Cita-Cita Pemuda Muslim: Mengintegrasikan Spiritualitas dengan Profesionalisme
Membangun etos kerja unggul (itqan), integritas amanah, dan kontribusi nyata bagi peradaban modern tanpa kehilangan identitas keislaman serta kedalaman dzikir berdasarkan tuntunan Al-Qur'an, Hadits, dan kitab-kitab turats.
Daftar Isi Kajian ▾
- 1. Fondasi Dalil Al-Qur'an & Hadits tentang Integrasi Dzikir, Itqan, dan Profesionalisme
- 2. Tabel Matriks Komparasi: Karierisme Sekuler, Zuhud Pasif, vs Profesionalisme Rabbani
- 3. Dilema Pemuda Muslim di Dunia Kerja Modern: Antara Ambisi Karier dan Identitas Iman
- 4. Dekonstruksi 5 Kitab Turats: Niat, Wara' Profesi, Amanah, dan Muru'ah Keunggulan
- 5. Bagan Alur Vertikal: Protokol Mengubah Aktivitas Profesi Menjadi Ladang Ibadah
- 6. Kaidah Ushul Fiqh & Fiqh tentang Transformasi Mubahat dan Fardhu Kifayah Keahlian
- 7. Panduan Praktis Menjadi Profesional Muslim yang Al-Qawiyy (Kompeten) dan Al-Amin (Jujur)
- 8. Self-Assessment Checklist: Evaluasi Integritas Spiritual & Kualitas Profesionalisme Diri
- 9. Catatan Kaki (Footnotes) Terperinci & Verifikasi Fisik Kitab Turats
- 10. Daftar Pustaka Alfabetis

1. Fondasi Dalil Al-Qur'an dan Hadits tentang Integrasi Dzikir, Itqan, dan Profesionalisme
Salah satu kesalahpahaman terbesar yang kerap menghambat kemajuan pemuda Muslim di era kontemporer adalah dikotomi semu antara kesalehan spiritual dan keunggulan profesional. Di satu sisi, ada yang mengira bahwa menjadi seorang Muslim yang taat dan zuhud berarti harus menjauhi pencapaian karier tinggi, enggan menguasai teknologi mutakhir, dan cukup hidup seadanya tanpa visi peradaban. Di sisi lain, ada pula yang ketika terjun ke dunia korporasi, bisnis, atau sains modern, justru menanggalkan identitas keislamannya—menunda-nunda salat demi rapat, mengompromikan batas halal-haram demi target keuntungan, dan terjebak dalam gaya hidup materialistis. Padahal, Al-Qur'an al-Karim sejak empat belas abad silam telah menetapkan paradigma keseimbangan paripurna (at-tawazun) antara orientasi akhirat dan kontribusi unggul di dunia:[1]
Dalam pandangan Islam, masjid dan pasar, sajadah dan meja kerja, bukanlah dua kutub yang saling menegasikan. Al-Qur'an memuji sosok Rijal (para pemuda dan insan berjiwa ksatria) yang aktif menjalankan roda perniagaan, industri, dan profesi duniawi, namun hiruk-pikuk transaksi tersebut sedikit pun tidak melalaikan hati mereka dari dzikrullah, penegakan salat, dan kepedulian zakat:[2]
Lebih jauh lagi, Al-Qur'an merumuskan dua pilar utama profesionalisme sejati melalui kisah Nabi Musa 'alaihis salam dan Nabi Yusuf 'alaihis salam. Pilar pertama adalah Kompetensi Keahlian & Kapabilitas (Al-Qawiyy / Al-'Alim), dan pilar kedua adalah Integritas Moral & Amanah Spiritual (Al-Amin / Al-Hafizh):[3]
Dalam khazanah Sunnah Nabawiyyah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikan standar mutu kerja terbaik (Al-Itqan dan Al-Ihsan) sebagai bukti kecintaan seorang hamba kepada Allah:[4]
Dan kunci utama yang mengubah seluruh keringat profesionalisme duniawi menjadi pahala ukhrawi adalah kemurnian niat (Al-Ikhlash) serta keramahan etika muamalah (As-Samahah), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang dikutip dalam An-Nasha'ih Ad-Diniyyah dan Risalatul Mu'awanah:[5][6]
2. Tabel Matriks Komparasi: Karierisme Sekuler, Zuhud Pasif, vs Profesionalisme Rabbani
Untuk memetakan posisi ideal seorang pemuda Muslim di tengah kancah persaingan global, tabel matriks berikut mengomparasikan tiga model orientasi hidup: Karierisme Sekuler-Materialis (kuat secara teknis namun hampa iman dan menghalalkan segala cara), Zuhud Pasif-Fatalis (saleh secara ritual namun lemah kompetensi dan abai tanggung jawab peradaban), serta Profesionalisme Rabbani yang memadukan Al-Qawiyy dan Al-Amin:[3][7][12]
| Dimensi Evaluasi | Karierisme Sekuler-Materialis (Al-Qawiyy Tanpa Al-Amin) | Kesalehan Pasif-Fatalis (Lemah Kompetensi & Etos Kerja) | Profesionalisme Rabbani (Integrasi Spiritualitas & Keunggulan) |
|---|---|---|---|
| Motivasi Utama Bekerja & Berkarya | Akumulasi harta, prestise jabatan, validasi ego, dan persaingan mengalahkan rekan sejawat.[13][14] | Sekadar bertahan hidup seadanya dengan anggapan bahwa mengejar keunggulan duniawi merusak keikhlasan. | Ibadah yang ikhlas kepada Allah, mencukupi nafkah keluarga dengan keterampilan tangan sendiri, membangun kemandirian umat, dan menebar manfaat seluas-luasnya.[7][9][15][17][28][32] |
