← Semua Artikel Kompas Beragama

EKSPRESI KEAGAMAAN GENERASI Z

Tidak Ada Komentar 9 Mins Read 39 Views
Cara Anak Muda (Gen Z) Menjalankan Agama: Antara Tren Media Sosial, Ketenangan Batin, dan Pentingnya Guru
Gambar artikel
Daftar Isi Gambar artikel

CARA ANAK MUDA (GEN Z) MENJALANKAN AGAMA:

Antara Tren Media Sosial, Ketenangan Batin, dan Pentingnya Guru

1. Pendahuluan

1.1 Siapa Gen Z dan Hubungannya dengan Internet?

Generasi Z adalah sebutan untuk anak-anak muda yang lahir antara akhir tahun 1990-an sampai awal 2010-an. Sejak kecil atau remaja, mereka sudah akrab dengan ponsel pintar, internet kencang, dan berbagai aplikasi media sosial. Bagi mereka, dunia maya bukan tempat asing, melainkan sudah seperti rumah kedua tempat mengobrol, mencari teman, hingga belajar hal-hal baru.

Hal ini juga memengaruhi cara mereka memandang agama. Bagi Gen Z, beragama bukan lagi melulu soal hafalan teori yang kaku atau doktrin yang menakut-nakuti, melainkan sesuatu yang hidup, bisa diobrolkan santai, dan menyentuh kehidupan mereka sehari-hari.

1.2 Cara Belajar Agama yang Berubah Total

Kalau dulu orang tua kita belajar agama harus datang rutin ke pengajian mingguan atau pesantren, sekarang jalurnya jauh lebih beragam. Cukup buka TikTok, Instagram, atau YouTube, nasihat keagamaan langsung muncul di beranda.

Hal ini tentu sangat bagus karena siapa saja bisa belajar agama dengan mudah dan cepat. Namun, ada juga tantangannya: tidak semua orang yang berbicara di internet benar-benar paham ilmu agama. Sering kali, orang yang paling pintar membuat video menarik justru lebih banyak didengar daripada ulama yang ilmunya luas dan dalam.

2. Ciri Khas Anak Muda Menjalankan Agama Hari Ini

2.1 Mencari Ketenangan Pikiran dan Hati (Healing Spiritual)

Banyak anak muda hari ini merasa gampang cemas, stres memikirkan masa depan (overthinking), atau tertekan karena masalah pertemanan dan pekerjaan. Karena itu, ketika mendekat ke agama, mereka mencari ketenangan jiwa dan obat hati.

Hal ini sangat sesuai dengan apa yang disampaikan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur'an:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قلوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd [13]: 28) [1]

Bagi Gen Z, ayat ini diterapkan lewat hal-hal sederhana: mendengarkan lantunan ayat suci merdu di aplikasi musik saat belajar, membaca kata-kata penguat hati berlatar pemandangan indah di medsos, atau merutinkan doa dan dzikir agar pikiran tidak mudah panik.

2.2 Dakwah Singkat, Gaul, dan Visual Menarik

Gen Z sangat menyukai hal-hal yang ringkas dan nyaman dilihat. Dakwah masa kini pun ikut menyesuaikan:

  • Format video pendek 30 sampai 60 detik.
  • Pilihan kata santai seperti bahasa tongkrongan, tanpa istilah yang bikin pusing.
  • Tampilan visual rapi, warna estetik, dan musik latar yang tenang.

Kata "hijrah" juga jadi tren positif. Memakai pakaian yang sopan, ikut kajian di auditorium modern, atau menaruh kutipan hadits di status WhatsApp sudah jadi bagian dari gaya hidup anak muda yang ingin menjadi pribadi lebih baik.

2.3 Belajar Agama Fleksibel Tanpa Sekat

Anak muda sekarang cenderung tidak mau terkotak-kotak pada satu kelompok saja. Hari ini mereka bisa menyimak nasihat ustadz A di YouTube, besok ikut siaran langsung ustadz B di Instagram, dan lusa berdiskusi di grup pesan instan. Mereka menyerap kebaikan dari banyak pintu tanpa mempermasalahkan perbedaan-perbedaan kecil.

3. Sisi Rawan Belajar Agama di Media Sosial

3.1 Belajar Terpotong-potong dan Hilangnya Bimbingan Guru

Meskipun belajar lewat video pendek itu praktis, ada bahaya tersembunyi. Ajaran agama itu luas dan punya aturan yang runut. Jika hanya belajar dari potongan video satu menit, seseorang bisa salah paham, gampang menyalahkan orang lain, atau mengambil kesimpulan yang keliru.

Ulama besar dari kalangan tabi'in, Muhammad bin Sirin rahimahullah, pernah mengingatkan:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

"Sesungguhnya ilmu ini adalah urusan agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil ajaran agama kalian." [2]

Artinya, kita tidak boleh sembarangan menelan nasihat agama di internet tanpa tahu apakah orang yang berbicara itu memang menguasai bidangnya atau sekadar mengejar penonton.

3.2 Terjebak Riya dan Sekadar Konten Estetis

Di media sosial, ada godaan besar untuk pamer agar dipuji atau mendapat banyak tanda suka (likes). Hal ini bisa menjebak ibadah seseorang. Niat awal yang tulus bisa bergeser menjadi ingin terlihat paling saleh atau paling alim di mata orang lain.

Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam sudah mengingatkan bahaya sifat ini:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ

"Perkara yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya: "Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Riya' (pamer kebaikan/ibadah agar dilihat orang)." [3]

Imam Al-Ghazali rahimahullah juga menulis dalam kitab terkenalnya Ihya' 'Ulumiddin:

آفَةُ الْعَبْدِ طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِ النَّاسِ

"Penyakit seorang hamba adalah mencari kedudukan di hati manusia (selalu haus pujian orang)." [4]

Jangan sampai ibadah shalat malam, sedekah, atau mengaji hilang pahalanya hanya gara-gara sibuk memikirkan sudut kamera terbaik untuk diunggah.

3.3 Bahaya Jebakan Algoritma Medsos

Sistem aplikasi media sosial bekerja dengan cara menyuguhkan video yang mirip dengan apa yang sering kita tonton.

  • Jika kita sering menonton video yang marah-marah atau suka mengkafirkan orang lain, medsos akan terus menyajikan konten sejenis. Akibatnya, pikiran kita menjadi sempit dan gampang membenci orang yang berbeda pendapat.
  • Jika terus-menerus disuguhi konten singkat, kita juga bisa malas membaca buku tebal atau malas belajar sungguh-sungguh.

4. Jalan Keluar: Cara Bijak Belajar dan Menyebarkan Agama

4.1 Tetap Butuh Guru Nyata (Talaqqi)

Media sosial sangat bagus untuk pintu masuk atau pengingat harian. Namun, untuk memahami agama secara mendalam, kita tetap butuh guru atau ustadz yang bisa ditemui langsung.

Mengapa harus bertemu guru langsung?

  • Kita bisa mencontoh akhlak, kesopanan, dan tutur kata guru secara nyata.
  • Kita bisa bertanya langsung jika bingung tanpa takut salah paham.
  • Belajar secara tatap muka mengajarkan kita kerendahan hati dalam menuntut ilmu.

Imam Nawawi rahimahullah mengibaratkan murid yang butuh guru seperti orang sakit yang membutuhkan dokter ahli [5]. Internet bisa memberi tahu gejala sakit, tapi dokterlah yang tahu obat pastinya.

4.2 Bikin Konten Keren tapi Tetap Benar

Para pendidik, santri, dan anak muda yang paham agama harus aktif membuat konten di medsos. Jangan biarkan dunia maya hanya diisi oleh konten yang menyesatkan atau debat kusir yang tidak bermanfaat.

Gunakan prinsip dakwah yang diajarkan dalam Al-Qur'an:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

"Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak, pengajaran yang baik, dan berdiskusilah dengan cara yang lebih baik." (QS. An-Nahl [16]: 125) [6]

Cara bijak (hikmah) zaman sekarang berarti: gambar yang bersih, audio yang jernih, bahasa yang santun, dan penjelasan yang mudah dipahami orang awam.

4.3 Beragama yang Santai, Rukun, dan Tidak Ekstrem

Islam adalah agama yang membawa kemudahan dan jalan tengah. Beragama tidak boleh dipersulit sampai membuat diri sendiri tersiksa atau membuat orang lain lari ketakutan.

Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا

"Sesungguhnya agama ini mudah. Tidaklah seseorang membebani diri secara berlebihan dalam beragama melainkan ia pasti akan kewalahan sendiri. Maka bersikap luruslah, berusahalah mendekati yang benar, dan bergembiralah." [7]

Belajar agama harus membuat kita semakin ramah, toleran kepada perbedaan pendapat sesama muslim, dan makin sayang kepada sesama manusia, bukan malah membuat kita sombong dan mudah menyalahkan orang lain.

5. Kesimpulan

Semangat anak muda Gen Z dalam mengenal agama lewat dunia digital adalah hal yang sangat positif. Media sosial terbukti berhasil membuat dakwah terasa lebih ramah, segar, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kuncinya ada pada keseimbangan:

  • Jadikan media sosial sebagai pintu awal untuk mendapat semangat dan nasihat kebaikan.
  • Lengkapi pemahaman dengan belajar langsung kepada guru yang tepercaya agar tidak salah arah.
  • Jaga niat agar ibadah tetap tulus untuk mencari ridha Tuhan, bukan demi pujian penonton di dunia maya.

6. Catatan Kaki

  1. Al-Qur'an, Surah Ar-Ra'd [13] ayat 28. ↩
  2. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam pembukaan (Muqaddimah) kitab Shahih Muslim, Jilid 1, Halaman 14, Nomor 27. ↩
  3. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Al-Musnad, Jilid 39, Halaman 39, Nomor Hadits 23630. Status hadits: Hasan/Shahih. ↩
  4. Abu Hamid Al-Ghazali, kitab Ihya' 'Ulumiddin, Penerbit Dar al-Ma'rifah Beirut, Jilid 3, Halaman 277. ↩
  5. Yahya bin Syaraf An-Nawawi, kitab Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, Jilid 1, Halaman 36. ↩
  6. Al-Qur'an, Surah An-Nahl [16] ayat 125. ↩
  7. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih al-Bukhari, Bab Agama itu Mudah, Hadits Nomor 39. ↩

7. Daftar Pustaka

  • Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Kairo: Al-Mathba'ah as-Salafiyyah. ↩
  • Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. Ihya' 'Ulumiddin. Beirut: Dar al-Ma'rifah. ↩
  • An-Naisaburi, Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi. ↩
  • An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab. Kairo: Idarah ath-Thiba'ah al-Muniriyyah. ↩
  • Ibnu Hanbal, Ahmad. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal. Beirut: Mu'assasah ar-Risalah. ↩
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Riyadh: Dar Thayyibah. ↩