← Semua Artikel Seporsi Adab & Nutrisi

Birrul Walidain

Tidak Ada Komentar 29 Mins Read 69 Views
Birrul Walidain Era Modern: Berbakti kepada Orang Tua Tanpa Canggung
 SEPORSI ADAB & NUTRISI | EDISI PAGI Kajian Turats Akhlak & Mu'amalah Edisi Pagi

Birrul Walidain Era Modern: Berbakti kepada Orang Tua Tanpa Canggung

Seni Berkomunikasi Santun, Menyimak dengan Adab, dan Membahagiakan Orang Tua di Tengah Kesenjangan Generasi Menurut Tuntunan Kitab Turats

Rubrik: 6. SEPORSI ADAB & NUTRISI Waktu: Edisi Pagi Tanggal: Sabtu, 17 Oktober 2026 Penyusun: Ahmad Faris Estimasi Baca: 22 Menit
Daftar Isi Kajian Ilmiah-Populer Klik untuk Buka/Tutup
  1. 1. Hakikat Birrul Walidain & Fondasi Syariat: Membedah Dimensi Sakral
  2. 2. Anatomi & Dashboard Matrix: 4 Kuadran Dinamika Relasi Keluarga
  3. 3. Problematika Remaja & Generasi Modern: Mengurai Kesenjangan & Rasa Canggung
  4. 4. Dekonstruksi Fikih & Tasawuf Turats Mu'tamad: Bedah 5 Kitab Rujukan Utama
  5. 5. SOP: Bagan Alur 4 Tahap Komunikasi Santun & Berbakti Tanpa Canggung
  6. 6. Kaidah Ushul & Kaidah Fikih / Manajemen Adab Keluarga
  7. 7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja: Protokol di Era Digital
  8. 8. Self-Assessment Checklist Evaluasi Birrul Walidain Harian
  9. 9. Catatan Kaki (32 Footnotes Terverifikasi Cetakan & PDF)
  10. 10. Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)
Intisari Kaidah Utama Seporsi Adab & Birrul Walidain:
﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾... «رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ»... «وَمِنَ الْعُقُوقِ أَنْ تُؤْذِيَهُمَا بِتَقْطِيبِ الْوَجْهِ وَالِانْتِهَارِ لَهُمَا... وَرَحِمَ اللَّهُ وَالِدًا أَعَانَ وَلَدَهُ عَلَىٰ بِرِّهِ».

Bakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) adalah poros kewajiban tertinggi setelah tauhid, di mana keridhaan Allah Ta'ala digantungkan secara mutlak pada keridhaan keduanya. Kesenjangan generasi dan rasa canggung di era modern dijembatani bukan dengan memaksakan kehendak atau mendebat secara logis, melainkan dengan merendahkan hati (khofdhul janah), menyimak dengan penuh adab, bertutur kata mulia (qaulan karima), serta membahagiakan orang tua melalui perhatian fisik dan doa yang istiqamah.

Gambar artikel

1. Hakikat Birrul Walidain & Fondasi Syariat: Membedah Dimensi Sakral Bakti kepada Orang Tua

Dalam tata nilai syariat Islam, berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) menempati maqam yang teramat luhur, menjadi kewajiban asasi kedua setelah penegakan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hubungan antara anak dan orang tua bukan sekadar relasi biologis atau kontrak sosial keduniawian, melainkan ikatan sakral yang diliputi oleh perintah-perintah qath'i di dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabawiyyah. Allah Ta'ala berulang kali menggandengkan perintah mengesakan diri-Nya dengan perintah berbuat ihsan kepada kedua orang tua, mengisyaratkan bahwa pengingkaran terhadap jasa orang tua ('uququl walidain) hakikatnya mencerminkan ketidakmampuan jiwa dalam mensyukuri nikmat Sang Pencipta.

Namun, di tengah arus modernisasi dan pergeseran sosiokultural yang cepat, banyak generasi muda Muslim—termasuk kalangan mahasiswa dan profesional muda—mengalami hambatan psikologis dalam mempraktikkan bakti ini. Terjadilah fenomena yang kerap disebut sebagai "kesenjangan generasi" (generation gap), di mana perbedaan pola pikir, cara pandang terhadap karier, serta gaya komunikasi digital melahirkan rasa canggung (awkwardness), keengganan berdialog mendalam, hingga letupan konflik emosional di ruang keluarga. Islam tidak pernah menghendaki bakti yang kaku dan formalistis, melainkan menuntut kehadiran adab yang lembut, penuh kasih sayang, dan membumi dalam kehidupan nyata.

Fondasi syariat mengenai keagungan hak orang tua termaktub secara agung dalam Surah Al-Isra' ayat 23–24, di mana Allah Ta'ala menetapkan batasan etika minimal: melarang keras perkataan yang menyakiti hati walau hanya berupa desahan 'ah' (uff), serta memerintahkan tutur kata yang mulia dan perlakuan yang penuh kerendahan hati:

﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ۝ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا﴾
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: 'Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil'." (QS. Al-Isra' [17]: 23–24)[1].

Kewajiban bersyukur kepada orang tua disejajarkan langsung dengan syukur kepada Allah dalam Surah Luqman ayat 14, seraya menggambarkan keletihan ibu saat mengandung dan menyapih:

﴿وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ﴾
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman [31]: 14)[2].

Perintah ihsan ini diulang kembali dalam Surah An-Nisa' ayat 36 dan Surah Al-Ahqaf ayat 15, menegaskan bahwa bakti kepada orang tua adalah poros moralitas seorang mukmin[3][4].

Dalam khazanah Hadits Nabawiyyah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan birrul walidain pada hierarki amal paling puncak. Dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bakti kepada orang tua didahulukan daripada jihad di jalan Allah:

«أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ لِوَقْتِهَا. قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»
"Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: 'Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?' Beliau bersabda: 'Shalat pada waktunya.' Aku bertanya lagi: 'Kemudian apa?' Beliau bersabda: 'Berbakti kepada kedua orang tua.' Aku bertanya lagi: 'Kemudian apa?' Beliau bersabda: 'Jihad di jalan Allah'." (HR. Al-Bukhari no. 527, Muslim no. 85)[5].

Bahkan, keridhaan Allah Ta'ala digantungkan secara mutlak pada keridhaan orang tua, sebagaimana sabda beliau dalam hadits riwayat Imam At-Tirmidzi:

«رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ»
"Keridhaan Allah berada pada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan kedua orang tua." (HR. At-Tirmidzi no. 1899)[6].

Secara khusus, Rasulullah SAW memberikan penekanan istimewa terhadap bakti kepada ibu sebanyak tiga kali lipat sebelum ayah dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA (Ummu-ka, tsumma ummu-ka, tsumma ummu-ka, tsumma abu-ka)[7]; memerintahkan sahabat yang hendak berjihad sunnah untuk kembali pulang merawat orang tuanya dengan sabda: Fafihima fajahid (Maka pada keduanyalah engkau berjihad)[8]; serta menegaskan bahwa kedua orang tua adalah pintu surga atau jurang neraka bagi seorang anak: Huma jannatuka wa naruka[9][10].