| Standar Kualitas Kerja (Mutu Teknis) | Tinggi saat diawasi atasan atau saat ada insentif materi, namun mudah curang jika celah pengawasan terbuka. | Asal selesai, kurang disiplin waktu, dan sering menjadikan urusan agama sebagai alasan keterlambatan kerja. | Itqan dan Ihsan (unggul, presisi, dan tuntas) karena sadar bahwa Allah menyaksikan setiap detail pekerjaannya.[4][34][35] |
| Sikap terhadap Batas Halal, Haram & Syubhat | Pragmatis; berani mengambil suap, riba, atau manipulasi data demi percepatan karier. | Menjauhi pasar dan profesi strategis karena takut terjerumus dosa tanpa mau mempelajari fikih muamalah. | Mempelajari fikih profesi/muamalah secara mendalam dan memegang teguh wara' serta kejujuran.[7][8][30] |
| Hubungan antara Jam Kerja dan Ibadah Salat | Salat sering dikorbankan, ditunda hingga akhir waktu, atau dikerjakan tergesa-gesa tanpa kekhusyukan. | Rajin beribadah sunnah namun mengabaikan jam kerja wajib yang telah disepakati dalam akad profesi. | Menjaga salat tepat waktu sebagai pengisi daya ruhani, sekaligus menunaikan akad jam kerja secara amanah.[2][11][27] |
| Pemanfaatan Hasil Penghasilan | Konsumerisme berlebih (israf), pamer kemewahan, dan menumpuk kekayaan pribadi. | Terbatas untuk kebutuhan sendiri sehingga sulit menjadi tangan di atas yang menopang dakwah dan dhuafa. | Menjaga kecukupan keluarga, menunaikan zakat, wakaf, infak, dan membiayai kemaslahatan peradaban.[2][14][20] |
3. Dilema Pemuda Muslim di Dunia Kerja Modern: Antara Ambisi Karier dan Identitas Iman
Ketika seorang mahasiswa atau profesional muda Muslim melangkah masuk ke dunia industri, riset, birokrasi, maupun kewirausahaan modern, ia sering kali dihadapkan pada empat tantangan nyata yang menguji keteguhan prinsipnya:
Pertama, Tekanan Budaya Kerja "Hustle Culture" yang Menggerus Ruang Ibadah dan Dzikir. Budaya kerja modern sering menuntut dedikasi waktu tanpa batas hingga larut malam, yang perlahan-lahan membuat seorang pemuda kehilangan waktu salat berjamaah, tidak lagi sempat membaca Al-Qur'an, dan mengalami kekeringan ruhani. Padahal, kesibukan profesional yang memutus hubungan batin dengan Allah justru akan berujung pada kehampaan makna (burnout eksistensial).[2]
Kedua, Godaan Kompromi Etika dan Transaksi Syubhat di Lingkungan Kerja. Di banyak sektor industri, praktik manipulasi laporan, komisi tersembunyi (risywah), skema ribawi, hingga kecurangan tender kerap dianggap sebagai "kelaziman bisnis". Pemuda yang tidak membekali dirinya dengan ilmu fikih muamalah dan keteguhan wara' akan mudah hanyut mengikuti arus kerusakan tersebut.[7][8]
Ketiga, Pencemaran Niat oleh Ambisi Popularitas, Jabatan, dan Rivalitas Tidak Sehat. Sebagaimana diperingatkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah, bahaya paling halus bagi orang yang berilmu dan berkarier adalah ketika motivasinya bergeser menjadi al-munafasah wal mubahat (persaingan saling menjatuhkan, pamer pencapaian, dan gila pujian manusia).[13][14]
Keempat, Mentalitas "Asal Jalan" yang Mencoreng Citra Profesionalisme Umat Islam. Di sisi sebaliknya, masih ada sebagian pemuda Muslim yang aktif di organisasi keislaman namun kurang disiplin dalam menepati janji waktu, kurang rapi dalam manajemen administrasi, dan enggan meningkatkan kapasitas teknisnya. Hal ini menimbulkan kesan keliru seolah-olah kesalehan berbanding terbalik dengan kecakapan profesional.[4][12]
4. Dekonstruksi 5 Kitab Turats: Niat, Wara' Profesi, Amanah, dan Muru'ah Keunggulan
Bagaimana para ulama salaf dan khalaf merumuskan integrasi antara spiritualitas rabbani dan keunggulan profesional? Mari kita telaah langsung dari lima kitab turats rujukan primer:
4.1. Kitab An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad)
Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad (w. 1132 H) dalam An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf) menempatkan etos kerja mencari rezeki yang halal dan penguasaan profesi sebagai salah satu pilar terpenting dalam agama. Pada hlm. cetakan 315 dan 400 [hlm. file PDF 315 dan 400], beliau menegaskan:[7][10]
Selanjutnya pada pembahasan Adabut Tajir di hlm. cetakan 328 [hlm. file PDF 328] serta pembahasan Al-Ikhlash di hlm. cetakan 404 [hlm. file PDF 404], Imam Al-Haddad mewajibkan setiap pelaku profesi dan bisnis untuk mempelajari fikih muamalah di bidangnya serta menata niat agar pekerjaannya berubah menjadi ibadah:[8][9][16]
4.2. Kitab Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad)
Dalam Risalatul Mu'awanah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), Imam Al-Haddad menekankan standar integritas tertinggi seorang profesional Muslim ketika memegang amanah pekerjaan, jabatan, maupun harta milik pihak lain. Pada hlm. cetakan 146 [hlm. file PDF 146], beliau berwasiat:[11]
