← Semua Artikel Fatawa

FATWA : Hukum Menjawab Salam Melalui Media Elektronik

Tidak Ada Komentar 18 Mins Read 93 Views
FATWA KONTEMPORER: STATUS HUKUM MENJAWAB SALAM DARI REKAMAN SUARA DAN NOTIFIKASI ELEKTRONIK

FATWA KONTEMPORER: STATUS HUKUM MENJAWAB SALAM DARI REKAMAN SUARA DAN NOTIFIKASI ELEKTRONIK

Gambar artikel
Daftar Isi

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah di Era Disrupsi Digital

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mentransformasi sendi-sendi interaksi kemanusiaan secara revolusioner. Salah satu fenomena yang lumrah dijumpai dalam kehidupan modern adalah terintegrasinya suara rekaman (recorded audio), kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan sinyal notifikasi ke dalam gawai pintar. Tidak jarang, suara rekaman tersebut berupa ucapan salam Islami (at-taḥiyyah al-Islāmiyyah), baik sebagai nada dering panggilan, suara pembuka video tutorial di media sosial, materi rekaman kajian daring di kanal video, pemutar podcast, maupun pesan audio terusan (forwarded voice note).

Kondisi tersebut melahirkan tanda tanya teologis dan yuridis-normatif di benak masyarakat: tatkala telinga mendengar lafaz “As-Salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh” yang bersumber dari gelombang magnetik gawai atau rekaman suara tanpa kehadiran fisik sang penutur pada saat yang sama, apakah kewajiban syar'i untuk menjawabnya tetap melekat (wujūb al-ijābah) sebagaimana lazimnya interaksi tatap muka?

1.2 Urgensi dan Relevansi Kajian Fikih Kontemporer

Kajian ini menduduki posisi krusial dalam domain Fikih Nawāzil (fikih kontemporer atas peristiwa baru) dan Tarbiyah Islamiyah. Di satu sisi, Islam menetapkan aturan ketat berkenaan dengan pemenuhan hak sesama muslim, di mana menjawab salam merupakan kewajiban yang berdosa bila diabaikan tanpa uzur syar'i. Di sisi lain, memaksakan kewajiban syar'i atas setiap lafaz salam yang diputar berulang-ulang melalui piranti elektronik berpotensi menimbulkan ḥaraj (kesempitan ekstrem) dan masyaqqah (kesulitan yang tidak semestinya) bagi mukalaf.

Oleh karena itu, diperlukan elaborasi ilmiah yang jernih, metodologis, dan berpijak pada fondasi kaidah ushul fikih serta qaul para imam mazhab dan fatwa dewan fatwa kontemporer.

2. LANDASAN NORMATIF DAN KONSEPTUAL SEPUTAR IRSYĀDUS SALĀM

2.1 Kedudukan Hukum Memulai dan Membalas Salam dalam Syariat Islam

Memulai ucapan salam (ibtidā’us salām) berstatus sunnah muakadah secara ijmak ulama, sedangkan menjawabnya (raddus salām) adalah wajib secara mutlak [1]. Kewajiban ini berstatus fardhu ‘ain apabila salam ditujukan kepada individu tunggal, dan menjadi fardhu kifāyah apabila salam disampaikan kepada sekumpulan orang, di mana gugur kewajiban bagi seluruh jamaah apabila ada salah seorang yang telah membalasnya [2].

Landasan normatif utama terpahat dalam firman Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā:

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

"Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu." (QS. An-Nisā’ [4]: 86) [3].

Perintah membalas salam dengan kata kerja perintah (amr) faḥayyū (فَحَيُّوا) mengindikasikan hukum asal wajib (al-aṣlu fil-amri lil-wujūb), dipertegas oleh hadits shahih riwayat Sayyidina Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

"Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam: apabila engkau menjumpainya maka ucapkanlah salam kepadanya, apabila ia mengundangmu maka penuhilah, apabila ia meminta nasihat kepadamu maka nasihatilah dia, apabila ia bersin lalu memuji Allah maka doakanlah, apabila ia sakit maka jenguklah, dan apabila ia meninggal dunia maka antarkanlah (jenazahnya)." (HR. Muslim) [4].