2. Anatomi & Dashboard Matrix: 4 Kuadran Dinamika Relasi Anak Muda & Orang Tua di Era Modern

Untuk membedah interaksi nyata antara anak muda dan orang tua di tengah disrupsi zaman, matriks komparasi berikut memetakan empat kuadran relasi berdasarkan tingkat kehangatan komunikasi emosional dan pemenuhan tanggung jawab syariat:

No. Kuadran Relasi & Tipologi Indikator Sikap & Pola Komunikasi Dampak Spiritual & Dinamika Keluarga Tindakan Transformasi Berbasis Turats
1 Kuadran I: Bakti Santun & Adaptif (Al-Birr Al-Kamil wal-Ihsan) — Ideal Syariat Komunikasi dua arah yang hangat, mendengarkan penuh takzim tanpa menyela, mengekspresikan kasih sayang secara wajar, dan tanggap memenuhi kebutuhan orang tua tanpa diminta[1][11]. Rumah tangga diliputi sakinah; doa orang tua mengalir deras membukakan pintu rezeki dan keberkahan karier anak; terhindar dari rasa canggung. Mempertahankan istiqamah doa harian, merutinkan silaturahmi, dan melibatkan orang tua dalam keputusan penting keluarga (Risalatul Mu'awanah, hlm. 132)[11].
2 Kuadran II: Bakti Formalistik & Dingin (Al-Birr Ash-Shuri) — Sindrom Canggung Modern Kewajiban materiil (transfer uang bulanan, membelikan barang) terpenuhi sempurna, namun miskin interaksi emosional; percakapan kaku, jarang menelpon, dan merasa canggung saat berduaan[12]. Orang tua merasa kesepian dan terasing secara batin; anak merasa telah menunaikan kewajiban padahal jiwa orang tua mendambakan kehadiran dan sapaan tulus. Mencairkan kebekuan melalui sentuhan fisik (mencium tangan, memeluk), menanyakan kabar kesehatan dengan tulus, dan melatih active listening tanpa memegang gawai (An-Nasha'ihud Diniyyah, hlm. 283)[17].
3 Kuadran III: Friksi Generasi & Debat Terbuka (Al-Jafwah wal-Khilaf) — Krisis Kesenjangan Nilai Sering terjadi perdebatan sengit seputar pilihan karier, politik, atau gaya hidup; anak merasa orang tua "kuno/ketinggalan zaman", suka menyela nasihat dengan dalih logika modern[1][28]. Suasana rumah tangga tegang; hati orang tua terluka (tergores perasaannya); anak terancam terjerumus ke dalam dosa lisan dan keangkuhan intelektual. Menundukkan ego intelektual di hadapan orang tua; menerapkan kaidah Al-Inshat (menyimak hingga tuntas); menyampaikan perbedaan pendapat dengan bahasa lemah lembut (Al-Arba'in, hlm. 45)[19].
4 Kuadran IV: Durhaka Nyata & Pengabaian (Al-'Uquq wal-Qathi'ah) — Kebinasaan Moral Membentak, bermuka masam, mengabaikan orang tua saat lanjut usia atau sakit, memutuskan kontak, bahkan menganggap orang tua sebagai beban hidup[10][12]. Tertutupnya pintu surga, terhalang dari mencium aroma surga, hidup sempit penuh kesialan, dan murka Allah di dunia sebelum akhirat. Tobat nasuha seketika; bersimpuh memohon ampunan orang tua di atas tanah; mengembalikan hak-hak mereka dan mendoakan dengan cucuran air mata (An-Nasha'ihud Diniyyah, hlm. 282)[16].

3. Problematika Remaja & Generasi Modern: Mengurai Kesenjangan Generasi & Rasa Canggung

Mengapa banyak anak muda zaman sekarang merasa sangat canggung ketika berinteraksi dengan orang tuanya sendiri? Penelusuran sosiologis dan psikospiritual menyingkap empat akar masalah kontemporer berikut:

a. Hambatan Ekspresi Emosional dan Budaya "Ketidakbiasaan"

Di banyak keluarga Nusantara, pola asuh tradisional kerap menomorsatukan ketegasan dan kepatuhan hierarkis, sementara ekspresi kasih sayang verbal (seperti ucapan "Aku sayang Ibu/Bapak") atau pelukan fisik sangat jarang dipraktikkan. Akibatnya, ketika anak menginjak usia dewasa, terbentuk sekat emosional yang tebal. Anak merasa malu atau canggung untuk memulai obrolan santai, khawatir dianggap berlebihan atau cengeng. Kitab turats mengajarkan bahwa merendahkan diri (khofdhul janah) dan tersenyum ramah adalah ibadah agung yang justru meruntuhkan sekat kecanggungan tersebut[1][17].

b. Kesenjangan Komunikasi di Era Digital (WhatsApp Broadcast & Slow Response)

Dinamika perbedaan generasi tampak sangat kontras dalam medium komunikasi virtual. Orang tua sering kali mengirimkan pesan broadcast motivasi, artikel kesehatan yang belum tentu valid, atau pesan panjang penuh doa. Sebaliknya, anak muda yang terbiasa dengan efisiensi informasi digital kerap mengabaikan, membalas dengan sangat singkat (hanya "Y", "Ok"), atau bahkan merasa terganggu. Padahal, bagi orang tua, pesan-pesan tersebut adalah representasi cinta dan kerinduan mereka. Membalas pesan orang tua dengan kalimat santun dan doa adalah bagian nyata dari birrul walidain modern[14][29].

c. Benturan Ekspektasi Karier, Studi, dan Pilihan Hidup

Perbedaan zaman melahirkan perbedaan paradigma: generasi orang tua yang tumbuh di era kepastian kerap menginginkan anak-anaknya menempuh jalur karier konvensional (seperti PNS, pegawai BUMN, atau dokter) demi jaminan masa depan. Di sisi lain, generasi muda tertarik pada industri kreatif, teknologi digital, atau kewirausahaan rintisan (startup). Ketika terjadi perbedaan aspirasi, anak muda kerap merespons secara defensif dan frontal, menuduh orang tua tidak mendukung mimpi mereka. Padahal, kekhawatiran orang tua bersumber dari rasa cinta dan proteksi. Kunci syariatnya adalah mendengarkan dengan takzim terlebih dahulu, lalu menjelaskan visi secara persuasif tanpa melukai kehormatan mereka[11][23].

d. Beban Mental "Sandwich Generation" yang Menguras Empati

Tidak sedikit profesional muda yang menanggung beban ganda: membiayai keluarga kecilnya sekaligus menopang kebutuhan finansial orang tua dan adik-adiknya. Kelelahan fisik dan finansial (financial fatigue) ini kerap memicu kejengkelan batin bawah sadar. Jika tidak dibentengi keikhlasan tauhid, anak akan merasa terbebani dan tanpa sadar memperlihatkan wajah masam atau keluh kesah. Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad mengingatkan bahwa menafkahi orang tua tanpa mengungkit-ungkit (ghairu minnah) adalah salah satu pintu pembuka rezeki paling dahsyat yang menjauhkan kemiskinan[16][17].

