← Semua Artikel Kompas Beragama

Cancel Culture

Tidak Ada Komentar 33 Mins Read 51 Views
Menyikapi Fenomena Cancel Culture dengan Kacamata Hikmah dan Pintu Taubat

1. Anatomi Cancel Culture & Fondasi Hikmah dalam Syariat Islam

Di era algoritma media sosial yang bergerak dalam hitungan detik, kesalahan ucap, kekeliruan sikap, atau jejak digital masa lalu seseorang dapat dengan mudah memicu gelombang penghakiman massal yang dikenal sebagai cancel culture (budaya pengucilan dan pembatalan sosial secara kolektif). Alih-alih bertujuan memperbaiki kesalahan (ishlah) dan menuntun pelaku menuju perubahan diri, budaya cancel kerap berubah menjadi pengadilan jalanan digital yang membongkar aib pribadi (doxing), melontarkan caci maki serempak, hingga menutup rapat kesempatan seseorang untuk bertaubat dan memperbaiki diri.

Islam sebagai agama rahmat sangat tegas membedakan antara kewajiban amar ma'ruf nahi munkar yang beradab dengan aksi perundungan massal yang melampaui batas. Koreksi terhadap kekeliruan di dalam syariat tidak pernah dibangun di atas kemarahan kerumunan atau hasrat menjatuhkan martabat sesama, melainkan wajib berpijak di atas pilar hikmah, nasihat yang menyentuh hati, serta sanggahan yang santun sebagaimana titah Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, danberdiskusilah (bantahlah) dengan mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl [16]: 125)[1]

Lebih jauh lagi, Allah Ta'ala memagari kehormatan setiap insan beriman dalam Surah Al-Hujurat ayat 11–12 dengan melarang lima perilaku yang justru menjadi bahan bakar utama cancel culture di jagat maya: merendahkan dan mengolok-olok orang lain (as-sukhriyyah), mencela diri dan sesama (al-lamz), menyematkan julukan buruk (at-tanabuz bil-alqab), mengorek-ngorek kesalahan tersembunyi (at-tajassus), serta menggunjing aib di belakang (al-ghibah)—seraya mengingatkan bahwa orang yang pernah tergelincir sangat mungkin kelak menjadi lebih mulia di sisi Allah apabila ia bertaubat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ۝ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) itu lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus), dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain." (QS. Al-Hujurat [49]: 11–12)[2]

Puncak kasih sayang Ilahi tampak pada maklumat pengampunan-Nya dalam Surah Az-Zumar ayat 53. Ketika pengadilan warganet menjatuhkan vonis sosial permanen seolah seseorang yang pernah berdosa tidak lagi berhak memiliki masa depan, Allah Rabbul 'Alamin justru memanggil mereka dengan sapaan penuh kelembutan (Ya 'Ibadi — Wahai hamba-hamba-Ku) dan melarang keras sikap putus asa dari rahmat-Nya:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'" (QS. Az-Zumar [39]: 53)[3]

Dalam sunnah nabawiyah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan keras bahaya mentalitas menguliti aib sesama melalui hadits riwayat Imam Abu Dawud dan Imam At-Tirmidzi dari sahabat Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu 'anhu:

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ
"Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya namun iman belum meresap ke dalam kalbunya! Janganlah kalian menggunjing kaum muslimin, dan janganlah kalian mencari-cari aib (kesalahan tersembunyi) mereka. Sesungguhnya barangsiapa mencari-cari aib saudara muslimnya, niscaya Allah akan membongkar aibnya; dan barangsiapa yang Allah bongkar aibnya, niscaya Dia akan mempermalukannya sekalipun ia bersembunyi di tengah rumahnya." (HR. Abu Dawud no. 4880, At-Tirmidzi no. 2032)[4]

Lebih indah lagi adalah teladan nyata Rasulullah SAW dalam memperlakukan seorang sahabat bernama Abdullah (yang dijuluki Himar) ketika berulang kali jatuh dalam kesalahan meminum khamr. Saat sebagian orang melaknat dan mencacinya, Nabi SAW justru menegur orang yang melaknat tersebut dan melindungi benih iman di hati pelaku yang sedang berjuang melawan kelemahan dirinya, sebagaimana terekam dalam Shahih Al-Bukhari dari sahabat 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu:

لَا تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إِلَّا أَنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ — وَفِي رِوَايَةٍ: لَا تَكُونُوا عَوْنًا لِلشَّيْطَانِ عَلَى أَخِيكُمْ
"Janganlah kalian melaknatnya! Demi Allah, tidaklah aku mengetahui tentang dirinya melainkan bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya." Dan dalam riwayat lain: "Janganlah kalian menjadi penolong bagi setan untuk menjerumuskan saudara kalian sendiri!" (HR. Al-Bukhari no. 6777 & 6781)[5]

2. Anatomi & Dashboard Matrix: Penghakiman Massal (Cancel Culture) vs. Manhaj Hikmah & Taubat

Untuk memahami garis pemisah antara koreksi syar'i (an-nashihah wal-hisbah) dengan penghakiman massal (cancel culture), matriks komparatif berikut memetakan enam dimensi perbedaannya berdasarkan timbangan kitab-kitab turats:

Dimensi Sikap Fenomena Cancel Culture (Pengadilan Medsos) Manhaj Hikmah & Pintu Taubat (Tuntunan Syariat) Konsekuensi Hukum & Sosial
1. Niat & Motivasi Batin Melampiaskan kemarahan kolektif, mencari engagement/viralitas, serta merasa diri lebih suci (tazkiyatun nafs) dengan merendahkan pendosa.[6] Murni ikhlas karena Allah disertai kasih sayang (syafaqah) agar saudara seiman selamat dari dosa dan kembali ke jalan yang benar.[7] Koreksi ikhlas bernilai pahala agung; sedangkan mencari popularitas lewat aib sesama menjerumuskan pada riya' dan 'ujub.
2. Verifikasi Fakta (Tabayyun) Menyebarkan potongan video di luar konteks dan langsung memvonis berdasarkan desas-desus warganet tanpa bukti yakin.[8] Wajib tabayyun, mengedepankan husnuzhan, dan memegang istish-habul bara'ah hingga tegak bukti yang meyakinkan. Menuduh tanpa bukti yakin tergolong dusta/fitnah (buhtan) dan kezaliman kehormatan (mazhalim 'irdhiyyah).
3. Ruang & Cara Teguran Mempermalukan secara terbuka di kolom komentar dan lini masa publik (fadhihah) dengan kata-kata kasar dan cemoohan.[6] Menasihati secara empat mata (fil-khalwah) dengan bahasa lembut (rifq wa talaththuf) kecuali pada kezaliman publik yang nyata.[7] Teguran empat mata membuka pintu penerimaan; sedangkan fadhihah memicu kesombongan dan perpecahan.
4. Perlakuan atas Aib Masa Lalu Menggali jejak digital lama yang sudah ditutupi (tajassus) dan menyebarkannya kembali untuk menghancurkan reputasi.[4] Menutup aib sesama muslim (satrul 'uyub) karena maksiat yang tersembunyi haram dikorek-korek.[4] Pelaku tajassus diancam akan dibongkar aibnya oleh Allah di dunia dan akhirat.
5. Sikap terhadap Permohonan Maaf & Taubat Menolak permintaan maaf, menganggap taubat sebagai pencitraan semata, dan mematikan karakter secara permanen.[9] Membuka lebar ruang ishlah, memaafkan (al-'afwu), dan merangkul orang yang bertaubat tanpa mengungkit masa lalunya.[10] Orang yang bertaubat bersih dari dosa seperti bayi baru lahir; menghalangi taubat adalah membantu setan.[5]
6. Pemulihan Hak Korban (Huququl 'Ibad) Fokus pada penghancuran pelaku tanpa peduli pada penyelesaian hak korban secara adil dan proporsional. Mewajibkan pengembalian hak materi atau permohonan maaf/penghalalan (thalabul ihlal) atas kezaliman kehormatan.[11] Keadilan syariat memulihkan hak korban sekaligus menyelamatkan masa depan pelaku yang bertaubat.

3. Problematika Remaja & Generasi Muda di Tengah Pengadilan Algoritma

Generasi muda dan remaja muslim hari ini tumbuh di tengah ekosistem digital yang menjadikan kemarahan moral (moral outrage) sebagai komoditas paling laris. Terdapat tiga jebakan psikologis dan spiritual yang kerap menyeret pemuda ke dalam pusaran cancel culture:

1. Ilusi Kesalehan lewat Mencela Pendosa (Tazkiyatun Nafs bi-Dzammihim): Ketika seorang figur publik atau rekan sebaya tergelincir dalam kesalahan, ikut berkomentar pedas sering kali memberikan sensasi semu bahwa diri kita lebih bermoral dan lebih saleh. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah secara tajam memperingatkan bahaya penyakit hati ini: menyucikan diri sendiri dengan cara mencela orang lain (tuzakki nafsaka bi-dzammihim) dan merobek kehormatan sesama dengan lisan.[12]

2. Tekanan Konformitas Kerumunan (Fear of Missing Out dalam Menghujat): Banyak remaja ikut meramaikan tagar pemboikotan atau caci maki bukan karena telah memverifikasi duduk perkaranya secara utuh, melainkan karena takut dianggap membela kesalahan jika diam. Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam An-Nasha'ih Ad-Diniyyah telah memotret fenomena zaman ketika masyarakat memuji orang yang mengikuti hawa nafsu kerumunan dan mencela orang yang bersikap adil serta berhati-hati.[13]

3. Ketakutan Berlebihan untuk Berbuat Baik &Putus Asa dari Taubat: Dampak paling merusak dari cancel culture bagi mentalitas generasi muda adalah lahirnya kecemasan sosial bahwa satu kesalahan di masa muda tidak akan pernah dimaafkan selamanya. Akibatnya, pemuda yang pernah tergelincir merasa percuma untuk berhijrah atau memperbaiki diri karena stigma sosial telah mengunci masa depannya.[14][15]

4. Dekonstruksi Kitab Turats tentang Adab Koreksi, Satrul 'Uyub, & Pintu Taubat

Para ulama besar Ahlussunnah wal Jama'ah telah meletakkan rambu-rambu emas dalam kitab-kitab turats mereka mengenai bagaimana menyikapi ketergelinciran sesama muslim dengan kacamata hikmah tanpa memadamkan harapan taubat:

4.1 An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad): Haramnya Tajassus, Etika Koreksi Empat Mata, & Luasnya Pintu Taubat

Dalam kitab An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah karya Quthbud Da'wah wal Irsyad Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad (cetakan Dar Al-Hawi, Beirut, cet. 3, 1420 H/1999 M), beliau membedah secara presisi batas antara amar ma'ruf nahi munkar dengan larangan mengorek kesalahan tersembunyi serta kewajiban tabayyun dan rifq pada halaman cetakan 42–43 (hlm. file PDF 42–43):

وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَيْسَ بِوَاجِبٍ عَلَى أَحَدٍ أَنْ يَبْحَثَ عَنِ الْمُنْكَرَاتِ الْمَسْتُورَةِ حَتَّى يُنْكِرَهَا إِذَا رَآهَا ، بَلْ ذٰلِكَ مُحَرَّمٌ لِقَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿وَلَا تَجَسَّسُوا﴾ [الْحُجُرَاتِ : ١٢/٤٩] . وَلِقَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : «مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ . .» الْحَدِيثَ ... وَمِنَ الْمُهِمِّ : أَنْ لَا تُصَدِّقَ وَلَا تَقْبَلَ كُلَّ مَا يُنْقَلُ إِلَيْكَ مِنْ أَفْعَالِ النَّاسِ وَأَقْوَالِهِمُ الْمُنْكَرَةِ حَتَّى تُشَاهِدَ ذٰلِكَ بِنَفْسِكَ ، أَوْ يَنْقُلَهُ إِلَيْكَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ لَا يُجَازِفُ ، وَلَا يَقُولُ إِلَّا الْحَقَّ . وَذٰلِكَ لِأَنَّ حُسْنَ الظَّنِّ بِالْمُسْلِمِينَ أَمْرٌ لَازِمٌ ... وَاعْلَمْ أَنَّ الرِّفْقَ وَاللُّطْفَ ، وَمُجَانَبَةَ الْغِلْظَةِ وَالْعُنْفِ ، أَصْلٌ كَبِيرٌ فِي قَبُولِ الْحَقِّ وَالِانْقِيَادِ لَهُ ، فَعَلَيْكَ بِذٰلِكَ مَعَ مَنْ أَمَرْتَهُ أَوْ نَهَيْتَهُ أَوْ نَصَحْتَهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ، وَأَحْسِنِ السِّيَاسَةَ فِي ذٰلِكَ ، وَكَلِّمْهُ خَالِيًا ، وَلِنْ لَهُ جَانِبًا ، وَاخْفِضْ لَهُ جَنَاحًا ، فَإِنَّ الرِّفْقَ مَا كَانَ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ ، وَلَا نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ.
"Ketahuilah bahwa tidaklah wajib bagi seorang pun untuk mencari-cari kemungkaran yang tersembunyi (al-munkarat al-masturah) supaya ia dapat mengingkarinya ketika melihatnya; bahkan perbuatan mencari-cari itu diharamkan berdasarkan firman Allah Ta'ala: 'Dan janganlah kalian melakukan tajassus' (QS. Al-Hujurat: 12), serta sabda Nabi SAW: 'Barangsiapa mencari-cari aib saudaranya, niscaya Allah akan membongkar aibnya'... Dan termasuk perkara yang sangat penting: janganlah engkau membenarkan dan jangan pula menerima setiap kabar yang disampaikan kepadamu mengenai perbuatan atau ucapan buruk orang lain sampai engkau menyaksikannya sendiri, atau disampaikan oleh seorang mukmin yang bertakwa yang tidak serampangan dan tidak berkata kecuali yang benar; sebab berbaik sangka (husnuzhan) kepada kaum muslimin adalah perkara yang wajib... Ketahuilah pula bahwa kelemahlembutan (ar-rifq) dan kehalusan budi (al-luthf), serta menjauhi sikap kasar (al-ghilzhah) dan kekerasan (al-'unf), merupakan pokok terbesar bagi diterimanya kebenaran dan ketundukan kepadanya. Maka wajib atasmu menempuh cara itu terhadap siapa saja yang engkau perintah, engkau cegah, atau engkau nasihati dari kalangan kaum muslimin; perbaguslah strategi bijak dalam hal itu, ajaklah ia bicara secara empat mata (wa kallimhu khaliyan), lembutkanlah sikapmu terhadapnya, dan rendahkanlah sayap kasih sayangmu kepadanya; karena sesungguhnya kelembutan itu tidaklah berada pada sesuatu melainkan pasti menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan pasti memperburuknya." (An-Nasha'ih Ad-Diniyyah, hlm. cetakan 42–43 [hlm. file PDF 42–43])[8][16]

Lebih tegas lagi, pada halaman cetakan 350 dan 352 (hlm. file PDF 350 dan 352), Imam Al-Haddad menyingkap bahwa membongkar aib saudara muslim ke ruang publik karena gagal menasihatinya secara empat mata adalah menggabungkan dua musibah sekaligus, serta pada halaman cetakan 384–387 (hlm. file PDF 384–387) beliau memaparkan luasnya pintu taubat:

وَاعْلَمْ : أَنَّ مِنَ الْوَاجِبِ عَلَيْكَ إِذَا رَأَيْتَ مِنْ أَخِيكَ الْمُسْلِمِ عَيْبًا أَوْ نَقْصًا يُمْكِنُكَ إِزَالَتُهُ : أَنْ تَذْكُرَ لَهُ ذٰلِكَ فِي الْخَلْوَةِ عَلَى سَبِيلِ النَّصِيحَةِ ، فَإِنْ عَجَزْتَ عَنْ ذٰلِكَ ، أَوْ لَمْ تُوَفَّقْ لَهُ فَذٰلِكَ نَقْصٌ فِيكَ ، فَلَا تَجْمَعْ إِلَيْهِ نَقْصًا آخَرَ أَقْبَحَ مِنْهُ ، وَهُوَ أَنْ تَهْتِكَ سِتْرَهُ وَتَذْكُرَ عُيُوبَهُ لِلنَّاسِ فِي غَيْبَتِهِ ؛ فَتَجْمَعَ عَلَى نَفْسِكَ مُصِيبَتَيْنِ ، وَتَجُرَّ إِلَيْهَا بَلِيَّتَيْنِ ... وَقَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : « التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ » . وَقَالَ ﷺ : « إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا » .
"Ketahuilah bahwa termasuk kewajiban atasmu apabila engkau melihat pada saudaramu sesama muslim suatu aib atau kekurangan yang mampu engkau hilangkan: hendaklah engkau menyampaikan hal itu kepadanya di tempat tertutup (fil-khalwah) melalui jalan nasihat. Jika engkau tidak mampu melakukannya atau belum diberi taufik untuk itu, maka hal tersebut adalah kekurangan pada dirimu sendiri; maka janganlah engkau menggabungkan padanya kekurangan lain yang jauh lebih buruk darinya, yaitu merobek tabir penutup aibnya (an tahtika sitrahu) dan menyebutkan aib-aibnya kepada khalayak manusia di belakangnya, sehingga engkau menimpakan atas dirimu dua musibah dan menyeretnya pada dua bencana... Dan Nabi SAW bersabda: 'Orang yang bertaubat dari dosa bagaikan orang yang tidak menyandang dosa sama sekali.' Beliau SAW juga bersabda: 'Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar bertaubat orang yang berbuat dosa di malam hari, dan membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar bertaubat orang yang berbuat dosa di siang hari, hingga matahari terbit dari arah baratnya.'" (An-Nasha'ih Ad-Diniyyah, hlm. cetakan 350 & 384 [hlm. file PDF 350 & 384])[7][17][18]

4.2 Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah (Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad): Syafaqah, Jabrul Qulub, & Seni Menasihati dengan Talwih

Dalam kitab Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (cetakan ke-2, 1414 H/1994 M, hlm. cetakan 126, 136, 146, 155, dan 159 [hlm. file PDF 126, 136, 146, 155, dan 159]), Imam Al-Haddad mengajarkan bahwa kekuatan sebuah teguran terletak pada ketulusan kasih sayang (izh-harusy syafaqah), bukan pada kerasnya caci maki. Pada halaman cetakan 126 dan 136 beliau menulis:

(وَعَلَيْكَ) إِذَا أَمَرْتَ أَوْ نَهَيْتَ بِالْإِخْلَاصِ لِلَّهِ تَعَالَى، وَالرِّفْقِ وَحُسْنِ السِّيَاسَةِ، وَإِظْهَارِ الشَّفَقَةِ؛ فَمَا اجْتَمَعَتْ هٰذِهِ الْخِصَالُ فِي عَبْدٍ مَعَ كَوْنِهِ عَامِلًا بِمَا أَمَرَ بِهِ مُجْتَنِبًا لِمَا نَهَى عَنْهُ إِلَّا كَانَ لِكَلَامِهِ صَوْلَةٌ وَهَيْبَةٌ فِي الصُّدُورِ وَوَقْعٌ فِي الْقُلُوبِ وَحَلَاوَةٌ فِي الْأَسْمَاعِ وَقَلَّ أَنْ يُرَدَّ عَلَيْهِ مَعَ هٰذَا كَلَامُهُ ... (وَاعْلَمْ) أَنَّ الْمَعْصِيَةَ إِذَا سُتِرَتْ لَمْ تَضُرَّ إِلَّا مُرْتَكِبَهَا فَإِذَا ظَهَرَتْ وَلَمْ تُغَيَّرْ عَمَّ ضَرَرُهَا ... (وَعَلَيْكَ) بِالرَّحْمَةِ لِعِبَادِ اللَّهِ وَالشَّفَقَةِ عَلَى خَلْقِ اللَّهِ، وَكُنْ رَحِيمًا شَفِيقًا أَلُوفًا مَأْلُوفًا، وَاحْذَرْ أَنْ تَكُونَ فَظًّا غَلِيظًا أَوْ فَاحِشًا جَافِيًا ... (وَعَلَيْكَ) بِجَبْرِ قُلُوبِ الْمُنْكَسِرِينَ، وَمُلَاطَفَةِ الضُّعَفَاءِ وَالْمَسَاكِينِ.
"(Wajib atasmu) apabila engkau memerintahkan kebaikan atau mencegah kemungkaran agar melakukannya dengan ikhlas karena Allah Ta'ala, disertai kelembutan (ar-rifq), strategi yang bijak (husnus siyasah), serta menampakkan kasih sayang (izh-harusy syafaqah); karena tidaklah berkumpul sifat-sifat mulia ini pada diri seorang hamba disertai pengamalannya atas apa yang ia perintahkan dan penjauhannya dari apa yang ia larang, melainkan ucapannya akan memiliki wibawa di dalam dada, pengaruh yang menghujam di dalam kalbu, dan kemanisan di telinga pendengar, sehingga jarang sekali nasihatnya ditolak... (Dan ketahuilah) bahwa kemaksiatan itu apabila tertutup rapat, ia tidak membahayakan kecuali pelakunya sendiri; namun apabila disebarluaskan dan tidak diperbaiki, mudaratnya akan merata... (Dan wajib atasmu) menebar kasih sayang kepada hamba-hamba Allah dan rasa iba kepada makhluk Allah; jadilah pribadi yang penyayang, penuh empati, ramah lagi mudah akrab, dan waspadalah jangan sampai engkau menjadi orang yang kasar, keras hati, keji ucapannya, lagi kaku... (Dan wajib atasmu) memulihkan hati orang-orang yang patah/remuk (jabrul qulubil munkasirin) serta bersikap lembut kepada kaum yang lemah." (Risalatul Mu'awanah, hlm. cetakan 126 & 136 [hlm. file PDF 126 & 136])[9][19]