Prinsip ini melahirkan etos kerja yang luar biasa: seorang karyawan, manajer, peneliti, atau aparatur Muslim akan menjaga aset dan waktu tempatnya bekerja lebih cermat daripada menjaga miliknya sendiri karena ia sadar bahwa amanah tersebut akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.[11][19]
4.3. Kitab Adabud Dunya wad Din (Al-Imam Al-Qadhi Abu Al-Hasan Al-Mawardi)
Al-Imam Al-Qadhi Abu Al-Hasan Al-Mawardi (w. 450 H) dalam Adabud Dunya wad Din (berkas PDF: adab.pdf) pada Bab Adabid Dunya di hlm. cetakan 108 [hlm. file PDF 108] serta pembahasan Al-Muru'ah di hlm. cetakan 277 [hlm. file PDF 277] merumuskan filosofi mengapa seorang mukmin wajib memberikan perhatian serius pada kecakapan duniawi dan menjaga martabat profesionalisme (al-muru'ah):[12][21][22]
4.4. Kitab Bidayatul Hidayah (Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali)
Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah (berkas PDF: 4_5782779241900802990.pdf) pada hlm. cetakan 59 dan 191–192 [hlm. file PDF 62 dan 194–195] mengingatkan para penuntut ilmu dan profesional muda agar membersihkan motivasinya dari kesombongan intelektual, seraya menjaga adab pergaulan dan muamalah di tengah masyarakat.[13][23]
4.5. Kitab Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (Syaikh Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu)
Dalam Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf) pada pembahasan hukum taklifi dan Al-Mahkum 'Alaih di hlm. cetakan 114–118 [hlm. file PDF 115–119], ditegaskan prinsip kewajiban syariat yang menuntut kapabilitas pelaksanaan (al-qudrah 'alal imtitsal). Dalam kerangka ushul fikih, penguasaan ilmu-ilmu strategis seperti kedokteran, rekayasa teknologi, ekonomi syariah, hukum, dan tata kelola pemerintahan berstatus sebagai Fardhu Kifayah—kewajiban kolektif yang apabila diabaikan oleh generasi muda Muslim, maka seluruh umat akan menanggung dosa keterbelakangan dan ketergantungan.[24][26]
5. Bagan Alur Vertikal: Protokol Mengubah Aktivitas Profesi Menjadi Ladang Ibadah
Berikut adalah bagan alur lima langkah praktis bagi setiap mahasiswa dan profesional muda Muslim untuk mengintegrasikan spiritualitas ke dalam keseharian kerjanya:
Sebelum membuka laptop atau melangkah ke tempat kerja di pagi hari, pancangkan niat di dalam hati bahwa pekerjaan hari ini dilakukan untuk mencari rezeki halal, menjaga kehormatan keluarga ('iffah), menopang ibadah kepada Allah, dan memberi manfaat bagi umat.[5][9][18]
Pastikan akad pekerjaan, objek layanan, dan mekanisme transaksi bersih dari unsur riba, gharar (ketidakjelasan manipulatif), suap (risywah), dan kezaliman terhadap hak orang lain.[7][8][30]
Kerjakan setiap tugas, riset, atau layanan secara tuntas, teliti, tepat waktu, dan jujur tanpa perlu diawasi atasan manusia, karena menghadirkan kesadaran Muraqabatullah.[4][11][12]
Jadikan panggilan azan sebagai titik henti suci untuk menyegarkan jiwa dari tekanan pekerjaan, serta basahi lisan dengan dzikir dan istighfar di sela-sela aktivitas profesional.[2][27]
6. Kaidah Ushul Fiqh dan Fiqh tentang Transformasi Mubahat dan Fardhu Kifayah Keahlian
Integrasi antara spiritualitas dan profesionalisme dalam Islam berdiri di atas empat kaidah ushul fikih dan kaidah fikih yang sangat kokoh:
Makna dan Aplikasi: "Setiap urusan dinilai berdasarkan tujuannya, dan hukum sarana mengikuti hukum tujuannya." Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Haddad, coding perangkat lunak, merancang jembatan, mengobati pasien, atau berdagang di pasar yang asalnya berstatus mubah, berubah menjadi ibadah ketaatan (tha'at) ketika diniatkan sebagai sarana menegakkan kewajiban nafkah dan kemaslahatan umat.[5][9][25]
Makna dan Aplikasi: "Suatu kewajiban yang tidak dapat terlaksana secara sempurna kecuali dengan adanya suatu sarana, maka pengadaan sarana tersebut hukumnya menjadi wajib." Menjaga izzah (kemuliaan), kemandirian ekonomi, kesehatan, dan pertahanan umat Islam adalah kewajiban syar'i; dan karena semua itu tidak mungkin terwujud tanpa hadirnya para profesional Muslim yang ahli di bidang sains, teknologi, kedokteran, dan ekonomi, maka menuntut ilmu-ilmu tersebut hingga tingkat mahir menjadi kewajiban kolektif (fardhu kifayah).[24][26]
Makna dan Aplikasi: "Maka berikanlah kepada setiap pemilik hak akan haknya secara proporsional." Seorang pemuda Muslim tidak boleh menggunakan alasan kesibukan kerja untuk menelantarkan hak Tuhan (salat dan dzikir), dan tidak boleh pula menggunakan alasan ibadah sunnah di jam kerja untuk mengurangi hak pemberi kerja atau klien yang telah diikat dengan akad yang sah.[11][27]
