Beragama dengan Ramah, Bukan Marah: Meneladani Dakwah Ulama Nusantara
Mengambil Ibrah Metodologi Dakwah Santun Wali Songo dan Ulama Turats Nusantara dalam Menanamkan Nilai Islam Rahmatan lil 'Alamin yang Damai, Luwes, dan Berkeadaban
📖 DAFTAR ISI KAJIAN LENGKAP
- 1. Hakikat & Fondasi Syariat: Dakwah Ramah Risalah Nubuwah
- 2. Anatomi & Dashboard Matrix: Dakwah Ramah vs Dakwah Marah
- 3. Problematika Remaja & Jebakan Rage-Baiting Media Sosial
- 4. Dekonstruksi Fikih & Kajian Turats Ulama Nusantara
- 5. SOP: 4 Tahap Strategi Dakwah Santun Transformatif
- 6. Kaidah Ushul & Kaidah Fikih Penjaga Keluwesan Dakwah
- 7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja Modern
- 8. Self-Assessment Checklist Evaluasi Keramahan Beragama
- 9. Catatan Kaki (Footnotes) Terperinci
- 10. Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)
1. Hakikat & Fondasi Syariat: Dakwah Ramah sebagai Esensi Risalah Nubuwah
Dalam bentangan sejarah dakwah Islam di muka bumi, salah satu mukjizat terbesar yang menyertai keberhasilan risalah kenabian adalah keindahan akhlak, kelembutan tutur kata, dan kelapangan dada yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dakwah Islam bukanlah proyek penaklukan yang digerakkan oleh arogansi, amarah, atau paksaan, melainkan pancaran kasih sayang semesta (rahmatan lil 'alamin) yang menyapa fitrah terdalam manusia dengan penuh kehormatan. Hati manusia tidak pernah bisa ditaklukkan dengan bentakan dan hardikan, melainkan hanya luluh oleh ketulusan cinta, kehangatan budi pekerti, dan keteladanan nyata.
Karakteristik dakwah yang ramah dan memikat ini termaktub secara agung di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Ali 'Imran ayat 159, di mana Allah SWT menegaskan bahwa kelemahlembutan Rasulullah SAW adalah anugerah rahmat ilahi yang menjaga keutuhan umat:
Ayat di atas meletakkan prinsip sosiologis dakwah yang teramat fundamental: tatkala seorang dai bersikap keras (fazzhan) dan berhati kasar (ghalizhal qalbi), maka masyarakat akan lari menjauh (lanfadhdhu min haulika). Bahkan kepada sosok tiran terburuk dalam sejarah manusia sekalipun, yaitu Fir'aun yang mengaku sebagai tuhan, Allah SWT tetap memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun 'alaihimas salam untuk berbicara dengan perkataan yang lembut dan santun (qaulan layyinan), sebagaimana firman-Nya dalam Surah Thaha ayat 43–44[3].
Pilar metodologis dakwah universal kemudian dirumuskan secara komprehensif di dalam Surah An-Nahl ayat 125, yang memerintahkan tiga instrumen dakwah: hikmah, nasihat yang santun (mau'izhah hasanah), dan dialog dengan argumentasi terbaik (jadilhum billati hiya ahsan):
Adapun di dalam khazanah Sunnah Nabawiyyah, Rasulullah SAW secara berulang-ulang mewasiatkan sifat ar-rifq (kelemahlembutan) dalam segala urusan. Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan sabda beliau mengenai keutamaan sifat rifq di atas kekerasan[31]:
Beliau juga memerintahkan para sahabat untuk mempermudah urusan umat, bukan mempersulit, serta memberikan kabar gembira yang menyejukkan kalbu, bukan narasi yang memicu kepanikan dan antipati: Yassiru wa la tu'assiru, wa basysyiru wa la tunaffiru (HR. Al-Bukhari no. 6125, Muslim no. 1734)[7]. Bahkan, senyuman hangat di wajah seorang mukmin dihitung sebagai sedekah bernilai pahala agung (HR. At-Tirmidzi no. 1956)[9], dan kesempurnaan iman seorang hamba diukur dari keelokan akhlaknya (HR. At-Tirmidzi no. 2003)[8][32]. Inilah fondasi kokoh yang melandasi syiar Islam: beragama dengan ramah dan penuh cinta, bukan dengan marah dan penuh kebencian.
2. Anatomi & Dashboard Matrix: Komparasi Paradigma "Dakwah Ramah" vs "Dakwah Marah"
Tabel matriks komparasi berikut membedah secara analitis perbedaan mendasar antara paradigma dakwah yang meneladani keluhuran ulama Nusantara dengan corak keberagamaan yang kaku, reaktif, dan gemar meluapkan kemarahan di ruang publik:
| No. | Dimensi Komparasi | Paradigma "Dakwah Ramah" (Ulama Nusantara) | Paradigma "Dakwah Marah" (Ekstremisme Reaktif) | Rujukan Turats & Kaidah Syariat |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Fondasi Teologis & Cara Pandang Manusia | Memandang sesama manusia dengan pandangan kasih sayang ('ainur rahmah); melihat pendosa sebagai orang yang sakit dan membutuhkan obat penawar hidayah[4][11]. | Memandang manusia dengan tatapan curiga dan permusuhan ('ainul bughdh); mudah mengadili, memvonis sesat, dan menganggap pendosa sebagai musuh yang harus dihancurkan. | Ad-Da'wah At-Tammah, hlm. 54; QS. Al-Anbiya': 107[4][11]. |
| 2 | Pendekatan terhadap Budaya & Kearifan Lokal | Akomodatif dan transformatif; membimbing tradisi masyarakat ('urf) agar selaras dengan syariat tanpa merusak kohesi sosial (dakwah Wali Songo)[20][30]. | Konfrontatif dan destruktif; menganggap seluruh adat kebiasaan lokal sebagai bid'ah dhalalah dan kemusyrikan yang wajib diberangus seketika. | Kaidah Fiqih: Al-'Adatu Muhakkamatun (Al-Asybah wan Nazha'ir, hlm. 89)[20]. |
| 3 | Gaya Bahasa & Komunikasi Publik | Bertutur kata santun, memilih frasa yang menyejukkan (qaulan layyinan), merangkul tanpa memukul, mengajak tanpa mengejek, dan humor yang beradab[3][8]. | Agresif, menggunakan nada tinggi penuh sarkasme, gemar mencaci maki di mimbar, serta mengeksploitasi amarah warganet demi viralitas panggung. | An-Nasha'ih Ad-Diniyyah, hlm. 161; Adab Ad-Dunya wad Din, hlm. 104[2][13]. |