Selanjutnya pada halaman cetakan 146 (hlm. file PDF 146), beliau menguraikan psikologi komunikasi Islami ketika menegur seseorang yang berbuat salah: utamakan sindiran halus (at-talwih) sebelum teguran terang-terangan (at-tashrih), dan jangan menyalahkan orang yang dinasihati bila ia belum langsung menerima:

(وَعَلَيْكَ) إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَنْصَحَ إِنْسَانًا فِي أَمْرٍ بَلَغَكَ عَنْهُ بِالْخَلْوَةِ بِهِ وَالتَّلَطُّفِ لَهُ فِي الْقَوْلِ وَلَا تَعْدِلْ إِلَى التَّصْرِيحِ مَعَ إِمْكَانِ التَّفْهِيمِ بِالتَّلْوِيحِ فَإِنْ قَالَ لَكَ مَنْ بَلَّغَكَ عَنِّي هٰذَا؟ فَلَا تُخْبِرْهُ كَيْلَا تُثِيرَ الْعَدَاوَةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، ثُمَّ إِنْ قَبِلَ مِنْكَ فَاحْمَدِ اللَّهَ وَاشْكُرْ لَهُ وَإِنْ لَمْ يَقْبَلْ فَارْجِعْ عَلَى نَفْسِكَ بِاللَّوْمِ وَقُلْ لَهَا يَا نَفْسَ السُّوءِ مِنْ قِبَلِكِ أُتِيتُ، فَانْظُرِي لَعَلَّكِ لَمْ تَقُومِي بِشَرَائِطِ النُّصْحِ وَآدَابِهِ.
"(Wajib atasmu) apabila engkau hendak menasihati seseorang terkait suatu perkara yang sampai kepadamu tentang dirinya, agar melakukannya secara empat mata (bil-khalwati bihi) dan bertutur kata dengan penuh kelembutan kepadanya. Janganlah engkau beralih pada teguran langsung yang gamblang (at-tashrih) selama masih memungkinkan memahamkannya dengan isyarat halus (at-talwih). Jika ia bertanya kepadamu: 'Siapa yang menyampaikan hal ini kepadamu tentangku?' maka janganlah engkau memberitahunya agar tidak menyulut permusuhan di antara keduanya. Kemudian jika ia menerima nasihatmu, pujilah Allah dan bersyukurlah kepada-Nya; namun jika ia belum menerima, kembalikanlah celaan itu kepada dirimu sendiri dan katakanlah pada jiwamu: 'Wahai jiwa yang buruk, dari arahmu sendiri kegagalan ini datang; periksalah jangan-jangan engkau belum memenuhi syarat-syarat dan adab-adab menasihati!'" (Risalatul Mu'awanah, hlm. cetakan 146 [hlm. file PDF 146])[20][21]

4.3 Bidayatul Hidayah (Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali): Batas Tipis antara Nashihah (Nasihat) dan Fadhihah (Pembongkaran Aib)

Dalam kitab Bidayatul Hidayah karya Hujjatul Islam Al-Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali (cetakan Dar Al-Minhaj, Jeddah/Beirut, cet. 1, 1425 H/2004 M, hlm. cetakan 191, 225, dan 252 [hlm. file PDF 194, 228, dan 255]), beliau merumuskan kaidah abadi yang membongkar kepalsuan cancel culture: bahwa nasihat yang dilakukan tanpa kelembutan (talaththuf) di ruang terbuka bukanlah nasihat, melainkan fadhihah (mempermalukan orang) yang kerusakannya jauh melampaui manfaatnya:

فَإِظْهَارُ الْحَقِّ .. حَسَنٌ مَعَ مَنْ يَقْبَلُ مِنْكَ ، وَذٰلِكَ بِطَرِيقِ النَّصِيحَةِ فِي الْحَقِيقَةِ لَا بِطَرِيقِ الْمُمَارَاةِ . وَلِلنَّصِيحَةِ صِيغَةٌ وَهَيْئَةٌ ، وَيُحْتَاجُ فِيهَا إِلَى التَّلَطُّفِ ، وَإِلَّا .. صَارَتْ فَضِيحَةً ، وَكَانَ فَسَادُهَا أَكْثَرَ مِنْ صَلَاحِهَا ... الْخَامِسُ : تَزْكِيَةُ النَّفْسِ . فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : ﴿فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى﴾ ... وَلَا تُزَكِّ نَفْسَكَ بِذَمِّهِمْ ، وَلَا تَرْفَعْ نَفْسَكَ عَلَيْهِمْ ... وَلَا تُمَزِّقِ النَّاسَ بِلِسَانِكَ فَتُمَزِّقَكَ كِلَابُ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي النَّارِ ... وَكِتْمَانُ السِّرِّ ، وَسَتْرُ الْعُيُوبِ ، وَالسُّكُوتُ عَنْ تَبْلِيغِ مَا يَسُوؤُهُ مِنْ مَذَمَّةِ النَّاسِ إِيَّاهُ ، وَإِبْلَاغُ مَا يَسُرُّهُ مِنْ ثَنَاءِ النَّاسِ عَلَيْهِ.
"Menampakkan kebenaran itu adalah baik bersama orang yang mau menerima darimu, dan hal itu ditempuh melalui jalan nasihat yang sejati (bi-thariqin nashihah fil haqiqah), bukan dengan jalan perdebatan untuk mencari menang (al-mumarah). Dan nasihat itu memiliki bentuk ungkapan serta tata cara khusus, dan di dalamnya mutlak dibutuhkan kelemahlembutan (at-talaththuf); jika tidak demikian, maka nasihat itu berubah menjadi pembongkaran aib di muka umum (sharat fadhihah), dan kerusakan yang ditimbulkannya jauh lebih besar daripada kebaikannya... Maksiat lisan kelima: Tazkiyatun Nafs (menganggap suci diri sendiri), karena Allah Ta'ala telah berfirman: 'Maka janganlah kalian menganggap suci diri kalian sendiri; Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa' (QS. An-Najm: 32)... Janganlah engkau menyucikan dirimu dengan cara mencela mereka, dan janganlah engkau meninggikan dirimu di atas mereka... serta janganlah engkau mencabik-cabik kehormatan manusia dengan lisanmu sehingga anjing-anjing neraka mencabik-cabikmu pada hari kiamat di neraka... Dan termasuk adab persahabatan adalah menyimpan rahasia, menutup aib-aib sesama (wa satrul 'uyub), diam dari menyampaikan celaan orang yang menyakitinya, serta menyampaikan pujian baik yang membahagiakannya." (Bidayatul Hidayah, hlm. cetakan 191, 225, & 252 [hlm. file PDF 194, 228, & 255])[6][22][23]

4.4 Adabud Dunya wad Din (Al-Qadhi Abu Al-Hasan Al-Mawardi): Filosofi Al-Hilm, Al-'Afwu, & Memberi Ruang Ishlah

Ilmuwan besar tata negara dan etika Islam mazhab Syafi'i, Al-Qadhi Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad Al-Mawardi dalam kitab Adabud Dunya wad Din (cetakan Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, Beirut, cet. 1, 1407 H/1987 M, Bab 5: Fi Adabin Nafs, hlm. cetakan 215–216 dan 266 [hlm. file PDF 215–216 dan 266]), menguraikan keagungan sifat al-hilm (kelapangan dada menahan amarah) dan al-'afwu (memaafkan orang yang bersalah). Pada halaman 215–216 beliau mengutip tafsir Jibril 'alaihis salam atas QS. Al-A'raf ayat 199 serta nasihat sahabat Abu Ad-Darda' radhiyallahu 'anhu:

رَوَى مُحَمَّدُ بْنُ حَارِثٍ الْهِلَالِيُّ، أَنَّ جِبْرِيلَ نَزَلَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَيْتُكَ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ: ﴿خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ﴾ [الْأَعْرَافِ : ١٩٩] ... يَا مُحَمَّدُ إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ، وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ، وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ ... وَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِرَجُلٍ أَسْمَعَهُ كَلَامًا : يَا هٰذَا ، لَا تُغْرِقَنَّ فِي سَبِّنَا ، وَدَعْ لِلصُّلْحِ مَوْضِعًا ، فَإِنَّا لَا نُكَافِئُ مَنْ عَصَى اللَّهَ فِينَا ، بِأَكْثَرَ مِنْ أَنْ نُطِيعَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ . وَشَتَمَ رَجُلٌ الشَّعْبِيَّ فَقَالَ : إِنْ كُنْتُ كَمَا قُلْتَ فَغَفَرَ اللَّهُ لِي ، وَإِنْ لَمْ أَكُنْ كَمَا قُلْتَ فَغَفَرَ اللَّهُ لَكَ ... وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ : « إِذَا قَدَرْتَ عَلَى عَدُوِّكَ، فَاجْعَلِ الْعَفْوَ شُكْرًا لِلْقُدْرَةِ عَلَيْهِ » .
"Muhammad bin Harits Al-Hilali meriwayatkan bahwa Malaikat Jibril turun kepada Nabi SAW lalu berkata: 'Wahai Muhammad, sesungguhnya aku datang kepadamu membawa puncak kemuliaan akhlak di dunia dan akhirat: Jadilah pemaaf, perintahkanlah yang ma'ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh (QS. Al-A'raf: 199)... Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu memerintahkanmu agar menyambung hubungan dengan orang yang memutusmu, memberi kepada orang yang menghalangimu, dan memaafkan orang yang menzalimimu'... Sahabat Abu Ad-Darda' radhiyallahu 'anhu berkata kepada seseorang yang melontarkan caci maki kepadanya: 'Wahai saudaraku, janganlah engkau terlalu jauh tenggelam dalam mencaci kami, dan sisakanlah ruang untuk perdamaian (wa da' lish-shulhi maudhi'an); karena sesungguhnya kami tidak membalas orang yang bermaksiat kepada Allah dalam urusan kami dengan balasan yang lebih baik daripada menaati Allah 'Azza wa Jalla dalam memperlakukan dirinya.' Ketika seseorang mencaci Imam Asy-Sya'bi, beliau menjawab: 'Jika aku memang bersalah sebagaimana yang engkau ucapkan, semoga Allah mengampuniku; dan jika aku tidak seperti yang engkau tuduhkan, semoga Allah mengampunimu'... Dan diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda: 'Apabila engkau memiliki kuasa atas musuhmu (orang yang bersalah kepadamu), maka jadikanlah pemberian maaf sebagai wujud syukur atas kemampuanmu menguasainya.'" (Adabud Dunya wad Din, hlm. cetakan 215–216 [hlm. file PDF 215–216])[24][25][26]

