Fikih Air & Kesucian Toilet Umum: Hukum Cipratan Tak Kasat Mata, Air Tandon Berubah, dan Serangga di Air Wudhu dalam Fathul ‘Ali
Solusi Fatwa Komparatif Ibnu Hajar dan Ar-Ramli Mengenai Air Sedikit di Ember Kos yang Terkena Percikan Najis Mikroskopis, Bangkai Serangga Tak Berdarah Mengalir, serta Perubahan Air Tandon
Daftar Isi Kajian Ilmiah-Populer Klik untuk Buka/Tutup
- 1. Hakikat Kesucian Air & Fondasi Syariat: Menepis Waswas di Toilet Umum
- 2. Anatomi & Dashboard Matrix: Peta Khilafiyah Air & Najis Ma'fu dalam Fathul ‘Ali
- 3. Problematika Remaja & Modern: Ember Kecil, Cipratan Kloset, & Air Tandon
- 4. Dekonstruksi Fikih Turats Mu'tamad: Bedah Fathul ‘Ali & 5 Kitab Rujukan Penguat
- 5. SOP: Bagan Alur 4 Tahap Menilai Kesucian Air & Bersuci Aman Tanpa Waswas
- 6. Kaidah Ushul Fiqh & Kaidah Fikih Kesucian Air dan Pemaafan Najis
- 7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja di Kos, Kampus, & Perjalanan
- 8. Self-Assessment Checklist: Evaluasi Ketepatan Fikih Air & Kebebasan Waswas
- 9. Catatan Kaki Terperinci (32 Footnotes Terverifikasi Cetakan & PDF)
- 10. Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)
Hukum asal segala air adalah suci dan menyucikan hingga terbukti secara yakin adanya perubahan sifat oleh najis. Melalui komparasi fatwa Ibnu Hajar dan Ar-Ramli pada bab awal Fathul ‘Ali, ditegaskan bahwa perubahan air karena lumut tandon, jalur pipa, atau garam air tidak merusak kemutlakan air; demikian pula percikan najis mikroskopis yang tidak tertangkap pandangan mata normal (la yudrikuha ath-tharfu) serta bangkai serangga tak berdarah mengalir (nyamuk, semut, lalat) yang jatuh ke dalam ember air sedikit dimaafkan oleh syariat demi membebaskan umat dari kesempitan dan bahaya waswas.
1. Hakikat Kesucian Air & Fondasi Syariat: Menepis Waswas di Toilet Umum dan Kamar Mandi Kos
Bagi generasi muda yang beraktivitas padat di lingkungan kampus, gedung perkantoran, stasiun kereta, hingga kamar kos, fasilitas kamar mandi dan tempat wudhu bersama adalah ruang yang dikunjungi setiap hari. Di tempat-tempat tersebut, kita kerap berhadapan dengan ember penampungan air berukuran kecil (kurang dari dua kulah), gayung plastik yang dipakai bergantian, tandon air yang berlumut atau berbau kaporit tipis, hingga jatuhnya nyamuk atau semut ke dalam bak air wudhu. Tanpa pemahaman fikih thaharah yang kokoh dan proporsional, banyak pemuda terjerumus ke dalam penyakit waswas (keraguan obsesif): menghabiskan berember-ember air karena takut gayungnya terkena cipratan najis mikroskopis, atau ragu apakah air tandon yang sedikit berubah warna karena pipa besi masih sah dipakai berwudhu.
Di sinilah kitab monumental Fathul ‘Ali bi Jam‘il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli karya Al-‘Allamah Asy-Syarif ‘Umar bin Hamid Bafaraj Ba‘alawi (dengan syarah dan tahqiq Dr. Syifa’ Muhammad Hasan Hitu) membuka bab pertamanya dengan membedah secara tajam persoalan-persoalan air dan najis yang dimaafkan (ma'fuwwat). Melalui komparasi argumen antara Syaikhul Islam Ibnu Hajar Al-Haitami (dalam Tuhfatul Muhtaj) dan Syamsuddin Muhammad Ar-Ramli (dalam Nihayatul Muhtaj) pada Mas'alah [1] hingga Mas'alah [14] (hlm. 37–74), tersingkap betapa luasnya rahmat dan kemudahan syariat Islam dalam menjaga kesucian ibadah tanpa membebani umat dengan tuntutan yang mustahil[6][8][9].
Fondasi syariat mengenai kesucian mutlak air yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah Al-Furqan ayat 48:
Lebih jauh lagi, dalam Surah Al-Anfal ayat 11, Allah Ta'ala mengaitkan langsung fungsi air penyuci dengan terangkatnya gangguan bisikan setan (rijzasy syaithan), yang oleh para mufassir dan fuqaha ditafsirkan mencakup gangguan waswas dalam bersuci:
Seluruh bangunan hukum kemurnian air dan pengecualian najis yang sulit dihindari berdiri di atas prinsip peniadaan kesukaran dalam Surah Al-Hajj ayat 78:
Dalam Sunnah Nabawiyyah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan parameter kuantitatif kesucian air melalui hadits masyhur tentang batas dua kulah (qullatain, setara ±190–216 liter) dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:
Demikian pula tentang serangga yang mati di dalam wadah air atau minuman, Rasulullah SAW menetapkan bahwa bangkai serangga yang tidak memiliki darah mengalir (seperti lalat, nyamuk, semut, lebah) tidak menajiskan cairan tempat ia jatuh, sebagaimana hadits sahih riwayat Imam Al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu[5]; serta memperingatkan umatnya sebanyak tiga kali agar menjauhi sikap berlebih-lebihan dan mencari-cari keraguan: "Halakal mutanaththi'un" (Celakalah orang-orang yang mempersulit diri dan melampaui batas)[27][28].