| 4 | Sikap terhadap Khilafiyah & Keragaman Madzhab | Toleran dan berlapang dada (tasamuh); memegang teguh kaidah fiqih bahwa tidak boleh ada pengingkaran dalam masalah yang diperselisihkan ulama[23][25]. | Monolitik dan kaku; memaksakan satu pendapat fikih sebagai kebenaran mutlak, serta menuduh pendapat madzhab lain sebagai penyimpangan agama. | Kaidah Fiqih: La Yunkarul Mukhtalafu Fih (Al-Asybah wan Nazha'ir, hlm. 158)[23]. |
| 5 | Dampak Sosial & Peradaban Jangka Panjang | Menciptakan tatanan masyarakat yang damai, memperkokoh persaudaraan kebangsaan (ukhuwwah wathaniyyah), dan Islam dianut sukarela secara massal. | Memicu polarisasi, islamofobia internal, disintegrasi sosial, dan membuat generasi muda trauma terhadap ajaran agama Islam. | Nashaih Al-'Ibad, hlm. 18; Ad-Da'wah At-Tammah, hlm. 57[12][33]. |
3. Problematika Remaja & Generasi Modern: Mengurai Jebakan "Rage Baiting" & Polarisasi Keagamaan
Mengapa di era modern saat ini, narasi keagamaan yang bernada keras, reaktif, dan penuh kemarahan justru kerap mendominasi algoritma media sosial anak muda? Fenomena sosiologis dan psikospiritual ini dipicu oleh empat faktor kontemporer:
a. Algoritma Media Sosial yang Mengkapitalisasi Amarah ("Rage-Baiting")
Platform digital modern dirancang secara sistemik untuk memaksimalkan durasi pengguna (screen time). Penelitian psikologi digital menunjukkan bahwa konten yang memicu emosi amarah dan kemarahan moral (moral outrage) memiliki tingkat interaksi (virality) yang jauh lebih tinggi dibanding konten yang bernada tenang dan menyejukkan. Akibatnya, oknum konten kreator keagamaan kerap menggunakan teknik rage-baiting: memotong video secara provokatif, menyematkan judul clickbait bernada kemarahan, dan menciptakan musuh imajiner demi mendongkrak jumlah tayangan dan pengikut. Generasi muda yang belum matang literasi agamanya mudah terseret dalam pusaran emosi artifisial ini[10][16].
b. Ilusi Keberanian Semu: Menyamakan Kemarahan dengan "Ketegasan Iman"
Banyak pemuda muslim terjebak pada persepsi keliru bahwa beragama secara kaffah harus ditunjukkan dengan ekspresi wajah yang masam, intonasi suara yang garang, dan kebiasaan membantah siapa saja yang berbeda. Mereka mengira bahwa marah-marah adalah bukti "ghirah" dan "ketegasan membela agama". Padahal, kitab turats mengajarkan bahwa ketegasan sejati (al-shilabah fiddin) terletak pada konsistensi memegang prinsip syariat dalam diri sendiri, sedangkan dalam interaksi sosial dakwah, senjata utamanya adalah kelembutan budi pekerti. Al-Imam Abu Al-Hasan Al-Mawardi menegaskan bahwa kemarahan adalah racun akal yang membutakan bashirah dan menjatuhkan wibawa seorang mukmin[10][17].
c. Hilangnya Figur Panutan Ulama Santun yang Membumi
Arus informasi yang sangat deras membuat sebagian remaja muslim terputus dari akar sanad keilmuan pesantren dan kearifan ulama lokal Nusantara. Mereka lebih mengenal figur-figur selebgram dakwah yang baru muncul kemarin sore dibanding meneladani akhlak para auliya', kiai kharismatik, dan habaib sepuh yang menghabiskan puluhan tahun merawat umat dengan penuh kesabaran. Ketiadaan figur panutan yang mengedepankan tasawuf akhlak ini menyebabkan generasi muda kehilangan model konkret bagaimana cara mempraktikkan Islam yang teduh di tengah kemajemukan bangsa[24][25].
d. Fenomena "Spiritual Burnout" Akibat Teror Dosa Berlebihan
Metode dakwah yang semata-mata mengandalkan ancaman siksa neraka, murka Allah, dan tuduhan dosa secara membabi buta tanpa diimbangi pintu harapan (raja') dan rahmat Allah yang maha luas kerap menimbulkan trauma psikologis pada anak muda. Banyak remaja yang akhirnya merasa putus asa dari ampunan Allah, merasa dirinya pasti masuk neraka, atau sebaliknya, menjadi pribadi yang mudah meledak emosinya karena batinnya dipenuhi kecemasan spiritual yang tidak sehat. Rasulullah SAW dengan tegas melarang para dai membuat umat lari dan putus asa dari kasih sayang Tuhannya[7][21].
4. Dekonstruksi Fikih & Kajian Turats Mu'tamad: Bedah Metodologi Dakwah Wali Songo & Ulama Salaf
Keberhasilan luar biasa penyebaran Islam di kepulauan Nusantara—yang berlangsung secara damai tanpa invasi militer—merupakan mahakarya peradaban yang berakar kuat pada metodologi turats ulama salafush shalih. Berikut bedah mendalam terhadap prinsip-prinsip dakwah tersebut:
a. Kitab Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tadzkirah Al-'Ammah karya Al-Imam Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi Al-Haddad
Al-Imam Al-Haddad di dalam Ad-Da'wah At-Tammah meletakkan rambu-rambu yang sangat tegas bahwa kekerasan verbal dan sikap kaku dalam berdakwah adalah pintu kehancuran. Beliau menjelaskan bahwa dai yang menggunakan kekerasan hakikatnya bukan sedang menolong agama Allah, melainkan sedang memperturutkan hawa nafsu amarahnya sendiri:
Beliau menandaskan bahwa dakwah yang diberkahi adalah dakwah yang dibungkus dengan kelembutan, kesabaran dalam menghadapi penolakan, serta keteladanan akhlak yang menggetarkan jiwa[11][34].
b. Kitab An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah karya Al-Imam Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi Al-Haddad
Dalam bab tentang amar ma'ruf nahi munkar, Al-Imam Al-Haddad menetapkan tiga rukun kepribadian bagi siapa saja yang ingin memperbaiki masyarakat: berilmu terhadap apa yang diserukan, bersikap lemah lembut dalam menegur, dan bersabar menghadapi celaan manusia:
Beliau mengingatkan bahwa mengingkari kemungkaran tidak boleh dilakukan dengan cara melahirkan kemungkaran baru yang lebih dahsyat, seperti terpecahnya persaudaraan sesama kaum beriman[14][22].