Makna dan Aplikasi: "Muru'ah adalah memelihara seluruh keadaan dan pekerjaan agar senantiasa berada pada standar yang paling utama." Kaidah dari Imam Al-Mawardi ini menuntut setiap pemuda Muslim untuk menolak mentalitas medioker (asal jadi) dan selalu menghadirkan standar keunggulan terbaik dalam karyanya.[12][31]
7. Panduan Praktis Menjadi Profesional Muslim yang Al-Qawiyy (Kompeten) dan Al-Amin (Jujur)
Untuk mewujudkan cita-cita integrasi spiritualitas dan profesionalisme dalam kehidupan nyata, berikut adalah lima langkah strategis yang dapat langsung dipraktikkan oleh generasi muda Muslim:
1. Jadilah yang Paling Kompeten di Bidang Keahlianmu (Tahqiqul Quwwah). Jangan puas menjadi rata-rata. Jika engkau seorang mahasiswa teknik, dokter, pendidik, desainer, atau wirausahawan, kuasailah disiplin ilmumu secara mendalam, terus perbarui keterampilan (lifelong learning), dan tunjukkan etos kerja yang rapi serta berorientasi solusi.[3][4][33]
2. Jadikan Kejujuran dan Ketepatan Janji sebagai "Personal Branding" Utama (Tahqiqul Amanah). Sebagaimana hadits yang dikutip oleh Imam Al-Mawardi dalam Adabud Dunya wad Din, kesempurnaan muru'ah seorang mukmin tampak pada tiga hal: tidak menzalimi rekan saat berinteraksi, tidak berdusta saat berbicara/melaporkan data, dan tidak mengingkari janji (deadline maupun komitmen kerja).[11][12]
3. Pelajari Fikih Muamalah Terkait Profesimu Sebelum Melangkah Jauh. Ikuti pesan Khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu yang dikutip oleh Imam Al-Haddad dalam An-Nasha'ih Ad-Diniyyah: pahami mana akad yang sah dan mana yang batil di bidang kerjamu, sehingga setiap rupiah yang masuk ke dalam rekeningmu bersih dari noda haram maupun syubhat.[7][8]
4. Bangun Ritme "Spiritual Anchoring" di Tengah Hari Kerja. Tetapkan tiga jangkar spiritual harian yang tidak boleh diganggu gugat oleh kesibukan apa pun: (a) tilawah dan dzikir pagi sebelum mulai bekerja, (b) salat Zuhur dan Asar tepat waktu di sela aktivitas kerja, serta (c) muhasabah singkat sebelum tidur untuk membersihkan hati dari ketergantungan duniawi.[2][34]
5. Orientasikan Puncak Kesuksesan Karier untuk Kontribusi Umat (Anfa'uhum lin-Nas). Ukur kesuksesan kariermu bukan dari seberapa mewah gaya hidup pribadimu, melainkan dari seberapa banyak lapangan kerja yang bisa engkau buka, seberapa besar masalah masyarakat yang berhasil engkau pecahkan lewat keahlianmu, dan seberapa besar kontribusi zakat serta wakafmu bagi peradaban Islam.[14][20][28]
8. Self-Assessment Checklist: Evaluasi Integritas Spiritual dan Kualitas Profesionalisme Diri
Gunakan daftar periksa muhasabah berikut secara berkala untuk mengevaluasi keseimbangan antara spiritualitas dan profesionalisme dalam studi maupun karier kita:
9. Catatan Kaki (Footnotes) Terperinci & Verifikasi Fisik Kitab Turats
Seluruh catatan kaki di bawah ini mencantumkan penomoran ganda (Halaman Cetakan dan Halaman Berkas PDF) beserta kutipan teks Arab asli verbatim berharakat lengkap sesuai kaidah Nahwu dan Shorof yang telah diverifikasi dari berkas PDF kitab rujukan primer:
- [1] Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Qashash [28] ayat 77. Fondasi Qur'ani mengenai keseimbangan visi akhirat sebagai orientasi tertinggi tanpa melupakan porsi ikhtiar, profesionalisme, dan kontribusi kebaikan (ihsan) di atas muka bumi; selaras dengan uraian Al-Imam Al-Mawardi dalam Adabud Dunya wad Din (berkas PDF:
adab.pdf), Beirut: Darul Minhaj, Bab Adabid Dunya, hlm. cetakan 107–108 [hlm. file PDF 107–108]. ↑ Kembali ke teksنَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ﴾ — وَعِبَارَةُ أَدَبِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ (ص ١٠٨ [PDF ص ١٠٨]): «فَلَزِمَ لِذٰلِكَ أَنْ يَصْرِفَ الْإِنْسَانُ إِلَى دُنْيَاهُ حَظًّا مِنْ عِنَايَتِهِ ، لِأَنَّهُ لَا غِنَى لَهُ عَنِ التَّزَوُّدِ مِنْهَا لِآخِرَتِهِ» - [2] Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Jumu'ah [62] ayat 9–10 dan Surah An-Nur [24] ayat 37. Potret generasi beriman yang menggabungkan kesigapan menyambut panggilan salat, ketekunan bertebaran di muka bumi mencari karunia ekonomi secara profesional, dan keabadian dzikir di tengah kesibukan perniagaan; dirujuk dalam An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah karya Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Dar Al-Hawi, cet. 3, 1420 H/1999 M, hlm. cetakan 315 & 328 [hlm. file PDF 315 & 328]. ↑ Kembali ke teksنَصُّ الْآيَتَيْنِ: ﴿فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾ — وَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ﴾ - [3] Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Qashash [28] ayat 26 dan Surah Yusuf [12] ayat 