2.2 Hakikat Khithāb (Komunikasi) dan ‘Illat Kewajiban Menjawab Salam

Dalam disiplin Ushul Fikih, suatu beban taklif bergantung pada keberadaan manāṭul ḥukmi (titik tumpu hukum) dan ‘illat (sebab penetapan hukum). Syariat mewajibkan menjawab salam karena salam hakikatnya adalah insyā’ud du‘ā’ (penciptaan permohonan doa keselamatan) yang sengaja dialamatkan oleh seorang pembicara (al-mutakallim) kepada lawan bicara tertentu (al-mukhāthab) yang hadir secara hakiki maupun maknawi.

Ketiadaan jawaban salam pada konteks interaksi langsung dipandang sebagai pelecehan (al-istihfāf), pemutusan hubungan persaudaraan (al-hajr), dan perbuatan yang melukai perasaan sesama muslim. Oleh sebab itu, hukum wajib tersebut lahir karena adanya khithāb timbal-balik yang menghendaki penyambutan dan pemuliaan martabat orang yang mendoakan.

3. KOMPARASI SALAM NON-TATAP MUKA DALAM KHAZANAH TURATS FIKIH

3.1 Salam Melalui Surat dan Utusan (al-Murāsalāt wa ar-Rusul)

Para fuqaha klasik telah mengkaji varian salam yang berlangsung tanpa pertemuan raga secara langsung, yakni melalui sarana surat menyurat (kitābah) atau pengiriman utusan lisan (rasūl).

Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf An-Nawawi raḥimahullāh (w. 676 H) dalam mahakaryanya Al-Adzkār memaparkan kaidah penting ini:

إِذَا وَرَدَ عَلَى رَجُلٍ سَلَامٌ فِي كِتَابٍ، وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يَرُدَّ السَّلَامَ عَلَى الْفَوْرِ بِاللَّفْظِ أَوِ الْكِتَابَةِ، وَكَذَا إِذَا بَلَّغَهُ رَسُولٌ سَلَامًا مِنْ شَخْصٍ لَزِمَهُ أَنْ يَرُدَّ عَلَى الرَّسُولِ وَالْمُرْسِلِ مَعًا

"Apabila datang ucapan salam kepada seseorang di dalam sebuah surat, wajib atasnya untuk menjawab salam tersebut seketika itu juga dengan ucapan lisan atau tulisan. Demikian pula apabila seorang utusan menyampaikan salam dari seseorang, maka ia wajib menjawab salam kepada sang utusan dan kepada orang yang mengirim salam sekaligus." [5].

Kaidah ini bersandar pada hadits riwayat Sayyidah ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā, ketika Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam menyampaikan salam dari Malaikat Jibril:

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَذَا جِبْرِيلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلَامَ»، فَقُلْتُ: «وَعَلَيْهِ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ»

"Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: 'Ini Jibril menyampaikan salam kepadamu.' Maka aku menjawab: 'Wa ‘alaihis salāmu wa raḥmatullāhi wa barakātuh (Dan atasnya keselamatan, rahmat Allah, serta keberkahan-Nya).'" (HR. Al-Bukhari & Muslim) [6].

3.2 Menakar Batasan al-Mukhāthab (Pihak yang Dituju)

Pembeda esensial pada kasus surat dan utusan adalah adanya kehendak personal penutur yang memang mengarahkan (taujīh) salam tersebut kepada individu penerima. Ketika seseorang menulis surat kepada Zaid, kalimat salam dalam surat itu secara sengaja dan spesifik ditujukan kepada Zaid. Penerima surat menyadari bahwa ia adalah sasaran hakiki dari salam tersebut. Konteks ini sangat berbeda dengan suara tiruan atau suara mekanik yang diputar secara publik tanpa penetapan sasaran yang sadar dan spesifik.