4.5 Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu): Istish-habul Ashl & Praduga Tak Bersalah terhadap Kehormatan Muslim

Dari sudut pandang metodologi hukum Islam (ushul fikih), penghakiman massal di media sosial sering kali meruntuhkan prinsip al-istish-hab. Dalam kitab Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh karya Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu (cetakan Dar Al-Musthafa, Damaskus, cet. 1, 1442 H/2021 M, Bab 6: Fil Adillatil Mukhtalafi Fiha, hlm. cetakan 114–116 [hlm. file PDF 115–117]), dijelaskan bahwa status asal seorang muslim yang telah tetap keadilan dan kehormatannya tidak boleh digugurkan oleh keraguan atau tuduhan spekulatif:

١ - الِاسْتِصْحَابُ: وَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ ثُبُوتِ حُكْمٍ لِأَمْرٍ فِي الزَّمَانِ الثَّانِي بِنَاءً عَلَى ثُبُوتِهِ فِي الزَّمَانِ الْأَوَّلِ. وَمَعْنَاهُ أَنَّا إِذَا عَرَفْنَا حُكْمًا مِنَ الْأَحْكَامِ قَدْ ثَبَتَ لِشَيْءٍ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي، وَلَمْ يَظْهَرْ لَنَا مَا يَدُلُّ عَلَى عَدَمِهِ، حَكَمْنَا الْآنَ فِي الزَّمَنِ الثَّانِي، بِأَنَّهُ مَا زَالَ بَاقِيًا عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ، حَتَّى يَقُومَ الدَّلِيلُ عَلَى عَدَمِهِ أَوْ تَغَيُّرِهِ ... وَهُوَ الْمُعَبَّرُ عَنْهُ عِنْدَهُمْ: بِاسْتِصْحَابِ الْأَصْلِ، وَطَرْحِ الشَّكِّ، وَبَقَاءِ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ ... وَأَمَّا اسْتِصْحَابُ الْأَصْلِ عِنْدَ عَدَمِ الدَّلِيلِ الشَّرْعِيِّ فَهُوَ حُجَّةٌ عِنْدَ الْجَمِيعِ ... بِاسْتِصْحَابِ الْحَالِ، وَهُوَ الْعَدَمُ الْأَصْلِيُّ.
"1 - Al-Istish-hab: Yaitu tetapnya hukum suatu perkara pada waktu kedua berdasarkan kepastian hukumnya pada waktu pertama. Maknanya, apabila kita telah mengetahui suatu hukum telah tetap pada sesuatu di masa lampau, dan belum tampak bagi kita bukti yang menunjukkan ketiadaannya, maka kita menghukumi sekarang pada waktu kedua bahwa ia masih tetap sebagaimana keadaannya semula sampai tegak dalil atas perubahannya... Inilah yang diungkapkan para ulama dengan istilah: mempertahankan hukum asal (istish-habul ashl), membuang keraguan (tharhusy syakk), dan membiarkan sesuatu tetap sebagaimana keadaan awalnya... Adapun istish-habul ashl ketika tidak adanya dalil/bukti syar'i yang mengubahnya, maka ia merupakan hujah yang disepakati seluruh ulama, yakni mempertahankan keadaan bebasnya tanggungan asal (al-'adam al-ashli / bara'atudz dzimmah)." (Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh, hlm. cetakan 114–116 [hlm. file PDF 115–117])[27][28]

5. Standard Operating Procedure (SOP): Bagan Alur 4 Tahap Menyikapi Kesalahan & Kontroversi di Ruang Digital

Ketika seorang pemuda atau remaja muslim mendapati isu viral, potongan video kontroversial, atau ketergelinciran seseorang di media sosial, terapkan prosedur empat tahap berikut agar selamat dari dosa kerumunan:

Tahap 1 Rem Jari & Verifikasi Berlapis (Tabayyun & Istish-habul Bara'ah)

Tahan jari dari berkomentar atau membagikan ulang (repost). Terapkan kaidah An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (hlm. cetakan 42 [hlm. file PDF 42]) dan Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (hlm. cetakan 115–116 [hlm. file PDF 116–117]): tolak segala tuduhan yang hanya bersumber dari potongan clip sepihak atau desas-desus anonim.[29]

↓
Tahap 2 Pilah antara Kesalahan Pribadi yang Tertutup (Masturah) vs. Mudarat Publik

Jika kesalahan tersebut bersifat pribadi atau aib masa lalu yang telah tertutup, haram mengorek dan menyebarkannya (Risalatul Mu'awanah, hlm. cetakan 126 [hlm. file PDF 126]). Jika berupa kekeliruan pemikiran terbuka yang berdampak luas, luruskan substansi pemikirannya dengan argumen ilmiah tanpa menyerang kehormatan pribadinya.

↓
Tahap 3 Tempuh Jalur Nashihah bil-Khalwah & Talaththuf (Bukan Fadhihah)

Sampaikan masukan melalui pesan pribadi (direct message / empat mata) dengan bahasa yang santun, lembut, dan penuh empati sebagaimana pedoman Bidayatul Hidayah (hlm. cetakan 191 [hlm. file PDF 194]) dan Risalatul Mu'awanah (hlm. cetakan 146 [hlm. file PDF 146]) agar tidak berubah menjadi fadhihah.

↓
Tahap 4 Buka Pintu Taubat, Terima Permohonan Maaf, & Rangkul Kembali (Jabrul Qulub)

Apabila pelaku telah menyadari kekeliruannya, meminta maaf, atau bertaubat, segera hentikan segala kecaman, doakan keteguhannya, dan beri ruang perdamaian (da' lish-shulhi maudhi'an) sesuai tuntunan Adabud Dunya wad Din (hlm. cetakan 216 [hlm. file PDF 216]).

6. Kaidah Ushul & Kaidah Akhlak Syar'iyyah: Pondasi Keadilan & Kasih Sayang

Sikap moderat (wasathiyyah) seorang muslim dalam menghadapi kekeliruan sesama berdiri di atas empat kaidah ushul dan akhlak syar'iyyah berikut:

1. Al-Ashlu Bara'atudz Dzimmah wa Istish-habul Hal (الْأَصْلُ بَرَاءَةُ الذِّمَّةِ وَاسْتِصْحَابُ الْحَالِ): Hukum asal setiap manusia adalah bebasnya tanggungan dari tuduhan dosa atau kezaliman sampai tegak bukti yang meyakinkan. Kehormatan seorang muslim tidak boleh diruntuhkan oleh opini kerumunan.[30]

2. An-Nashihatu bil-Khalwati wal-Luthfi La bil-Fadhihati (النَّصِيحَةُ بِالْخَلْوَةِ وَاللُّطْفِ لَا بِالْفَضِيحَةِ): Nasihat yang syar'i wajib disampaikan dalam ruang tertutup dengan penuh kelembutan; sebab teguran kasar di ruang publik akan berbalik menjadi pembongkaran aib (fadhihah) yang kerusakannya lebih besar daripada kebaikannya.[31]

3. Man Satara Musliman Satarahullahu fid-Dunya wal-Akhirah (مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ): Barangsiapa menutupi ketergelinciran pribadi saudara muslimnya dan tidak mengumbarnya ke khalayak, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di hari kiamat.[32]

4. At-Ta'ibu minadz Dzanbi Kaman La Dzanba Lahu (التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ): Orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh dari dosanya kembali suci bagaikan orang yang tidak memiliki dosa, sehingga haram dicela atau dihukum selamanya atas masa lalunya.[33]

7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja di Media Sosial

Bagaimana menerjemahkan kacamata hikmah dan pintu taubat ini ke dalam kebiasaan digital sehari-hari?

A. Menolak Menjadi "Hakim dan Algojo" di Kolom Komentar: Saat muncul tren penghujatan massal terhadap seseorang di TikTok, Instagram, atau X, sadari bahwa setiap kalimat ketikan jari akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Sebagaimana diperingatkan dalam An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (hlm. cetakan 348 [hlm. file PDF 348]), seseorang bisa terjerumus ke dalam jurang neraka hanya karena satu kalimat komentar yang ia lontarkan tanpa berpikir panjang.[34]

B. Membedakan Kritik Gagasan dari Pembunuhan Karakter (Ad Hominem): Apabila seorang kreator konten menyebarkan informasi yang keliru tentang agama atau moralitas publik, luruskan kesalahannya dengan data ilmiah, bahasa yang santun, dan fokus pada substansi masalah—bukan dengan membongkar privasi keluarganya, menghina fisiknya, atau menutup pintu taubatnya.[35]

C. Menjadi Agen Pemulih Hati (Jabrul Qulub) bagi Teman yang Sedang Berhijrah: Ketika ada teman sekolah, kampus, atau rekan komunitas yang pernah jatuh dalam kesalahan lalu berusaha memperbaiki diri, jadilah orang pertama yang menyambut dan menguatkan langkah taubatnya, bukan orang yang mengungkit masa lalunya.[36]

8. Self-Assessment Checklist Evaluasi Adab Digital & Kelapangan Hati

Centang daftar muhasabah mandiri berikut untuk mengukur sejauh mana kita telah mengamalkan adab hikmah dan menjauhi racun cancel culture:

9. Catatan Kaki (Footnotes) Terperinci

  1. Al-Qur'an al-Karim, Surah An-Nahl [16] ayat 125. Landasan qath'i metodologi dakwah dan koreksi sosial dalam Islam yang wajib berpijak pada hikmah, nasihat yang baik (al-mau'izhatul hasanah), serta diskusi dengan cara terbaik; dikutip pula dalam Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah karya Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), cet. 2, 1414 H/1994 M, Muqaddimah, hlm. cetakan 14–15 [hlm. file PDF 14–15]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ﴾ — وَعِبَارَةُ رِسَالَةِ الْمُعَاوَنَةِ (ص ١٤–١٥ [PDF ص ١٤–١٥]): «وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ﴾» ↑ Kembali ke teks
  2. Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Hujurat [49] ayat 11–12; dikutip secara langsung oleh Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), Dar Al-Hawi, cet. 3, 1420 H/1999 M, hlm. cetakan 42 & 352 [hlm. file PDF 42 & 352]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ۝ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا﴾ — وَعِبَارَةُ النَّصَائِحِ الدِّينِيَّةِ (ص ٤٢ [PDF ص ٤٢]): «وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَيْسَ بِوَاجِبٍ عَلَى أَحَدٍ أَنْ يَبْحَثَ عَنِ الْمُنْكَرَاتِ الْمَسْتُورَةِ حَتَّى يُنْكِرَهَا إِذَا رَآهَا ، بَلْ ذٰلِكَ مُحَرَّمٌ لِقَوْلِهِ تَعَالَى : ﴿وَلَا تَجَسَّسُوا﴾» ↑ Kembali ke teks
  3. Al-Qur'an al-Karim, Surah Az-Zumar [39] ayat 53 dan Surah An-Nur [24] ayat 31; dirujuk oleh Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Munjiyat: At-Taubah, hlm. cetakan 383 [hlm. file PDF 383]; serta Risalatul Mu'awanah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 159 [hlm. file PDF 159]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ﴾ — وَعِبَارَةُ النَّصَائِحِ الدِّينِيَّةِ (ص ٣٨٣ [PDF ص ٣٨٣]): «فَمِنْ أَعْظَمِ الْمُنْجِيَاتِ التَّوْبَةُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى : مِنْ جَمِيعِ الذُّنُوبِ . وَقَدْ أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عِبَادَهُ بِالتَّوْبَةِ ، وَرَغَّبَهُمْ فِيهَا ، وَوَعَدَهُمْ بِقَبُولِهَا فَقَالَ تَعَالَى : ﴿وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾» ↑ Kembali ke teks
  4. Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani. Sunan Abi Dawud, Kitab Al-Adab, Bab fin-Nahyi 'anit-Tajassus, no. 4880; At-Tirmidzi, Muhammad bin 'Isa. Sunan At-Tirmidzi, Abwab Al-Birr wash-Shilah, Bab Ma Ja'a fi Ta'zhimil Mu'min, no. 2032 (diriwayatkan dari sahabat Abu Barzah Al-Aslami dan Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhum); dikutip verbatim oleh Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam Risalatul Mu'awanah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 126 [hlm. file PDF 126] dan An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 42–43 [hlm. file PDF 42–43]. نَصُّ الْحَدِيثِ الشَّرِيفِ: عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ» — وَعِبَارَةُ رِسَالَةِ الْمُعَاوَنَةِ (ص ١٢٦ [PDF ص ١٢٦]): «(وَإِيَّاكَ) وَالتَّجَسُّسَ وَهُوَ تَطَلُّبُ الْوُقُوفِ عَلَى عَوْرَاتِ الْمُسْلِمِينَ وَمَعَاصِيهِمُ الْمَسْتُورَةِ، قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: «مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ حَتَّى يَفْضَحَهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ بَيْتِهِ»» ↑ Kembali ke teks
  5. Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitab Al-Hudud, Bab Ma Yukrahu min La'ni Syaribil Khamr wa Annahu Laisa bi-Kharijin minal Millah, no. 6777 (diriwayatkan dari sahabat 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu); sejalan dengan hadits keluasan ampunan Allah dan larangan memutusasakan pendosa yang dikutip dalam An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 352 & 384 [hlm. file PDF 352 & 384]. نَصُّ الْحَدِيثِ الشَّرِيفِ: عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ ﷺ كَانَ اسْمُهُ عَبْدَ اللَّهِ، وَكَانَ يُلَقَّبُ حِمَارًا، وَكَانَ يُضْحِكُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ، وَكَانَ النَّبِيُّ ﷺ قَدْ جَلَدَهُ فِي الشَّرَابِ، فَأُتِيَ بِهِ يَوْمًا فَأَمَرَ بِهِ فَجُلِدَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: اللَّهُمَّ الْعَنْهُ، مَا أَكْثَرَ مَا يُؤْتَى بِهِ! فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لَا تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إِلَّا أَنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ» وَفِي رِوَايَةٍ: «لَا تَكُونُوا عَوْنًا لِلشَّيْطَانِ عَلَى أَخِيكُمْ» — وَعِبَارَةُ النَّصَائِحِ الدِّينِيَّةِ (ص ٣٨٤ [PDF ص ٣٨٤]): «وَقَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : « التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ »» ↑ Kembali ke teks
  6. Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Bidayatul Hidayah (berkas PDF: 4_5782779241900802990.pdf). Jeddah/Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1425 H/2004 M, Al-Qism Ats-Tsani fi Ijtinabil Ma'ashi: Ma'ashil Lisan, hlm. cetakan 191 [hlm. file PDF 194]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (بِدَايَةُ الْهِدَايَةِ، ص ١٩١ [PDF ص ١٩٤]): «فَإِظْهَارُ الْحَقِّ .. حَسَنٌ مَعَ مَنْ يَقْبَلُ مِنْكَ ، وَذٰلِكَ بِطَرِيقِ النَّصِيحَةِ فِي الْحَقِيقَةِ لَا بِطَرِيقِ الْمُمَارَاةِ . وَلِلنَّصِيحَةِ صِيغَةٌ وَهَيْئَةٌ ، وَيُحْتَاجُ فِيهَا إِلَى التَّلَطُّفِ ، وَإِلَّا .. صَارَتْ فَضِيحَةً ، وَكَانَ فَسَادُهَا أَكْثَرَ مِنْ صَلَاحِهَا» ↑ Kembali ke teks
  7. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 3, 1420 H/1999 M, Mabhats Al-Muhlikat: Afatul Lisan, hlm. cetakan 350 [hlm. file PDF 350]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (النَّصَائِحُ الدِّينِيَّةُ، ص ٣٥٠ [PDF ص ٣٥٠]): «وَاعْلَمْ : أَنَّ مِنَ الْوَاجِبِ عَلَيْكَ إِذَا رَأَيْتَ مِنْ أَخِيكَ الْمُسْلِمِ عَيْبًا أَوْ نَقْصًا يُمْكِنُكَ إِزَالَتُهُ : أَنْ تَذْكُرَ لَهُ ذٰلِكَ فِي الْخَلْوَةِ عَلَى سَبِيلِ النَّصِيحَةِ ، فَإِنْ عَجَزْتَ عَنْ ذٰلِكَ ، أَوْ لَمْ تُوَفَّقْ لَهُ فَذٰلِكَ نَقْصٌ فِيكَ ، فَلَا تَجْمَعْ إِلَيْهِ نَقْصًا آخَرَ أَقْبَحَ مِنْهُ ، وَهُوَ أَنْ تَهْتِكَ سِتْرَهُ وَتَذْكُرَ عُيُوبَهُ لِلنَّاسِ فِي غَيْبَتِهِ ؛ فَتَجْمَعَ عَلَى نَفْسِكَ مُصِيبَتَيْنِ ، وَتَجُرَّ إِلَيْهَا بَلِيَّتَيْنِ» ↑ Kembali ke teks
  8. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 3, 1420 H/1999 M, Mabhats At-Taqwa, hlm. cetakan 42 [hlm. file PDF 42]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (النَّصَائِحُ الدِّينِيَّةُ، ص ٤٢ [PDF ص ٤٢]): «وَمِنَ الْمُهِمِّ : أَنْ لَا تُصَدِّقَ وَلَا تَقْبَلَ كُلَّ مَا يُنْقَلُ إِلَيْكَ مِنْ أَفْعَالِ النَّاسِ وَأَقْوَالِهِمُ الْمُنْكَرَةِ حَتَّى تُشَاهِدَ ذٰلِكَ بِنَفْسِكَ ، أَوْ يَنْقُلَهُ إِلَيْكَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ لَا يُجَازِفُ ، وَلَا يَقُولُ إِلَّا الْحَقَّ . وَذٰلِكَ لِأَنَّ حُسْنَ الظَّنِّ بِالْمُسْلِمِينَ أَمْرٌ لَازِمٌ ، وَقَدْ كَثُرَتْ بَلَاغَاتُ النَّاسِ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ ، وَعَمَّ التَّسَاهُلُ فِي ذٰلِكَ ، وَقَلَّتِ الْمُبَالَاةُ ، وَارْتَفَعَتِ الْأَمَانَةُ» ↑ Kembali ke teks
  9. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), cet. 2, 1414 H/1994 M, Fashl fi Wujubir Rahmah wasy-Syafaqah bil-'Ibad, hlm. cetakan 136 [hlm. file PDF 136]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (رِسَالَةُ الْمُعَاوَنَةِ، ص ١٣٦ [PDF ص ١٣٦]): «(وَعَلَيْكَ) بِالرَّحْمَةِ لِعِبَادِ اللَّهِ وَالشَّفَقَةِ عَلَى خَلْقِ اللَّهِ، وَكُنْ رَحِيمًا شَفِيقًا أَلُوفًا مَأْلُوفًا، وَاحْذَرْ أَنْ تَكُونَ فَظًّا غَلِيظًا أَوْ فَاحِشًا جَافِيًا، قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «إِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ وَمَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ» ... (وَعَلَيْكَ) بِجَبْرِ قُلُوبِ الْمُنْكَسِرِينَ، وَمُلَاطَفَةِ الضُّعَفَاءِ وَالْمَسَاكِينِ» ↑ Kembali ke teks
  10. Al-Mawardi, Al-Qadhi Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Bashri. Adabud Dunya wad Din (berkas PDF: adab.pdf). Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, cet. 1, 1407 H/1987 M, Al-Bab Al-Khamis fi Adabin Nafs: Al-Fashl Ar-Rabi' fil Hilm wal Ghadhab, hlm. cetakan 215–216 [hlm. file PDF 215–216]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (أَدَبُ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، ص ٢١٦ [PDF ص ٢١٦]): «وَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِرَجُلٍ أَسْمَعَهُ كَلَامًا : يَا هٰذَا ، لَا تُغْرِقَنَّ فِي سَبِّنَا ، وَدَعْ لِلصُّلْحِ مَوْضِعًا ، فَإِنَّا لَا نُكَافِئُ مَنْ عَصَى اللَّهَ فِينَا ، بِأَكْثَرَ مِنْ أَنْ نُطِيعَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ . وَشَتَمَ رَجُلٌ الشَّعْبِيَّ فَقَالَ : إِنْ كُنْتُ كَمَا قُلْتَ فَغَفَرَ اللَّهُ لِي ، وَإِنْ لَمْ أَكُنْ كَمَا قُلْتَ فَغَفَرَ اللَّهُ لَكَ» ↑ Kembali ke teks
  11. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Munjiyat: At-Taubah, hlm. cetakan 384–385 [hlm. file PDF 384–385]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (النَّصَائِحُ الدِّينِيَّةُ، ص ٣٨٤–٣٨٥ [PDF ص ٣٨٤–٣٨٥]): «وَقَدْ ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ - رَحِمَهُمُ اللَّهُ - لِلتَّوْبَةِ شَرَائِطَ لَا بُدَّ مِنْهَا ، وَلَا تَتِمُّ التَّوْبَةُ إِلَّا بِهَا ؛ وَهِيَ ثَلَاثَةٌ : الْأَوَّلُ : النَّدَمُ بِالْقَلْبِ عَلَى الذُّنُوبِ السَّالِفَةِ . الثَّانِي : الْإِقْلَاعُ عَنِ الذَّنْبِ ، وَمَعْنَاهُ : أَنْ لَا يَتُوبَ مِنْ ذَنْبٍ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَيْهِ وَمُلَازِمٌ لَهُ . الثَّالِثُ : الْعَزْمُ عَلَى أَنْ لَا يَعُودَ إِلَى الذُّنُوبِ مَا عَاشَ . وَهٰذِهِ الثَّلَاثُ لَا بُدَّ مِنْهَا فِي التَّوْبَةِ مِنَ الذُّنُوبِ الَّتِي تَكُونُ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ . وَيَزِيدُ عَلَيْهَا شَرْطٌ رَابِعٌ فِي الذُّنُوبِ الَّتِي تَكُونُ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ غَيْرِهِ مِنَ الْعِبَادِ . وَبَيَانُ ذٰلِكَ : أَنَّهُ إِنْ ظَلَمَ أَحَدًا مِنَ الْآدَمِيِّينَ فِي نَفْسٍ أَوْ عِرْضٍ أَوْ مَالٍ ، وَجَبَ عَلَيْهِ أَنْ يَرُدَّ حَقَّهُ إِلَيْهِ بِتَمْكِينِهِ مِنَ الْقِصَاصِ فِي الْمَظَالِمِ النَّفْسِيَّةِ ، وَرَدِّ الْمَظَالِمِ الْمَالِيَّةِ ، وَطَلَبِ الْإِحْلَالِ فِي الْمَظَالِمِ الْعِرْضِيَّةِ» ↑ Kembali ke teks