55. Dua kriteria baku keunggulan profesionalisme dalam Al-Qur'an: kompetensi keahlian (Al-Qawiyy / Al-'Alim) dan integritas moral-spiritual (Al-Amin / Al-Hafizh); selaras dengan uraian amanah dalam Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah karya Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad (berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf), cet. 2, 1414 H/1994 M, hlm. cetakan 146 [hlm. file PDF 146]. ↑ Kembali ke teksنَصُّ الْآيَتَيْنِ: ﴿إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ﴾ — وَقَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ﴾ — وَعِبَارَةُ رِسَالَةِ الْمُعَاوَنَةِ (ص ١٤٦ [PDF ص ١٤٦]): «وَعَلَيْكَ بِأَدَاءِ الْأَمَانَةِ وَإِيَّاكَ وَالْخِيَانَةَ فِيهَا» - [4] Hadits Hasan riwayat Al-Imam Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman no. 4929 dan Abu Ya'la dalam Musnad-nya no. 4386 dari Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha, serta Hadits Shahih riwayat Muslim no. 1955 dari Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu tentang kewajiban ihsan dan itqan (kesempurnaan mutu kerja) atas segala sesuatu. ↑ Kembali ke teksنَصُّ الْحَدِيثَيْنِ: «إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ» — وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ»
- [5] Hadits Shahih riwayat Al-Imam Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907 dari sahabat Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu; dikutip secara langsung oleh Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 403–404 [hlm. file PDF 403–404], serta dalam Risalatul Mu'awanah (berkas PDF:resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 25 [hlm. file PDF 25]. ↑ Kembali ke teksنَصُّ الْحَدِيثِ وَعِبَارَةُ رِسَالَةِ الْمُعَاوَنَةِ (ص ٢٥ [PDF ص ٢٥]): «وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ... وَقَدْ تُؤَثِّرُ النِّيَّةُ الصَّادِقَةُ فِي الْأَمْرِ الْمُبَاحِ فَيَصِيرُ قُرْبَةً لِلَّهِ مِنْ حَيْثُ إِنَّ لِلْوَسَائِلِ حُكْمَ الْمَقَاصِدِ» - [6] Hadits Shahih riwayat Al-Imam Al-Bukhari no. 2076 dari sahabat Jabir bin 'Abdillah radhiyallahu 'anhuma; dikutip secara eksplisit oleh Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Muhlikat: Adabut Tajir, hlm. cetakan 328 [hlm. file PDF 328]. ↑ Kembali ke teksنَصُّ الْحَدِيثِ وَعِبَارَةُ النَّصَائِحِ الدِّينِيَّةِ (ص ٣٢٨ [PDF ص ٣٢٨]): «وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا : سَمْحًا إِذَا بَاعَ ، سَمْحًا إِذَا اشْتَرَى ، سَمْحًا إِذَا اقْتَضَى» - [7] Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Muhlikat: Thalabul Halal, hlm. cetakan 315 [hlm. file PDF 315]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَاعْلَمُوا مَعَاشِرَ الْإِخْوَانِ أَغْنَانَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ بِحَلَالِهِ عَنْ حَرَامِهِ ، وَبِطَاعَتِهِ عَنْ مَعْصِيَتِهِ ، وَبِفَضْلِهِ عَمَّنْ سِوَاهُ : أَنَّ الْوَرَعَ عَنِ الْمُحَرَّمَاتِ وَالشُّبُهَاتِ ، وَطَلَبَ الْحَلَالِ وَالْأَكْلَ مِنْهُ مَعَ اجْتِنَابِ الْحَرَامِ رَأْسًا اكْتِسَابًا وَأَكْلًا وَغَيْرَ ذٰلِكَ ، كُلُّ ذٰلِكَ مِنْ أَهَمِّ الْمُهِمَّاتِ فِي الدِّينِ ، وَمِنْ أَفْضَلِ مَا يَتَقَرَّبُ بِهِ الْعِبَادُ إِلَى اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ» - [8] Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Muhlikat: Adabut Tajir, hlm. cetakan 328 [hlm. file PDF 328]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَإِنْ كُنْتَ مِمَّنْ يَكْتَسِبُ بِالتِّجَارَةِ وَالْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ فَعَلَيْكَ فِي جَمِيعِ مُعَامَلَاتِكَ بِاجْتِنَابِ الْمُعَامَلَاتِ الْفَاسِدَةِ ، وَالْبُيُوعِ الْمُحَرَّمَةِ وَالْمَكْرُوهَةِ . وَتَعَلَّمْ ذٰلِكَ وَتَفَقَّهْ فِيهِ . لَا بُدَّ لَكَ مِنْ ذٰلِكَ ، وَلَا رُخْصَةَ لَكَ فِي تَرْكِهِ . قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا وَلَا يَشْتَرِ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّهْ ، فَإِنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّهْ أَكَلَ الرِّبَا وَهُوَ لَا يَعْلَمُ» - [9] Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Munjiyat: Al-Ikhlash, hlm. cetakan 404 [hlm. file PDF 404]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَلَا تَدْخُلْ فِي شَيْءٍ مِنَ الْمُبَاحَاتِ حَتَّى الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ وَالنَّوْمِ ، إِلَّا وَتَقْصِدُ بِذٰلِكَ الِاسْتِعَانَةَ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ ، وَحُصُولَ التَّقَوِّي بِهِ عَلَى عِبَادَتِهِ تَعَالَى ؛ فَبِذٰلِكَ تَلْحَقُ الْمُبَاحَاتُ بِالطَّاعَاتِ ، فَإِنَّ لِلْوَسَائِلِ أَحْكَامَ الْمَقَاصِدِ . وَالْمَغْبُونُ مَنْ غُبِنَ فِي حُسْنِ النِّيَّةِ» - [10] Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Munjiyat: At-Tawakkul 'alallah, hlm. cetakan 400 [hlm. file PDF 