2. Anatomi & Dashboard Matrix: Peta Khilafiyah Ibnu Hajar vs Ar-Ramli Seputar Air & Najis Ma'fu dalam Fathul ‘Ali
Tabel matriks komparatif berikut memetakan tujuh masalah spesifik dari bab awal Kitab Ath-Thaharah di dalam kitab Fathul ‘Ali (hlm. 37–72) beserta solusi praktisnya bagi keseharian pemuda di kamar kos, masjid kampus, dan toilet umum:
| No. | Masalah Fikih & Nomor Urut dalam Fathul ‘Ali | Pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami (Tuhfatul Muhtaj) | Pendapat Syamsuddin Ar-Ramli (Nihayatul Muhtaj) | Solusi Praktis di Kamar Kos, Kampus, & Toilet Umum |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Air Berubah karena Garam Air (Al-Milhul Ma'i) yang Dimasukkan Sengaja — Mas'alah [1] (hlm. 37–40)[6] | Tetap Suci-Menyucikan (Thahur): Tidak merusak kemutlakan air walaupun dimasukkan sengaja dan mengubah sifat air, karena garam air berasal dari pembekuan air itu sendiri (seperti tanah). | Suci Namun Tidak Menyucikan (Thahir Ghairu Muthahhir): Jika dimasukkan secara sengaja hingga mengubah sifat air secara mencolok dan menghilangkan nama air mutlak, tidak sah untuk wudhu. | Air sumur bor di kos pesisir yang terasa payau/asin alami disepakati 100% sah untuk wudhu oleh kedua imam; pendapat Ibnu Hajar memberi kelapangan tambahan saat air diberi mineral garam air[6][23]. |
| 2 | Air Tandon/Kolam Berubah karena Lumut atau Daun Pohon — Mas'alah [2] (hlm. 41–43)[7] | Tetap Suci-Menyucikan (Thahur): Selama lumut tumbuh sendiri di dasar/dinding tandon atau daun gugur alami tanpa ditumbuk lalu dilempar sengaja. | Tetap Suci-Menyucikan (Thahur): Sepakat bahwa perubahan air karena lumut tandon, karat pipa, atau zat di jalur aliran air (mamarrul ma') tidak merusak kesucian air. | Air tandon kos atau masjid yang agak kehijauan karena lumut dinding tandon atau agak kekuningan karena pipa besi tetap sah dipakai wudhu dan mandi wajib[7][14][21]. |
| 3 | Percikan Najis Tak Kasat Mata (La Yudrikuha Ath-Tharfu) pada Ember Air Sedikit — Mas'alah [3] (hlm. 44–46)[8] | Dimaafkan dengan Syarat: Dimaafkan pada pakaian dan air sedikit selama bukan najis mughallazhah (anjing/babi) dan tidak terjadi akibat perbuatan sengaja mukallaf. | Dimaafkan Secara Mutlak (Ma'fu Muthlaqan): Percikan halus mikroskopis yang tidak tertangkap mata normal dimaafkan pada pakaian, badan, dan ember air sedikit secara mutlak demi menolak haraj. | Saat bercebok atau berwudhu di toilet umum yang sempit, jangan pernah menguras ember hanya karena curiga ada aerosol/percikan mikroskopis tak terlihat mata; air di ember tetap suci[8][20][24]. |
| 4 | Bangkai Nyamuk, Semut, atau Lalat di Dalam Ember Air Wudhu — Mas'alah [4] & [5] (hlm. 47–51)[9] | Dimaafkan (Air Tetap Suci): Selama serangga tersebut jatuh sendiri (tidak dilempar sengaja) dan tidak mengubah bau/rasa/warna air; bahkan tetap dimaafkan jika terseret gayung saat mengambil air. | Dimaafkan dengan Kelapangan Lebih Luas: Bahkan jika bangkai serangga tak berdarah mengalir itu disentuh atau terseret gayung berulang kali saat mengambil air wudhu, tetap dimaafkan selama tidak mengubah sifat air. | Jika di dalam ember kamar mandi kos terdapat bangkai nyamuk, semut, atau laron yang mati tenggelam, cukup singkirkan bangkainya dan air ember tersebut 100% sah dipakai berwudhu[5][9][18]. |
| 5 | Kucing Peliharaan Menjilati Air di Ember Setelah Memakan Tikus/Najis — Mas'alah [6] (hlm. 52–54)[10] | Air Tetap Suci jika Kucing Sempat Menghilang (Ghabat): Jika kucing sempat pergi ke luar dan mungkin telah minum di kolam/selokan besar, maka mulutnya dihukumi suci kembali saat menjilat ember. | Sepakat Air Tetap Suci (Dengan Rincian Kemungkinan): Keduanya memenangkan hukum asal kesucian air selama ada kemungkinan mulut kucing telah bersih sebelum menjilat air ember. | Bagi anak muda pencinta kucing (cat lovers), air di ember kamar mandi yang dijilat kucing peliharaan tidak menjadi najis selama tidak terlihat sisa darah/najis nyata di mulutnya[10][22]. |
| 6 | Aliran Air Keran / Selang (Al-Ma'ul Jari) saat Menyentuh Lantai Bernajis — Mas'alah [7] (hlm. 55–56)[11] | Tiap Gelombang Aliran (Jaryah) Diukur Sendiri: Air yang masih mengucur dari keran/selang di atas tetap suci mutlak dan menyucikan lantai bernajis yang dilewatinya. | Sepakat Aliran Atas Tetap Suci: Selama air mengucur dari keran (warid) ke atas anggota tubuh atau lantai yang disucikan, maka cucuran air keran tersebut menyucikan objek di bawahnya. | Menyiram kaki atau lantai kamar mandi menggunakan keran pancuran (shower) atau gayung dari atas langsung menyucikan bagian bawah tanpa perlu bak dua kulah[11][15]. |
| 7 | Istinja' dengan Tisu Kering (Qiyas Batu) di Toilet Modern — Mas'alah [12]–[14] (hlm. 66–72)[13] | Sah dengan Syarat: Tisu harus kering, suci, kesat mengangkat najis, minimal 3 kali usapan hingga bersih, dan najis belum kering atau melebar keluar tempat keluarnya. | Sah dengan Rincian Serupa: Keduanya sepakat bahwa tisu toilet yang tebal dan kesat menempati kedudukan batu (al-hajar) saat darurat ketiadaan air atau digabung sebelum air. | Saat berada di toilet mal, kereta, atau bandara yang klosetnya tidak memiliki jet washer, sah beristinja' menggunakan tisu kering minimal 3 lembar usapan hingga bersih sempurna[13][15]. |
3. Problematika Remaja & Generasi Modern: Sindrom Takut Ember Kecil, Keraguan Cipratan Toilet, & Kaporit PDAM
Di tengah kehidupan urban mahasiswa dan pekerja muda, terdapat empat kebingungan fikih thaharah yang paling sering memicu pemborosan air dan kecemasan batin:
a. Salah Kaprah Saat Berwudhu dari Ember Kecil (Kurang dari 2 Kulah)
Banyak kamar mandi kos dan musala kecil menggunakan ember plastik berkapasitas 20 hingga 50 liter (kurang dari batas 2 kulah yang berkisar 190–216 liter). Sebagian remaja yang baru belajar fikih sering kali ketakutan: jika tangan yang sedang berwudhu mencelupkan gayung ke dalam ember lalu ada tetesan air dari tangan yang jatuh kembali ke ember, apakah seluruh air ember berubah menjadi ma' musta'mal (air bekas pakai yang tidak menyucikan)? Para fuqaha menjelaskan bahwa tetesan air dari tangan yang belum terpisah dari anggota wudhu atau tetesan dari gayung saat menciduk air secara wajar (selama niat mencelup tangan adalah untuk mengambil air / ightiraf setelah membasuh wajah) tidak merusak kesucian air ember. Lebih aman lagi, gunakan keran mengalir atau ciduklah air dengan gayung dari luar ember[14][16][18].
b. Ketakutan Berlebih terhadap Aerosol & Cipratan Halus Saat Flush Kloset
Sebagian pemuda yang membaca artikel kesehatan modern tentang mikro-partikel air saat menyiram kloset (toilet plume) menjadi sangat panik dan menganggap seluruh pakaian serta ember air di dekat kloset telah najis. Padahal, secara kacamata fikih Mazhab Syafi'i sebagaimana diputuskan dalam Mas'alah [3] Fathul ‘Ali (hlm. 44–46) dan Fatawa Al-Imam An-Nawawi (hlm. 28), percikan yang tidak dapat dilihat oleh pandangan mata normal (ma la yudrikuhu ath-tharfu al-mu'tadil) adalah dimaafkan secara mutlak (ma'fu) baik mengenai pakaian, badan, maupun air sedikit[8][20][30]. Syariat Islam mengukur hukum thaharah berdasarkan penglihatan mata normal, bukan pengamatan mikroskop laboratorium.