4. STUDI KRITIS FIKIH: MENJAWAB SALAM REKAMAN SUARA DAN NOTIFIKASI

KATEGORISASI SUARA ELEKTRONIK

SIARAN LANGSUNG (LIVE)

Al-Batsts al-Mubāsyir
  • Pengucap hidup dan bersuara saat itu juga
  • Sapaan dan komunikasi aktual ke pemirsa/pendengar
Hukum: FARDHU KIFAYAH Jika sebagian telah menjawab, gugur kewajiban dari yang lain.

REKAMAN SUARA / NOTIFIKASI

Al-Musajjal / Ash-Shaut
  • Rekaman masa lalu (arsip media / pita kaset / MP3)
  • Nada dering atau berkas sistem otomatis tanpa penutur riil
Hukum: TIDAK WAJIB Mustahab (dianjurkan) bernilai sedekah doa mutlak.

4.1 Distingsi Siaran Langsung (al-Batsts al-Mubāsyir) dan Rekaman Audio (ash-Shaut al-Musajjal)

Para fuqaha muashirin (kontemporer) membagi siaran media dan pancaran suara menjadi dua klasifikasi besar:

  • Siaran Langsung (Al-Batsts al-Mubāsyir):
    Ketika seorang penyiar, narasumber kajian, atau khatib mengucapkan salam secara langsung melalui frekuensi radio, siaran televisi, atau media streaming (seperti panggilan video atau seminar webinar), salam tersebut terucap secara riil pada dimensi waktu yang sama dan tertuju kepada khalayak pendengar yang hadir saat itu.
    Dalam kondisi ini, menjawab salam adalah disyariatkan dan berstatus fardhu kifayah [7]. Jika sebagian pemirsa telah menjawabnya, gugurlah beban kewajiban dari pendengar lainnya.
  • Rekaman Suara / Siaran Tunda (Al-Musajjal):
    Suara yang tersimpan dalam medium pita kaset, cakram optik, rekaman digital MP3, video arsip, maupun nada notifikasi merupakan pantulan getaran suara masa lalu (ṣadā ash-shaut al-māḍī). Penutur asli tatkala mengucapkan kalimat tersebut tidak sedang berinteraksi secara aktual dengan pendengar masa kini, bahkan tidak jarang penutur tersebut telah wafat atau berada di belahan bumi lain tanpa kesadaran akan siapa yang memutar rekaman tersebut.

Dewan Fatwa Arab Saudi (Al-Lajnah ad-Dā’imah lil-Buḥūts al-‘Ilmiyyah wal-Iftā’) serta lembaga fatwa Islam terkemuka menegaskan kaidah ini:

إِذَا كَانَ الْبَثُّ عَلَى الْهَوَاءِ مُبَاشَرَةً شُرِعَ رَدُّ السَّلَامِ؛ لِعُمُومِ الْأَدِلَّةِ الدَّالَّةِ عَلَى وُجُوبِ رَدِّ السَّلَامِ عَلَى الْمُسْلِمِ، لَكِنَّهُ وُجُوبٌ كِفَائِيٌّ، إِذَا قَامَ بِهِ الْبَعْضُ سَقَطَ عَنِ الْبَاقِينَ، أَمَّا إِذَا كَانَ مُسَجَّلًا، فَلَا يَجِبُ الرَّدُّ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ

"Apabila siaran tersebut disiarkan secara langsung di udara (live), maka disyariatkan menjawab salam berdasarkan keumuman dalil yang menunjukkan wajibnya menjawab salam sesama muslim. Akan tetapi status kewajibannya adalah fardhu kifayah; jika sebagian orang telah melakukannya, gugurlah kewajiban dari yang lain. Adapun apabila siaran tersebut berupa rekaman (musajjal), maka tidak wajib menjawab salam dalam kondisi semacam ini." [8].