4. Dekonstruksi Fikih & Tasawuf Turats Mu'tamad: Bedah 5 Kitab Rujukan Utama

Berikut telaah mendalam terhadap teks-teks autentik (ibaroh) dari lima kitab turats mu'tamad yang merumuskan adab, hak, dan seni berbakti kepada orang tua secara komprehensif:

4.1. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah — Karya Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad (1044–1132 H)

Dalam bab Wujub Birril Walidaini wa Hurmati 'Uquqihima (hlm. cetakan 132–134 [hlm. file PDF 132–134]), Imam Al-Haddad meletakkan kaidah fundamental bakti kepada orang tua:

«وَعَلَيْكَ بِبِرِّ الْوَالِدَيْنِ؛ فَإِنَّهُ مِنْ أَوْجَبِ الْوَاجِبَاتِ، وَإِيَّاكَ وَعُقُوقَهُمَا؛ فَإِنَّهُ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ... فَعَلَيْكَ بِابْتِغَاءِ مَرْضَاتِهِمَا، وَامْتِثَالِ أَمْرِهِمَا مَا لَمْ يَكُنْ مَعْصِيَةً، وَاجْتِنَابِ نَهْيِهِمَا مَا لَمْ يَكُنْ طَاعَةً وَاجِبَةً، وَبِإِيثَارِهِمَا عَلَىٰ نَفْسِكَ وَتَقْدِيمِ مُهِمَّاتِهِمَا عَلَىٰ مُهِمَّاتِكَ. وَمِنَ الْعُقُوقِ أَنْ تُؤْذِيَهُمَا بِقَطْعِ مَا تَسْتَطِيعُ إِيصَالَهُ مِنَ الْمَعْرُوفِ إِلَيْهِمَا، فَكَيْفَ بِتَقْطِيبِ الْوَجْهِ وَالِانْتِهَارِ لَهُمَا».
"Dan wajib bagimu berbakti kepada kedua orang tua; karena sesungguhnya ia termasuk kewajiban yang paling wajib, dan berhati-hatilah engkau dari durhaka kepada keduanya; karena sesungguhnya ia termasuk dosa yang paling besar... Maka wajib bagimu mencari keridhaan keduanya, mematuhi perintah keduanya selama bukan maksiat, menjauhi larangan keduanya selama bukan kewajiban agama, mengutamakan keduanya di atas dirimu sendiri, serta mendahulukan urusan-urusan keduanya di atas urusan-urusan pentingmu. Dan termasuk durhaka adalah engkau menyakiti keduanya dengan memutuskan kebaikan yang sanggup engkau haturkan kepada keduanya, maka terlebih lagi dengan bermuka masam dan membentak keduanya!" (Risalatul Mu'awanah, hlm. cetakan 132 [hlm. file PDF 132])[11][12]

Lebih lanjut, pada halaman 132–133, Imam Al-Haddad memberikan nasihat yang sangat relevan untuk mencairkan kesenjangan generasi: beliau menganjurkan para orang tua untuk mempermudah anak-anaknya berbakti dengan tidak menuntut hak secara berlebihan di zaman yang penuh fitnah ini, mengutip sabda Nabi SAW: Rahimallahu walidan a'ana waladahu 'ala birrihi (Semoga Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya untuk berbakti kepadanya)[13].

4.2. An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah — Karya Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad

Dalam bab Huququl Walidain (hlm. cetakan 280–284 [hlm. file PDF 280–284]), Imam Al-Haddad menguraikan adab batiniah yang melenyapkan rasa canggung:

«وَبِالْجُمْلَةِ فَحَقُّ الْوَالِدَيْنِ أَعْظَمُ الْحُقُوقِ بَعْدَ حَقِّ اللَّهِ وَحَقِّ رَسُولِهِ؛ فَعَلَيْكَ بِبِرِّهِمَا وَبِالْإِحْسَانِ إِلَيْهِمَا، وَبِطَاعَتِهِمَا وَخَفْضِ الْجَنَاحِ لَهُمَا، وَبِتَقْدِيمِهِمَا فِي الْبِرِّ وَالصِّلَةِ وَالْمَعْرُوفِ عَلَىٰ نَفْسِكَ وَعَلَىٰ أَهْلِكَ وَأَوْلَادِكَ؛ مِنْ غَيْرِ مِنَّةٍ عَلَيْهِمَا وَلَا اسْتِثْقَالٍ لَهُمَا، وَعُدَّ حَاجَتَهُمَا إِلَيْكَ وَرَغْبَتَهُمَا فِي بِرِّكَ وَخِدْمَتِكَ إِيَّاهُمَا مِنْ أَعْظَمِ مَا مَنَّ اللَّهُ بِهِ عَلَيْكَ، وَوَفَّقَكَ لَهُ».
"Dan secara ringkas, hak kedua orang tua adalah hak paling agung setelah hak Allah dan hak Rasul-Nya; maka wajib bagimu berbakti kepada keduanya, berbuat ihsan kepada keduanya, mematuhi keduanya, merendahkan sayap kerendahan hati di hadapan keduanya, serta mendahulukan keduanya dalam kebaikan dan nafkah di atas dirimu sendiri, pasanganmu, dan anak-anakmu; tanpa merasa berjasa atas keduanya dan tanpa merasa berat melayani keduanya. Dan anggaplah kebutuhan serta harapan keduanya terhadap baktimu sebagai karunia terbesar yang Allah anugerahkan kepadamu dan taufik yang diberikan-Nya untukmu." (An-Nasha'ihud Diniyyah, hlm. cetakan 283 [hlm. file PDF 283])[17]

Beliau juga menegaskan bahwa bakti kepada ibu adalah berlipat ganda dibanding ayah karena beratnya kepayahan saat mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawat anak dengan limpahan kasih sayang (hlm. cetakan 283 [hlm. file PDF 283])[7].

