara janggut tipis (stubble/goatee) atau alis, wajib memastikan air wudhu meresap hingga menyentuh kulit dagu dan pipi[8][29]. |
| 4 | Mengusap Ujung Rambut Gondrong/Keriting Saat Rukun Kepala — Mas'alah [19] (hlm. 81)[9] | Wajib di Dalam Batas Kepala (Haddur Ra's): Tidak sah mengusap ujung rambut panjang atau rambut keriting yang jika ditarik lurus keluar melewati batas tengkuk/bahu. | Sepakat Wajib di Dalam Batas Kepala: Keduanya sepakat bahwa usapan rukun keempat wudhu harus mengenai kulit kepala atau rambut yang berada di area batok kepala atas/depan. | Bagi pemuda berambut gondrong atau wanita berambut panjang yang digelung, saat mengusap kepala wajib mengusap bagian rambut di atas ubun-ubun/dahi, bukan ujung kuncir rambut[9][13]. |
| 5 | Benda Penghalang Air (Jirm Mani') & Kotoran di Bawah Kuku — Mas'alah [20] (hlm. 82–85)[10] | Wajib Dihilangkan Secara Mutlak: Lapisan lilin, cat, lem, kutek, maupun kotoran padat di bawah kuku yang menghalangi air menyentuh kulit wajib dibersihkan sebelum wudhu. | Sepakat Wajib pada Penghalang Kulit, Mencatat Rukhshah Al-Ghazali pada Kotoran Kuku Pekerja: Mencatat pendapat Imam Al-Ghazali yang memaafkan kotoran bawah kuku bagi pekerja kasar. | Bersihkan sisa cat lukis, lem, tipe-x, atau kutek sebelum wudhu; bagi mekanik/bengkel/petani yang kukunya sulit bersih total dari oli/tanah, terdapat kelapangan pendapat Al-Ghazali[10][18][27]. |
| 6 | Salep Padat / Lilin Obat di Celah Tumit Kaki yang Pecah-Pecah — Mas'alah [21] (hlm. 86–89)[11] | Wajib Dihilangkan Jika Tidak Membahayakan: Jika mencopot salep padat itu menimbulkan perih/bahaya medis, maka dihukumi seperti perban (jabirah): basuh sekitarnya dan tayammum. | Sepakat dengan Rincian Darurat Medis: Selama salepnya cair (duhn ma'i') yang meresap, tidak perlu dihilangkan; jika berupa lilin penutup luka yang perih bila dicabut, berlaku hukum jabirah. | Gunakan krim pelembap tumit yang berbasis air/emulsi cair agar meresap ke kulit tanpa menyumbat celah tumit dengan lapisan lilin padat[11][18]. |
3. Problematika Remaja & Generasi Modern: Sisa Tinta/Cat Praktikum, Pomade Rambut, & Salah Prioritas di Akhir Waktu
Dalam dinamika aktivitas harian pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda, terdapat empat kasus nyata seputar penghalang wudhu dan manajemen waktu salat yang sering menimbulkan kerancuan:
a. Sisa Tinta Pulpen, Spidol, dan Stempel Pemilu vs Tipe-X, Cat Akrilik, dan Lem Korea
Mahasiswa desain, teknik, maupun pelajar sering mendapati tangannya terkena noda tinta pulpen, spidol papan tulis, atau tinta celup pemilu, lalu ragu apakah wudhunya sah. Merujuk kaidah Hasyiyah Qalyubi (Juz 1, hlm. 56) dan Imta'ul Asma' (hlm. 30–31), para ulama membedakan secara tegas antara Al-Laun (sekadar pigmen warna tanpa ketebalan fisik) dan Al-Jirm (zat yang memiliki lempengan/kerak fisik kedap air). Bekas tinta pulpen, tinta stempel, atau pacar inai yang sudah mengering dan menyatu di pori kulit tanpa membentuk lapisan kerak tidak menghalangi air wudhu (wudhunya sah). Sebaliknya, cairan koreksi (tipe-x), cat minyak/akrilik, lem super (cyanoacrylate), dan kutek kuku membentuk kerak plastik kedap air (jirm mani') yang wajib dikelupas tuntas sebelum berwudhu[10][12][18].
b. Penggunaan Pomade Berat (Heavy Wax / Oil-Based Pomade) pada Rambut Pria
Banyak remaja pria menggunakan pomade berbasis lilin lebah pekat (heavy wax / petro-based pomade) yang membuat rambut kaku dan menolak air (water-repellent). Ketika berwudhu dan mengusap rambut yang tertutup lapisan lilin pomade tebal, air tidak menyentuh helai rambut melainkan tertahan di atas lapisan lilin. Solusi fikihnya: gunakan pomade berbasis air (water-based pomade) yang larut saat terkena air wudhu, atau saat berwudhu usaplah bagian kulit kepala di area pelipis/dahi atas yang tidak tertutup pomade tebal[9][14].
c. Paradoks Terlambat Salat: Sibuk Tatslits Wudhu Saat Matahari Hampir Terbenam
Sering kali seorang mahasiswa baru selesai praktikum atau baru terbangun dari tidur pukul 05.25 pagi (ketika waktu syuruq/terbit matahari pukul 05.28 pagi). Alih-alih berwudhu kilat 1 kali basuhan agar seluruh 2 rakaat Subuh terlaksana di dalam waktunya, ia justru berwudhu santai membasuh 3 kali setiap anggota tubuh hingga matahari terbit sebelum ia selesai salat. Dalam Mas'alah [16] Fathul ‘Ali (hlm. 75–76), Ibnu Hajar dan Ar-Ramli sepakat bahwa perbuatan membasuh 3 kali dalam kondisi waktu sempit seperti ini hukumnya haram dan berdosa[6][15][25].
d. Menggabungkan Niat Wudhu dengan Niat Cuci Muka Menyegarkan Ngantuk (Tabarrud)
Saat belajar malam atau bekerja di depan laptop, pemuda sering pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka agar segar dari kantuk sekaligus berwudhu. Apakah menggabungkan niat ibadah wudhu dengan niat menyegarkan badan (tabarrud) atau membersihkan debu wajah (tanzhif) merusak keikhlasan niat wudhu? Imam Jalaluddin Al-Mahalli dalam Kanzur Raghibin (hlm. 52–53) menegaskan bahwa menurut pendapat Ash-Shahih yang mu'tamad, penggabungan niat tersebut sah dan tidak merusak wudhu karena kesegaran dan kebersihan wajah memang otomatis tercapai ketika seseorang berwudhu[28].