4.2 Kedudukan Salam pada Nada Dering, Notifikasi Pesan Singkat, dan Voice Mail

Penerapan salam pada nada dering (ringtone) atau notifikasi aplikasi (seperti aplikasi perpesanan WhatsApp, Telegram, dan alarm) memunculkan problematika tersendiri:

  • Nada Dering Berbunyi Salam: Bunyi salam pada nada dering semata-mata merupakan tanda sinyal (isyārah tanbīhiyyah) bahwa ada panggilan masuk. Pembuat nada dering atau pemilik telepon tidak berniat mengucapkan salam secara tertuju kepada siapa pun yang mendengar dering tersebut.
  • Pesan Suara (Voice Note): Apabila seseorang mengirim voice note yang diawali salam secara personal kepada Anda (misal: "Assalamu'alaikum, Akhi Zaid, bagaimana kabarmu?"), maka status salam di sini disamakan dengan hukum surat (al-kitābah). Mengapa? Karena penutur secara sengaja dan terarah mengkhususkan ucapan doa keselamatan itu untuk Anda. Menjawabnya menjadi wajib secara syar'i, baik dibalas melalui pesan suara balasan, ketikan teks, maupun lafaz lisan saat mendengarkannya [5].
  • Notifikasi Sistem / Bot Suara: Suara robot atau kecerdasan buatan yang memprogram salam pembuka tidak memiliki sifat taklif (bukan mukalaf) dan tidak berniat mendoakan. Menjawabnya sama sekali tidak wajib secara syar'i.

4.3 Pandangan Komparatif Fatwa Ulama Kontemporer

  • Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz raḥimahullāh:
    Ketika ditanya mengenai ucapan salam yang disampaikan oleh penulis di artikel surat kabar, majalah, atau narasumber di radio dan televisi, beliau berfatwa:
    رَدُّ السَّلَامِ فِي مِثْلِ هَذَا مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَةِ؛ لِأَنَّهُ يُسَلِّمُ عَلَى جَمٍّ غَفِيرٍ فَيَكْفِي أَنْ يَرُدَّ بَعْضُهُمْ، وَالأَفْضَلُ أَنْ يَرُدَّ كُلُّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ لِعُمُومِ الأَدِلَّةِ

    "Menjawab salam pada kondisi semacam ini termasuk fardhu kifayah; karena ia mengucapkan salam kepada khalayak ramai, maka cukup sebagian dari mereka yang menjawab. Namun yang lebih utama adalah setiap muslim yang mendengarnya ikut menjawab berdasarkan keumuman dalil." [9].
    (Konteks fatwa ini berlaku untuk siaran langsung atau media massa yang disalurkan secara simultan kepada audiens).

  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin raḥimahullāh:
    Syaikh Ibnu Utsaimin memberikan penegasan tajam terkait siaran rekaman kaset (asy-syarīth al-musajjal). Beliau membedakan antara suara langsung (ṣaut mubāsyir) dan suara kaset rekaman. Beliau menegaskan bahwa rekaman suara bukanlah orang yang hidup di depan kita yang sedang menuntut hak salam, melainkan sekadar jejak suara yang diputar mesin (aḥyānan yakūnu musajjalan fa yus-ḥabu ‘alaih). Beliau menyatakan tidak ada kewajiban menjawab rekaman kaset, kendati menjawabnya sebagai doa mutlak adalah hal yang diperbolehkan demi kehati-hatian (iḥtiyāṭan) [10].
  • Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan ḥafiẓahullāh:
    Beliau menyatakan dalam Al-Muntaqā min Fatāwā al-Fauzān:
    يَجِبُ رَدُّ السَّلَامِ إِذَا سَمِعَهُ الإِنْسَانُ مُبَاشَرَةً، أَوْ بِوَاسِطَةِ كِتَابٍ مُوَجَّهٍ إِلَيْهِ، أَوْ بِوَاسِطَةِ وَسَائِلِ الإِعْلَامِ الْمُوَجَّهَةِ إِلَى الْمُسْتَمِعِينَ؛ لِعُمُومِ الأَدِلَّةِ فِي وُجُوبِ رَدِّ السَّلَامِ

    "Wajib menjawab salam apabila seseorang mendengarkannya secara langsung, atau melalui surat yang ditujukan kepadanya, atau melalui media informasi yang diarahkan kepada para pendengar, berdasarkan keumuman dalil-dalil mengenai wajibnya menjawab salam." [11].