4.3. Al-Arba'in fi Ushulid Din — Karya Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali (450–505 H)

Dalam Al-Ashlut Tsamin fil Qiyam bi Huquqil Muslimin (hlm. cetakan 45–48 [hlm. file PDF 45–48]), Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa merendahkan diri di hadapan orang tua merupakan instrumen tazkiyatun nufus yang paling efektif untuk menghancurkan keangkuhan jiwa (kibr):

«وَأَعْظَمُ حُقُوقِ الْمُعَاشَرَةِ حَقُّ الْوَالِدَيْنِ؛ فَإِنَّ التَّوَاضُعَ لَهُمَا وَخَفْضَ الْجَنَاحِ أَمْرٌ أَوْجَبَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِكَسْرِ كِبْرِ النَّفْسِ وَتَزْكِيَتِهَا... وَمِنْ حُسْنِ الصُّحْبَةِ أَنْ تَحْتَمِلَ أَذَىٰ مَنْ تُصَاحِبُهُ وَلَا سِيَّمَا الْوَالِدَيْنِ عِنْدَ كِبَرِ سِنِّهِمَا، وَأَنْ تُقَابِلَ إِسَاءَتَهُمَا بِالْإِحْسَانِ، وَلَا تَمْتَنَّ عَلَيْهِمَا بِبِرٍّ أَوْ نَفَقَةٍ».
"Dan hak pergaulan yang paling agung adalah hak kedua orang tua; sesungguhnya bersikap tawadhu' kepada keduanya dan merendahkan sayap kerendahan hati adalah perkara yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala demi mematahkan kesombongan jiwa dan menyucikannya... Dan termasuk pergaulan yang baik adalah engkau bersabar menanggung hal yang tidak menyenangkan dari orang yang engkau temani, terlebih lagi kedua orang tua saat lanjut usianya, membalas kekhilafan keduanya dengan kebaikan, dan tidak mengungkit-ungkit pemberian nafkah kepada keduanya." (Al-Arba'in fi Ushulid Din, hlm. cetakan 45 & 47–48 [hlm. file PDF 45 & 47–48])[19][20]

4.4. Kitabul Hikam Al-Haddadiyyah — Karya Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad

Dalam Kitabul Hikam (hlm. cetakan 9–15 [hlm. file PDF 9–15]), Imam Al-Haddad memberikan bimbingan bagi pemuda yang ingin mengajak orang tuanya menuju kebaikan tanpa menggurui: dakwah di dalam keluarga harus mengedepankan keteladanan budi pekerti (lisanul hal) daripada kepandaian berdebat (lisanul maqal)[23]. Ketika seorang anak menunjukkan perubahan akhlak yang santun, ringan tangan membantu, dan wajah yang berseri-seri, hati orang tua akan luluh dan rasa canggung akan sirna dengan sendirinya.

4.5. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh — Karya Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu

Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu dalam Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (hlm. cetakan 43–50 & 105–118 [hlm. file PDF 44–51 & 106–119]) membedah ayat larangan berkata 'ah' melalui kaidah ushul Mafhumul Muwafaqah (Fahwal Khithab): jika ucapan remeh seperti 'ah/uff' saja diharamkan secara qath'i karena menyakiti hati orang tua, maka membentak, mendebat dengan nada tinggi, atau mengabaikan orang tua hukumnya jauh lebih haram secara mutlak[24]. Beliau juga menegaskan bahwa pemeliharaan keharmonisan nasab dan hak orang tua termasuk dalam kategori Maqashidusy Syari'ah Adh-Dharuriyyah (tujuan primer syariat) yang wajib dijaga dengan menutup seluruh pintu (sadduz dzari'ah) yang dapat memicu kedurhakaan[25][26].

5. SOP: Bagan Alur 4 Tahap Komunikasi Santun & Berbakti Tanpa Canggung

Untuk mentransformasikan nilai birrul walidain menjadi protokol interaksi yang luwes, santun, dan bebas canggung dalam keseharian anak muda, ikuti bagan alur vertikal empat tahap berbasis murni CSS berikut:

Tahap 1 Al-Inshat al-Waqur (Menyimak Penuh Adab & Tanpa Distraksi)

Ketika orang tua berbicara atau memberi nasihat, letakkan gawai (smartphone) dalam posisi terbalik, tatap wajah keduanya dengan sorot mata penuh takzim, dan jangan pernah memotong pembicaraan sebelum selesai. Praktik active listening ini merupakan wujud nyata memuliakan orang tua sebagaimana kaidah Al-Arba'in (hlm. cetakan 45 [hlm. file PDF 45])[19].

↓
Tahap 2 Khafdhul Janah (Validasi Emosional & Kelembutan Bahasa Tubuh)

Rendahkan intonasi suara agar selalu berada di bawah intonasi suara orang tua. Anggukkan kepala sebagai tanda memahami perasaan mereka ("Iya Bu/Pak, saya mengerti kekhawatiran Ibu/Bapak"). Singkirkan ekspresi defensif atau muka masam (Risalatul Mu'awanah, hlm. cetakan 132 [hlm. file PDF 132])[12].

↓
Tahap 3 Al-Qaulul Karim (Komunikasi Asertif-Santun saat Berbeda Pendapat)

Jika memiliki pandangan berbeda mengenai pilihan karier atau studi, sampaikan dengan tutur kata yang mulia (qaulan karima). Awali dengan memohon doa restu: "Niat saya ingin membahagiakan Bapak/Ibu, izinkan saya menjelaskan pertimbangan ini secara perlahan, dan mohon bimbingan serta ridha Bapak/Ibu" (An-Nasha'ihud Diniyyah, hlm. cetakan 283 [hlm. file PDF 283])[17].

↓
Tahap 4 Khidmah Mubasyirah (Tindakan Nyata Pencair Kecanggungan)

Runtuhkan dinding kecanggungan melalui aksi fisik konkret: cium tangan mereka saat bertemu dan berpamitan, bawakan makanan/camilan kesukaan tanpa diminta, tawarkan bantuan memijat punggung/kaki yang pegal, serta selipkan doa tulus di setiap sujud salat Anda (Risalatul Mu'awanah, hlm. cetakan 133 [hlm. file PDF 133])[14].

6. Kaidah Ushul & Kaidah Fikih / Manajemen Adab Keluarga

Bangunan etika berbakti kepada orang tua dalam syariat Islam ditegakkan di atas empat kaidah ushul dan fikih yang sangat presisi:

1. Adh-Dhararu Yuzal (الضَّرَرُ يُزَالُ): Kemudaratan wajib dihilangkan. Menyakiti perasaan orang tua, baik melalui kata-kata sinis, tatapan merendahkan, maupun pengabaian komunikasi, adalah kemudaratan batin yang diharamkan syariat dan wajib segera dihilangkan dengan meminta maaf secara tulus (Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh, hlm. cetakan 105–108 [hlm. file PDF 106–109])[25].

2. Dar'ul Mafasidi Muqaddamun 'ala Jalbil Mashalih (دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصَالِحِ): Menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengejar kemaslahatan. Menjaga keridhaan orang tua dan menghindari perdebatan sengit di rumah harus lebih diutamakan daripada memaksakan kehendak atau ego pribadi yang belum tentu membawa keberkahan[26].

3. Tahrimul Adna Yadullu 'ala Tahrimil A'la (تَحْرِيمُ الْأَدْنَىٰ يَدُلُّ عَلَىٰ تَحْرِيمِ الْأَعْلَىٰ — Fahwal Khithab): Pengharaman perkara yang paling remeh menunjukkan pengharaman perkara yang lebih besar secara lebih kuat. Jika mengucapkan kata 'ah' (uff) saja diharamkan oleh Al-Qur'an, maka membentak, mendebat secara kasar, atau menelantarkan orang tua hukumnya haram mutlak dengan dosa yang berlipat ganda (Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh, hlm. cetakan 50 [hlm. file PDF 51])[24].