4. Dekonstruksi Fikih Turats Mu'tamad: Bedah Kitab Induk Fathul ‘Ali & 5 Kitab Rujukan Penguat
Mari kita telaah kutipan asli (ibaroh) dari kitab Fathul ‘Ali beserta lima kitab rujukan penguatnya untuk melihat bagaimana ulama Mazhab Syafi'i membedah persoalan penghalang kulit dan batas waktu wudhu:
4.1. Kitab Induk Utama: Fathul ‘Ali bi Jam‘il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli — Karya Al-‘Allamah ‘Umar bin Hamid Bafaraj (1252–1274 H) & Syarah Dr. Syifa’ Muhammad Hasan Hitu
Dalam Mas'alah [16] (hlm. cetakan 75–76 [hlm. file PDF 75–76]) dan Mas'alah [20] (hlm. cetakan 82–85 [hlm. file PDF 82–85]), diuraikan ketetapan tegas mengenai keharaman tatslits saat waktu sempit serta kewajiban membersihkan penghalang kulit:
4.2. Kitab Penguat Pertama: Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh — Karya Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu
Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu dalam Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (hlm. cetakan 15–20 [hlm. file PDF 15–20]) menjelaskan dasar ushul fiqh dari Mas'alah [16] dan [20] Fathul ‘Ali melalui konsep Al-Wajib Al-Muwassa' (kewajiban berwaktu longgar yang berubah menjadi sempit di akhir waktu) serta kaidah Muqaddimatul Wajib:
4.3. Kitab Penguat Kedua: Imta‘ul Asma‘ fi Syarhi Matni Abi Syuja‘ — Karya Dr. Syifa’ Muhammad Hasan Hitu & Syaikh Mush‘ab Al-‘Akkari
Dalam Imta‘ul Asma‘ (hlm. cetakan 30–31 & 45–55 [hlm. file PDF 32–33 & 45–55]), diuraikan perbedaan antara penghalang inderawi (al-mani' al-hissi seperti lilin, lem, dan cat berketebalan) dengan bekas warna semata (seperti inai/tinta tipis), serta ditegaskan bahwa sunnah tatslits hanya disyariatkan selama waktu salat tidak menyempit[12][13].
4.4. Kitab Penguat Ketiga: Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi‘i — Karya Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha, & ‘Ali Asy-Syirbaji
Dalam Al-Fiqhul Manhaji Juz 1 (hlm. cetakan 53–59 [hlm. file PDF 53–59]), ditegaskan dua kondisi di mana membasuh wudhu lebih dari satu kali menjadi terlarang: pertama, ketika waktu salat hampir habis; dan kedua, ketika persediaan air sangat sedikit dan dibutuhkan untuk minum demi menyelamatkan nyawa[14][15].
4.5. Kitab Penguat Keempat & Kelima: Hasyiyah Qalyubi wa ‘Umairah & Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja (Beserta Fatawa An-Nawawi)
Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi dalam Hasyiyah-nya (Juz 1, hlm. cetakan 51–56 [hlm. file PDF 51–56]) dan Habib Ahmad Asy-Syathiri dalam Nailur Raja (hlm. cetakan 61–64 [hlm. file PDF 63–66]) merumuskan batas anatomis wajah (antara tempat tumbuh rambut kepala hingga ujung dagu bawah, dan antara dua anak telinga) serta mewajibkan pemeriksaan lipatan mata, sela jari, tumit, dan bawah kuku agar air wudhu merata sempurna[16][17][18][32].
5. SOP: Bagan Alur 4 Tahap Pemeriksaan Penghalang Kulit & Eksekusi Wudhu Sesuai Ketersediaan Waktu
Untuk memastikan wudhu Anda selalu sah secara fikih dan tepat sesuai kondisi waktu salat yang tersisa, terapkan Standard Operating Procedure (SOP) 4 tahap berbasis murni CSS berikut:
Sebelum memutar keran wudhu, periksa ujung jari, kuku, punggung tangan, dan wajah: kelupas sisa lem, tipe-x, cat akrilik, stiker, atau kutek; bersihkan kotoran padat di bawah kuku; dan pastikan ujung lengan baju digulung melewati siku (Nailur Raja, hlm. cetakan 62–64 [hlm. file PDF 64–66])[16][32].
Lihat jam sebelum berwudhu: Jika waktu salat masih lapang (lebih dari 15 menit), kerjakan seluruh sunnah wudhu mulai dari siwak, basmalah, berkumur, istinsyaq, hingga membasuh 3 kali (tatslits). Namun jika waktu salat tersisa kurang dari 5 menit, segera masuk ke Mode Wudhu Fardhu Cepat (Fathul ‘Ali, hlm. cetakan 75 [hlm. file PDF 75])[6][25].
Dalam kondisi waktu sempit, langsung pasang niat saat membasuh wajah 1 kali secara merata, basuh tangan kanan dan kiri hingga siku 1 kali, usap sebagian rambut di bagian atas kepala 1 kali, dan basuh kedua kaki hingga mata kaki 1 kali secara tertib; total waktu hanya 45 detik! (Imta'ul Asma', hlm. cetakan 45–46 [hlm. file PDF 45–46])[5][13].
Begitu selesai membasuh kaki, langsung menghadap kiblat dan bertakbiratul ihram tanpa menunda dengan dzikir panjang ba'da wudhu, demi mengamankan minimal satu rakaat penuh sebelum waktu berakhir sehingga salat Anda sah berstatus Ada' (Fathul ‘Ali, hlm. cetakan 77 [hlm. file PDF 77])[7][23].
