← Semua Artikel Akidah

ANTARA TUHAN DAN SAINS

Tidak Ada Komentar 372 Mins Read 79 Views
Eksistensi Tuhan & Sains: Menjawab Keraguan Ateisme Baru dan Membuktikan Keimanan Lewat Nalar Ilmiah
KAJIAN AKIDAH

Eksistensi Tuhan Sains: Menjawab Keraguan Ateisme Baru dan Membuktikan Keimanan Lewat Nalar Ilmiah

Membedah Tuntas Keraguan Metodologis, Filosofis, dan Ilmiah Berdasarkan Literatur Primer Ulama Akidah Klasik dan Kontemporer

Gambar artikel

Di era akselerasi teknologi dan sains modern, sebuah paradoks intelektual kerap menyeruak ke ruang publik: benarkah kemajuan sains telah menyingkirkan kebutuhan manusia akan Tuhan? Gelombang ateisme baru (new atheism) acap kali mendalilkan bahwa jagat raya bermula secara kebetulan (اتِّفَاقِيَّة / ittifaqiyah), materi bersifat abadi (قَدِيم / qadim), atau materi mampu berevolusi secara swadaya tanpa campur tangan Entitas Transenden. Nalar sains materialistis ini acap kali menggiring generasi muda pada keraguan eksistensial, seolah-olah iman adalah dogma buta (تَقْلِيد / taqlid) yang bertolak belakang dengan akal sehat.

Bagi seorang pencari kebenaran, kegelisahan ini sangat dekat dengan pergulatan hidup sehari-hari. Kita menyaksikan hukum alam yang begitu presisi, keteraturan kosmik yang mengagumkan, namun dijejali narasi bahwa semuanya muncul dari ketiadaan tanpa sebab.

Tulisan ini hadir untuk membedah tuntas keraguan tersebut secara metodologis, filosofis, dan ilmiah dengan berlandaskan literatur primer para ulama akidah klasik dan kontemporer. Pembaca akan memperoleh kerangka epistemologi yang kokoh, pembuktian rasional-ilmiah atas kemustahilan klaim materialisme, serta argumentasi mutlak mengenai keniscayaan Wujud Sang Khaliq (وَاجِب الوُجُود / Wajib al-Wujud).

Landasan Epistemologi: Mengapa Pembuktian Tuhan Memerlukan Nalar Rasional-Objektif?

Kerapuhan ateisme baru berakar pada penyempitan instrumen pencarian kebenaran (methodological fallacy). Kaum ateis memutlakkan metode observasi indrawi-empiris (التَّجْرِبَة وَالمُشَاهَدَة / tajribah wa musyahadah) untuk segala hakikat kosmos. Padahal, para ulama ushul dan akidah menegaskan bahwa setiap ranah klaim memiliki metode verifikasi ilmiah yang selaras dengan watak objeknya.

Kaidah metodologis ini dirumuskan secara tegas oleh Dr. Muhammad Sa’id Ramadan al-Buthi dalam kitabnya Kubra al-Yaqiniyyat al-Kauniyyah:

«فَالدَّعْوَى المُتَعَلِّقَةُ بِخَصَائِصِ المَادَّةِ لَا تَثْبُتُ إِلَّا بِالبَرَاهِينِ التَّجْرِيبِيَّةِ المَحْسُوسَةِ، وَالدَّعْوَى المُتَعَلِّقَةُ بِالأُمُورِ المُجَرَّدَةِ كَالأَعْدَادِ وَالنَّفْسِ وَالمَنْطِقِ لَا تُقْبَلُ إِلَّا بِالأَدِلَّةِ البَدِيهِيَّةِ المُسَلَّمَةِ، فَلَنْ تَكُونَ الدَّعْوَى حَقِيقَةً عِلْمِيَّةً ثَابِتَةً إِلَّا بَعْدَ أَنْ يُقَامَ عَلَيْهَا الدَّلِيلُ المُنَاسِبُ لَهَا...»

“Klaim yang berkaitan dengan karakter kebendaan fisik tidak akan tegak tanpa bukti-bukti ilmiah empiris inderawi. Adapun klaim yang berkaitan dengan hal-hal abstrak seperti angka, jiwa, dan logika, tidak dapat diterima kecuali melalui dalil-dalil hukum aksiomatik yang diakui. Dengan demikian, suatu klaim tidak akan menjadi hakikat ilmiah yang tetap melainkan setelah disertai dalil yang selaras dengannya...”

Rujukan Kitab:
Kubrā al-Yaqīniyyāt al-Kawniyyah: Wujūd al-Khāliq wa Wazhīfat al-Makhlūq (Dr. Muhammad Sa’id Ramadan al-Buthi; Dar al-Fikr al-Mu’ashir & Dar al-Fikr, Cet. ke-8, 1417 H / 1997 M), hlm. 34, baris 16–22.

Menuntut agar eksistensi Tuhan—yang Mahasuci dari karakter materi dan ruang fisik—harus diselidiki di laboratorium atau dilihat dengan mata telanjang adalah cacat epistemologi. Keberadaan Sang Pencipta dibuktikan melalui hukum keniscayaan (دَلَالَة الِالْتِزَام / dalalat al-iltizam), hukum kausalitas (قَانُون العِلِّيَّة / qanun al-‘illiyyah), serta tanda-tanda keteraturan rancangan (دَلِيل العِلَّة الغَائِيَّة / dalil al-‘illah al-gha’iyyah).

Kewajiban mengetahui dalil secara akal ini pun diwajibkan oleh syariat atas setiap individu mukallaf (مُكَلَّف). Sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Ibrahim al-Bajuri dalam Tuhfat al-Murid:

«فَيَجِبُ عَلَى كُلِّ مُكَلَّفٍ شَرْعًا أَنْ يَعْرِفَ مَا يَجِبُ فِي حَقِّهِ تَعَالَى، وَمَا يَسْتَحِيلُ، وَمَا يَجُوزُ... وَالمَعْرِفَةُ هِيَ الجَزْمُ المُوَافِقُ لِلْوَاقِعِ عَنْ دَلِيلٍ...»

“Maka wajib atas setiap mukallaf secara syara’ untuk mengetahui apa yang wajib bagi Allah, apa yang mustahil, dan apa yang ja’iz... Dan makrifat adalah meyakini secara pasti yang sesuai dengan realitas berdasarkan dalil...”

Rujukan Kitab:
Tuhfat al-Murīd ‘alā Jawharat al-Tawhīd (Syaikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri; Dar Tahqiq al-Kitab, Cet. ke-1, 1439 H / 2018 M), hlm. 91, baris 1–5 dan hlm. 101, baris 5–8.

Pembongkaran Argumen Ateisme Baru: Kebatilan Teori Kebetulan dan Otodidak Materialisme

Kaum materialis mengasumsikan bahwa materi kosmik berevolusi dengan sendirinya tanpa pencipta. Klaim ini gugur secara mutlak berdasarkan empat hukum aksiomatis akal yang diakui seluruh orang berakal:

1. Kebatilan Rajhan bi La Murajjih (Munculnya Keberadaan Tanpa Penyebab Unggul)

Alam semesta adalah sesuatu yang berstatus mumkin (مُمْكِن: berpeluang ada dan berpeluang tiada). Sebelum alam ada, sisi “ketiadaan” (عَدَم / ‘adam) mendominasi. Mengatakan bahwa alam tiba-tiba melompat menjadi “ada” (وُجُود / wujud) secara otomatis tanpa adanya penentu eksternal (رُجْحَان بِلَا مُرَجِّح / rajhan bi la murajjih) adalah sama konyolnya dengan mengklaim timbangan yang seimbang tiba-tiba jomplang ke satu sisi tanpa beban tambahan.

«فَالدَّعْوَى بِأَنَّ العَدَمَ الصِّرْفَ المُسْتَمِرَّ انْقَلَبَ فَجْأَةً إِلَى وُجُودٍ مُتَفَاعِلٍ مُتَوَالِدٍ مِنْ غَيْرِ مُوجِبٍ خَارِجِيٍّ أَحْدَثَ هَذَا الِانْقِلَابَ، لَا تَقِلُّ فِي غَرَابَةِ اسْتِحَالَتِهَا عَنْ دَعْوَى صَاحِبِ المِيزَانِ الَّذِي رَجَحَتْ إِحْدَى كِفَّتَيْهِ بِلَا مُرَجِّحٍ.»

“Klaim bahwa ketiadaan mutlak yang berlangsung terus-menerus mendadak berbalik menjadi wujud yang berinteraksi dan beranak-pinak tanpa adanya penyebab eksternal yang memicu pembalikan tersebut, tingkat kemustahilannya tidak kalah anehnya dari klaim pemilik timbangan yang berat sebelah tanpa pemberat.”

Rujukan Kitab:
Kubrā al-Yaqīniyyāt al-Kawniyyah (Dr. Muhammad Sa’id Ramadan al-Buthi; Dar al-Fikr, Cet. ke-8, 1417 H / 1997 M), hlm. 81, baris 8–11.

2. Kebatilan Tasalsul (Rantai Sebab Tanpa Ujung Akhir)

Jika ateis berdalih bahwa alam bersifat azali melalui rantai sebab-akibat material ke masa lampau tanpa awal (تَسَلْسُل / tasalsul / infinite regress), akal sehat menolaknya secara mutlak. Rantai sebab yang butuh pada sebab sebelumnya ibarat deretan angka nol: sebanyak apa pun nol dijejerkan, ia bernilai hampa jika tidak diawali oleh angka bulat mandiri di depannya. Hal ini senada dengan penegasan Syaikh Muhammad al-Dasuqi:

«وَقَدْ وَضَحَ بُطْلَانُ التَّسَلْسُلِ لِاسْتِلْزَامِهِ وُجُودَ حَوَادِثَ لَا أَوَّلَ لَهَا، مَعَ أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهَا حَادِثٌ لَهُ أَوَّلٌ، وَنَفْيُ الأَوَّلِ عَمَّا لَهُ أَوَّلٌ تَنَاقُضٌ.»

“Telah jelas kebatilan tasalsul karena ia mengandaikan keberadaan mata rantai peristiwa baru yang tidak memiliki permulaan, padahal setiap hal baru niscaya memiliki permulaan, sehingga ketiadaan awal adalah kontradiksi nyata.”

Rujukan Kitab:
Hāsyiyat al-Dasūqī ‘alā Umm al-Barāhīn (Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Dasuqi; Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1438 H / 2017 M), hlm. 59, baris 1–3.

3. Kebatilan Dawr (Siklus Melingkar yang Mustahil)

Mengatakan alam tercipta melalui interaksi zatnya sendiri berkonsekuensi bahwa sesuatu menjadi penyebab atas dirinya sendiri (دَوْر / dawr). Sesuatu harus ada terlebih dahulu agar bisa mencipta, namun ia belum ada karena menunggu diciptakan; ini adalah kontradiksi akal paling mendasar.

4. Kerapuhan Klaim Kebetulan Berdasarkan Probabilitas Ilmiah

Ateis modern sering berdalih: “Jika materi teracak selama bermiliar-miliar tahun, niscaya kebetulan akan menghasilkan sistem alam yang teratur.” Dr. al-Buthi mengutip jawaban Syaikh Musthafa Shabri dalam menertawakan alegori probabilitas huruf cetak yang jatuh membentuk bait puisi karya sastrawan kenamaan:

«إِنَّ عَدَمَ الِانْتِظَامِ لَا يَنْقَلِبُ إِلَى انْتِظَامٍ بِمُجَرَّدِ مُضِيِّ مَلَايِينِ السِّنِينَ، بَلْ إِنَّ مُرُورَ الزَّمَنِ لَا يَزِيدُهُ إِلَّا اخْتِلَالًا وَفَوْضَى... وَافْتِرَاضُ أَنَّ الحُرُوفَ المَنْثُورَةَ تَأْتَلِفُ قِطْعَةً مِنْ بَيْتِ شِعْرٍ ثُمَّ تَبْقَى مَحْفُوظَةً تَنْتَظِرُ الرَّمْيَةَ التَّالِيَةَ هُوَ تَمَحُّلٌ فِي الفَرْضِ يَدُلُّ عَلَى النِّظَامِ المَقْصُودِ نَفْسِهِ.»

“Ketiadaan aturan (‘adam al-intizham) tidak akan pernah berubah menjadi aturan dengan sendirinya walau berlangsung selama jutaan tahun, bahkan perputaran masa hanya akan menambah kekacauan dan kerancuan... Mengasumsikan bahwa huruf-huruf yang teracak acak dapat membentuk bagian dari bait puisi lalu bagian itu tersimpan rapi untuk menanti lemparan berikutnya adalah pemaksaan asumsi yang justru menunjukkan adanya kesengajaan rancangan (nizham maqsud).”

Rujukan Kitab:
Kubrā al-Yaqīniyyāt al-Kawniyyah (Dr. Muhammad Sa’id Ramadan al-Buthi; Dar al-Fikr, Cet. ke-8, 1417 H / 1997 M), hlm. 94, baris 11–19.

Bahkan kimiawan biokimia Soviet terkemuka, Aleksandr I. Oparin (1959), yang meneliti asal-usul kehidupan selama 37 tahun, terpaksa mengakui secara jujur di hadapan dunia bahwa sains materialis tidak akan sanggup menembus misteri asal-usul kehidupan dari materi mati. Materi beku (جَمَاد / jamad) yang tidak memiliki kesadaran mustahil melahirkan kehidupan (الحَيَاة / al-hayah) yang sadar.

Bukti Ilmiah dan Kosmologis: Dalil al-Huduts dan al-‘Illah al-Gha’iyyah

Imam Muhammad bin Yusuf al-Sanusi dalam mahakaryanya Syarh al-‘Aqidah al-Shughra (Umm al-Barahin) merangkum konstruksi dalil rasional-kosmologis (دَلِيل الحُدُوث / dalil al-huduts) ini secara sangat padat dan tak terbantahkan:

«أَمَّا بُرْهَانُ وُجُودِهِ تَعَالَى فَحُدُوثُ العَالَمِ؛ إِذْ لَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مُحْدِثٌ بَلْ حَدَثَ بِنَفْسِهِ، لَلَزِمَ أَنْ يَتَرَجَّحَ أَحَدُ الأَمْرَيْنِ المُتَسَاوِيَيْنِ عَلَى الآخَرِ مِنْ غَيْرِ مُرَجِّحٍ، وَهُوَ مُحَالٌ عَقْلًا.»

“Adapun bukti wujud-Nya Ta’ala adalah kebaharuan alam semesta (huduts al-‘alam); karena sekiranya alam tidak memiliki Pencipta melainkan terjadi dengan sendirinya, niscaya salah satu dari dua perkara yang setara (antara ada dan tiada) menjadi unggul atas yang lain tanpa adanya faktor penentu, dan hal tersebut adalah mustahil secara akal.”

Rujukan Kitab:
Syarh al-‘Aqīdah al-Shughrā (Umm al-Barāhīn) (Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi; Dar al-Taqwa, Cet. ke-1, 1441 H / 2019 M), hlm. 92, baris 10–13.

Lebih lanjut, Imam al-Sanusi menegaskan bahwa alam terbukti baru (حَادِث / hadits) karena ia senantiasa terikat dengan sifat-sifat aksidental yang terus berubah (أَعْرَاض / a’radh), seperti gerak, diam, berkumpul, dan berpisah. Sesuatu yang terikat dengan hal yang baru pasti berstatus baru.

Sementara itu, sains fisika dan biologi kontemporer yang meneliti fenomena Fine-Tuning (keselarasan kosmis) dan organ biologis sangat selaras dengan Dalil Kausalitas Teleologis (دَلِيل العِلَّة الغَائِيَّة / Dalil al-‘Illah al-Gha’iyyah). Kerapian massa bumi yang menghasilkan gaya gravitasi terukur, struktur bola mata (cornea dan retina) yang selaras dengan hukum pembiasan cahaya, hingga kapasitas paru-paru yang pas dengan kadar oksigen atmosfer, membuktikan adanya perancangan matang. Sains mustahil mendeskripsikan anatomi dan fisiologi tubuh tanpa menyematkan fungsi tujuan (لَام التَّعْلِيل / lam al-ta’lil). Mengabaikan tujuan di balik desain presisi ini demi membela kebetulan adalah bentuk pengingkaran nalar paling vulgar.

Meluruskan Posisi Akidah Asy’ariyah: Menolak Ekstremitas Materialis dan Literalis

Keimanan yang tegak di atas bukti ilmiah dan dalil akal ini merupakan warisan murni Ahlus Sunnah wal Jama’ah (أَهْل السُّنَّة وَالجَمَاعَة) yang dikodifikasikan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Dalam sejarahnya, pemikiran Asy’ariyah diserang oleh dua kutub ekstrem: kaum filsafat ateistis yang menolak transendensi Tuhan, dan kaum literalis-antropomorfis (المُشَبِّهَة / الحَشْوِيَّة / musyabbihah / hasywiyyah) yang menyerupakan Tuhan dengan benda fisik.

Al-Hafizh Abu al-Qasim Ibn ‘Asakir al-Dimasyqi, dalam kitab monumentalnya Tabyin Kadzib al-Muftari, membela metode Asy’ariyah sebagai jalan tengah yang memadukan dalil wahyu dan perangkat nalar:

«فَكَانَ أَبُو الحَسَنِ الأَشْعَرِيُّ – رَحِمَهُ اللهُ – أَعْظَمَ النَّاسِ قِيَامًا فِي نُصْرَةِ أَسْمَاءِ اللهِ وَصِفَاتِهِ، وَسَيْفًا مَسْلُولًا عَلَى مَنْ خَالَفَ السُّنَّةَ... فَرَدَّ شُبُهَاتِ المُخَالِفِينَ لِلسُّنَّةِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَقَعَ فِي تَعْطِيلٍ، وَلَا جَاوَزَ إِلَى تَشْبِيهٍ، وَوَزَنَ الأُمُورَ بِمِيزَانِ العَقْلِ حَتَّى اسْتَقَامَتِ الحَقَائِقُ، وَفَصَلَ بَيْنَ الأَعْرَاضِ وَالجَوَاهِرِ وَالأَجْسَامِ، وَنَزَّهَ اللهَ عَنْ كُلِّ سِمَاتِ الحُدُوثِ...»

“Maka Abu al-Hasan al-Asy’ari—semoga Allah merahmatinya—adalah sosok yang paling gigih membela nama-nama dan sifat-sifat Allah dari penyelewengan, menjadi pedang terhunus bagi para penentang Sunnah... Beliau mematahkan hujah siapa pun yang menyimpang dari Sunnah tanpa terjerumus pada sikap ta’thil (تَعْطِيل: menafikan sifat) dan tanpa melampaui batas ke arah tasybih (تَشْبِيه: penyerupaan dengan makhluk). Beliau menyeimbangkan akal sehingga tatanan kebenaran tegak rapi, membedakan antara entitas materi aksidental (أَعْرَاض / a’radh), substansi materi (جَوَاهِر / jawahir), dan tubuh materi (أَجْسَام / ajsam), serta menyucikan Allah dari segala tanda kebaharuan...”

Rujukan Kitab:
Tabyīn Kadzib al-Muftarī fīmā Nusiba ilā al-Imām al-Asy’arī (Al-Hafizh Abu al-Qasim Ibn ‘Asakir; Dar al-Taqwa, Cet. ke-1, 1440 H / 2018 M), hlm. 116, baris 7–16.

Dengan demikian, sains objektif bukanlah seteru akidah Islam, melainkan saksi nyata yang menyingkap jejak keagungan hukum ciptaan-Nya.

Pertanyaan Umum (FAQ)

1. Jika setiap yang ada membutuhkan pencipta, lalu siapa yang menciptakan Tuhan?

Pertanyaan ini adalah kerancuan berpikir (category mistake). Hukum kebutuhan kepada pencipta hanya berlaku bagi wujud yang bersifat mungkin dan baharu (المُمْكِنَات الحَادِثَة / al-mumkinat al-haditsah). Sedangkan Allah adalah Dzat yang Wajib Wujud-Nya (وَاجِب الوُجُود بِذَاتِهِ / Wajib al-Wujud bi Dhatihi), wujud-Nya bersifat niscaya dari Dzat-Nya sendiri tanpa permulaan dan bukan limpahan dari luar. Mengasumsikan pencipta bagi Allah sama saja memperlakukan Dzat Yang Wajib Ada sebagai entitas yang butuh diciptakan, yang merupakan kontradiksi akal.

2. Apakah cukup beriman hanya dengan doktrin tanpa memahami dalil ilmiah?

Mayoritas ulama akidah menegaskan bahwa iman seorang muqallid (مُقَلِّد: yang sekadar ikut-ikutan tanpa dalil sama sekali) rentan goyah ketika diterpa keraguan. Setiap Muslim diwajibkan memahami setidaknya dalil global (دَلِيل إِجْمَالِيّ / dalil ijmali)—seperti keteraturan langit, bumi, dan dirinya sendiri—sehingga keyakinannya berpijak pada ketenangan akal (اطْمِئْنَان القَلْب / ithmi’nan al-qalb) dan selamat dari jurang keraguan.

Eksistensi Tuhan bukanlah mitos purba yang tumbang di hadapan sains, melainkan kebenaran mutlak yang justru kian ditegaskan oleh setiap ketetapan ilmiah yang objektif. Seluruh hukum alam semesta, keteraturan gerak partikel subatomik hingga galaksi raksasa, mengumandangkan kemustahilan klaim kebetulan dan menolak kepalsuan paham materialisme. Iman yang sejati dalam naungan Ahlus Sunnah bukanlah pelarian dari nalar, melainkan puncak perjumpaan harmonis antara fitrah rohani yang suci dan ketajaman akal rasional.

Mari Perkukuh Fondasi Akidah Generasi Kita!

Di tengah derasnya arus disrupsi pemikiran modern:

  • Bagikan (share) artikel ini ke keluarga, rekan akademisi, dan media sosial Anda agar kian banyak yang terbebas dari jerat keraguan skeptisisme.
  • Tuliskan pandangan atau pengalaman Anda di kolom komentar mengenai dialog sains dan agama yang pernah Anda temui.
  • Kaji lebih dalam literatur akidah Islam yang otoritatif untuk memperluas cakrawala nalar tauhid Anda.