4. La Tha'ata li Makhluqin fi Ma'shiyatil Khaliq (لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ): Tiada ketaatan kepada makhluk dalam perkara maksiat kepada Sang Khalik. Jika orang tua memerintahkan perbuatan syirik atau pelanggaran syariat yang nyata, anak tidak boleh menaatinya dalam hal maksiat tersebut, namun wajib tetap mempergauli keduanya di dunia dengan cara yang ma'ruf, santun, dan penuh kasih sayang sebagaimana ketentuan QS. Luqman ayat 15[11].

7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja: Protokol Berbakti di Era Digital

Bagaimana menerapkan nilai-nilai luhur turats di atas ke dalam rutinitas keseharian anak muda masa kini? Berikut protokol aplikatif yang dapat langsung dipraktikkan:

  1. Protokol Pesan WhatsApp & Panggilan Telepon: Jadikan membalas pesan orang tua sebagai prioritas (fast response). Ketika orang tua mengirimkan artikel atau video dakwah/kesehatan, jangan dikritik secara ketus atau diabaikan; berikan respons hangat seperti: "Terima kasih banyak nasihatnya ya Bu/Pak, semoga Ibu/Bapak selalu sehat dan dilindungi Allah." Sempatkan melakukan panggilan telepon atau video call minimal 2–3 kali sepekan bagi yang tinggal terpisah (anak kos/rantau)[14][29].
  2. Mencairkan Kecanggungan lewat Sentuhan Kecil & Hadiah Sederhana: Hilangkan rasa kaku dengan membiasakan ritual fisik: cium tangan orang tua dengan menempelkannya ke hidung/pipi, rangkul pundak mereka saat duduk bersama, atau belikan makanan kesukaan mereka sepulang kuliah/kerja tanpa perlu menunggu momen ulang tahun. Perhatian kecil ini meluluhkan sekat emosional jauh lebih efektif daripada kata-kata puitis[17].
  3. Menyikapi Perbedaan Pandangan Hidup secara Terhormat: Ketika menghadapi perbedaan pilihan karier atau jodoh, jangan langsung berdebat di meja makan. Beri jeda waktu, buatkan teh hangat, dan ajak bicara di saat suasana hati orang tua sedang tenang. Gunakan formula: dengarkan 80%, sampaikan 20%, dan selalu tutup dengan permohonan doa restu[17][28].
  4. Menjaga Keberlanjutan Bakti Pasca Orang Tua Wafat: Bagi yang salah satu atau kedua orang tuanya telah berpulang ke rahmatullah, pintu bakti tidak pernah tertutup. Lanjutkan bakti melalui: (1) Memohonkan ampunan dan istighfar bagi mereka di setiap salat; (2) Menunaikan janji atau wasiat yang belum sempat mereka selesaikan; (3) Menyambung silaturahmi dengan kerabat dan sahabat-sahabat dekat orang tua; serta (4) Bersedekah jariyah atas nama mereka (An-Nasha'ihud Diniyyah, hlm. 280–284)[15][30].

8. Self-Assessment Checklist Evaluasi Birrul Walidain Harian

Gunakan daftar evaluasi mandiri interaktif berikut secara berkala untuk menakar kualitas adab dan bakti Anda kepada orang tua:

Catatan Kaki (Footnotes) & Ibaroh Kitab Turats Terverifikasi

  1. Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Isra' [17] ayat 23–24. Perintah qath'i untuk berbuat ihsan kepada kedua orang tua, larangan mengucapkan perkataan kasar walaupun sekadar 'ah' (uff), dan perintah merendahkan diri dengan penuh kasih sayang; dirujuk dalam An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1, Bab Huququl Walidain, hlm. cetakan 280 [hlm. file PDF 280]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ۝ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا﴾ ↑ Kembali ke Teks
  2. Al-Qur'an al-Karim, Surah Luqman [31] ayat 14. Penggandengan antara perintah bersyukur kepada Allah dengan bersyukur kepada kedua orang tua, serta pengingat atas beratnya perjuangan ibu saat mengandung dan menyapih; dirujuk dalam Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fi Wujubi Birril Walidaini wa Hurmati 'Uquqihima, hlm. cetakan 132 [hlm. file PDF 132]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ﴾ ↑ Kembali ke Teks
  3. Al-Qur'an al-Karim, Surah An-Nisa' [4] ayat 36. Perintah berbuat baik kepada orang tua yang diletakkan langsung setelah perintah menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya; dirujuk dalam An-Nasha'ihud Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 281 [hlm. file PDF 281]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾ ↑ Kembali ke Teks
  4. Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Ahqaf [46] ayat 15. Doa kematangan usia bagi seorang anak agar senantiasa mensyukuri nikmat pengasuhan orang tua dan memohon kesalehan bagi keturunan; dirujuk dalam An-Nasha'ihud Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 281 [hlm. file PDF 281]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا﴾ ↑ Kembali ke Teks
  5. Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari) (berkas PDF: Noor-Book.com صَحِيحُ الْبُخَارِيِّ.pdf), Kitab Mawaqitish Shalah, no. 527; dan Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 85 (dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu). Penegasan bahwa birrul walidain merupakan amalan paling dicintai Allah setelah shalat tepat waktu; dirujuk dalam An-Nasha'ihud Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 281 [hlm. file PDF 281]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ: أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ فَقَالَ: «الصَّلَاةُ لِوَقْتِهَا». قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «بِرُّ الْوَالِدَيْنِ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ» ↑ Kembali ke Teks
  6. At-Tirmidzi, Muhammad bin 'Isa. Sunan At-Tirmidzi, Kitabul Birri wash Shilah, no. 1899; Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban, no. 429 (dari sahabat Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma; dishahihkan oleh Al-Hakim). Keterkaitan mutlak antara ridha Allah dengan ridha kedua orang tua; dirujuk dalam An-Nasha'ihud Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 281 [hlm. file PDF 281]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ» ↑ Kembali ke Teks
  7. Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari) (berkas PDF: Noor-Book.com صَحِيحُ الْبُخَارِيِّ.pdf), Kitabul Adab, Bab Man Ahaqqun Nasi bi Husni Shahabati, no. 5971; dan Muslim, Shahih Muslim, no. 2548 (dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Hak penghormatan dan persahabatan terbaik bagi ibu sebanyak tiga kali lipat dibanding ayah; dirujuk dalam An-Nasha'ihud Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 283 [hlm. file PDF 283]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَىٰ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ». قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «أُمُّكَ». قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «أُمُّكَ». قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «أَبُوكَ» ↑ Kembali ke Teks
  8. Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari) (berkas PDF: Noor-Book.com صَحِيحُ الْبُخَارِيِّ.pdf), Kitabul Jihad was Siyar, no. 3004; dan Muslim, no. 2549 (dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma). Kewajiban berkhidmat kepada orang tua didahulukan daripada jihad tathawwu' (sunnah); dirujuk dalam An-Nasha'ihud Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 282 [hlm. file PDF 282]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَىٰ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَسْتَأْذِنُهُ فِي الْجِهَادِ، فَقَالَ: «أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟» قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: «فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ» ↑ Kembali ke Teks
  9. Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. Sunan Ibni Majah, Kitabul Adab, Bab Birril Walidain, no. 3662 (dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu 'anhu). Hakikat kedudukan orang tua sebagai pintu surga atau jurang neraka bagi seorang anak; dirujuk dalam An-Nasha'ihud Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 282 [hlm. file PDF 282]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا حَقُّ الْوَالِدَيْنِ عَلَىٰ وَلَدِهِمَا؟ قَالَ: «هُمَا جَنَّتُكَ وَنَارُكَ» ↑ Kembali ke Teks
  10. Muslim bin Al-Hajjaj, Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim), Kitabul Birri wash Shilah, no. 2551 (dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Celakalah anak yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya telah lanjut usia namun tidak menjadikannya sarana meraih surga; dirujuk dalam An-Nasha'ihud Diniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 282 [hlm. file PDF 282]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ» ↑ Kembali ke Teks
  11. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fi Wujubi Birril Walidaini wa Hurmati 'Uquqihima, hlm. cetakan 132 [hlm. file PDF 132]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٣٢ [PDF ص ١٣٢]): «وَعَلَيْكَ بِبِرِّ الْوَالِدَيْنِ؛ فَإِنَّهُ مِنْ أَوْجَبِ الْوَاجِبَاتِ، وَإِيَّاكَ وَعُقُوقَهُمَا؛ فَإِنَّهُ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ... فَعَلَيْكَ بِابْتِغَاءِ مَرْضَاتِهِمَا، وَامْتِثَالِ أَمْرِهِمَا مَا لَمْ يَكُنْ مَعْصِيَةً، وَاجْتِنَابِ نَهْيِهِمَا مَا لَمْ يَكُنْ طَاعَةً وَاجِبَةً، وَبِإِيثَارِهِمَا عَلَىٰ نَفْسِكَ وَتَقْدِيمِ مُهِمَّاتِهِمَا عَلَىٰ مُهِمَّاتِكَ» ↑ Kembali ke Teks
  12. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fi Wujubi Birril Walidain, hlm. cetakan 132 [hlm. file PDF 132]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٣٢ [PDF ص ١٣٢]): «وَمِنَ الْعُقُوقِ أَنْ تُؤْذِيَهُمَا بِقَطْعِ مَا تَسْتَطِيعُ إِيصَالَهُ مِنَ الْمَعْرُوفِ إِلَيْهِمَا، فَكَيْفَ بِتَقْطِيبِ الْوَجْهِ وَالِانْتِهَارِ لَهُمَا، فَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «يُوجَدُ رِيحُ الْجَنَّةِ مِنْ مَسِيرَةِ أَلْفِ عَامٍ، وَلَا يَجِدُهُ عَاقٌّ، وَلَا قَاطِعُ رَحِمٍ»» ↑ Kembali ke Teks
  13. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fi I'anatul Walid li Waladihi 'ala Birrihi, hlm. cetakan 132–133 [hlm. file PDF 132–133]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٣٢–١٣٣ [PDF ص ١٣٢–١٣٣]): «وَيَنْبَغِي لِلْوَالِدِ أَنْ يُعِينَ وَلَدَهُ عَلَىٰ بِرِّهِ بِعَدَمِ الِاسْتِقْصَاءِ عَلَيْهِ فِي طَلَبِ الْحُقُوقِ، وَلَا سِيَّمَا فِي هٰذَا الزَّمَانِ الَّذِي عَزَّ فِيهِ وُجُودُ الْبِرِّ وَعَمَّ فِيهِ وُجُودُ الشَّرِّ، وَصَارَ الْوَالِدُ يُعَدُّ أَبَرَّ أَوْلَادِهِ مَنْ لَمْ يُسِئْ إِلَيْهِ مِنْهُمْ، وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «رَحِمَ اللَّهُ وَالِدًا أَعَانَ وَلَدَهُ عَلَىٰ بِرِّهِ»» ↑ Kembali ke Teks
  14. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fi Silatir Rahim wal Ihsan ilal Jiran, hlm. cetakan 133 [hlm. file PDF 133]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٣٣ [PDF ص ١٣٣]): «وَلَا تَتِمُّ صِلَةُ الْأَرْحَامِ وَالْإِحْسَانُ إِلَى الْجِيرَانِ إِلَّا بِكَفِّ الْأَذَىٰ عَنْهُمْ، وَاحْتِمَالِ الْأَذَىٰ مِنْهُمْ، وَبَذْلِ الْمَعْرُوفِ حَسَبَ الِاسْتِطَاعَةِ لَهُمْ. وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، إِنَّمَا الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا»» ↑ Kembali ke Teks
  15. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1, Bab Huququl Walidain, hlm. cetakan 280 [hlm. file PDF 280]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٢٨٠ [PDF ص ٢٨٠]): «وَاعْلَمُوا مَعَاشِرَ الْإِخْوَانِ أَنَّ بِرَّ الْوَالِدَيْنِ، وَصِلَةَ الْأَرْحَامِ وَالْأَقْرَبِينَ... كُلُّ ذٰلِكَ مِمَّا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ وَحَثَّ عَلَيْهِ، وَرَغَّبَ فِيهِ وَنَدَبَ إِلَيْهِ، وَنَهَىٰ عَنْ تَرْكِهِ وَإِغْفَالِهِ، وَتَوَعَّدَ عَلَىٰ إِضَاعَتِهِ وَإِهْمَالِهِ» ↑ Kembali ke Teks
  16. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1, Bab Huququl Walidain, hlm. cetakan 282 [hlm. file PDF 282]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٢٨٢ [PDF ص ٢٨٢]): «وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «بَرُّوا آبَاءَكُمْ تَبَرَّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ، وَعِفُّوا عَنْ نِسَاءِ النَّاسِ تَعِفَّ نِسَاؤُكُمْ»، وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمُرِهِ، وَيُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ؛ فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ، وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»» ↑ Kembali ke Teks
