← Semua Artikel Fiqih Ibadah & Bersuci

Fikih Air dan Mandi Wajib

Tidak Ada Komentar 33 Mins Read 49 Views
Fikih Air dan Mandi Wajib (Al-Ghusl) di Era Modern: Status Air Berubah karena Sabun/Kaporit, Air Musta'mal, Meratakan Air ke Lipatan & Rambut, serta Batasan Aktivitas Saat Junub
FIQIH IBADAH & BERSUCI Edisi Khusus Kajian Kanzur Raghibin  Kajian Turats Syafi'iyyah

Fikih Air dan Mandi Wajib (Al-Ghusl) di Era Modern: Status Air Berubah karena Sabun/Kaporit, Air Musta'mal, Meratakan Air ke Lipatan & Rambut, serta Batasan Aktivitas Saat Junub

Kajian Mendalam Kitab Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin tentang Klasifikasi Air Mutlak, Hukum Air Berubah oleh Mukhalith dan Mujawir, Ukuran Dua Kulah, Kewajiban Ta'mimul Basyar wasy-Sya'r, serta Kebolehan Dzikir Berlafaz Al-Qur'an Tanpa Qashdul Qur'an

Penyusun: Ahmad Faris Rujukan Induk: Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin Estimasi Baca: 23 Menit
Gambar artikel
Daftar Isi Kajian Ilmiah-Populer Klik untuk Buka/Tutup
  1. 1. Mukadimah & Fondasi Dalil Al-Qur'an serta Hadits tentang Kesucian Air dan Mandi Wajib
  2. 2. Problematika Modern: Air PDAM Berkaporit, Cipratan Sabun/Musta'mal di Ember, dan Mandi Junub
  3. 3. Dekonstruksi 5 Kitab Turats: Qaul Kanzur Raghibin tentang Hukum Air dan Al-Ghusl
  4. 4. Tabel Matriks Komparasi Hukum Perubahan Air, Air Musta'mal, dan Rukun Mandi Wajib
  5. 5. Bagan Alur Vertikal Penentuan Status Air & Keabsahan Mandi Wajib (Al-Ghusl)
  6. 6. Analisis Kaidah Ushul Fiqh (Manthuq-Mafhum Hadits Qullatain) dan Qawa'id Fiqhiyyah
  7. 7. Bedah Detail Kanzur Raghibin: Mukhalith vs Mujawir, Naqdhudh Dhafa'ir, dan Dzikir Orang Junub
  8. 8. Panduan Praktis Mandi Wajib (Al-Ghusl) yang Sah, Sempurna, dan Bebas Waswas
  9. 9. Muhasabah & Self-Assessment Checklist Kesempurnaan Mandi Wajib dan Kesucian Air
  10. 10. Kesimpulan Integratif & Rekomendasi Ilmiah
  11. Catatan Kaki (30 Footnotes Terverifikasi Cetakan & PDF)
  12. Daftar Pustaka
Intisari Kaidah Utama Kitab Kanzur Raghibin (Kitab Ath-Thaharah & Bab Al-Ghusl):
﴿يُشْتَرَطُ لِرَفْعِ الْحَدَثِ وَالنَّجَسِ مَاءٌ مُطْلَقٌ... وَلَا يَضُرُّ تَغَيُّرٌ لَا يَمْنَعُ الِاسْمَ، وَلَا مُتَغَيِّرٌ بِمُكْثٍ وَطِينٍ وَطُحْلُبٍ وَمَا فِي مَقَرِّهِ وَمَمَرِّهِ، وَكَذَا مُتَغَيِّرٌ بِمُجَاوِرٍ كَعُودٍ وَدُهْنٍ﴾... ﴿وَتَحِلُّ أَذْكَارُهُ لَا بِقَصْدِ قُرْآنٍ﴾... ﴿وَأَقَلُّهُ نِيَّةُ رَفْعِ جَنَابَةٍ... وَتَعْمِيمُ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ﴾.

Disyaratkan untuk mengangkat hadats dan menghilangkan najis adanya air mutlak; tidak mengapa perubahan sedikit yang tidak menghilangkan nama air, perubahan karena lama tergenang, tanah, lumut, atau zat pada tempat tampungan dan saluran pipanya, serta perubahan karena benda mujawir (tidak larut menyatu) seperti kayu gaharu dan minyak; dihalalkan bagi orang junub/haid membaca dzikir atau doa yang berlafaz Al-Qur'an selama tidak diniatkan membaca Al-Qur'an (la biqashdi qur'anin); dan batas minimal sahnya mandi wajib adalah niat mengangkat janabah/haid/nifas serta meratakan air ke seluruh rambut dan kulit tubuh.

1. Mukadimah & Fondasi Dalil Al-Qur'an serta Hadits tentang Kesucian Air dan Mandi Wajib

Air merupakan instrumen pokok dalam syariat thaharah yang dengannya seorang hamba menyucikan lahir dan batinnya sebelum menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala[1]. Di dalam kitab Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin, Al-Imam Jalaluddin Al-Mahalli membuka pembahasan Kitab Ath-Thaharah dengan mengutip firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Al-Furqan ayat 48 yang menegaskan bahwa air hujan yang diturunkan dari langit memiliki sifat thahur (suci dirinya sekaligus menyucikan yang lain)[1]:

﴿وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا﴾
"Dan Kami turunkan dari langit air yang sangat suci lagi menyucikan (ma'an thahuran)." (QS. Al-Furqan: 48)[1].

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 11 mengenai fungsi air sebagai sarana penyucian diri dan penenang batin orang-orang beriman:

﴿وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ﴾
"Dan Dia menurunkan kepadamu air dari langit untuk menyucikan kamu dengannya." (QS. Al-Anfal: 11)[2].

Adapun terkait kewajiban mandi besar (al-ghusl) bagi orang yang berada dalam keadaan junub serta larangan berdiam diri di dalam masjid sebelum mandi wajib, Allah Subhanahu wa Ta'ala menetapkan di dalam Surah Al-Ma'idah ayat 6 dan Surah An-Nisa' ayat 43:

﴿وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا﴾
"Dan jika kamu dalam keadaan junub, maka mandilah (bersucilah)." (QS. Al-Ma'idah: 6)[3].
﴿وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا﴾
"Dan janganlah pula (menghampiri masjid untuk salat sedangkan kamu) dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja (melintas), hingga kamu mandi (mandi wajib)." (QS. An-Nisa': 43)[4].

Dalam khazanah Sunnah Nabawiyyah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memberikan ukuran kuantitatif yang sangat jelas mengenai ketahanan air terhadap najis maupun air musta'mal melalui hadits Qullatain (Dua Kulah) yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma:

«إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ» وَفِي رِوَايَةٍ: «فَإِنَّهُ لَا يَنْجُسُ»
"Apabila air telah mencapai ukuran dua kulah, maka ia tidak mengandung kotoran/najis." Dalam riwayat lain: "Maka sesungguhnya air itu tidak menjadi najis." (HR. Ibnu Hibban, Abu Dawud, dan Al-Baihaqi)[5].

Terkait larangan mencelupkan diri ke dalam air sedikit yang tergenang saat mandi junub agar air tersebut tidak berubah menjadi musta'mal (suci namun tidak lagi menyucikan), Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

«لَا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ» فَقَالُوا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، كَيْفَ يَفْعَلُ؟ قَالَ: «يَتَنَاوَلُهُ تَنَاوُلًا»
"Janganlah salah seorang di antara kalian mandi di dalam air yang tergenang (tidak mengalir dan kurang dari dua kulah) sedangkan ia dalam keadaan junub." Para tabi'in bertanya: "Wahai Abu Hurairah, lalu bagaimana ia harus melakukannya?" Beliau menjawab: "Ia mengambilnya secara menciduk (dengan gayung/tangan)." (HR. Muslim)[6].

Sedangkan mengenai tata cara mandi wajib yang sempurna (akmalul ghusl), Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim:

«كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ بِالْمَاءِ فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ، ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ»
"Apabila Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mandi karena janabah, beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya, kemudian berwudhu sebagaimana wudhu beliau untuk salat, lalu memasukkan jari-jari beliau dengan air untuk menyela-nyela pangkal rambutnya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya tiga kali cidukan dengan kedua tangannya, lalu mengalirkan air ke seluruh kulit tubuhnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)[7].

2. Problematika Modern: Air PDAM Berkaporit, Cipratan Sabun/Musta'mal di Ember, dan Mandi Junub

Di era hunian perkotaan modern—mulai dari kamar kos mahasiswa, apartemen, hingga perumahan dengan fasilitas shower atau ember penampungan—muncul empat persoalan praktis seputar fikih air dan mandi wajib yang sering menimbulkan keraguan:

a. Air Keran/PDAM yang Berbau Kaporit atau Berwarna Keruh karena Pipa Saluran

Banyak warga perkotaan mendapati air keran di rumah atau masjid memiliki aroma kaporit/tawas (zat penjernih saluran air) atau sedikit keruh kecokelatan akibat endapan pipa besi dan tanah. Apakah perubahan bau dan warna tersebut mengeluarkan air dari status Ma'un Muthlaq (air mutlak yang sah untuk bersuci)? Dalam Kanzur Raghibin, Imam Jalaluddin Al-Mahalli memberikan penjelasan yang sangat solutif melalui kaidah perubahan karena ma fi maqarrihi wa mamarrihi (zat yang berada di tempat penampungan atau jalur aliran air)[8].

b. Ember Kamar Mandi yang Kejatuhan Tetesan Sabun/Sampo atau Cipratan Air Basuhan (Musta'mal)

Di kamar mandi berukuran kecil yang menggunakan ember (volumenya kurang dari dua kulah / kurang dari ±193–216 liter), air di dalam ember sering kali terkena tetesan busa sabun, tetesan minyak rambut, atau cipratan air bekas basuhan mandi wajib dari tubuh. Kapan perubahan karena sabun tersebut merusak kesucian air (thahuriyyah), dan kapan cipratan air musta'mal masih dimaafkan? Kitab Kanzur Raghibin dan Imta'ul Asma' membedakan secara presisi antara taghayyur qalil (perubahan sedikit yang tidak menghilangkan nama air) dengan taghayyur katsir, serta membedakan antara zat mukhalith (larut menyatu) dengan mujawir (terpisah seperti minyak)[8][9][10].

c. Keraguan Saat Mandi Wajib: Ikatan Rambut Wanita, Lipatan Tubuh, dan Urutan Mandi

Saat mandi wajib (baik karena janabah maupun seusai haid/nifas), sebagian Muslimah bertanya apakah mereka wajib melepas kepangan atau ikatan rambutnya (naqdhudh dhafa'ir), dan bagian tubuh mana saja yang paling sering terlewat dari basuhan air (seperti lipatan perut, ketiak, pusar, lekukan telinga luar, dan area kemaluan yang tampak saat duduk jongkok)[11][12]. Selain itu, bagaimana jika seseorang mandi wajib menggunakan shower sambil memakai sabun dan sampo: kapan niat mandi wajib harus dihadirkan agar mandinya sah?

d. Batasan Aktivitas Orang Junub dan Haid Sebelum Mandi: Bolehkah Membaca Doa Naik Kendaraan atau Istirja'?