6. Kaidah Ushul Fiqh & Kaidah Fikih seputar Rukun dan Sunnah Wudhu
Keputusan hukum Ibnu Hajar dan Ar-Ramli dalam Mas'alah [16]–[21] Fathul ‘Ali ditegakkan di atas empat kaidah ushul dan fikih utama:
1. Kaidah Pertama — مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ (Ma La Yatimmul Wajibu Illa bihi fahuwa Wajib): Suatu kewajiban yang tidak dapat sempurna kecuali dengan adanya suatu perantara, maka perantara tersebut hukumnya wajib. Membasuh kulit wajah, tangan, dan kaki adalah wajib; karena basuhan itu tidak mungkin sempurna tanpa menghilangkan kerak penghalang (jirm mani') dan tanpa melebihkan sedikit basuhan di atas siku dan mata kaki (ghurrah wa tahjil), maka menghilangkan penghalang tersebut hukumnya wajib mutlak (Hasyiyah Qalyubi, hlm. cetakan 54 [hlm. file PDF 54]; Al-Khulashah, hlm. cetakan 19 [hlm. file PDF 19])[17][26].
2. Kaidah Kedua — إِذَا تَزَاحَمَ الْوَاجِبُ وَالسُّنَّةُ قُدِّمَ الْوَاجِبُ قَطْعًا (Idza Tazahamal Wajibu was Sunnatu Quddimal Wajibu Qath'an): Apabila berbenturan antara tuntutan perkara wajib dan perkara sunnah dalam waktu yang terbatas, maka perkara wajib harus didahulukan secara mutlak. Menunaikan salat di dalam waktunya adalah wajib, sedangkan membasuh tiga kali (tatslits) dalam wudhu adalah sunnah; maka mendahulukan sunnah wudhu hingga mengorbankan waktu wajib salat adalah tindakan yang diharamkan (Fathul ‘Ali, hlm. cetakan 75 & 928 [hlm. file PDF 75 & 928])[6][31].
3. Kaidah Ketiga — الْمَيْسُورُ لَا يَسْقُطُ بِالْمَعْسُورِ (Al-Maysuru La Yasquthu bil Ma'sur): Perkara yang masih mampu dikerjakan tidak gugur kewajibannya hanya karena ada sebagian lain yang tidak mampu dikerjakan. Ketika waktu salat tinggal 1 menit (tidak cukup untuk seluruh 4 rakaat, namun cukup untuk wudhu 1 kali basuhan dan mendapatkan 1 rakaat), maka kewajiban menyelamatkan sebagian salat di dalam waktunya tidak gugur (Fathul ‘Ali, hlm. cetakan 77 [hlm. file PDF 77])[7].
4. Kaidah Keempat — الْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيرَ (Al-Masyaqqatu Tajlibut Taysir): Kesulitan mendatangkan kemudahan. Kaidah ini diterapkan pada pemaafan membasuh bagian dalam janggut pria yang tebal (Mas'alah [18]), pemaafan bekas warna tinta/inai yang tidak berketebalan fisik (laun bila jirm), serta rukhsah Imam Al-Ghazali mengenai kotoran di bawah kuku bagi pekerja kasar yang sangat kesulitan membersihkannya setiap waktu salat[8][10][27].
7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja: Solusi Cepat di Laboratorium, Bengkel, dan Perjalanan
Bagaimana seorang pelajar, mahasiswa teknik/seni, atau pekerja muda mengaplikasikan fatwa-fatwa wudhu dari kitab Fathul ‘Ali dalam rutinitas modern? Berikut empat panduan praktis:
- Rumus "Wudhu 1 Kali" Saat Darurat Kesiangan atau Macet Parah: Hafalkan dengan baik 6 rukun wajib wudhu (niat saat membasuh wajah, basuh wajah 1x, basuh tangan sampai siku 1x, usap sebagian kepala 1x, basuh kaki sampai mata kaki 1x, dan tertib). Ketika Anda terbangun kesiangan 3 menit sebelum waktu Subuh habis atau baru keluar ruang ujian beberapa menit sebelum Maghrib, langsung terapkan wudhu 1 kali basuhan ini. Wudhu Anda 100% sah dan Anda berhasil menyelamatkan salat tepat pada waktunya[5][6][13].
- Cara Cepat Membedakan Noda Aman vs Noda Penghalang di Tangan: Gunakan uji raba kuku: jika noda di tangan Anda (seperti tinta spidol, pena, kunyit, atau tinta pemilu) ketika diraba terasa rata menyatu dengan tekstur kulit dan tidak bisa dikelupas, maka itu hanyalah laun (warna) yang tidak menghalangi sahnya wudhu. Namun jika ketika digaruk kuku terasa ada lapisan yang mengganjal atau mengelupas (seperti lem kertas, tipe-x, cat tembok, atau lilin), maka itu adalah jirm yang wajib dikelupas sebelum wudhu[12][18].
- Kebiasaan Memotong Kuku Setiap Hari Jumat: Agar tidak pernah terjebak keraguan mengenai kotoran yang menyumbat di bawah kuku (wasakhul azhfar pada Mas'alah [20] Fathul ‘Ali), hidupkan sunnah memotong kuku secara rutin setiap hari Jumat. Dengan kuku yang pendek dan rapi, air wudhu pasti mengalir menyentuh seluruh ujung jari tanpa halangan[10][32].
- Perhatian Khusus pada Tumit Kaki dan Siku Saat Wudhu: Di tempat wudhu kampus atau kantor yang kerannya pendek, bagian belakang tumit kaki (al-a'qab) dan bagian belakang siku sering kali luput dari basuhan air. Biasakan menggosokkan telapak tangan ke bagian belakang siku dan tumit kaki saat air mengucur agar terhindar dari ancaman hadits meninggalkan bagian selebar kuku yang kering[4][32].