c. Status Air PDAM yang Berbau Kaporit atau Air Tandon yang Berlumut
Di kota-kota besar, air perpipaan PDAM sering kali mengeluarkan aroma kaporit (klorin) yang cukup tercium untuk membunuh kuman, atau air tandon kos tampak sedikit berubah rasa karena endapan mineral dan lumut dinding pipa. Berdasarkan kaidah yang dijelaskan dalam Mas'alah [2] Fathul ‘Ali dan I'anatuth Thalibin, perubahan air akibat zat yang berada di tempat penampungan/aliran air (ma fi maqarrihi wa mamarrihi) atau zat penjernih/pengawet air (seperti kaporit/tawas dalam kadar normal penjernihan) tidak mencabut status thahur (suci-menyucikan) selama cairan tersebut masih tetap disebut sebagai "air" secara mutlak[7][19][29].
d. Kebiasaan Mencari-Cari Najis (Taftisy) di Kamar Mandi Umum
Ketika masuk ke toilet stasiun atau rest area yang lantainya basah, sebagian remaja merasa waswas: "Apakah genangan air di lantai ini air suci bekas wudhu ataukah air kencing?" Syaikh Al-Qalyubi dalam Hasyiyah-nya (Juz 1, hlm. 22) menegaskan bahwa selama kita tidak melihat, mencium, atau meyakini secara pasti adanya najis pada air di lantai tersebut, maka hukum asalnya adalah suci berdasarkan kaidah Al-Ashlu fil Miyah Ath-Thaharah, dan dimakruhkan mengendus-endus atau menginterogasi kesucian air tanpa sebab yang nyata karena hal itu termasuk tanaththu' (sikap berlebih-lebihan yang dicela Nabi SAW)[22][26][28].
4. Dekonstruksi Fikih Turats Mu'tamad: Bedah Kitab Induk Fathul ‘Ali & 5 Kitab Rujukan Penguat
Berikut telaah mendalam atas teks-teks autentik (ibaroh) dari kitab induk Fathul ‘Ali beserta lima kitab turats mu'tamad yang menjadi rujukan fatwa kesucian air dan najis ma'fu:
4.1. Kitab Induk Utama: Fathul ‘Ali bi Jam‘il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli — Karya Al-‘Allamah ‘Umar bin Hamid Bafaraj (1252–1274 H) & Syarah Dr. Syifa’ Muhammad Hasan Hitu
Dalam Mas'alah [1] (hlm. cetakan 37–40 [hlm. file PDF 37–40]) dan Mas'alah [3] (hlm. cetakan 44–46 [hlm. file PDF 44–46]), Habib ‘Umar bin Hamid Bafaraj dan Dr. Syifa’ Hitu membedah perbedaan pendapat Ibnu Hajar dan Ar-Ramli mengenai perubahan air oleh garam air serta status najis tak kasat mata:
Selanjutnya pada Mas'alah [4] (hlm. cetakan 47–51 [hlm. file PDF 47–51]), kedua imam sepakat bahwa bangkai serangga yang tidak memiliki darah mengalir (ma la nafsa lahu sa'ilah) seperti lalat, nyamuk, dan semut yang jatuh sendiri ke dalam air sedikit adalah dimaafkan (ma'fu) selama tidak mengubah sifat air[9].
4.2. Kitab Penguat Pertama: Imta‘ul Asma‘ fi Syarhi Matni Abi Syuja‘ — Karya Dr. Syifa’ Muhammad Hasan Hitu
Dalam Imta‘ul Asma‘ (hlm. cetakan 25–29 [hlm. file PDF 25–29]), Dr. Syifa’ Hitu memperkuat kaidah kemurnian air yang berubah karena tempat menetap atau mengalirnya:
4.3. Kitab Penguat Kedua: Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi‘i — Karya Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha, & ‘Ali Asy-Syirbaji
Dalam Al-Fiqhul Manhaji Juz 1 (hlm. cetakan 29–35 [hlm. file PDF 29–35]), dikonversi ukuran dua kulah ke dalam takaran metrik modern yakni sekitar 190 liter (bak persegi berukuran panjang, lebar, dan tinggi sekitar 58 cm), serta ditegaskan pemaafan atas cipratan najis mikroskopis:
4.4. Kitab Penguat Ketiga: Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja — Karya Al-Habib Ahmad bin ‘Umar Asy-Syathiri (1312–1360 H)
Habib Ahmad Asy-Syathiri dalam Nailur Raja (hlm. cetakan 41–48 [hlm. file PDF 43–50]) menguraikan perbedaan antara zat pencampur suci yang ghaniyyun 'anhu (air tidak membutuhkannya, seperti teh, kopi, atau sabun yang mengubah sifat air) dan zat yang la yastaghni al-ma'u 'anhu (seperti lumut, tanah, dan garam air), serta merinci pengecualian najis yang dimaafkan pada air kurang dari dua kulah[17][18].
4.5. Kitab Penguat Keempat & Kelima: Fatawa Al-Imam An-Nawawi & Hasyiyah Qalyubi (Beserta Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh)
Syaikhul Madzhab Al-Imam An-Nawawi dalam Fatawa-nya (hlm. cetakan 19–20 & 28 [hlm. file PDF 19–20 & 28]) dan Al-Majmu' (Juz 1, hlm. 125–129) menegaskan kesepakatan ulama Syafi'iyyah bahwa percikan tak kasat mata dan lumpur jalanan yang sulit dihindari dimaafkan demi menjaga umat dari kesempitan[19][20][30]. Sementara itu, Syaikh Al-Qalyubi (Juz 1, hlm. 22) dan Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu dalam Al-Khulashah (hlm. 58–60) membentengi hati pemuda dari penyakit waswas dengan kaidah Al-Ashlu fil Miyah Ath-Thaharah: air tidak dihukumi najis hanya karena dugaan atau keraguan tanpa bukti nyata[22][26].
5. SOP: Bagan Alur 4 Tahap Menilai Kesucian Air & Bersuci Aman Tanpa Waswas di Toilet Umum
Untuk memudahkan pemuda dan mahasiswa dalam mengambil keputusan cepat saat berwudhu atau bersuci di kamar mandi kos dan toilet umum, terapkan Standard Operating Procedure (SOP) 4 tahap berbasis murni CSS berikut:
Saat memasuki kamar mandi umum atau musala, pandanglah seluruh air di keran, bak, atau ember sebagai air yang suci dan menyucikan. Jangan pernah mengendus-endus atau menginterogasi air selama tidak tampak perubahan warna, bau, atau rasa najis yang nyata (Hasyiyah Qalyubi, hlm. cetakan 22 [hlm. file PDF 22])[22][26].
Jika di dalam ember terdapat bangkai semut/nyamuk yang mati sendiri, cukup buang bangkainya tanpa menguras ember. Jika Anda khawatir ada percikan mikroskopis yang tidak terlihat mata saat bercebok, abaikan sepenuhnya karena hal itu dimaafkan secara mutlak oleh Ar-Ramli dan An-Nawawi (Fathul ‘Ali, hlm. cetakan 44 & 47 [hlm. file PDF 44 & 47])[8][9].
Ketika berwudhu menggunakan ember kecil (kurang dari 190 liter), utamakan mengucurkan air langsung dari keran, atau ciduklah air menggunakan gayung lalu siramkan ke anggota wudhu di luar mulut ember agar air di dalam ember tetap terjaga kemurniannya (Nailur Raja, hlm. cetakan 45–46 [hlm. file PDF 47–48])[16][18].
Gunakan semprotan air (jet shower) dengan tekanan sedang agar tidak memercik keras, atau keringkan terlebih dahulu dengan tisu toilet yang bersih lalu bilas dengan air; kombinasi tisu dan air adalah derajat istinja' paling afdhal dalam Mazhab Syafi'i (Fathul ‘Ali, hlm. cetakan 66–70 [hlm. file PDF 66–70])[13].