Seseorang yang belum sempat mandi junub di pagi hari atau seorang Muslimah yang sedang haid sering kali hendak berangkat kerja atau belajar, lalu ingin membaca doa naik kendaraan ﴿سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ﴾, membaca basmalah, atau mengucapkan istirja' ﴿إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾ saat mendengar kabar duka. Bagaimana hukum melafalkan kalimat-kalimat dzikir yang kebetulan merupakan potongan ayat Al-Qur'an tersebut? Kanzur Raghibin mengulasnya dengan pembedaan niat yang sangat jernih antara qashdul qur'an dan qashdudz dzikr[13][14].

3. Dekonstruksi 5 Kitab Turats: Qaul Kanzur Raghibin tentang Hukum Air dan Al-Ghusl

Mari kita telaah secara langsung kutipan verbatim berharakat lengkap dari lima kitab turats rujukan utama dalam Mazhab Syafi'i:

3.1. Kitab Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin — Karya Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli (791–864 H)

Dalam pembukaan Kitab Ath-Thaharah (Cet. Darul Minhaj, Juz 1, hlm. 74–76), Imam Jalaluddin Al-Mahalli merumuskan definisi Air Mutlak, kriteria perubahan air karena benda mukhalith (pencampur) dan mujawir (pendamping), serta hukum air musta'mal[1][8][9]:

﴿يُشْتَرَطُ لِرَفْعِ الْحَدَثِ وَالنَّجَسِ﴾ الَّذِي هُوَ الْأَصْلُ فِي الطَّهَارَةِ ﴿مَاءٌ مُطْلَقٌ، وَهُوَ: مَا يَقَعُ عَلَيْهِ اسْمُ مَاءٍ بِلَا قَيْدٍ﴾ وَإِنْ قُيِّدَ لِمُوَافَقَةِ الْوَاقِعِ كَمَاءِ الْبَحْرِ، بِخِلَافِ مَا لَا يُذْكَرُ إِلَّا مُقَيَّدًا كَمَاءِ الْوَرْدِ، فَلَا يَرْفَعُ الْحَدَثَ... ﴿فَالْمُتَغَيِّرُ بِمُسْتَغْنًى عَنْهُ﴾ مُخَالِطٍ طَاهِرٍ ﴿كَزَعْفَرَانٍ تَغَيُّرًا يَمْنَعُ إِطْلَاقَ اسْمِ الْمَاءِ﴾ لِكَثْرَتِهِ ﴿غَيْرُ طَهُورٍ﴾ كَمَا أَنَّهُ غَيْرُ مُطْلَقٍ؛ إِذْ مَاصَدَقُ الطَّهُورِ وَالْمُطْلَقِ وَاحِدٌ، ﴿وَلَا يَضُرُّ﴾ فِي الطَّهَارَةِ ﴿تَغَيُّرٌ لَا يَمْنَعُ الِاسْمَ﴾ لِقِلَّتِهِ، ﴿وَلَا مُتَغَيِّرٌ بِمُكْثٍ وَطِينٍ وَطُحْلُبٍ وَمَا فِي مَقَرِّهِ وَمَمَرِّهِ﴾ كَكِبْرِيتٍ وَزِرْنِيخٍ؛ لِتَعَذُّرِ صَوْنِ الْمَاءِ عَمَّا ذُكِرَ... ﴿وَكَذَا﴾ لَا يَضُرُّ ﴿مُتَغَيِّرٌ بِمُجَاوِرٍ﴾ طَاهِرٍ ﴿كَعُودٍ وَدُهْنٍ﴾ مُطَيَّبَيْنِ أَوْ لَا، ﴿أَوْ بِتُرَابٍ طُرِحَ فِي الْأَظْهَرِ﴾... وَضُبِطَ الْمُجَاوِرُ بِمَا يُمْكِنُ فَصْلُهُ، وَالْمُخَالِطُ بِمَا لَا يُمْكِنُ فَصْلُهُ.
"Disyaratkan untuk mengangkat hadats dan menghilangkan najis—yang merupakan pokok dalam thaharah—adanya air mutlak, yaitu air yang dapat disebut dengan nama 'air' tanpa ikatan yang mengikat (bila qaidin), meskipun dikaitkan karena menyesuaikan kenyataan seperti 'air laut'; berbeda halnya dengan cairan yang tidak disebut kecuali dengan ikatan seperti 'air mawar', maka ia tidak dapat mengangkat hadats... Maka air yang berubah oleh benda suci yang larut menyatu (mukhalith) yang air tidak membutuhkannya—seperti kuma-kuma/za'faran—dengan perubahan parah yang menghilangkan penyebutan nama air karena banyaknya, bukanlah air yang menyucikan (ghairu thahur). Dan tidak membahayakan dalam thaharah perubahan sedikit yang tidak menghilangkan nama air, dan tidak pula air yang berubah karena lama tergenang (mukts), tanah liat, lumut, serta zat yang berada di tempat penampungan maupun saluran alirannya seperti belerang dan arsenik; karena sulitnya menjaga air dari hal-hal tersebut... Begitu pula tidak membahayakan air yang berubah karena benda mujawir (pendamping yang suci) seperti kayu gaharu dan minyak, baik diberi wewangian maupun tidak, atau karena tanah yang dimasukkan ke dalamnya menurut pendapat Al-Azhar... Dan benda mujawir dibatasi sebagai benda yang dapat dipisahkan dari air, sedangkan mukhalith adalah benda yang tidak dapat dipisahkan darinya."[1][8]

Selanjutnya, mengenai air musta'mal (air bekas basuhan wajib thaharah) dan bagaimana statusnya jika dikumpulkan hingga mencapai dua kulah, Imam Al-Mahalli menegaskan[9][5]:

﴿وَالْمُسْتَعْمَلُ فِي فَرْضِ الطَّهَارَةِ﴾ عَنِ الْحَدَثِ؛ كَالْغَسْلَةِ الْأُولَى فِيهِ، ﴿قِيلَ: وَنَفْلِهَا﴾ كَالْغَسْلَةِ الثَّانِيَةِ وَالثَّالِثَةِ، وَالْوُضُوءِ الْمُجَدَّدِ، وَالْغُسْلِ الْمَسْنُونِ ﴿غَيْرُ طَهُورٍ فِي الْجَدِيدِ﴾... وَالْأَصَحُّ: أَنَّ الْمُسْتَعْمَلَ فِي نَفْلِ الطَّهَارَةِ عَلَى الْجَدِيدِ طَهُورٌ... ﴿فَإِنْ جُمِعَ﴾ الْمُسْتَعْمَلُ عَلَى الْجَدِيدِ ﴿فَبَلَغَ قُلَّتَيْنِ فَطَهُورٌ فِي الْأَصَحِّ﴾.
"Dan air yang telah digunakan (musta'mal) dalam fardhu thaharah dari hadats—seperti basuhan pertama dalam wudhu atau mandi wajib—(dan menurut satu pendapat lemah: juga dalam sunnah thaharah seperti basuhan kedua dan ketiga, wudhu tajdid, serta mandi sunnah) adalah tidak menyucikan (ghairu thahur) menurut Qaul Jadid... Namun pendapat Al-Ashahh menetapkan bahwa air yang digunakan pada basuhan sunnah thaharah menurut Qaul Jadid tetap suci menyucikan (thahur)... Apabila air musta'mal tersebut dikumpulkan hingga mencapai ukuran dua kulah, maka ia kembali menjadi suci menyucikan (thahur) menurut pendapat Al-Ashahh."[9][5]

Kemudian di dalam Bab Al-Ghusl (Cet. Darul Fikr bersama Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah, Juz 1, hlm. 71–76), Imam Jalaluddin Al-Mahalli merinci hal-hal yang diharamkan bagi orang junub, pengecualian dzikir Al-Qur'an, serta rukun dan kesempurnaan mandi wajib[11][12][13][15]:

﴿وَيَحْرُمُ بِهَا﴾ أَيْ بِالْجَنَابَةِ ﴿مَا حَرُمَ بِالْحَدَثِ﴾ مِنَ الصَّلَاةِ وَغَيْرِهَا الْمُتَقَدِّمِ فِي بَابِهِ ﴿وَالْمُكْثُ بِالْمَسْجِدِ لَا عُبُورُهُ﴾ أَيِ الْجَوَازُ بِهِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ﴾ ﴿وَالْقُرْآنُ﴾ وَلَوْ بَعْضَ آيَةٍ لِحَدِيثِ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ: «لَا يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَلَا الْحَائِضُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ»... ﴿وَتَحِلُّ أَذْكَارُهُ لَا بِقَصْدِ قُرْآنٍ﴾ كَقَوْلِهِ عِنْدَ الرُّكُوبِ: ﴿سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ﴾ وَعِنْدَ الْمُصِيبَةِ: ﴿إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾، فَإِنْ قَصَدَ الْقُرْآنَ وَحْدَهُ أَوْ مَعَ الذِّكْرِ حَرُمَ، وَإِنْ أَطْلَقَ فَلَا.
"Dan diharamkan sebab janabah segala hal yang diharamkan sebab hadats kecil berupa salat dan selainnya, serta diharamkan berdiam diri di dalam masjid namun tidak haram sekadar melintasinya... serta diharamkan membaca Al-Qur'an walaupun sebagian ayat... Namun dihalalkan membaca dzikir-dzikir yang berlafaz Al-Qur'an selama bukan dengan niat membaca Al-Qur'an (la biqashdi qur'anin), seperti ucapan saat naik kendaraan: 'Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin' dan saat tertimpa musibah: 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un'. Apabila ia berniat membaca Al-Qur'an saja atau berniat membaca Al-Qur'an sekaligus dzikir, maka hukumnya haram; sedangkan apabila ia memutlakkan (tidak berniat apa-apa atau berniat dzikir saja), maka tidak haram."[13]

Adapun mengenai batas minimal sahnya mandi wajib (aqallul ghusl) dan bentuk sempurnanya (akmaluhu), Imam Al-Mahalli menyatakan[11][12]:

﴿وَأَقَلُّهُ﴾ أَيِ الْغُسْلِ عَنِ الْجَنَابَةِ أَوِ الْحَيْضِ أَوِ النِّفَاسِ ﴿نِيَّةُ رَفْعِ جَنَابَةٍ﴾ أَوْ حَيْضٍ أَوْ نِفَاسٍ أَيْ رَفْعِ حُكْمِ ذَلِكَ ﴿أَوِ اسْتِبَاحَةُ مُفْتَقِرٍ إِلَيْهِ﴾... ﴿أَوْ أَدَاءُ فَرْضِ الْغُسْلِ﴾ أَوْ فَرْضُ الْغُسْلِ أَوْ أَدَاءُ الْغُسْلِ... ﴿مَقْرُونَةٌ بِأَوَّلِ فَرْضٍ﴾ وَهُوَ أَوَّلُ مَا يُغْسَلُ مِنَ الْبَدَنِ، فَلَوْ نَوَى بَعْدَ غَسْلِ جُزْءٍ وَجَبَ إِعَادَةُ غَسْلِهِ، ﴿وَتَعْمِيمُ شَعَرِهِ﴾ بِفَتْحِ الْعَيْنِ ﴿وَبَشَرِهِ﴾ حَتَّى الْأَظْفَارَ وَمَا يَظْهَرُ مِنْ صِمَاخَيِ الْأُذُنَيْنِ، وَفَرْجِ الْمَرْأَةِ عِنْدَ قُعُودِهَا لِقَضَاءِ الْحَاجَةِ، وَمَا تَحْتَ الشَّعَرِ الْكَثِيفِ، وَيَجِبُ نَقْضُ الضَّفَائِرِ إِنْ لَمْ يَصِلِ الْمَاءُ إِلَى بَاطِنِهَا إِلَّا بِالنَّقْضِ، ﴿وَلَا تَجِبُ مَضْمَضَةٌ وَاسْتِنْشَاقٌ﴾ كَمَا فِي الْوُضُوءِ، ﴿وَأَكْمَلُهُ إِزَالَةُ الْقَذَرِ ثُمَّ الْوُضُوءُ﴾ كَامِلًا... ﴿ثُمَّ تَعَهُّدُ مَعَاطِفِهِ﴾ كَغُضُونِ الْبَطْنِ وَالْإِبْطِ ﴿ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى رَأْسِهِ وَيُخَلِّلُهُ ثُمَّ شِقِّهِ الْأَيْمَنِ ثُمَّ الْأَيْسَرِ وَيَدْلُكُ وَيُثَلِّثُ﴾.
"Dan batas minimal sahnya mandi wajib (aqalluhu) dari janabah, haid, atau nifas adalah: (1) Niat mengangkat janabah, haid, atau nifas, atau niat agar diperbolehkan melakukan ibadah yang membutuhkan mandi, atau niat menunaikan fardhu mandi, yang disertakan berbarengan dengan basuhan wajib pertama dari bagian tubuh (maka jika ia baru berniat setelah membasuh sebagian tubuh, wajib mengulangi basuhan bagian tersebut); dan (2) Meratakan air ke seluruh rambut dan kulitnya, termasuk kuku, bagian yang tampak dari lubang telinga, bagian kemaluan wanita yang tampak saat duduk jongkok buang hajat, serta kulit di bawah rambut yang tebal, dan wajib mengurai kepangan/ikatan rambut apabila air tidak dapat sampai ke bagian dalamnya kecuali dengan diurai. Tidak wajib berkumur dan menghirup air ke hidung sebagaimana dalam wudhu. Sedangkan kesempurnaannya (akmaluhu) adalah menghilangkan kotoran terlebih dahulu, kemudian berwudhu secara sempurna, lalu memperhatikan lipatan-lipatan tubuh (seperti lipatan perut dan ketiak), lalu menyiramkan air ke kepala sambil menyela-nyela pangkal rambutnya, kemudian membasuh sisi tubuh kanan lalu sisi kiri, menggosok tubuh (dalk), dan mengulanginya tiga kali."[11][12]

3.2. Kitab Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah 'ala Kanzir Raghibin — Karya Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi & Syaikh 'Umairah

Dalam Hasyiyah Qalyubi (Juz 1, hlm. 18 & 75–76), dijelaskan tiga kaidah krusial yang sering luput dari perhatian masyarakat: (1) Selama air masih mengalir bergerak di atas anggota tubuh (misalnya mengalir dari kepala ke dada saat mandi), air tersebut belum dihukumi musta'mal sampai benar-benar terpisah (infishal) dari tubuh[16]; (2) Mengapa niat wudhu cukup dengan "Nawaitul wudhu'" sedangkan mandi wajib tidak cukup hanya berniat "Nawaitul ghusla" tanpa menyebutkan fardhu/wajib/janabah? Karena mandi biasa dilakukan untuk adat (menyegarkan/membersihkan badan), sedangkan wudhu murni ibadah[17]; dan (3) Peringatan emas dari Imam Ibnu Hajar Al-Haitami agar orang yang mandi wajib berhati-hati tidak menyentuh kemaluannya dengan telapak tangan bagian dalam setelah berniat mandi wajib, karena jika tersentuh, hadats kecilnya kembali sehingga ia wajib membasuh kembali sisa anggota wudhu dengan niat wudhu agar bisa salat[18]!

3.3. Kitab Imta'ul Asma' fi Syarh Matn Abi Syuja' — Karya Syaikh Mush'ab bin Al-Hasan Al-'Akkari

Dalam Imta'ul Asma' (hlm. cetakan 20–23 & 40–42), Syaikh Mush'ab Al-'Akkari menjelaskan konversi ukuran Qullatain (500 rithl Baghdadi) ke dalam satuan liter modern, metode taqdir (perkiraan) jika air sedikit kejatuhan cipratan air musta'mal, serta pendapat terpilih (Al-Ashahh Al-Mufta Bihi) dari Imam An-Nawawi bahwa satu kali basuhan air pada tubuh yang terdapat najis hukmiyyah sudah mencukupi untuk menghilangkan najis sekaligus mengangkat hadats[10][19][20].

3.4. Kitab Nailur Raja' bi Syarh Safinatun Naja & Al-Fiqhul Manhaji

Kitab Nailur Raja' (hlm. cetakan 21–22) dan Al-Fiqhul Manhaji (Juz 1, hlm. cetakan 31–35 & 71–80) merinci enam sebab wajibnya mandi besar (mujibatul ghusl), dua fardhu mandi besar, enam hal yang diharamkan atas orang junub, serta sepuluh hal yang diharamkan atas wanita haid[21][22][23][24]. Dalam Al-Fiqhul Manhaji juga dijelaskan bahwa ukuran dua kulah setara dengan kubus berukuran 1,25 hasta panjang, lebar, dan dalam (±192,857 kg hingga 216 liter air)[19][23].

3.5. Kitab Fatawa Al-Imam An-Nawawi (Al-Masa'ilul Mantsurah)

Dalam Fatawa Al-Imam An-Nawawi (hlm. cetakan 5–7 [hlm. file PDF 28–30]), Imam An-Nawawi menjawab berbagai persoalan fikih air secara lugas: (1) Uap air yang mendidih lalu menetes kembali adalah suci menyucikan (thahur); (2) Bersuci dengan air Zamzam hukumnya sah dan tidak makruh; (3) Air yang berubah karena lama tergenang (thulul mukts) atau berubah karena minyak (duhn) dan kayu gaharu ('ud) tetap suci menyucikan (thahur); serta (4) Air bekas basuhan kedua dan ketiga dalam wudhu atau mandi sunnah tetap thahur menurut pendapat yang sahih[25][26].

4. Tabel Matriks Komparasi Hukum Perubahan Air, Air Musta'mal, dan Rukun Mandi Wajib

Berikut adalah tabel matriks komparatif yang memetakan status hukum berbagai jenis air di rumah tangga modern serta ketentuan pelaksanaan mandi wajib menurut Kanzur Raghibin:

No. Objek Hukum / Kasus Praktis Status Hukum Fikih Syafi'i Rujukan & Kaidah Kanzur Raghibin Tindakan Praktis
1 Air PDAM Berbau Kaporit / Mineral Pipa Saluran Thahur (Suci & Menyucikan) Termasuk kategori ma fi maqarrihi wa mamarrihi (zat yang berada di tempat tampungan dan saluran pipa yang sulit dihindari)[8]. Sah digunakan untuk wudhu, mandi wajib, dan menyucikan najis.
2 Air Ember (< 2 Kulah) Terkena Sedikit Busa Sabun (warna, bau, dan rasa air belum berubah parah) Thahur (Suci & Menyucikan) Wa la yadhurru taghayyurun la yamna'ul isma liqillatihi: perubahan sedikit oleh benda suci yang tidak menghilangkan sebutan "air" tidak merusak kesucian air[8][10]. Tetap sah digunakan untuk wudhu dan mandi wajib selama masih disebut air biasa (bukan air sabun).
3 Air Berubah Bau karena Minyak (Duhn) atau Kayu Harum yang Tidak Larut Menyatu Thahur (Suci & Menyucikan) Termasuk perubahan karena mujawir thahir (benda pendamping suci yang dapat dipisahkan/mengapung)[8][26]. Sah digunakan untuk bersuci meskipun tercium aroma minyak atau gaharu tersebut.
4 Air Ember Kecil (< 2 Kulah) Kejatuhan Cipratan Air Musta'mal dari Gayung/Tubuh Tetap Thahur selama Cipratannya Sedikit (Tidak Mengubah Taqdir) Diuji dengan taqdir mukhalif wasath: karena cipratan air musta'mal sedikit sekali dibanding air seember dan tidak akan mengubah sifatnya jika diandaikan berwarna/berbau, maka air ember tetap thahur[10][23]. Jangan waswas terhadap cipratan wajar saat menciduk air dari ember; hindari mencelupkan anggota tubuh langsung ke dalam ember kecil sebelum berniat[6].
5 Air Musta'mal Dikumpulkan Kembali hingga Mencapai 2 Kulah (≥ 193–216 Liter) Kembali Menjadi Thahur (Al-Ashahh) Fa in jumi'a fabalagha qullataini fathahurun fil Ashahh (Kanzur Raghibin, Juz 1, hlm. 76)[5]. Bak mandi besar yang volumenya mencapai 2 kulah tidak menjadi musta'mal oleh tetesan basuhan mandi.
6 Mandi Wajib dengan Shower Sambil Memakai Sabun & Sampo Sah (Asalkan Niat & Air Mutlak Merata) Pastikan ada basuhan air mutlak murni (tanpa busa sabun pekat yang mengubah sifat air) yang merata ke seluruh kulit dan rambut setelah berniat mandi wajib[11][16]. Niatkan mandi wajib di awal guyuran air mutlak dari shower ke seluruh tubuh, baru kemudian gunakan sabun/sampo, atau bilas bersih seluruh sabun lalu niatkan mandi wajib sambil mengguyur seluruh tubuh.
7 Rambut Wanita yang Dikepang atau Diikat Saat Mandi Wajib Wajib Diurai Jika Air Tidak Masuk ke Bagian Dalamnya Wa yajibu naqdhudh dhafa'iri in lam yashilil ma'u ila bathiniha illa bin-naqdhi (Kanzur Raghibin, Juz 1, hlm. 75)[11]. Lepaskan ikatan karet rambut yang kencang agar air meresap sempurna hingga ke pangkal dan helaian dalam rambut.
8 Orang Junub/Haid Membaca Doa Harian Berlafaz Al-Qur'an (Basmalah, Istirja', Doa Kendaraan) Halal / Boleh (Jika Diniatkan Dzikir/Doa atau Dimutlakkan) Wa tahillu adzkaruhu la biqashdi qur'anin: halal selama tidak diniatkan tilawah Al-Qur'an (Kanzur Raghibin, Juz 1, hlm. 74)[13]. Niatkan di dalam hati sebagai doa atau dzikir penjagaan diri, bukan sedang tilawah Al-Qur'an.