8. Self-Assessment Checklist: Evaluasi Keabsahan Wudhu & Manajemen Waktu Salat
Gunakan daftar evaluasi mandiri interaktif berikut untuk memastikan kualitas wudhu harian Anda selalu sah dan sesuai tuntunan kitab turats:
9. Catatan Kaki (Footnotes) Terperinci & Ibaroh Kitab Turats Terverifikasi
-
Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Ma'idah [5] ayat 6. Perintah qath'i membasuh wajah, kedua tangan hingga siku, mengusap sebagian kepala, dan membasuh kedua kaki hingga mata kaki yang menuntut sampainya air ke seluruh kulit tanpa penghalang; dirujuk dalam Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha, dan 'Ali Asy-Syirbaji, Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M, Juz 1, hlm. cetakan 53 [hlm. file PDF 53]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ﴾ ↑ Kembali ke Teks -
Al-Qur'an al-Karim, Surah An-Nisa' [4] ayat 103. Ketetapan bahwa salat memiliki batas waktu yang telah ditentukan secara mengikat (kitaban mawquta), sehingga haram mengulur basuhan sunnah wudhu hingga mengeluarkan salat dari waktunya; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 115 [hlm. file PDF 115]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا﴾ ↑ Kembali ke Teks -
Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Baqarah [2] ayat 222. Kecintaan Allah Ta'ala kepada hamba-hamba yang gemar bertaubat dan menjaga kesucian lahir-batin; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 27 [hlm. file PDF 27]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ﴾ ↑ Kembali ke Teks -
Muslim bin Al-Hajjaj, Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim), Kitabut Thaharah, Bab Wujubi Isti'abi Jami'i Ajza'i Mahallit Thaharah, no. 243 (dari sahabat 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu). Perintah Rasulullah SAW kepada seseorang yang meninggalkan basuhan selebar kuku di kakinya untuk kembali mengulang wudhu dan salatnya; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 55 [hlm. file PDF 55]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَجُلًا تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفْرٍ عَلَىٰ قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ» فَرَجَعَ ثُمَّ صَلَّى ↑ Kembali ke Teks -
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitabul Wudhu', Bab Al-Wudhu' Marratan Marratan, no. 157 (dari sahabat 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu 'anhuma). Dalil bahwa kadar wajib (fardhu) basuhan wudhu adalah satu kali, sedangkan basuhan kedua dan ketiga adalah sunnah; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 57 [hlm. file PDF 57]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: «تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّةً مَرَّةً» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, Al-'Allamah Asy-Syarif 'Umar bin Al-Habib Hamid Ba'alawi At-Tarimi (1252–1274 H), bersama syarah dan tahqiq oleh Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ath-Thaharah, Bab Al-Wudhu', Mas'alah [16]: Keharaman Membasuh Tiga Kali (Tatslits) Saat Waktu Salat Menyempit, hlm. cetakan 75–76 [hlm. file PDF 75–76]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٧٥ [PDF صَ ٧٥]): «[١٦] مَسْأَلَةٌ: إِذَا ضَاقَ الْوَقْتُ بِحَيْثُ لَوِ اقْتَصَرَ عَلَى الْفَرْضِ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ كُلَّهَا فِي الْوَقْتِ، وَلَوْ أَتَىٰ بِالسُّنَنِ كَالتَّثْلِيثِ خَرَجَ بَعْضُهَا عَنِ الْوَقْتِ، حَرُمَ التَّثْلِيثُ عِنْدَ ابْنِ حَجَرٍ وَالرَّمْلِيِّ تَقْدِيمًا لِمَصْلَحَةِ الْوَقْتِ الْوَاجِبِ عَلَىٰ سُنَّةِ الطَّهَارَةِ» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ath-Thaharah, Bab Al-Wudhu', Mas'alah [17]: Hukum Meninggalkan Sunnah Tatslits Saat Waktu Tersisa Hanya Cukup Satu Rakaat (Idrakul Waqt), hlm. cetakan 77–78 [hlm. file PDF 77–78]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٧٧ [PDF صَ ٧٧]): «[١٧] مَسْأَلَةٌ: إِذَا ضَاقَ الْوَقْتُ بِحَيْثُ لَا يُدْرِكُ رَكْعَةً فِي الْوَقْتِ إِلَّا بِالِاقْتِصَارِ عَلَى الْفَرْضِ فِي الْوُضُوءِ وَجَبَ الِاقْتِصَارُ قَطْعًا، فَإِنْ كَانَ لَا يُدْرِكُ رَكْعَةً أَصْلًا فَفِي حُرْمَةِ التَّثْلِيثِ خِلَافٌ بَيْنَ الشَّيْخَيْنِ؛ فَحَرَّمَهُ ابْنُ حَجَرٍ لِفَوَاتِ جُزْءٍ مِنَ الْوَقْتِ، وَأَبَاحَهُ الرَّمْلِيُّ إِذَا فَلَتَ الْوَقْتُ يَقِينًا» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ath-Thaharah, Bab Al-Wudhu', Mas'alah [18]: Hukum Membasuh Bagian Dalam Janggut dan Cambang yang Tebal (Al-Lihyah wal 'Idzar), hlm. cetakan 79–80 [hlm. file PDF 79–80]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٧٩ [PDF صَ ٧٩]): «[١٨] مَسْأَلَةٌ: اللِّحْيَةُ الْكَثِيفَةُ لِلرَّجُلِ يَكْفِي غَسْلُ ظَاهِرِهَا لِعُسْرِ إِيصَالِ الْمَاءِ إِلَىٰ بَاطِنِهَا، وَأَمَّا الْخَفِيفَةُ الَّتِي تُرَى الْبَشَرَةُ مِنْ خِلَالِهَا فِي مَجْلِسِ التَّخَاطُبِ فَيَجِبُ غَسْلُ ظَاهِرِهَا وَبَاطِنِهَا» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ath-Thaharah, Bab Al-Wudhu', Mas'alah [19]: Hukum Mengusap Sebagian Rambut Kepala yang Keluar dari Batas Kepala Jika Dijulurkan (Al-Madd), hlm. cetakan 81 [hlm. file PDF 81]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٨١ [PDF صَ ٨١]): «[١٩] مَسْأَلَةٌ: يُشْتَرَطُ فِي مَسْحِ الشَّعَرِ أَنْ لَا يَخْرُجَ عَنْ حَدِّ الرَّأْسِ بِالْمَدِّ مِنْ جِهَةِ نُزُولِهِ؛ فَلَوْ كَانَ مُتَجَعِّدًا لَوْ مُدَّ لَخَرَجَ لَمْ يَكْفِ الْمَسْحُ عَلَيْهِ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ath-Thaharah, Bab Al-Wudhu', Mas'alah [20]: Kewajiban Menghilangkan Benda Penghalang (Jirm Mani') di Kulit dan Kotoran di Bawah Kuku, hlm. cetakan 82–85 [hlm. file PDF 82–85]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٨٢ [PDF صَ ٨٢]): «[٢٠] مَسْأَلَةٌ: إِذَا كَانَ عَلَى عُضْوِ الْمُتَوَضِّئِ جِرْمٌ كَشَمْعٍ أَوْ دُهْنٍ جَامِدٍ أَوْ وَسَخٍ تَحْتَ ظُفْرٍ يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ إِلَى الْبَشَرَةِ وَجَبَتْ إِزَالَتُهُ قَطْعًا عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ، وَعَفَا الْغَزَالِيُّ وَجَمْعٌ عَنْ وَسَخِ الظُّفْرِ لِمَشَقَّةِ التَّفْتِيشِ عَنْهُ» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ath-Thaharah, Bab Al-Wudhu', Mas'alah [21]: Hukum Kulit Mengelupas (As-Sal'ah / Al-Qasyaf) dan Retakan Tumit Kaki yang Berisi Lilin/Obat, hlm. cetakan 86–89 [hlm. file PDF 86–89]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٨٦ [PDF صَ ٨٦]): «[٢١] مَسْأَلَةٌ: شُقُوقُ الرِّجْلَيْنِ إِنْ كَانَ فِيهَا شَمْعٌ أَوْ دَوَاءٌ جَامِدٌ يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ إِلَىٰ بَاطِنِ الشَّقِّ وَجَبَتْ إِزَالَتُهُ إِنْ لَمْ يَخَفْ ضَرَرًا، وَإِلَّا تَيَمَّمَ عَنْهُ كَالْجَبِيرَةِ» ↑ Kembali ke Teks -
Hitu, Dr. Syifa' Muhammad Hasan; & Al-'Akkari, Syaikh Mush'ab. Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF:
إِمْتَاعُ الْأَسْمَاعِ فِي شَرْحِ مَتْنِ أَبِي شُجَاعٍ.pdf), Beirut: Dar Al-Wafa', cet. 1, 1432 H / 2011 M, Kitab Ath-Thaharah, Bab Syuruthi Sihhatil Wudhu', hlm. cetakan 30–31 [hlm. file PDF 32–33]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٣٠–٣١ [PDF صَ ٣٢–٣٣]): «الرَّابِعُ: عَدَمُ الْمَانِعِ الْحِسِّيِّ أَوِ الشَّرْعِيِّ؛ فَالْحِسِّيُّ هُوَ: مَا كَانَ حَائِلًا لِجَرْيِ الْمَاءِ عَلَى الْعُضْوِ كَالشَّمْعِ وَالْغِرَاءِ وَالْأَصْبَاغِ ذَاتِ الْجِرْمِ... وَيَجِبُ إِزَالَةُ مَا تَحْتَ الْأَظَافِرِ مِنْ وَسَخٍ إِنْ كَانَ يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ» ↑ Kembali ke Teks -
Hitu, Dr. Syifa' Muhammad Hasan; & Al-'Akkari, Syaikh Mush'ab. Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF:
إِمْتَاعُ الْأَسْمَاعِ فِي شَرْحِ مَتْنِ أَبِي شُجَاعٍ.pdf), Beirut: Dar Al-Wafa', cet. 1, 1432 H / 2011 M, Kitab Ath-Thaharah, Bab Furudhil Wudhu' wa Sunanihi, hlm. cetakan 45–55 [hlm. file PDF 45–55]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٤٥–٤٦ [PDF صَ ٤٥–٤٦]): «وَفُرُوضُ الْوُضُوءِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: النِّيَّةُ عِنْدَ غَسْلِ الْوَجْهِ، وَغَسْلُ الْوَجْهِ، وَغَسْلُ الْيَدَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، وَمَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ، وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ، وَالتَّرْتِيبُ... وَمِنْ سُنَنِهِ التَّثْلِيثُ فِي الْمَغْسُولِ وَالْمَمْسُوحِ مَا لَمْ يَضِقْ وَقْتُ الصَّلَاةِ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Khin, Dr. Musthafa; Al-Bugha, Dr. Musthafa; Asy-Syirbaji, 'Ali. Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M, Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, Syuruthi Sihhatil Wudhu', hlm. cetakan 53–55 [hlm. file PDF 53–55]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٣–٥٤ [PDF صَ ٥٣–٥٤]): «شُرُوطُ صِحَّةِ الْوُضُوءِ: أَنْ يَكُونَ الْمَاءُ مُطْلَقًا... وَأَنْ لَا يَكُونَ عَلَى الْعُضْوِ حَائِلٌ يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ إِلَى الْبَشَرَةِ كَشَمْعٍ أَوْ دُهْنٍ جَامِدٍ أَوْ طِلَاءِ أَظَافِرَ، فَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ ذَٰلِكَ لَمْ يَصِحَّ الْوُضُوءُ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Khin, Dr. Musthafa; Al-Bugha, Dr. Musthafa; Asy-Syirbaji, 'Ali. Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M, Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, Sunanul Wudhu' wa Hukmut Tatslits, hlm. cetakan 56–59 [hlm. file PDF 56–59]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٦–٥٨ [PDF صَ ٥٦–٥٨]): «وَمِنْ سُنَنِ الْوُضُوءِ تَثْلِيثُ الْغَسْلِ وَالْمَسْحِ... وَيُكْرَهُ الزِّيَادَةُ عَلَى الثَّلَاثِ وَالنَّقْصُ عَنْهَا إِلَّا لِعُذْرٍ كَضِيقِ الْوَقْتِ أَوْ قِلَّةِ الْمَاءِ، فَيَجِبُ الِاقْتِصَارُ عَلَى الْمَرَّةِ الْوَاحِدَةِ الْوَاجِبَةِ وَيَحْرُمُ التَّثْلِيثُ» ↑ Kembali ke Teks -
Asy-Syathiri, Al-Habib Ahmad bin 'Umar (1312–1360 H). Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja (berkas PDF:
نَيْلُ الرَّجَاءِ بِشَرْحِ سَفِينَةِ النَّجَاءِ.pdf), Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 3, 1428 H / 2007 M, Fashl fi Syuruthil Wudhu', hlm. cetakan 61–64 [hlm. file PDF 63–66]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٦٢ [PDF صَ ٦٤]): «وَأَنْ لَا يَكُونَ عَلَى الْعُضْوِ مَا يُغَيِّرُ الْمَاءَ تَغَيُّرًا ضَارًّا، وَأَنْ لَا يَكُونَ عَلَيْهِ مَا يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ إِلَى الْبَشَرَةِ كَشَمْعٍ وَدُهْنٍ جَامِدٍ وَعَيْنِ حِبْرٍ وَطِلَاءٍ يَسْتَبْطِنُ الْجِلْدَ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah. Hasyiyah Qalyubi 'ala Syarhil Jalal Al-Mahalli (berkas PDF:
Noor-Book.com 4246 حَاشِيَتَا قَلْيُوبِي وَعُمَيْرَةَ ١.pdf), Beirut: Dar Al-Fikr, 1415 H / 1995 M, Juz 1, Bab Al-Wudhu', hlm. cetakan 51 & 54 [hlm. file PDF 51 & 54]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٤ [PDF صَ ٥٤]): «وَالْقَاعِدَةُ الْفِقْهِيَّةُ: مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ؛ فَلَمَّا كَانَ غَسْلُ الْوَجْهِ وَالْيَدَيْنِ وَاجِبًا لَا يَتِمُّ إِلَّا بِإِزَالَةِ مَا يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ إِلَيْهِمَا، وَجَبَتْ إِزَالَتُهُ قَطْعًا» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah. Hasyiyah Qalyubi 'ala Syarhil Jalal Al-Mahalli (berkas PDF:
Noor-Book.com 4246 حَاشِيَتَا قَلْيُوبِي وَعُمَيْرَةَ ١.pdf), Beirut: Dar Al-Fikr, 1415 H / 1995 M, Juz 1, Bab Al-Wudhu', Perbedaan Jirm Mani' dan Laun/Duhn Ma'i', hlm. cetakan 56 [hlm. file PDF 56]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٦ [PDF صَ ٥٦]): «وَيَجِبُ إِزَالَةُ مَا عَلَيْهِمَا مِنْ نَحْوِ جِرْمٍ كَشَمْعٍ يَمْنَعُ وُصُولَ الْمَاءِ، وَلَا يَضُرُّ لَوْنُ نَحْوِ صِبَاغٍ وَلَا دُهْنٍ مَائِعٍ لَا جِرْمَ لَهُ إِذَا جَرَى الْمَاءُ عَلَى الْعُضْوِ، وَيَجِبُ إِزَالَةُ نَحْوِ قَشَفٍ مَيِّتٍ وَمَا تَحْتَ ظُفْرٍ مِنْ وَسَخٍ يَمْنَعُ الْمَاءَ» ↑ Kembali ke Teks -
An-Nawawi, Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf (631–676 H). Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammat bil Masa'il al-Mantsurah (berkas PDF:
فَتَاوَى الْإِمَامِ النَّوَوِيِّ الْمُسَمَّاةُ بِالْمَسَائِلِ الْمَنْثُورَةِ.pdf), Beirut: Mu'assasah Ar-Risalah, cet. 6, 1417 H / 1996 M, Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah no. 8 & 12, hlm. cetakan 6 & 8 [hlm. file PDF 29 & 31]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٨ [PDF صَ ٣١]): «مَسْأَلَةٌ: إِذَا تَوَضَّأَ وَعَلَىٰ جَسَدِهِ طِيبٌ أَوْ مَاءُ وَرْدٍ فَلَا يَضُرُّ إِذَا لَمْ يُغَيِّرِ الْمَاءَ تَغَيُّرًا يَمْنَعُ اسْمَهُ، وَأَمَّا الدُّهُونُ الْخَفِيفَةُ فَمَعْفُوٌّ عَنْهَا» ↑ Kembali ke Teks - An-Nawawi, Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab, Kairo: Idarah At-Thiba'ah Al-Muniriyyah, Juz 1, Bab Al-Wudhu', hlm. cetakan 287–289 [hlm. file PDF 295–297]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «إِذَا كَانَ عَلَى بَعْضِ أَعْضَائِهِ شَمْعٌ أَوْ عَجِينٌ أَوْ حِنَّاءٌ وَأَشْبَاهُ ذَٰلِكَ فَمَنَعَ وُصُولَ الْمَاءِ إِلَى شَيْءٍ مِنَ الْعُضْوِ لَمْ تَصِحَّ طَهَارَتُهُ سَوَاءٌ أَكْثَرَ ذَٰلِكَ أَمْ قَلَّ، وَإِنْ بَقِيَ عَلَى الْيَدِ وَغَيْرِهَا أَثَرُ الْحِنَّاءِ وَلَوْنُهُ دُونَ عَيْنِهِ صَحَّتْ طَهَارَتُهُ» ↑ Kembali ke Teks
- Ibnu Hajar Al-Haitami, Syihabuddin Ahmad bin Muhammad. Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj, Kairo: Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubra, Juz 1, Bab Al-Wudhu', hlm. cetakan 224–228 [hlm. file PDF 230–234]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «(وَالتَّثْلِيثُ سُنَّةٌ) مَا لَمْ يَضِقِ الْوَقْتُ أَوْ يَقِلَّ الْمَاءُ؛ فَإِنْ ضَاقَ الْوَقْتُ حَرُمَ التَّثْلِيثُ قَطْعًا لِأَنَّ إِيقَاعَ الصَّلَاةِ كُلِّهَا فِي الْوَقْتِ فَرْضٌ فَلَا يُفَوَّتُ بِسُنَّةٍ» ↑ Kembali ke Teks
- Ar-Ramli, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad. Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, Beirut: Dar Al-Fikr, 1404 H / 1984 M, Juz 1, Bab Al-Wudhu', hlm. cetakan 180–185 [hlm. file PDF 188–193]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «يَحْرُمُ التَّثْلِيثُ عِنْدَ ضِيقِ الْوَقْتِ إِنْ أَمْكَنَ إِدْرَاكُ رَكْعَةٍ فِي الْوَقْتِ بِالِاقْتِصَارِ عَلَى الْمَرَّةِ الْوَاحِدَةِ، وَكَذَا إِذَا احْتَاجَ إِلَى الْمَاءِ لِعَطَشٍ» ↑ Kembali ke Teks
-
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitabul Mawaqit, Bab Man Adraka Rak'atan minash Shalah, no. 580; dan Muslim, no. 608 (dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Hadits bahwa barangsiapa mendapatkan satu rakaat sebelum keluarnya waktu, maka ia telah mendapatkan salat ada'; dirujuk dalam Fathul ‘Ali (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), hlm. cetakan 77 [hlm. file PDF 77]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلَاةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ» ↑ Kembali ke Teks -
Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani. Sunan Abi Dawud, Kitabut Thaharah, Bab Fil Israf fil Ma', no. 135; dan An-Nasa'i, no. 140 (dari sahabat 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya radhiyallahu 'anhum; hadits hasan-shahih). Larangan menambah basuhan wudhu melebihi tiga kali; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 58 [hlm. file PDF 58]. نَصُّ الْحَدِيثِ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ أَنْ تَوَضَّأَ ثَلَاثًا ثَلَاثًا: «هٰكَذَا الْوُضُوءُ، فَمَنْ زَادَ عَلَىٰ هٰذَا أَوْ نَقَصَ فَقَدْ أَسَاءَ وَظَلَمَ» ↑ Kembali ke Teks -
Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF:
الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ.pdf), Kuwait: Dar Adh-Dhiya', cet. 1, 1427 H / 2006 M, Bab Al-Wajib Al-Muwassa' wal Mudhayyaq, hlm. cetakan 15–18 [hlm. file PDF 15–18]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٦ [PDF صَ ١٦]): «وَالْوَاجِبُ الْمُوَسَّعُ كَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ إِذَا ضَاقَ وَقْتُهُ بِحَيْثُ لَمْ يَبْقَ إِلَّا قَدْرُ فِعْلِ الصَّلَاةِ انْقَلَبَ مُضَيَّقًا، فَحَرُمَ الِاشْتِغَالُ بِغَيْرِهِ وَلَوْ كَانَ سُنَّةً كَتَثْلِيثِ الْوُضُوءِ» ↑ Kembali ke Teks -
Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF:
الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ.pdf), Kuwait: Dar Adh-Dhiya', cet. 1, 1427 H / 2006 M, Bab Muqaddimatul Wajib (Kaidah Ma La Yatimmul Wajibu Illa bihi fahuwa Wajib), hlm. cetakan 19–20 [hlm. file PDF 19–20]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٩ [PDF صَ ١٩]): «مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ الْمُطْلَقُ إِلَّا بِهِ وَهُوَ مَقْدُورٌ لِلْمُكَلَّفِ فَهُوَ وَاجِبٌ؛ كَغَسْلِ جُزْءٍ مِنَ الرَّأْسِ وَالرَّقَبَةِ لِيَتَحَقَّقَ غَسْلُ جَمِيعِ الْوَجْهِ الْوَاجِبِ، وَكَإِزَالَةِ الْحَائِلِ عَنْ أَعْضَاءِ الْوُضُوءِ» ↑ Kembali ke Teks - Al-Bakri Asy-Syatha, As-Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi. I'anatuth Thalibin 'ala Halli Alfazhi Fathil Mu'in, Beirut: Dar Al-Fikr, 1418 H / 1997 M, Juz 1, Bab Al-Wudhu', Hukum Kotoran Kuku bagi Pekerja Kasar/Petani/Mekanik, hlm. cetakan 35–37 [hlm. file PDF 45–47]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَاخْتَارَ الْغَزَالِيُّ وَالْأَذْرَعِيُّ وَجَمْعٌ الْعَفْوَ عَمَّا تَحْتَ الْأَظْفَارِ مِنَ الْوَسَخِ الْمَانِعِ لِوُصُولِ الْمَاءِ وَلَا سِيَّمَا فِي حَقِّ أَرْبَابِ الصَّنَائِعِ وَالْحِرَفِ الَّذِينَ يَشُقُّ عَلَيْهِمْ تَكْرَارُ تَنْقِيَتِهَا فِي كُلِّ وُضُوءٍ» ↑ Kembali ke Teks
-
Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli. Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin bersama Hasyiyah Qalyubi (berkas PDF:
Noor-Book.com 4246 حَاشِيَتَا قَلْيُوبِي وَعُمَيْرَةَ ١.pdf), Beirut: Dar Al-Fikr, 1415 H / 1995 M, Juz 1, Bab Al-Wudhu', Hukum Menggabungkan Niat Menyegarkan Diri (Tabarrud) dan Membersihkan Wajah (Tanzhif), hlm. cetakan 52–53 [hlm. file PDF 52–53]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٢ [PDF صَ ٥٢]): «وَمَنْ نَوَىٰ تَبَرُّدًا أَوْ تَنْظِيفًا مَعَ نِيَّةٍ مُعْتَبَرَةٍ لِلْوُضُوءِ جَازَ عَلَى الصَّحِيحِ لِحُصُولِهِ مِنْ غَيْرِ نِيَّةٍ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli. Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin bersama Hasyiyah Qalyubi (berkas PDF:
Noor-Book.com 4246 حَاشِيَتَا قَلْيُوبِي وَعُمَيْرَةَ ١.pdf), Beirut: Dar Al-Fikr, 1415 H / 1995 M, Juz 1, Bab Al-Wudhu', Batas Wajah dan Kewajiban Membasuh Bulu Wajah, hlm. cetakan 54–55 [hlm. file PDF 54–55]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٤ [PDF صَ ٥٤]): «وَالْوَجْهُ مَا بَيْنَ مَنَابِتِ شَعَرِ رَأْسِهِ غَالِبًا وَمُنْتَهَىٰ لَحْيَيْهِ طُولًا، وَمَا بَيْنَ أُذُنَيْهِ عَرْضًا؛ وَيَجِبُ غَسْلُ كُلِّ هُدْبٍ وَحَاجِبٍ وَعِذَارٍ وَشَارِبٍ وَخَدٍّ وَعَنْفَقَةٍ شَعَرًا وَبَشَرًا» ↑ Kembali ke Teks -
Muslim bin Al-Hajjaj, Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim), Kitabut Thaharah, Bab Fadhlil Wudhu', no. 246 (dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Keutamaan menyempurnakan basuhan wudhu hingga memancarkan cahaya (ghurran muhajjalin) pada hari kiamat; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 56 [hlm. file PDF 56]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Khatimatul Kitab (Prioritas Menjaga Fardhu di Atas Sunnah), hlm. cetakan 927–930 [hlm. file PDF 927–930]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٩٢٨ [PDF صَ ٩٢٨]): «وَمِنَ الْقَوَاعِدِ الْمُقَرَّرَةِ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ تَقْدِيمُ الْفَرْضِ الْمُضَيَّقِ عَلَى السُّنَّةِ عِنْدَ التَّزَاحُمِ، فَلَا يَجُوزُ تَفْوِيتُ الْوَاجِبِ لِتَحْصِيلِ الْمَنْدُوبِ» ↑ Kembali ke Teks -
Asy-Syathiri, Al-Habib Ahmad bin 'Umar. Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja (berkas PDF:
نَيْلُ الرَّجَاءِ بِشَرْحِ سَفِينَةِ النَّجَاءِ.pdf), Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 3, 1428 H / 2007 M, Fashl fi Furudhil Wudhu', hlm. cetakan 64 [hlm. file PDF 66]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٦٤ [PDF صَ ٦٦]): «فَيَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ تَفَقُّدُ أَعْضَاءِ الْوُضُوءِ وَلَا سِيَّمَا الْمَآقِي وَالْأَعْقَابَ وَمَا تَحْتَ الْأَظْفَارِ لِتَحَقُّقِ وُصُولِ الْمَاءِ إِلَىٰ جَمِيعِ الْبَشَرَةِ» ↑ Kembali ke Teks
10. Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)
- Abu Dawud, Al-Imam Sulaiman bin Al-Asy‘ats As-Sijistani. (275 H). Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Al-Kitab Al-‘Arabi. — سُنَنُ أَبِي دَاوُدَ لِلْإِمَامِ سُلَيْمَانَ بْنِ الْأَشْعَثِ السِّجِسْتَانِيِّ.