6. Kaidah Ushul Fiqh & Kaidah Fikih Kesucian Air dan Pemaafan Najis
Seluruh fatwa Ibnu Hajar dan Ar-Ramli pada bab awal Fathul ‘Ali dibangun di atas empat kaidah ushul dan fikih yang sangat presisi:
1. Kaidah Pertama — الْأَصْلُ فِي الْمِيَاهِ الطَّهَارَةُ (Al-Ashlu fil Miyah Ath-Thaharah): Hukum asal segala air di alam adalah suci dan menyucikan. Turunan langsung dari kaidah induk Al-Yaqinu La Yazulu bisy-Syakk ini menetapkan bahwa kesucian air yang telah diyakini tidak boleh dibatalkan oleh keraguan (syakk) atau prasangka waswas (Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh, hlm. cetakan 58 [hlm. file PDF 58])[22][26].
2. Kaidah Kedua — الْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيرَ وَمَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَىٰ يُخَفَّفُ فِيهِ (Al-Masyaqqatu Tajlibut Taysir, wa Ma 'Ammat bihil Balwa Yukhaffafu Fih): Kesulitan mendatangkan kemudahan, dan perkara yang merata menimpa masyarakat luas serta sulit dihindari diberikan keringanan hukum. Kaidah inilah yang mendasari dimaafkannya lumut tandon, karat pipa, bangkai serangga tak berdarah mengalir, dan cipratan mikroskopis yang tidak kasat mata (Fathul ‘Ali, hlm. cetakan 44 & 47 [hlm. file PDF 44 & 47]; Fatawa An-Nawawi, hlm. cetakan 28 [hlm. file PDF 28])[8][9][20].
3. Kaidah Ketiga — إِذَا اجْتَمَعَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ أَوِ الطَّهَارَةُ وَالنَّجَاسَةُ غُلِّبَ جَانِبُ الْأَصْلِ عِنْدَ ضَعْفِ الظَّنِّ (Taghlibul Ashl 'inda Dha'fizh Zhann): Ketika berhadapan dengan kemungkinan najis yang lemah (seperti kucing yang pernah makan bangkai lalu menghilang dan kemudian menjilat air di ember), syariat memenangkan hukum asal kesucian air sebagaimana diputuskan pada Mas'alah [6] Fathul ‘Ali (hlm. cetakan 52–54 [hlm. file PDF 52–54])[10].
4. Kaidah Keempat — دَلَالَةُ الْمَفْهُومِ فِي حَدِيثِ الْقُلَّتَيْنِ تُخَصَّصُ بِالْمَعْفُوَّاتِ (Takhshishu Mafhumil Mukhalafah bil Ma'fuwwat): Sebagaimana diuraikan oleh Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu dalam Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (hlm. cetakan 43–46 [hlm. file PDF 44–47]), mafhum mukhalafah dari hadits dua kulah (bahwa air kurang dari dua kulah menjadi najis jika tersentuh najis) dikhususkan (takhshish) oleh dalil-dalil pemaafan najis mikroskopis dan bangkai serangga tak berdarah mengalir[5][25].
7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja: Panduan Bersuci di Kos, Kampus, dan Perjalanan
Bagaimana menerapkan fatwa-fatwa air di dalam kitab Fathul ‘Ali pada situasi nyata anak muda sehari-hari? Berikut empat panduan praktis:
- Solusi Praktis Kamar Mandi Kos dengan Ember Kecil: Jangan ragu berwudhu menggunakan air di ember plastik kos. Agar hati tenang dan keluar dari khilaf, biasakan menyiramkan air dengan gayung di luar atas ember, atau basuhlah wajah dan tangan langsung di bawah kucuran keran air. Jika ada nyamuk atau semut mati di dalam ember, cukup buang serangganya dan gunakan airnya dengan tenang tanpa perlu menguras seluruh isi ember[9][18].
- Menghadapi Lantai Basah di Toilet Stasiun, Bandara, atau Mall: Ketika celana atau ujung kaki Anda terkena genangan air di lantai tempat wudhu atau toilet umum yang telah dipel petugas, jangan mencuci celana Anda berulang-ulang kecuali Anda melihat warna atau mencium bau najis yang jelas. Selama air lantai itu bening dan tidak berbau najis, hukumnya suci[20][22].
- Menyikapi Air Tandon yang Berbau Kaporit atau Sedikit Keruh Setelah Hujan: Air keran di asrama atau masjid yang berbau kaporit PDAM atau sedikit keruh kecokelatan karena lumpur tanah sehabis hujan deras tetap 100% berstatus thahur (suci-menyucikan). Gunakan untuk wudhu dan mandi wajib tanpa keraguan sedikit pun[14][29].
- Etika Memakai Peralatan Makan di Kafe atau Jamuan Modern: Merujuk Mas'alah [8] Fathul ‘Ali (hlm. 57–63), cangkir atau sendok logam/keramik yang memiliki hiasan sepuhan warna emas/perak sangat tipis (yang jika dibakar tidak menghasilkan lelehan emas/perak bernilai) boleh digunakan, namun meninggalkan wadah yang menyerupai kemewahan emas dan perak tetap lebih utama bagi ketawadhuan seorang pemuda Muslim[12].
8. Self-Assessment Checklist: Evaluasi Ketepatan Fikih Air & Kebebasan dari Waswas
Gunakan daftar evaluasi mandiri interaktif berikut untuk mengukur pemahaman fikih air dan ketenangan batin Anda saat bersuci:
9. Catatan Kaki (Footnotes) Terperinci & Ibaroh Kitab Turats Terverifikasi
-
Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Furqan [25] ayat 48. Penegasan bahwa air hujan yang diturunkan dari langit berstatus suci lagi menyucikan (ma'an thahura) sebagai rahmat bagi seluruh makhluk; dirujuk dalam Dr. Musthafa Al-Khin, Dr. Musthafa Al-Bugha, dan 'Ali Asy-Syirbaji, Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M, Juz 1, hlm. cetakan 29 [hlm. file PDF 29]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا﴾ ↑ Kembali ke Teks -
Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Anfal [8] ayat 11. Fungsi air sebagai sarana menyucikan badan dan menghilangkan gangguan bisikan setan (rijzasy syaithan) termasuk penyakit waswas dalam thaharah; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 29 [hlm. file PDF 29]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ﴾ ↑ Kembali ke Teks -
Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Hajj [22] ayat 78. Prinsip dasar peniadaan kesukaran (raf'ul haraj) yang mendasari dimaafkannya najis mikroskopis dan bangkai serangga kecil di dalam air; dirujuk dalam Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu, Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF:
الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ.pdf), Kuwait: Dar Adh-Dhiya', cet. 1, 1427 H / 2006 M, hlm. cetakan 44 [hlm. file PDF 44]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ﴾ ↑ Kembali ke Teks -
Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani. Sunan Abi Dawud, Kitabut Thaharah, Bab Ma Yunajjisul Ma', no. 63; At-Tirmidzi, no. 67; An-Nasa'i, no. 52; Ibnu Majah, no. 517; dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah serta Ibnu Hibban (dari sahabat 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma). Hadits induk batas air dua kulah yang menolak najis; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 33 [hlm. file PDF 33]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُسْأَلُ عَنِ الْمَاءِ يَكُونُ بِالْفَلَاةِ مِنَ الْأَرْضِ وَمَا يَنُوبُهُ مِنَ السِّبَاعِ وَالدَّوَابِّ، فَقَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitab Bad'il Khalq, Bab Idza Waqa'adz Dzubabu fi Syarabi Ahadikum, no. 3320 (dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Dalil bahwa bangkai lalat dan serangga yang tidak memiliki darah mengalir (ma la nafsa lahu sa'ilah) tidak menajiskan air atau minuman tempat ia jatuh; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 34 [hlm. file PDF 34]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ، فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً وَفِي الْآخَرِ دَاءً» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, Al-'Allamah Asy-Syarif 'Umar bin Al-Habib Hamid Ba'alawi At-Tarimi (1252–1274 H), bersama syarah dan tahqiq oleh Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah [1]: Hukum Air yang Berubah karena Garam Air (Al-Milhul Ma'i) yang Dimasukkan Sengaja, hlm. cetakan 37–40 [hlm. file PDF 37–40]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٣٧ [PDF صَ ٣٧]): «[١] مَسْأَلَةٌ: التَّغَيُّرُ بِالْمِلْحِ الْمَائِيِّ لَا يَضُرُّ عِنْدَ ابْنِ حَجَرٍ وَإِنْ طُرِحَ قَصْدًا؛ لِأَنَّهُ تَغَيُّرٌ بِمَا لَا يَسْتَغْنِي الْمَاءُ عَنْهُ غَالِبًا كَالتُّرَابِ، وَيَضُرُّ عِنْدَ الرَّمْلِيِّ إِنْ طُرِحَ فِيهِ قَصْدًا وَكَثُرَ التَّغَيُّرُ بِحَيْثُ سَلَبَ اسْمَ الْمَاءِ» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah [2]: Hukum Air yang Berubah karena Daun Pohon atau Lumut yang Dihaluskan lalu Jatuh ke Air, hlm. cetakan 41–43 [hlm. file PDF 41–43]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٤١ [PDF صَ ٤١]): «[٢] مَسْأَلَةٌ: التَّغَيُّرُ بِالطُّحْلُبِ أَوْ وَرَقِ الشَّجَرِ المتَسَاقِطِ بِنَفْسِهِ لَا يَضُرُّ لِعُسْرِ صَوْنِ الْمَاءِ عَنْهُ، فَإِنْ طُرِحَ قَصْدًا أَوْ دُقَّ ضَرَّ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ إِلَّا إِذَا كَانَ فِي مَمَرِّ الْمَاءِ أَوْ مَقَرِّهِ فَفَصَّلَ فِيهِ الشَّيْخَانِ» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah [3]: Hukum Percikan Najis Tak Kasat Mata (La Yudrikuha Ath-Tharfu) yang Mengenai Air Sedikit atau Pakaian, hlm. cetakan 44–46 [hlm. file PDF 44–46]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٤٤ [PDF صَ ٤٤]): «[٣] مَسْأَلَةٌ: النَّجَاسَةُ الَّتِي لَا يُدْرِكُهَا الطَّرْفُ مَعْفُوٌّ عَنْهَا فِي الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَاءِ الْقَلِيلِ عِنْدَ الرَّمْلِيِّ دَفْعًا لِلْمَشَقَّةِ وَالْحَرَجِ، وَقَيَّدَ ابْنُ حَجَرٍ الْعَفْوَ فِي الْمَاءِ بِمَا إِذَا لَمْ تَكُنْ مُغَلَّظَةً وَلَمْ تَحْصُلْ بِفِعْلِهِ» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah [4] & [5]: Hukum Bangkai Serangga Tak Berdarah Mengalir (Ma La Nafsa Lahu Sa'ilah) yang Jatuh ke Air Sedikit, hlm. cetakan 47–51 [hlm. file PDF 47–51]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٤٧ [PDF صَ ٤٧]): «[٤] مَسْأَلَةٌ: مَيْتَةُ مَا لَا نَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ كَالذُّبَابِ وَالْبَعُوضِ وَالنَّمْلِ إِذَا وَقَعَتْ فِي الْمَاءِ الْقَلِيلِ أَوِ الْمَائِعِ بِنَفْسِهَا وَلَمْ تُغَيِّرْهُ يُعْفَىٰ عَنْهَا عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ؛ لِعُمُومِ الْبَلْوَىٰ بِهَا وَمَشَقَّةِ الِاحْتِرَازِ عَنْهَا» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah [6]: Hukum Mulut Kucing atau Anak Kecil yang Terkena Najis Lalu Menghilang dan Menjilati Air Sedikit, hlm. cetakan 52–54 [hlm. file PDF 52–54]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٢ [PDF صَ ٥٢]): «[٦] مَسْأَلَةٌ: إِذَا تَنَجَّسَ فَمُ هِرَّةٍ ثُمَّ غَابَتْ وَاحْتُمِلَ وُلُوغُهَا فِي مَاءٍ كَثِيرٍ أَوْ قَلِيلٍ يَجْرِي، فَوَلَغَتْ فِي مَاءٍ قَلِيلٍ لَمْ تُنَجِّسْهُ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ رِعَايَةً لِأَصْلِ طَهَارَةِ الْمَاءِ» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah [7]: Hukum Air Mengalir (Al-Ma'ul Jari) yang Sedikit Ketika Melewati Najis Tanpa Berubah Sifatnya, hlm. cetakan 55–56 [hlm. file PDF 55–56]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٥ [PDF صَ ٥٥]): «[٧] مَسْأَلَةٌ: الْمَاءُ الْجَارِي كَالرَّاكِدِ فِي اشْتِرَاطِ الْقُلَّتَيْنِ لِدَفْعِ النَّجَاسَةِ فِي الْجَرْيَةِ الْوَاحِدَةِ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ لِعُمُومِ حَدِيثِ الْقُلَّتَيْنِ» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah [8]–[10]: Hukum Bejana dan Peralatan yang Disepuh Emas atau Perak (Al-Mumawwah), hlm. cetakan 57–63 [hlm. file PDF 57–63]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٧ [PDF صَ ٥٧]): «[٨] مَسْأَلَةٌ: الْمُمَوَّهُ بِذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ مِنْ إِنَاءِ غَيْرِهِمَا كَنُحَاسٍ يَحْرُمُ اتِّخَاذُهُ وَاسْتِعْمَالُهُ إِنْ حَصَلَ مِنَ التَّمْوِيهِ شَيْءٌ بِالْعَرْضِ عَلَى النَّارِ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ، فَإِنْ لَمْ يَحْصُلْ شَيْءٌ لِقِلَّتِهِ جَازَ» ↑ Kembali ke Teks -
Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah [12]–[14]: Hukum Istinja' Menggunakan Benda Padat Suci yang Menyerap Kotoran (Batu/Tisu Kering), hlm. cetakan 66–72 [hlm. file PDF 66–72]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٦٦ [PDF صَ ٦٦]): «[١٢] مَسْأَلَةٌ: يُشْتَرَطُ فِي الِاسْتِنْجَاءِ بِالْحَجَرِ وَنَحْوِهِ أَنْ يَكُونَ طَاهِرًا جَامِدًا قَالِعًا غَيْرَ مُحْتَرَمٍ، وَأَنْ لَا يَجِفَّ الْخَارِجُ وَلَا يَنْتَقِلَ عَنْ مَحَلِّهِ» ↑ Kembali ke Teks -
Hitu, Dr. Syifa' Muhammad Hasan; & Al-'Akkari, Syaikh Mush'ab. Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF:
إِمْتَاعُ الْأَسْمَاعِ فِي شَرْحِ مَتْنِ أَبِي شُجَاعٍ.pdf), Beirut: Dar Al-Wafa', cet. 1, 1432 H / 2011 M, Kitab Ath-Thaharah, Bab Aqsamul Miyah, hlm. cetakan 25–29 [hlm. file PDF 25–29]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٥–٢٦ [PDF صَ ٢٥–٢٦]): «وَالْمَاءُ الطَّهُورُ هُوَ الْبَاقِي عَلَىٰ خِلْقَتِهِ الَّتِي خَلَقَهُ اللَّهُ عَلَيْهَا... وَلَا يَضُرُّ تَغَيُّرُهُ بِمَا لَا يَسْتَغْنِي الْمَاءُ عَنْهُ كَطِينٍ وَطُحْلُبٍ وَمِلْحٍ مَائِيٍّ وَمَا فِي مَقَرِّهِ وَمَمَرِّهِ؛ لِتَعَذُّرِ صَوْنِ الْمَاءِ عَنْ ذَٰلِكَ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Khin, Dr. Musthafa; Al-Bugha, Dr. Musthafa; Asy-Syirbaji, 'Ali. Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M, Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, Bab Al-Miyah wa Ahkamuha, hlm. cetakan 29–35 [hlm. file PDF 29–35]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٣١–٣٤ [PDF صَ ٣١–٣٤]): «وَالْمَاءُ الْمُطْلَقُ هُوَ الطَّاهِرُ فِي نَفْسِهِ الْمُطَهِّرُ لِغَيْرِهِ... وَأَمَّا النَّجَاسَةُ الَّتِي لَا يُدْرِكُهَا الطَّرْفُ الْمُعْتَدِلُ لِقِلَّتِهَا جِدًّا كَرَشَاشِ الْبَوْلِ الَّذِي لَا يُرَىٰ بِالْعَيْنِ، فَإِنَّهُ مَعْفُوٌّ عَنْهُ فِي الثَّوْبِ وَالْمَاءِ تَيْسِيرًا عَلَى الْمُكَلَّفِينَ وَدَفْعًا لِلْحَرَجِ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Khin, Dr. Musthafa; Al-Bugha, Dr. Musthafa; Asy-Syirbaji, 'Ali. Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M, Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, Ukuran Dua Kulah dalam Liter Modern, hlm. cetakan 33 [hlm. file PDF 33]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٣٣ [PDF صَ ٣٣]): «وَمِقْدَارُ الْقُلَّتَيْنِ بِالْمَقَايِيسِ الْحَدِيثَةِ يُسَاوِي مِائَةً وَتِسْعِينَ (١٩٠) لِتْرًا تَقْرِيبًا، وَهُوَ مَا يَمْلَأُ حَوْضًا مُرَبَّعًا طُولُ ضِلْعِهِ ذِرَاعٌ وَرُبْعٌ أَيْ نَحْوُ ثَمَانِيَةٍ وَخَمْسِينَ سَنْتِيمِتْرًا» ↑ Kembali ke Teks -
Asy-Syathiri, Al-Habib Ahmad bin 'Umar (1312–1360 H). Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja (berkas PDF:
نَيْلُ الرَّجَاءِ بِشَرْحِ سَفِينَةِ النَّجَاءِ.pdf), Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 3, 1428 H / 2007 M, Fashl fi Aqsamul Miyah, hlm. cetakan 41–44 [hlm. file PDF 43–46]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٤١–٤٢ [PDF صَ ٤٣–٤٤]): «وَالْمُتَغَيِّرُ بِمُخَالِطٍ طَاهِرٍ غَنِيٍّ عَنْهُ الْمَاءُ تَغَيُّرًا يَمْنَعُ إِطْلَاقَ اسْمِ الْمَاءِ عَلَيْهِ طَاهِرٌ غَيْرُ مُطَهِّرٍ، سَوَاءٌ كَانَ التَّغَيُّرُ حِسِّيًّا أَوْ تَقْدِيرِيًّا؛ وَاحْتُرزَ بِالْغَنِيِّ عَنْهُ عَمَّا لَا يَسْتَغْنِي الْمَاءُ عَنْهُ كَطِينٍ وَطُحْلُبٍ وَمِلْحٍ مَائِيٍّ» ↑ Kembali ke Teks -
Asy-Syathiri, Al-Habib Ahmad bin 'Umar. Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja (berkas PDF:
نَيْلُ الرَّجَاءِ بِشَرْحِ سَفِينَةِ النَّجَاءِ.pdf), Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 3, 1428 H / 2007 M, Fashl fil Ma'il Qalil wal Katsir, hlm. cetakan 45–48 [hlm. file PDF 47–50]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٤٥–٤٦ [PDF صَ ٤٧–٤٨]): «وَالْمَاءُ الْقَلِيلُ يَتَنَجَّسُ بِوُقُوعِ النَّجَاسَةِ فِيهِ وَإِنْ لَمْ يَتَغَيَّرْ، إِلَّا النَّجَاسَةَ الْمَعْفُوَّ عَنْهَا كَمَا لَا يُدْرِكُهُ الطَّرْفُ وَمَيْتَةِ مَا لَا دَمَ لَهُ سَائِلٌ إِذَا لَمْ تُطْرَحْ فِيهِ وَلَمْ تُغَيِّرْهُ» ↑ Kembali ke Teks -
An-Nawawi, Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf (631–676 H). Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammat bil Masa'il al-Mantsurah (berkas PDF:
فَتَاوَى الْإِمَامِ النَّوَوِيِّ الْمُسَمَّاةُ بِالْمَسَائِلِ الْمَنْثُورَةِ.pdf), Beirut: Mu'assasah Ar-Risalah, cet. 6, 1417 H / 1996 M, Kitab Ath-Thaharah, hlm. cetakan 19–20 [hlm. file PDF 19–20]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٩–٢٠ [PDF صَ ١٩–٢٠]): «مَسْأَلَةٌ: الْمَاءُ إِذَا تَغَيَّرَ بِمَا فِي مَقَرِّهِ أَوْ مَمَرِّهِ أَوْ بِأَوْرَاقِ الشَّجَرِ الْمُتَسَاقِطَةِ بِنَفْسِهَا فَهُوَ طَهُورٌ عَلَى الصَّحِيحِ الْمُعْتَمَدِ لِعُسْرِ الِاحْتِرَازِ عَنْهُ» ↑ Kembali ke Teks -
An-Nawawi, Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammat bil Masa'il al-Mantsurah (berkas PDF:
فَتَاوَى الْإِمَامِ النَّوَوِيِّ الْمُسَمَّاةُ بِالْمَسَائِلِ الْمَنْثُورَةِ.pdf), Beirut: Mu'assasah Ar-Risalah, cet. 6, 1417 H / 1996 M, Kitab Ath-Thaharah, Bab Al-Aniyah wan Najasah, hlm. cetakan 28 [hlm. file PDF 28]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٨ [PDF صَ ٢٨]): «مَسْأَلَةٌ: مَا يَشُقُّ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ مِنَ النَّجَاسَاتِ كَرَشَاشِ الْبَوْلِ الَّذِي لَا يُدْرِكُهُ الطَّرْفُ، وَطِينِ الشَّوَارِعِ الَّذِي يُتَيَقَّنُ نَجَاسَتُهُ وَيَعُمُّ الْبَلْوَىٰ بِهِ، يُعْفَىٰ عَنْهُ تَيْسِيرًا عَلَى الْأُمَّةِ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah. Hasyiyah Qalyubi 'ala Syarhil Jalal Al-Mahalli (berkas PDF:
Noor-Book.com 4246 حَاشِيَتَا قَلْيُوبِي وَعُمَيْرَةَ ١.pdf), Beirut: Dar Al-Fikr, 1415 H / 1995 M, Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, hlm. cetakan 17–21 [hlm. file PDF 17–21]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٨ [PDF صَ ١٨]): «قَوْلُهُ: (وَلَا يَضُرُّ مُتَغَيِّرٌ بِمُكْثٍ وَطِينٍ وَطُحْلُبٍ وَمَا فِي مَقَرِّهِ وَمَمَرِّهِ) كَكِبْرِيتٍ وَزِرْنِيخٍ وَنُورَةٍ يَمُرُّ الْمَاءُ عَلَيْهَا فَيَتَغَيَّرُ بِهَا؛ لِمَشَقَّةِ صَوْنِ الْمَاءِ عَنْ ذَٰلِكَ» ↑ Kembali ke Teks -
Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah. Hasyiyah Qalyubi 'ala Syarhil Jalal Al-Mahalli (berkas PDF:
Noor-Book.com 4246 حَاشِيَتَا قَلْيُوبِي وَعُمَيْرَةَ ١.pdf), Beirut: Dar Al-Fikr, 1415 H / 1995 M, Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, Hukum Keraguan Najisnya Air, hlm. cetakan 22–23 [hlm. file PDF 22–23]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٢ [PDF صَ ٢٢]): «وَمَنْ تَيَقَّنَ طَهَارَةَ مَاءٍ وَشَكَّ فِي نَجَاسَتِهِ بَنَىٰ عَلَىٰ يَقِينِ الطَّهَارَةِ وَلَا يَلْزَمُهُ الِاجْتِهَادُ، وَيُكْرَهُ التَّفْتِيشُ عَمَّا لَمْ يَتَحَقَّقْ نَجَاسَتُهُ لِأَنَّهُ مِنَ التَّنَطُّعِ وَالْوَسْوَاسِ» ↑ Kembali ke Teks - Ibnu Hajar Al-Haitami, Syihabuddin Ahmad bin Muhammad. Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj, Kairo: Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubra, Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, hlm. cetakan 64–70 [hlm. file PDF 70–76]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «(وَلَا يَضُرُّ تَغَيُّرٌ بِمِلْحٍ مَائِيٍّ) وَإِنْ طُرِحَ فِيهِ قَصْدًا؛ إِذْ أَصْلُهُ الْمَاءُ الْمُنْعَقِدُ فَهُوَ فِي حُكْمِ الْمَاءِ، بِخِلَافِ الْمِلْحِ الْجَبَلِيِّ إِذَا غَيَّرَ الْمَاءَ تَغَيُّرًا كَثِيرًا» ↑ Kembali ke Teks
- Ar-Ramli, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad. Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, Beirut: Dar Al-Fikr, 1404 H / 1984 M, Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, hlm. cetakan 68–73 [hlm. file PDF 76–81]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَيُعْفَىٰ عَمَّا لَا يُدْرِكُهُ الطَّرْفُ الْمُعْتَدِلُ مِنَ النَّجَاسَةِ وَلَوْ مِنْ مُغَلَّظَةٍ فِي الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَاءِ الْقَلِيلِ؛ لِعُسْرِ الِاحْتِرَازِ عَنْهُ وَعُمُومِ الِابْتِلَاءِ بِهِ» ↑ Kembali ke Teks
-
Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF:
الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ.pdf), Kuwait: Dar Adh-Dhiya', cet. 1, 1427 H / 2006 M, Bab Al-Manthuq wal Mafhum (Analisis Hadits Qullatain), hlm. cetakan 43–46 [hlm. file PDF 44–47]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٤٣–٤٥ [PDF صَ ٤٤–٤٦]): «فَالْمَنْطُوقُ فِي حَدِيثِ: إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ، يَدُلُّ بِمَفْهُومِ الْمُوَافَقَةِ عَلَىٰ أَنَّ مَا زَادَ عَلَى الْقُلَّتَيْنِ أَوْلَىٰ بِدَفْعِ الْخَبَثِ، وَبِمَفْهُومِ الْمُخَالَفَةِ عَلَىٰ تَنَجُّسِ مَا دُونَ الْقُلَّتَيْنِ بِمُلَاقَاةِ النَّجَسِ غَيْرِ الْمَعْفُوِّ عَنْهُ» ↑ Kembali ke Teks -
Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF:
الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ.pdf), Kuwait: Dar Adh-Dhiya', cet. 1, 1427 H / 2006 M, Bab Al-Istish-hab wal Qawa'id Al-Fiqhiyyah, hlm. cetakan 58–60 [hlm. file PDF 58–60]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٨ [PDF صَ ٥٨]): «وَمِنَ الْقَوَاعِدِ الْمُتَفَرِّعَةِ عَنِ الِاسْتِصْحَابِ: الْأَصْلُ فِي الْمِيَاهِ الطَّهَارَةُ، وَالْيَقِينُ لَا يَزُولُ بِالشَّكِّ، فَلَا يُحْكَمُ بِنَجَاسَةِ مَاءٍ بِمُجَرَّدِ التَّوَهُّمِ وَالِاحْتِمَالِ» ↑ Kembali ke Teks -
Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani. Sunan Abi Dawud, Kitabut Thaharah, Bab Al-Ma'u La Yunajjisuhu Syai'un, no. 66; At-Tirmidzi, no. 66 (dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu). Hadits bahwa air pada asalnya suci dan tidak dinajiskan oleh sesuatu kecuali jika berubah bau, rasa, atau warnanya; dirujuk dalam Al-Fiqhul Manhaji (berkas PDF:
الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ ١.pdf), Juz 1, hlm. cetakan 32 [hlm. file PDF 32]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ» ↑ Kembali ke Teks -
Muslim bin Al-Hajjaj, Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim), Kitabul 'Ilm, Bab Halakal Mutanaththi'un, no. 2670 (dari sahabat 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu). Larangan bersikap berlebihan dan mencari-cari keraguan (tanaththu') dalam urusan ibadah dan bersuci; dirujuk dalam Fatawa An-Nawawi (berkas PDF:
فَتَاوَى الْإِمَامِ النَّوَوِيِّ الْمُسَمَّاةُ بِالْمَسَائِلِ الْمَنْثُورَةِ.pdf), hlm. cetakan 28 [hlm. file PDF 28]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ» قَالَهَا ثَلَاثًا ↑ Kembali ke Teks - Al-Bakri Asy-Syatha, As-Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi. I'anatuth Thalibin 'ala Halli Alfazhi Fathil Mu'in, Beirut: Dar Al-Fikr, 1418 H / 1997 M, Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, Hukum Kaporit dan Obat Penjernih Air Tandon, hlm. cetakan 28–31 [hlm. file PDF 38–41]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَلَا يَضُرُّ تَغَيُّرُ الْمَاءِ بِمَا يُصْلِحُهُ أَوْ يَمْنَعُ فَسَادَهُ وَيَحْفَظُهُ فِي الْمَصَانِعِ وَالْأَوَانِي مَا لَمْ يَسْلُبِ اسْمَ الْمَاءِ الْمُطْلَقِ عَنْهُ» ↑ Kembali ke Teks