5. Bagan Alur Vertikal Penentuan Status Air & Keabsahan Mandi Wajib (Al-Ghusl)

Bagan alur vertikal berikut memandu langkah demi langkah pemeriksaan kesucian air hingga pelaksanaan mandi wajib yang sah dan sempurna:

LANGKAH 1: Verifikasi Status Air (Ma'un Muthlaq / Thahur)

Apakah air berasal dari sumber alami/keran? Jika berubah karena kaporit saluran pipa (ma fi mamarrihi), lumut, tanah, atau benda mujawir (minyak), atau hanya berubah sedikit oleh cipratan sabun tanpa menghilangkan nama "air", maka statusnya Air Thahur (Sah untuk Mandi Wajib & Wudhu)[8].

LANGKAH 2: Persiapan Fisik & Pembersihan Penghalang (Izalatul Qadzar wal Mani')

Bersihkan terlebih dahulu kotoran/mani/darah pada kemaluan dan tubuh, lepaskan ikatan rambut yang menghalangi air ke bagian dalam rambut, serta berwudhulah secara sempurna sebagai kesunnahan muakkadah sebelum mengguyur tubuh[11][12].

LANGKAH 3: Muqaranah Niat pada Basuhan Pertama Tubuh (Rukun Pertama)

Saat guyuran pertama air mutlak menyentuh bagian tubuh mana pun (kepala atau badan), hadirkan niat di dalam hati: "Nawaitu raf'al hadatsil akbari" atau "Nawaitu adaa'a fardhil ghusli" (jangan hanya berniat "mandi" biasa tanpa kata fardhu/hadats/janabah)[11][17].

LANGKAH 4: Perataan Air ke Seluruh Rambut, Kulit, & Lipatan (Rukun Kedua)

Siram kepala 3 kali sambil menyela pangkal rambut, basuh sisi tubuh kanan lalu kiri sambil menggosok (dalk) lipatan perut, ketiak, pusar, belakang lutut, lekukan telinga luar, dan area kemaluan yang tampak saat jongkok. Perhatian: Jangan menyentuh kemaluan dengan telapak tangan bagian dalam setelah selesai berwudhu/mandi agar wudhunya tidak batal kembali[12][18]!

6. Analisis Kaidah Ushul Fiqh (Manthuq-Mafhum Hadits Qullatain) dan Qawa'id Fiqhiyyah

Dalam Kanzur Raghibin dan Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh karya Prof. Dr. Muhammad Hasan Hito, penetapan hukum air dua kulah menjadi contoh klasik paling cemerlang dari perpaduan Dalalatul Manthuq (makna tersurat teks), Mafhumul Muwafaqah (makna tersirat yang selaras/fahwal khithab), dan Mafhumul Mukhalafah (makna kebalikan syarat)[5][27]:

  1. Dalalatul Manthuq: Sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam "Idza balaghal ma'u qullataini lam yahmilil khabats" secara tersurat menetapkan bahwa air yang tepat berjumlah dua kulah tidak menjadi najis hanya karena bertemu najis (selama tidak berubah warna, bau, atau rasanya)[5][27].
  2. Mafhumul Muwafaqah (Al-Fahwa): Melalui penalaran akal, apabila air dua kulah saja mampu menolak najis karena banyaknya, maka air yang lebih dari dua kulah tentu lebih utama (min babil aula) untuk tidak menjadi najis[27].
  3. Mafhumul Mukhalafah (Mafhumusy Syarth): Sebaliknya, apabila air tersebut kurang dari dua kulah (duna qullatain), maka ia menjadi najis ketika kemasukan najis (yang tidak dimaafkan) walaupun tidak berubah sifatnya; dan mafhum ini mengkhususkan (takhshish) keumuman hadits "Al-ma'u la yunajjisuhu syai'un"[5][27].

Selain itu, dalam Bab Al-Ghusl dan Bab Al-Wudhu', berlaku kaidah fikih yang sangat penting terkait masuknya hadats kecil ke dalam pengangkatan hadats besar (Tadakhulul Ahdats):

«مَا أَوْجَبَ أَعْظَمَ الْأَمْرَيْنِ بِخُصُوصِهِ لَا يُوجِبُ أَدْوَنَهُمَا مَعَهُ بِعُمُومِهِ»
"Sesuatu yang mewajibkan perkara yang lebih besar karena kekhususan sifatnya, tidak lagi mewajibkan perkara yang lebih ringan bersamanya karena keumuman sifatnya."[28]

Melalui kaidah yang dikutip oleh Syaikh Al-Qalyubi dalam Hasyiyah Kanzur Raghibin dan Syaikh Mush'ab Al-'Akkari dalam Imta'ul Asma' ini, terjawablah mengapa keluarnya air mani (meskipun keluar dari jalan depan/qubul) tidak membatalkan wudhu tetapi langsung mewajibkan mandi besar, serta mengapa orang yang mandi wajib dari janabah otomatis terangkat pula hadats kecilnya meskipun ia tidak berwudhu terlebih dahulu (selama di tengah atau akhir mandinya ia tidak menyentuh kemaluan atau melakukan pembatal wudhu lagi)[18][20][28].

Begitu pula terkait niat membaca penggalan ayat Al-Qur'an sebagai doa/dzikir bagi orang junub atau haid, berlaku kaidah fikih induk:

«الْأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا»
"Segala urusan (hukum amal perbuatan) itu bergantung pada maksud/niat pelakunya."[5][13]

Karena lafaz seperti ﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾, ﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾, dan ﴿إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾ memiliki dua fungsi syar'i—sebagai ayat Al-Qur'an sekaligus sebagai kalimat dzikir/doa harian—maka status hukum membacanya bagi orang junub ditentukan oleh qashd (maksud hati): jika diniatkan tilawah Al-Qur'an maka haram, sedangkan jika diniatkan dzikir atau dimutlakkan tanpa niat tilawah maka halal[13][14].

7. Bedah Detail Kanzur Raghibin: Mukhalith vs Mujawir, Naqdhudh Dhafa'ir, dan Dzikir Orang Junub

Mari kita dalami empat rincian fikih tingkat lanjut dari kitab Kanzur Raghibin dan Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah yang memberikan kepastian hukum bagi rumah tangga Muslim:

7.1. Pembedaan Presisi antara Benda Mukhalith dan Mujawir pada Air

Imam Jalaluddin Al-Mahalli merumuskan definisi operasional yang sangat jelas: Al-Mujawir adalah benda suci yang dapat dipisahkan dari air (atau menurut mayoritas ulama sebagaimana dijelaskan Al-Qalyubi: benda yang tetap tampak terpisah secara kasatmata seperti minyak, potongan kayu gaharu, kapur barus padat, atau dedaunan utuh), sedangkan Al-Mukhalith adalah benda suci yang larut menyatu sehingga tidak dapat dipisahkan lagi dari air (seperti teh, kopi, sirup, susu, atau busa sabun yang larut pekat)[8][29]. Apabila air berubah bau atau rasanya karena benda mujawir (misalnya air di ember berbau minyak kayu putih atau minyak wangi yang menetes di permukaannya), air tersebut tetap suci menyucikan (thahur) walaupun perubahannya banyak! Sedangkan apabila kemasukan benda mukhalith seperti sabun, ia baru merusak status thahur jika perubahannya sedemikian parah hingga air itu tidak lagi disebut "air" melainkan disebut "air sabun"[8].

7.2. Kapan Air Basuhan Mandi Wajib Berubah Menjadi Musta'mal?

Banyak orang khawatir ketika sedang mandi wajib dengan guyuran gayung atau shower, air yang mengalir dari kepalanya turun mengenai dada, perut, dan kakinya: apakah air yang turun dari kepala ke dada itu sudah menjadi musta'mal sehingga tidak sah menyucikan dada dan kaki? Imam Al-Mahalli dan Syaikh Al-Qalyubi menjawab dengan tegas: Tidak! Selama air masih mengalir merambat dari satu anggota tubuh ke anggota tubuh lainnya dan belum terpisah jatuh (ma dama yatarddadu 'alal mahalli dunal munfashil), air tersebut tetap berstatus thahur dan sah mengangkat hadats pada seluruh bagian tubuh yang dilewatinya[9][16].

7.3. Kewajiban Meratakan Air ke Bagian Tubuh yang Tersembunyi (Ma'athif) dan Kuku

Dalam Kanzur Raghibin, Imam Al-Mahalli menekankan bahwa kata ta'mimu sya'rihi wa basyarihi (meratakan air ke seluruh rambut dan kulit) dalam mandi wajib mencakup seluruh permukaan luar tubuh yang wajib terkena air, yaitu: (1) Bagian bawah kuku dan sela-sela jari; (2) Bagian yang tampak dari lubang telinga (ma yazhharu min shimakhayil udzunain); (3) Bagian lipatan perut, ketiak, pusar, dan lekukan bawah lutut (ma'athif); (4) Kulit di bawah rambut kepala maupun jenggot meskipun tebal (berbeda dengan wudhu yang memaafkan bagian dalam jenggot tebal, dalam mandi wajib air wajib sampai ke kulit di bawah jenggot tebal karena mandi wajib tidak berulang lima kali sehari seperti wudhu); serta (5) Bagian luar kemaluan wanita yang tampak saat ia duduk jongkok untuk buang hajat[11][12].

7.4. Sunnah Tatabbu' Atsarid Dam dengan Misk (Wewangian) Seusai Mandi Haid dan Nifas

Di akhir Bab Al-Ghusl, Imam Jalaluddin Al-Mahalli menjelaskan kesunnahan khusus bagi wanita yang selesai mandi wajib dari haid atau nifas, yaitu tatabbu'u atsarid dam (mengusapkan sedikit kapas yang diberi minyak misk atau wewangian ke bekas tempat keluarnya darah setelah mandi wajib) berdasarkan hadits sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha: "Khudzi firshatan min miskin fatathahhari biha" (Ambillah sepotong kapas yang diberi misk lalu bersucilah dengannya), dengan tujuan mengharumkan kembali area tersebut dan menghilangkan bau kurang sedap dari sisa darah[12][30].

8. Panduan Praktis Mandi Wajib (Al-Ghusl) yang Sah, Sempurna, dan Bebas Waswas

Berikut adalah urutan praktis melaksanakan mandi wajib (al-ghusl) yang memadukan keterpenuhan rukun (aqallul ghusl) dan kesunnahan sempurna (akmalul ghusl) menurut kitab Kanzur Raghibin dan Imta'ul Asma':

  1. Bersihkan Kemaluan dan Kotoran di Tubuh Terlebih Dahulu: Mulailah dengan membaca Basmalah di dalam hati (atau dengan lisan tanpa niat Qur'an), lalu basuh kemaluan dan bersihkan sisa mani, darah, atau kotoran (serta bersihkan sabun/sampo jika Anda ingin keramas terlebih dahulu sebelum memulai rukun mandi wajib)[12][20].
  2. Lakukan Wudhu Secara Sempurna: Berwudhulah sebagaimana wudhu untuk salat (termasuk berkumur dan menghirup air ke hidung/madhmadhah dan istinsyaq). Setelah selesai berwudhu, hindari menyentuh kemaluan dengan telapak tangan bagian dalam agar wudhu Anda tetap terjaga hingga selesai mandi[12][18].
  3. Hadirkan Niat Mandi Wajib Berbarengan dengan Guyuran Pertama: Saat menyiramkan air mutlak pertama kali ke kepala atau tubuh, hadirkan niat di dalam hati: "Nawaitu raf'al hadatsil akbari lillahi ta'ala" (Saya berniat mengangkat hadats besar karena Allah Ta'ala)[11].
  4. Siram Kepala 3 Kali Sambil Menyela Pangkal Rambut (Takhlil): Pastikan ikatan rambut yang kencang telah dilepas, lalu masukkan jari-jari tangan yang basah ke sela-sela pangkal rambut dan jenggot hingga air menyentuh seluruh kulit kepala dan kulit dagu, kemudian guyur kepala 3 kali[7][11].
  5. Guyur Sisi Tubuh Kanan 3 Kali Lalu Sisi Kiri 3 Kali Sambil Menggosok Lipatan (Dalk): Alirkan air mutlak ke seluruh tubuh bagian kanan lalu kiri, sambil menggosok dengan tangan bagian ketiak, pusar, lipatan perut, sela jari kaki, belakang lutut, dan lekukan telinga luar hingga yakin 100% tidak ada satu helai rambut atau mili kulit pun yang terlewat[11][12].
  6. Tutup dengan Doa Sesudah Bersuci: Setelah selesai mandi wajib, menghadaplah ke kiblat dan bacalah syahadat serta doa sebagaimana doa sesudah wudhu[18][20].