400]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَأَمَّا الْأَسْبَابُ الدُّنْيَوِيَّةُ : فَكَالْحِرَفِ وَالصِّنَاعَاتِ ، وَسَائِرِ مَا يَتَسَبَّبُ بِهِ النَّاسُ لِتَحْصِيلِ مَعَايِشِهِمْ . وَهٰذِهِ الْأَسْبَابُ لَا يَجُوزُ لِلْإِنْسَانِ تَرْكُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنْهَا ، وَلَا يَسْتَغْنِي عَنْهُ» - [11] Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf), Fashl Wujub Adail Amanah wash Shidq wal Wafa', hlm. cetakan 146 [hlm. file PDF 146]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَإِذَا ائْتَمَنَكَ إِنْسَانٌ عَلَى شَيْءٍ فَعَلَيْكَ بِحِفْظِهِ أَشَدَّ مِمَّا تَحْفَظُهُ لَوْ كَانَ مِلْكًا لَكَ . وَعَلَيْكَ بِأَدَاءِ الْأَمَانَةِ وَإِيَّاكَ وَالْخِيَانَةَ فِيهَا» - [12] Al-Imam Al-Qadhi Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad Al-Mawardi, Adabud Dunya wad Din (berkas PDF:
adab.pdf), Bab Adabil Muwadha'ah, Al-Fashl As-Sabi' fi Al-Muru'ah, hlm. cetakan 277 [hlm. file PDF 277]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «اعْلَمْ أَنَّ مِنْ شَوَاهِدِ الْفَضْلِ ، وَدَلَائِلِ الْكَرَمِ : الْمُرُوءَةَ ، الَّتِي هِيَ حِلْيَةُ النُّفُوسِ ، وَزِينَةُ الْهِمَمِ ؛ فَالْمُرُوءَةُ ، مُرَاعَاةُ الْأَحْوَالِ إِلَى أَنْ تَكُونَ عَلَى أَفْضَلِهَا ، حَتَّى لَا يَظْهَرَ مِنْهَا قَبِيحٌ عَنْ قَصْدٍ ، وَلَا يَتَوَجَّهَ إِلَيْهَا ذَمٌّ بِاسْتِحْقَاقٍ . رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : مَنْ عَامَلَ النَّاسَ فَلَمْ يَظْلِمْهُمْ ، وَحَدَّثَهُمْ فَلَمْ يَكْذِبْهُمْ ، وَوَعَدَهُمْ فَلَمْ يُخْلِفْهُمْ ، فَهُوَ مِمَّنْ كَمُلَتْ مُرُوءَتُهُ ، وَظَهَرَتْ عَدَالَتُهُ ، وَوَجَبَتْ أُخُوَّتُهُ» - [13] Al-Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah (berkas PDF:
4_5782779241900802990.pdf), Beirut: Darul Minhaj, cet. 1, 1425 H/2004 M, Khuthbatul Kitab, hlm. cetakan 59 [hlm. file PDF 62]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «فَاعْلَمْ أَيُّهَا الْحَرِيصُ عَلَى اقْتِبَاسِ الْعِلْمِ ، الْمُظْهِرُ مِنْ نَفْسِهِ صِدْقَ الرَّغْبَةِ فِيهِ ، وَفَرْطَ التَّعَطُّشِ إِلَيْهِ : أَنَّكَ إِنْ كُنْتَ تَقْصِدُ بِطَلَبِ الْعِلْمِ الْمُنَافَسَةَ ، وَالْمُبَاهَاةَ ، وَالتَّقَدُّمَ عَلَى الْأَقْرَانِ ، وَاسْتِمَالَةَ وُجُوهِ النَّاسِ إِلَيْكَ ، وَجَمْعَ حُطَامِ الدُّنْيَا .. فَأَنْتَ سَاعٍ فِي هَدْمِ دِينِكَ ، وَإِهْلَاكِ نَفْسِكَ ، وَبَيْعِ آخِرَتِكَ بِدُنْيَاكَ» - [14] Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Muhlikat: Hubbud Dunya & Hubbul Jah wal Mal, hlm. cetakan 370–374 & 398 [hlm. file PDF 370–374 & 398], tentang bahaya ambisi karier yang menghalalkan segala cara demi jabatan dan harta. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٣٩٨ [PDF ص ٣٩٨]): «فَإِنْ مَالَ إِلَى الدُّنْيَا وَرَغِبَ فِيهَا ، لَا لِلتَّنَعُّمِ وَلٰكِنْ لِيُنْفِقَهَا فِي وُجُوهِ الْخَيْرَاتِ وَالْقُرُبَاتِ ؛ فَهُوَ عَلَى خَيْرٍ إِنْ وَافَقَ عَمَلُهُ نِيَّتَهُ» - [15] Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf), Fashl Al-Akhdzu bil Asbab la Yunafi At-Tawakkul, hlm. cetakan 178 [hlm. file PDF 178]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَأَمَّا التَّجَرُّدُ عَنْهَا بِالْكُلِّيَّةِ فَلَا يُحْمَدُ إِلَّا فِي حَقِّ مَنْ دَامَ إِقْبَالُهُ عَلَى اللَّهِ وَطَهُرَ قَلْبُهُ عَنِ الِالْتِفَاتِ إِلَى غَيْرِ اللَّهِ وَلَمْ يُضَيِّعْ بِسَبَبِهِ مَنْ هُمْ عِيَالٌ عَلَيْهِ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَعُولُ» - [16] Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Muhlikat: Adabut Tajir, hlm. cetakan 328 [hlm. file PDF 328]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَعَلَيْكَ فِي تِجَارَتِكَ بِمُلَازَمَةِ الْإِحْسَانِ وَالْعَدْلِ ، وَسُلُوكِ سَبِيلِ الْمُسَامَحَةِ وَالْفَضْلِ ، وَتَرْكِ الْمُشَاحَّةِ وَالِاسْتِقْصَاءِ ؛ فَإِنَّ ذٰلِكَ أَكْثَرُ لِلْبَرَكَةِ وَأَنْمَى لِلتِّجَارَةِ» - [17] Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Munjiyat: Al-Ikhlash, hlm. cetakan 405 [hlm. file PDF 405]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَمَعْنَى الْإِخْلَاصِ : أَنْ يَكُونَ قَصْدُ الْإِنْسَانِ فِي جَمِيعِ طَاعَاتِهِ وَأَعْمَالِهِ مُجَرَّدَ التَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ ، وَإِرَادَةَ قُرْبِهِ وَرِضَاهُ ؛ دُونَ غَرَضٍ آخَرَ مِنْ مُرَاءَاةِ النَّاسِ ، أَوْ طَلَبِ مَحْمَدَةٍ مِنْهُمْ ، أَوْ طَمَعٍ فِيهِمْ» - [18] Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf), Fashl Ishlahun Niyyah wa Ikhlashuha, hlm. cetakan 25 [hlm. file PDF 25]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَعَلَيْكَ يَا أَخِي بِإِصْلَاحِ النِّيَّةِ وَإِخْلَاصِهَا وَتَفَقُّدِهَا وَالتَّفَكُّرِ فِيهَا قَبْلَ الدُّخُولِ فِي الْعَمَلِ ؛ فَإِنَّهَا أَسَاسُ الْعَمَلِ ، وَالْأَعْمَالُ تَابِعَةٌ لَهَا حُسْنًا وَقُبْحًا وَصِحَّةً وَفَسَادًا» - [19] Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf), Fashl