- An-Nawawi, Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab, Kairo: Idarah At-Thiba'ah Al-Muniriyyah, Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, Bab Al-Miyah, hlm. cetakan 125–129 [hlm. file PDF 132–136]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «اتَّفَقَ أَصْحَابُنَا عَلَىٰ أَنَّ مَا لَا يُدْرِكُهُ الطَّرْفُ مِنْ رَشَاشِ الْبَوْلِ مَعْفُوٌّ عَنْهُ فِي الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَاءِ؛ لِأَنَّهُ مِمَّا تَعُمُّ بِهِ الْبَلْوَىٰ وَيَعْسُرُ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ، فَلَوْ كُلِّفَ النَّاسُ غَسْلَهُ لَأَدَّىٰ إِلَىٰ حَرَجٍ عَظِيمٍ» ↑ Kembali ke Teks
-
Bafaraj, 'Umar bin Hamid Ba'alawi & Dr. Syifa' Muhammad Hasan Hitu. Fathul 'Ali bi Jam'il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli (berkas PDF:
فَتْحُ الْعَلِيِّ.pdf), Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M, Khatimatul Kitab (Kaidah Mengambil Pendapat yang Lebih Ringan Saat Waswas), hlm. cetakan 928–930 [hlm. file PDF 928–930]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٩٢٩ [PDF صَ ٩٢٩]): «وَمَنِ ابْتُلِيَ بِالْوَسْوَاسِ فِي الْمِيَاهِ وَالنَّجَاسَاتِ تَعَيَّنَ عَلَيْهِ الْأَخْذُ بِأَيْسَرِ الْقَوْلَيْنِ مِنَ الشَّيْخَيْنِ ابْنِ حَجَرٍ وَالرَّمْلِيِّ دَفْعًا لِضَرَرِ الْوَسْوَاسِ عَنْ دِينِهِ وَعَقْلِهِ» ↑ Kembali ke Teks -
Hitu, Dr. Syifa' Muhammad Hasan. Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' (berkas PDF:
إِمْتَاعُ الْأَسْمَاعِ فِي شَرْحِ مَتْنِ أَبِي شُجَاعٍ.pdf), Beirut: Dar Al-Wafa', cet. 1, 1432 H / 2011 M, Kitab Ath-Thaharah, Bab Aqsamul Miyah, hlm. cetakan 28–29 [hlm. file PDF 28–29]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٨ [PDF صَ ٢٨]): «فَإِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ فَأَكْثَرَ لَمْ يَتَنَجَّسْ بِمُجَرَّدِ مُلَاقَاةِ النَّجَاسَةِ إِلَّا إِذَا غَيَّرَتْ أَحَدَ أَوْصَافِهِ الثَّلَاثَةِ: اللَّوْنَ أَوِ الطَّعْمَ أَوِ الرِّيحَ» ↑ Kembali ke Teks
10. Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)
- Abu Dawud, Al-Imam Sulaiman bin Al-Asy‘ats As-Sijistani. (275 H). Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Al-Kitab Al-‘Arabi. — سُنَنُ أَبِي دَاوُدَ لِلْإِمَامِ سُلَيْمَانَ بْنِ الْأَشْعَثِ السِّجِسْتَانِيِّ.
- Al-Bakri Asy-Syatha, As-Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi. (1310 H). I'anatuth Thalibin 'ala Halli Alfazhi Fathil Mu'in. Beirut: Dar Al-Fikr, 1418 H / 1997 M. — إِعَانَةُ الطَّالِبِينَ عَلَىٰ حَلِّ أَلْفَاظِ فَتْحِ الْمُعِينِ.
- Al-Bukhari, Al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma‘il. (256 H). Al-Jami‘ Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Al-Mathba‘ah As-Salafiyyah. — صَحِيحُ الْبُخَارِيِّ لِلْإِمَامِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْبُخَارِيِّ.
- Al-Haitami, Syaikhul Islam Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali Ibnu Hajar. (974 H). Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj. Kairo: Al-Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubra. — تُحْفَةُ الْمُحْتَاجِ بِشَرْحِ الْمِنْهَاجِ لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ حَجَرٍ الْهَيْتَمِيِّ.
- Al-Khin, Dr. Musthafa; Al-Bugha, Dr. Musthafa; Asy-Syirbaji, ‘Ali. (1413 H / 1992 M). Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi‘i. Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, Juz 1. — الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ عَلَىٰ مَذْهَبِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ.
- Al-Qalyubi, Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah; & ‘Umairah, Syaikh Ahmad Al-Burullusi. (1069 H / 1995 M). Hasyiyata Qalyubi wa ‘Umairah ‘ala Kanzir Raghibin Syarh Minhajith Thalibin. Beirut: Dar Al-Fikr, 1415 H / 1995 M. — حَاشِيَتَا قَلْيُوبِي وَعُمَيْرَةَ عَلَىٰ شَرْحِ الْجَلَالِ الْمَحَلِّيِّ.
- An-Nawawi, Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. (676 H / 1996 M). Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammat bil Masa'il al-Mantsurah. Beirut: Mu'assasah Ar-Risalah, cet. 6, 1417 H / 1996 M. — فَتَاوَى الْإِمَامِ النَّوَوِيِّ الْمُسَمَّاةُ بِالْمَسَائِلِ الْمَنْثُورَةِ.
- Ar-Ramli, Syamsuddin Muhammad bin Abi Al-‘Abbas Ahmad bin Hamzah. (1004 H). Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj. Beirut: Dar Al-Fikr, 1404 H / 1984 M. — نِهَايَةُ الْمُحْتَاجِ إِلَىٰ شَرْحِ الْمِنْهَاجِ لِلْإِمَامِ شَمْسِ الدِّينِ الرَّمْلِيِّ.
- Asy-Syathiri, Al-Habib Ahmad bin ‘Umar. (1360 H / 2007 M). Nailur Raja bi Syarhi Safinatin Naja. Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 3, 1428 H / 2007 M. — نَيْلُ الرَّجَاءِ بِشَرْحِ سَفِينَةِ النَّجَاءِ لِلسَّيِّدِ أَحْمَدَ بْنِ عُمَرَ الشَّاطِرِيِّ.
- Bafaraj, Al-‘Allamah Asy-Syarif ‘Umar bin Al-Habib Hamid Ba‘alawi At-Tarimi; & Hitu, Dr. Syifa’ Muhammad Hasan. (1274 H / 2010 M). Fathul ‘Ali bi Jam‘il Khilaf bayna Ibni Hajar wa Ibnir Ramli. Jeddah–Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1431 H / 2010 M. — فَتْحُ الْعَلِيِّ بِجَمْعِ الْخِلَافِ بَيْنَ ابْنِ حَجَرٍ وَابْنِ الرَّمْلِيِّ.
- Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. (1427 H / 2006 M). Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh. Kuwait: Dar Adh-Dhiya', cet. 1. — الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ لِلْأُسْتَاذِ الدُّكْتُورِ مُحَمَّدٍ حَسَنٍ هِيتُو.
- Hitu, Dr. Syifa’ Muhammad Hasan; & Al-‘Akkari, Syaikh Mush‘ab. (1432 H / 2011 M). Imta‘ul Asma‘ fi Syarhi Matni Abi Syuja‘. Beirut: Dar Al-Wafa', cet. 1. — إِمْتَاعُ الْأَسْمَاعِ فِي شَرْحِ مَتْنِ أَبِي شُجَاعٍ.
- Muslim, Al-Imam Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi. (261 H). Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim). Kairo: Dar Ihya' Al-Kutub Al-‘Arabiyyah. — صَحِيحُ مُسْلِمٍ لِلْإِمَامِ مُسْلِمِ بْنِ الْحَجَّاجِ الْقُشَيْرِيِّ.