9. Muhasabah & Self-Assessment Checklist Kesempurnaan Mandi Wajib dan Kesucian Air

Gunakan daftar periksa mandiri (self-assessment checklist) berikut untuk memastikan kesucian air dan keabsahan mandi wajib di rumah Anda:

[ ✓ ] 1. Pemeriksaan Status Air Mutlak: Apakah air yang saya gunakan untuk guyuran wajib adalah air mutlak murni (bukan air yang sudah berubah pekat menjadi air sabun/sampo)?[8]
[ ✓ ] 2. Pemeriksaan Perlindungan Air Ember (< 2 Kulah): Jika menggunakan ember kecil, apakah saya sudah menciduk air dengan gayung setelah berniat (tidak mencelupkan tangan/anggota tubuh yang sedang membasuh fardhu langsung ke dalam ember tanpa niat cidukan/ightiraf)?[6][9]
[ ✓ ] 3. Pemeriksaan Ketepatan Lafaz Niat di Hati: Apakah saat guyuran pertama saya sudah berniat mengangkat hadats besar / fardhu mandi (bukan sekadar berniat "mandi" biasa)?[11][17]
[ ✓ ] 4. Pemeriksaan Lipatan Tubuh & Ikatan Rambut: Apakah ikatan rambut yang rapat sudah dibuka, dan apakah air sudah merata ke pangkal rambut, kulit di bawah jenggot, lubang telinga luar, pusar, ketiak, serta lipatan bawah tubuh?[11][12]
[ ✓ ] 5. Pemeriksaan Tidak Menyentuh Kemaluan Pasca-Mandi: Apakah setelah mandi selesai saya terjaga dari menyentuh kemaluan dengan telapak tangan bagian dalam sehingga saya dapat langsung melaksanakan salat tanpa perlu wudhu ulang?[18][20]

10. Kesimpulan Integratif & Rekomendasi Ilmiah

Berdasarkan telaah komprehensif atas kitab Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin karya Al-Imam Jalaluddin Al-Mahalli beserta Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah, Imta'ul Asma', Nailur Raja', Al-Fiqhul Manhaji, dan Fatawa Al-Imam An-Nawawi, tampak jelas betapa proporsional dan sistematisnya fikih thaharah Mazhab Syafi'i. Syariat tidak membebani umat dengan kesulitan atas perubahan air yang berasal dari saluran pipa (ma fi maqarrihi wa mamarrihi), perubahan karena benda mujawir, maupun perubahan sedikit yang tidak menghilangkan nama air; syariat juga membolehkan orang junub dan wanita haid berdzikir serta berdoa dengan kalimat-kalimat Al-Qur'an selama diniatkan sebagai dzikir (la biqashdi qur'anin); sekaligus membimbing setiap Muslim menyempurnakan mandi wajibnya melalui ketepatan niat dan perataan air ke seluruh rambut serta lipatan kulit. Dengan berpegang pada pedoman ilmiah kitab turats ini, ibadah keseharian kita akan berdiri di atas landasan ilmu yang kokoh dan menenteramkan jiwa.