- Al-Bakri Asy-Syatha, As-Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi. (1310 H). I'anatuth Thalibin 'ala Halli Alfazhi Fathil Mu'in. Beirut: Dar Al-Fikr, 1418 H / 1997 M. — إِعَانَةُ الطَّالِبِينَ عَلَىٰ حَلِّ أَلْفَاظِ فَتْحِ الْمُعِينِ.
- Al-Bukhari, Al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma‘il. (256 H). Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Al-Mathba‘ah As-Salafiyyah. — صَحِيحُ الْبُخَارِيِّ لِلْإِمَامِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْبُخَارِيِّ.
- Al-Haitami, Syaikhul Islam Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali Ibnu Hajar. (974 H). Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj. Kairo: Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubra. — تُحْفَةُ الْمُحْتَاجِ بِشَرْحِ الْمِنْهَاجِ لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ حَجَرٍ الْهَيْتَمِيِّ.
- Al-Khin, Dr. Musthafa; Al-Bugha, Dr. Musthafa; Asy-Syirbaji, ‘Ali. (1413 H / 1992 M). Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi‘i. Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, Juz 1. — الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ عَلَىٰ مَذْهَبِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ.
- Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah; & ‘Umairah, Syaikh Ahmad Al-Burullusi. (1069 H / 1995 M). Hasyiyata Qalyubi wa ‘Umairah ‘ala Kanzir Raghibin Syarh Minhajith Thalibin. Beirut: Dar Al-Fikr, 1415 H / 1995 M. — حَاشِيَتَا قَلْيُوبِي وَعُمَيْرَةَ عَلَىٰ شَرْحِ الْجَلَالِ الْمَحَلِّيِّ.
- An-Nawawi, Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. (676 H / 1996 M). Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammat bil Masa'il al-Mantsurah. Beirut: Mu'assasah Ar-Risalah, cet. 6, 1417 H / 1996 M. — فَتَاوَى الْإِمَامِ النَّوَوِيِّ الْمُسَمَّاةُ بِالْمَسَائِلِ الْمَنْثُورَةِ.
- Ar-Ramli, Syamsuddin Muhammad bin Abi Al-‘Abbas Ahmad bin Hamzah. (1004 H). Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj. Beirut: Dar Al-Fikr, 1404 H / 1984 M. — نِهَايَةُ الْمُحْتَاجِ إِلَىٰ شَرْحِ الْمِنْهَاجِ لِلْإِمَامِ شَمْسِ الدِّينِ الرَّمْلِيِّ.
- Asy-Syathiri, Al-Habib Ahmad bin ‘Umar. (1360 H / 2007 M). Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja. Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 3, 1428 H / 2007 M. — نَيْلُ الرَّجَاءِ بِشَرْحِ سَفِينَةِ النَّجَاءِ لِلسَّيِّدِ أَحْمَدَ بْنِ عُمَرَ الشَّاطِرِيِّ.
- Bafaraj, Al-‘Allamah Asy-Syarif ‘Umar bin Al-Habib Hamid Ba‘alawi At-Tarimi; & Hitu, Dr. Syifa’ Muhammad Hasan. (1274 H / 2010 M). Fathul ‘Ali bi Jam‘il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli. Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M. — فَتْحُ الْعَلِيِّ بِجَمْعِ الْخِلَافِ بَيْنَ ابْنِ حَجَرٍ وَابْنِ الرَّمْلِيِّ.
- Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. (1427 H / 2006 M). Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh. Kuwait: Dar Adh-Dhiya', cet. 1. — الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ لِلْأُسْتَاذِ الدُّكْتُورِ مُحَمَّدٍ حَسَنٍ هِيتُو.
- Hitu, Dr. Syifa’ Muhammad Hasan; & Al-‘Akkari, Syaikh Mush‘ab. (1432 H / 2011 M). Imta‘ul Asma‘ fi Syarhi Matni Abi Syuja‘. Beirut: Dar Al-Wafa', cet. 1. — إِمْتَاعُ الْأَسْمَاعِ فِي شَرْحِ مَتْنِ أَبِي شُجَاعٍ.
- Muslim, Al-Imam Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi. (261 H). Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim). Kairo: Dar Ihya' Al-Kutub Al-‘Arabiyyah. — صَحِيحُ مُسْلِمٍ لِلْإِمَامِ مُسْلِمِ بْنِ الْحَجَّاجِ الْقُشَيْرِيِّ.