  17. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1, Bab Huququl Walidain, hlm. cetakan 283 [hlm. file PDF 283]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٢٨٣ [PDF ص ٢٨٣]): «وَبِالْجُمْلَةِ فَحَقُّ الْوَالِدَيْنِ أَعْظَمُ الْحُقُوقِ بَعْدَ حَقِّ اللَّهِ وَحَقِّ رَسُولِهِ؛ فَعَلَيْكَ بِبِرِّهِمَا وَبِالْإِحْسَانِ إِلَيْهِمَا، وَبِطَاعَتِهِمَا وَخَفْضِ الْجَنَاحِ لَهُمَا، وَبِتَقْدِيمِهِمَا فِي الْبِرِّ وَالصِّلَةِ وَالْمَعْرُوفِ عَلَىٰ نَفْسِكَ وَعَلَىٰ أَهْلِكَ وَأَوْلَادِكَ؛ مِنْ غَيْرِ مِنَّةٍ عَلَيْهِمَا وَلَا اسْتِثْقَالٍ لَهُمَا» ↑ Kembali ke Teks
  18. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF: alnnsahuh-alddinih.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1, Bab Huququl Aulad, hlm. cetakan 284–285 [hlm. file PDF 284–285]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٢٨٤–٢٨٥ [PDF ص ٢٨٤–٢٨٥]): «مَبْحَثُ حُقُوقِ الْأَوْلَادِ: وَيَجِبُ عَلَى الْآبَاءِ وَالْأُمَّهَاتِ الْقِيَامُ بِتَأْدِيبِ أَوْلَادِهِمْ وَتَعْلِيمِهِمْ مَا يَحْتَاجُونَ إِلَيْهِ فِي دِينِهِمْ... وَمُعَامَلَتُهُمْ بِالرِّفْقِ وَالشَّفَقَةِ، وَتَرْكُ الْعُنْفِ وَالْغِلْظَةِ» ↑ Kembali ke Teks
  19. Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Al-Arba'in fi Ushulid Din (berkas PDF: al-arbain-ghazali.pdf). Kairo/Tehran: Markaz Tahqiqat, Al-Ashlut Tsamin: Fil Qiyam bi Huquqil Muslimin wa Husnish Shuhbah, hlm. cetakan 45 [hlm. file PDF 45]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٤٥ [PDF ص ٤٥]): «الْأَصْلُ الثَّامِنُ: فِي الْقِيَامِ بِحُقُوقِ الْمُسْلِمِينَ وَحُسْنِ الصُّحْبَةِ مَعَهُمْ... وَأَعْظَمُ حُقُوقِ الْمُعَاشَرَةِ حَقُّ الْوَالِدَيْنِ؛ فَإِنَّ التَّوَاضُعَ لَهُمَا وَخَفْضَ الْجَنَاحِ أَمْرٌ أَوْجَبَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِكَسْرِ كِبْرِ النَّفْسِ وَتَزْكِيَتِهَا» ↑ Kembali ke Teks
  20. Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Al-Arba'in fi Ushulid Din (berkas PDF: al-arbain-ghazali.pdf). Kairo/Tehran: Markaz Tahqiqat, Al-Ashlut Tsamin, hlm. cetakan 47–48 [hlm. file PDF 47–48]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٤٧–٤٨ [PDF ص ٤٧–٤٨]): «وَمِنْ حُسْنِ الصُّحْبَةِ أَنْ تَحْتَمِلَ أَذَىٰ مَنْ تُصَاحِبُهُ وَلَا سِيَّمَا الْوَالِدَيْنِ عِنْدَ كِبَرِ سِنِّهِمَا، وَأَنْ تُقَابِلَ إِسَاءَتَهُمَا بِالْإِحْسَانِ، وَلَا تَمْتَنَّ عَلَيْهِمَا بِبِرٍّ أَوْ نَفَقَةٍ» ↑ Kembali ke Teks
  21. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Kitabul Hikam (Al-Hikam Al-Haddadiyyah) (berkas PDF: alhikam.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1418 H / 1998 M, Hikmah tentang Peringatan Batin dan Menjaga Kelembutan Hati, hlm. cetakan 9 [hlm. file PDF 9]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٩ [PDF ص ٩]): «وَقَالَ: النَّائِمُ يُوقَظُ، وَالْغَافِلُ يُذَكَّرُ. وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فِيهِ التَّذْكِيرُ وَالتَّنْبِيهُ فَهُوَ مَيِّتٌ. إِنَّمَا تَنْفَعُ الْمَوْعِظَةُ مَنْ أَقْبَلَ عَلَيْهَا بِقَلْبِهِ» ↑ Kembali ke Teks
  22. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Kitabul Hikam (Al-Hikam Al-Haddadiyyah) (berkas PDF: alhikam.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1418 H / 1998 M, Hikmah tentang Menundukkan Nafsu dan Melatih Akhlak Mulia, hlm. cetakan 11 [hlm. file PDF 11]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١١ [PDF ص ١١]): «وَقَالَ: إِنْ شِئْتَ أَنْ تَكُونَ حُرًّا فَاتْرُكْ كُلَّ أَمْرٍ، إِنْ لَمْ تَتْرُكْهُ اخْتِيَارًا تَرَكْتَهُ اضْطِرَارًا. وَقَالَ: مَنْ أَشْغَلَهُ حَقُّ رَبِّهِ عَنْ حُقُوقِ نَفْسِهِ وَحُقُوقِ إِخْوَانِهِ، فَهُوَ عَبْدُ الْحَضْرَةِ» ↑ Kembali ke Teks
  23. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Kitabul Hikam (Al-Hikam Al-Haddadiyyah) (berkas PDF: alhikam.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1418 H / 1998 M, Hikmah tentang Keselarasan Ucapan dan Perbuatan dalam Dakwah Keluarga, hlm. cetakan 15 [hlm. file PDF 15]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٥ [PDF ص ١٥]): «وَقَالَ: لَا يَكْمُلُ حَالُ الدَّاعِي إِلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَتَّىٰ يَصِيرَ قَوْلُهُ وَفِعْلُهُ حُجَّةً عَلَىٰ جَمِيعِ الْمُؤْمِنِينَ. وَقَالَ: إِذَا رَأَيْتَ الْعَالِمَ يُفِيدُ بِقَوْلِهِ دُونَ فِعْلِهِ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ نَاقِصٌ» ↑ Kembali ke Teks
  24. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1, 1442 H / 2021 M, Bab Dalalatul Alfazh: Mafhumul Muwafaqah (Fahwal Khithab), hlm. cetakan 50 [hlm. file PDF 51]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٥٠ [PDF ص ٥١]): «مَفْهُومُ الْمُوَافَقَةِ: هُوَ دَلَالَةُ اللَّفْظِ عَلَىٰ ثُبُوتِ حُكْمِ الْمَنْطُوقِ بِهِ لِلْمَسْكُوتِ عَنْهُ لِاشْتِرَاكِهِمَا فِي عِلَّةِ الْحُكْمِ... كَدَلَالَةِ تَحْرِيمِ التَّأْفِيفِ فِي قَوْلِهِ تَعَالَىٰ: ﴿فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ﴾ عَلَىٰ تَحْرِيمِ الضَّرْبِ وَالشَّتْمِ بِطَرِيقِ الْأَوْلَىٰ، وَهُوَ الْمُسَمَّىٰ بِفَحْوَى الْخِطَابِ» ↑ Kembali ke Teks
  25. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1, 1442 H / 2021 M, Bab Maqashidusy Syari'ah: Hifzhun Nasl wal 'Irdh, hlm. cetakan 105–108 [hlm. file PDF 106–109]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٠٥–١٠٨ [PDF ص ١٠٦–١٠٩]): «الْمَقَاصِدُ الشَّرْعِيَّةُ الضَّرُورِيَّةُ خَمْسَةٌ: حِفْظُ الدِّينِ، وَالنَّفْسِ، وَالْعَقْلِ، وَالنَّسْلِ، وَالْمَالِ... وَحِفْظُ النَّسْلِ وَالْعِرْضِ يَقْتَضِي شَرْعًا صِيَانَةَ رَوَابِطِ الْأُسْرَةِ وَبِرَّ الْوَالِدَيْنِ وَتَحْرِيمَ الْعُقُوقِ» ↑ Kembali ke Teks
  26. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1, 1442 H / 2021 M, Bab Al-Adillatul Mukhtalaf Fiha: Sadduz Dzari'ah, hlm. cetakan 114–118 [hlm. file PDF 115–119]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١١٤–١١٨ [PDF ص ١١٥–١١٩]): «وَسَدُّ الذَّرَائِعِ: مَنْعُ الْوَسَائِلِ الْمُؤَدِّيَةِ إِلَى الْمَفَاسِدِ؛ فَكُلُّ خِلَافٍ أَوْ تَقْطِيبِ وَجْهٍ يُفْضِي إِلَىٰ إِيذَاءِ الْوَالِدَيْنِ فَهُوَ مَمْنُوعٌ شَرْعًا لِسَدِّ بَابِ الْعُقُوقِ» ↑ Kembali ke Teks
  27. Al-Khin, Musthafa; Al-Bugha, Musthafa; Asy-Syirbaji, Ali. Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF: الْفِقْهُ الْمَنْهَجِيُّ عَلَىٰ مَذْهَبِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ 1.pdf). Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M, Juz 1, Kaidah Raf'ul Haraj wat Taisir, hlm. cetakan 43 [hlm. file PDF 43]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ج ١، ص ٤٣ [PDF ص ٤٣]): «إِلَّا أَنَّ الدِّينَ رَاعَى الْيُسْرَ، وَعَدَمَ الْحَرَجِ... تَسْهِيلًا عَلَى النَّاسِ، وَرَفْعًا لِلْحَرَجِ عَنْهُمْ» ↑ Kembali ke Teks
  28. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fi Hifzhil Lisan wa Adabil Hadits, hlm. cetakan 83 [hlm. file PDF 83]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٨٣ [PDF ص ٨٣]): «وَعَلَيْكَ بِحِفْظِ لِسَانِكَ عَنِ الْخَوْضِ فِيمَا لَا يَعْنِيكَ، وَعَنِ الْفُحْشِ وَالْخَنَا، وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ، وَالْمِرَاءِ وَالْجِدَالِ؛ فَإِنَّ الْجِدَالَ يُورِثُ الضَّغِينَةَ وَيُفْسِدُ الْأُلْفَةَ» ↑ Kembali ke Teks
  29. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fi Wujubir Rifqi wa Husnil Mu'amalah lil-Ahli war-Ra'iyyah, hlm. cetakan 130 [hlm. file PDF 130]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ١٣٠ [PDF ص ١٣٠]): «وَعَلَيْكَ بِالرِّفْقِ وَحُسْنِ الْمُعَامَلَةِ لِأَهْلِكَ وَعِيَالِكَ وَمَنْ تَحْتَ يَدِكَ؛ فَإِنَّ الرِّفْقَ مَا كَانَ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ» ↑ Kembali ke Teks
  30. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Ad-Da'wah At-Tammah wat Tadzkirah Al-'Ammah (berkas PDF: alddawoh-alttammh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, Khatimah fi Adabil Mu'asyarah, hlm. cetakan 300 [hlm. file PDF 300]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٣٠٠ [PDF ص ٣٠٠]): «خَاتِمَةٌ: وَمِنْ أَعْظَمِ أَدَبِ الْمُعَاشَرَةِ الصَّبْرُ عَلَى الْوَالِدَيْنِ عِنْدَ كِبَرِهِمَا، وَتَرْكُ التَّضَجُّرِ مِنْ سُؤَالِهِمَا، وَالِاجْتِهَادُ فِي إِدْخَالِ السُّرُورِ عَلَىٰ قُلُوبِهِمَا» ↑ Kembali ke Teks
  31. Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF: khulasahusulfiqh.pdf). Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1, 1442 H / 2021 M, Bab Dalalatul Alfazh: Al-Amru wan Nahyu, hlm. cetakan 43–45 [hlm. file PDF 44–46]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٤٣–٤٥ [PDF ص ٤٤–٤٦]): «صِيغَةُ الْأَمْرِ إِذَا جَرَّدَتْ عَنِ الْقَرَائِنِ تَقْتَضِي الْوُجُوبَ، وَالْأَمْرُ بِالْإِحْسَانِ إِلَى الْوَالِدَيْنِ أَمْرٌ جَازِمٌ يَقْتَضِي الْفَرْضِيَّةَ الشَّرْعِيَّةَ» ↑ Kembali ke Teks
  32. Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF: resalat-almoawnh.pdf). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fi Luzumil Qashdi wad Dawami 'alal 'Amal, hlm. cetakan 36 [hlm. file PDF 36]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ (ص ٣٦ [PDF ص ٣٦]): «وَعَلَيْكَ بِلُزُومِ الْقَصْدِ فِي أُمُورِكَ كُلِّهَا، وَالدَّوَامِ عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَإِنْ قَلَّتْ، فَإِنَّ خَيْرَ الْعَمَلِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ» ↑ Kembali ke Teks

Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)

  • Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. (256 H). Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Al-Mathba'ah As-Salafiyyah.
  • Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. (505 H). Al-Arba'in fi Ushulid Din. Kairo/Tehran: Markaz Tahqiqat Al-Ulum Al-Islamiyyah.
  • Al-Haddad, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi'i. (1132 H). Ad-Da'wah At-Tammah wat Tadzkirah Al-'Ammah. Beirut: Dar Al-Hawi.
  • Al-Haddad, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi'i. (1132 H). An-Nasha'ihud Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah. Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1.
  • Al-Haddad, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi'i. (1132 H). Kitabul Hikam (Al-Hikam Al-Haddadiyyah). Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1418 H / 1998 M.
  • Al-Haddad, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Hadhrami Asy-Syafi'i. (1132 H). Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah. Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M.
  • Al-Khin, Musthafa; Al-Bugha, Musthafa; Asy-Syirbaji, Ali. (1413 H / 1992 M). Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i. Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, Juz 1.
  • At-Tirmidzi, Muhammad bin 'Isa. (279 H). Sunan At-Tirmidzi (Al-Jami' Al-Kabir). Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir. Kairo: Musthafa Al-Babi Al-Halabi.
  • Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. (1442 H / 2021 M). Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh. Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1.
  • Ibnu Hibban, Muhammad bin Hibban Al-Busti. (354 H). Al-Ihsan fi Taqrib Shahih Ibni Hibban. Tahqiq: Syu'aib Al-Arnauth. Beirut: Mu'assasah Ar-Risalah.
  • Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. (273 H). Sunan Ibni Majah. Tahqiq: Muhammad Fu'ad Abdul Baqi. Kairo: Dar Ihya' Al-Kutub Al-'Arabiyyah.
  • Muslim, Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi. (261 H). Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim). Tahqiq: Muhammad Fu'ad Abdul Baqi. Kairo: Dar Ihya' Al-Kutub Al-'Arabiyyah.