Catatan Kaki (Footnotes) & Ibaroh Kitab Turats Terverifikasi

[1] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin (Tahqiq: Mahmud Shalih Ahmad Hasan Al-Hadidi, Cet. 2, Jeddah: Darul Minhaj, 1434 H / 2013 M, berkas PDF: كنز الراغبين شرح منهاج الطالبين1.pdf), Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, hlm. cetakan 74 [hlm. file PDF 74]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا﴾ أَيْ: مُطَهِّرًا، وَيُعَبَّرُ عَنْهُ بِالْمُطْلَقِ. ﴿يُشْتَرَطُ لِرَفْعِ الْحَدَثِ وَالنَّجَسِ﴾ الَّذِي هُوَ الْأَصْلُ فِي الطَّهَارَةِ ﴿مَاءٌ مُطْلَقٌ، وَهُوَ: مَا يَقَعُ عَلَيْهِ اسْمُ مَاءٍ بِلَا قَيْدٍ﴾». ↑ Kembali ke Teks
[2] Al-Qur'an Al-Karim, Surah Al-Anfal [8]: 11; dikutip dalam Imta'ul Asma' fi Syarh Matn Abi Syuja' karya Syaikh Mush'ab bin Al-Hasan Al-'Akkari (Cet. 1, 1441 H / 2019 M, berkas PDF: إمتاع الأسماع في شرح متن أبي شجاع.pdf), Kitab Ath-Thaharah, hlm. cetakan 20–21 [hlm. file PDF 22–23]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ﴾. ↑ Kembali ke Teks
[3] Al-Qur'an Al-Karim, Surah Al-Ma'idah [5]: 6; dikutip dalam Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhabil Imam Asy-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, Cet. 4, 1413 H / 1992 M, berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf), Juz 1, Ahkamuth Thaharah, hlm. cetakan 27 [hlm. file PDF 27]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا﴾. ↑ Kembali ke Teks
[4] Al-Qur'an Al-Karim, Surah An-Nisa' [4]: 43; dikutip dalam Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah 'ala Syarhil Imam Jalaluddin Al-Mahalli 'ala Minhajith Thalibin (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Al-Ghusl, hlm. cetakan 74 [hlm. file PDF 74]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا﴾. ↑ Kembali ke Teks
[5] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin (Jeddah: Darul Minhaj, 1434 H / 2013 M, berkas PDF: كنز الراغبين شرح منهاج الطالبين1.pdf), Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, hlm. cetakan 76 [hlm. file PDF 76]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿فَإِنْ جُمِعَ﴾ الْمُسْتَعْمَلُ عَلَى الْجَدِيدِ ﴿فَبَلَغَ قُلَّتَيْنِ فَطَهُورٌ فِي الْأَصَحِّ﴾ كَمَا لَوْ جُمِعَ النَّجِسُ فَبَلَغَ قُلَّتَيْنِ مِنْ غَيْرِ تَغَيُّرٍ... ﴿وَلَا تَنْجُسُ قُلَّتَا الْمَاءِ بِمُلَاقَاةِ نَجِسٍ﴾ لِحَدِيثِ: "إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ" صَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَغَيْرُهُ، وَفِي رِوَايَةٍ لِأَبِي دَاوُدَ وَغَيْرِهِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ: "فَإِنَّهُ لَا يَنْجُسُ"». ↑ Kembali ke Teks
[6] Hadits Riwayat Muslim (no. 283) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; dikutip dalam Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhabil Imam Asy-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, 1413 H / 1992 M, berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf), Juz 1, Aqsamul Miyah: Ath-Thahir Ghairul Muthahhir, hlm. cetakan 33 [hlm. file PDF 33]. نَصُّ الْحَدِيثِ: «لَا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ - أَيِ الرَّاكِدِ - وَهُوَ جُنُبٌ، فَقَالُوا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، كَيْفَ يَفْعَلُ؟ قَالَ: يَتَنَاوَلُهُ تَنَاوُلًا». ↑ Kembali ke Teks
[7] Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha; dikutip dalam Imta'ul Asma' fi Syarh Matn Abi Syuja' (berkas PDF: إمتاع الأسماع في شرح متن أبي شجاع.pdf), Fashl fi Fara'idhil Ghusli wa Sunanihi, hlm. cetakan 41 [hlm. file PDF 43]. نَصُّ الْحَدِيثِ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ بِالْمَاءِ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ، ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ». ↑ Kembali ke Teks
[8] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin (Jeddah: Darul Minhaj, 1434 H / 2013 M, berkas PDF: كنز الراغبين شرح منهاج الطالبين1.pdf), Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, hlm. cetakan 74–75 [hlm. file PDF 74–75]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿فَالْمُتَغَيِّرُ بِمُسْتَغْنًى عَنْهُ﴾ مُخَالِطٍ طَاهِرٍ ﴿كَزَعْفَرَانٍ تَغَيُّرًا يَمْنَعُ إِطْلَاقَ اسْمِ الْمَاءِ﴾ لِكَثْرَتِهِ ﴿غَيْرُ طَهُورٍ﴾... ﴿وَلَا يَضُرُّ﴾ فِي الطَّهَارَةِ ﴿تَغَيُّرٌ لَا يَمْنَعُ الِاسْمَ﴾ لِقِلَّتِهِ، ﴿وَلَا مُتَغَيِّرٌ بِمُكْثٍ وَطِينٍ وَطُحْلُبٍ وَمَا فِي مَقَرِّهِ وَمَمَرِّهِ﴾ كَكِبْرِيتٍ وَزِرْنِيخٍ؛ لِتَعَذُّرِ صَوْنِ الْمَاءِ عَمَّا ذُكِرَ... ﴿وَكَذَا﴾ لَا يَضُرُّ ﴿مُتَغَيِّرٌ بِمُجَاوِرٍ﴾ طَاهِرٍ ﴿كَعُودٍ وَدُهْنٍ﴾ مُطَيَّبَيْنِ أَوْ لَا، ﴿أَوْ بِتُرَابٍ طُرِحَ فِي الْأَظْهَرِ﴾... وَضُبِطَ الْمُجَاوِرُ بِمَا يُمْكِنُ فَصْلُهُ، وَالْمُخَالِطُ بِمَا لَا يُمْكِنُ فَصْلُهُ». ↑ Kembali ke Teks
[9] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin (Jeddah: Darul Minhaj, 1434 H / 2013 M, berkas PDF: كنز الراغبين شرح منهاج الطالبين1.pdf), Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, hlm. cetakan 75 [hlm. file PDF 75]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿وَالْمُسْتَعْمَلُ فِي فَرْضِ الطَّهَارَةِ﴾ عَنِ الْحَدَثِ؛ كَالْغَسْلَةِ الْأُولَى فِيهِ، ﴿قِيلَ: وَنَفْلِهَا﴾ كَالْغَسْلَةِ الثَّانِيَةِ وَالثَّالِثَةِ، وَالْوُضُوءِ الْمُجَدَّدِ، وَالْغُسْلِ الْمَسْنُونِ ﴿غَيْرُ طَهُورٍ فِي الْجَدِيدِ﴾ لِأَنَّ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ لَمْ يَجْمَعُوا الْمُسْتَعْمَلَ فِي أَسْفَارِهِمُ الْقَلِيلَةِ الْمَاءِ لِيَتَطَهَّرُوا بِهِ، بَلْ عَدَلُوا عَنْهُ إِلَى التَّيَمُّمِ، وَالْقَدِيمُ: أَنَّهُ طَهُورٌ؛ لِوَصْفِ الْمَاءِ فِي الْآيَةِ السَّابِقَةِ بِلَفْظِ ﴿طَهُورًا﴾ الْمُقْتَضِي تَكَرُّرَ الطَّهَارَةِ بِهِ؛ كَضَرُوبٍ لِمَنْ يَتَكَرَّرُ مِنْهُ الضَّرْبُ، وَأُجِيبَ بِتَكَرُّرِ الطَّهَارَةِ بِهِ فِيمَا يَتَرَدَّدُ عَلَى الْمَحَلِّ دُونَ الْمُنْفَصِلِ جَمْعًا بَيْنَ الدَّلِيلَيْنِ. وَالْأَصَحُّ: أَنَّ الْمُسْتَعْمَلَ فِي نَفْلِ الطَّهَارَةِ عَلَى الْجَدِيدِ طَهُورٌ». ↑ Kembali ke Teks
[10] Syaikh Mush'ab bin Al-Hasan Al-'Akkari, Imta'ul Asma' fi Syarh Matn Abi Syuja' (Cet. 1, 1441 H / 2019 M, berkas PDF: إمتاع الأسماع في شرح متن أبي شجاع.pdf), Anwa'ul Miyah, hlm. cetakan 22–23 [hlm. file PDF 24–25]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَأَمَّا النَّوْعُ الثَّانِي مِنْ أَنْوَاعِ الْمَاءِ الطَّاهِرِ غَيْرِ الْمُطَهِّرِ فَهُوَ: الْمُتَغَيِّرُ تَغَيُّرًا كَثِيرًا بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ، وَكَانَ يُمْكِنُ الِاسْتِغْنَاءُ عَنْ هَذِهِ الْمُخَالَطَةِ. فَقَوْلُنَا: (تَغَيُّرًا كَثِيرًا) يَعْنِي أَنَّ التَّغَيُّرَ الْقَلِيلَ لَا يَضُرُّ الْمَاءَ، بَلْ يَبْقَى طَهُورًا. وَسَوَاءٌ فِي ذَلِكَ التَّغَيُّرُ الْحِسِّيُّ... أَوِ التَّقْدِيرِيُّ، وَهُوَ مَا لَا يَظْهَرُ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الصِّفَاتِ، وَذَلِكَ كَمَا لَوِ اخْتَلَطَ بِالْمَاءِ مَا يُشْبِهُهُ فِي صِفَاتِهِ، كَمَاءِ زَهْرٍ ذَهَبَتْ رَائِحَتُهُ، أَوْ مَاءٍ مُسْتَعْمَلٍ فِي فَرْضِ طَهَارَةٍ، فَفِي هَاتَيْنِ الْحَالَتَيْنِ نُقَدِّرُ أَنَّ هَذَا الْمُخَالِطَ مُخْتَلِفٌ فِي صِفَاتِهِ عَنِ الْمَاءِ، فَإِنْ قَدَّرْنَا أَنَّهُ يُغَيِّرُ الْمَاءَ تَغَيُّرًا كَثِيرًا ضَرَّ، وَإِلَّا فَلَا، وَإِنْ شَكَّ فِي كِلْتَا الْحَالَتَيْنِ لَمْ يَضُرَّ، وَيَبْقَى الْمَاءُ عَلَى أَصْلِهِ». ↑ Kembali ke Teks
[11] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin bersama Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Al-Ghusl, hlm. cetakan 74–75 [hlm. file PDF 74–75]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿وَأَقَلُّهُ﴾ أَيِ الْغُسْلِ عَنِ الْجَنَابَةِ أَوِ الْحَيْضِ أَوِ النِّفَاسِ ﴿نِيَّةُ رَفْعِ جَنَابَةٍ﴾ أَوْ حَيْضٍ أَوْ نِفَاسٍ أَيْ رَفْعِ حُكْمِ ذَلِكَ ﴿أَوِ اسْتِبَاحَةُ مُفْتَقِرٍ إِلَيْهِ﴾ أَيْ إِلَى الْغُسْلِ كَأَنْ يَنْوِيَ بِهِ اسْتِبَاحَةَ الصَّلَاةِ أَوْ غَيْرِهَا مِمَّا يَتَوَقَّفُ عَلَى الْغُسْلِ ﴿أَوْ أَدَاءُ فَرْضِ الْغُسْلِ﴾... ﴿مَقْرُونَةٌ بِأَوَّلِ فَرْضٍ﴾ وَهُوَ أَوَّلُ مَا يُغْسَلُ مِنَ الْبَدَنِ، فَلَوْ نَوَى بَعْدَ غَسْلِ جُزْءٍ وَجَبَ إِعَادَةُ غَسْلِهِ... ﴿وَتَعْمِيمُ شَعَرِهِ﴾ بِفَتْحِ الْعَيْنِ ﴿وَبَشَرِهِ﴾ حَتَّى الْأَظْفَارَ وَمَا يَظْهَرُ مِنْ صِمَاخَيِ الْأُذُنَيْنِ، وَفَرْجِ الْمَرْأَةِ عِنْدَ قُعُودِهَا لِقَضَاءِ الْحَاجَةِ وَمَا تَحْتَ الشَّعَرِ الْكَثِيفِ، وَيَجِبُ نَقْضُ الضَّفَائِرِ إِنْ لَمْ يَصِلِ الْمَاءُ إِلَى بَاطِنِهَا إِلَّا بِالنَّقْضِ ﴿وَلَا تَجِبُ مَضْمَضَةٌ وَاسْتِنْشَاقٌ﴾». ↑ Kembali ke Teks
[12] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin bersama Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Al-Ghusl, hlm. cetakan 75–76 [hlm. file PDF 75–76]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿وَأَكْمَلُهُ إِزَالَةُ الْقَذَرِ﴾ بِالْمُعْجَمَةِ كَالْمَنِيِّ عَلَى الْفَرْجِ ﴿ثُمَّ الْوُضُوءُ﴾ كَامِلًا ﴿وَفِي قَوْلٍ: يُؤَخِّرُ غَسْلَ قَدَمَيْهِ﴾ فَيَغْسِلُهُمَا بَعْدَ الْغُسْلِ... ﴿ثُمَّ تَعَهُّدُ مَعَاطِفِهِ﴾ كَغُضُونِ الْبَطْنِ وَالْإِبْطِ ﴿ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى رَأْسِهِ وَيُخَلِّلُهُ﴾... ﴿ثُمَّ﴾ عَلَى ﴿شِقِّهِ الْأَيْمَنِ ثُمَّ الْأَيْسَرِ وَيَدْلُكُ﴾ بَدَنَهُ خُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَهُ ﴿وَيُثَلِّثُ﴾ كَالْوُضُوءِ فَيَغْسِلُ رَأْسَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ شِقَّهُ الْأَيْمَنَ ثَلَاثًا ثُمَّ الْأَيْسَرَ ثَلَاثًا، ﴿وَتَتَّبِعُ﴾ الْمَرْأَةُ ﴿لِحَيْضٍ أَثَرَهُ﴾ أَيْ أَثَرَ الدَّمِ ﴿مِسْكًا﴾ بِأَنْ تَجْعَلَهُ عَلَى قُطْنَةٍ وَتُدْخِلَهُ فَرْجَهَا... ﴿وَإِلَّا﴾ أَيْ وَإِنْ لَمْ يَتَيَسَّرِ الْمِسْكُ ﴿فَنَحْوُهُ﴾ مِنَ الطِّيبِ». ↑ Kembali ke Teks
[13] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin bersama Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Al-Ghusl, hlm. cetakan 73–74 [hlm. file PDF 73–74]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿وَيَحْرُمُ بِهَا﴾ أَيْ بِالْجَنَابَةِ ﴿مَا حَرُمَ بِالْحَدَثِ﴾ مِنَ الصَّلَاةِ وَغَيْرِهَا الْمُتَقَدِّمِ فِي بَابِهِ ﴿وَالْمُكْثُ بِالْمَسْجِدِ لَا عُبُورُهُ﴾ أَيِ الْجَوَازُ بِهِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ﴾ وَخَرَجَ بِالْمَسْجِدِ الرِّبَاطُ وَنَحْوُهُ ﴿وَالْقُرْآنُ﴾ وَلَوْ بَعْضَ آيَةٍ لِحَدِيثِ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ: "لَا يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَلَا الْحَائِضُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ"... ﴿وَتَحِلُّ أَذْكَارُهُ لَا بِقَصْدِ قُرْآنٍ﴾ كَقَوْلِهِ عِنْدَ الرُّكُوبِ: ﴿سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ﴾ وَعِنْدَ الْمُصِيبَةِ: ﴿إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴾، فَإِنْ قَصَدَ الْقُرْآنَ وَحْدَهُ أَوْ مَعَ الذِّكْرِ حَرُمَ، وَإِنْ أَطْلَقَ فَلَا كَمَا اقْتَضَاهُ كَلَامُ الْمُصَنِّفِ». ↑ Kembali ke Teks
[14] Prof. Dr. Musthafa Al-Khin, Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha, dan Syaikh 'Ali Asy-Syarbaji, Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhabil Imam Asy-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, Cet. 4, 1413 H / 1992 M, berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf), Juz 1, Ma Yahrumu bil Janabah, hlm. cetakan 76 [hlm. file PDF 76]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «مُلَاحَظَةٌ: يَجُوزُ لِلْجُنُبِ إِمْرَارُ الْقُرْآنِ عَلَى قَلْبِهِ مِنْ غَيْرِ تَلَفُّظٍ بِهِ، كَمَا يَجُوزُ لَهُ النَّظَرُ فِي الْمُصْحَفِ، وَيَجُوزُ لَهُ قِرَاءَةُ أَذْكَارِ الْقُرْآنِ بِقَصْدِ الذِّكْرِ لَا بِقَصْدِ الْقِرَاءَةِ؛ وَذَلِكَ كَأَنْ يَقُولَ: ﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾ بِقَصْدِ الدُّعَاءِ، وَكَأَنْ يَقُولَ إِذَا رَكِبَ دَابَّةً: ﴿سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ﴾ بِقَصْدِ الذِّكْرِ لَا بِقَصْدِ الْقِرَاءَةِ». ↑ Kembali ke Teks
[15] Al-Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli, Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin bersama Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Al-Ghusl, hlm. cetakan 71–73 [hlm. file PDF 71–73]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿بَابُ الْغُسْلِ: مُوجِبُهُ مَوْتٌ﴾ إِلَّا فِي الشَّهِيدِ فَسَيَأْتِي أَنَّهُ لَا يُغَسَّلُ ﴿وَحَيْضٌ وَنِفَاسٌ﴾ فَيَجِبُ عِنْدَ انْقِطَاعِهِمَا لِلصَّلَاةِ وَنَحْوِهَا ﴿وَكَذَا وِلَادَةٌ بِلَا بَلَلٍ فِي الْأَصَحِّ﴾ لِأَنَّ الْوَلَدَ مَنِيٌّ مُنْعَقِدٌ... ﴿وَجَنَابَةٌ﴾ وَتَحْصُلُ لِلرَّجُلِ ﴿بِدُخُولِ حَشَفَةٍ أَوْ قَدْرِهَا﴾ مِنْ مَقْطُوعِهَا مِنْهُ ﴿فَرْجًا﴾ قُبُلًا أَوْ دُبُرًا... ﴿وَبِخُرُوجِ مَنِيٍّ مِنْ طَرِيقِهِ الْمُعْتَادِ وَغَيْرِهِ﴾... ﴿وَيُعْرَفُ بِتَدَفُّقِهِ أَوْ لَذَّةٍ بِخُرُوجِهِ أَوْ رِيحِ عَجِينٍ رَطْبًا أَوْ بَيَاضِ بَيْضٍ جَافًّا﴾». ↑ Kembali ke Teks