  12. Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid. Bidayatul Hidayah (berkas PDF: 4_5782779241900802990.pdf). Jeddah/Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1425 H/2004 M, Al-Qaul fi Ma'ashil Qalb: Al-Kibr, hlm. cetakan 225 [hlm. file PDF 228]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (بِدَايَةُ الْهِدَايَةِ، ص ٢٢٥ [PDF ص ٢٢٨]): «وَلَا تُزَكِّ نَفْسَكَ بِذَمِّهِمْ ، وَلَا تَرْفَعْ نَفْسَكَ عَلَيْهِمْ ، وَلَا تُدْخِلْ عَمَلَ الدُّنْيَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ ، وَلَا تَتَكَبَّرْ فِي مَجْلِسِكَ لِكَيْ يَحْذَرَ النَّاسُ مِنْ سُوءِ خُلُقِكَ ، وَلَا تُنَاجِ رَجُلًا وَعِنْدَكَ آخَرُ ، وَلَا تَتَعَظَّمْ عَلَى النَّاسِ فَيَنْقَطِعَ عَنْكَ خَيْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ، وَلَا تُمَزِّقِ النَّاسَ بِلِسَانِكَ فَتُمَزِّقَكَ كِلَابُ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي النَّارِ» ↑ Kembali ke teks
  13. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats At-Taqwa, hlm. cetakan 42 [hlm. file PDF 42]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (النَّصَائِحُ الدِّينِيَّةُ، ص ٤٢ [PDF ص ٤٢]): «وَصَارَ الْمَشْكُورُ عِنْدَ النَّاسِ مَنْ وَافَقَهُمْ عَلَى هَوَى أَنْفُسِهِمْ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مُسْتَقِيمٍ لِلَّهِ ! وَالْمَذْمُومُ عِنْدَهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا صَالِحًا ، فَتَرَاهُمْ يَمْدَحُونَ مَنْ لَا يَسْتَأْهِلُ الْمَدْحَ لِمُوَافَقَتِهِ إِيَّاهُمْ وَسُكُوتِهِ عَلَى بَاطِلِهِمْ ، وَيَذُمُّونَ مَنْ يُخَالِفُهُمْ وَيَنْصَحُهُمْ فِي دِينِهِمْ !! هٰذَا حَالُ الْأَكْثَرِ إِلَّا مَنْ عَصَمَهُ اللَّهُ ، فَوَجَبَ الِاحْتِرَازُ وَالتَّحَفُّظُ وَالِاحْتِيَاطُ فِي جَمِيعِ الْأُمُورِ» ↑ Kembali ke teks
  14. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 126 [hlm. file PDF 126]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (رِسَالَةُ الْمُعَاوَنَةِ، ص ١٢٦ [PDF ص ١٢٦]): «(وَاعْلَمْ) أَنَّ الْمَعْصِيَةَ إِذَا سُتِرَتْ لَمْ تَضُرَّ إِلَّا مُرْتَكِبَهَا فَإِذَا ظَهَرَتْ وَلَمْ تُغَيَّرْ عَمَّ ضَرَرُهَا» ↑ Kembali ke teks
  15. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Munjiyat: At-Taubah, hlm. cetakan 387 [hlm. file PDF 387]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (النَّصَائِحُ الدِّينِيَّةُ، ص ٣٨٧ [PDF ص ٣٨٧]): «ثُمَّ إِنَّ الشَّيْطَانَ لَعَنَهُ اللَّهُ قَدْ يَخْدَعُ بَعْضَ الْأَغْبِيَاءِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فَيَقُولُ لَهُ : كَيْفَ تَتُوبُ وَأَنْتَ لَا تَعْرِفُ مِنْ نَفْسِكَ الثَّبَاتَ عَلَى التَّوْبَةِ ؟! وَكَمْ تَتُوبُ ثُمَّ تَعُودُ إِلَى الذَّنْبِ ؟! وَيُلْقِي عَلَيْهِ وَسَاوِسَ مِنْ هٰذَا الْجِنْسِ . فَلْيَحْذَرْهُ الْمُسْلِمُ وَلَا يَغْتَرَّ ، وَلَا يَأْخُذْ بِتَزْوِيرِهِ وَتَلْبِيسِهِ ؛ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : « مَا أَصَرَّ مَنِ اسْتَغْفَرَ وَلَوْ عَادَ فِي الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً » . وَعَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَتُوبَ ، وَيَسْأَلَ مِنْ رَبِّهِ الْإِعَانَةَ وَالتَّثْبِيتَ . ثُمَّ إِنْ غَلَبَتْهُ نَفْسُهُ عَلَى الْعَوْدِ إِلَى الذَّنْبِ فَلْيَغْلِبْهَا عَلَى الْعَوْدِ إِلَى التَّوْبَةِ» ↑ Kembali ke teks
  16. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats At-Taqwa, hlm. cetakan 43 [hlm. file PDF 43]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (النَّصَائِحُ الدِّينِيَّةُ، ص ٤٣ [PDF ص ٤٣]): «وَاعْلَمْ أَنَّ الرِّفْقَ وَاللُّطْفَ ، وَمُجَانَبَةَ الْغِلْظَةِ وَالْعُنْفِ ، أَصْلٌ كَبِيرٌ فِي قَبُولِ الْحَقِّ وَالِانْقِيَادِ لَهُ ، فَعَلَيْكَ بِذٰلِكَ مَعَ مَنْ أَمَرْتَهُ أَوْ نَهَيْتَهُ أَوْ نَصَحْتَهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ، وَأَحْسِنِ السِّيَاسَةَ فِي ذٰلِكَ ، وَكَلِّمْهُ خَالِيًا ، وَلِنْ لَهُ جَانِبًا ، وَاخْفِضْ لَهُ جَنَاحًا ، فَإِنَّ الرِّفْقَ مَا كَانَ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ ، وَلَا نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ ، كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ، وَكَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِرَسُولِهِ : ﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ﴾ [آلِ عِمْرَانَ : ١٥٩/٣]» ↑ Kembali ke teks
  17. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Muhlikat: Afatul Lisan, hlm. cetakan 352 [hlm. file PDF 352]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (النَّصَائِحُ الدِّينِيَّةُ، ص ٣٥٢ [PDF ص ٣٥٢]): «وَمِنْ آَفَاتِ اللِّسَانِ : السُّخْرِيَةُ بِالْمُسْلِمِ ، وَالِاسْتِهْزَاءُ بِهِ ، وَالضَّحِكُ عَلَيْهِ اسْتِخْفَافًا وَاحْتِقَارًا لَهُ ... وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : « بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ » . وَمِنْ آَفَاتِ اللِّسَانِ : الْيَمِينُ الْفَاجِرَةُ ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ ، وَاللَّعْنُ ، وَقَوْلُكَ لِلْمُسْلِمِ يَا كَافِرُ ، وَالْقَطْعُ بِالشَّهَادَةِ عَلَى أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِكُفْرٍ أَوْ بِدْعَةٍ أَوْ فِسْقٍ مِنْ دُونِ أَنْ يَتَحَقَّقَ ذٰلِكَ يَقِينًا» ↑ Kembali ke teks
  18. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), Mabhats Al-Munjiyat: At-Taubah, hlm. cetakan 383–384 [hlm. file PDF 383–384]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (النَّصَائِحُ الدِّينِيَّةُ، ص ٣٨٤ [PDF ص ٣٨٤]): «وَقَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : « التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ » . وَقَالَ ﷺ : « إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا » ... وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : « إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ » . أَيْ : تَبْلُغْ رُوحُهُ إِلَى الْحُلْقُومِ حِينَ الْمَوْتِ» ↑ Kembali ke teks
  19. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), cet. 2, 1414 H/1994 M, Fashl fil Amri bil Ma'ruf wan-Nahyi 'anil Munkar, hlm. cetakan 126 [hlm. file PDF 126]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (رِسَالَةُ الْمُعَاوَنَةِ، ص ١٢٦ [PDF ص ١٢٦]): «(وَعَلَيْكَ) إِذَا أَمَرْتَ أَوْ نَهَيْتَ بِالْإِخْلَاصِ لِلَّهِ تَعَالَى، وَالرِّفْقِ وَحُسْنِ السِّيَاسَةِ، وَإِظْهَارِ الشَّفَقَةِ؛ فَمَا اجْتَمَعَتْ هٰذِهِ الْخِصَالُ فِي عَبْدٍ مَعَ كَوْنِهِ عَامِلًا بِمَا أَمَرَ بِهِ مُجْتَنِبًا لِمَا نَهَى عَنْهُ إِلَّا كَانَ لِكَلَامِهِ صَوْلَةٌ وَهَيْبَةٌ فِي الصُّدُورِ وَوَقْعٌ فِي الْقُلُوبِ وَحَلَاوَةٌ فِي الْأَسْمَاعِ وَقَلَّ أَنْ يُرَدَّ عَلَيْهِ مَعَ هٰذَا كَلَامُهُ» ↑ Kembali ke teks
  20. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), Fashl fil Adab fin-Nushhi, hlm. cetakan 146 [hlm. file PDF 146]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (رِسَالَةُ الْمُعَاوَنَةِ، ص ١٤٦ [PDF ص ١٤٦]): «(وَعَلَيْكَ) إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَنْصَحَ إِنْسَانًا فِي أَمْرٍ بَلَغَكَ عَنْهُ بِالْخَلْوَةِ بِهِ وَالتَّلَطُّفِ لَهُ فِي الْقَوْلِ وَلَا تَعْدِلْ إِلَى التَّصْرِيحِ مَعَ إِمْكَانِ التَّفْهِيمِ بِالتَّلْوِيحِ فَإِنْ قَالَ لَكَ مَنْ بَلَّغَكَ عَنِّي هٰذَا؟ فَلَا تُخْبِرْهُ كَيْلَا تُثِيرَ الْعَدَاوَةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ، ثُمَّ إِنْ قَبِلَ مِنْكَ فَاحْمَدِ اللَّهَ وَاشْكُرْ لَهُ وَإِنْ لَمْ يَقْبَلْ فَارْجِعْ عَلَى نَفْسِكَ بِاللَّوْمِ وَقُلْ لَهَا يَا نَفْسَ السُّوءِ مِنْ قِبَلِكِ أُتِيتُ، فَانْظُرِي لَعَلَّكِ لَمْ تَقُومِي بِشَرَائِطِ النُّصْحِ وَآدَابِهِ» ↑ Kembali ke teks
  21. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), Fashl fi Wujubit Taubah & Hurmatil Qunuth min Rahmatillah, hlm. cetakan 155 & 159 [hlm. file PDF 155 & 159]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (رِسَالَةُ الْمُعَاوَنَةِ، ص ١٥٥ & ١٥٩ [PDF ص ١٥٥ & ١٥٩]): «(وَعَلَيْكَ) بِالتَّوْبَةِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ سَوَاءٌ كَانَ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا ظَاهِرًا أَوْ بَاطِنًا؛ فَإِنَّ التَّوْبَةَ أَوَّلُ قَدَمٍ يَضَعُهَا الْعَبْدُ فِي طَرِيقِ السُّلُوكِ وَهِيَ أَسَاسُ جَمِيعِ الْمَقَامَاتِ وَاللَّهُ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ... (وَإِيَّاكَ) وَالْقُنُوطَ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ وَالْأَمْنَ مِنْ مَكْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُمَا مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ﴾» ↑ Kembali ke teks
  22. Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid. Bidayatul Hidayah (berkas PDF: 4_5782779241900802990.pdf). Jeddah/Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1425 H/2004 M, Al-Qism Ats-Tsani fi Ijtinabil Ma'ashi: Ma'ashil Lisan, hlm. cetakan 191–192 [hlm. file PDF 194–195]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (بِدَايَةُ الْهِدَايَةِ، ص ١٩١–١٩٢ [PDF ص ١٩٤–١٩٥]): «وَلِلنَّصِيحَةِ صِيغَةٌ وَهَيْئَةٌ ، وَيُحْتَاجُ فِيهَا إِلَى التَّلَطُّفِ ، وَإِلَّا .. صَارَتْ فَضِيحَةً ، وَكَانَ فَسَادُهَا أَكْثَرَ مِنْ صَلَاحِهَا ... الْخَامِسُ : تَزْكِيَةُ النَّفْسِ . فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : ﴿فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى﴾ . وَقِيلَ لِبَعْضِ الْحُكَمَاءِ : مَا الصِّدْقُ الْقَبِيحُ؟ فَقَالَ : ثَنَاءُ الْمَرْءِ عَلَى نَفْسِهِ» ↑ Kembali ke teks
  23. Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid. Bidayatul Hidayah (berkas PDF: 4_5782779241900802990.pdf), Al-Qaul fi Ma'ashil Qalb: Al-Kibr (hlm. cetakan 225 [hlm. file PDF 228]) dan Al-Qism Ats-Tsalits fi Adabis Suhbah wal Mu'asyarah (hlm. cetakan 252 [hlm. file PDF 255]). عِبَارَةُ الْكِتَابِ (بِدَايَةُ الْهِدَايَةِ، ص ٢٥٢ [PDF ص ٢٥٥]): «وَكِتْمَانُ السِّرِّ ، وَسَتْرُ الْعُيُوبِ ، وَالسُّكُوتُ عَنْ تَبْلِيغِ مَا يَسُوؤُهُ مِنْ مَذَمَّةِ النَّاسِ إِيَّاهُ ، وَإِبْلَاغُ مَا يَسُرُّهُ مِنْ ثَنَاءِ النَّاسِ عَلَيْهِ ، وَحُسْنُ الْإِصْغَاءِ عِنْدَ الْحَدِيثِ ، وَتَرْكُ الْمُمَارَاةِ لَهُ ، وَأَنْ يَدْعُوَهُ بِأَحَبِّ الْأَسْمَاءِ إِلَيْهِ» ↑ Kembali ke teks
  24. Al-Mawardi, Al-Qadhi Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad. Adabud Dunya wad Din (berkas PDF: adab.pdf). Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, cet. 1, 1407 H/1987 M, Al-Bab Al-Khamis: Al-Fashl Ar-Rabi' fil Hilm wal Ghadhab, hlm. cetakan 215 [hlm. file PDF 215]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (أَدَبُ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، ص ٢١٥ [PDF ص ٢١٥]): «رَوَى مُحَمَّدُ بْنُ حَارِثٍ الْهِلَالِيُّ، أَنَّ جِبْرِيلَ نَزَلَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَيْتُكَ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ: ﴿خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ﴾ [الْأَعْرَافِ : ١٩٩] . وَرَوَى سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ حِينَ نَزَلَتْ هٰذِهِ الْآيَةُ قَالَ: «يَا جِبْرِيلُ، مَا هٰذَا ؟ قَالَ: لَا أَدْرِي حَتَّى أَسْأَلَ الْعَالِمَ، ثُمَّ عَادَ جِبْرِيلُ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ، وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ، وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ»» ↑ Kembali ke teks
  25. Al-Mawardi, Al-Qadhi Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad. Adabud Dunya wad Din (berkas PDF: adab.pdf), Al-Fashl Ar-Rabi' fil Hilm wal Ghadhab, hlm. cetakan 216 [hlm. file PDF 216]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (أَدَبُ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، ص ٢١٦ [PDF ص ٢١٦]): «فَالْحِلْمُ مِنْ أَشْرَفِ الْأَخْلَاقِ، وَأَحَقِّهَا بِذَوِي الْأَلْبَابِ، لِمَا فِيهِ مِنْ سَلَامَةِ الْعِرْضِ، وَرَاحَةِ الْجَسَدِ، وَاجْتِلَابِ الْحَمْدِ ... وَحَدُّ الْحِلْمِ: ضَبْطُ النَّفْسِ عِنْدَ هَيَجَانِ الْغَضَبِ ... وَأَسْبَابُ الْحِلْمِ الْبَاعِثَةُ عَلَى ضَبْطِ النَّفْسِ عَشَرَةٌ : أَحَدُهَا : الرَّحْمَةُ لِلْجُهَّالِ، وَذٰلِكَ مِنْ خَيْرٍ يُوَافِقُ رِقَّةً ... وَالثَّانِي مِنْ أَسْبَابِهِ : الْقُدْرَةُ عَلَى الِانْتِصَارِ، وَذٰلِكَ مِنْ سَعَةِ الصَّدْرِ ، وَحُسْنِ الثِّقَةِ . وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ : « إِذَا قَدَرْتَ عَلَى عَدُوِّكَ، فَاجْعَلِ الْعَفْوَ شُكْرًا لِلْقُدْرَةِ عَلَيْهِ »» ↑ Kembali ke teks
  26. Al-Mawardi, Al-Qadhi Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad. Adabud Dunya wad Din (berkas PDF: adab.pdf), Bab Adabil Muwadha'ah: Al-Fashl Ar-Rabi' fi Kitmanis Sirr, hlm. cetakan 266 [hlm. file PDF 266]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (أَدَبُ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، ص ٢٦٦ [PDF ص ٢٦٦]): «اعْلَمْ أَنَّ كِتْمَانَ الْأَسْرَارِ ، مِنْ أَقْوَى أَسْبَابِ النَّجَاحِ، وَأَدْوَمِ لِأَحْوَالِ الصَّلَاحِ ... وَقَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ : سِرُّكَ أَسِيرُكَ ، فَإِنْ تَكَلَّمْتَ بِهِ صِرْتَ أَسِيرَهُ . وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ لِابْنِهِ : يَا بُنَيَّ ، كُنْ جَوَادًا بِالْمَالِ فِي مَوْضِعِ الْحَقِّ ، ضَنِينًا بِالْأَسْرَارِ عَنْ جَمِيعِ الْخَلْقِ ، فَإِنَّ أَحْمَدَ جُودِ الْمَرْءِ ، الْإِنْفَاقُ فِي وَجْهِ الْبِرِّ ، وَالْبُخْلُ بِمَكْتُومِ السِّرِّ» ↑ Kembali ke teks
  27. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1, 1442 H/2021 M, Al-Bab As-Sadis fil Adillatil Mukhtalafi Fiha: 1. Al-Istish-hab, hlm. cetakan 114–115 [hlm. file PDF 115–116]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ، ص ١١٤–١١٥ [PDF ص ١١٥–١١٦]): «١ - الِاسْتِصْحَابُ: وَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ ثُبُوتِ حُكْمٍ لِأَمْرٍ فِي الزَّمَانِ الثَّانِي بِنَاءً عَلَى ثُبُوتِهِ فِي الزَّمَانِ الْأَوَّلِ. وَمَعْنَاهُ أَنَّا إِذَا عَرَفْنَا حُكْمًا مِنَ الْأَحْكَامِ قَدْ ثَبَتَ لِشَيْءٍ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي، وَلَمْ يَظْهَرْ لَنَا مَا يَدُلُّ عَلَى عَدَمِهِ، حَكَمْنَا الْآنَ فِي الزَّمَنِ الثَّانِي، بِأَنَّهُ مَا زَالَ بَاقِيًا عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ، حَتَّى يَقُومَ الدَّلِيلُ عَلَى عَدَمِهِ أَوْ تَغَيُّرِهِ... وَهُوَ الْمُعَبَّرُ عَنْهُ عِنْدَهُمْ: بِاسْتِصْحَابِ الْأَصْلِ، وَطَرْحِ الشَّكِّ، وَبَقَاءِ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ» ↑ Kembali ke teks
  28. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1, 1442 H/2021 M, Al-Bab As-Sadis: Al-Istish-hab (Istish-habul 'Adam Al-Ashli), hlm. cetakan 116 [hlm. file PDF 117]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (الْخُلَاصَةُ فِي أُصُولِ الْفِقْهِ، ص ١١٦ [PDF ص ١١٧]): «وَأَمَّا اسْتِصْحَابُ الْأَصْلِ عِنْدَ عَدَمِ الدَّلِيلِ الشَّرْعِيِّ فَهُوَ حُجَّةٌ عِنْدَ الْجَمِيعِ. وَذٰلِكَ كَمَا لَوْ بَحَثَ الْمُجْتَهِدُ عَلَى دَلِيلٍ لِوُجُوبِ صِيَامِ رَجَبٍ، فَلَمْ يَجِدْهُ، فَيَقُولُ: لَا يَجِبُ صِيَامُ رَجَبٍ بِاسْتِصْحَابِ الْحَالِ، وَهُوَ الْعَدَمُ الْأَصْلِيُّ» ↑ Kembali ke teks
  29. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf), hlm. cetakan 114–116 [hlm. file PDF 115–117]; dipadukan dengan kaidah verifikasi berita dalam An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 42 [hlm. file PDF 42]. عِبَارَةُ النَّصَائِحِ الدِّينِيَّةِ (ص ٤٢ [PDF ص ٤٢]): «وَمِنَ الْمُهِمِّ : أَنْ لَا تُصَدِّقَ وَلَا تَقْبَلَ كُلَّ مَا يُنْقَلُ إِلَيْكَ مِنْ أَفْعَالِ النَّاسِ وَأَقْوَالِهِمُ الْمُنْكَرَةِ حَتَّى تُشَاهِدَ ذٰلِكَ بِنَفْسِكَ ، أَوْ يَنْقُلَهُ إِلَيْكَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ لَا يُجَازِفُ ، وَلَا يَقُولُ إِلَّا الْحَقَّ . وَذٰلِكَ لِأَنَّ حُسْنَ الظَّنِّ بِالْمُسْلِمِينَ أَمْرٌ لَازِمٌ» ↑ Kembali ke teks
  30. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf), hlm. cetakan 115–116 [hlm. file PDF 116–117]; serta Al-Haddad, An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 352 [hlm. file PDF 352]. عِبَارَةُ النَّصَائِحِ الدِّينِيَّةِ (ص ٣٥٢ [PDF ص ٣٥٢]): «وَالْقَطْعُ بِالشَّهَادَةِ عَلَى أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِكُفْرٍ أَوْ بِدْعَةٍ أَوْ فِسْقٍ مِنْ دُونِ أَنْ يَتَحَقَّقَ ذٰلِكَ يَقِينًا» ↑ Kembali ke teks
  31. Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid. Bidayatul Hidayah (berkas PDF: 4_5782779241900802990.pdf), hlm. cetakan 191 [hlm. file PDF 194]; serta Al-Haddad, An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 350 [hlm. file PDF 350]. عِبَارَةُ بِدَايَةِ الْهِدَايَةِ (ص ١٩١ [PDF ص ١٩٤]): «وَلِلنَّصِيحَةِ صِيغَةٌ وَهَيْئَةٌ ، وَيُحْتَاجُ فِيهَا إِلَى التَّلَطُّفِ ، وَإِلَّا .. صَارَتْ فَضِيحَةً ، وَكَانَ فَسَادُهَا أَكْثَرَ مِنْ صَلَاحِهَا» ↑ Kembali ke teks
  32. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 126 [hlm. file PDF 126]; serta An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 42 & 350 [hlm. file PDF 42 & 350]. عِبَارَةُ رِسَالَةِ الْمُعَاوَنَةِ (ص ١٢٦ [PDF ص ١٢٦]): «(وَاعْلَمْ) أَنَّ الْمَعْصِيَةَ إِذَا سُتِرَتْ لَمْ تَضُرَّ إِلَّا مُرْتَكِبَهَا فَإِذَا ظَهَرَتْ وَلَمْ تُغَيَّرْ عَمَّ ضَرَرُهَا» ↑ Kembali ke teks
  33. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 384 & 387 [hlm. file PDF 384 & 387]; serta Risalatul Mu'awanah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 155 & 159 [hlm. file PDF 155 & 159]. عِبَارَةُ رِسَالَةِ الْمُعَاوَنَةِ (ص ١٥٥ [PDF ص ١٥٥]): «وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ»» ↑ Kembali ke teks
  34. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 42 & 348 [hlm. file PDF 42 & 348]; serta Bidayatul Hidayah (berkas PDF: 4_5782779241900802990.pdf), hlm. cetakan 225 [hlm. file PDF 228]. عِبَارَةُ النَّصَائِحِ الدِّينِيَّةِ (ص ٣٤٨ [PDF ص ٣٤٨]): «وَفِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ : « إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يُلْقِي لَهَا بَالًا فَيَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِنَ الثُّرَيَّا » . فَخَطَرُ اللِّسَانِ عَظِيمٌ ، وَأَمْرُهُ مَخُوفٌ ، وَلَا يُنَجِّي مِنْهُ إِلَّا الصَّمْتُ وَتَرْكُ النُّطْقِ إِلَّا عِنْدَ الْحَاجَةِ بِقَدْرِهَا» ↑ Kembali ke teks
  35. Al-Haddad, Al-Imam Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 146 [hlm. file PDF 146]; serta An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 43 & 350 [hlm. file PDF 43 & 350]. عِبَارَةُ النَّصَائِحِ الدِّينِيَّةِ (ص ٤٣ [PDF ص ٤٣]): «وَكَلِّمْهُ خَالِيًا ، وَلِنْ لَهُ جَانِبًا ، وَاخْفِضْ لَهُ جَنَاحًا ، فَإِنَّ الرِّفْقَ مَا كَانَ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ ، وَلَا نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ» ↑ Kembali ke teks
  36. Al-Mawardi, Al-Qadhi Abu Al-Hasan. Adabud Dunya wad Din (berkas PDF: adab.pdf), hlm. cetakan 215–216 [hlm. file PDF 215–216]; serta Al-Haddad, Risalatul Mu'awanah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), hlm. cetakan 136 & 155 [hlm. file PDF 136 & 155]. عِبَارَةُ أَدَبِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ (ص ٢١٦ [PDF ص ٢١٦]): «وَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِرَجُلٍ أَسْمَعَهُ كَلَامًا : يَا هٰذَا ، لَا تُغْرِقَنَّ فِي سَبِّنَا ، وَدَعْ لِلصُّلْحِ مَوْضِعًا ، فَإِنَّا لَا نُكَافِئُ مَنْ عَصَى اللَّهَ فِينَا ، بِأَكْثَرَ مِنْ أَنْ نُطِيعَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ» ↑ Kembali ke teks

10. Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)

  • Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani. (275 H). Sunan Abi Dawud. Tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid. Beirut: Al-Maktabah Al-'Ashriyyah.
  • Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. (256 H). Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Al-Mathba'ah As-Salafiyyah.
  • Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. (1425 H/2004 M). Bidayatul Hidayah. Jeddah/Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1.
  • Al-Haddad, Quthbud Da'wah wal Irsyad Abdullah bin Alawi Al-Hadrami Asy-Syafi'i. (1420 H/1999 M). An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah. Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 3.
  • Al-Haddad, Quthbud Da'wah wal Irsyad Abdullah bin Alawi Al-Hadrami Asy-Syafi'i. (1414 H/1994 M). Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah lir-Raghibina minal Mu'minina fi Suluki Thariqil Akhirah. Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2.
  • Al-Mawardi, Al-Qadhi Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Bashri. (1407 H/1987 M). Adabud Dunya wad Din. Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, cet. 1.
  • At-Tirmidzi, Muhammad bin 'Isa. (279 H). Sunan At-Tirmidzi (Al-Jami' Al-Kabir). Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir. Kairo: Musthafa Al-Babi Al-Halabi.
  • Hitu, Muhammad Hasan. (1442 H/2021 M). Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh. Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1.