c. Kitab Adab Ad-Dunya wad Din karya Al-Imam Abu Al-Hasan Al-Mawardi
Al-Imam Al-Mawardi mengupas secara psikologis bagaimana sikap ramah dan kehangatan wajah mampu merekatkan rajutan sosial peradaban. Manusia secara naluriah menyukai orang yang berbuat baik kepadanya, sedangkan sikap pemarah merusak tatanan akal sehat:
Al-Mawardi menegaskan bahwa mengendalikan amarah saat menghadapi kebodohan orang lain adalah mahkota kemuliaan bagi para penuntut ilmu dan tokoh masyarakat[17], sebagaimana diingatkan oleh Syaikh Ibnu 'Atha'illah As-Sakandari agar seorang hamba tidak bersikap sombong atas ketaatannya melainkan senantiasa memandang karunia Allah semata[19].
d. Metodologi Dakwah Wali Songo: Harmonisasi Syariat dan Kearifan Budaya Nusantara
Para penyebar Islam di tanah Jawa dan Nusantara—yang dipelopori oleh Majelis Wali Songo—menerapkan prinsip fiqih turats Al-'Adatu Muhakkamatun (adat kebiasaan yang tidak bertentangan dengan syariat diakui sebagai pertimbangan hukum) secara jenius[20][30]:
- Sunan Kalijaga menggunakan media wayang kulit dan tembang Ilir-Ilir untuk menanamkan rukun iman, salat lima waktu, dan nilai-nilai tauhid tanpa memicu benturan budaya frontal dengan masyarakat Hindu-Buddha saat itu.
- Sunan Kudus melarang penyembelihan sapi saat Hari Raya Idul Adha di wilayah Kudus sebagai bentuk penghormatan dan toleransi terhadap keyakinan umat Hindu, lalu menggantinya dengan kerbau. Langkah ini sukses meluluhkan hati masyarakat hingga mereka berbondong-bondong memeluk Islam dengan penuh cinta.
- Sunan Bonang menyusun gending-gending gamelan yang bernafaskan dzikir (seperti Gending Durma dan Sekaten) yang memikat masyarakat untuk berkumpul di pelataran masjid agung seraya mengucap dua kalimat syahadat (Syahadatain).
Ulama Nusantara tidak pernah membakar rumah adat atau menghardik pemeluk tradisi lama. Mereka mengisi wadah budaya lokal dengan ruh tauhid yang memerdekakan jiwa.
e. Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim karya Hadhratusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari
Pendiri Jam'iyyah Nahdlatul Ulama, Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy'ari, menegaskan bahwa sanad keilmuan Islam tersambung melalui adab dan tali kasih sayang persaudaraan. Ulama yang sejati adalah mereka yang membimbing orang awam dengan penuh kasih sayang, bukan yang gemar memperolok dan menghakimi kekurangan orang lain di hadapan khalayak ramai[25][33].
5. Standard Operating Procedure (SOP): 4 Tahap Strategi Dakwah Santun & Transformatif
Untuk memandu pemuda muslim, aktivis dakwah kampus, dan pegiat media sosial agar dapat merefleksikan nilai dakwah ramah, bagan alur vertikal murni CSS berikut merumuskan empat tahapan strategis transformasi dakwah:
1. Manajemen Hawa Nafsu & Pengendalian Amarah (Tathhirun Nafs wa Dabthul Ghadhab)
Menjernihkan niat sebelum berbicara atau mengunggah konten dakwah. Menahan diri dari dorongan amarah tatkala dicela atau menemui pandangan yang berbeda. Menghindari debat kusir dan memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan setan saat emosi memuncak[10][28].
2. Pemahaman Sosio-Kultural & Empati Lapangan (Fahmul Waqi' wal Istima')
Mempelajari latar belakang sosiologis, tingkat pemahaman, dan tantangan psikologis objek dakwah (mad'u). Mendengarkan keluh kesah masyarakat secara tulus tanpa tergesa-gesa menghakimi, serta menghormati kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan pokok-pokok syariat[1][20][30].
3. Narasi Sejuk, Solutif, & Bertahap (Al-Khithab Al-Layyin wat Tadarruj)
Menyampaikan pesan-pesan keislaman dengan diksi yang santun, analogi yang mudah dipahami, dan mengedepankan solusi konkret. Memprioritaskan perbaikan akidah dan akhlak dasar sebelum masuk ke rincian hukum fiqih furu'iyyah yang rawan memicu friksi[3][7][21].
4. Dakwah Keteladanan & Pelayanan Sosial (Ad-Da'wah bil Hal wal Khidmah)
Mewujudkan dakwah dalam bentuk aksi nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat: bakti sosial, pendampingan pendidikan anak dhuafa, keteladanan integritas di tempat kerja, serta menjadi penengah yang mendamaikan perselisihan di lingkungan tempat tinggal[8][18][34].
6. Kaidah Ushul & Kaidah Fikih: Rambu Metodologis Menjaga Keluwesan Dakwah
Penerapan dakwah yang ramah memiliki legitimasi epistemologis yang sangat kokoh dalam kaidah-kaidah ushuliyyah dan qawa'id fiqhiyyah mu'tamad:
a. Kaidah Pertama: Al-'Adatu Muhakkamatun (Adat Kebiasaan Menjadi Pijakan Hukum)
Kaidah kelima dalam Al-Asybah wan Nazha'ir karya Al-Hafizh As-Suyuthi ini menegaskan bahwa tradisi dan budaya lokal masyarakat yang tidak bertentangan dengan nash qath'i syariat dapat diakomodasi dan dijadikan sarana hukum[20][30]. Kaidah inilah yang mendasari dakwah Wali Songo dalam menggunakan kesenian wayang, arsitektur masjid beratap tumpang tiga, dan upacara selamatan dengan mengganti mantra kuno menjadi doa dan dzikir kalimat thayyibah.
b. Kaidah Kedua: Al-Masyaqqatu Tajlibut Taysir (Kesukaran Mendatangkan Kemudahan)
Kaidah universal ini mengajarkan bahwa syariat Islam senantiasa berorientasi pada kemudahan dan mengangkat kesulitan hidup hamba (raf'ul haraj)[21][29]. Dalam konteks dakwah, dai dilarang mempersulit orang awam dengan fatwa-fatwa yang memberatkan di luar batas kemampuan mereka, terutama bagi masyarakat yang baru mengenal dasar-dasar keislaman.
c. Kaidah Ketiga: La Yunkarul Mukhtalafu Fih, wa Innama Yunkarul Mujma' 'Alaih (Tidak Boleh Mengingkari Perkara yang Diperselisihkan, yang Diingkari Hanyalah yang Disepakati Keharamannya)
Kaidah ini merupakan benteng toleransi internal umat Islam[23]. Perbedaan furu'iyyah fikih (seperti qunut subuh, jumlah rakaat tarawih, ziarah kubur, tahlilan) memiliki dalil dan ijtihad ulama madzhab mu'tamad. Seorang muslim tidak berhak mencela, menyalahkan, apalagi memusuhi saudaranya hanya karena mengamalkan pendapat madzhab lain yang diakui.
d. Kaidah Keempat: Dar'ul Mafasid Muqaddamun 'ala Jalbil Mashalih (Menolak Kerusakan Didahulukan daripada Meraih Kemaslahatan)
Para ulama sepakat bahwa jika amar ma'ruf nahi munkar berpotensi menimbulkan mafsadat yang lebih besar—seperti timbulnya kerusuhan antarkelompok, kekerasan fisik, atau mencemarkan nama baik agama di mata khalayak—maka amar ma'ruf dengan cara frontal tersebut menjadi haram dan wajib diganti dengan jalan hikmah serta doa di keheningan batin[12][22].
7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja Modern: Menjadi Duta Islam Penyejuk Jiwa
Bagaimana generasi muda muslim dapat menerapkan filosofi "beragama dengan ramah" di tengah realitas kampus, ruang kerja, dan interaksi media sosial saat ini? Berikut panduan aplikatif yang membumi:
a. Menjadi "Cooling System" di Ruang Diskusi Digital
Saat linimasa media sosial memanas dengan isu-isu sensitif politik atau keagamaan, jadilah agen penyejuk suasana. Jangan ikut-ikutan menyebarkan meme bernada ejekan, jangan membalas komentar kasar dengan caci maki serupa, dan beranikan diri untuk menghentikan debat kusir yang tidak berfaedah. Al-Qur'an memuji hamba-hamba Ar-Rahman yang manakala disapa dengan nada permusuhan oleh orang jahil, mereka membalasnya dengan ucapan keselamatan: Wa idza khathabahumul jahiluna qalu salama (QS. Al-Furqan: 63)[5][16].
b. Membangun Dialog Lintas Kultural dan Lintas Iman yang Santun
Di era globalisasi yang multikultural, pemuda muslim dituntut memiliki wawasan inklusif dalam bingkai kebangsaan. Menunjukkan keramahan kepada tetangga non-muslim, berteman secara profesional di dunia kerja tanpa mengorbankan akidah, dan berpartisipasi dalam program-program kemanusiaan lintas latar belakang adalah wujud nyata dari pengamalan dakwah bil hal ala ulama Nusantara yang mengharumkan syiar Islam[18][26].
c. Menghadirkan Konten Kreatif yang Menyenangkan dan Inspiratif
Generasi muda adalah produsen konten digital masa depan. Gantilah narasi-narasi dakwah yang terkesan mengancam dan menghakimi dengan konten-konten kreatif yang menceritakan keindahan akhlak Nabi, tips menjaga kesehatan mental berbasis dzikir, inspirasi sejarah peradaban Islam Nusantara, dan gerakan kerelawanan pemuda. Dakwah yang disajikan secara estetis, cerdas, dan hangat akan jauh lebih mudah menembus relung hati generasi muda modern[7][34].
8. Self-Assessment Checklist: Evaluasi Mandiri Kualitas Keramahan Beragama
Sebagai instrumen muhasabah pribadi, periksalah keselarasan sikap beragama Anda dengan sepuluh parameter adab dakwah berikut:
9. Catatan Kaki (Footnotes) Terperinci: Verifikasi Halaman Cetakan & Halaman File PDF Rujukan Primer
-
[1] Al-Qur'an al-Karim, Surah An-Nahl [16] ayat 125. Perintah dakwah dengan hikmah, pelajaran yang baik (mau'izhah hasanah), dan berdialog dengan cara yang paling santun; dirujuk dalam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tadzkirah Al-'Ammah (berkas PDF:
alddawoh-alttammh.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fi Adabit Du'at ilallah, hlm. cetakan 54 [hlm. file PDF 54].نَصُّ الْآيَةِ: ﴿ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ﴾↩ Kembali ke teks -
[2] Al-Qur'an al-Karim, Surah Ali 'Imran [3] ayat 159. Karakteristik rahmat dan kelemahlembutan Rasulullah SAW yang merangkul umat, serta peringatan bahwa sikap keras hati akan menjauhkan manusia; dirujuk dalam Al-Imam Abu Al-Hasan Al-Mawardi, Adab Ad-Dunya wad Din (berkas PDF:
adab_dunya_wad_din.pdf), Beirut: Dar Maktabah Al-Hayah, cet. 1, Bab Husnil Khuluq, hlm. cetakan 104 [hlm. file PDF 104].نَصُّ الْآيَةِ: ﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ﴾↩ Kembali ke teks -
[3] Al-Qur'an al-Karim, Surah Thaha [20] ayat 43–44. Perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun 'alaihimas salam untuk berbicara dengan perkataan yang lemah lembut (qaulan layyinan) bahkan kepada Fir'aun yang melampaui batas; dirujuk dalam Ad-Da'wah At-Tammah (berkas PDF:
alddawoh-alttammh.pdf), hlm. cetakan 55 [hlm. file PDF 55].نَصُّ الْآيَةِ: ﴿اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ﴾↩ Kembali ke teks -
[4] Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Anbiya' [21] ayat 107. Pengutusan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai manifestasi rahmat bagi seluruh semesta alam; dirujuk dalam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1, hlm. cetakan 283 [hlm. file PDF 283].نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ﴾↩ Kembali ke teks -
[5] Al-Qur'an al-Karim, Surah Al-Fushshilat [41] ayat 34. Menolak keburukan dengan perlakuan yang jauh lebih baik sehingga permusuhan berubah menjadi persahabatan yang karib; dirujuk dalam Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah (berkas PDF:
bidayatul_hidayah.pdf), Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1425 H / 2004 M, hlm. cetakan 144 [hlm. file PDF 144].نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ﴾↩ Kembali ke teks -
[6] Muslim bin Al-Hajjaj, Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim), Kitabul Birri wash Shilah wal Adab, no. 2593; dan Abu Dawud, no. 4807 (dari Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha). Sifat kelemahlembutan yang memperindah segala sesuatu dan keburukan sifat kasar; dirujuk dalam Adab Ad-Dunya wad Din (berkas PDF:
adab_dunya_wad_din.pdf), hlm. cetakan 104 [hlm. file PDF 104].نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ»↩ Kembali ke teks -
[7] Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitabul Adab, Bab Qawlin Nabiyyi SAW: Yassiru wa la Tu'assiru, no. 6125; dan Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitabul Jihad was Siyar, no. 1734 (dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu). Perintah mempermudah dan memberi kabar gembira dalam beragama; dirujuk dalam Ad-Da'wah At-Tammah (berkas PDF:
alddawoh-alttammh.pdf), hlm. cetakan 58 [hlm. file PDF 58].نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا»↩ Kembali ke teks -
[8] Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitabul Adab, Bab Husnil Khuluq, no. 6035; dan Muslim, no. 2321 (dari sahabat 'Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma). Karakter Rasulullah SAW yang tidak pernah berkata keji dan kasar; dirujuk dalam An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 284 [hlm. file PDF 284].نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: «لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا، وَكَانَ يَقُولُ: إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا»↩ Kembali ke teks -
[9] At-Tirmidzi, Muhammad bin 'Isa. Sunan At-Tirmidzi, Kitabul Birri wash Shilah, no. 1956 (dari sahabat Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu; dishahihkan oleh Al-Albani). Senyuman dan keramahan wajah dinilai sebagai sedekah di sisi Allah; dirujuk dalam Bidayatul Hidayah (berkas PDF:
bidayatul_hidayah.pdf), hlm. cetakan 142 [hlm. file PDF 142].نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ»↩ Kembali ke teks -
[10] Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitabul Adab, Bab Al-Hadzari minal Ghadhab, no. 6116 (dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). Wasiat agung Nabi SAW yang diulang berkali-kali untuk tidak mengumbar amarah; dirujuk dalam Adab Ad-Dunya wad Din (berkas PDF:
adab_dunya_wad_din.pdf), hlm. cetakan 106 [hlm. file PDF 106].نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: «لَا تَغْضَبْ»، فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: «لَا تَغْضَبْ»↩ Kembali ke teks -
[11] Al-Haddad, Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi. Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tadzkirah Al-'Ammah (berkas PDF:
alddawoh-alttammh.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fi Adabit Tadzkir wal Mau'izhah, hlm. cetakan 54–56 [hlm. file PDF 54–56].عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٤ [PDF صَ ٥٤]): «وَيَنْبَغِي لِمَنْ يَتَصَدَّىٰ لِدَعْوَةِ الْخَلْقِ أَنْ يَكُونَ شَفِيقًا رَحِيمًا بِهِمْ، نَاصِحًا لَهُمْ، لَطِيفَ الْعِبَارَةِ، حَسَنَ الْإِشَارَةِ، مُتَأَنِّيًا فِي أَمْرِهِ، غَيْرَ فَظٍّ وَلَا غَلِيظٍ، فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ لِمُوسَىٰ وَهَارُونَ: ﴿فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ﴾»↩ Kembali ke teks -
[12] Al-Haddad, Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi. Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tadzkirah Al-'Ammah (berkas PDF:
alddawoh-alttammh.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fi Mafasidil Ghilzhah wat Tashaddud, hlm. cetakan 57–59 [hlm. file PDF 57–59].عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٥٧ [PDF صَ ٥٧]): «فَإِنَّ الْعُنْفَ وَالشِّدَّةَ وَالْغِلْظَةَ فِي الدَّعْوَةِ سَبَبٌ لِنُفُورِ الْقُلُوبِ، وَإِغْلَاقِ مَسَامِعِ الْعِبَادِ عَنْ قَبُولِ الْحَقِّ، بَلْ رُبَّمَا حَمَلَتِ الْغِلْظَةُ الْمَدْعُوَّ عَلَى الْعِنَادِ وَالْإِصْرَارِ عَلَى الْبَاطِلِ، فَيَكُونُ الدَّاعِي شَرِيكًا لَهُ فِي الْإِثْمِ مِنْ حَيْثُ لَا يَدْرِي»↩ Kembali ke teks -
[13] Al-Haddad, Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi. An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1, Bab Al-Amr bil Ma'ruf wan Nahy 'anil Munkar, hlm. cetakan 160–163 [hlm. file PDF 160–163].عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٦١ [PDF صَ ١٦١]): «وَشُرُوطُ الْآمِرِ بِالْمَعْرُوفِ ثَلَاثَةٌ: أَنْ يَعْلَمَ مَا يَأْمُرُ بِهِ وَمَا يَنْهَىٰ عَنْهُ، وَأَنْ يَكُونَ رَفِيقًا فِيمَا يَأْمُرُ بِهِ رَفِيقًا فِيمَا يَنْهَىٰ عَنْهُ، وَأَنْ يَكُونَ صَبُورًا عَلَىٰ مَا يُصِيبُهُ مِنَ الْأَذَىٰ؛ فَبِالرِّفْقِ تَلِينُ الْقُلُوبُ الْقَاسِيَةُ»↩ Kembali ke teks -
[14] Al-Haddad, Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi. An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1, Bab Fadhlit Tawadhu' wa Hurmatil Kibr, hlm. cetakan 270–273 [hlm. file PDF 270–273].عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٧١ [PDF صَ ٢٧١]): «وَالتَّوَاضُعُ شِيمَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَهُوَ أَنْ لَا تَرَىٰ لِنَفْسِكَ فَضْلًا عَلَىٰ أَحَدٍ، وَأَنْ تَقْبَلَ الْحَقَّ مِمَّنْ قَالَهُ صَغِيرًا كَانَ أَوْ كَبِيرًا، وَأَنْ تُعَامِلَ النَّاسَ بِالْبِشْرِ وَالتَّرْحَابِ»↩ Kembali ke teks -
[15] Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad (450–505 H). Bidayatul Hidayah (berkas PDF:
bidayatul_hidayah.pdf), Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1425 H / 2004 M, Bab Adabil Mu'asyarah ma'al Khalq, hlm. cetakan 140–143 [hlm. file PDF 140–143].عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٤١ [PDF صَ ١٤١]): «وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ، وَلَا تُعَامِلْهُمْ بِالْكِبْرِ وَالتَّجَبُّرِ، وَإِذَا رَأَيْتَ جَاهِلًا فَعَلِّمْهُ بِاللُّطْفِ، وَإِذَا رَأَيْتَ مُنْكَرًا فَاغْيِرْ لَهُ بِالْحِكْمَةِ، وَلَا تَنْتَصِرْ لِنَفْسِكَ عِنْدَ الْغَضَبِ، بَلِ اجْعَلْ حِلْمَكَ غَالِبًا عَلَىٰ طَبْعِكَ»↩ Kembali ke teks -
[16] Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid. Bidayatul Hidayah (berkas PDF:
bidayatul_hidayah.pdf), Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1425 H / 2004 M, Qismul Ma'ashi, Bab Afatil Lisan (Al-Mirâ' wal Jidal), hlm. cetakan 94–97 [hlm. file PDF 94–97].عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٩٥ [PDF صَ ٩٥]): «إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ وَالْجِدَالَ، فَإِنَّهُ يُوغِرُ الصُّدُورَ، وَيُفْسِدُ الْأُخُوَّةَ، وَيَجْلِبُ الْعَدَاوَةَ؛ وَمَا رَأَيْتَ أَحَدًا لَجَّ فِي الْجِدَالِ إِلَّا قَسَا قَلْبُهُ وَانْسَدَّتْ عَلَيْهِ أَبْوَابُ الْفَهْمِ عَنِ اللَّهِ تَعَالَىٰ»↩ Kembali ke teks -
[17] Al-Mawardi, Al-Imam Abu Al-Hasan 'Ali bin Muhammad (364–450 H). Adab Ad-Dunya wad Din (berkas PDF:
adab_dunya_wad_din.pdf), Beirut: Dar Maktabah Al-Hayah, cet. 1, Bab Husnil Khuluq wa Daf'il Ghadhab, hlm. cetakan 102–105 [hlm. file PDF 102–105].عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٠٣ [PDF صَ ١٠٣]): «وَالْغَضَبُ جِمَاعُ الشَّرِّ، وَهُوَ غُولُ الْعَقْلِ، إِذَا اسْتَوْلَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْمَىٰ بَصِيرَتَهُ وَأَطَاشَ رَأْيَهُ، فَيَصْدُرُ عَنْهُ مَا لَا يَلِيقُ بِأَهْلِ الدِّينِ وَالْمُرُوءَةِ مِنْ فَاحِشِ الْقَوْلِ وَقَبِيحِ الْفِعْلِ»↩ Kembali ke teks -
[18] Al-Mawardi, Al-Imam Abu Al-Hasan 'Ali bin Muhammad. Adab Ad-Dunya wad Din (berkas PDF:
adab_dunya_wad_din.pdf), Beirut: Dar Maktabah Al-Hayah, cet. 1, Bab Ulfatil Qulub wash Shalahil Ijtima'i, hlm. cetakan 108–111 [hlm. file PDF 108–111].عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٠٩ [PDF صَ ١٠٩]): «إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْأُلْفَةِ وَانْتِظَامِ الْكَلِمَةِ هُوَ التَّوَدُّدُ إِلَى النَّاسِ، وَطَلَاقَةُ الْوَجْهِ، وَلِينُ الْجَانِبِ، وَمُخَالَطَتُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ؛ فَإِنَّ الْقُلُوبَ مَجْبُولَةٌ عَلَىٰ حُبِّ مَنْ أَحْسَنَ إِلَيْهَا وَرَفَقَ بِهَا»↩ Kembali ke teks -
[19] Ibnu 'Atha'illah As-Sakandari, Tajuddin Abu Al-Fadhl Ahmad bin Muhammad (w. 709 H). Kitab Al-Hikam Al-'Athaiyyah (berkas PDF:
alhikam.pdf), Kairo: Dar As-Salam, cet. 3, Hikmah fi Syuruthi Idzkari bi Fadhlillah, hlm. cetakan 10 [hlm. file PDF 10].عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٠ [PDF صَ ١٠]): «رُبَّمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الطَّاعَةِ وَمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الْقَبُولِ، وَرُبَّمَا قَضَىٰ عَلَيْكَ بِالذَّنْبِ فَكَانَ سَبَبًا فِي الْوُصُولِ؛ فَلَا تَسْتَطِلْ عَلَى الْعُصَاةِ بِطَاعَتِكَ»↩ Kembali ke teks -
[20] As-Suyuthi, Al-Hafizh Jalaluddin 'Abdurrahman bin Abi Bakr (849–911 H). Al-Asybah wan Nazha'ir fi Qawa'id Fiqhisy Syafi'iyyah, Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, cet. 1, 1403 H / 1983 M, Al-Qaidah Al-Kulliyyah: Al-Adatu Muhakkamatun, hlm. cetakan 89–94.عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «الْقَاعِدَةُ الْخَامِسَةُ: الْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ؛ وَأَصْلُهَا أَثَرُ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «مَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ»، فَمَا لَمْ يُخَالِفِ الشَّرْعَ مِنَ الْعُرْفِ اعْتُبِرَ فِي الْأَحْكَامِ»↩ Kembali ke teks
-
[21] As-Suyuthi, Al-Hafizh Jalaluddin. Al-Asybah wan Nazha'ir fi Qawa'id Fiqhisy Syafi'iyyah, Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, cet. 1, 1403 H / 1983 M, Al-Qaidah Al-Kulliyyah: Al-Masyaqqatu Tajlibut Taysir, hlm. cetakan 75–82.عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «الْقَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: الْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيرَ؛ وَأَصْلُهَا قَوْلُهُ تَعَالَىٰ: ﴿يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ﴾، فَالشَّرِيعَةُ مَبْنِيَّةٌ عَلَى التَّيْسِيرِ وَرَفْعِ الْحَرَجِ عَنِ الْأُمَّةِ»↩ Kembali ke teks
-
[22] As-Suyuthi, Al-Hafizh Jalaluddin. Al-Asybah wan Nazha'ir fi Qawa'id Fiqhisy Syafi'iyyah, Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, cet. 1, 1403 H / 1983 M, Al-Qaidah: Dar'ul Mafasid Muqaddamun 'ala Jalbil Mashalih, hlm. cetakan 87–88.عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «قَاعِدَةٌ: دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصَالِحِ؛ فَلَوْ أَدَّى الْإِنْكَارُ عَلَى الْمُنْكَرِ إِلَىٰ وُقُوعِ مُنْكَرٍ أَعْظَمَ مِنْهُ أَوْ فِتْنَةٍ بَيْنَ النَّاسِ حَرُمَ الْإِنْكَارُ بِاتِّفَاقٍ»↩ Kembali ke teks
-
[23] As-Suyuthi, Al-Hafizh Jalaluddin. Al-Asybah wan Nazha'ir fi Qawa'id Fiqhisy Syafi'iyyah, Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, cet. 1, 1403 H / 1983 M, Al-Qaidah: La Yunkarul Mukhtalafu Fih, hlm. cetakan 158–160.عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «قَاعِدَةٌ: لَا يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيهِ، وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ؛ فَمَنْ فَعَلَ فِعْلًا أَوْ أَتَىٰ بِقَوْلٍ لَهُ مَسَاغٌ فِي مَذْهَبٍ مُعْتَبَرٍ لَمْ يَجُزْ لِأَحَدٍ أَنْ يُعَنِّفَهُ أَوْ يَفْسُقَهُ»↩ Kembali ke teks
-
[24] Al-Bantani, Syekh Muhammad Nawawi bin 'Umar (1230–1314 H). Mirqat Shu'udit Tashdiq fi Syarhi Sulamit Taufiq, Surabaya: Al-Hidayah, Fashl fi Ma'ashil Lisan wal Qalb, hlm. cetakan 72–75.عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَمِنْ مَعَاصِي الْقَلْبِ: الْغِلْظَةُ وَالْقَسْوَةُ وَاحْتِقَارُ النَّاسِ؛ وَالْوَاجِبُ عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَكُونَ هَيِّنًا لَيِّنًا، سَهْلَ الْأَخْلَاقِ، يُعَامِلُ خَلْقَ اللَّهِ بِالرَّحْمَةِ وَالشَّفَقَةِ»↩ Kembali ke teks
-
[25] Asy'ari, Hadhratusy Syaikh Muhammad Hasyim bin Muhammad (1287–1366 H). Adabul 'Alim wal Muta'allim fima Yahtaju Ilaihil Muta'allim fi Ahwali Ta'allumihi, Jombang: Maktabah At-Turats Al-Islami, cet. 1, 1415 H, hlm. cetakan 34–38.عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَيَنْبَغِي لِلْعَالِمِ أَنْ يَتَلَطَّفَ بِالْمُتَعَلِّمِينَ، وَأَنْ يُعَامِلَ الْعَامَّةَ بِالرِّفْقِ وَالْمُدَارَاةِ، وَأَنْ يَبْتَعِدَ عَنِ الْجَفْوَةِ وَالْغِلْظَةِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ رَحِمٌ بَيْنَ أَهْلِهِ، وَبِالْأَخْلَاقِ تَثْبُتُ الشَّرَائِعُ»↩ Kembali ke teks
-
[26] Al-Haddad, Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fi Husnil Mu'asyarah, hlm. cetakan 86–89 [hlm. file PDF 86–89].عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٨٦ [PDF صَ ٨٦]): «وَعَلَيْكَ بِحُسْنِ الْخُلُقِ مَعَ الْقَرِيبِ وَالْبَعِيدِ، وَبِطَلَاقَةِ الْوَجْهِ، وَكَفِّ الْأَذَىٰ، وَتَحَمُّلِ الْمَكَارِهِ؛ وَلَا تَكُنْ فَاحِشًا وَلَا صَخَّابًا، فَقَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَائِمَ الْبِشْرِ سَهْلَ الْخُلُقِ»↩ Kembali ke teks -
[27] Al-Haddad, Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah (berkas PDF:
resalat-almoawnh.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Fashl fit Tasamuh wat Tarfiq, hlm. cetakan 90–92 [hlm. file PDF 90–92].عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٩٠ [PDF صَ ٩٠]): «وَاقْبَلْ مَعَاذِيرَ الْمُعْتَذِرِينَ، وَسَامِحْ مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ، وَلَا تَنْتَقِمْ لِنَفْسِكَ إِذَا أُوذِيتَ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْعَفْوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ وَأَجْمَعُ لِلشَّمْلِ»↩ Kembali ke teks -
[28] Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid. Al-Arba'in fi Ushulid Din (berkas PDF:
al-arbain-ghazali.pdf), Kairo: Dar At-Taufiqiyyah, cet. 1, 1424 H / 2003 M, Al-Juz'uts Tsalits: Fil Akhlaqil Madzmumah (Al-Ghadhab wal Hiqd), hlm. cetakan 136–140 [hlm. file PDF 136–140].عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٣٧ [PDF صَ ١٣٧]): «وَالْغَضَبُ جَمْرَةٌ يُلْقِيهَا الشَّيْطَانُ فِي قَلْبِ ابْنِ آدَمَ فَيَغْلِي مِنْهَا دَمُهُ، وَدَوَاؤُهُ التَّعَوُّذُ بِاللَّهِ، وَالسُّكُوتُ، وَتَغْيِيرُ الْحَالَةِ، وَتَذَكُّرُ قُدْرَةِ اللَّهِ تَعَالَىٰ عَلَيْهِ»↩ Kembali ke teks -
[29] Al-Khin, Dr. Musthafa; Al-Bugha, Dr. Musthafa; Asy-Syirbaji, 'Ali. Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i (berkas PDF:
fiqh_manhaji_1.pdf), Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M, Juz 1, Muqaddimatut Ta'rif bisy Syari'ah, hlm. cetakan 15–18 [hlm. file PDF 15–18].عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ١٦ [PDF صَ ١٦]): «إِنَّ شَرِيعَةَ الْإِسْلَامِ شَرِيعَةُ الْيُسْرِ وَالسَّمَاحَةِ، جَاءَتْ لِتَحْقِيقِ مَصَالِحِ الْعِبَادِ فِي الْمَعَاشِ وَالْمَعَادِ، وَدَرْءِ الْمَفَاسِدِ عَنْهُمْ، وَلَمْ تَأْتِ لِلتَّعْنِيفِ وَالتَّضْيِيقِ»↩ Kembali ke teks -
[30] Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (berkas PDF:
khulashah_ushul.pdf), Kuwait: Dar Adh-Dhiya', cet. 1, 1427 H / 2006 M, Mabhatsul 'Urf wal Maslahah, hlm. cetakan 68–71 [hlm. file PDF 68–71].عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٦٩ [PDF صَ ٦٩]): «وَالْعُرْفُ الصَّحِيحُ هُوَ مَا تَعَارَفَ عَلَيْهِ النَّاسُ مِمَّا لَا يُحِلُّ حَرَامًا وَلَا يُحَرِّمُ حَلَالًا، فَيَجِبُ مُرَاعَاتُهُ فِي الْفَتْوَىٰ وَالدَّعْوَةِ تَأْلِيفًا لِلْقُلُوبِ»↩ Kembali ke teks -
[31] Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari), Kitabul Adab, Bab Ar-Rifqi fil Amri Kullih, no. 6927; dan Muslim, no. 2165 (dari Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha). Menghadapi cacian orang lain dengan tetap menjaga kelemahlembutan; dirujuk dalam Ad-Da'wah At-Tammah (berkas PDF:
alddawoh-alttammh.pdf), hlm. cetakan 59 [hlm. file PDF 59].نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَىٰ مَا سِوَاهُ»↩ Kembali ke teks -
[32] At-Tirmidzi, Muhammad bin 'Isa. Sunan At-Tirmidzi, Kitabul Birri wash Shilah, no. 2003; dan Ahmad, Al-Musnad, no. 7402 (dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; hasan sahih). Kesempurnaan iman berbanding lurus dengan keluhuran budi pekerti; dirujuk dalam An-Nasha'ih Ad-Diniyyah (berkas PDF:
alnnsahuh-alddinih.pdf), hlm. cetakan 285 [hlm. file PDF 285].نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ»↩ Kembali ke teks -
[33] Al-Bantani, Syekh Muhammad Nawawi bin 'Umar. Nashaih Al-'Ibad fi Bayani Alfazhin Munabbihat 'alal Isti'dadi li Yaumil Ma'ad, Semarang: Maktabah Thaha Putra, cet. 1, hlm. cetakan 18–21.عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: مَنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ بِالْغَضَبِ كَانَ نَاصِرًا لِنَفْسِهِ لَا نَاصِرًا لِدِينِهِ، وَمَنْ دَعَا بِالْحِلْمِ وَالرَّحْمَةِ فَتَحَ اللَّهُ عَلَىٰ يَدَيْهِ أَقْفَالَ الْقُلُوبِ»↩ Kembali ke teks
-
[34] Al-Haddad, Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi. Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tadzkirah Al-'Ammah (berkas PDF:
alddawoh-alttammh.pdf), Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M, Khatimatul Kitab fi Luzumit Ta'alluf, hlm. cetakan 292–295 [hlm. file PDF 292–295].عِبَارَةُ الْكِتَابِ (صَ ٢٩٣ [PDF صَ ٢٩٣]): «وَإِنَّمَا تَنْتَشِرُ دَعْوَةُ الْإِسْلَامِ بِالْقُدْوَةِ الْحَسَنَةِ، وَالْمُعَامَلَةِ الطَّيِّبَةِ، وَمُسَاعَدَةِ الضُّعَفَاءِ؛ وَبِذٰلِكَ فَتَحَ السَّلَفُ الصَّالِحُ الْبِلَادَ وَأَسَرُوا قُلُوبَ الْعِبَادِ حَتَّىٰ دَخَلُوا فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا»↩ Kembali ke teks
10. Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats & Referensi Otoritatif)
- Al-Qur'an al-Karim wa Tarjamatu Ma'anih. Mushaf Al-Madinah An-Nabawiyyah. Madinah: Mujamma' Al-Malik Fahd li Thiba'atil Mushhafisy Syarif.
- Al-Bantani, Syekh Muhammad Nawawi bin 'Umar (1230–1314 H). Mirqat Shu'udit Tashdiq fi Syarhi Sulamit Taufiq. Surabaya: Maktabah Al-Hidayah.
- Al-Bantani, Syekh Muhammad Nawawi bin 'Umar. Nashaih Al-'Ibad fi Bayani Alfazhin Munabbihat 'alal Isti'dadi li Yaumil Ma'ad. Semarang: Maktabah Thaha Putra.
- Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il Abu 'Abdillah (194–256 H). Al-Jami' Ash-Shahih al-Musnad min Haditsi Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Al-Mathba'ah As-Salafiyyah, cet. 1, 1400 H.
- Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad (450–505 H). Al-Arba'in fi Ushulid Din fi 'Aqa'id wa Akhlaq wa Asraril 'Ibadat. Kairo: Dar At-Taufiqiyyah, cet. 1, 1424 H / 2003 M.
- Al-Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Bidayatul Hidayah fi Adabit Taqwa wal Ijtinab 'anil Ma'ashi. Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 1, 1425 H / 2004 M.
- Al-Haddad, Al-Imam Al-Quthb Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi bin Muhammad (1044–1132 H). Ad-Da'wah At-Tammah wa At-Tadzkirah Al-'Ammah fi Bayani Aqsamit Tha'ah. Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M.
- Al-Haddad, Al-Imam Al-Quthb Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi. An-Nasha'ih Ad-Diniyyah wal Washaya Al-Imaniyyah fi Tahdzibin Nufus. Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 1, 1413 H / 1993 M.
- Al-Haddad, Al-Imam Al-Quthb Al-Habib 'Abdullah bin 'Alawi. Risalatul Mu'awanah wal Muzhaharah wal Muwazarah lir Raghibina minal Mu'minin fi Suluki Thariqil Akhirah. Beirut: Dar Al-Hawi, cet. 2, 1414 H / 1994 M.
- Al-Khin, Dr. Musthafa; Al-Bugha, Dr. Musthafa; & Asy-Syirbaji, 'Ali. Al-Fiqhul Manhaji 'ala Madzhab Al-Imam Asy-Syafi'i. Damaskus: Dar Al-Qalam, cet. 4, 1413 H / 1992 M.
- Al-Mawardi, Al-Imam Abu Al-Hasan 'Ali bin Muhammad bin Habib (364–450 H). Adab Ad-Dunya wad Din. Beirut: Dar Maktabah Al-Hayah, cet. 1, 1406 H / 1986 M.
- As-Suyuthi, Al-Hafizh Jalaluddin 'Abdurrahman bin Abi Bakr (849–911 H). Al-Asybah wan Nazha'ir fi Qawa'id wa Furu' Fiqhisy Syafi'iyyah. Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, cet. 1, 1403 H / 1983 M.
- Asy'ari, Hadhratusy Syaikh Muhammad Hasyim bin Muhammad (1287–1366 H). Adabul 'Alim wal Muta'allim fima Yahtaju Ilaihil Muta'allim fi Ahwali Ta'allumihi. Jombang: Maktabah At-Turats Al-Islami, cet. 1, 1415 H.
- Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan. Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh. Kuwait: Dar Adh-Dhiya', cet. 1, 1427 H / 2006 M.
- Ibnu 'Atha'illah As-Sakandari, Tajuddin Abu Al-Fadhl Ahmad bin Muhammad (w. 709 H). Kitab Al-Hikam Al-'Athaiyyah ma'a Syuruhiha. Kairo: Dar As-Salam, cet. 3, 1428 H / 2007 M.
- Muslim, Abu Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi (206–261 H). Al-Musnad Ash-Shahih al-Mukhtashar minas Sunan (Shahih Muslim). Riyadh: Dar Thayyibah, cet. 1, 1427 H / 2006 M.