[16] Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi, Hasyiyah Qalyubi 'ala Syarhil Jalal Al-Mahalli (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, hlm. cetakan 18 [hlm. file PDF 18]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «قَوْلُهُ: (كَالْغَسْلَةِ الْأُولَى) أَيْ بَعْدَ انْفِصَالِهَا عَنِ الْعُضْوِ؛ لِأَنَّهُ لَا يُوصَفُ بِالِاسْتِعْمَالِ مَا دَامَ مُتَرَدِّدًا عَلَى الْبَدَنِ وَلَوْ فِيمَا لَا يَغْلِبُ تَقَاذُفُهُ إِلَيْهِ، بَلْ وَلَوِ انْفَصَلَ إِلَى مَا يَغْلِبُ تَقَاذُفُهُ إِلَيْهِ مِنْ نَحْوِ رَأْسِ الْمُغْتَسِلِ إِلَى صَدْرِهِ لَمْ يُحْكَمْ عَلَيْهِ بِالِاسْتِعْمَالِ كَمَا صَرَّحَ بِهِ فِي الرَّوْضَةِ». ↑ Kembali ke Teks
[17] Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi, Hasyiyah Qalyubi 'ala Syarhil Jalal Al-Mahalli (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Al-Ghusl, hlm. cetakan 75 [hlm. file PDF 75]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «قَوْلُهُ: (لِأَنَّهُ قَدْ يَكُونُ عَادَةً وَقَدْ يَكُونُ مَنْدُوبًا) أَيْ فَلَا يَنْصَرِفُ لِلْوَاجِبِ إِلَّا بِالنَّصِّ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّهُ لَمَّا تَرَدَّدَ الْقَصْدُ فِيهِ بَيْنَ أَسْبَابٍ ثَلَاثَةٍ: الْعَادَةِ كَالتَّنْظِيفِ، وَالنَّدْبِ كَالْعِيدِ، وَالْوُجُوبِ كَالْجَنَابَةِ، احْتَاجَ إِلَى تَعْيِينٍ، بِخِلَافِ الْوُضُوءِ لَيْسَ لَهُ إِلَّا سَبَبٌ وَاحِدٌ وَهُوَ الْحَدَثُ فَلَمْ يَحْتَجْ إِلَى تَعْيِينٍ». ↑ Kembali ke Teks
[18] Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi, Hasyiyah Qalyubi 'ala Syarhil Jalal Al-Mahalli (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Al-Ghusl, hlm. cetakan 76 [hlm. file PDF 76]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَأَنْ يُقَدِّمَ غَسْلَ الْفَرْجِ وَمَا حَوَالَيْهِ إِنِ اغْتَسَلَ بِنَحْوِ إِبْرِيقٍ لِاحْتِيَاجِهِ إِلَى غَسْلِهِ بَعْدُ فَيَلْزَمُ مَسٌّ نَاقِضٌ أَوِ احْتِيَاجٌ إِلَى لَفِّ خِرْقَةٍ مَثَلًا، قَالَ ابْنُ حَجَرٍ: وَيَجِبُ بَعْدَ غَسْلِهِ غَسْلُ مَا أَصَابَهُ الْمَاءُ مِنْ يَدَيْهِ عِنْدَ غَسْلِ فَرْجِهِ بَعْدَ نِيَّةِ الْغُسْلِ بِنِيَّةٍ مِنْ نِيَّاتِ الْوُضُوءِ لِعَوْدِ الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ عَلَيْهِ، وَهَذَا مِمَّا يُغْفَلُ عَنْهُ فَلْيُتَنَبَّهْ لَهُ». ↑ Kembali ke Teks
[19] Syaikh Mush'ab bin Al-Hasan Al-'Akkari, Imta'ul Asma' fi Syarh Matn Abi Syuja' (Cet. 1, 1441 H / 2019 M, berkas PDF: إمتاع الأسماع في شرح متن أبي شجاع.pdf), Anwa'ul Miyah, hlm. cetakan 23 [hlm. file PDF 25]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿وَالْقُلَّتَانِ خَمْسُمِائَةِ رَطْلٍ بَغْدَادِيٍّ تَقْرِيبًا فِي الْأَصَحِّ﴾ الْمَاءُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ أَقَلَّ مِنْ قُلَّتَيْنِ، أَوْ قُلَّتَيْنِ فَأَكْثَرَ... وَالْقُلَّتَانِ تُعَادِلُ بِالْمَوَازِينِ الْحَدِيثَةِ (٢١٦) لِتْرًا تَقْرِيبًا». ↑ Kembali ke Teks
[20] Syaikh Mush'ab bin Al-Hasan Al-'Akkari, Imta'ul Asma' fi Syarh Matn Abi Syuja' (Cet. 1, 1441 H / 2019 M, berkas PDF: إمتاع الأسماع في شرح متن أبي شجاع.pdf), Fashl fi Fara'idhil Ghusli wa Sunanihi, hlm. cetakan 41–42 [hlm. file PDF 43–44]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «﴿وَإِزَالَةُ النَّجَاسَةِ إِنْ كَانَتْ عَلَى بَدَنِهِ﴾ هَذَا الَّذِي ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ هُوَ مَا رَجَّحَهُ الرَّافِعِيُّ مِنْ أَنَّهُ لَا يَكْفِي لِرَفْعِ الْحَدَثِ وَإِزَالَةِ النَّجَسِ غَسْلَةٌ وَاحِدَةٌ، وَرَجَّحَ النَّوَوِيُّ خِلَافَ هَذَا فَقَالَ بِأَنَّهَا تَكْفِي، وَمَا اخْتَارَهُ النَّوَوِيُّ هُوَ الْأَصَحُّ الْمُفْتَى بِهِ فِي الْمَذْهَبِ... وَالْأَفْضَلُ فِي تَرْتِيبِهِ أَنْ يُسَمِّيَ، ثُمَّ يَنْوِيَ رَفْعَ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ عَنْ فَرْجِهِ فَيَغْسِلَهُ، ثُمَّ يُزِيلَ الْوَسَخَ وَالْقَذَرَ عَنْ سَائِرِ جَسَدِهِ، ثُمَّ يَتَوَضَّأَ، ثُمَّ يَنْوِيَ رَفْعَ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ عَنْ بَاقِي جَسَدِهِ، وَيُفِيضَ الْمَاءَ عَلَى رَأْسِهِ مَعَ دَلْكِهِ ثَلَاثًا، ثُمَّ عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ، ثُمَّ الْأَيْسَرِ مَعَ دَلْكِهِمَا، ثُمَّ يُفِيضَ الْمَاءَ عَلَى جَسَدِهِ كُلِّهِ، وَلَا يَمَسَّ فَرْجَهُ كَيْ لَا يُعَاوِدَهُ الْحَدَثُ». ↑ Kembali ke Teks
[21] As-Sayyid Ahmad bin 'Umar Asy-Syathiri, Nailur Raja' bi Syarh Safinatun Naja (Cet. 2, Jeddah: Darul Minhaj, 1428 H / 2007 M, berkas PDF: نيل الرجاء.pdf), Kitab Ath-Thaharah: Al-Ma'u Qalilun wa Katsirun & Mujibatul Ghusli, hlm. cetakan 21 [hlm. file PDF 21]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «الْمَاءُ قَلِيلٌ وَكَثِيرٌ؛ فَالْقَلِيلُ: مَا دُونَ الْقُلَّتَيْنِ، وَالْكَثِيرُ: قُلَّتَانِ فَأَكْثَرُ... مُوجِبَاتُ الْغُسْلِ سِتَّةٌ: إِيلَاجُ الْحَشَفَةِ فِي الْفَرْجِ، وَخُرُوجُ الْمَنِيِّ، وَالْحَيْضُ، وَالنِّفَاسُ، وَالْوِلَادَةُ، وَالْمَوْتُ. فُرُوضُ الْغُسْلِ اثْنَانِ: النِّيَّةُ، وَتَعْمِيمُ الْبَدَنِ بِالْمَاءِ». ↑ Kembali ke Teks
[22] As-Sayyid Ahmad bin 'Umar Asy-Syathiri, Nailur Raja' bi Syarh Safinatun Naja (Jeddah: Darul Minhaj, 1428 H / 2007 M, berkas PDF: نيل الرجاء.pdf), Kitab Ath-Thaharah: Ma Yahrumu 'alal Junub wa bil-Haidh, hlm. cetakan 22–23 [hlm. file PDF 22–23]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَيَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: الصَّلَاةُ، وَالطَّوَافُ، وَمَسُّ الْمُصْحَفِ، وَحَمْلُهُ، وَاللُّبْثُ فِي الْمَسْجِدِ، وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ. وَيَحْرُمُ بِالْحَيْضِ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ: الصَّلَاةُ، وَالطَّوَافُ، وَمَسُّ الْمُصْحَفِ، وَحَمْلُهُ، وَاللُّبْثُ فِي الْمَسْجِدِ، وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ، وَالصَّوْمُ، وَالطَّلَاقُ، وَالْمُرُورُ فِي الْمَسْجِدِ إِنْ خَافَتْ تَلْوِيثَهُ، وَالِاسْتِمْتَاعُ بِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ». ↑ Kembali ke Teks
[23] Prof. Dr. Musthafa Al-Khin, Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha, dan Syaikh 'Ali Asy-Syarbaji, Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhabil Imam Asy-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, Cet. 4, 1413 H / 1992 M, berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf), Juz 1, Aqsamul Miyah, hlm. cetakan 31–34 [hlm. file PDF 31–34]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «الطَّاهِرُ الْمُطَهِّرُ: وَهُوَ الْمَاءُ الْمُطْلَقُ الْبَاقِي عَلَى وَصْفِ خِلْقَتِهِ الَّتِي خَلَقَهُ اللَّهُ عَلَيْهَا، وَلَا يُخْرِجُهُ عَنْ كَوْنِهِ مَاءً مُطْلَقًا تَغَيُّرُهُ بِطُولِ مُكْثٍ، أَوْ بِسَبَبِ تُرَابٍ أَوْ طُحْلُبٍ... أَوْ تَغَيُّرُهُ بِسَبَبِ مَقَرِّهِ أَوْ مَمَرِّهِ كَوُجُودِهِ فِي أَرْضٍ كِبْرِيتِيَّةٍ أَوْ مُرُورِهِ عَلَيْهَا؛ وَذَلِكَ لِتَعَذُّرِ صَوْنِ الْمَاءِ عَنْ ذَلِكَ... وَالْقُلَّتَانِ خَمْسُمِائَةِ رَطْلٍ بَغْدَادِيٍّ وَتُسَاوِي مِائَةً وَاثْنَيْنِ وَتِسْعِينَ كِيلُو غَرَامًا وَثَمَانَمِائَةٍ وَسَبْعَةً وَخَمْسِينَ غَرَامًا (١٩٢,٨٥٧ كُلْغ)، وَيُسَاوِي بِالْمُكَعَّبِ ذِرَاعًا وَرُبْعًا طُولًا وَعَرْضًا وَعُمْقًا». ↑ Kembali ke Teks
[24] Prof. Dr. Musthafa Al-Khin, Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha, dan Syaikh 'Ali Asy-Syarbaji, Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhabil Imam Asy-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, Cet. 4, 1413 H / 1992 M, berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf), Juz 1, Al-Ghuslu wa Ahkamuhu wa Anwa'uhu, hlm. cetakan 71–75 [hlm. file PDF 71–75]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «الْغُسْلُ وَأَحْكَامُهُ وَأَنْوَاعُهُ: هُوَ فِي اللُّغَةِ: سَيَلَانُ الْمَاءِ عَلَى الشَّيْءِ أَيًّا كَانَ، وَشَرْعًا: جَرَيَانُ الْمَاءِ عَلَى الْبَدَنِ بِنِيَّةٍ مَخْصُوصَةٍ... أَسْبَابُهُ: الْجَنَابَةُ وَالْحَيْضُ وَالْوِلَادَةُ وَالْمَوْتُ». ↑ Kembali ke Teks
[25] Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Fatawa Al-Imam An-Nawawi Al-Musammat bil-Masa'ilil Mantsurah (Kairo: Hadiyyah Majallatul Azhar, 1411 H / 1990 M, berkas PDF: فتاوى الإمام النووي المسماة المسائل المنثورة.pdf), Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah no. 2, 5, & 6, hlm. cetakan 5–6 [hlm. file PDF 28–29]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «٢ - مَسْأَلَةٌ: الصَّوَابُ فِي حَدِّ الْمَاءِ الْمُطْلَقِ أَنَّهُ الْمَفْهُومُ مِنْ قَوْلِكَ مَاءٌ... مَسْأَلَةٌ: لَوْ أُغْلِيَ الْمَاءُ فَتَوَلَّدَ مِنْ بُخَارِهِ رَشْحٌ فَهُوَ طَهُورٌ فِي أَصَحِّ الْوَجْهَيْنِ لِأَنَّهُ مِنْ نَفْسِ الْمَاءِ... ٥ - مَسْأَلَةٌ: لَا تُكْرَهُ الطَّهَارَةُ بِمَاءِ زَمْزَمَ عِنْدَنَا... ٦ - مَسْأَلَةٌ: لَا تُكْرَهُ الطَّهَارَةُ بِالْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ بِطُولِ الْمُكْثِ عِنْدَنَا». ↑ Kembali ke Teks
[26] Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Fatawa Al-Imam An-Nawawi Al-Musammat bil-Masa'ilil Mantsurah (Kairo: Hadiyyah Majallatul Azhar, 1411 H / 1990 M, berkas PDF: فتاوى الإمام النووي المسماة المسائل المنثورة.pdf), Kitab Ath-Thaharah, Mas'alah no. 8, hlm. cetakan 6 [hlm. file PDF 29]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «٨ - مَسْأَلَةٌ: الصَّحِيحُ أَنَّ الْمَاءَ الْمُتَغَيِّرَ بِالدُّهْنِ وَالْعُودِ وَنَحْوِهِمَا طَهُورٌ، وَأَنَّ الْمُسْتَعْمَلَ فِي نَفْلِ الطَّهَارَةِ كَالْغَسْلَةِ الثَّانِيَةِ وَالثَّالِثَةِ، وَتَجْدِيدِ الْوُضُوءِ وَالْأَغْسَالِ الْمَسْنُونَةِ طَهُورٌ». ↑ Kembali ke Teks
[27] Prof. Dr. Muhammad Hasan Hito, Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (Damaskus: Darul Musthafa, Cet. 1, 1442 H / 2021 M, berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf), Al-Bab Al-Awwal, Al-Fashl Ats-Tsani: Al-Manthuq wal Mafhum, hlm. cetakan 43–46 [hlm. file PDF 44–47]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «فَالْمَنْطُوقُ هُوَ مَا دَلَّ عَلَيْهِ اللَّفْظُ الْمَنْطُوقُ بِهِ بِوَضْعِهِ اللُّغَوِيِّ، وَذَلِكَ كَقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ"... وَالْمَفْهُومُ هُوَ مَا دَلَّ عَلَيْهِ اللَّفْظُ لَا بِوَضْعِهِ اللُّغَوِيِّ وَإِنَّمَا بِوَاسِطَةِ الْعَقْلِ... وَلَكِنَّنَا عَرَفْنَا بِوَاسِطَةِ الْعَقْلِ أَنَّهُ إِذَا كَانَ الْمَاءُ لَا يَحْمِلُ الْخَبَثَ إِذَا بَلَغَ قُلَّتَيْنِ لِكَثْرَتِهِ، فَأَنْ لَا يَحْمِلَهُ إِذَا كَانَ أَكْثَرَ مِنْ قُلَّتَيْنِ مِنْ بَابِ أَوْلَى... وَعَرَفْنَا بِوَاسِطَةِ الْعَقْلِ أَنَّ الْمَاءَ إِذَا كَانَ أَقَلَّ مِنْ قُلَّتَيْنِ فَإِنَّهُ يَتَنَجَّسُ بِمُلَاقَاتِهِ لِلنَّجَاسَةِ». ↑ Kembali ke Teks
[28] Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi, Hasyiyah Qalyubi 'ala Syarhil Jalal Al-Mahalli (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Asbabil Hadats & Bab Al-Wudhu', hlm. cetakan 34 & 57 [hlm. file PDF 34 & 57]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «فَهُوَ مِنْ قَاعِدَةِ أَنَّ مَا أَوْجَبَ أَعْظَمَ الْأَمْرَيْنِ بِخُصُوصِهِ لَا يُوجِبُ أَدْوَنَهُمَا مَعَهُ بِعُمُومِهِ... فَهُنَا أَوْجَبَ الْغُسْلَ بِخُصُوصِ كَوْنِهِ مَنِيًّا، فَلَا يُوجِبُ الْوُضُوءَ بِعُمُومِ كَوْنِهِ خَارِجًا... فَلَوْ كَانَ عَلَيْهِ الْأَكْبَرُ كَفَاهُ أَيْضًا نِيَّتُهُ عَنْ نِيَّةِ الْأَصْغَرِ وَإِنْ نَفَاهُ لِاضْمِحْلَالِهِ مَعَهُ». ↑ Kembali ke Teks
[29] Syaikh Syihabuddin Al-Qalyubi, Hasyiyah Qalyubi 'ala Syarhil Jalal Al-Mahalli (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Kitab Ath-Thaharah, hlm. cetakan 17 [hlm. file PDF 17]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «قَوْلُهُ: (بِمَا يُمْكِنُ فَصْلُُهُ) الْأَرْجَحُ عِنْدَ الْجُمْهُورِ أَوْ بِمَا يَتَمَيَّزُ فِي رَأْيِ الْعَيْنِ كَالتُّرَابِ وَعَكْسُهُ الْمُخَالِطُ». ↑ Kembali ke Teks
[30] Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha; dikutip dalam Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin bersama Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah (Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M, berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf), Juz 1, Bab Al-Ghusl, hlm. cetakan 76 [hlm. file PDF 76]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «فِي الصَّحِيحَيْنِ مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ وَتَفْسِيرِهَا قَوْلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسَائِلَتِهِ عَنِ الْغُسْلِ مِنَ الْحَيْضِ: "خُذِي فِرْصَةً مِنْ مِسْكٍ فَتَطَهَّرِي بِهَا" بِقَوْلِهَا لَهَا: يَعْنِي تَتَبَّعِي بِهَا أَثَرَ الدَّمِ، وَيَكُونُ ذَلِكَ بَعْدَ الْغُسْلِ، وَحِكْمَتُهُ تَطْيِيبُ الْمَحَلِّ وَالنِّفَاسُ كَالْحَيْضِ فِي ذَلِكَ». ↑ Kembali ke Teks