5. TINJAUAN TARBIYAH ISLAMIYAH DAN ETIKA DIGITAL (ADAB AL-MU‘ĀSYARAH)

5.1 Urgensi Menjaga Kesakralan Ucapan Tahiyyah dari Desakralisasi Teknologi

Secara tarbawi, salam bukan sekadar sandi pergaulan (slogan profane), melainkan salah satu syiar agung Islam (sya‘ā’irullāh) yang sarat muatan teologis: asma Allah (As-Salām), permohonan rahmat (ar-raḥmah), dan limpahan keberkahan (al-barakah).

Menjadikan ucapan salam sebagai nada dering panggilan atau alarm patut dihindari atau ditinjau ulang secara etis (makrūh tanzīhan). Pasalnya, nada dering kerap kali dipotong di tengah kalimat saat panggilan diangkat (misalnya baru terucap "As-Salāmu 'ala..." lalu terputus secara mendadak), atau telepon berdering di tempat-tempat yang tidak layak (seperti di dalam toilet atau kamar mandi). Hal ini berpotensi merendahkan kehormatan kalimat dzikir dan asma Allah Ta'ala [12].

5.2 Menjawab Salam Rekaman: Antara Nilai Doa Mutlak dan Gugurnya Kewajiban Syar'i

Jika mendengar rekaman salam (misalnya di video YouTube, rekaman kajian kaset lama, atau pembuka audio buku), apakah berdosa jika diabaikan?

  • Jawabannya: Tidak berdosa sama sekali, karena tidak ada taklīf wajib menjawab untuk suara rekaman mekanik.
  • Namun, jika seorang muslim tergerak hatinya untuk melafazkan “Wa ‘alaikumus salām” sebagai bentuk doa kebaikan bagi sang pengucap di masa lalu, maka hal tersebut merupakan kebaikan (mustaḥabb) yang bernilai pahala sedekah doa. Sebagaimana sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam:
    دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ

    "Doa seorang muslim untuk saudaranya di luar keberadaannya (tanpa sepengetahuannya) adalah doa yang mustajab." (HR. Muslim) [13].

5.3 Panduan Praktis dan Sikap Fikih Muslim dalam Interaksi Gawai Sehari-hari

Agar seorang muslim dapat menempatkan hukum fikih pada proporsi yang tepat tanpa terjatuh ke dalam was-was ataupun sikap meremehkan syiar, berikut ringkasan panduan praktis:

  • Pesan Teks / Chatting Pribadi: Jika seseorang mengetik "Assalamu'alaikum", wajib dibalas (baik dengan mengetikkan balasannya atau mengucapkannya dengan lisan yang terdengar oleh diri sendiri).
  • Pesan Suara (Voice Note) Pribadi: Wajib dibalas karena pesan suara diarahkan secara personal kepada penerima.
  • Grup Pesan Singkat (WhatsApp Group, dsb.): Jika ada anggota grup memberi salam teks, hukum menjawabnya adalah fardhu kifayah; gugur kewajiban jika sudah ada satu anggota yang membalasnya.
  • Siaran Langsung (Live Streaming/Radio Langsung): Fardhu kifayah bagi pemirsa/pendengar.
  • Video Rekaman / Podcast / Kaset / TV Siaran Tunda: Tidak wajib dijawab. Menjawabnya dinilai sebagai doa sukarela (ibtidā’ud du‘ā’), bukan pemenuhan kewajiban syar'i.
  • Nada Dering / Notifikasi HP: Tidak wajib dijawab, dan lebih utama mengganti nada dering berlafaz salam dengan nada getar atau nada netral guna menghindari pemotongan lafaz syiar secara serampangan.

6. KESIMPULAN

Berdasarkan kajian komparatif dalil naqli, kaidah ushul fikih, dan fatwa para ulama muktabar, dapat ditarik simpulan yuridis yang komprehensif sebagai berikut:

  • Ketiadaan Kewajiban pada Rekaman Audio: Mendengar ucapan salam dari suara rekaman (kaset, file audio arsip, nada dering, video arsip, notifikasi mesin otomatis) hukumnya TIDAK WAJIB dijawab. Mukalaf yang tidak menjawabnya sama sekali tidak menanggung dosa syar'i.
  • Illat Yuridis Pembatal Kewajiban: Sebab utama ketiadaan kewajiban tersebut adalah ketiadaan al-mukhāthabah al-ḥaqīqiyyah (komunikasi personal secara nyata) dan hilangnya al-inbisāṭ al-waqtī (keserentakan waktu interaksi). Gelombang rekaman hanyalah getaran suara masa lalu (ṣadā ash-shaut), bukan panggilan doa dari orang hidup yang sedang tertuju kepada kita pada saat itu.
  • Pengecualian pada Pesan Khusus: Kewajiban menjawab salam non-tatap muka hanya tetap berlaku pada dua media: (a) Siaran langsung (live broadcast) secara fardhu kifayah, dan (b) Pesan rekaman pribadi (voice note) atau surat elektronik yang dikirim khusus kepada individu secara fardhu ‘ain.
  • Edukasi Etika: Mengucapkan jawaban salam kepada rekaman atas dasar kecintaan mendoakan kaum mukminin bernilai pahala kebaikan umum (mustaḥabb), namun masyarakat dihimbau untuk bijak dengan tidak memanfaatkan lafaz salam suci sebagai nada dering guna menjaga kehormatan kalimat syiar dari desakralisasi dan pemotongan lafaz yang tidak pantas.

7. CATATAN KAKI

  1. Abu Zakariyya Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab, (Kairo: Idārat ath-Thibā‘ah al-Munīriyyah, 1344 H), Jilid 4, Halaman 593–594. ↩
  2. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Al-Mughnī fī Fiqh al-Imām Aḥmad bin Ḥanbal, (Riyadh: Dār ‘Ālam al-Kutub, 1417 H/1997 M), Jilid 12, Halaman 290–292. ↩
  3. Al-Qur'an al-Karim, Surah An-Nisa' [4] ayat 86. Teks dan terjemahan resmi Kementerian Agama Republik Indonesia. ↩
  4. Shahih Muslim, Kitāb as-Salām, Bāb min Ḥaqqil Muslim lil-Muslim Raddus Salām, Hadits Nomor 2162 (Tahqiq: Muhammad Fu'ad Abdul Baqi). ↩
  5. Abu Zakariyya Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkār al-Muntakhabah min Kalāmi Sayyidil Abrār, (Beirut: Dār al-Fikr, 1424 H/2004 M), Halaman 247. ↩
  6. Shahih Al-Bukhari, Kitāb Bad'il Khalq, Bāb Dzikril Malā'ikah, Hadits Nomor 3217; Shahih Muslim, Kitāb Faḍā'il ash-Shaḥābah, Bāb Faḍli ‘Ā'isyah, Hadits Nomor 2447. ↩
  7. Al-Lajnah ad-Dā'imah lil-Buḥūts al-‘Ilmiyyah wal-Iftā', Fatāwā al-Lajnah ad-Dā'imah, Dikompilasi oleh Ahmad bin Abdurrazzaq ad-Duwaisy, (Riyadh: Dār al-Mu'ayyad, 1424 H), Fatwa Nomor 128737. ↩
  8. Al-Lajnah ad-Dā'imah lil-Buḥūts al-‘Ilmiyyah wal-Iftā', Mausū‘ah al-Fatāwā al-Islāmiyyah: Fatāwā al-Isti'dzān was-Salām, Pertanyaan Mengenai Hukum Menjawab Salam di Televisi dan Radio, Fatwa Nomor 128737. ↩
  9. ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz, Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah, (Riyadh: Idārat al-Buḥūts al-‘Ilmiyyah wal-Iftā', 1420 H), Jilid 9, Halaman 396. ↩
  10. Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Silsilah Liqā’āt al-Bāb al-Maftūḥ, (Kaset Liqa' Nomor 229, Rekaman Tanya Jawab Fiqh Media), Al-Maktabah asy-Syāmilah. ↩
  11. Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Al-Muntaqā min Fatāwā Faḍīlatisy Syaikh Shāliḥ al-Fauzān, (Riyadh: Dār al-Qasim, 1422 H), Jilid 63, Halaman 8. ↩
  12. Darul Ifta' al-Mishriyyah, Hukm Isti'māl al-Adzān wal-Qur'ān wan-Nasyīd ka-Rannāt lil-Hātif al-Maḥmūl, Fatwa Nomor 2415, Arsip Resmi Lembaga Fatwa Mesir (Kairo: 2009). ↩
  13. Shahih Muslim, Kitābudz Dzikr wad-Du‘ā’ wat-Taubah, Bāb Faḍlid Du‘ā’ lil-Muslimīn bi-Zhahāril Ghaib, Hadits Nomor 2733. ↩

8. DAFTAR PUSTAKA

  • Al-Bukhārī, Abū ‘Abdillāh Muḥammad bin Ismā‘īl. (1422 H). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Taḥqīq: Muḥammad Zuhair bin Nāṣir an-Nāṣir. Beirut: Dār Ṭawq an-Najāh.
  • Al-Fauzān, Shāliḥ bin Fauzān bin ‘Abdillāh. (1422 H). Al-Muntaqā min Fatāwā Faḍīlatisy Syaikh Shāliḥ bin Fauzān al-Fauzān. Riyadh: Dār al-Qāsim.
  • Al-Lajnah ad-Dā’imah lil-Buḥūts al-‘Ilmiyyah wal-Iftā’. (1424 H). Fatāwā al-Lajnah ad-Dā’imah. Himpunan: Aḥmad bin ‘Abdirrazzāq ad-Duwaisy. Riyadh: Dār al-Mu’ayyad.
  • Al-Maqdisī, Muwaffaquddīn Abū Muḥammad ‘Abdullāh bin Aḥmad bin Muḥammad bin Qudāmah. (1417 H/1997 M). Al-Mughnī fī Fiqh al-Imām Aḥmad bin Ḥanbal asy-Syaibānī. Riyadh: Dār ‘Ālam al-Kutub.
  • Al-Qasthalānī, Aḥmad bin Muḥammad. (1323 H). Irsyād as-Sārī li Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Kairo: Al-Mathba‘ah al-Kubrā al-Amīriyyah.
  • Al-‘Utsaimīn, Muḥammad bin Shāliḥ. (1425 H). Silsilah Liqā’āt al-Bāb al-Maftūḥ. Riyadh: Mu’assasah asy-Syaikh Muḥammad bin Shāliḥ al-‘Utsaimīn al-Khairiyyah.
  • An-Nawawī, Abū Zakariyyā Muḥyiddīn Yaḥyā bin Syaraf. (1424 H/2004 M). Al-Adzkār al-Muntakhabah min Kalāmi Sayyidil Abrār. Beirut: Dār al-Fikr.
  • An-Nawawī, Abū Zakariyyā Muḥyiddīn Yaḥyā bin Syaraf. (1344 H). Al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab. Kairo: Idārat ath-Thibā‘ah al-Munīriyyah.
  • An-Nawawī, Abū Zakariyyā Muḥyiddīn Yaḥyā bin Syaraf. (1392 H). Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bin al-Ḥajjāj. Beirut: Dār Iḥyā’ at-Turāts al-‘Arabī.
  • Bin Bāz, ‘Abdul ‘Azīz bin ‘Abdillāh. (1420 H). Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah. Riyadh: Idārat al-Buḥūts al-‘Ilmiyyah wal-Iftā’.
  • Dār al-Iftā’ al-Miṣriyyah. (2009). Fatāwā al-Iftā’ al-Miṣriyyah fī Qadhāyā al-‘Aṣr. Kairo: Al-Amānah al-‘Āmmah li Dūr wa Hay’āt al-Iftā’ fī al-‘Ālam.
  • Ibnu Hajar al-‘Asqalānī, Aḥmad bin ‘Alī. (1379 H). Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Taḥqīq: Muḥibbuddīn al-Khathīb. Beirut: Dār al-Ma‘rifah.
  • Muslim, Abul Ḥusain Muslim bin al-Ḥajjāj an-Naisābūrī. (1374 H/1955 M). Ṣaḥīḥ Muslim. Taḥqīq: Muḥammad Fu’ād ‘Abdul Bāqī. Kairo: Maṭba‘ah ‘Īsā al-Bābī al-Ḥalabī.