Ishlahus Sarirah wal 'Alaniyah, hlm. cetakan 33 [hlm. file PDF 33]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَعَلَيْكَ يَا أَخِي بِإِصْلَاحِ سَرِيرَتِكَ حَتَّى تَصِيرَ خَيْرًا مِنْ عَلَانِيَتِكَ الصَّالِحَةِ ، وَذٰلِكَ لِأَنَّ السَّرِيرَةَ مَوْضِعُ نَظَرِ الْحَقِّ ، وَالْعَلَانِيَةَ مَطْمَحُ نَظَرِ الْخَلْقِ» - [20] Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf), Fashl Wujubur Rahmah wasy Syafaqah bil 'Ibad wal Muwasah, hlm. cetakan 136–137 [hlm. file PDF 136–137]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَعَلَيْكَ بِالرَّحْمَةِ وَالشَّفَقَةِ بِعِبَادِ اللَّهِ ، وَمُوَاسَاةِ الْمُحْتَاجِينَ ، وَالتَّفْرِيجِ عَنِ الْمَكْرُوبِينَ» - [21] Al-Imam Al-Qadhi Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad Al-Mawardi, Adabud Dunya wad Din (berkas PDF:
adab.pdf), Bab Adabid Dunya, hlm. cetakan 107–108 [hlm. file PDF 107–108]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٠٨ [PDF ص ١٠٨]): «ثُمَّ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى جَعَلَ أَسْبَابَ حَاجَاتِهِ ، وَحِيَلَ عَجْزِهِ ، فِي الدُّنْيَا الَّتِي جَعَلَهَا دَارَ تَكْلِيفٍ وَعَمَلٍ ، كَمَا جَعَلَ الْآخِرَةَ دَارَ قَرَارٍ وَجَزَاءٍ ، فَلَزِمَ لِذٰلِكَ أَنْ يَصْرِفَ الْإِنْسَانُ إِلَى دُنْيَاهُ حَظًّا مِنْ عِنَايَتِهِ ، لِأَنَّهُ لَا غِنَى لَهُ عَنِ التَّزَوُّدِ مِنْهَا لِآخِرَتِهِ» - [22] Al-Imam Al-Qadhi Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad Al-Mawardi, Adabud Dunya wad Din (berkas PDF:
adab.pdf), Bab Adabil Muwadha'ah, Al-Fashl As-Sabi' fi Al-Muru'ah, hlm. cetakan 277 [hlm. file PDF 277]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَقَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ : مِنْ شَرَائِطِ الْمُرُوءَةِ : أَنْ يَتَعَفَّفَ عَنِ الْحَرَامِ ، وَيَتَصَلَّفَ عَنِ الْآثَامِ ، وَيُنْصِفَ فِي الْحُكْمِ ، وَيَكُفَّ عَنِ الظُّلْمِ ، وَلَا يَطْمَعَ فِيمَا لَا يَسْتَحِقُّ ، وَلَا يَسْتَطِيلَ عَلَى مَنْ لَا يَسْتَرِقُّ ، وَلَا يُعِينَ قَوِيًّا عَلَى ضَعِيفٍ» - [23] Al-Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah (berkas PDF:
4_5782779241900802990.pdf), Bab Adabid Duhul ilas Suq wa Thalabil Ma'isyah & Adabush Shuhbah wal Mu'asyarah, hlm. cetakan 191–192 & 225 [hlm. file PDF 194–195 & 228]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٩١ [PDF ص ١٩٤]): «إِنَّمَا يَجْمَعُكَ وَالنَّاسَ : إِمَّا قَرَابَةٌ ، وَإِمَّا صَدَاقَةٌ وَأُخُوَّةٌ ، وَإِمَّا مُعَامَلَةٌ وَمُخَالَطَةٌ فِي الدُّنْيَا» - [24] Syaikh Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu, Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF:
khulasahusulfiqh.pdf), Damaskus: Darul Musthafa, cet. 1, 1442 H/2021 M, Al-Mabhats Al-Awwal: Al-Hukm Asy-Syar'i (Al-Fardhu Al-Kifa'i), hlm. cetakan 114–117 [hlm. file PDF 115–118], tentang kewajiban kolektif umat Islam menguasai keahlian-keahlian strategis. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١١٧ [PDF ص ١١٨]): «الْمَحْكُومُ عَلَيْهِ هُوَ الْمُكَلَّفُ الَّذِي تَعَلَّقَ خِطَابُ الشَّارِعِ بِفِعْلِهِ . وَيُشْتَرَطُ فِيهِ لِصِحَّةِ تَكْلِيفِهِ أَنْ يَكُونَ عَاقِلًا فَهْمًا لِخِطَابِ التَّكْلِيفِ ، قَادِرًا عَلَى الِامْتِثَالِ» - [25] Kaidah emas fikih dan ushul fikih yang dikutip secara eksplisit oleh Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 404 [hlm. file PDF 404], serta dalam Risalatul Mu'awanah (berkas PDF:resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 25 [hlm. file PDF 25]. ↑ Kembali ke teksنَصُّ الْقَاعِدَةِ الْفِقْهِيَّةِ: «لِلْوَسَائِلِ أَحْكَامُ الْمَقَاصِدِ» — وَقَوْلُهُمْ: «الْأُمُورُ بِمَقَاصِدِهَا» - [26] Kaidah ushul fikih tentang kewajiban menguasai sarana penunjang kemandirian dan izzah umat Islam; berakar pada prinsip Al-Mahkum Fih dalam Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF:
khulasahusulfiqh.pdf), hlm. cetakan 114 [hlm. file PDF 115]. ↑ Kembali ke teksنَصُّ الْقَاعِدَةِ الْأُصُولِيَّةِ: «مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ» - [27] Kaidah fikih dan adab tentang menjaga hak Allah (ibadah mahdhah) dan hak manusia/profesi secara seimbang tanpa saling menggugurkan; selaras dengan spirit An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 273–278 & 328 [hlm. file PDF 273–278 & 328]. ↑ Kembali ke teksنَصُّ الْقَاعِدَةِ وَالْحَدِيثِ: «فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ» - [28] Hadits Hasan riwayat Al-Imam Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Ausath no. 5787 dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma; selaras dengan uraian kemanfaatan sosial dalam Risalatul Mu'awanah (berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 136–137 [hlm. file PDF 136–137]. ↑ Kembali ke teksنَصُّ الْحَدِيثِ: «خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ» - [29] Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Wilayat wal Huquq, hlm. cetakan 273–277 [hlm. file PDF 273–277], tentang tanggung jawab kepemimpinan dan amanah jabatan. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَاعْلَمْ أَنَّ الْوِلَايَةَ أَمَانَةٌ عَظِيمَةٌ ، فَمَنْ قَامَ بِحَقِّهَا وَعَدَلَ فِيهَا فَلَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ» - [30] Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Muhlikat: Al-Wara', hlm. cetakan 323 [hlm. file PDF 323]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَالْوَرَعُ هُوَ مِلَاكُ الدِّينِ ، وَقِوَامُ أَمْرِ الْمُتَّقِينَ» - [31] Al-Imam Al-Qadhi Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad Al-Mawardi, Adabud Dunya wad Din (berkas PDF:
adab.pdf), Bab Adabil Muwadha'ah, Al-Fashl As-Sabi' fi Al-Muru'ah, hlm. cetakan 278–279 [hlm. file PDF 278–279], tentang uluvvul himmah (cita-cita yang tinggi) sebagai syarat kemuliaan diri. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَمِنْ دَلَائِلِ الْمُرُوءَةِ عُلُوُّ الْهِمَّةِ ، وَنَزَاهَةُ النَّفْسِ عَنِ الدَّنَايَا» - [32] Hadits Shahih riwayat Al-Imam Al-Bukhari no. 2072 dari sahabat Al-Miqdam bin Ma'dikarib radhiyallahu 'anhu tentang kemuliaan bekerja dengan keterampilan tangan sendiri; selaras dengan An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 315 & 400 [hlm. file PDF 315 & 400]. ↑ Kembali ke teksنَصُّ الْحَدِيثِ: «مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ» - [33] Hadits Shahih riwayat Al-Imam Muslim no. 2664 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu tentang keutamaan mukmin yang kuat (kompeten secara fisik, intelektual, dan spiritual) serta bersungguh-sungguh meraih hal yang bermanfaat. ↑ Kembali ke teksنَصُّ الْحَدِيثِ: «الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ»
- [34] Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Munjiyat: Ash-Shidq ma'allah wal Muraqabah, hlm. cetakan 406 [hlm. file PDF 406]. ↑ Kembali ke teksعِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَالصِّدْقُ مَعَ اللَّهِ هُوَ اسْتِوَاءُ السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَخَشْيَتِهِ» - [35] Al-Qur'an al-Karim, Surah At-Taubah [9] ayat 105. Perintah Allah untuk bekerja dan berkarya secara nyata serta berkualitas, karena setiap amal dan karya manusia disaksikan oleh Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin. ↑ Kembali ke teksنَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾
- [36] Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Baqarah [2] ayat 201. Doa paripurna pemuda Muslim yang mengintegrasikan keunggulan pencapaian di dunia (hasanah fid dunya) dan keselamatan abadi di akhirat (hasanah fil akhirah). ↑ Kembali ke teksنَصُّ الْآيَةِ: ﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
10. Daftar Pustaka Alfabetis
- Al-Qur'an al-Karim. Mushaf Al-Madinah An-Nabawiyyah, Mujamma' Al-Malik Fahd li Thiba'atil Mushaf Asy-Syarif.
- Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain. Syu'abul Iman. Riyadh: Maktabah Ar-Rusyd.
- Al-Bukhari, Abu 'Abdillah Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Beirut: Dar Thuq An-Najah.
- Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Bidayatul Hidayah. Tahqiq: Muhammad Zuhair Asy-Syawisy. Beirut: Darul Minhaj, Cetakan ke-1, 1425 H / 2004 M. (Berkas PDF:
4_5782779241900802990.pdf; Halaman Cetakan 59 & 191–225 [Halaman Berkas PDF 62 & 194–228]). - Al-Haddad, Abdullah bin Alawi bin Muhammad. An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah. Beirut: Dar Al-Hawi, Cetakan ke-3, 1420 H / 1999 M. (Berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf; Halaman Cetakan 273–278, 315–328, & 398–406 [Halaman Berkas PDF 273–278, 315–328, & 398–406]). - Al-Haddad, Abdullah bin Alawi bin Muhammad. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah. Beirut: Dar Al-Hawi, Cetakan ke-2, 1414 H / 1994 M. (Berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf; Halaman Cetakan 25–33, 136–137, 146, & 178 [Halaman Berkas PDF 25–33, 136–137, 146, & 178]). - Al-Mawardi, Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib. Adabud Dunya wad Din. Beirut: Darul Minhaj. (Berkas PDF:
adab.pdf; Halaman Cetakan 107–108 & 277–279 [Halaman Berkas PDF 107–108 & 277–279]). - An-Naisaburi, Abu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Tahqiq: Muhammad Fu'ad Abdul Baqi. Beirut: Dar Ihya'it Turats Al-'Arabi.
- Hitu, Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh. Damaskus: Darul Musthafa, Cetakan ke-1, 1442 H / 2021 M. (Berkas PDF:
khulasahusulfiqh.pdf; Halaman Cetakan 114–118 [Halaman Berkas PDF 115–119]).