Daftar Pustaka

  1. Al-'Akkari, Mush'ab bin Al-Hasan. Imta'ul Asma' fi Syarh Matn Abi Syuja'. Cet. 1, 1441 H / 2019 M (Berkas PDF: إمتاع الأسماع في شرح متن أبي شجاع.pdf).
  2. Al-Khin, Musthafa, Musthafa Al-Bugha, dan 'Ali Asy-Syarbaji. Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhabil Imam Asy-Syafi'i. Juz 1. Cet. 4. Damaskus: Darul Qalam, 1413 H / 1992 M (Berkas PDF: الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي 1.pdf).
  3. Al-Mahalli, Jalaluddin Muhammad bin Ahmad, dan Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi. Kanzur Raghibin Syarh Minhajuth Thalibin. Juz 1. Tahqiq: Mahmud Shalih Ahmad Hasan Al-Hadidi. Cet. 2. Jeddah: Darul Minhaj, 1434 H / 2013 M (Berkas PDF: كنز الراغبين شرح منهاج الطالبين1.pdf).
  4. Al-Qalyubi, Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah, dan Syihabuddin Ahmad Al-Burullusi 'Umairah. Hasyiyata Qalyubi wa 'Umairah 'ala Syarhil Imam Jalaluddin Al-Mahalli 'ala Minhajith Thalibin. Juz 1. Beirut: Darul Fikr, 1415 H / 1995 M (Berkas PDF: Noor-Book.com 4246 قليوبي وعميرة حاشيتان على شرح الإمام جلال الدين المحلي على منهاج الطالبين الجزء الأول دار الفكر 3 .pdf).
  5. An-Nawawi, Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Fatawa Al-Imam An-Nawawi Al-Musammat bil-Masa'ilil Mantsurah. Disusun oleh Al-Hafizh 'Ala'uddin Ibnu Al-'Aththar. Tahqiq: Ahmad Hasan Jabir Rajab. Kairo: Hadiyyah Majallatul Azhar, 1411 H / 1990 M (Berkas PDF: فتاوى الإمام النووي المسماة المسائل المنثورة.pdf).
  6. Asy-Syathiri, Ahmad bin 'Umar. Nailur Raja' bi Syarh Safinatun Naja. Cet. 2. Jeddah: Darul Minhaj, 1428 H / 2007 M (Berkas PDF: نيل الرجاء.pdf).
  7. Hito, Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh. Cet. 1. Damaskus: Darul Musthafa, 1442 H / 2021 M (Berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf).