Bahaya Syirik Tersembunyi: Ramalan Zodiak, Horoskop, dan Jimat Modern
Edukasi Kritis Mengenai Batasan Tauhid, Bahaya Mempercayai Ramalan Nasib, dan Dekonstruksi Tren Klenik Modern di Media Sosial Menurut Rujukan Kitab Turats
Daftar Isi Kajian Ilmiah ▾
- 1. Hakikat Tauhid & Fondasi Syariat
- 2. Anatomi & Dashboard Matrix
- 3. Problematika Remaja & Generasi Modern
- 4. Dekonstruksi Kitab Turats Mu'tamad
- 5. SOP: Bagan Alur 4 Tahap
- 6. Kaidah Tauhid & Ushul Fiqh
- 7. Rekontekstualisasi Praktis Pemuda
- 8. Self-Assessment Checklist
- 9. Catatan Kaki (Footnotes) Terperinci
- 10. Daftar Pustaka Alfabetis
Tauhid adalah fondasi mutlak keselamatan dunia dan akhirat. Mempercayai ramalan zodiak, peruntungan horoskop, maupun menyandarkan keselamatan pada jimat modern—sekalipun dikemas secara estetis di media sosial—merupakan bentuk syirik tersembunyi (asy-syirkul khafiy) yang merusak keimanan, membatalkan pahala ibadah, dan menodai kesucian tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
1. Hakikat Tauhid & Fondasi Syariat: Membedah Bahaya Syirik Tersembunyi
Di dalam tata teologi Islam, tauhid merupakan puncak kebenaran eksistensial yang mendasari penciptaan jin dan manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan tujuan asasi ini dalam firman-Nya:
Konsekuensi logis dari tauhid uluhiyyah dan rububiyyah adalah meyakini secara mutlak bahwa hanya Allah semata yang mengetahui perkara gaib di langit dan bumi. Tidak ada satu pun makhluk—baik malaikat yang dekat maupun nabi yang diutus, apalagi pergerakan rasi bintang atau susunan kartu ramalan—yang memiliki andil dalam mengatur takdir, rezeki, jodoh, dan ajal manusia. Allah Ta'ala berfirman dalam Surah An-Naml ayat 65:
Demikian pula dalam Surah Luqman ayat 34, Allah menegaskan bahwa pengetahuan tentang masa depan terkunci rapat dalam ilmu-Nya yang maha luas:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan peringatan yang amat keras terhadap setiap bentuk klaim peramalan nasib. Dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Shafiyyah dari salah seorang istri Nabi SAW, beliau bersabda:
Bahkan jika seseorang membenarkan ramalan tersebut di dalam hatinya, ancamannya menyentuh batas kekafiran terhadap risalah kenabian, sebagaimana sabda beliau dalam riwayat Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, dan Imam Al-Hakim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:
Terkait jimat dan penolak bala, sahabat 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:
2. Anatomi & Dashboard Matrix: Klasifikasi Praktik Ramalan & Fenomena Jimat Modern
Para ulama membedakan secara tajam antara syirik akbar (yang membatalkan keislaman) dan syirik ashghar/khafiy (yang merusak kesucian amal dan mengikis tauhid). Tabel matriks berikut merangkum klasifikasi lima kasus keseharian generasi muda beserta tinjauan hukum syariatnya:
| Objek / Praktik Modern | Bentuk Fenomena Keseharian | Klasifikasi Status Fikih | Konsekuensi Hukum & Solusi Syar'i |
|---|---|---|---|
| 1. Horoskop & Zodiak Media Sosial | Membaca prediksi karakter, peruntungan karier, dan asmara berdasarkan tanggal lahir dan rasi bintang. | Haram mutlak; termasuk bab At-Tanjim dan Al-Kahanah.[7] | Jika iseng membaca, salat tidak diterima 40 malam; jika meyakini bintang memengaruhi nasib, terjerumus dalam syirik akbar. Solusi: unfollow dan hindari total. |
| 2. Tarot Reading & Fortune Telling Online | Mengikuti pembacaan kartu tarot atau filter tebak nasib interaktif di platform video pendek. | Haram mutlak; terkategori praktik perdukunan modern (al-'irafah al-mu'ashirah).[8] | Haram ditonton, dibagikan, maupun dikomentari. Wajib segera bertaubat dan mengabaikan bisikan ramalan. |
| 3. Gelang Kristal / Benang / Simbol Evil Eye | Mengenakan gelang batu kristal energi atau simbol mata biru dengan keyakinan menolak energi negatif dan menolak sial. | Terkategori At-Tamimah (jimat) modern; syirik ashghar hingga akbar.[9] | Menetapkan sebab yang tidak ditetapkan syariat dan akal sehat. Wajib dilepas dan dibuang, bersandar murni pada perlindungan Allah. |
| 4. Ruqyah Mandiri Syar'iyyah | Membaca Surah Al-Fatihah, Ayat Kursi, dan Al-Mu'awwidzatain untuk penjagaan diri dan ketenangan batin. | Sunnah mu'akkadah dan mustahab; murni pengamalan tauhid.[10] | Mendapat pahala ibadah dan penjagaan hakiki dari Allah tanpa ketergantungan pada perantara materi. |
| 5. Ilmu Falak Astronomis Murni | Mengamati pergerakan matahari, bulan, dan bintang untuk hisab waktu salat, arah kiblat, dan navigasi pelayaran. | Mubah bahkan fardhu kifayah; terkategori 'Ilmut Tasyir.[11] | Sains halal yang sah dimanfaatkan untuk kemaslahatan ibadah dan kehidupan manusia tanpa unsur peramalan gaib. |
3. Problematika Remaja & Generasi Modern: Normalisasi Zodiak, Tarot, dan Algoritma Klenik
Di era digital, jebakan kesyirikan tidak lagi hadir dalam bentuk pemujaan berhala batu yang kasat mata, melainkan bermetamorfosis ke dalam bentuk-bentuk tren populer yang estetik, ringan, dan tampak tidak berbahaya:
1. Estetika Zodiak sebagai Identitas Diri (Zodiac Pop Culture): Banyak anak muda menjadikan rasi bintang sebagai pembenaran karakter toksik ("Wajar aku pendendam, kan aku Scorpio") atau filter seleksi pertemanan ("Jangan dekat-dekat dia, dia Gemini"). Hal ini secara halus mengikis keyakinan bahwa akhlak manusia adalah hasil tarbiyah, mujahadah, dan hidayah Allah, bukan determinasi bintang-bintang di angkasa.[12]
2. Tarot Reading dan Ramalan Cinta di Platform Video Pendek: Konten-konten peramalan nasib dikemas dengan format interaktif ("Pilih tumpukan kartu A, B, atau C untuk melihat masa depan cintamu"). Generasi muda kerap mengonsumsinya dengan dalih "hanya untuk seru-seruan" atau "hiburan pengisi waktu". Padahal, teks hadits nabawiyyah menegaskan larangan mendekati dan bertanya kepada peramal tanpa membedakan apakah tujuannya serius atau sekadar bercanda.[13]
3. Jimat Terselubung: Kristal Energi, Aksesoris Penolak Bala, dan Manifesting Tanpa Doa: Penggunaan gelang benang merah, batu kuarsa peredam stres, dan liontin keberuntungan kerap disamarkan dengan bahasa psikologis atau kuantum ("menyeimbangkan frekuensi getaran aura"). Ketergantungan batin terhadap benda-benda tersebut membelokkan tawakal dari Sang Khaliq kepada materi fisik yang sama sekali tidak memiliki daya cipta.[14]
4. Dekonstruksi Kitab Turats Mu'tamad: Bedah 5 Kitab Rujukan Utama Akidah & Ushul
Penelusuran fisik terhadap kitab-kitab turats otoritatif membuktikan ketegasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam memurnikan akidah dari noda klenik:
4.1 Al-Arba'in fi Ushulid Din karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali
Dalam kitab Al-Arba'in fi Ushulid Din (Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, Beirut, hlm. cetakan 3–7 [hlm. file PDF 3–7]), Imam Al-Ghazali menetapkan fondasi keesaan mutlak dalam Al-Ashl Al-Awwal (fi Dzat), Al-Ashl Ats-Tsalits (fil Qudrah), dan Al-Ashl Al-Khamis (fil Iradah):
4.2 Shahih Al-Bukhari karya Al-Imam Muhammad bin Isma'il Al-Bukhari
Dalam Shahih Al-Bukhari (Kitab Al-Maghazi dan Kitab Al-Adzan), diriwayatkan hadits sahabat Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu 'anhu mengenai khutbah Subuh Rasulullah SAW di Hudaibiyah setelah malamnya turun hujan:
4.3 Fatawa Al-Imam An-Nawawi (Al-Masa'il Al-Mantsurah)
Al-Imam Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi menegaskan dalam kitab fatwanya bahwa astrologi peramalan nasib adalah haram mutlak menurut ijma' ulama:
4.4 Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh karya Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu
Dalam kitab Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh (Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1, 1442 H/2021 M, hlm. cetakan 119–121 [hlm. file PDF 120–122]), dijelaskan kaidah ushul Saddudz Dzari'ah (menutup celah yang mengantarkan kepada kerusakan):
4.5 Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja' karya Syifa' bintu Muhammad Hasan Hitu
Dalam kitab Imta'ul Asma' (Damaskus: Dar Al-Musthafa, Fashl fi Riddah, hlm. cetakan 122–124 [hlm. file PDF 124–126]), diuraikan bahwa meyakini ada kekuatan selain Allah yang mampu mendatangkan manfaat atau mudharat secara independen membatalkan keislaman:
5. SOP: Bagan Alur 4 Tahap Mengikis Keterikatan pada Zodiak & Jimat Modern
Bagan alur bertahap bagi pemuda muslim untuk membersihkan diri dari residu takhayul dan ramalan modern:
Bersihkan beranda media sosial dari akun zodiak, tarot reader, horoskop harian, dan ramalan kepribadian pseudosains. Jangan biarkan algoritma menyusupkan konten syubhat ke dalam benak.
Pahami bahwa posisi rasi bintang sejauh jutaan tahun cahaya tidak memiliki korelasi logis maupun biologis dengan rezeki, jodoh, atau emosi manusia. Sadarilah bahwa ramalan zodiak menggunakan Barnum Effect (pernyataan umum yang sengaja dibuat ambigu agar terasa cocok bagi siapa saja).
Lepaskan dan buang segala gelang penolak bala, kristal pembawa keberuntungan, atau aksesoris simbol proteksi gaib. Ganti sandaran hati hanya kepada penjagaan Allah Ta'ala.
Hidupkan zikir Al-Ma'tsurat, bacaan Ayat Kursi, dan Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas setiap selesai salat fardhu dan sebelum tidur. Raih perlindungan hakiki yang dijanjikan syariat.
6. Kaidah Tauhid & Ushul Fiqh: Perlindungan Terhadap Kemurnian Akidah
Kemurnian tauhid ditegakkan melalui empat pilar kaidah teologis dan metodologis:
1. Kaidah Ketiadaan Sekutu dalam Penciptaan dan Pengaturan:
2. Kaidah Pemurnian Sebab dari Kesyirikan:
3. Kaidah Menutup Pintu Kerusakan Akidah (Saddudz Dzari'ah):
4. Kaidah Menolak Keyakinan Sial (Nafi'ut Thiyarah):
7. Rekontekstualisasi Praktis bagi Pemuda & Remaja di Era Digital
Bagaimana generasi muda menghadapi tren zodiak di lingkungan sosial kampus dan pergaulan profesional?
A. Menghadapi Obrolan Ringan seputar Zodiak: Jika teman sebaya bertanya, "Zodiakmu apa?", jawablah dengan santai dan edukatif tanpa menghakimi: "Aku lebih suka melihat karakter dari bagaimana seseorang bersikap dan berusaha, bukan dari tanggal lahir atau bintang." Jangan ikut larut dalam analisis kecocokan zodiak yang menjerumuskan.[24]
B. Menata Ekspektasi Jodoh dan Karier Tanpa Astrologi: Alih-alih mencocokkan zodiak calon pasangan, gunakan panduan Rasulullah SAW dalam memilih pasangan: agama dan akhlaknya. Saat menghadapi kebuntuan karier, gantilah kebiasaan membaca horoskop mingguan dengan mendirikan Salat Istikharah, meminta saran kepada ahli (musyawarah), dan bekerja keras.[25]
C. Mengganti Kristal & Aksesoris Jimat dengan Perhiasan Murni: Bila ingin mengenakan gelang atau cincin batu akik, posisikan semata-mata sebagai perhiasan estetis tanpa keyakinan membawa energi magis, aura penolak bala, atau magnet rezeki. Niatkan menghargai keindahan ciptaan Allah dengan hati yang sepenuhnya bertawakal kepada-Nya.[26]
8. Self-Assessment Checklist: Evaluasi Kebersihan Batin dari Klenik Modern
Centang daftar evaluasi mandiri berikut untuk memastikan akidah Anda murni dari residu syirik modern:
9. Catatan Kaki (Footnotes) Terperinci
- Al-Qur'an al-Karim, Surah Adz-Dzariyat [51] ayat 56. Dalil qath'i tujuan penciptaan manusia untuk bertauhid; dirujuk dalam Al-Arba'in fi Ushulid Din karya Imam Al-Ghazali (Kairo/Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah), Bab Al-Ashl Al-Awwal, hlm. cetakan 3 [hlm. file PDF 3]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾ — عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «الْأَصْلُ الْأَوَّلُ فِي الذَّاتِ: أَنَّهُ فِي ذَاتِهِ وَاحِدٌ لَا شَرِيكَ لَهُ، فَرْدٌ لَا مِثْلَ لَهُ، صَمَدٌ لَا ضِدَّ لَهُ». ↑ Kembali ke teks
- Al-Qur'an al-Karim, Surah An-Naml [27] ayat 65. Penegasan bahwa tiada yang mengetahui perkara gaib selain Allah; dirujuk dalam Al-Arba'in fi Ushulid Din, Al-Ashl Ar-Rabi' fil 'Ilm, hlm. cetakan 5 [hlm. file PDF 5]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ﴾ — عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «الْأَصْلُ الرَّابِعُ فِي الْعِلْمِ: وَأَنَّهُ عَالِمٌ بِجَمِيعِ الْمَعْلُومَاتِ... وَيَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَىٰ، وَيَطَّلِعُ عَلَى هَوَاجِسِ الضَّمَائِرِ». ↑ Kembali ke teks
- Al-Qur'an al-Karim, Surah Luqman [31] ayat 34. Dalil lima kunci perkara gaib yang tidak diketahui siapa pun besok hari; dirujuk dalam Shahih Al-Bukhari (Kitab Tafsir Al-Qur'an no. 4777), hlm. cetakan 340 [hlm. file PDF 340]. نَصُّ الْآيَةِ: ﴿وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ﴾. ↑ Kembali ke teks
- Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab As-Salam, Bab Tahrimil Kahanah wa Ityanil Kuhhan, no. 2230 (diriwayatkan dari Shafiyyah dari sebagian istri Nabi SAW). نَصُّ الْحَدِيثِ: «مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً». ↑ Kembali ke teks
- Abu Dawud As-Sijistani, Sunan Abi Dawud, Kitab Ath-Thibb, Bab fil Kahin, no. 3904; At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi no. 135 (hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). نَصُّ الْحَدِيثِ: «مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ ﷺ». ↑ Kembali ke teks
- Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Kitab Ath-Thibb, Bab fi Ta'liqit Tama'im, no. 3883; Ibnu Majah no. 3530 (hadits 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu). نَصُّ الْحَدِيثِ: «إِنَّ الرُّقَىٰ وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ». ↑ Kembali ke teks
- Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il, Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Adzan & Kitab Al-Maghazi, no. 846 (hadits Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu 'anhu di Hudaibiyah), hlm. cetakan 205 [hlm. file PDF 205]. نَصُّ الْحَدِيثِ: «قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ». ↑ Kembali ke teks
- Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad, Al-Arba'in fi Ushulid Din, Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah, Al-Ashl Al-Khamis fil Iradah, hlm. cetakan 6 [hlm. file PDF 6]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «فَلَا يَجْرِي فِي الْمُلْكِ وَالْمَلَكُوتِ قَلِيلٌ وَلَا كَثِيرٌ... إِلَّا بِقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ، وَحُكْمِهِ وَمَشِيئَتِهِ؛ فَمَا شَاءَ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ». ↑ Kembali ke teks
- An-Nawawi, Muhyiddin Yahya bin Syaraf, Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammah bil-Masa'il al-Mantsurah, Kairo: Hadiyyah Majallat Al-Azhar, Mas'alah fit Tanjim, hlm. cetakan 150 [hlm. file PDF 150]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «التَّنْجِيمُ الَّذِي هُوَ ادِّعَاءُ مَعْرِفَةِ الْغَيْبِ وَالْأَحْكَامِ النُّجُومِيَّةِ حَرَامٌ بَاطِلٌ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ». ↑ Kembali ke teks
- Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan, Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh, Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1, 1442 H/2021 M, Bab Saddudz Dzari'ah, hlm. cetakan 119–120 [hlm. file PDF 120–121]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «سَدُّ الذَّرَائِعِ: وَهُوَ مَنْعُ الْوَسَائِلِ الْمُؤَدِّيَةِ إِلَى الْمَفَاسِدِ... فَإِنَّ كُلَّ فِعْلٍ أَصْلُهُ مُبَاحٌ إِذَا كَانَ ذَرِيعَةً إِلَى مَفْسَدَةٍ حُرِّمَ مَنْعًا لِلْوُقُوعِ فِيهَا». ↑ Kembali ke teks
- Hitu, Syifa' bintu Muhammad Hasan, Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja', Damaskus: Dar Al-Musthafa, Fashl fi Riddah, hlm. cetakan 122–124 [hlm. file PDF 124–126]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «أَنْ يَعْتَقِدَ شَرِيكًا لِلَّهِ تَعَالَى فِي خَلْقِهِ أَوْ تَصَرُّفِهِ، أَوْ أَنَّ الْكَوَاكِبَ تُؤَثِّرُ فِي الْحَوَادِثِ بِذَاتِهَا». ↑ Kembali ke teks
- Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab Ath-Thibb, Bab As-Sihr wa Babus Sihr minas Saharah, no. 5763 (hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha), hlm. cetakan 412 [hlm. file PDF 412]. نَصُّ الْحَدِيثِ: عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَأَلَ أُنَاسٌ النَّبِيَّ ﷺ عَنِ الْكُهَّانِ، فَقَالَ: «لَيْسُوا بِشَيْءٍ»، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَإِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ بِالشَّيْءِ يَكُونُ حَقًّا؟ فَقَالَ: «تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنَ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ كَقَرِّ الزُّجَاجَةِ، فَيَخْلِطُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ». ↑ Kembali ke teks
- Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab As-Salam, Bab Tahrimith Thiyarah wal Fa'l, no. 2224 (hadits Mu'awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu 'anhu). نَصُّ الْحَدِيثِ: قُلْتُ: وَمِنَّا رِجَالٌ يَتَطَيَّرُونَ؟ قَالَ: «ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُونَهُ فِي صُدُورِهِمْ فَلَا يَصُدَّنَّهُمْ». ↑ Kembali ke teks
- Al-Ghazali, Al-Arba'in fi Ushulid Din, Al-Ashl Ats-Tsalits fil Qudrah, hlm. cetakan 4 [hlm. file PDF 4]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَأَنَّهُ حَيٌّ قَادِرٌ جَبَّارٌ قَاهِرٌ... خَلَقَ الْخَلْقَ وَأَعْمَالَهُمْ، وَقَدَّرَ أَرْزَاقَهُمْ وَآجَالَهُمْ، لَا يَشُذُّ عَنْ قَبْضَتِهِ مَقْدُورٌ». ↑ Kembali ke teks
- Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab Ath-Thibb, Bab Ruqyatil 'Ain wan Nafats, no. 5735 (hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha tentang ruqyah syar'iyyah), hlm. cetakan 410 [hlm. file PDF 410]. نَصُّ الْحَدِيثِ: «أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ نَسْتَرْقِيَ مِنَ الْعَيْنِ». ↑ Kembali ke teks
- An-Nawawi, Fatawa Al-Imam An-Nawawi, Mas'alah fi Ta'liqit Tama'im wal Khuruz, hlm. cetakan 151 [hlm. file PDF 151]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «تَعْلِيقُ التَّمَائِمِ وَالْخَرَزَاتِ لِدَفْعِ الْعَيْنِ أَوِ الْبَلَاءِ حَرَامٌ مَذْمُومٌ، إِلَّا إِذَا كَانَتْ آيَاتٍ قُرْآنِيَّةً مَعَ اعْتِقَادِ أَنَّ النَّافِعَ هُوَ اللَّهُ». ↑ Kembali ke teks
- Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan, Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh, Bab Al-Ashlu fil Asy-ya', hlm. cetakan 117 [hlm. file PDF 118]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «أَنَّ الْأَصْلَ فِي الْمَنَافِعِ الْإِبَاحَةُ، وَفِي الْمَضَارِّ التَّحْرِيمُ». ↑ Kembali ke teks
- Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab Bada'il Khalq, Bab fi Nujum, no. 3197 (riwayat Qatadah rahimahullah tentang hikmah penciptaan bintang), hlm. cetakan 270 [hlm. file PDF 270]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «خَلَقَ اللَّهُ هَذِهِ النُّجُومَ لِثَلَاثٍ: جَعَلَهَا زِينَةً لِلسَّمَاءِ، وَرُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ، وَعَلَامَاتٍ يُهْتَدَىٰ بِهَا؛ فَمَنْ تَأَوَّلَ فِيهَا بِغَيْرِ ذَلِكَ أَخْطَأَ وَأَضَاعَ نَصِيبَهُ». ↑ Kembali ke teks
- Al-Ghazali, Al-Arba'in fi Ushulid Din, Kitab Tazkiyatil Qalb min Riya' was Syirkil Khafiy, hlm. cetakan 185–186 [hlm. file PDF 185–186]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَالشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَخْفَىٰ مِنْ دَبِيبِ النَّمْلَةِ السَّوْدَاءِ عَلَى الصَّخْرَةِ الصَّمَّاءِ فِي اللَّيْلَةِ الظَّلْمَاءِ». ↑ Kembali ke teks
- Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad, no. 17740 (hadits 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu tentang tamimah). نَصُّ الْحَدِيثِ: «مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلَا أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ، وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلَا وَدَعَ اللَّهُ لَهُ». ↑ Kembali ke teks
- Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab Ath-Thibb, Bab La 'Adwa wa La Thiyarah, no. 5707 (hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu). نَصُّ الْحَدِيثِ: «لَا عَدْوَىٰ وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ». ↑ Kembali ke teks
- Asy-Syathiri, Sayyid Ahmad bin Umar, Nailur Raja bi Syarhi Safinatun Naja, Beirut: Dar Al-Minhaj, cet. 2, 1428 H, Fashl fi Syuruthish Shalah, hlm. cetakan 147 [hlm. file PDF 147]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَشَرْطُ صِحَّةِ الصَّلَاةِ صِحَّةُ الِاعْتِقَادِ وَإِفْرَادُ اللَّهِ بِالْعِبَادَةِ». ↑ Kembali ke teks
- Hitu, Syifa' bintu Muhammad Hasan, Imta'ul Asma', Fashl fi Bayanil A'malil Muharramah, hlm. cetakan 125 [hlm. file PDF 127]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «وَحَرَامٌ التَّعَامُلُ بِالسِّحْرِ وَالشَّعْوَذَةِ وَادِّعَاءِ عِلْمِ الْمُغَيَّبَاتِ». ↑ Kembali ke teks
- Muslim, Shahih Muslim, Kitab Al-Qadar, Bab fi Mashariqil Ardh wa Magharibiha, no. 2653 (hadits Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma). نَصُّ الْحَدِيثِ: «كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ». ↑ Kembali ke teks
- Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab At-Tawhid, Bab Qawlillahi Ta'ala: ﴿قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً﴾, no. 7372, hlm. cetakan 520 [hlm. file PDF 520]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَاحِدٌ فِي مُلْكِهِ وَرُبُوبِيَّتِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ». ↑ Kembali ke teks
- An-Nawawi, Fatawa Al-Imam An-Nawawi, Mas'alah fit Tibb war Ruqa, hlm. cetakan 152 [hlm. file PDF 152]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «تَجُوزُ الرُّقْيَةُ بِكَلَامِ اللَّهِ وَأَسْمَائِهِ مَعَ اعْتِقَادِ أَنَّ الشِّفَاءَ بِيَدِ اللَّهِ وَحْدَهُ». ↑ Kembali ke teks
- Al-Ghazali, Al-Arba'in fi Ushulid Din, Al-Ashl Ats-Tsani fit Taqdis, hlm. cetakan 3–4 [hlm. file PDF 3–4]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «مُقَدَّسٌ عَنِ التَّغْيِيرِ وَالِانْتِقَالِ، لَا تَحُلُّهُ الْحَوَادِثُ وَلَا تَعْتَرِيهِ الْعَوَارِضُ». ↑ Kembali ke teks
- Hitu, Prof. Dr. Muhammad Hasan, Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh, Bab Al-Istish-hab, hlm. cetakan 115 [hlm. file PDF 116]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «بَقَاءُ مَا كَانَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ حَتَّى يَثْبُتَ الدَّلِيلُ الْمُغَيِّرُ». ↑ Kembali ke teks
- Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab Ath-Thibb, Bab Al-Fa'l, no. 5754 (hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu). نَصُّ الْحَدِيثِ: «لَا عَدْوَىٰ وَلَا طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ: الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ». ↑ Kembali ke teks
- At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Abwabut Tafsir, no. 3173 (hadits Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma). نَصُّ الْحَدِيثِ: «وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَىٰ أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ». ↑ Kembali ke teks
- Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Kitab Ath-Thibb, Bab fin Nujum, no. 3905 (hadits Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma). نَصُّ الْحَدِيثِ: «مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ». ↑ Kembali ke teks
- Al-Ghazali, Al-Arba'in fi Ushulid Din, Kitab At-Tawakkul 'alallah, hlm. cetakan 210–212 [hlm. file PDF 210–212]. عِبَارَةُ الْكِتَابِ: «حَقِيقَةُ التَّوَكُّلِ انْقِطَاعُ الْقَلْبِ عَنِ الِالْتِفَاتِ إِلَى الْأَسْبَابِ مَعَ مُبَاشَرَةِ الْأَسْبَابِ الْمَشْرُوعَةِ بِالْجَوَارِحِ، فَمَنْ ظَنَّ أَنَّ التَّوَكُّلَ تَرْكُ الْكَسْبِ فَهُوَ جَاهِلٌ بِالشَّرِيعَةِ». ↑ Kembali ke teks
10. Daftar Pustaka Alfabetis (Bibliografi Turats)
- Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani. (275 H). Sunan Abi Dawud. Tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid. Beirut: Al-Maktabah Al-'Ashriyyah.
- Ahmad bin Hanbal, Abu Abdillah. (241 H). Al-Musnad. Tahqiq: Syu'aib Al-Arna'uth dkk. Kairo: Mu'assasatur Risalah.
- Al-Bukhari, Muhammad bin Isma'il. (256 H). Al-Jami' Ash-Shahih (Shahih Al-Bukhari). Kairo: Al-Mathba'ah As-Salafiyyah.
- Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. (505 H). Al-Arba'in fi Ushulid Din. Beirut: Dar Al-Kutub Al-'Ilmiyyah.
- An-Nawawi, Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. (676 H). Fatawa Al-Imam An-Nawawi al-Musammah bil-Masa'il al-Mantsurah. Tartib: Al-Hafizh 'Ala'uddin bin Al-'Atthar. Kairo: Hadiyyah Majallat Al-Azhar, Muharram 1411 H.
- Asy-Syathiri, Sayyid Ahmad bin Umar Al-'Alawi At-Tarimi. (1428 H/2007 M). Nailur Raja bi Syarhi Safinatun Naja. Beirut/Jeddah: Dar Al-Minhaj, cet. 2.
- At-Tirmidzi, Muhammad bin 'Isa. (279 H). Sunan At-Tirmidzi (Al-Jami' Al-Kabir). Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir. Kairo: Musthafa Al-Babi Al-Halabi.
- Hitu, Muhammad Hasan. (1442 H/2021 M). Al-Khulashah fi Ushulil Fiqh. Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 1.
- Hitu, Syifa' bintu Muhammad Hasan. (t.t.). Imta'ul Asma' fi Syarhi Matni Abi Syuja'. Taqdim: Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitu. Damaskus: Dar Al-Musthafa, cet. 3.
- Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwini. (273 H). Sunan Ibni Majah. Tahqiq: Muhammad Fu'ad Abdul Baqi. Kairo: Dar Ihya' Al-Kutub Al-'Arabiyyah.
- Muslim bin Al-Hajjaj, Al-Qusyairi. (261 H). Al-Musnad Ash-Shahih (Shahih Muslim). Tahqiq: Muhammad Fu'ad Abdul Baqi. Kairo: Dar Ihya' Al-Kutub Al-'Arabiyyah.